cover
Contact Name
Wiah Wardiningsih
Contact Email
wiahwards@gmail.com
Phone
+6222-7272580
Journal Mail Official
texere@stttekstil.ac.id
Editorial Address
Politeknik STTT Bandung Jalan Jakarta No. 31 Bandung 40272
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Texere
ISSN : 1411309     EISSN : 27741893     DOI : https://doi.org/10.53298/texere.v19i1
Texere merupakan majalah ilmiah yang mencakup karya tulis ilmiah bidang tekstil, garmen dan fesyen baik yang terkait dengan proses produksi ataupun proses pendukung (supporting)
Articles 97 Documents
Penentuan Kondisi Optimum Nacl Dan Na2co3 Dalam Proses Pencelupan Kain Rajut Kapas-Bambu (60%-40%) Dengan Zat Warna Reaktif (Reactive Blue Brf) Samuel Martin Pradana; Nada Zakiyya Zahra; Rr Wiwiek Eka Mulyani
Texere Vol 21, No 1 (2023): Texere Volume 21 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i1.01

Abstract

Pengembangan bahan tekstil banyak dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, contohnya pembuatan serat dari tanaman bambu. Penggunaan serat bamboo biasanya dicampur dengan serat kapas yang merupakan serat alam untuk menghasilkan kain dengan sifat daya serap terhadap air atau keringat yang tinggi. Penggunaan serat bamboo sebagai bahan tekstil terbarukan diklaim memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan serat kapas, salah satunya adalah daya serapnya yang tinggi. Daya serap tersebut dipengaruhi oleh sifat moisture regain (MR) yang terdapat pada suatu serat. Moisture regain serat bamboo hampir 2 kali lipat daripada moisture regain serat kapas. Perbedaan moisture regain antara serat kapas dan bamboo tersebut dapat menyebabkan perbedaan daya serap pada kain yang terdiri dari campuran serat kapas dan bamboo.Perbedaan daya serap antara serat kapas dan serat bamboo cukup signifikan sehingga dapat berpengaruh terhadap kerataan warna hasil pencelupan kain campuran kapas-bamboo. Untuk meningkatkan kerataan warna, diperlukan penambahan zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Zat pembantu tekstil yang berperan penting dalam pencelupan serat selulosa dengan zat warna reaktif adalah elektrolit (natrium klorida) dan alkali (natrium karbonat). Penambahan elektrolit dan alkali dengan konsentrasi tertentu ke dalam larutan celup dapat meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam serat. Penggunaan elektrolit dan alkali tersebut diharapkan mampu membuat penyerapan zat warna reaktif terhadap serat kapas dan bamboo menjadi relatif sama sehingga menghasilkan kerataan warna yang baik dengan ketuaan warna yang tinggi serta ketahanan luntur warna yang baik pula.Percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pencelupan kain rajut kapas-bamboo (60%-40%) dengan zat warna reaktif bifungsional (Reactive Blue BRF) yang memiliki dua gugus reaktif (monoklorotriazin dan vinil sulfon) menggunakan metode perendaman. Dalam percobaan ini dilakukan dua variasi, yaitu variasi konsentrasi natrium klorida (30 g/l, 45 g/l, 60 g/l) dan natrium karbonat (10 g/l, 20 g/l, 30 g/l) yang berfungsi sebagai zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Kain hasil pencelupan dievaluasi ketuaan warna, kerataan warna, dan ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian.Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat berpengaruh terhadap ketuaan dan kerataan warna hasil pencelupan, tetapi tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Semakin tinggi konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat yang digunakan, maka semakin tinggi ketuaan warna dan kerataan warna kain hasil pencelupan. Akan tetapi, penggunaan natrium klorida dan natrium karbonat dengan konsentrasi berlebih dapat menyebabkan warna hasil pencelupan kurang rata.Kondisi optimum yang diperoleh dari penelitian ini adalah pencelupan dengan menggunakan natrium klorida (NaCl) 45 g/l dan natrium karbonat (Na2CO3) 20 g/l. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kain kapas-bamboo yang dicelup dengan konsentrasi tersebut memiliki ketuaan warna yang cukup tinggi (nilai K/S zat warna yang terserap pada bahan 12,1963), kerataan warna terbaik (nilai standardeviasi paling rendah 0,2560), dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang baik dengan skala penodaan pada kain pelapis atau multifiber 4-5.
PEMBUATAN MARKER JAS LABORATORIUM DENGAN KONSEP POLA ZERO WASTE Zumrotu Zakiyah; Pratiwi Wulansari; Nindhita Gita Puspita Herdiyani
Texere Vol 21, No 1 (2023): Texere Volume 21 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i1.06

Abstract

Limbah kain sisa terutama dari bahan kain sintetis seperti polyester dapat menjadi ancaman serius bagi lingkungan, karena membutuhkan waktu hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai. Sebagai pelaku di industri tekstil, sedini mungkin harus berupaya untuk mengurangi limbah kain sehingga tidak menambah dampak pencemaran lingkungan. Salah satu caranya dengan menerapkan konsep zero waste dalam proses produksi pada pembuatan pola. Konsep pola ini diterapkan pada pola jas laboratorium, yang digunakan sebagai pola marker untuk pemotongan kain. Kain hasil potongan tersebut akan dijahit kemudian menjadi produk jadi yang siap dipakai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan studi literatur dan percobaan pembuatan beberapa jenis pola marker dengan konsep pola zero waste. Dari tiga jenis pola marker alternatif yang dibuat kemudian dibandingkan dengan pola marker yang asli, salah satu nya menghasilkan pola marker yang lebih sedikit kebutuhan kainnya. Pola alternatif tersebut dibuat dengan Pola CAD Gerber dan memiliki angka efisiensi sebesar 85,53%. Jas  laboratorium ini membutuhkan banyak komponen yang bentuknya tidak bisa diubah menyesuaikan garis pola pada marker karena komponen tersebut memiliki fungsi tertentu. Sehingga pada setiap bentuk pola dan marker pasti ada bagian yang tersisa karena tidak bisa mengubah bentuk pola dan tidak bisa mengubah limbah menjadi 0%, tetapi hanya bisa mengurang limbah menjadi sesedikit mungkin.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KAIN WASTRA NUSANTARA MOTIF PA’ SEKONG KANDAURE KHAS TORAJA MENGGUNAKAN MESIN RAJUT DATAR STOLL CMS 530 HP Azizah Nur Lathifah; Irwan Irwan; Resty Mayseptheny Hernawati
Texere Vol 21, No 1 (2023): Texere Volume 21 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i1.04

Abstract

Indonesia sudah dikenal dengan keberagaman budaya yang dimiliki karena kondisi masyaratnya yang majemuk. Bentuk keberagaman budaya yang ada salah satunya adalah wastra nusantara, yang dapat diartikan sebagai kain tradisional yang dihasilkan di wilayah Indonesia yang mengandung filosofi atau makna, contohnya seperti batik, tenun ikat, dan songket. Setiap wastra nusantara memiliki ciri khasnya masing-masing, salah satunya adalah motif Pa’sekong Kandaure yang berasal dari Kota Toraja. Pembuatan dari wastra nusantara motif Pa’sekong Kandaure umumnya menggunakan proses pertenunan. Sehingga pada penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan wastra nusantara yang dapat menyerupai motif Pa’sekong Kandaure dengan proses pembuatan menggunakan Mesin Rajut Datar Stoll CMS 530 HP. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan jeratan jacquard yaitu jacquard net, stripe, dan twill dengan bahan baku benang kapas combed Ne1 20/2 berwarna biru dan hitam. Proses yang dilakukan dalam pengembangan motif tersebut sampai dengan tahapan pembuatan sampel kain. Hasil sampel kain tersebut akan diuji CPI, WPI, uji ketebalan kain, uji gramasi, uji daya tembus udara, uji tahan jebol kain, dan uji stabilitas dimensi.wastra nusantara motif Pa’sekong Kandaure dapat dibuat menggunakan Mesin Rajut Datar Stoll CMS 530 HP, jenis jeratan jacquard yang dapat memproduksi motif tersebut, yaitu jacquard net, stripe, dan twill. Pengembangan dari struktur jacquard yang menyerupai pada proses perajutan yaitu jacquard stripe.sifat kain rajut dengan jenis Jacquard net memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,5 mm, gramasi kain 481,5 g/m2, dan daya tembus udara 54,1 cm3/s/cm2 dan tahan jebol 13,78 kgf. Sifat kain rajut dengan jenis Jacquard stripe memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,2 mm, gramasi kain 310,1 g/m2, dan daya tembus udara 111 cm3/s/cm2 dan tahan jebol 5,89 kgf. sifat kain rajut dengan jenis Jacquard twill memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,7 mm, gramasi kain 587,7 g/m2, dan daya tembus udara 32,1 cm3/s/cm2 serta tahan jebol 10,14 kgf.
OPTIMALISASI pH DENGAN CAMPURAN ALKALI NA2CO3-NAOH PADA PENCELUPAN KAPAS DENGAN ZAT WARNA REAKTIF PANAS Ambarwaningthyas, Sekar; Salis, Witri Aini; Mulyani, Rr. Wiwiek Eka
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.05

Abstract

Zat warna reaktif banyak digunakan untuk mencelup kain kapas. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses pencelupan menggunakan zat warna reaktif panas adalah penggunaan alkali sebagai pengatur pH larutan pencelupan dan untuk proses fiksasi zat warna ke dalam serat. Campuran alkali (Na2CO3–NaOH) digunakan sebagai pemberi suasana alkali pada pH 10,5, 11, 11,5, dan 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fiksasi zat warna dipengaruhi oleh penggunaan campuran alkali (Na2CO3–NaOH) pada pH 10,5-12. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian, kerataan warna, kecerahan warna, dan ketuaan warna (K/S) diuji. Kondisi proses terbaik diperoleh pada pH 11. Pada kondisi tersebut, nilai ketuaan warna (K/S) sebesar 22,578, nilai kecerahan warna (lightness) sebesar 17,154, nilai kerataan warna (standar deviasi) sebesar 0,310 dan nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian untuk penodaan warna pada kain pelapis kapas dan wol di multifiber sebesar 5 dan perubahan warnanya adalah 4-5.
PENGARUH OKSIDASI KALIUM PERMANGANAT TERHADAP HASIL PRE-TREATMENT KAIN POLIESTER-KAPAS (65%-35%) Nurrahmajanti, Asiyah Nurrahmajanti; Ramadhani, Silvy; Mulyani, Rr. Wiwiek Eka
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.04

Abstract

Kain greige merupakan kain mentah yang masih mengandung impuritas serat dan kotoran yang menempel pada kain saat produksi. Pengotor tersebut harus dihilangkan melalui tahap proses penghilangan kanji dan pengelantangan menggunakan zat kimia, salah satunya ialah zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan ialah H2O2. Namun zat tersebut memiliki kekurangan yaitu waktu pengerjaanya lebih lama baik secara tunggal maupun simultan. Oleh karena itu digunakan oksidator KMnO4 dengan variasi konsentrasi 3 g/L, 4 g/L, 5 g/L, dan 6 g/L serta suhu 90 dan 100 oC sehingga diharapkan konsumsi waktu pengerjaan lebih singkat serta hasil yang setara dibandingkan H2O2 bahkan lebih baik ditinjau dari hasil evaluasi menggunakan beberapa pengujian. Berdasarkan penelitian, diperoleh kondisi optimum pada konsentrasi 6 g/L suhu 90 oC dimana pada kondisi tersebut didiperoleh hasil pengujian pengurangan berat sebesar 7,87%, derajat putih sebesar 68,416%, Daya serap sebanyak 28,84 detik, dan kekuatan tarik 42,5774 kg (lusi) serta 36,4624 kg (pakan)
Efektifitas Penggunaan pH Alkali Dalam Pencelupan Kain Kapas dengan Zat Warna Reaktif Monoklorotriazin Metode Perendaman Mulyani, Wiwiek Eka; Khoerunnisa, Izmie; Wardani, Lestari; Pudjiati, -; Pradana, Samuel Martin
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.01

Abstract

Zat warna reaktif panas jenis monoclorotriazin merupakan zat warna yang memiliki sifat tidak tahan terhadap alkali. Namun, dalam proses pencelupan dengan zat warna reaktif memerlukan alkali untuk proses fiksasi agar zat warna dapat berikatan dengan serat.  Faktor yang berpengaruh pada proses fiksasi adalah penggunaan alkali dan pH larutan pencelupan. Dalam penelitian membahas mengenai pengaruh pH alkali pada larutan pencelupan zat warna monoclorotriazin (C.I Reactive Orange 13) untuk mendapatkan hasil pencelupan pada kain  kapas yang memiliki ketuaan dan kerataan warna, serta ketahanan warna terhadap pencucian yang baik (nilai 4-5). Alkali yang digunakan menggunakan alkali kuat (natrium hidroksida) dengan rentang pH 10, 10,5, 11, 11,5, dan 12. Metode pencelupan menggunakan metode perendaman pada suhu 80  selama 60 menit. Evaluasi ketuaan dan kerataan warna menggunakan spektrofotrometer dan laundry O meter untuk menganalisis ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Hasil penelitian menunjukkan  penggunaan alkali berpengaruh terhadap ketuaan warna tetapi tidak berpengaruh terhadap kerataan dan ketahanan luntur warna. Hasil pencelupan optimum didapat pada pH 10.5 dengan nilai ketuaan warna (K/S) sebesar 2,94, nilai standar deviasi (kerataan warna) sebesar 0,01, nilai 5 pada  ketahanan luntur terhadap pencucian.    
EKSPLORASI RAGAM HIAS LAYANG-LAYANG PADA FESTIVAL KAGHATI KOLOPE DENGAN PENERAPAN APLIKASI BORDIR DAN TEKNIK MAKRAME PADA BUSANA READY TO WEAR DELUXE Gustiana, Ditya; Hasmiraldi, Eric; Saifurohman, Saifurohman
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.05

Abstract

Perancangan busana ready to wear deluxe ini terinspirasi dari salah satu festival layang-layang di Indonesia yaitu festival kaghati kolope yang berasal dari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Karya busana ini berjudul “Kaghati Pasole”, diambil dari Bahasa Muna dan memiliki arti layang-layang yang cantik. Keragaman bentuk layang-layang pada festival kaghati kolope menjadi sumber inspirasi yang diimplementasikan pada busana dengan penerapan aplikasi bordir dan teknik makrame. Bahan utama yang digunakan adalah kain american drill dengan warna light blue dan navy. Warna yang digunakan pada koleksi busana ready to wear deluxe ini merupakan perpaduan warna analogus dengan light blue sebagai warna utama busana yang terinspirasi dari warna langit. Bentuk layang-layang sebagai inspirasi juga ditonjolkan pada garis busana yang tegas dengan siluet busana H dan Y yang memiliki keseimbangan simetris. Aplikasi bordir pada busana ini dibuat dengan dua macam tusukan yaitu tusuk satin dan tusuk tatami. Sedangkan simpul makrame yang digunakan yaitu simpul kepala, simpul rantai, simpul tunggal, simpul ganda dan simpul gordin.
PENERAPAN RFID UNTUK MENGHITUNG DAN MENGETAHUI KEBUTUHAN KAIN DI BAGIAN PEMOTONGAN PADA INDUSTRI GARMEN Dewanto, R. Arief; Putri, Wine Regyandhea; Tomi, -; Budiatma, Santosa Supratama
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.02

Abstract

Proses pemotongan merupakan suatu proses di industri garmen untuk memotong lembaran kain menjadi potongan yang sesuai dengan pola pakaian yang akan dibuat yang kemudian akan didistribusikan ke lini produksi atau lini penjahitan. Proses pemotongan di industri garmen masih di dominasi dengan pekerjaan manual dari proses gelar susun kain, penempatan marker, menghitung kebutuhan kain, hingga proses pemotongan kain. Proses produksi di industri garmen saat ini telah memasuki era industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 merupakan transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Penggunaan teknologi yang diterapkan bisa di contohkan dengan penggunaan RFID. Penelitian ini bertujuan meningkatkan efektivitas waktu dan penggunaan kain yang digunakan selama proses pemotongan. Metode yang digunakan adalah kuantitafif di mana tahapan awal penelitian adalah studi literatur kemudian dilanjutkan dengan studi lapangan dalam proses eksperimen pembuatan RFID. Hasil dari penelitian ini berupa penerapan teknologi RFID untuk meningkatkan efektivitas waktu pengerjaan serta mengetahui dan menghitung kebutuhan kain yang digunakan di sektor pemotongan pada industri garmen.
STUDI SIFAT FISIK DAN KENYAMANAN KAIN MUKENA Wanti, Ria; Baraja, Shafira Fitri; Permana, M. Indra; Purnomosari, Endah; Salis, Witri Aini
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.01

Abstract

Mukena merupakan produk yang sering digunakan khususnya oleh wanita muslim untuk beribadah, dimana penggunaannya sebanyak 5 kali dalam sehari. Selain itu penggunaan mukena untuk ibadah haji atau umroh juga menjadi perhatian, karena penggunaannya di luar ruangan dan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu sangat penting untuk memilih mukena yang baik dan nyaman digunakan. Pada penelitian ini diambil 5 buah sampel mukena yang beredar di pasaran, kemudian menguji sifat fisik kelima sampel tersebut berdasarkan SNI 8856:2020 serta kenyamanannya menggunakan alat Fabric Touch Tester (FTT), Moisture Management Tester (MMT) dan Sweating Guarded Hot Plate (SGHP). Hasil pengujian menunjukan bahwa sampel mukena CTP yang berbahan baku 100% kapas tidak memenuhi standar mutu kekuatan tarik dan stabilitas dimensi, namun memiliki nilai resistansi termal kering dan resistansi evaporasi termal yang paling tinggi. Sedangkan sampel PEP2 memiliki nilai resistansi evaporasi termal yang paling rendah, namun memiliki grade Accumulative One-Way Transport Index (AOTI) yang paling tinggi. Penelitian ini masih perlu dilanjutkan terutama untuk dilakukan pengujian kimia untuk mengetahui sifat-sifat kimia dari sampel-sampel mukena tersebut.
DAUR ULANG LIMBAH PASCA PEMAKAIAN PRODUK FASHION MENGGUNAKAN TEKNIK WATER SOLUBLE EMBROIDERY Zakiyah, Zumrotu; Regyandhea, Wine; Pramesvari, Ursae; Hasmiraldi, Eric
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.06

Abstract

Maraknya produk fast fashion dan berkembangnya industri fashion Indonesia tak disangka telah mempengaruhi gaya hidup untuk selalu membeli pakaian mengikuti tren terkini. Limbah tekstil merupakan salah satu polutan utama saat ini. Limbah tekstil dapat dihasilkan dari pra pemakaian yaitu pada proses produksi serta pasca pemakaian oleh konsumen. Permasalahan lingkungan hidup inilah yang menjadi landasan proses daur ulang sebagai salah satu alternatif dalam menerapkan konsep berkelanjutan. Penelitian ini melakukan pengolahan limbah celana denim pasca pemakaian untuk dijadikan bahan alternatif berupa kain. Tahap awal penelitian adalah tinjauan pustaka yang dilanjutkan dengan studi lapangan pada proses percobaan pembuatan produk serta pengujian kualitas kain. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah alternatif kain baru dengan menerapkan teknik sulam mesin/bordir menggunakan lembaran film yang larut dalam air. Keutamaan penelitian ini adalah sebagai alternatif dalam mengurangi limbah pasca pemakaian produk denim pada lingkungan dengan konsep waste to product.

Page 8 of 10 | Total Record : 97