cover
Contact Name
Wiah Wardiningsih
Contact Email
wiahwards@gmail.com
Phone
+6222-7272580
Journal Mail Official
texere@stttekstil.ac.id
Editorial Address
Politeknik STTT Bandung Jalan Jakarta No. 31 Bandung 40272
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Texere
ISSN : 1411309     EISSN : 27741893     DOI : https://doi.org/10.53298/texere.v19i1
Texere merupakan majalah ilmiah yang mencakup karya tulis ilmiah bidang tekstil, garmen dan fesyen baik yang terkait dengan proses produksi ataupun proses pendukung (supporting)
Articles 97 Documents
Pengaruh Kecepatan Rol Pelilinan di Mesin Winding Terhadap Friksi dan Hairiness Benang Wanti, Ria; Setiawati, Riavani
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.03

Abstract

Kualitas benang yang dihasilkan oleh perusahaan pemintalaan adalah hal yang mutlak perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan, akhir-akhir ini di PT. X terjadi penurunan kualitas benang, yaitu nilai koefisien friksi dan hairiness benang. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai koefisien friksi dan hairiness benang yaitu proses pemberian lilin yang dilakukan di mesin winding. Dalam proses pemberian lilin terdapat beberapa pilihan kecepatan rol pelilinan. Pada penelitian ini dilakukan percobaan di mesin winding dengan memvariasikan lima variasi kecepatan rol pelilinan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecepatan putaran rol pelilinan terhadap nilai koefisien friksi dan hairiness benang serta mengetahui kecepatan putaran rol pelilinan yang akan menghasilkan nilai koefisien friksi serta hairiness benang minimum. Percobaan dilakukan di mesin winding merek Savio Polar M dengan bahan baku benang poliester 100% Ne 30s. Variasi kecepatan rol pelilinan yang digunakan yaitu RPM 20, 45, 56, 75, dan 113. Benang hasil percobaan lalu diuji koefisien friksi dan hairiness-nya. Hasilnya kecepatan rol pelilinan memberikan pengaruh terhadap nilai koefisien friksi dan hairiness benang yang dihasilkan. Penyetelan kecepatan rol pelilinan yang menghasilkan nilai koefisien friksi dan hairiness minimum yaitu RPM 20 yang menghasilkan nilai koefisien friksi sebesar 0,11752 u dan hairiness sebesar 5,448 cm/1cm benang.
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN BAMBU TALI (Gigantochloa apus) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS Hardianto, Hardianto; Mubarok, Miftah Farid; Nurbaits, Alisya; Salimah, Asiyah Wardah
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.02

Abstract

Kain kapas merupakan kain yang terbuat dari serat alam yang masih masif digunakan karena memiliki beberapa kelebihan. Akan tetapi, kain kapas juga memiliki kekurangan yaitu adanya kemungkinan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Hal tersebut dapat diatasi dengan proses penyempurnaan antibakteri sehingga diperoleh kain yang memiliki ketahanan terhadap bakteri. Ekstrak daun bambu tali (Gigantochloa apus) dapat dimanfaatkan sebagai zat antibakteri karena mengandung senyawa fenol, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Penyempurnaan antibakteri dilakukan menggunakan larutan penyempurnaan yang terdiri dari ekstrak daun bambu tali, zat pengikat silang yang divariasikan yaitu asam sitrat dan binder GSL, dan katalis. Metode penyempurnaan yang digunakan yaitu metode pad-dry-cure dengan WPU sebesar 80% dan suhu pemanas-awetan yang divariasikan pada suhu 160°C dan 170°C. Pengujian yang dilakukan pada kain tersebut ialah pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan pengujian sifat fisika kain meliputi kekuatan tarik dan mulur kain dan kekuatan sobek kain metode Elmendorf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bambu tali dengan zat pengikat silang asam sitrat yang diaplikasikan pada kain kapas memiliki aktivitas antibakteri yang cukup dengan diameter zona hambat yang terbentuk sebesar 6 mm. Selain itu, penyempurnaan antibakteri ini tidak menyebabkan perubahan sifat fisika kain (kekuatan tarik, mulur kain, dan kekuatan sobek) yang signifikan secara statistika.
EKSPLORASI MOTIF TERINSPIRASI DARI PERTUNJUKAN EBEG BANYUMASAN DENGAN TEKNIK BORDIR DAN APLIKASI ZIPPER PADA BUSANA READY-TO-WEAR DELUXE Andrian, Feri; Hasmiraldi, Eric; Saifurohman, -
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.06

Abstract

Semakin berkembangnya busana mengakibatkan munculnya keberagaman jenis dari busana. Salah satu jenis busana yang berkembang ialah ready-to-wear deluxe. Di Indonesia, busana tidak lepas dari pengaruh budaya sebagai negara yang kaya akan budaya yang patut untuk dilestarikan. Salah satu daerah dengan adat budaya yang masih kental dan dilestarikan adalah Ebeg Banyumasan di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas. Dalam penelitian ini, pertunjukan Ebeg Banyumasan menjadi inspirasi dalam pembuatan busana ready-to-wear deluxe yang diaplikasikan melalui teknik bordir digital. Busana yang dibuat pada penelitian ini mengikuti trend forecasting 2023/2024, yakni mengambil tema The Saviors dengan ciri khas struktur busana yang tegas dan sporty. Koleksi busana yang dibuat diberi judul ‘Unketriwal’ yang diambil dari bahasa ngapak banyumasan “tidak hilang”. Pemilihan judul ini bertujuan untuk terus menjaga budaya bangsa, khususnya budaya Pertunjukan Ebeg Banyumasan agar tidak hilang di masa yang akan datang.
MENINGKATKAN KINERJA PENCELUPAN KAPAS: MENGEKSPLORASI PENGARUH PH ASAM PADA LARUTAN PENCELUPAN EKSTRAK DAUN JATI DAN EFEK POST MORDANTING Cahyaningtyas, Hilmi Amanah Aditya; Vera, Ade; Mulyani, Rr. Wiwiek Eka
Texere Vol 22, No 1 (2024): Texere Volume 22 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i1.04

Abstract

Daun Jati merupakan jenis tumbuhan yang berpotensi diaplikasikan sebagai zat warna alami tekstil. Memiliki pigmen tanin dan antosianin membuat daun jati dapat menghasilkan warna yang variatif dan menarik. Pencelupan dilakukan dengan metode exhaust pada kain tenun kapas, 40 oC dalam suasana asam (pH 4). Guna memperoleh ikatan kimia antar zat warna dan serat setelah pencelupan, dilakukan proses mordanting dengan melihat pengaruh zat mordan berbeda menggunakan tawas dan ferrosulfat. Evaluasi yang dilakukan pada kain hasil pencelupan ialah ketuaan, kerataan, arah warna, serta ketahanan luntur warna akibat pencucian dan gosokan. Hasil evaluasi menunjukan penambahan mordan ferrosulfat memiliki nilai ketuaan warna tertinggi dengan K/S 1,6692 dibandingkan dengan tawas dengan nilai K/S 0,3526. Arah warna pada mordan tawas diperoleh nilai a* +1,62 dan b* -1,2, serta pada ferrosulfat didapatkan nilai a* -3,9 dan b* +4,86. Ketahanan luntur warna berdasarkan pencucian menggunakan grey and staining scale dengan penggunaan kedua mordan mendapatkan nilai baik (4-5) dan berdasarkan gosokan kering dan basah dengan nilai baik hingga cukup baik. Dengan penambahan mordan diketahui dapat meningkatkan nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian maupun gosokan.
PENGARUH PENCUCIAN BERULANG TERHADAP PERFORMA KAIN KERUDUNG RAYON 100% YANG TELAH DILAKUKAN PENYEMPURNAAN ANTI KUSUT Dini, Faiz Fajar; Kuswinarti, Kuswinarti
Texere Vol 21, No 2 (2023): Texere Volume 21 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v21i2.03

Abstract

Pemakaian kerudung dalam aktivitas sehari – hari dan proses pencucian yang terus menerus serta penambahan zat penyempurnaan anti kusut seperti resin, katalis, dan softener pada kain kerudung tentunya akan berpengaruh terhadap performa kain kerudung yaitu smoothness appearance, kekuatan tarik kain, dan kelangsaian kain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian berulang terhadap performa kain kerudung anti kusut serta mengetahui jumlah pencucian yang dapat menurunkan mutu kerudung anti kusut. Proses penyempurnaan anti kusut dilakukan secara exhaust menggunakan resin DMDHEU. Proses pencucian berulang dan pengujian performa kain kerudung seperti pengujian smoothness appearance, kekuatan tarik kain, dan kelangsaian dilakukan berdasarkan ketentuan yang ada di SNI. Adanya pencucian berulang terbukti menurunkan performa kerudung anti kusut dan berpengaruh terhadap pemenuhan syarat mutu yang ada dalam SNI 8098:2017.
PERANCANGAN BUSANA READY-TO-WEAR DENGAN INSPIRASI ARSITEKTUR SUKIYA-ZUKURI MENGGUNAKAN TEKNIK INTERLOCKING MODULAR Kuswinarti, Kuswinarti; Rohmah, Siti; Elriska, Ripelian
Texere Vol 22, No 2 (2024): Texere Volume 22 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i2.03

Abstract

Pembuatan busana ready-to-wear dengan inspirasi dari gaya arsitektur sukiya-zukuri dapat diterapkan dengan menggunakan teknik interlocking modular. Teknik interlocking modular merupakan teknik penggabungan modul-modul kecil dengan melakukan pengulangan tanpa perekatan ataupun penjahitan. Teknik ini memiliki keunikan pada proses penggabungan modul-modul melalui mekanisme kuncian. Teknik interlocking modular menjadi salah satu teknik alternatif yang dapat digunakan pada bidang fesyen sehingga menampilkan desain permukaan dan kenampakan yang berbeda pada busana. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, eksploratif dan pembuatan produk.  Hasil  produk dari penelitian ini berupa busana ready-to-wear yang terinspirasi arsitektur sukiya-zukuri dengan teknik interlocking modular untuk mendapatkan kenampakan yang berbeda melalui efek kuncian pada modul sehingga meningkatkan nilai estetika busana saat digunakan pada kegiatan sehari-hari ataupun menghadiri acara dengan tema khusus lainnya. Jenis kain yang digunakan pada reka bahan interlocking modular mempengaruhi kekuatan sambungan interlock pada modul. Jenis kain yang sesuai untuk reka bahan interlocking modular adalah kain dengan serat poliester–kapas yang memiliki kontruksi kain tenun anyaman polos dan penyempurnaan sueding dengan nama dagang kain suede.
PENERAPAN KONSEP TEKNIK UPCYCLE PADA BUSANA READY TO WEAR DELUXE DENGAN GAYA ANDROGINI Amallina, Aulia Sari Nur; Hasmiraldi, Eric; Saifurohman, Saifurohman
Texere Vol 22, No 2 (2024): Texere Volume 22 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i2.04

Abstract

Seiring perkembangan zaman, pakaian telah berkembang dari kebutuhan pokok menjadi media ekspresi diri dan penanda status sosial. Namun, tren fast fashion yang menawarkan produk murah dan massal menimbulkan masalah lingkungan serius, terutama karena sulitnya mengurai bahan pakaian tersebut. Sebagai solusi, konsep mode berkelanjutan seperti upcycling menjadi gaya hidup baru di dunia fashion. Dalam penelitian ini, konsep upcycling diterapkan pada busana ready to wear deluxe dengan gaya androgini dan penggunaan sablon glow in the dark yang mengacu pada Indonesia Trend Forecasting 2024/2025 dengan tema Avant Tech. Busana dirancang dengan siluet I-line dan A-line menggunakan material utama dari pakaian bekas, khususnya celana jeans, yang dipadukan dengan kain katun poliester. Hasil akhir menunjukkan bahwa busana dengan tema "Eidith" yang menggabungkan upcycling dan sablon glow in the dark tidak hanya estetis tetapi juga fungsional. Teknik ini juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut dengan inovasi material lainnya
PENETAPAN STANDAR LIFE TIME PENGGUNAAN PISAU AUTO CUTTING MACHINE SINGLE PLY PADA KAIN DRILL DI POLITEKNIK STTT BANDUNG Purnama, Ichsan; Sumihartati, Atin; Fitriani, Liana Dwi; Ramadhan, Zyad
Texere Vol 22, No 2 (2024): Texere Volume 22 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i2.05

Abstract

Mesin auto cutting merupakan mesin pemotongan kain dengan mengikuti pola yang terdapat pada kertas marker atau kain secara otomatis dengan digerakkan oleh sistem komputer yang dapat mengontrol jalannya proses produksi. Ketepatan dan kebersihan pemotongan menjadi persyaratan terhadap kualitas hasil pemotongan. Untuk mencapai proses pemotongan kain yang baik, salah satu bagian penting yang harus diperhatikan adalan penggunaan pisau potong. Tujuan penelitian ini adalah melakukan percobaan terhadap penggunaan pisau potong decagonal dengan ukuran 45 mm untuk mendapatkan usia pakai pisau potong dengan memperhatikan cutting length. Setelah melakukan penelitian usia pakai pisau potong mesin autocutting  diperoleh kesimpulan  bahwa total panjang cutting length sampai pisau tidak dapat memotong dengan sempurna  adalah Cutting length 6760,03 meter untuk gramasi kain 209 gsm dan Cutting length 6341,25 meter untuk gramasi kain 216 gsm.
PENGARUH KONSENTRASI GUAR GUM DAN UREA PADA PENCAPAN ZAT WARNA REAKTIF PADA KAIN KAPAS S.Si.T., M.Eng., Ph.D., Hardianto,; Pratiwi, Virda Aditya Arie
Texere Vol 22, No 2 (2024): Texere Volume 22 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i2.01

Abstract

Proses pencapan zat warna reaktif pada kain kapas umumnya menggunakan pengental alginat, namun harganya relatif mahal karena ketersedian alginat mulai terbatas. Salah satu alternatif pengental untuk pencapan dengan harga yang lebih murah yaitu menggunakan guar gum. Pada pencapan menggunakan zat warna reaktif menggunakan pengental alginat sering ditambahkan urea untuk memberikan kelembapan selama proses fiksasi sehingga pewarna dapat masuk ke dalam serat dengan baik. Hal tersebut mendorong perlunya dilakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi guar gum dan urea terhadap hasil pencapan zat warna reaktif pada kain kapas. Pada penelitian ini dilakukan proses pencapan pada kain kapas menggunakan zat warna reaktif dengan memvariasikan guar gum sebesar 500, 600, 700, dan 800 g/kg dan urea sebesar 60, 80, 100 g/kg. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian viskositas, ketuaan warna, ketajaman motif, kekakuan kain, dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa konsentrasi guar gum dan urea berpengaruh terhadap ketuaaan warna, ketajaman motif dan kekakuan kain, namun tidak berpengaruh pada ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Konsentrasi guar gum juga berpengaruh pada viskositas pasta. Semakin besar konsentrasi guar gum maka semakin tinggi nilai viskositas pasta cap. Nilai optimum diperoleh dari hasil pencapan dengan konsentrasi guar gum 500 g/kg dan urea 60 g/kg yang memberikan nilai ketuaan warna tertinggi yaitu 15,3081 dan nilai ketajaman motif 4,6. Selain itu kekakuan kain dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan memiliki hasil yang baik. 
GRADASI WARNA DAN EMBELLISHMENT PADA GAUN PENGANTIN MUSLIMAH TERINSPIRASI DARI HANFU DRESS Mutmainnah, Qonita Nafsah; Zakiyah, Zumrotu; Herdiyani, Nindhita Gita Puspita
Texere Vol 22, No 2 (2024): Texere Volume 22 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v22i2.06

Abstract

Gaun pengantin adalah busana istimewa yang digunakan wanita pada saat hari pernikahan. Gaun pengantin yang modern tidak lagi berwarna putih saja, tetapi mulai berwarna sesuai keinginan pengantin. Gaun pengantin muslimah terinspirasi dan Chinese Hanfu dress menerapkan gradasi warna menggunakan teknik pencelupan dan penerapan embellishment pada busana, berupa bunga 3 dimensi dan payet (beads) diadaptasi dan bunga plum blossom alau Mei Hua vang memiliki makna sebagai harapan baru dan memberikan kebahagiaan di sekelilingnya. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka dan pembuatan produk busana. Proses pembuatan gaun pengantin muslimah ini dimulai dari proses perancangan konsep, pembuatan moodboard, pembuatan desain dan produksi busana. Proses produksi dimulai dan pembuatan gradası warna dengan teknik pencelupan kain, dilanjutkan pembuatan pola busana dan obi, pembuatan mock up. pemotongan, penjahitan, pembuatan bunga 3 dimensi, pemasangan embellishment, fitting awal, finishing, hingga fitting akhir, Perancangan gaun pengantin muslimah memiliki bentuk siluet A, terdiri dari inner dan outer dan dilengkapi dengan komponen obi dan hijab serta dibuat menutupi bagian aurat wanita. Warna putih pada bagian inner yang melambangkan kesucian dan bagian outer menerapkan warna putih yang diben efek gradasi warna pink kemerahan menjadi alternatif baru bagi pengantin muslimah yang menampilkan gaya feminine-romantic. Konsep gaun pengantin muslimah ini juga sejalan dengan warna dan siluet dari Trend Forecasting 2023/2024 Co-Exist tema The Soul Searchers.

Page 9 of 10 | Total Record : 97