cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 970 Documents
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS NEGOSIASI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COLLABORATIVE INTEGRATED PROCESS LEARNING (CIPRO) SISWA KELAS X SMK NEGERI 2 NAMOHALU ESIWA Merling Wati Zega; Iman Sudi Zega; Lestari Waruwu; Mastawati Ndruru
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15790

Abstract

The ability of tenth-grade students at SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa to write negotiation texts was relatively low due to difficulties in developing ideas, organizing logical arguments, and applying appropriate language conventions. This study aimed to improve students' negotiation text writing skills through the implementation of the Collaborative Integrated Process Learning (CIPRO) model. The research employed Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The participants were 20 students of Class X-PDIB at SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa in the 2025/2026 academic year. Data were collected through writing tests, observation sheets, field notes, and documentation, and were analyzed using quantitative and qualitative techniques. The findings revealed that the implementation of the CIPRO learning model significantly improved students' negotiation text writing skills. The average writing score increased from 53 in Cycle I to 92 in Cycle II, with classical learning mastery rising sharply from 25% to 95%. Students' learning activities also improved, as indicated by observation results rising from 45% and 48% in Cycle I to 84% and 98% in Cycle II. Furthermore, the researcher's classroom observation scores increased from 43% and 64% in Cycle I to 86% and 93% in Cycle II. Therefore, the Collaborative Integrated Process Learning (CIPRO) model proved to be effective in improving the negotiation text writing skills of tenth-grade students at SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa. ABSTRAK Kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa masih tergolong rendah karena siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide, menyusun argumen secara logis, serta menggunakan kaidah kebahasaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks negosiasi melalui penerapan model pembelajaran Collaborative Integrated Process Learning (CIPRO). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 20 siswa kelas X-PDIB SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa Tahun Pembelajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data menggunakan tes kemampuan menulis, lembar observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CIPRO mampu meningkatkan kemampuan menulis teks negosiasi siswa. Nilai rata-rata tes kemampuan menulis siswa meningkat dari 53 pada siklus I menjadi 92 pada siklus II, dengan persentase ketuntasan klasikal melonjak dari 25% menjadi 95%. Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan, ditunjukkan oleh hasil observasi dari 45% dan 48% pada siklus I menjadi 84% dan 98% pada siklus II. Selain itu, hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran oleh peneliti meningkat dari 43% dan 64% pada siklus I menjadi 86% dan 93% pada siklus II. Dengan demikian, model pembelajaran Collaborative Integrated Process Learning (CIPRO) terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis teks negosiasi siswa kelas X SMK Negeri 2 Namohalu Esiwa.    
PENGARUH PERMAINAN KECIL TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN Roumanti Naibaho; Joen Parningotan Purba; Ester Julinda Simarmata
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15791

Abstract

Physical Education, Sports, and Health (PJOK) learning in primary schools is often confronted with low student enthusiasm due to monotonous and rigid physical drill methods. Based on this issue, this study aims to determine the effect of implementing small games on improving students' learning motivation in PJOK among fifth-grade students of SD Negeri 067242 Medan Sunggal in the 2025/2026 academic year. This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a one-group pretest-posttest design. The research subjects comprised 25 students of grade V-B selected through purposive sampling, utilizing a four-point Likert scale questionnaire and structured activity observation sheets as data collection instruments. The descriptive analysis revealed a substantial increase in the average learning motivation score, rising from 62.64 in the pretest (low category) to 92.36 in the posttest (very high category). Furthermore, the hypothesis testing through paired sample t-test yielded a t_"value"  of 24.838, which significantly exceeded the t_"table"  value of 2.064 at the 5% significance level (df=24,p=0.000<0.05). Consequently, the small games method is proven to exert a statistically significant positive effect on enhancing primary school students' learning motivation in physical education. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di tingkat sekolah dasar kerap dihadapkan pada rendahnya antusiasme peserta didik akibat penerapan metode latihan fisik yang monoton dan kaku. Berangkat dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode permainan kecil terhadap peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PJOK kelas V SD Negeri 067242 Medan Sunggal Tahun Ajaran 2025/2026. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi-experiment) melalui desain one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 25 orang siswa kelas V-B yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan instrumen pengumpulan data berupa angket motivasi belajar berskala Likert empat tingkat serta lembar observasi aktivitas gerak. Hasil analisis data deskriptif menunjukkan adanya lonjakan rata-rata skor motivasi belajar siswa dari kategori rendah sebesar 62,64 pada saat pretest menjadi 92,36 pada saat posttest yang tergolong dalam kategori sangat tinggi. Hasil uji hipotesis menggunakan paired sample t-test membuktikan nilai t_"hitung"  sebesar 24,838 yang melampaui nilai t_"tabel"  sebesar 2,064 pada taraf signifikansi 5% (df=24,p=0,000<0,05). Dengan demikian, metode permainan kecil terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan secara nyata dalam membangkitkan motivasi belajar siswa sekolah dasar pada pembelajaran PJOK.    
UNIVERSITY EFL STUDENTS' PERCEPTIONS OF SOCIAL MEDIA USE AND ITS RELATIONSHIP TO THEIR ENGLISH READING PROFICIENCY: A QUALITATIVE STUDY Agung Laksana; Yustika Nur Fajriah; Rajji Koswara Adiredja
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15792

Abstract

Social media has become deeply embedded in university students' daily lives, exposing them to substantial amounts of English-language text through captions, comments, and short-form digital content. While prior research has examined this relationship primarily through standardized test scores or quantitative usage surveys, few studies have explored how students themselves interpret this connection in their own authentic voices. This qualitative study explored how English Education major students perceive the relationship between their informal social media use and their English reading proficiency, adopting a phenomenological design grounded in New Literacies theory. Data were gathered from ten fourth-year English Education students at Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut through open-ended written questionnaires distributed via Google Forms, which were subsequently analyzed using reflexive thematic analysis. Findings revealed four interrelated themes: incidental vocabulary and expression acquisition through casual exposure, perceived but limited transfer to academic reading constrained by register differences, mixed effects on sustained reading focus and cognitive attention span, and social media functioning as a motivational bridge for reluctant readers. The study concludes that students experience social media not as an outright substitute for academic texts, but as an autonomous, low-pressure supplementary literacy practice that shapes their textual engagement in nuanced and divergent ways. These empirical insights suggest that higher education EFL practitioners should intentionally acknowledge and scaffold students' everyday digital reading habits rather than isolating informal communicative practices from formal academic instruction. ABSTRAK Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas harian mahasiswa, memaparkan mereka pada teks berbahasa Inggris dalam jumlah yang signifikan melalui takarir (caption), utas komentar, dan video berdurasi pendek. Penelitian-penelitian terdahulu umumnya menguji korelasi ini melalui pendekatan kuantitatif skor tes atau survei penggunaan, sementara penelitian yang mengeksplorasi pemaknaan subjektif mahasiswa secara mendalam masih sangat terbatas. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris mempersepsikan hubungan antara kebiasaan bermedia sosial dengan kecakapan membaca bahasa Inggris mereka berdasarkan perspektif teori New Literacies. Data dihimpun dari sepuluh mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut menggunakan kuesioner terbuka tertulis secara daring, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model enam tahap. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema sentral: perolehan kosakata dan ungkapan secara insidental melalui paparan kasual, transfer parsial ke ranah membaca akademik yang terbentur perbedaan laras bahasa (register), dampak yang terpolarisasi terhadap rentang konsentrasi membaca, serta peran media sosial sebagai jembatan motivasional bagi pembaca yang enggan. Studi ini menyimpulkan bahwa mahasiswa memposisikan media sosial bukan sebagai pengganti teks akademik formal, melainkan sebagai wadah pengayaan literasi digital mandiri yang memperluas keterpaparan bahasa Inggris mereka secara kontekstual. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya bagi dosen untuk mengintegrasikan praktik literasi digital informal mahasiswa ke dalam perancangan strategi instruksional membaca di kelas formal.    
KONSEP KETAATAN DALAM TRADISI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF TAFSIR AL MISBAH TELAAH QS AN NISA AYAT 59 Wahyu Cahya Tri Utami; Hayyan Ahmad Ulul Albab; Winarto Eka Wahyudi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15797

Abstract

This study examines the concept of students' obedience to teachers from the perspective of Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab based on Qur'an Surah An-Nisa verse 59. The study was motivated by the widespread misinterpretation of obedience in Islamic education, which has created uneven power relations and opportunities for the abuse of authority. Using a qualitative library research method, this research analyzes Tafsir Al-Misbah, supported by Tafsir Ibn Kathir, Tafsir Al-Azhar, and other relevant scholarly sources through content analysis. The findings show that Qur'an Surah An-Nisa verse 59 establishes two levels of obedience: absolute obedience to Allah and His Messenger, and conditional obedience to ulil amri, including teachers as educational authorities. Students' obedience to teachers is invalidated if the directives involve disobedience to divine law, violate human dignity, or breach legal boundaries. This concept reconstructs Islamic pedagogical relationships into conscious, rational, and ethical interactions that actively prevent blind obedience within Islamic educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penyimpangan pemahaman konsep ketaatan dalam pendidikan Islam yang berpotensi menimbulkan relasi kuasa timpang serta penyalahgunaan otoritas dalam hubungan guru dan murid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ketaatan murid kepada guru dalam perspektif Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab berdasarkan QS. An-Nisa ayat 59 dan relevansinya bagi etika pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian adalah kitab Tafsir Al-Misbah yang didukung oleh Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Azhar, serta literatur ilmiah terkait, dengan teknik pengumpulan data studi dokumentasi dan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nisa ayat 59 membagi ketaatan menjadi dua dimensi, yakni ketaatan mutlak kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. serta ketaatan kondisional kepada ulil amri, termasuk guru sebagai pemegang otoritas keilmuan. Ketaatan murid kepada guru gugur apabila instruksi yang diberikan mengandung kemaksiatan atau bertentangan dengan syariat, martabat kemanusiaan, dan hukum positif. Konsep ini merekonstruksi relasi pedagogis Islam menjadi hubungan yang sadar, rasional, beradab, serta mencegah doktrin kepatuhan buta (blind obedience) di lingkungan lembaga pendidikan Islam.  
MODERASI BERAGAMA DAN PROFESIONALISME GURU: REFLEKSI KRITIS ATAS PRAKTIK ETIK DI SEKOLAH Lilik Qonitah; M.Sugeng Sholehuddin; Niken Rahmawati
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15798

Abstract

While the call for religious moderation is widely voiced to curb intolerance and radicalism, a fundamental question arises regarding the direction of this policy if teachers are reduced to mere bureaucratic executors. This policy is formally mandated in the Strategic Plan of the Ministry of Religious Affairs and incorporated into the national agenda through the 2020–2024 RPJMN. However, contemporary literature reveals an overwhelming focus on technical curriculum modifications, positioning educators primarily as passive state instruments. Consequently, the dimensions of professional ethics, moral autonomy, and teacher authenticity are frequently overlooked in critical educational discourse. Employing a qualitative approach via library research, this study examines the nexus between religious moderation and teacher professional ethics through reflective-critical content analysis. The findings indicate that the religious moderation agenda within schools is heavily susceptible to bureaucratic performativity aimed merely at satisfying institutional compliance. In practice, educators experience intricate internal tensions and cognitive dissonance when negotiating top-down state directives against personal theological convictions. This study underscores that the genuine success of religious moderation hinges not on sophisticated curricular designs, but on the ethical sincerity and moral authenticity of teachers in cultivating inclusive values within classroom life. ABSTRAK Ketika seruan moderasi beragama digelorakan untuk membendung arus intoleransi dan radikalisme, sebuah pertanyaan mendasar muncul mengenai ke mana arah kebijakan ini bermuara jika guru hanya diposisikan sebagai mesin pelaksana birokrasi. Kebijakan ini secara formal diamanatkan dalam Rencana Strategis Kementerian Agama yang kemudian diangkat menjadi agenda prioritas nasional melalui RPJMN 2020–2024. Namun, amatan terhadap literatur mutakhir memperlihatkan kecenderungan bahwa riset terlalu berfokus pada instrumen teknis kurikulum dan menempatkan pendidik sekadar sebagai penyambung lidah negara. Dimensi etika profesi, otonomi moral, dan autentisitas guru justru kerap luput dari perhatian kritis para akademisi. Melalui pendekatan kualitatif jenis studi kepustakaan (library research), artikel ini menganalisis titik temu antara moderasi beragama dan etika profesi guru menggunakan teknik analisis isi (content analysis) secara reflektif-kritis. Hasil telaah membuktikan bahwa di lingkungan sekolah, proyek pengarusutamaan moderasi rentan terjebak dalam formalitas administratif demi menggugurkan kewajiban institusional semata. Di ruang kelas, guru mengalami pergulatan batin dan disonansi kognitif yang rumit ketika harus mempertemukan kepatuhan regulasi negara dengan keyakinan teologis privat mereka. Riset ini menegaskan bahwa keberhasilan moderasi tidak terletak pada megahnya dokumen kurikulum, melainkan pada ketulusan etik guru dalam merawat nilai-nilai inklusif secara nyata di ruang kelas.    
EKSPLORASI STRATEGI SISTEM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI TPQ DAN TKQ AL-FATTAH KECAMATAN GENDING KABUPATEN PROBOLINGGO Muhammad Idris; Ayu Nur Fadilah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15799

Abstract

ABSTRAKThis study aims to explore the educational and instructional strategy systems implemented by the Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) and Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ) Al-Fattah in Gending District, Probolinggo Regency, a non-formal educational institution that has operated for nearly two decades yet remains largely undocumented academically. The study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with the institutional leader, senior male instructors (ustaz), senior female instructors (ustazah), and parents, and document analysis, then examined using the interactive model of Miles and Huberman, with validity ensured through source and technique triangulation as well as member checking. The findings show that both institutions manage education in an integrated manner by combining classical and individual learning models grounded in the Tartila method, while simultaneously cultivating Islamic character through the practice of fasholatan and the memorization of daily supplications. Four core strategies were identified: (1) the sorogan and bandongan approaches to strengthen Qur'anic reading competence; (2) play-based learning for TKQ students; (3) habitual memorization of prayers and short surahs through the talaqqi method; and (4) a tiered evaluation system through level-advancement examinations and khataman. The institutions' success is supported by three main pillars: the capability of the ustaz/ustazah, active family participation, and socio-religious capital from the surrounding community. These findings offer practical contributions to developing a holistic and replicable model of non-formal Qur'anic education in other regions. Kajian ini bertujuan mengeksplorasi strategi sistem pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan oleh Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dan Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (TKQ) Al-Fattah di Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang telah beroperasi hampir dua dasawarsa namun belum banyak didokumentasikan secara akademis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data digali melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam bersama kepala lembaga, ustaz, ustazah, dan wali santri, serta telaah dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber, teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lembaga mengelola pendidikan secara terpadu dengan memadukan model pembelajaran klasikal dan individual berlandaskan metode Tartila, sekaligus mengembangkan karakter Islami melalui praktik fasholatan dan hafalan doa-doa harian. Empat strategi pokok teridentifikasi, yaitu: (1) pendekatan sorogan dan bandongan untuk penguatan kompetensi baca Al-Qur'an; (2) pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) bagi santri TKQ; (3) pembiasaan hafalan doa dan surah pendek secara talaqqi; serta (4) sistem evaluasi berjenjang melalui ujian kenaikan jilid dan khataman. Keberhasilan lembaga ditopang oleh tiga pilar utama, yakni kapabilitas ustaz/ustazah, partisipasi aktif keluarga santri, dan modal sosial keagamaan masyarakat sekitar. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pendidikan Al-Qur'an nonformal yang holistik dan dapat direplikasi di wilayah lain.    
INOVASI PEMBELAJARAN FIQIH ERA DIGITAL: INTEGRASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM MODEL INQUIRY LEARNING Muhamad Syafiqul Humam; Muhammad Nurhalim
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15800

Abstract

Fiqh instruction in many Islamic schools remains predominantly teacher-centered, rendering it less effective for engaging the contemporary digital generation that demands active, contextual, and exploratory learning experiences. The integration of Artificial Intelligence (AI) into the Inquiry Learning model offers a strategic pedagogical innovation to enhance instructional quality while maintaining the teacher's vital role as a facilitator. This study aims to describe the integration of AI across each stage of Inquiry Learning in Fiqh instruction at SMP IT Mutiara Ilmu Sokaraja, Banyumas Regency. Employing a descriptive qualitative approach with a field research design, data were gathered through classroom observations, in-depth interviews with the principal, the Fiqh teacher, and students, alongside instructional documentation review. Data analysis followed the Miles and Huberman interactive model, complemented by source and method triangulation to ensure data trustworthiness. The findings reveal that AI was systematically integrated into problem identification, data collection, data analysis, and conclusion synthesis through the utilization of ChatGPT, Perplexity AI, Google Gemini, and NotebookLM. AI was most heavily utilized during the data gathering and comparative analysis phases, while the teacher retained an indispensable role as a facilitator, ethical guide, and legal validator. These insights underscore that the successful implementation of AI in Islamic jurisprudence education relies fundamentally on the teacher's pedagogical competence to thoughtfully scaffold AI tools within an inquiry framework to cultivate critical thinking. ABSTRAK Pembelajaran Fiqih di banyak sekolah masih didominasi metode konvensional yang berpusat pada guru sehingga kurang mampu mengakomodasi karakteristik generasi digital yang membutuhkan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis eksplorasi. Integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam model Inquiry Learning menjadi salah satu inovasi strategis yang berpotensi mentransformasi kualitas pembelajaran tanpa mengesampingkan peran guru sebagai fasilitator utama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan integrasi AI pada setiap tahapan Inquiry Learning dalam pembelajaran Fiqih di SMP IT Mutiara Ilmu Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis studi lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi kelas, wawancara mendalam bersama kepala sekolah, guru Fiqih, dan siswa, serta telaah dokumentasi perangkat ajar. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI diintegrasikan secara proporsional pada tahap identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data, serta penarikan kesimpulan dan penyajian hasil dengan memanfaatkan platform ChatGPT, Perplexity AI, Google Gemini, dan NotebookLM. Pemanfaatan AI paling dominan terdapat pada tahap pengumpulan dan analisis data, sementara guru tetap memegang kendali sentral sebagai fasilitator, pengarah etika digital, dan validator hukum syariat. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan integrasi teknologi dalam pembelajaran Fiqih sangat bergantung pada kompetensi pedagogis guru dalam merajut teknologi AI secara tepat ke dalam sintaks inkuiri yang berorientasi pada nalar kritis siswa.    
PENGEMBANGAN VIDEO TUTORIAL TEKNIK SKETSA DAN ILUSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERAPKAN GAMBAR BENTUK SISWA DKV Taskya Salma Nabilla; Hirnanda Dimas Pradana; Arqoma Nurveda Carreza
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15854

Abstract

Grade X students of Visual Communication Design (DKV) need visual representations that clearly demonstrate the application of sketching and illustration techniques in form drawing. Conventional classroom demonstrations are limited by viewing angle, instructional time, and opportunities for repeated observation. This study aimed to develop a hand-camera-based tutorial video on sketching and illustration techniques and to examine its effectiveness in improving students' applying ability (C3) in form drawing at SMKN 1 Boyolangu. The study used Research and Development with the ADDIE model and a Nonequivalent Control Group design. The participants were Grade X DKV 1 as the experimental class (n=32) and Grade X DKV 2 as the control class (n=34). Product feasibility was assessed by media, material, and instructional design experts. Effectiveness was examined using pretest, posttest, and N-Gain scores based on data corrected according to the official answer key. The validation results were 90% for media, 96% for material, and 98% for instructional design, with an overall feasibility score of 94.67%, categorized as Highly Feasible. The mean N-Gain was 0.706 (high) in the experimental class and 0.409 (medium) in the control class. A Mann-Whitney U test on N-Gain yielded U=357.500 and p=0.012, indicating a significant difference in learning improvement between the two groups. The findings indicate that the developed tutorial video is highly feasible and produced greater improvement in applying ability than conventional demonstration-based instruction in this trial. ABSTRAK Peserta didik kelas X Desain Komunikasi Visual (DKV) pada pembelajaran gambar bentuk memerlukan representasi visual yang dapat memperlihatkan proses penerapan teknik sketsa dan ilustrasi secara rinci. Demonstrasi konvensional di kelas memiliki keterbatasan sudut pandang, waktu, dan kesempatan peserta didik untuk mengulang pengamatan. Penelitian ini bertujuan menghasilkan video tutorial teknik sketsa dan ilustrasi berbasis hand camera yang layak digunakan serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan menerapkan (C3) gambar bentuk peserta didik kelas X DKV SMKN 1 Boyolangu. Penelitian menggunakan Research and Development dengan model ADDIE dan desain Nonequivalent Control Group. Subjek terdiri atas kelas eksperimen X DKV 1 (n=32) dan kelas kontrol X DKV 2 (n=34). Kelayakan produk dinilai oleh ahli media, ahli materi, dan ahli desain pembelajaran. Keefektifan dianalisis dari skor pretest, posttest, dan N-Gain pada data yang telah dikoreksi berdasarkan kunci jawaban resmi. Hasil validasi menunjukkan persentase kelayakan ahli media 90%, ahli materi 96%, dan ahli desain pembelajaran 98%, dengan rata-rata 94,67% berkategori Sangat Layak. Rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,706 (kategori tinggi), sedangkan kelas kontrol 0,409 (kategori sedang). Uji Mann-Whitney terhadap N-Gain menghasilkan U=357,500, Z=-2,518, dan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,012, sehingga terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan antara kedua kelas. Temuan menunjukkan bahwa video tutorial yang dikembangkan layak digunakan dan memberikan peningkatan kemampuan menerapkan yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran demonstrasi konvensional pada uji coba ini.
PEMBERDAYAAN GURU DALAM PEMBUATAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS DEEP LEARNING MELALUI KOLABORASI GURU PADA MGMP BAHASA INDONESIA SE-KOTA PALANGKA RAYA Nuryeni Nuryeni; Hari Windu Asrini
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15932

Abstract

The implementation of the Deep Learning approach within the Kurikulum Merdeka framework requires teachers to design instructional modules that facilitate meaningful, mindful, and joyful learning experiences. However, a preliminary needs assessment among teachers in the Indonesian Language Subject Teachers' Consultation (MGMP) of Palangka Raya revealed that their pedagogical competence in embedding Deep Learning principles remained suboptimal. This community empowerment service aimed to improve teachers' professional competence through collaborative workshops and intensive mentoring in designing Deep Learning-based teaching modules. The intervention engaged 60 junior high school Indonesian language teachers through systematic stages comprising needs analysis, conceptual reinforcement, design workshops, clinical mentoring, peer review, product presentations, revisions, and evaluation. Program evaluation revealed an increase in conceptual comprehension scores from a pre-test average of 54.20 to a post-test average of 86.45, alongside a validation feasibility score of 88.75% (highly feasible category) for the developed modules. The tangible outputs comprise three complete Phase D Indonesian language teaching modules for Grades VII, VIII, and IX deposited in a digital cloud repository for instructional adoption. Consequently, this collaborative MGMP-based empowerment framework serves as an effective, sustainable capacity-building model adaptable to other teacher learning communities. ABSTRAK Penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru memiliki keterampilan menyusun modul ajar yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menyenangkan (joyful). Berdasarkan analisis kebutuhan awal terhadap guru dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Se-Kota Palangka Raya, kemampuan mengintegrasikan prinsip-prinsip pedagogis Deep Learning ke dalam modul ajar masih belum optimal. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi profesional guru melalui lokakarya dan pendampingan penyusunan modul ajar berbasis Deep Learning secara kolaboratif. Program ini melibatkan 60 guru Bahasa Indonesia jenjang SMP dengan tahapan pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, penguatan konseptual, lokakarya perancangan, pendampingan intensif, peer review, presentasi produk, revisi, dan evaluasi. Evaluasi program menunjukkan peningkatan skor pemahaman konsep guru dari rata-rata pre-test sebesar 54,20 menjadi 86,45 pada post-test, serta capaian skor kelayakan modul ajar sebesar 88,75% (kategori sangat layak). Luaran nyata kegiatan berupa tiga modul ajar Bahasa Indonesia Fase D untuk kelas VII, VIII, dan IX yang terunggah dalam repositori digital dan siap diterapkan dalam pembelajaran. Dengan demikian, model pemberdayaan kolaboratif berbasis MGMP ini terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi profesional guru sekaligus berpotensi direplikasi pada komunitas belajar di daerah lain.    
EFEKTIVITAS INQUIRY LEARNING DAN PROJECT BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD Suci Rahmawati; Adi Winanto
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.16206

Abstract

This study aimed to analyze differences in students’ mathematical problem-solving ability before and after the implementation of Inquiry Learning and Project-Based Learning (PjBL), as well as to compare learning outcomes between the two models among fourth-grade elementary school students. Previous studies have reported inconsistent findings regarding the relative advantages of Inquiry Learning and PjBL, particularly in the context of mathematical problem-solving ability at the elementary school level. This study employed a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The sample consisted of 44 students from SD Negeri Mangunsari 07 and SD Negeri Kalicacing 02, selected using purposive sampling. Data were collected through observation sheets and essay tests developed based on Polya’s four problem-solving indicators. The paired-sample t-test results showed that students’ mathematical problem-solving ability improved significantly after the implementation of each learning model. The mean score in the Inquiry Learning class increased from 55.09 to 88.04, while the mean score in the Project-Based Learning class increased from 48.00 to 70.59. The independent-samples t-test on posttest scores indicated a significant difference between the two groups, with the Inquiry Learning class achieving a mean posttest score 17.45 points higher than the PjBL class. Therefore, under the conditions of this study, Inquiry Learning resulted in higher final mathematical problem-solving performance than PjBL. These findings suggest that Inquiry Learning has the potential to serve as an alternative instructional approach for supporting mathematical problem-solving ability among fourth-grade elementary school students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan Inquiry Learning dan Project-Based Learning (PjBL), serta membandingkan hasil belajar antara kedua model tersebut pada siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang belum konsisten mengenai keunggulan Inquiry Learning dan PjBL, khususnya dalam konteks kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi-experimental) dengan nonequivalent control group design. Sampel terdiri atas 44 siswa dari SD Negeri Mangunsari 07 dan SD Negeri Kalicacing 02 yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan tes uraian yang disusun berdasarkan empat indikator pemecahan masalah Polya. Hasil paired sample t-test menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika meningkat secara signifikan setelah penerapan masing-masing model pembelajaran. Rata-rata skor kelas Inquiry Learning meningkat dari 55,09 menjadi 88,04, sedangkan kelas Project-Based Learning meningkat dari 48,00 menjadi 70,59. Hasil independent samples t-test terhadap skor posttest menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan rata-rata skor posttest kelas Inquiry Learning lebih tinggi sebesar 17,45 poin dibandingkan kelas PjBL. Dengan demikian, pada kondisi penelitian ini, penerapan Inquiry Learning menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika akhir yang lebih tinggi dibandingkan dengan PjBL. Temuan ini menunjukkan bahwa Inquiry Learning berpotensi menjadi alternatif pembelajaran untuk mendukung kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV sekolah dasar.