cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 529 Documents
PEMBELAJARAN BERMAKNA DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Ni Putu Prasetya Widayanti; I N. Suparta; I N. Sukajaya; I G. N. Pujawan
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.10932

Abstract

Critical mathematical thinking skills as one of the important competencies of the 21st century are still relatively low because mathematics learning in schools tends to be teacher-centered and focuses on memorization. There needs to be an effort to develop critical mathematical thinking skills, namely by creating meaningful learning that can link material concepts with real experiences. The purpose of this study is to comprehensively examine the role of meaningful learning in developing students' mathematical critical thinking skills through the Systematic Literature Review method with PRISMA guidelines. Article searches were conducted through the Google Scholar, Research Gate, Garuda, SINTA, and Scopus databases within the publication period of 2020 – 2026. From the article search, 22 articles were obtained that were relevant for review. The results of the study show that meaningful learning that links prior knowledge with contextual, exploratory, and reflective learning experiences contributes significantly to developing mathematical critical thinking skills. Various models, approaches, or methods such as problem based learning (PBL), project based learning (PjBL), CORE model, constructivist approach, RME, CTL, inquiry, scientific, open-ended approach, multimodal approach, and HOTS-oriented case studies have characteristics that support the creation of meaningful learning. These findings indicate that the success of developing mathematical critical thinking skills does not depend on a particular model/approach/method, but on a learning design that is designed to facilitate students in constructing concepts/knowledge independently and meaningfully. This research provides practical implications for educators to design learning that prioritizes meaningfulness to develop mathematical critical thinking skills. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis matematis sebagai salah satu kompetensi penting abad ke-21 masih tergolong rendah karena pembelajaran matematika di sekolah cenderung berpusat pada guru dan berfokus pada hafalan. Perlu adanya upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis, yaitu dengan menciptakan pembelajaran bermakna yang dapat mengaitkan konsep materi dengan pengalaman nyata. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji secara komprehensif peran pembelajaran bermakna dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis peserta didik melalui metode Systematic Literature Review dengan pedoman PRISMA. Penelusuran artikel dilakukan melalui basis data Google Scholar, Research Gate, Garuda, SINTA, dan Scopus dalam rentang waktu publikasi tahun 2020 – 2026. Dari penelusuran artikel diperoleh sebanyak 22 artikel yang relevan untuk dikaji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran bermakna yang mengaitkan pengetahuan awal dengan pengalaman belajar kontekstual, eksploratif, dan reflektif berkontribusi signifikan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis. Berbagai model, pendekatan, atau metode seperti pembelajaran berbasis masalah (PBL), pembelajaran berbasis proyek (PjBL), model CORE, pendekatan konstruktivisme, RME, CTL, inkuiri, saintifik, pendekatan open ended, pendekatan multimodal, dan studi kasus berorientasi HOTS memiliki karakteristik yang mendukung terciptanya pembelajaran bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan kemampuan berpikir kritis matematis tidak bergantung pada satu model/pendekatan/metode tertentu, tetapi pada desain pembelajaran yang dirancang untuk memfasilitasi peserta didik mengkonstruksi konsep/pengetahuan secara mandiri dan bermakna. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pendidik untuk merancang pembelajaran yang mengedepankan kebermaknaan guna mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis.    
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PjBL BERBASIS STEM UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA Ika Khoiriyani; Azamul Fadhly Noor Muhammad
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11040

Abstract

ABSTRACT The low mathematics learning achievement of students remains a common issue in the learning process at the elementary school level. Various efforts have been made to improve students’ mathematics achievement; however, the implementation of learning models that integrate problem-solving, creativity, and 21st-century skills still requires further investigation, particularly through the application of a STEM-based Project Based Learning (PjBL) model in Islamic elementary schools. Therefore, this study is important to determine the effectiveness of the STEM-based PjBL model in improving students’ mathematics learning achievement. This study aims to examine the effectiveness of the STEM-based Project Based Learning (PjBL) model on the mathematics learning achievement of fourth-grade students at MI Ma’arif Candran. This study employed a quasi-experimental research design. The population consisted of fourth-grade students, with Class IV-A serving as the control group and Class IV-B as the experimental group, each comprising 25 students. Data were collected through tests and interviews using pretest and posttest questions as well as interview sheets. The data were analyzed using the Independent Samples t-Test and N-Gain test. The findings revealed that the STEM-based PjBL model was effective in improving students’ mathematics learning achievement. Students who participated in learning activities using the STEM-based PjBL model demonstrated greater improvement in mathematics achievement compared to those who received conventional instruction. Furthermore, the implementation of this model encouraged active student engagement in the learning process, which positively contributed to their mathematics learning outcomes. ABSTRAK Pembelajaran matematika di sekolah dasar masih menghadapi tantangan berupa capaian belajar peserta didik yang belum optimal. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep, tetapi juga memberi ruang bagi peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan terlibat aktif dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Dalam konteks tersebut, penerapan Project Based Learning (PjBL) yang dipadukan dengan pendekatan STEM menjadi alternatif yang relevan untuk diterapkan pada jenjang madrasah ibtidaiyah. Kajian ini dilaksanakan pada peserta didik kelas IV MI Ma’arif Candran dengan melibatkan dua kelompok belajar, yaitu kelas IV-A sebagai kelompok kontrol dan kelas IV-B sebagai kelompok eksperimen, yang masing-masing terdiri atas 25 peserta didik. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experiment. Data diperoleh melalui tes awal dan tes akhir yang didukung dengan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji Independent Sample t-Test serta N-Gain untuk melihat perbedaan dan peningkatan hasil belajar yang terjadi. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran matematika melalui PjBL berbasis STEM menunjukkan perkembangan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan peserta didik yang belajar dengan pendekatan konvensional. Selain menghasilkan peningkatan capaian akademik, model pembelajaran ini juga mendorong keterlibatan peserta didik secara lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, PjBL berbasis STEM dapat dipertimbangkan sebagai strategi pembelajaran yang efektif untuk mendukung peningkatan prestasi belajar matematika pada peserta didik sekolah dasar.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COLLABORATIVE CREATIVITY BERBANTUAN PHET SIMULATION TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA Ni Kadek Ayu Dinda Sugianthari; I Wayan Suastra; Ni Putu Widiarini
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11092

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the effect of the Collaborative Creativity (CC) learning model assisted by PhET simulations on the critical thinking skills of high school students in Physics. The research is motivated by the low critical thinking proficiency of Indonesian students, as indicated by the 2022 PISA results, and the inherent difficulty of mastering abstract Physics concepts through conventional methods.The study employed a quasi-experimental method with a non-equivalent pretest-posttest control group design. The sample consisted of two classes: an experimental group taught using the CC model integrated with PhET virtual laboratories and a control group taught using conventional methods. The research instrument comprised an essay-based critical thinking test developed according to Ennis’s indicators. Data were analyzed using the Analysis of Covariance (ANCOVA). The results of the study showed that the implementation of the Collaborative Creativity model assisted by PhET simulations was significantly more effective in improving students' critical thinking skills than conventional learning. This research provides a theoretical and practical contribution to the development of innovative learning models in Physics education, highlighting the synergy between scientific collaboration, creativity, and digital visualization tools. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Collaborative Creativity (CC) berbantuan simulasi PhET terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA pada mata pelajaran Fisika. Latar belakang penelitian ini didasari oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia berdasarkan data PISA 2022 serta tantangan dalam memahami konsep Fisika yang abstrak melalui metode konvensional. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi-experiment) dengan desain non-equivalent pretest-posttest control group design. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang dipilih secara purposive, yakni kelas eksperimen yang menerapkan model CC berbantuan PhET dan kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan berpikir kritis dalam bentuk uraian yang dikembangkan berdasarkan indikator Ennis. Teknik analisis data menggunakan analisis kovarian (ANAKOVA) untuk menguji signifikansi perbedaan peningkatan kemampuan antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Collaborative Creativity berbantuan simulasi PhET secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pendidik dalam mengintegrasikan kolaborasi, kreativitas, dan laboratorium virtual sebagai solusi inovatif untuk memvisualisasikan konsep abstrak dalam pembelajaran Fisika.
PENGARUH INKUIRI TERBIMBING BERBANTUAN SIMULASI PHET TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PADA PEMBELAJARAN FISIKA Ni Kadek Dwi Utari; Ida Bagus Putu Mardana; Ina Yuliana
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11184

Abstract

ABSTRACT Understanding physics concepts, particularly in the topic of light waves, requires a learning process that actively engages students so that abstract concepts can be more easily comprehended. Although Guided Inquiry and PhET simulations have been widely studied in physics education, research integrating both approaches to improve students’ conceptual understanding of light waves remains limited, making this study important to conduct. This study aimed to examine the effect of the Guided Inquiry learning model assisted by PhET interactive simulation media on students’ physics conceptual understanding compared to the Direct Instruction model. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a pretest–posttest control group design. Data were collected through a conceptual understanding test covering the aspects of interpretation, translation, and extrapolation. The data were analyzed using one-way ANCOVA. The results showed that the implementation of the Guided Inquiry learning model assisted by PhET interactive simulations had a significant effect on students’ conceptual understanding compared to Direct Instruction. Students who learned through Guided Inquiry assisted by PhET simulations demonstrated a higher level of conceptual understanding after the learning process. These findings indicate that learning activities involving inquiry, concept exploration, and the use of interactive media are more effective in helping students develop a deeper understanding of physics concepts. Therefore, it can be concluded that the Guided Inquiry learning model assisted by PhET interactive simulation media has a more positive effect on students’ conceptual understanding of light waves than the Direct Instruction model. ABSTRAK Pemahaman konsep fisika, khususnya pada materi gelombang cahaya, memerlukan proses pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif agar konsep yang bersifat abstrak lebih mudah dipahami. Meskipun model Inkuiri Terbimbing dan simulasi PhET telah banyak diteliti dalam pembelajaran fisika, kajian yang mengintegrasikan keduanya untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi gelombang cahaya masih terbatas sehingga penelitian ini penting dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing berbantuan media interaksi simulasi PhET terhadap pemahaman konsep fisika siswa dibandingkan dengan model Direct Instruction. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment melalui desain pretest-posttest control group. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes pemahaman konsep yang meliputi aspek interpretasi, translasi, dan ekstrapolasi. Data penelitian dianalisis menggunakan uji ANAKOVA satu jalur. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing berbantuan media interaktif simulasi PhET memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman konsep siswa dibandingkan pembelajaran Direct Instruction. Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Inkuiri Terbimbing berbantuan simulasi PhET menunjukkan tingkat pemahaman konsep yang lebih baik setelah proses pembelajaran berlangsung. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang melibatkan aktivitas penyelidikan, eksplorasi konsep, dan pemanfaatan media interaktif lebih efektif dalam membantu siswa membangun pemahaman konsep fisika. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model Inkuiri Terbimbing berbantuan media interaktif simulasi PhET memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pemahaman konsep fisika siswa pada materi gelombang cahaya dibandingkan model Direct Instruction.
ANALISIS POTENSI MEDIA PEMBELAJARAN CANVA TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS IV SD Siti Aminah; Sita Isna Malyuna; Sumadi
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11303

Abstract

ABSTRACT The integration of digital learning media has created new opportunities to improve science and social science (IPAS) instruction in elementary schools, particularly where students' learning outcomes remain unsatisfactory. Among the available platforms, Canva has attracted increasing attention for its ability to present instructional content through visually engaging and interactive designs. This study investigates its educational contribution by synthesizing evidence from previous research using a descriptive qualitative approach based on a literature review. Seven scholarly articles were retrieved from Google Scholar using the keywords "Canva teaching aids," "IPAS learning achievement," and "elementary school learning." The selected publications were examined through a systematic process of identification, categorization, and synthesis to develop a comprehensive understanding of Canva's role in IPAS learning. The findings reveal a consistent pattern across the reviewed studies, indicating that Canva promotes greater student motivation and active participation during classroom instruction. Evidence from two experimental studies further demonstrates substantial improvement in fourth-grade students' cognitive achievement, with average scores increasing from 50.00–54.67 before the intervention to 80.00–85.17 after Canva-assisted learning. The visual representation and interactive presentation of learning materials also facilitate students' understanding of abstract concepts by making them more concrete, aligning with the cognitive characteristics of learners in the concrete operational stage. These findings suggest that Canva holds considerable promise as an innovative instructional medium for creating more meaningful, engaging, and effective IPAS learning experiences in elementary education. ABSTRAK Perkembangan media digital membuka peluang untuk memperkaya pembelajaran IPAS di sekolah dasar, terutama ketika capaian belajar siswa masih menunjukkan hasil yang belum optimal. Salah satu media yang banyak dimanfaatkan adalah Canva karena memungkinkan penyajian materi melalui perpaduan teks, gambar, dan desain visual yang lebih komunikatif. Untuk memahami kontribusinya terhadap pembelajaran, penelitian ini menyusun sintesis temuan dari berbagai publikasi ilmiah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka. Sebanyak tujuh artikel yang diperoleh melalui Google Scholar dengan kata kunci "alat peraga Canva", "prestasi belajar IPAS", dan "pembelajaran sekolah dasar" dipilih sebagai sumber analisis, kemudian ditelaah melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan sintesis sehingga diperoleh gambaran yang komprehensif. Hasil kajian menunjukkan pola yang relatif konsisten bahwa pemanfaatan Canva tidak hanya meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran, tetapi juga berdampak pada peningkatan capaian kognitif. Pada dua penelitian eksperimen yang dianalisis, rata-rata hasil belajar siswa kelas IV meningkat dari kisaran 50,00–54,67 menjadi 80,00–85,17 setelah pembelajaran memanfaatkan Canva. Penyajian konsep melalui visual interaktif membantu mengonkretkan materi yang bersifat abstrak sehingga lebih sesuai dengan karakteristik berpikir siswa sekolah dasar. Dengan demikian, Canva menunjukkan potensi yang kuat sebagai media pembelajaran inovatif untuk mendukung pembelajaran IPAS yang lebih efektif, bermakna, dan berorientasi pada peningkatan hasil belajar.
ANALISIS HUBUNGAN KECERDASAN INTERPERSONAL DENGAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DASAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS CENDERAWASIH St. Rahmadani
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11387

Abstract

ABSTRACT Basic science process skills are essential competencies that Biology Education students must possess to support scientific activities. In addition to cognitive factors, interpersonal intelligence is believed to play a role in the development of these skills. However, studies examining the relationship between interpersonal intelligence and basic science process skills among Biology Education students remain limited. Therefore, this study was conducted to provide empirical evidence regarding the relationship between these two variables. This study aimed to determine the relationship between interpersonal intelligence and basic science process skills among Biology Education students at the Faculty of Teacher Training and Education, Cenderawasih University. The study employed a quantitative approach with an associative research design. The research sample consisted of 27 students enrolled in the Basic Biology course during the odd semester of the 2025/2026 academic year. Data were collected using observation sheets of interpersonal intelligence and basic science process skills. The results showed that students' interpersonal intelligence was in the high category, while their basic science process skills ranged from moderate to high. The Chi-Square test results indicated a significant relationship between interpersonal intelligence and the basic science process skills of Biology Education students at the Faculty of Teacher Training and Education, Cenderawasih University; therefore, H₀ was rejected. It can be concluded that there is a significant relationship between interpersonal intelligence and basic science process skills among Biology Education students at the Faculty of Teacher Training and Education, Cenderawasih University. ABSTRAK Keterampilan proses sains dasar merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki mahasiswa Pendidikan Biologi dalam kegiatan ilmiah. Selain faktor kognitif, kecerdasan interpersonal diduga berperan dalam mendukung pengembangan keterampilan tersebut. Namun, kajian mengenai hubungan kecerdasan interpersonal dengan keterampilan proses sains dasar pada mahasiswa Pendidikan Biologi masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan bukti empiris mengenai hubungan kedua variabel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan interpersonal dengan keterampilan proses sains dasar mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Cenderawasih. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Sampel penelitian berjumlah 27 mahasiswa yang menempuh mata kuliah Biologi Dasar semester ganjil tahun akademik 2025/2026. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi kecerdasan interpersonal dan keterampilan proses sains dasar. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan interpersonal mahasiswa berada pada kategori tinggi, sedangkan keterampilan proses sains dasar berada pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan keterampilan proses sains dasar mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Cenderawasih, sehingga H₀ ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan keterampilan proses sains dasar mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Cenderawasih.
PROBLEM BASED LEARNING DENGAN MATHCITYMAP UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH Shofura Khaudhiya Zain; Adi Nur Cahyono
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11413

Abstract

This research is motivated by students' low mathematical problem-solving abilities and the lack of utilization of interactive technology relevant to contextual objects around the school environment. The focus of the problem is directed at testing the validity, practicality, and effectiveness of the Problem Based Learning (PBL) model assisted by the MathCityMap application on the material of linear equations and inequalities with one variable. Adopting the Development Research method with a 4-D model, the study implementation flow is systematically constructed including the define, design, develop, and disseminate stages. Data were collected through problem-solving ability test instruments referring to the four stages of Polya, validation sheets, and user response questionnaires that were processed descriptively and inferentially. The research findings confirm the product's very good validity level with a module score of 97.86 percent and media of 97 percent, while the practicality test reached 88 percent. In terms of performance, this integration has proven effective in boosting academic results based on the average posttest achievement of 79.30 which successfully exceeded the actual completion limit of 64.90 and the pretest of 58.05. The significance of the influence was strengthened by a paired t-test with a p-value of less than 0.001 accompanied by the achievement of classical completeness above 75 percent. The main conclusion confirms that the PBL syntax assisted by MathCityMap is valid, practical, and effective in improving students' tactical numerical problem-solving skills in the moderate improvement category. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta kurangnya pemanfaatan teknologi interaktif yang relevan dengan objek kontekstual di sekitar lingkungan sekolah. Fokus masalah diarahkan pada pengujian kevalidan, kepraktisan, serta keefektifan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan aplikasi MathCityMap pada materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel. Mengadopsi metode Development Research dengan model 4-D, alur pelaksanaan studi dikonstruksikan secara sistematis meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Data dihimpun melalui instrumen tes kemampuan problem solving merujuk pada empat tahapan Polya, lembar validasi, serta angket respon pengguna yang diolah secara deskriptif dan inferensial. Temuan riset mengonfirmasi tingkat kevalidan produk sangat baik dengan skor modul 97,86 persen serta media 97 persen, sementara uji kepraktisan menyentuh angka 88 persen. Secara performa, integrasi ini terbukti efektif mendongkrak hasil akademis berdasarkan raihan rata-rata posttest sebesar 79,30 yang sukses melampaui batas tuntas aktual 64,90 serta pretest sebesar 58,05. Signifikansi pengaruh diperkuat oleh uji t berpasangan dengan nilai p kurang dari 0,001 disertai pencapaian ketuntasan klasikal di atas 75 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa sintaks PBL berbantuan MathCityMap valid, praktis, dan efektif meningkatkan kecakapan taktis pemecahan masalah numerik siswa pada kategori peningkatan sedang.  
COMPUTATIONAL THINKING DALAM PEMBELAJARAN IPA: STUDI KASUS PADA MATERI RANTAI MAKANAN DI SEKOLAH DASAR Aulia Rosiana; Anita kantini
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11490

Abstract

ABSTRACT Elementary school students' understanding of food chain concepts is often limited to memorizing sequences of organisms without being accompanied by the ability to reason about relationships among ecosystem components in depth. This condition highlights the need for a learning approach that can foster systematic thinking skills while strengthening conceptual understanding. This study explored the implementation of the Computational Thinking approach in science learning on the topic of food chains among fifth-grade elementary school students. The study employed a descriptive method with a qualitative approach involving 30 students divided into six groups. The learning process was designed through activities focused on identifying patterns in various food chain examples, simplifying information into essential concepts, and constructing logical sequences of relationships among organisms. Data were collected through written tests, observations, questionnaires, interviews, and analysis of students’ worksheets. The findings revealed that students achieved 83% in pattern recognition, 67% in abstraction, and 100% in algorithmic thinking. In addition, 80% of the students obtained scores above the minimum mastery criterion on the food chain topic. Questionnaire and interview results indicated increased student engagement in discussions, greater interest in learning activities, and improved ability to explain relationships among organisms in a more systematic manner. These findings suggest that Computational Thinking not only supports the development of food chain concept mastery but also promotes more structured ways of thinking. The variation in achievement across the three foundations further indicates that abstraction requires more intensive instructional support than the other foundations in elementary science learning. ABSTRAK Pemahaman peserta didik sekolah dasar terhadap konsep rantai makanan sering kali masih terbatas pada kemampuan menghafal urutan organisme tanpa diikuti kemampuan menalar hubungan antarkomponen ekosistem secara mendalam. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan berpikir sistematis sekaligus memperkuat pemahaman konseptual. Penelitian ini mengkaji penerapan pendekatan Computational Thinking dalam pembelajaran IPA materi rantai makanan pada peserta didik kelas V sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang melibatkan 30 peserta didik yang terbagi ke dalam enam kelompok. Proses pembelajaran dirancang melalui aktivitas identifikasi pola pada berbagai contoh rantai makanan, penyederhanaan informasi ke dalam konsep utama, serta penyusunan alur hubungan organisme secara logis. Data diperoleh melalui tes tertulis, observasi, angket, wawancara, dan analisis lembar kerja peserta didik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa capaian kemampuan peserta didik pada fondasi pengenalan pola mencapai 83%, abstraksi 67%, dan algoritma 100%. Sebanyak 80% peserta didik juga memperoleh nilai di atas KKM pada materi yang dipelajari. Hasil angket dan wawancara memperlihatkan meningkatnya keterlibatan peserta didik dalam diskusi, ketertarikan terhadap pembelajaran, serta kemampuan menjelaskan hubungan antarorganisme secara lebih runtut. Temuan ini menunjukkan bahwa Computational Thinking tidak hanya membantu penguasaan konsep rantai makanan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih terstruktur. Perbedaan capaian pada setiap fondasi mengindikasikan bahwa kemampuan abstraksi memerlukan penguatan yang lebih intensif dibandingkan fondasi lainnya dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR GEOMETRI SISWA SMA PADA FUNGSI TRIGONOMETRI MELALUI MODEL CRA BERBANTUAN DESMOS Zahratul Didiniyah; Fiki Alghadari; Nurul Hidayah
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11557

Abstract

This study was motivated by the low level of students’ geometric thinking skills in trigonometric function material. Students still face difficulties in understanding geometric concepts visually and abstractly because learning tends to focus on memorizing formulas. This study aimed to determine the difference in the improvement of geometric thinking skills between students taught using the Concrete-Representational-Abstract (CRA) model assisted by Desmos and those taught through conventional learning. The research employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 64 eleventh-grade students of SMA Negeri 1 Tebo divided into an experimental class and a control class. The research instrument was a geometric thinking skills test based on Van Hiele theory. Data were analyzed using normality tests, N-Gain analysis, and the Mann-Whitney test. The results showed that the average N-Gain score of the experimental class was 0.6102, higher than the control class score of 0.2068. The Mann-Whitney test produced a significance value of 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between the two groups. Therefore, the CRA model assisted by Desmos was more effective than conventional learning in improving students’ geometric thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir geometri siswa pada materi fungsi trigonometri. Siswa masih mengalami kesulitan memahami konsep geometri secara visual dan abstrak karena pembelajaran lebih berfokus pada hafalan rumus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berpikir geometri antara siswa yang belajar menggunakan model Concrete-Representational-Abstract (CRA) berbantuan Desmos dan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional. Penelitian menggunakan metode quasi experiment dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian terdiri dari 64 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tebo yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan berpikir geometri berdasarkan teori Van Hiele. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, N-Gain, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 0,6102 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 0,2068. Uji Mann-Whitney memperoleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang menunjukkan adanya perbedaan peningkatan kemampuan berpikir geometri antara kedua kelas. Dengan demikian, model CRA berbantuan Desmos lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional.    
BOLU KEMOJO: SUMBER BELAJAR IPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL RIAU Eliya Tanjung; Nurahmi Nurahmi; Ismail Arafat; Elmustian Elmustian
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11683

Abstract

ABSTRACT Science learning that tends to be abstract and disconnected from local culture can contribute to low scientific literacy among students. An ethnoscience approach offers an alternative by connecting scientific concepts with local knowledge developed within the community. This study aims to examine the science concepts embedded in the process of making Bolu Kemojo and its relevance as a science learning resource based on Riau Malay local wisdom. The study employed a Narrative Literature Review (NLR) method with a qualitative descriptive approach through the stages of collecting, selecting, analyzing, and interpreting relevant literature. A total of 25 scientific sources related to ethnoscience, science education, local wisdom, and Bolu Kemojo were reviewed. The findings indicate that the process of making Bolu Kemojo contains concepts in Biology, Chemistry, and Physics. These concepts include changes in organic materials, ingredient interactions during baking, and heat transfer affecting product maturity. The concepts are relevant to the Science Learning Outcomes of the Merdeka Curriculum Phase D. Integrating Bolu Kemojo into ethnoscience-based science learning can help students connect scientific concepts with local culture and create more contextual learning experiences. The findings show that Bolu Kemojo serves not only as a cultural culinary heritage of Riau Malay society but also as an ethnoscience-based science learning resource that supports scientific literacy and cultural preservation. Its utilization has the potential to improve students’ understanding of scientific concepts, application of knowledge in daily life, and appreciation of local wisdom. ABSTRAK Pembelajaran IPA yang cenderung abstrak dan kurang terhubung dengan budaya lokal dapat berdampak pada rendahnya literasi sains peserta didik. Pendekatan etnosains menjadi alternatif untuk mengaitkan konsep sains dengan pengetahuan lokal yang berkembang di masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep-konsep IPA yang terkandung dalam proses pembuatan Bolu Kemojo serta relevansinya sebagai sumber belajar IPA berbasis kearifan lokal Melayu Riau. Penelitian menggunakan metode Narrative Literature Review (NLR) dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui tahapan pengumpulan, seleksi, analisis, dan interpretasi sumber pustaka. Kajian dilakukan terhadap 31 sumber ilmiah yang relevan dengan etnosains, pembelajaran IPA, kearifan lokal, dan Bolu Kemojo. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses pembuatan Bolu Kemojo memuat konsep IPA pada bidang Biologi, Kimia, dan Fisika. Konsep tersebut meliputi perubahan bahan organik, interaksi dan perubahan sifat bahan selama pemanggangan, serta perpindahan kalor yang memengaruhi kematangan produk. Konsep-konsep tersebut relevan dengan Capaian Pembelajaran IPA Kurikulum Merdeka Fase D. Integrasi Bolu Kemojo dalam pembelajaran IPA berbasis etnosains dapat membantu peserta didik menghubungkan konsep ilmiah dengan budaya lokal sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Temuan ini menunjukkan bahwa Bolu Kemojo tidak hanya berfungsi sebagai warisan kuliner Melayu Riau, tetapi juga sebagai sumber belajar IPA berbasis etnosains yang mendukung literasi sains dan pelestarian budaya lokal. Pemanfaatannya berpotensi meningkatkan pemahaman konsep sains, penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, serta apresiasi terhadap kearifan lokal.