cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 278 Documents
THE ROLE OF CRITICAL THINKING AS A PREDICTOR OF STUDENTS’ DIGITAL LITERACY SKILLS Lawitta, Riris; T, Najdah; Arianti, Juli
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i1.5150

Abstract

The challenges associated with implementing Industry 4.0 and Society 5.0 in Indonesia need to be carefully analyzed to develop suitable and actionable solutions. Despite its initiation in 2011 and the subsequent introduction of Society 5.0 in Japan in 2019, Indonesia still encounters several hurdles in adopting Industry 4.0. Digital skills are crucial for the education of the future, complementing traditional literacy with new knowledge and abilities rather than replacing it. Educational institutions like universities must adjust their curricula to cultivate the development of 21st-century skills, known as the 4Cs: communication, critical thinking, creative thinking, and collaboration. Data was gathered through questionnaires and open-ended responses. This study was involving 62 students indicated that their digital literacy levels fall within the lower middle range. In detail, 67.74% of participants demonstrated an adequate level of critical thinking, while 19.35% exhibited a high level, and 12.9% had low essential thinking skills. Notably, critical thinking is a significant predictor of digital literacy skills for 46.6% of students in the economic education program at Musamus University, Merauke. ABSTRAKTantangan dalam implementasi Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 di Indonesia perlu dikaji secara mendalam untuk merumuskan solusi yang tepat dan efektif. Meskipun telah dimulai sejak tahun 2011 dan diikuti oleh Era Society 5.0 di Jepang pada tahun 2019, implementasi Era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Keterampilan digital menjadi bagian penting dalam pendidikan masa depan karena merupakan bagian dari sistem pendidikan modern, namun tidak menggantikan keaksaraan tradisional, melainkan melengkapinya dengan pengetahuan dan atribut baru. Perguruan tinggi selaku institusi Pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum yang dipergunakan untuk menjadi wadah membangun mahasiswa untuk memiliki keterampilan 4C pembelajaran abad 21, yaitu keterampilan communication (berkomunikasi), Critical thinking (berpikir kritis), creative thinking (berpikir kreatif), dan collaborator (berkolaborasi). Jenis penelitian ini merupakan ex post facto dengan teknik pengumpulan data berupa angket dan open-ended question yang disusun dan disebarkan melalui Google Form. Hasil penelitian terhadap 62 responden menunjukkan tingkat literasi digital mahasiswa di level cukup (lower middle). Sebanyak 67,74% mahasiswa dikategorikan memiliki tingkat berpikir kritis yang cukup, 19,35% memiliki tingkat berpikir kritis tinggi, dan 12,9% dikategorikan memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah. Berpikir kritis berperan signifikan sebagai predictor keterampilan literasi digital sebesar 46,6% pada mahasiswa jurusan Pendidikan ekonomi Universitas Musamus Merauke.
PENGARUH METODE ROLE PLAYING TERHADAP KETERAMPILAN KERJASAMA DAN KOMUNIKASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPAS BERBASIS KURIKULUM MERDEKA DI KELAS VB SDN 7 WONOGIRI Nindialisma, Thera Cetiya; Sadtyadi, Hesti; Ngadat, Ngadat
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5296

Abstract

Cooperation and communication skills are essential in developing the social competencies of elementary school students, aligning with the Pancasila Student Profile promoted in the merdeka curriculum. This study aims to describe the development of cooperation and communication skills of grade VB students at SDN 7 Wonogiri in IPAS learning through the role playing method. The research was conducted as Classroom Action Research (CAR) over two cycles spanning four weeks, involving 31 grade VB students divided into six groups based on economic roles. Data were collected through observations of cooperation skills (13 indicators) and communication skills (7 indicators), supported by pretest and posttest assessments. The analysis included data reduction, grouping, interpretation of observations per cycle, presentation in narrative or tabular form, and drawing conclusions. The results showed an improvement in cooperation from an average of 39.6 (76.2%) to 49.3 (94.8%), reflected in students’ ability to share tasks, actively contribute, and resolve differences constructively. Communication also increased from 20 (71.4%) to 25 (89.3%), although confidence in speaking before the class was not yet evenly distributed, students began to engage fluently in dialogue and use IPAS terminology accurately. The study concludes that role playing effectively enhances cooperation and communication skills, while supporting the implementation of the merdeka curriculum focused on developing 21st-century competencies. ABSTRAKKeterampilan kerjasama dan komunikasi penting dalam membangun kompetensi sosial siswa sekolah dasar, selaras dengan Profil Pelajar Pancasila pada kurikulum merdeka. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan keterampilan kerjasama dan komunikasi siswa kelas VB SDN 7 Wonogiri dalam pembelajaran IPAS melalui metode role playing. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk PTK dua siklus selama empat minggu dengan subjek 31 siswa kelas VB yang dibagi enam kelompok berdasarkan peran pelaku ekonomi. Data dikumpulkan melalui observasi keterampilan kerjasama (13 indikator) dan komunikasi (7 indikator), didukung pretest-posttest. Analisis mencakup reduksi, pengelompokan, interpretasi hasil observasi per siklus, penyajian narasi atau tabel, serta penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan peningkatan kerjasama dari rata-rata 39,6 (76,2%) menjadi 49,3 (94,8%), tercermin pada kemampuan berbagi tugas, berkontribusi aktif, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Komunikasi juga meningkat dari 20 (71,4%) ke 25 (89,3%), meski kepercayaan diri berbicara di depan kelas belum merata, siswa mulai lancar berdialog dan menggunakan istilah IPAS dengan tepat. Penelitian menyimpulkan role playing efektif meningkatkan keterampilan kerjasama dan komunikasi, sekaligus mendukung implementasi kurikulum merdeka berfokus keterampilan abad ke-21.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA KELAS IIIA PADA MATA PELAJARAN PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI SD Santhi, Puja Adithia; Sadtyadi, Hesti; Sudarto, Sudarto
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5297

Abstract

Student participation plays an important role in achieving the desired learning objectives. This study aims to determine the effectiveness of the jigsaw cooperative learning model in increasing the participation of class IIIA students in Pancasila education subjects at SDN 7 Wonogiri. This study uses Classroom Action Research (CAR) with a mixed method approach that combines qualitative and quantitative approaches which are implemented for 2 cycles within a period of four weeks. The subjects of this study were 28 students in class IIIA. Data collection techniques used observation, interviews, questionnaires and pre-tests and post-tests to measure student participation and understanding during the learning process. The results of the study showed an increase in student participation in the observation results which were initially 67.5% with a moderate category in cycle I then increased to 81.25% with a good category in cycle II. In addition, the N-Gain analysis showed an increase in understanding of the material from the moderate category (0,48) to high (0,80). This model not only increases participation but also student learning outcomes significantly. The conclusion in this study is that the jigsaw cooperative learning model is effective in increasing the participation of class IIIA students in Pancasila education subjects at SDN 7 Wonogiri. ABSTRAKPartisipasi siswa memiliki peranan yang penting bagi ketercapaian keberhasilan tujuan pembelajaran yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif jigsaw dalam meningkatkan partisipasi siswa kelas IIIA pada mata pelajaran pendidikan Pancasila di SDN 7 Wonogiri. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan mixed method yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dilaksanakan selama 2 siklus dalam kurun waktu empat minggu. Subjek penelitian ini adalah 28 siswa yang kelas IIIA. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket serta pre-test dan post-test untuk mengukur partisipasi dan pemahaman siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan partisipasi siswa pada hasil observasi yang awalnya 67,5% dengan kategori sedang pada siklus I kemudian meningkat menjadi 81,25% dengan kategori baik pada siklus II. Selain itu analisis N-Gain menunjukkan peningkatan pemahaman materi dari kategori sedang (0,48) menjadi tinggi (0,80). Model ini tidak hanya meningkatkan partisipasi melainkan juga hasil belajar siswa secara signifikan.Simpulan dalam penelitian ini bahwa model pembelajaran kooperatif jigsaw efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa kelas IIIA pada mata pelajaran pendidikan Pancasila di SDN 7 Wonogiri.
LITERATUR REVIEW: INOVASI ORGANISASI SEKTOR PUBLIK SEBAGAI KATALISATOR EFISIENSI DAN GOOD GOVERNANCE Erizona, Wawan; Afrinaldi, Aldri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5364

Abstract

This article presents a literature review on organizational innovation in the public sector, focusing on the factors that drive organizational transformation to improve the efficiency and quality of public services. Innovation in the public sector is not only related to new technologies, but also involves changes in organizational culture, supportive leadership, and effective knowledge management. This article examines the role of an organizational culture that is open to change and creativity, and transformational leadership in driving the implementation of innovation. In addition, this study also discusses the importance of policy innovation to achieve good governance, namely a more transparent, responsive, and accountable government. Although bureaucratic challenges and resistance to change remain obstacles, the literature shows that supportive policies, employee training, and appreciation for innovation can overcome these obstacles. This article concludes that the public sector needs to create an organizational culture that supports innovation to respond to the dynamics of community needs, as well as improve the quality of service and efficiency in government administration. ABSTRAKArtikel ini menyajikan literatur review mengenai inovasi organisasi dalam sektor publik, dengan fokus pada faktor-faktor yang mendorong transformasi organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan publik. Inovasi dalam sektor publik tidak hanya berkaitan dengan teknologi baru, tetapi juga melibatkan perubahan budaya organisasi, kepemimpinan yang mendukung, serta pengelolaan pengetahuan yang efektif. Artikel ini mengkaji peran budaya organisasi yang terbuka terhadap perubahan dan kreativitas, serta kepemimpinan transformasional dalam mendorong implementasi inovasi. Selain itu, penelitian ini juga membahas pentingnya inovasi kebijakan untuk mencapai good governance, yaitu pemerintahan yang lebih transparan, responsif, dan akuntabel. Meskipun tantangan birokrasi dan resistensi terhadap perubahan masih menjadi hambatan, literatur menunjukkan bahwa kebijakan yang mendukung, pelatihan pegawai, dan penghargaan terhadap inovasi dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Artikel ini menyimpulkan bahwa sektor publik perlu menciptakan budaya organisasi yang mendukung inovasi untuk merespons dinamika kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
INOVASI BUDAYA ORGANISASI PUBLIK DALAM ERA DIGITAL: PELUANG DAN STRATEGI IMPLEMENTASI Habibani, Rhaysya Admmi; Frinaldi, Aldri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5365

Abstract

The development of digital technology has encouraged public sector organizations to transform not only in technical and administrative aspects, but also in the organizational culture that is the foundation of behavior and decision making. In the midst of increasing public demands for fast, transparent, and adaptive public services, organizational culture innovation is a strategic necessity. This article discusses how public organizations can respond to the digital era through work culture renewal that is more open to change, collaborative, and results-oriented. This research uses a descriptive qualitative approach based on a literature study that identifies a number of strategic opportunities offered by digitalization, such as accelerated communication, increased accountability, and a culture of continuous learning. In addition, this article offers implementation strategies for organizational cultural innovation, which include strengthening digital leadership, increasing digital literacy of human resources, reorienting organizational values, and integrating technology in work processes. The results of this study show that cultural innovation is not a purely technical process, but requires long-term commitment, a change in leadership paradigm, and active involvement of all elements of the organization. By adopting a holistic approach, public organizations can not only improve their performance, but also create a more relevant and resilient work culture in the face of the dynamics of the digital era. ABSTRAKPerkembangan teknologi digital telah mendorong organisasi sektor publik untuk melakukan transformasi tidak hanya dalam aspek teknis dan administratif, tetapi juga dalam budaya organisasi yang menjadi fondasi perilaku dan pengambilan keputusan. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap layanan publik yang cepat, transparan, dan adaptif, inovasi budaya organisasi menjadi kebutuhan strategis. Artikel ini membahas bagaimana organisasi publik dapat merespons era digital melalui pembaruan budaya kerja yang lebih terbuka terhadap perubahan, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur yang mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang ditawarkan oleh digitalisasi, seperti akselerasi komunikasi, peningkatan akuntabilitas, serta budaya pembelajaran berkelanjutan. Selain itu, artikel ini menawarkan strategi implementasi inovasi budaya organisasi, yang meliputi penguatan kepemimpinan digital, peningkatan literasi digital sumber daya manusia, reorientasi nilai-nilai organisasi, dan integrasi teknologi dalam proses kerja. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa inovasi budaya bukanlah proses yang bersifat teknis semata, tetapi memerlukan komitmen jangka panjang, perubahan paradigma kepemimpinan, dan keterlibatan aktif seluruh elemen organisasi. Dengan mengadopsi pendekatan yang holistik, organisasi publik tidak hanya dapat meningkatkan kinerjanya, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang lebih relevan dan resilien dalam menghadapi dinamika era digital.
HABITUASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI SMK Kurniawan, Dony; Karliani, Eli; Ikbal, Asep
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5366

Abstract

This study aims to determine how the habituation of Pancasila values in the learning process and the school environment at SMK YPSEI Palangka Raya in shaping student character. The method used in this research is descriptive research with a qualitative approach. The data collection techniques used by the author in this research are observation, interview and documentation. The results of this study indicate that the habituation of Pancasila values such as in the Learning Process which uses lecture and discussion methods, in-depth questions and answers, group discussions and project methods, as well as strategies used experiential learning, social service activities and authentic assessment. There are two approaches in character building to strengthen the habituation of Pancasila values, namely by giving rewards and punishments. Student Literacy Movement (GLS) which is carried out every morning, Art Activities on Thursdays, Spirituality on Fridays, and Discipline during the learning process. Habituation can change attitudes, both in terms of discipline, activeness, and respect for friends and teachers. The habituation process that is carried out consistently is able to shape the character of students who are more responsible and independent. Students become more disciplined in attending on time, following instructions well, and showing an empathic attitude in their social environment. Obstacles in instilling Pancasila values such as parental factors, student environment, and economic conditions. The learning process cannot be separated from the obstacles in the habituation of Pancasila values such as students who are engrossed in their own world because Civics subjects are often scheduled in the final hours. Distraction from cellphones also has an effect, making students unfocused in participating in learning. Differences in the learning process and the inconsistency of teachers in instilling Pancasila values can hinder the habituation of Pancasila values to students. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana habituasi nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran serta lingkungan sekolah di SMK YPSEI Palangka Raya dalam membentuk karakter siswa. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa habituasi nilai-nilai Pancasila seperti pada Proses Pembelajaran yang menggunakan metode ceramah dan diskusi, tanya jawab mendalam, diskusi kelompok dan metode projek, serta strategi yang digunakan berbasis pengalaman (experiential learning), kegiatan bakti sosial dan penilaian autentik. Terdapat dua pendekatan dalam pembentukan karakter untuk memperkuat habituasi nilai-nilai Pancasila yaitu dengan pemberian reward dan punishment. Gerakan Literasi Siswa (GLS) yang dilakukan setiap pagi, Kegiatan Kesenian pada hari kamis, Kerohanian pada hari jumat, dan Kedisiplinan saat proses pembelajaran. Habituasi dapat merubah sikap, baik dalam hal kedisiplinan, keaktifan, maupun rasa hormat terhadap teman dan guru. Proses habituasi yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk karakter siswa yang lebih bertanggung jawab dan mandiri. Siswa menjadi lebih disiplin hadir tepat waktu, mengikuti instruksi dengan baik, serta menunjukkan sikap empatik dalam lingkungan sosialnya. Kendala dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti faktor orang tua, lingkungan siswa, dan keadaan ekonomi. Proses pembelajaran tak lepas terjadi kendala dalam habituasi nilai-nilai Pancasila seperti siswa yang asyik dengan dunianya sendiri karena mata pelajaran PPKn sering dijadwalkan pada jam-jam akhir. Distraksi terhadap handphone turut berpengaruh sehingga membuat siswa tidak focus dalam mengikuti pembelajaran. Perbedaan dalam proses pembelajaran dan tidak konsistennya guru dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila dapat menghambat habituasi nilai-nilai Pancasila kepada siswa
PERAN BUDAYA ORGANISASI DALAM IMPLEMENTASI INOVASI DAERAH PADA PROGRAM MEMBUDAYAKAN PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN GADGET PADA ANAK: STUDI KASUS DI KECAMATAN TAMBANGAN Dalimunthe, Ira Shanty; Frinaldi, Aldri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5367

Abstract

This study aims to examine the role of organizational culture in the implementation of regional innovation through the Cultivating Traditional Games to Reduce Gadget Use in Children program in Tambangan District, Mandailing Natal Regency, North Sumatra. Using a qualitative approach with interview and observation methods, this study highlights the importance of an organizational culture that supports innovation and collaboration in creating a conducive environment for the development of local culture-based programs. The results of the study indicate that a strong organizational culture, supported by values ??of togetherness, openness, and active participation of various parties, can encourage the success of traditional game programs as an effective alternative to reduce gadget use in children. However, the study also found challenges such as resistance to change, limited infrastructure, and lack of training for teachers that need to be addressed comprehensively. These findings emphasize the need for ongoing support, evaluation, and program development so that innovation can run optimally and have a positive impact on child development. In conclusion, an inclusive and collaborative organizational culture is essential to support regional innovation, strengthen local cultural identity, and improve the quality of children's social lives in the digital era. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran budaya organisasi dalam implementasi inovasi daerah melalui program Membudayakan Permainan Tradisional untuk Mengurangi Penggunaan Gadget pada Anak di Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan observasi, penelitian ini menyoroti pentingnya budaya organisasi yang mendukung inovasi dan kolaborasi dalam menciptakan lingkungan kondusif bagi pengembangan program-program berbasis budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang kuat, didukung nilai-nilai kebersamaan, keterbukaan, serta partisipasi aktif berbagai pihak, mampu mendorong keberhasilan program permainan tradisional sebagai alternatif efektif untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak-anak. Namun, penelitian juga menemukan tantangan seperti resistensi terhadap perubahan, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya pelatihan bagi pengajar yang perlu diatasi secara komprehensif. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan berkelanjutan, evaluasi, serta pengembangan program agar inovasi dapat berjalan optimal dan memberikan dampak positif bagi perkembangan anak. Kesimpulannya, budaya organisasi yang inklusif dan kolaboratif sangat penting untuk mendukung inovasi daerah, memperkuat identitas budaya lokal, serta meningkatkan kualitas kehidupan sosial anak-anak di era digital.
PENGGUNAAN RUMAH BERMAIN (RUBER) DALAM PENGEMBANGAN KOMPETENSI SOSIAL DAN BAHASA ANAK DI KB-TK YAA-KARIM KOTA BIMA Rizkiaadni, Putri; Retnoningsih, Retnoningsih; Febriansyah , Febriansyah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5368

Abstract

This study aims to examine the use of Playhouse (RUBER) in developing children's social and language competencies at KB-TK Yaa-Karim, Bima City. Using a descriptive qualitative approach, this study focuses on an in-depth understanding of children's play activities and their contribution to social and language development. Data were collected through observation, interviews, and documentation, with primary data sources in the form of teachers and students, and secondary data from school supporting documents. The research instruments include observation guidelines, interview guidelines, and documentation studies. Data analysis was carried out through data reduction, data presentation, and drawing conclusions, as well as credibility testing using source and time triangulation. The results of the study showed that RUBER was effective in improving children's social interaction skills, empathy, cooperation, and language skills. Role-playing and traditional games such as snakes and clogs were proven to encourage children to be more confident, creative, and able to solve problems critically. The main conclusion of this study is that the integration of RUBER in learning can be an effective strategy to support the overall social and language development of early childhood. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan Rumah Bermain (RUBER) dalam pengembangan kompetensi sosial dan bahasa anak di KB-TK Yaa-Karim Kota Bima. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap aktivitas bermain anak dan kontribusinya terhadap perkembangan sosial dan bahasa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan sumber data primer berupa guru dan siswa, serta data sekunder dari dokumen pendukung sekolah. Instrumen penelitian meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta pengujian kredibilitas menggunakan triangulasi sumber dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RUBER efektif meningkatkan kemampuan interaksi sosial, empati, kerjasama, serta keterampilan berbahasa anak. Permainan peran dan permainan tradisional seperti ular-ularan dan bakiak terbukti mendorong anak untuk lebih percaya diri, kreatif, serta mampu memecahkan masalah secara kritis. Simpulan utama penelitian ini adalah bahwa integrasi RUBER dalam pembelajaran dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung perkembangan sosial dan bahasa anak usia dini secara menyeluruh.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS 5 MIN KOTA BIMA Nurnenongsih, Nurnenongsih; Ahmadin, Ahmadin; Haris, Abdul
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5369

Abstract

This research aims to improve the civics learning outcomes of fifth grade students through the application of the discovery learning learning model. This research is classroom action research carried out in two cycles consisting of planning, implementation, observation or evaluation and reflection stages carried out in each cycle. Data collection in this research was carried out using observation, interviews and learning outcomes tests. Data obtained through observation and interview methods were analyzed using descriptive-qualitative techniques, while data obtained through learning outcomes tests were analyzed using descriptive-quantitative techniques. The results of this research show an average increase in learning outcomes from cycle I to cycle II of 9.2%. The increase in classical completeness from cycle I to cycle II was 33.4%. The obstacle faced in implementing the discovery learning model is that students are not yet familiar with the application of the discovery learning model so it is very difficult for teachers to explore student responses. The solution is to provide the problem at the beginning of the meeting so that students read and find solutions to the problem themselves in the books or learning resources they have. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas v MiN Kota Bima melalui penerapan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan dua siklus yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi atau evaluasi dan refleksi yang dilakukan di setiap siklus. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan tes hasil belajar. Data yang diperoleh melalui metode observasi dan wawancara dianalisis dengan teknik deskriptif-kualitatif sedangkan data yang diperoleh melalui tes hasil belajar dianalisis dengan teknik deskriptifkuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan rata-rata hasil belajar siklus I ke siklus II sebesar 9,2%. Peningkatan ketuntasan klasikal siklus I ke siklus II sebesar 33,4%. Kendala yang dihadapi dalam penerapan model discovery learning yaitu siswa belum terbiasa dengan penerapan model discovery learning sehingga sangat sulit bagi guru untuk mengeksplorasi respon-respon siswa. Solusi yang dilakukan adalah memberikan permasalahan di awal pertemuan supaya siswa membaca dan menemukan sendiri pemecahan masalah dalam buku atau sumber belajar yang dia miliki.
MENGGALI POTENSI INOVASI BUDAYA DI LINGKUNGAN ORGANISASI PUBLIK Julianti, Julianti; Frinaldi, Aldri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i2.5371

Abstract

Cultural innovation plays an important role in building optimally functioning public organizations. This study aims to explore the potential for cultural innovation in public organizations using a qualitative approach. This study examines various cultural practices that can enhance creativity and collaboration among employees. The results of the study indicate that cultural values ??such as a sense of belonging, trust, and openness contribute significantly to the creation of innovation in the organizational environment. In addition, the existence of space for experimentation and active employee participation in decision-making have proven to be the main driving factors for effective innovation. However, this study also found several obstacles, such as resistance to change and lack of support from organizational leaders. These findings emphasize the importance of public organizations' efforts to create an environment that supports innovation by strengthening an inclusive and collaborative organizational culture. The implications of this study provide recommendations for public organization managers to focus more on developing an innovative culture in order to improve organizational performance and competitiveness. ABSTRAKInovasi budaya memiliki peran penting dalam membangun organisasi publik yang berfungsi secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi inovasi budaya dalam organisasi publik dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Studi ini meneliti berbagai praktik budaya yang dapat meningkatkan kreativitas dan kolaborasi di antara karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya seperti rasa memiliki, kepercayaan, dan keterbukaan berkontribusi signifikan terhadap terciptanya inovasi di lingkungan organisasi. Selain itu, adanya ruang untuk bereksperimen serta partisipasi aktif karyawan dalam pengambilan keputusan terbukti menjadi faktor pendorong utama inovasi yang efektif. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala, seperti resistensi terhadap perubahan dan kurangnya dukungan dari pimpinan organisasi. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya organisasi publik dalam menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi melalui penguatan budaya organisasi yang inklusif dan kolaboratif. Implikasi penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pengelola organisasi publik untuk lebih fokus pada pengembangan budaya inovatif guna meningkatkan kinerja dan daya saing organisasi.