cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
HUBUNGAN CAREER ADAPTABILITY DENGAN PERCEIVED FUTURE EMPLOYABILITY PADA MAHASISWA DI JAKARTA Putri, Daniela; Gunawan, William
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6153

Abstract

The increasingly competitive dynamics of the global labor market, driven by globalization and digitalization, require university graduates to develop high adaptability to face career challenges. This study aims to examine the relationship between career adaptability and perceived future employability among university students in Jakarta. The study employed a quantitative correlational approach with purposive sampling, involving 390 students aged 18–29 from various universities in Jakarta. The instruments used were the Career Adapt-Ability Scale-Short Form (CAAS-SF) and the Perceived Future Employability Scale (PFES). The validity test results showed that CAAS-SF items had coefficients ranging from 0.419 to 0.751 and PFES from 0.501 to 0.789, all above the acceptable threshold of r > 0.30. Reliability analysis showed high internal consistency (CAAS-SF: ? = 0.874; PFES: ? = 0.947). Spearman correlation analysis revealed a significant positive relationship between career adaptability and perceived future employability (r = 0.691; p < 0.001). These findings suggest that the higher the level of career adaptability among students, the more positive their perceptions of future employment prospects. ABSTRAKDinamika dunia kerja yang semakin kompleks akibat globalisasi dan digitalisasi menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kesiapan tinggi dalam menghadapi tantangan karier. Salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki mahasiswa adalah kemampuan untuk beradaptasi dalam karier atau career adaptability. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara career adaptability dengan perceived future employability pada mahasiswa di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling dan melibatkan 390 mahasiswa berusia 18–29 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Career Adapt-Ability Scale-Short Form (CAAS-SF) dan Perceived Future Employability Scale (PFES). Hasil uji validitas menunjukkan bahwa item-item pada CAAS-SF memiliki nilai koefisien antara 0,419 hingga 0,751 dan PFES antara 0,501 hingga 0,789, dengan reliabilitas tinggi (CAAS-SF: ? = 0,874; PFES: ? = 0,947). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara career adaptability dan perceived future employability (r = 0,691; p < 0,001). Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan career adaptability di kalangan mahasiswa sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja masa depan.
PENGARUH MODAL PSIKOLOGIS TERHADAP JOB HOPPING PADA GENERASI Z KOTA BALIKPAPAN Putra Fathar Pratama, Yoga; Dwi Nur Rahmah, Dian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6163

Abstract

The phenomenon of job hopping has become a critical issue in human resource management, especially among Generation Z, who are known for their dynamic nature and high career mobility. This study aims to identify the effect of psychological capital, particularly the grit aspect, on the tendency of job hopping among Generation Z in Balikpapan City. It addresses a gap in the literature regarding the internal psychological factors that influence job-hopping behavior among youth in regional labor markets. A quantitative correlational design was applied, involving 200 Generation Z participants aged 18–27 years, selected using purposive sampling. Data were collected using a modified standardized job hopping scale and grit scale, both of which were evaluated by expert judgment. A simple regression analysis was conducted using SPSS version 25. The results showed that grit significantly affected job hopping (p = 0.000; R² = 0.142), although the contribution was relatively low. These findings suggest that grit, as a form of psychological capital, plays a role in reducing the tendency to switch jobs quickly. The study offers practical implications for human resource strategies aimed at enhancing employee retention through psychological interventions focused on grit development. Moreover, it enriches theoretical discussions about the role of psychological capital in the employment behavior of Generation Z in regional contexts. ABSTRAK Fenomena job hopping menjadi isu penting dalam pengelolaan sumber daya manusia, terutama pada Generasi Z yang dikenal dinamis dan memiliki mobilitas karier tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh modal psikologis, khususnya aspek grit, terhadap kecenderungan job hopping pada Generasi Z di Kota Balikpapan, mengisi gap kajian tentang kontribusi faktor psikologis internal dalam perilaku kerja generasi muda di daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 200 partisipan Generasi Z berusia 18–27 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala job hopping dan skala grit yang dimodifikasi dari instrumen terstandar dan telah melalui proses expert judgment. Analisis dilakukan menggunakan regresi sederhana dengan bantuan SPSS 25. Hasil menunjukkan grit berpengaruh signifikan terhadap job hopping (p = 0.000; R² = 0.142), meskipun dengan kontribusi rendah. Temuan ini memberikan implikasi penting dalam pengembangan strategi retensi karyawan berbasis intervensi psikologis yang menargetkan peningkatan grit pada individu Generasi Z, serta memperkaya kajian tentang peran modal psikologis dalam konteks ketenagakerjaan daerah.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR DI PRODI BIMBINGAN KONSELING Alya, Rizkatul; Muslima, Muslima
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6243

Abstract

Final-year students are a vulnerable group prone to experiencing academic stress due to various pressures, such as thesis writing, the burden of final assignments, and the demand to graduate on time. Unmanaged academic stress can negatively impact mental health, learning motivation, and academic performance. One factor believed to play a significant role in reducing academic stress is social support. This study aims to examine the relationship between social support and academic stress among final-year students. The research employed a quantitative approach with a correlational method. The subjects were all final-year students from the Guidance and Counseling Study Program, class of 2021, totaling 62 individuals; thus, this study used a populative approach. Data were collected using academic stress and social support scales, and analyzed with Pearson correlation after meeting the assumption of normality. The results showed a very strong and significant negative correlation between social support and academic stress (r = -0.988; p < 0.001). The higher the social support received by students, the lower their academic stress levels. These findings reinforce the theory that social support whether emotional, instrumental, or informational plays an essential role in maintaining the psychological well-being of final-year students. ABSTRAKMahasiswa tingkat akhir merupakan kelompok yang rentan mengalami stres akademik akibat berbagai tekanan seperti penyusunan skripsi, beban tugas akhir, dan tuntutan kelulusan tepat waktu. Stres akademik ysang tidak tertangani dengan baik dapat berdampak pada kesehatan mental, motivasi belajar, hingga penurunan performa akademik. Salah satu faktor yang diyakini berperan dalam menurunkan tingkat stres akademik adalah dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan tingkat stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian adalah seluruh mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2021 yang berjumlah 62 orang, sehingga penelitian ini bersifat populatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala stres akademik dan skala dukungan sosial, serta dianalisis menggunakan uji korelasi pearson setelah asumsi normalitas terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang sangat kuat dan signifikan antara dukungan sosial dan stres akademik (r = -0,988; p < 0,001). Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin rendah tingkat stres akademik yang mereka alami. Temuan ini memperkuat teori bahwa dukungan sosial, baik secara emosional, instrumental, maupun informasional, berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa tingkat akhir.
DAMPAK HUKUM PENYALAHGUNAAN MENGHIRUP LEM FOX DI KALANGAN REMAJA Dengge, Silsilawaty R.; Hamim, Udin; Mozin, Nopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6326

Abstract

The abuse of non-narcotic addictive substances such as fox glue among adolescents has become increasingly alarming, particularly in rural areas like Sansarino Village, Ampana Kota Subdistrict, Tojo Una-Una Regency. This phenomenon not only negatively affects the physical and psychological health of adolescents but also raises complex legal challenges, especially due to the lack of specific regulations regarding inhalant substances. This research aims to identify the legal implications of fox glue abuse among adolescents, examine the effectiveness of law enforcement, and evaluate the role of relevant institutions in addressing the issue. A juridical-sociological approach was used, with data collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis. The findings reveal that weak social supervision, low legal awareness, and suboptimal intervention by authorities contribute to the widespread abuse. Moreover, the absence of explicit legal provisions for glue abuse hinders the enforcement process. The study recommends collaborative strategies involving law enforcement, local government, schools, and families through legal counseling, social supervision, and integrated rehabilitation programs. ABSTRAKPenyalahgunaan zat adiktif non-narkotika seperti lem fox oleh remaja merupakan fenomena sosial yang semakin mengkhawatirkan, khususnya di wilayah perdesaan seperti Desa Sansarino, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una. Fenomena ini tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental remaja, tetapi juga menimbulkan persoalan hukum yang kompleks, terutama karena keterbatasan regulasi terkait zat inhalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak hukum dari penyalahgunaan lem fox oleh remaja, menelaah efektivitas penegakan hukum, serta menganalisis peran lembaga terkait dalam upaya penanggulangannya. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis-sosiologis dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa lemahnya pengawasan sosial, rendahnya literasi hukum, dan belum optimalnya intervensi aparat berkontribusi terhadap maraknya kasus penyalahgunaan. Selain itu, belum adanya regulasi yang secara spesifik mengatur penyalahgunaan lem juga menjadi kendala dalam proses penegakan hukum. Oleh karena itu, diperlukan strategi kolaboratif antara aparat penegak hukum, pemerintah desa, sekolah, dan keluarga dalam bentuk penyuluhan hukum, pengawasan sosial, serta program rehabilitasi yang terintegrasi.    
TRANSFORMASI KETERAMPILAN SOSIAL SISWA: PERANAN KONSELING DAN PELATIHAN DENGAN PENDEKATAN KOGNITIF KEPERILAKUAN Saragih, Adelin Australiati; Purba, Anggi Tri Lestari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6477

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of using counseling and training with a cognitive-behavioral approach to improve students' social skills. Social skills refer to an individual's ability to cooperate, display assertive behavior, take responsibility, show empathy, and exhibit self-control in social environments. Meanwhile, counseling and training using a cognitive-behavioral approach focus on the relationship between thoughts, feelings, and behaviors to help individuals change maladaptive thinking and behavioral patterns when facing problems. The sample in this study was a high school student. This research used a quasi-experimental method with a single-subject design using an A-B design. This approach was used to see changes in the individual's behavior before and after the intervention was given. The results of the study showed that counseling and training with a cognitive-behavioral approach could improve social skills. After undergoing the intervention, the student was able to demonstrate adaptive behavior in social environments. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas penggunaan konseling dan pelatihan dengan pendekatan kognitif keperilakuan untuk meningkatkan keterampilan sosial dari siswa. Keterampilan sosial merupakan kemampuan individu dalam bekerja sama, menunjukkan perilaku asertif, bertanggung jawab, menunjukkan empati dan menunjukkan kontrol diri saat berada di lingkungan sosial. Sementara konseling dan pelatihan dengan pendekatan kognitif keperilakuan merupakan konseling dan pelatihan yang memiliki fokus pada hubungan antara pikiran, perasaan dan perilaku untuk membantu individu mengubah pola pikir dan perilaku yang maladaptif saat menghadapi masalah. Sampel dalam penelitian ini yaitu seorang siswa di Sekolah Menengah Atas. Adapun penelitian ini menggunakan penelitian quasi eksperimental dengan menggunakan single subject design dengan desain A-B. Penelitian ini digunakan untuk melihat perubahan perilaku yang ditunjukkan individu sebelum dan sesudah diberikannya intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan konseling dan pelatihan dengan pendekatan kognitif keperilakuan dapat meningkatkan keterampilan sosial. Setelah menjalankan intervensi, siswa dapat menunjukkan perilaku yang adaptif di dalam lingkungan sosialnya.
PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI : PEMICU RESILIENSI AKADEMIK N, Findy Suri; Sesilia, Ayudia Popy
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6478

Abstract

This study aims to determine the correlation between family support and academic resilience in students which are preparing their thesis. Academic resilience is a person's capacity to rise, recover, and be able to adapt despite difficulties, and develop social, academic competence and skills to be able to relieve the stress they face while studying. Family support is one of the factors that influence one's academic resilience. The hypothesis states that there is a relationship between family support and academic resilience in students who are preparing their thesis. The research sample was 103 students. Data collection techniques using a questionnaire with the use of the Likert model scale. Data analysis used pearson product moment correlation analysis. The results of this study indicate that there is a significant relationship between family support and academic resilience in students who are preparing their thesis. There is a moderate correlation between variable X and variable Y as evidenced by the Sig. 0.001 < 0.050 and r count 0.482. There is a moderate correlation between variable X and variable Y. Variable Y is influenced by variable X by 23.2%. As well as family support and academic resilience for students who are preparing their thesis in the high category. From the results of this study, hypothesis is declared accepted. Therefore, it is very important for families to continue to provide support to students who are writing their theses in order to achieve high academic resilience so that they can complete their thesis, which is one of the requirements for obtaining a bachelor's degree. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi akademik pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Resiliensi akademik merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk bangkit, pulih, dan mampu beradaptasi meskipun dalam kesulitan, dan mengembangkan kompetensi sosial, akademik dan keterampilan untuk dapat menghilangkan stress yang dihadapinya selama belajar. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi reseliensi akademik seseorang. Hipotesis penelitian menyatakan adanya hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi akademik pada mahasiswa yang sedang menyusun sripsi. Sampel penelitian sebanyak 103 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan penggunaan skala model likert. Analisis data menggunakan analisis pearson product moment correlation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan resiliensi akademik pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dibuktikan dengan nilai Sig. 0,001 < 0,050 dan r sebesar 0,482. Adanya korelasi sedang antara variabel X dengan variabel Y. Variabel Y dipengaruhi oleh variabel X sebesar 23,2%. Serta dukungan keluarga dan resiliensi akademik pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dalam kategori tinggi. Dari hasil penelitian ini, maka hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. Oleh karena itu sangat penting bagi keluarga untuk terus memberikan dukungan kepada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi demi tercapainya resiliensi akademik yang tinggi sehingga ia dapat menyelesaikan skripsinya yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.
DUKUNGAN SOSIAL DAN COPING STRESS PADA ANGGOTA MAKO SAT BRIMOB SEPULANG DARI BAWAH KENDALI OPERASI (BKO) DAERAH KONFLIK Sairah, Sairah; Utami, Maya Afdilla
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6479

Abstract

Brimob (Mobile Brigade) members face high levels of stress due to assignments in conflict areas under Operational Control (BKO), which demand physical and mental preparedness under high-risk conditions and separation from family. This background emphasizes the importance of effective coping mechanisms. This study focuses on analyzing the relationship between social support and stress coping strategies among members of the North Sumatra Regional Police's Mobile Brigade Headquarters (Mako Sat Brimob) who have returned from BKO duties. As a crucial step, this study used a quantitative correlational approach, sampling the entire population (census) of 65 members. Data on social support (emotional, esteem, instrumental, informational, social network) and problem-focused coping were collected using a Likert scale and then analyzed using product-moment correlation. The main findings indicate a very strong and statistically significant positive relationship (rxy = 0.962; p = 0.000) between social support and problem-focused coping, with social support contributing 92.5% to the use of these coping strategies. In conclusion, social support plays a crucial role in helping Brimob members effectively manage psychological stress after deployment in conflict zones. ABSTRAKAnggota Satuan Brimob menghadapi tingkat stres yang tinggi akibat penugasan di daerah konflik melalui Bawah Kendali Operasi (BKO), yang menuntut kesiapan fisik dan mental dalam kondisi penuh risiko dan terpisah dari keluarga. Latar belakang ini mendorong pentingnya mekanisme koping yang efektif. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan strategi coping stress pada anggota Mako Sat Brimob Polda Sumut yang telah kembali dari tugas BKO. Sebagai langkah penting, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan mengambil seluruh populasi (sensus) sebanyak 65 anggota sebagai sampel. Data dukungan sosial (emosional, penghargaan, instrumental, informasi, jaringan sosial) dan problem-focused coping dikumpulkan melalui skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan korelasi product-moment. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik (rxy = 0,962; p = 0,000) antara dukungan sosial dan problem-focused coping, di mana dukungan sosial memberikan kontribusi sebesar 92,5% terhadap penggunaan strategi koping tersebut. Kesimpulannya, dukungan sosial memainkan peran krusial dalam membantu anggota Brimob mengelola tekanan psikologis secara efektif pasca-penugasan di daerah konflik.
SKRIPSI DAN SPIRITUALITAS : KETERKAITAN KESEJAHTERAAN SPIRITUAL DENGAN RESILIENSI PADA MAHASISWA AKHIR Zuhriyatul Jannah, Indah; A'yuni Fitriana, Qurrota
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6556

Abstract

This study aims to examine the relationship between spiritual well-being and resilience in final-year students working on their thesis, a phase often marked by significant academic pressure. Final-year students frequently experience stress and difficulties during the thesis-writing process, which is a graduation requirement. Spiritual well-being is considered a protective factor that contributes to an individual’s ability to remain resilient under academic stress. This study employed a quantitative approach with 134 final-year undergraduate Psychology students as participants. The instruments used were the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Data were analyzed using Pearson Product Moment correlation, yielding a significance value (p) = 0.000 (< 0.05) and a correlation coefficient (r) = 0.724, indicating a strong positive relationship between the two variables. Specifically, this research distinguishes the correlations of two SWB dimensions religious and existential and finds that the existential dimension has a stronger relationship with resilience than the religious dimension. These findings provide practical implications for student resilience interventions, highlighting the importance of fostering meaning and purpose in life alongside strengthening religious aspects. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan spiritual dan resiliensi pada mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi, sebuah fase yang penuh tekanan dalam proses perkuliahan. Mahasiswa tingkat akhir kerap mengalami stres dan kesulitan selama menyusun skripsi sebagai syarat kelulusan. Kesejahteraan spiritual dipandang sebagai faktor protektif yang berkontribusi terhadap kemampuan individu untuk tetap tangguh dalam menghadapi tekanan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan subjek sebanyak 134 mahasiswa akhir jurusan S1 Psikologi. Instrumen yang digunakan adalah Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Analisis data dilakukan dengan korelasi Pearson Product Moment, menghasilkan nilai signifikansi (p) = 0,000 (< 0,05) dan koefisien korelasi (r) = 0,724 yang menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kedua variabel. Secara khusus, penelitian ini membedakan korelasi antara dua dimensi SWB religi dan eksistensial dan menemukan bahwa dimensi eksistensial memiliki kekuatan hubungan lebih tinggi dibandingkan dimensi religius. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi intervensi peningkatan resiliensi mahasiswa, yakni pentingnya program pengembangan makna dan tujuan hidup di samping penguatan aspek religius.
SINDROM AMNESTIK ORGANIK PADA ANAK DENGAN EPILEPSI Tulus, Angelina; Ayu Trisna Windiani, I Gusti; Agung Ngurah Sugitha Adnyana, I Gusti; Ayu Indah Ardani, I Gusti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6708

Abstract

Epilepsy is a chronic neurological disorder that can affect physical, cognitive, psychological, and social aspects in children. One of the prominent impacts is memory impairment, which in severe cases may develop into organic amnestic syndrome, particularly when accompanied by structural abnormalities such as hippocampal sclerosis. This article aims to report a case of organic amnestic syndrome in an adolescent with epilepsy and bilateral mesial temporal sclerosis, and to emphasize the importance of early detection and multidisciplinary management. The patient was a 15-year-old female adolescent with a history of generalized tonic-clonic epilepsy for the past two years and persistent memory complaints for six months. Cognitive assessment using the Indonesian version of the MoCA (MoCA-INA) showed a score of 19/30, and emotional evaluation using the CDI yielded a score of 19. Brain MRI revealed bilateral hippocampal atrophy, while EEG showed bilateral temporal epileptiform activity. The diagnosis was established based on clinical, neuropsychological, and radiological findings. The patient received combination therapy consisting of fluoxetine 10 mg/day, carbamazepine 300 mg twice daily, and supportive psychotherapy. The findings revealed a close association between epilepsy, hippocampal damage, memory impairment, and depressive symptoms. This case highlights the importance of structured memory screening and multidisciplinary intervention to minimize the cognitive and psychosocial impact of epilepsy in children and adolescents. ABSTRAK Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang dapat berdampak pada aspek fisik, kognitif, psikologis, dan sosial anak. Salah satu dampak yang menonjol adalah gangguan memori, yang pada kasus berat dapat berkembang menjadi sindrom amnestik organik, khususnya jika disertai kelainan struktural seperti sklerosis hipokampus. Artikel ini bertujuan melaporkan kasus sindrom amnestik organik pada remaja dengan epilepsi dan sklerosis mesial temporal bilateral, serta menekankan pentingnya deteksi dini dan manajemen multidisipliner. Pasien adalah remaja perempuan usia 15 tahun dengan riwayat epilepsi tonik-klonik umum sejak dua tahun terakhir dan keluhan gangguan memori menetap selama enam bulan. Pemeriksaan kognitif menggunakan MoCA-INA menunjukkan skor 19/30, dan penilaian emosional menggunakan CDI menghasilkan skor 19. MRI otak menunjukkan atrofi hipokampus bilateral, sementara EEG memperlihatkan aktivitas epileptiform di area temporal bilateral Diagnosis ditegakkan berdasarkan data klinis, neuropsikologis, dan radiologis. Pasien menerima terapi kombinasi berupa fluoxetine 10 mg/hari, carbamazepine 300 mg dua kali sehari, serta psikoterapi suportif. Temuan menunjukkan adanya hubungan erat antara epilepsi, kerusakan hipokampus, gangguan memori, dan gejala depresi. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya skrining memori terstruktur dan intervensi multidisipliner untuk meminimalkan dampak kognitif dan psikososial epilepsi pada anak dan remaja.
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN AGRESIVITAS YANG DIMEDIASI STRES OPERASIONAL PADA ANGGOTA PENGENDALIAN MASSA Fitria, Ade Ratri; Pertiwi, Yuarini Wahyu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6361

Abstract

This study examines the relationship between workload, operational stress, and aggressiveness in members of Mass Control (Dalmas). Adopting a quantitative approach, this study involved 125 male respondents from the Dalmas unit of Polda X, with the majority aged 17-25 years and less than five years of service. Data were collected using psychological scale questionnaires, namely the Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) for aggressiveness, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) for operational stress, and NASA TLX for workload. Data analysis was conducted using JASP software, with Spearman's rho correlation test and bootstrapping mediation test because the data were not normally distributed. The research findings show a significant positive relationship between workload and aggressiveness, both directly and indirectly through operational stress as a partial mediator. An increase in workload directly correlates with an increase in the level of aggressiveness of Dalmas members. Although operational stress mediated this relationship, the direct effect of workload on aggressiveness was found to be more dominant. These findings indicate that the intense physical and emotional stress of Dalmas duties can trigger fatigue and lower emotion regulation abilities, which in turn contribute to aggressive behavior. However, the research also suggests that stress is not always negative and can promote self-control if managed well. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji hubungan antara beban kerja, stres operasional, dan agresivitas pada anggota Pengendalian Massa (Dalmas). Mengadopsi pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 125 responden laki-laki dari unit Dalmas Polda X, dengan mayoritas berusia 17-25 tahun dan masa kerja kurang dari lima tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala psikologi, yaitu Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) untuk agresivitas, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) untuk stres operasional, dan NASA TLX untuk beban kerja. Analisis data dilakukan menggunakan software JASP, dengan uji korelasi Spearman's rho dan uji mediasi bootstrapping karena data tidak berdistribusi normal. Temuan penelitian memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dengan agresivitas, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui stres operasional sebagai mediator parsial. Peningkatan beban kerja secara langsung berkorelasi dengan peningkatan tingkat agresivitas anggota Dalmas. Meskipun stres operasional memediasi hubungan ini, hubungan langsung beban kerja dengan agresivitas ditemukan lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tekanan fisik dan emosional yang intens dalam tugas Dalmas dapat memicu kelelahan dan menurunkan kemampuan regulasi emosi, yang pada akhirnya berkontribusi pada perilaku agresif. Namun, penelitian juga mengemukakan bahwa stres tidak selalu berdampak negatif dan dapat mendorong pengendalian diri jika dikelola dengan baik.