cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
KEMANDIRIAN INSTRUMENTAL ACTIVITY DAILY LIVING (IADL) PENYINTAS SKIZOFRENIA PEKERJA JOB CLUB Nisa, Aziizah Khairun; Pangestuti, Retno
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6771

Abstract

ABSTRAK Independence in daily activities is very important for schizophrenia survivors, but disturbances in this aspect have the potential to cause serious problems such as impaired role function, decreased productivity, and increased dependency that burdens families and society. This study aims to determine the description of instrumental independence in daily living activities among job club workers at Klender Islamic Mental Hospital. This study used a qualitative phenomenological method with three informants, two men and one woman, with the following characteristics: schizophrenia survivors who had previously undergone rehabilitation at Klender Islamic Mental Hospital, participated in the Job Club program, and were aged 35-44 years. This study found that schizophrenia survivors participating in the Job Club program at the Klender Islamic Mental Hospital demonstrated varying levels of independence in performing instrumental activities of daily living (IADLs) such as shopping, cooking, cleaning, managing finances, and using transportation. Two out of three informants were able to perform these activities independently, while one informant still required assistance. This level of independence is influenced by participation in Job Clubs as well as other factors such as cognitive development, parenting styles, and socioeconomic environment. These findings suggest that with structured support and ongoing rehabilitation, schizophrenia survivors can rebuild functional independence and return to their roles in society. Kemandirian dalam aktivitas sehari-hari sangat penting bagi penyintas skizofrenia, namun gangguan pada aspek ini berpotensi menimbulkan masalah serius seperti terhambatnya fungsi peran, menurunnya produktivitas, serta meningkatnya ketergantungan yang membebani keluarga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemandirian instrumental activity daily living pada pekerja job club RSJ Islam Klender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan informan  berjumlah 3 orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan, dengan ciri-ciri: penyintas skizofrenia yang sebelumnya pernah menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender, mengikuti program Job Club, dan berusia 35-44 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa penyintas skizofrenia yang mengikuti program Job Club di RSJ Islam Klender menunjukkan tingkat kemandirian yang bervariasi dalam melakukan aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari (IADL) seperti berbelanja, memasak, membersihkan rumah, mengelola keuangan, dan menggunakan transportasi. Dua dari tiga informan mampu menjalankan aktivitas secara mandiri, sedangkan satu informan masih memerlukan pendampingan. Tingkat kemandirian ini dipengaruhi oleh partisipasi dalam Job Club serta faktor-faktor lain seperti perkembangan kognitif, pola asuh, dan lingkungan sosial ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang terstruktur dan rehabilitasi yang berkelanjutan, penyintas skizofrenia dapat membangun kembali kemandirian fungsional dan berperan kembali di masyarakat.
PENGARUH MOTIVASI BOIKOT TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MAKANAN YANG TERAFILIASI DENGAN ISRAEL PADA MASYARAKAT BANJARMASIN Purwanti, Aida Nazwa; Quarta, Dicky Listin; Fikrie, Fikrie
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6781

Abstract

The Israel–Hamas conflict in October 2023 triggered a global boycott movement against products affiliated with Israel. This phenomenon also influenced consumer behavior in Indonesia, particularly in Banjarmasin. The present study aims to examine the effect of boycott motivation on purchasing decisions of food products associated with Israel, such as McDonald’s, KFC, and Starbucks. A quantitative correlational method was employed with 270 respondents selected using purposive sampling. Data were collected through the Boycott Motivation Scale and the Purchasing Decision Scale, and analyzed using simple linear regression. The findings indicate that boycott motivation has a significant positive effect on purchasing decisions (? = 0.588, p < 0.001) with a contribution of 4.5% (R² = 0.045). Although statistically significant, the influence is relatively low, suggesting a gap between moral motivation or solidarity and actual consumer behavior. These results imply that enhancing critical consumer awareness is essential so that boycott motivation driven by values and solidarity can be consistently reflected in purchasing decisions. ABSTRAK Konflik Israel–Hamas yang terjadi pada Oktober 2023 memicu munculnya gelombang boikot global terhadap berbagai produk yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Israel. Fenomena ini turut berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh motivasi boikot terhadap keputusan pembelian produk makanan cepat saji yang diasosiasikan dengan Israel, seperti McDonald’s, KFC, dan Starbucks. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 270 responden dipilih melalui teknik purposive sampling untuk mengisi instrumen berupa Skala Motivasi Boikot dan Skala Keputusan Pembelian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi boikot berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian (? = 0.588, p < 0.001) dengan kontribusi sebesar 4,5% (R² = 0.045). Meskipun pengaruhnya signifikan, kontribusi yang relatif kecil mengindikasikan adanya kesenjangan antara motivasi moral atau nilai solidaritas dengan praktik nyata dalam perilaku konsumsi. Temuan ini memberikan implikasi penting bahwa upaya peningkatan kesadaran kritis konsumen perlu diperkuat agar motivasi boikot tidak hanya berhenti pada ranah sikap, tetapi juga konsisten tercermin dalam keputusan pembelian sehari-hari.
HUBUNGAN ANTARA SOCIAL COMPARISON DENGAN SELF ESTEEM PADA REMAJA DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (LKSA) BUDI MULYA MUHAMMADIYAH Ramadhani, Muthia Zahra; Sulastri, Sulastri; Syah, Tansri Adzlan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6786

Abstract

The Child Welfare Institution (LKSA), also known as the Orphanage, is a non-profit social institution whose task is to accommodate, care for and educate orphans, orphans, poor people and abandoned children. The aim of this research is to determine the relationship between social comparison and Self Esteem among adolescents at the Budi Mulya Muhammadiyah Children's Social Welfare Institution. The method used in this research is quantitative, including correlational research. The instrument used in this research was a questionnaire in the form of a Likert scale based on indicators for each variable. Participants in this study consisted of 44 MTs level foster children aged 12-15 years, consisting of 21 male subjects and 18 female subjects. The sampling technique used in this research is purposive sampling. Based on the results of the Pearson Product Moment correlation analysis, r = 0.291, p = 0.056>0.05).  The results of this study indicate that there is a positive, insignificant relationship between the social comparison variable and self-esteem in adolescents living at the Budi Mulya Muhammadiyah Child Welfare Institution (LKSA). ABSTRAK Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), yang juga dikenal sebagai Panti Asuhan adalah lembaga sosial nirbala yang tugasnya ialah menampung, memelihara dan mendidik anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, dhuafa serta anak-anak terlantar. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan social comparison dengan Self Esteem pada remaja di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Budi Mulya Muhammadiyah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif yang termasuk penelitian korelasional. Instrumen yang digunakan pda penelitian ini berupa kuesioner dalam bentuk skala likert yang berdasarkan pada indikator pada masing-masing variabel. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 44 anak asuh tingkat MTs dengan usia 12-15 tahun yang terdiri dari 23 subjek laki-laki  dan 21  subjek perempuan. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis korelasi pearson Product Moment diperoleh r = 0,291, p = 0,056>0,05).  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang tidak signifikan antara variabel social comparison dan self-esteem pada remaja yang tinggal di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Budi Mulya Muhammadiyah.
PENGARUH BEBAN KERJA TERHADAP STRES KERJA DI LAPAS NARKOTIKA KELAS IIA KARANG INTAN Handika, Handika; Ariani, Lita; Listin Quarta, Dicky
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6798

Abstract

The severe overcrowding at the Class IIA Karang Intan Narcotics Prison has resulted in a substantial increase in the workload of correctional officers. This study aims to analyze the effect of workload on job stress among officers using a quantitative correlational approach. A total of 46 officers were selected through purposive sampling. The instruments employed include the Health & Safety Executive-Work Related Stress Scale (HSE-WRSS) and the Role Overload Scale (ROS). Simple linear regression analysis using JASP revealed that workload significantly affects job stress (R² = 0.146; F(1,44) = 7.51; p < 0.05), contributing 14.6% to stress variation. These findings indicate a direct positive correlation between increasing workload and heightened job stress. Theoretically, this study supports the validity of the Health & Safety Executive (HSE) model of job stress within the context of correctional institutions in Indonesia. Practically, the findings provide a foundation for the development of more adaptive human resource management policies, including effective workload regulation and the provision of psychological support programs for correctional officers. ABSTRAK Tingginya tingkat overkapasitas di Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan berdampak pada meningkatnya beban kerja petugas pengamanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beban kerja terhadap stres kerja pada petugas, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 46 petugas dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Health & Safety Executive-Work Related Stress Scale (HSE-WRSS) dan Role Overload Scale (ROS). Hasil analisis regresi linear sederhana menggunakan JASP menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja (R² = 0,146; F(1,44) = 7,51; p < 0,05), dengan kontribusi sebesar 14,6%. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan beban kerja berbanding lurus dengan peningkatan tingkat stres kerja. Secara teoretis, penelitian ini mendukung validitas model stres kerja Health & Safety Executive (HSE) dalam konteks lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Secara praktis, hasil studi ini memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan manajemen sumber daya manusia yang lebih adaptif, termasuk pengaturan beban kerja dan penyediaan dukungan psikologis bagi petugas lapas.
DI BALIK SENYUMAN: ANALISIS PERAN KOMUNIKASI NON-VERBAL DALAM MEMBANGUN RESILIENSI ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TENGAH KONFLIK KELUARGA Sutrianingrum, Sutrianingrum
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6817

Abstract

ABSTRACT This investigation explores the dimensions of wordless communication in the psychological resilience development process of preschool-aged children facing conflict dynamics within family systems through systematic literature review methodology. Exploration was conducted on 8 published scientific works spanning 2015-2025 by applying thematic analysis approaches reinforced with data triangulation to ensure finding credibility. Investigation results demonstrate that non-verbal interactions play a central role in resilience construction through pathways of emotional responsiveness, legitimation of children's subjective experiences, and cultivation of affective regulation capabilities. Democratic communication characteristics marked by optimal openness consistently demonstrate positive contributions to children's adaptive capacity in confronting adversity. Children's interpretation processes of non-verbal signals display sophisticated cognitive complexity, where coping strategies are developed based on ecosystem responsiveness quality. Family resilience functions as a moderator variable that amplifies non-verbal communication effectiveness in building individual adaptive capacity. Findings indicate that systematic non-verbal communication development strategies can generate sustained protective effects. This research contributes theoretically to elucidating complex mechanisms of resilience formation and provides practical implications for developing comprehensive family intervention programs. ABSTRAK Studi ini menginvestigasi dimensi komunikasi tanpa kata dalam proses membangun daya tahan psikologis anak usia prasekolah yang menghadapi dinamika konflik keluarga melalui metodologi tinjauan pustaka yang sistematis. Eksplorasi dilaksanakan terhadap 8 karya ilmiah terpublikasi dalam kurun waktu 2015-2025 dengan mengaplikasikan pendekatan analisis tematik yang diperkuat triangulasi data untuk menjamin kredibilitas temuan. Hasil investigasi memperlihatkan bahwa interaksi non-verbal memainkan peran sentral dalam konstruksi resiliensi melalui jalur responsivitas emosional, legitimasi pengalaman subjektif anak, dan pengembangan kemampuan regulasi afektif. Karakteristik komunikasi demokratis yang ditandai keterbukaan optimal secara konsisten mendemonstrasikan kontribusi positif terhadap kapasitas adaptif anak dalam menghadapi tantangan. Proses interpretasi anak terhadap sinyal non-verbal memperlihatkan kompleksitas kognitif yang rumit, dimana strategi koping dikembangkan berdasarkan kualitas responsivitas ekosistem. Resiliensi keluarga berfungsi sebagai variabel moderator yang memperkuat efektivitas komunikasi non-verbal dalam membangun kapasitas adaptif individual. Temuan mengindikasikan strategi pengembangan komunikasi non-verbal yang sistemik dapat menghasilkan efek protektif berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dalam menguraikan mekanisme kompleks pembentukan resiliensi dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan program intervensi keluarga komprehensif.
STUDI KUALITATIF : RESILIENSI REMAJA YANG MEMILIKI ORANG TUA BERCERAI Widyastuti, Mega; Supriatna, Ecep; Bangun, Mic Finanto Ario
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6945

Abstract

Parental divorce can have significant psychological impacts on adolescents. However, not all adolescents experience the same negative impacts, some are able to adapt and recover from these experiences through resilience. This study aims to describe and understand the dynamics of resilience in adolescent girls whose parents divorced. The approach used was a qualitative approach with a phenomenological method, with three adolescent girls living in a densely populated area with a lower-middle economic background as subjects. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic interpretative techniques. The results showed that the aspects of resilience that emerged included emotional regulation, impulse control, optimism, root cause analysis, empathy, self-efficacy, and the ability to find solutions. However, this study also found that religiosity plays a significant role as a source of psychological and spiritual strength that helps adolescents in the process of meaning-making, acceptance, and emotional healing. This aspect of religiosity emerged as a new finding that expands the previous theoretical framework and reflects the Indonesian cultural context, which is strongly based on religious values. This study concludes that the resilience of adolescents with divorced parents is determined not only by individual skills but also by the social support and spiritual values surrounding them. These findings are expected to inform the development of culturally and religiosity-based psychological interventions and serve as a reference for further research in similar contexts. ABSTRAKPerceraian orang tua dapat berdampak psikologis yang signifikan terhadap remaja. Namun, tidak semua remaja mengalami dampak negatif yang sama, beberapa mampu beradaptasi dan pulih dari pengalaman tersebut melalui resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami dinamika resiliensi pada remaja putri yang orang tuanya bercerai. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, dengan tiga remaja putri yang tinggal di daerah padat penduduk dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik interpretatif tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek resiliensi yang muncul meliputi regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis akar permasalahan, empati, efikasi diri, dan kemampuan menemukan solusi. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa religiusitas berperan signifikan sebagai sumber kekuatan psikologis dan spiritual yang membantu remaja dalam proses pembentukan makna, penerimaan, dan penyembuhan emosional. Aspek religiusitas ini muncul sebagai temuan baru yang memperluas kerangka teori sebelumnya dan mencerminkan konteks budaya Indonesia yang sangat berlandaskan nilai-nilai agama. Studi ini menyimpulkan bahwa resiliensi remaja dengan orang tua yang bercerai tidak hanya ditentukan oleh keterampilan individu, tetapi juga oleh dukungan sosial dan nilai-nilai spiritual yang melingkupinya. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan intervensi psikologis berbasis budaya dan religiusitas, serta menjadi referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam konteks serupa.
PENGARUH SELF-EFFICACY TERHADAP BURNOUT PADA ATLET TAEKWONDO Noordiansyah, Elias Aldi; Jannah, Miftakhul
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6946

Abstract

This study aims to investigate in-depth the influence of self-efficacy, or belief in one's own abilities, on burnout in a population of Taekwondo athletes in Surabaya. Amidst the high pressure of intensive physical training and the demands of highly competitive competitions, athletes often face significant risks of physical and emotional exhaustion, potentially triggering burnout. In this context, self-efficacy is believed to be a crucial psychological factor influencing an individual's response to pressure, where overconfidence can actually be a double-edged sword. Using a quantitative approach with a causal design to examine cause-and-effect relationships, this study involved a sample of 112 Taekwondo athletes carefully selected through a purposive sampling technique. Primary data were collected using instruments in the form of self-efficacy scales and burnout scales that have been tested for validity, then analyzed statistically using a simple linear regression test to model the influence between variables. The results of the data analysis showed that self-efficacy has a positive and significant effect on burnout, as evidenced by a regression coefficient value of 0.645 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). These interesting findings indicate that the higher an athlete's self-confidence, the greater their potential for burnout. This may occur because athletes with high self-efficacy tend to set unrealistic standards, ignore fatigue signals, and continue pushing themselves beyond their limits without adequate recovery. Therefore, these conclusions underscore the urgency of balanced self-efficacy management for coaches and athletes, as well as the importance of implementing effective coping strategies and educating Taekwondo athletes about the importance of rest to prevent chronic mental and physical fatigue. ABSTRAKPenelitian ini secara mendalam bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh self-efficacy, atau keyakinan pada kemampuan diri, terhadap burnout pada populasi atlet Taekwondo di Surabaya. Di tengah fenomena tingginya tekanan latihan fisik yang intensif dan tuntutan kompetisi yang sangat kompetitif, para atlet sering kali menghadapi risiko kelelahan fisik dan emosional yang signifikan, yang berpotensi memicu kondisi burnout. Dalam konteks ini, self-efficacy diyakini menjadi salah satu faktor psikologis krusial yang memengaruhi respons individu terhadap tekanan, di mana keyakinan yang terlalu tinggi justru dapat menjadi pedang bermata dua. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal untuk melihat hubungan sebab-akibat, penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 112 atlet Taekwondo yang dipilih secara cermat melalui teknik purposive sampling. Data primer dikumpulkan menggunakan instrumen berupa skala self-efficacy dan skala burnout yang telah teruji validitasnya, kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji regresi linier sederhana untuk memodelkan pengaruh antar variabel. Hasil analisis data menunjukkan bahwa self-efficacy secara statistik berpengaruh positif dan signifikan terhadap burnout, yang dibuktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,645 dan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan menarik ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat keyakinan diri seorang atlet, semakin besar pula potensi mereka mengalami burnout. Hal ini dapat terjadi karena atlet dengan self-efficacy tinggi cenderung menetapkan standar yang tidak realistis, mengabaikan sinyal kelelahan, dan terus mendorong diri melampaui batas tanpa pemulihan yang memadai. Oleh karena itu, kesimpulan ini menggarisbawahi urgensi pengelolaan self-efficacy yang seimbang bagi pelatih dan atlet, serta pentingnya penerapan strategi coping yang efektif dan edukasi mengenai pentingnya istirahat untuk mencegah kelelahan mental dan fisik yang kronis di kalangan atlet Taekwondo.
KONTRIBUSI PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU PENDIDIKAN SEKSUAL PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS INTELEKTUAL Setiyanti, Kornelia Erista
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6947

Abstract

This research is motivated by the lack of integrated sexual education for students with intellectual disabilities, which is exacerbated by the lack of knowledge and positive attitudes from those closest to them. The gap between students' needs for sexual information and the readiness of educators and families to convey it creates significant social and psychological risks. Therefore, this study focuses on examining the extent to which the knowledge and attitudes of parents, teachers, and caregivers contribute to their behavior in providing sexual education at SLB X. This study used a quantitative approach with a multiple regression method involving 165 participants. The instruments used included questionnaires to measure knowledge, attitude, and behavior variables. The results of the data analysis showed that simultaneously, knowledge and attitude did have a positive effect on sexual education behavior. However, their contribution was relatively small, at only 6.3%, indicating that 93.7% of behavior was influenced by other factors outside the research model. It was concluded that although knowledge and attitudes are important foundations, more comprehensive interventions, such as collaborative programs between schools and families, are needed to effectively improve the quality of sexual education for students with intellectual disabilities. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya pendidikan seksual yang terintegrasi bagi siswa dengan disabilitas intelektual, yang diperparah oleh kurangnya pengetahuan dan sikap positif dari orang-orang terdekat mereka. Kesenjangan antara kebutuhan siswa akan informasi seksual dengan kesiapan pendidik dan keluarga dalam menyampaikannya menciptakan risiko sosial dan psikologis yang signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk mengkaji sejauh mana kontribusi pengetahuan dan sikap orang tua, guru, serta pendamping terhadap perilaku mereka dalam memberikan pendidikan seksual di SLB X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi berganda yang melibatkan 165 partisipan. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner untuk mengukur variabel pengetahuan, sikap, dan perilaku. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara simultan, pengetahuan dan sikap memang berpengaruh positif terhadap perilaku pendidikan seksual. Namun, kontribusinya tergolong kecil, yakni hanya sebesar 6,3%, yang mengindikasikan bahwa 93,7% perilaku dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian. Disimpulkan bahwa meskipun pengetahuan dan sikap merupakan fondasi penting, diperlukan intervensi yang lebih komprehensif, seperti program kolaboratif antara sekolah dan keluarga, untuk secara efektif meningkatkan kualitas pendidikan seksual bagi siswa dengan disabilitas intelektual.
MEDIA SOSIAL, KUALITAS TIDUR, DAN AGRESIVITAS MAHASISWA DI ERA DIGITAL Cholifah, Nur; Rini, Amanda Pasca; Pratitis, Nindia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6948

Abstract

College students are in the developmental phase of late adolescence to early adulthood, a period that is vulnerable to emotional, social, and academic pressure. This condition places students at risk of experiencing emotional disturbances, such as aggressiveness. Along with technological advancement, students are increasingly exposed to high social media usage and irregular sleep patterns, both of which are suspected to affect emotional stability and aggressive behavior. The goal of this study is to find out how the amount of time university students in Surabaya spend on social media affects their sleep quality and aggressiveness. Because the data didn't meet the assumptions for linierity, this study used a correlational quantitative approach with Spearman's rank correlation test. There were 310 students in the study, and they were chosen through snowball sampling. The social media usage intensity scale, sleep quality scale, and aggressiveness scale were all used. All of these scales had passed tests for validity and reliability. The results showed that how much someone used social media did not have a strong link to how aggressive they were (r = 0.027; p = 0.638). On the other hand, how well someone slept did have a strong negative link to how aggressive they were (r = -0.491; p < 0.01). Students with poor sleep quality tended to exhibit higher levels of aggressiveness. This study concludes that improving sleep quality can serve as a preventive strategy to reduce student aggressiveness. ABSTRAK Mahasiswa tergolong masa remaja akhir dan transisi menuju awal masa dewasa yang rentan terhadap tekanan emosional, sosial, dan akademik. Kondisi tersebut menjadikan mereka berisiko mengalami gangguan emosi seperti agresivitas. Seiring perkembangan teknologi, penggunaan media sosial yang tinggi dan pola tidur yang terganggu menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa, yang diduga memengaruhi kestabilan emosi dan kecenderungan perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan kualitas tidur dengan agresivitas pada mahasiswa di Surabaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik analisis Spearman karena data tidak memenuhi asumsi linieritas. Subjek berjumlah 310 mahasiswa yang diperoleh melalui teknik snowball sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala intensitas penggunaan media sosial, skala kualitas tidur, dan skala agresivitas, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan agresivitas (r = 0,027; p = 0,638), namun terdapat hubungan negatif signifikan antara kualitas tidur dan agresivitas (r = -0,491; p < 0,01). Mahasiswa dengan kualitas tidur buruk cenderung menunjukkan agresivitas lebih tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas tidur dapat menjadi strategi efektif untuk menekan agresivitas mahasiswa.  
PENGARUH E-WOM DAN BRAND IMAGE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE DENGAN MEDIASI NIAT BELI PADA PEKERJA WANITA DI JABODETABEK Yuanita, Dea; Shaleh, Abdul Rahman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6949

Abstract

The COVID-19 The COVID-19 pandemic has driven significant shifts in consumer shopping behavior, particularly among working women who have become increasingly reliant on e-commerce platforms to meet their needs, including the purchase of natural beauty products. This study aims to identify the direct and indirect effects of electronic word-of-mouth (e-WOM) and brand image on online purchase decisions, with purchase intention serving as a mediating variable. A quantitative approach was employed, using a survey distributed to 410 working women in the Greater Jakarta area (Jabodetabek) who had experience purchasing natural beauty products online. Data were collected using a four-point Likert-scale questionnaire and analyzed using SPSS and Mplus version 7. The results indicated that e-WOM significantly influenced purchase intention (? = 0.380; p < 0.001), and brand image also had a significant positive effect on purchase intention (? = 0.492; p < 0.001). Furthermore, consumers' intention to make a purchase has a significant influence on their purchasing decisions. (? = 0.169; p = 0.030). The indirect effect of e-WOM on purchase decisions through purchase intention was also significant (? = 0.064; p = 0.045), as was the indirect effect of brand image through purchase intention (? = 0.083; p = 0.038). These findings highlight the significant impact of e-WOM and brand image on influencing consumer intentions and purchasing decisions among female consumers of natural beauty products in online settings. The study offers practical implications for marketers in designing effective brand communication strategies through social media and other digital platforms. ABSTRAKPandemi COVID-19 telah mendorong perubahan signifikan dalam pola belanja konsumen, khususnya di kalangan wanita pekerja yang semakin bergantung pada platform e-commerce untuk memenuhi kebutuhan, termasuk produk kecantikan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh langsung dan tidak langsung electronic word-of-mouth (e-WOM) dan brand image terhadap keputusan pembelian daring, dengan purchase intention sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 410 wanita pekerja di Jabodetabek yang memiliki pengalaman membeli produk kecantikan alami secara daring. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dengan skala Likert 4 poin dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS dan Mplus7. Hasil analisis menunjukkan bahwa e-WOM berpengaruh signifikan terhadap purchase intention (? = 0,380; p < 0,001), dan brand image juga memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap purchase intention (? = 0,492; p < 0,001). Selanjutnya, purchase intention terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian (? = 0,169; p = 0,030). Pengaruh tidak langsung dari e-WOM terhadap keputusan pembelian melalui purchase intention juga signifikan (? = 0,064; p = 0,045), begitu pula pengaruh tidak langsung brand image melalui purchase intention (? = 0,083; p = 0,038). Temuan ini menggarisbawahi peran penting e-WOM dan citra merek dalam memengaruhi niat dan keputusan pembelian konsumen wanita terhadap produk kecantikan alami secara daring. Studi ini memberikan implikasi praktis bagi pemasar dalam merancang strategi komunikasi merek yang efektif melalui media sosial dan platform digital lainnya.