cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
HUBUNGAN ANTARA SOCIAL SUPPORT DAN LONELINESS DENGAN DISREGULASI EMOSI PADA REMAJA PELAKU SELF-HARM DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN X KOTA BANDUNG Saskia, Nabila Nurul; Sastri, Prinska Damara
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6231

Abstract

Adolescence is a developmental stage that is highly vulnerable to various emotional and social pressures. The inability to regulate emotions, also known as emotion dysregulation, can lead adolescents to engage in self-harming behaviors. This study aimed to examine the relationship between social support and loneliness with emotion dysregulation in adolescents who engage in self-harm. The study employed a quantitative, descriptive-correlational approach with purposive sampling techniques. The participants were 32 students from SMK X in Bandung who reported a history of self-harm within the past year. The instruments used in this study included the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), the UCLA Loneliness Scale Version 3, and the Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS). The correlation analysis revealed a significant negative relationship between social support and emotion dysregulation (r = -0.286, p < 0.05), and a significant positive relationship between loneliness and emotion dysregulation (r = 0.387, p < 0.05). The multiple regression analysis showed that social support and loneliness simultaneously had a significant relationship with emotion dysregulation (F = 7.287, p = 0.003), with a coefficient of determination (R²) of 0.334. This indicates that 33.4% of the variance in emotion dysregulation is influenced by social support and loneliness. It can be concluded that lower levels of social support and higher levels of loneliness are associated with greater emotion dysregulation among adolescents. This study highlights the importance of enhancing social support and managing loneliness in efforts to prevent and address self-harm behavior in adolescents. ABSTRAKMasa remaja merupakan periode yang rentan terhadap berbagai tekanan emosional dan sosial. Ketidakmampuan dalam mengelola emosi atau disregulasi emosi dapat mendorong remaja untuk melakukan perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social support dan loneliness dengan disregulasi emosi pada remaja pelaku self-harm. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif korelasional dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 32 siswa SMK X Kota Bandung yang memiliki riwayat self-harm dalam satu tahun terakhir. Alat ukur yang digunakan meliputi Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara social support dan disregulasi emosi (r = -0,286, p < 0,05), serta hubungan positif signifikan antara loneliness dan disregulasi emosi (r = 0,387, p < 0,05). Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa social support dan loneliness secara simultan berhubungan signifikan dengan disregulasi emosi (F = 7,287, p = 0,003), dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,334. Artinya, 33,4% variabel disregulasi emosi dipengaruhi oleh social support dan loneliness. Dapat disimpulkan bahwa semakin rendah dukungan sosial dan semakin tinggi perasaan kesepian yang dialami remaja, maka semakin tinggi pula tingkat disregulasi emosi yang dirasakan. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial dan pengelolaan kesepian dalam upaya pencegahan dan penanganan self-harm pada remaja.
KONFLIK PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA NOVEL LUPUS: IDIIIH, UDAH GEDE KARYA HILMAN HARIWIJAYA, SEBUAH KAJIAN PSIKOANALISIS Ningsih, Saputri Kusuma; Israhayu, Eko Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6247

Abstract

This study aims to describe the psychological conflict experienced by the main character in the novel Lupus: Idiiih Sudah Gede by Hilman Hariwijaya. Psychological conflict is a conflict that arises within a person's self or soul as a response to emotional pressure or certain situations. The research method used is a descriptive method with a literary psychology approach by Sigmund Freud which includes three personality structures: Id (thought drives), Ego (reality controller), and Superego (moral values). The technique used is the reading and note-taking technique. Data were obtained from novel excerpts related to the forms of psychological conflict experienced by Lupus as the main character. The results of the study revealed that there are four forms of psychological conflict, namely anxiety, anger, disappointment, and suspicion. The four forms of psychological conflict are manifestations of an imbalance between instinctive drives (Id), moral demands (Superego), and controllers (Ego). In this analysis, it was found that the negative emotions experienced by the character Lupus emerged as a form of response to social pressure, failure, and uncertainty about the future. This study emphasizes the importance of a literary psychology approach in understanding character characters and making literary works a medium of reflection for readers in understanding human psychological dynamics. The results of this study can be a reference in learning literature and developing adolescent characters through fiction media. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik psikologis yang dialami tokoh utama novel Lupus: Idiiih Udah Gede karya Hilman Hariwijaya. Konflik psikologis adalah konflik yang muncul dalam diri atau jiwa seseorang sebagai respons terhadap tekanan emocional atau situasi tertentu. Métode penelitian yang digunakan adalah métode deskriptif dengan pendekatan psikologi sastra oleh Sigmund Freud yang mencakup tiga struktur kepribadian: Id (dorongan naluriah), Ego (pengendali realitas), dan Superego (nilai moral). Teknik yang digunakan yaitu teknik baca dan catat. Data diperoleh dari kutipan-kutipan novel yang berkaitan dengan bentuk-bentuk konflik psikologis yang dialami oleh Lupus sebagai tokoh utama. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat empat bentuk konflik psikologis yaitu kecemasan, kemarahan, kekecewaan, dan rasa curiga. Keempat bentuk konflik psikologis tersebut merupakan manifestasi dari ketidakseimbangan antara dorongan naluriah (Id), tuntutan moral (Superego), dan pengendali (Ego). Dalam analisis ini, ditemukan bahwa emosi negatif yang dialami tokoh Lupus muncul sebagai bentuk respons terhadap tekanan sosial, kegagalan, serta ketidakpastian akan masa depan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan psikologi sastra dalam memahami karakter tokoh serta menjadikan karya sastra sebagai media refleksi bagi pembaca dalam memahami dinamika psikologis manusia. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pembelajaran sastra serta pengembangan karakter remaja melalui media fiksi.
PENGGUNAAN TIKTOK SEBAGAI EKSPRESI DIRI PADA INDIVIDU DENGAN KECENDERUNGAN NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER Bernadeth Manik, Laura; Iriani Roesmala Dewi, Fransisca
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6364

Abstract

This study explores how individuals with narcissistic personality tendencies utilize TikTok to shape and maintain their digital self-image. The study is grounded in theories of narcissism, personality, and online self-presentation. Its main focus is on how TikTok’s validation system such as likes, comments, and follower count affects user behavior. The research employs a qualitative case study approach involving three adolescent content creators (AI, RH, and AK) who exhibit more than five diagnostic criteria of Narcissistic Personality Disorder (NPD) as defined by the DSM-V. In-depth interviews and content analysis revealed that core narcissistic traits such as superiority, authority, and exhibitionism are consistently reinforced by TikTok’s interactive features. This study fills a gap in the existing literature, which has predominantly focused on platforms like Facebook in the context of digital narcissism. Few studies have thoroughly examined how TikTok’s algorithm characterized by rapid, open visual validation shapes narcissistic expression, particularly among urban youth in Indonesia. Thus, this research offers a novel contribution to understanding narcissism within a more dynamic and competitive digital culture. Although the subjects project confidence on social media, they also demonstrate emotional vulnerability in response to audience feedback. This indicates a fragile self-identity that heavily relies on external validation. The findings have implications for the development of psychological interventions based on digital media and expand our understanding of identity formation in the digital era, particularly in the fields of personality psychology and urban sociology. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana individu dengan kecenderungan kepribadian narsistik memanfaatkan TikTok untuk membentuk dan memelihara citra diri digital mereka. Studi ini berlandaskan teori narsisme, kepribadian, dan presentasi diri daring. Fokus utama adalah bagaimana sistem validasi TikTok seperti likes, komentar, dan jumlah pengikut mempengaruhi perilaku pengguna. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif terhadap tiga kreator konten remaja (AI, RH, dan AK) yang menunjukkan lebih dari lima ciri diagnostik Narcissistic Personality Disorder (NPD) menurut DSM-V. Wawancara mendalam dan analisis konten mengungkap bahwa ciri-ciri utama narsisme seperti superioritas, otoritas, dan exhibitionism diperkuat secara konsisten oleh fitur interaktif TikTok. Studi ini mengisi kekosongan dalam literatur yang sebagian besar sebelumnya berfokus pada platform seperti Facebook dalam konteks narsisme digital. Belum banyak penelitian yang secara mendalam mengeksplorasi bagaimana algoritma TikTok, dengan fitur visual dan sistem validasinya yang cepat dan terbuka, membentuk ekspresi narsisme, khususnya di kalangan remaja urban di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam memahami narsisme dalam konteks budaya digital yang lebih dinamis dan kompetitif. Meskipun para subjek menampilkan kepercayaan diri di media sosial, mereka juga menunjukkan kerentanan emosional terhadap reaksi audiens. Hal ini menandakan identitas diri yang rapuh dan sangat bergantung pada validasi eksternal. Temuan ini memiliki implikasi terhadap pengembangan intervensi psikologis berbasis media digital serta memperluas pemahaman mengenai pembentukan identitas di era digital, khususnya dalam psikologi kepribadian dan sosiologi perkotaan.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI INTRINSIK DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA SMA Nur Damiyati, Adibah; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6372

Abstract

This study aims to examine the relationship between intrinsic motivation and academic procrastination among high school students. Although academic procrastination is a common phenomenon, most previous studies have focused on university students, making research at the high school level still limited. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The sample consisted of 163 eleventh-grade high school students selected through simple random sampling. The measurement instruments used were an intrinsic motivation scale and an academic procrastination scale. The intrinsic motivation scale consisted of 18 items, while the academic procrastination scale consisted of 19 items. Both instruments had been tested for validity and reliability, with item validity scores > 0.300 and Cronbach’s Alpha reliability coefficients of 0.898, respectively. Data analysis was conducted using Spearman’s Rho correlation with the assistance of SPSS 25 software.The results revealed a significant negative relationship between intrinsic motivation and academic procrastination, with a correlation coefficient of -0.762 and a significance value of p < 0.05. This means that the higher the students’ intrinsic motivation, the lower their tendency to delay academic tasks. These findings are expected to serve as a reference for high schools in developing learning strategies that can enhance students’ learning motivation to reduce academic procrastination behavior. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara motivasi intrinsik dan prokrastinasi akademik pada siswa SMA. Meskipun prokrastinasi akademik merupakan fenomena umum, sebagian besar studi sebelumnya lebih berfokus pada mahasiswa, sehingga penelitian pada tingkat sekolah menengah masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 163 siswa kelas XI SMA  yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala motivasi intrinsik dan skala prokrastinasi akademik. Skala motivasi intrinsik terdiri dari 18 item, sedangkan skala prokrastinasi akademik terdiri dari 19 item. Kedua instrumen tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan hasil validitas item > 0,300 dan reliabilitas Cronbach’s Alpha masing-masing sebesar 0,898. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman-Rho dengan bantuan software SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara motivasi intrinsik dan prokrastinasi akademik, dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,762 dan nilai signifikansi (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi motivasi intrinsik yang dimiliki siswa, maka semakin rendah kecenderungan mereka untuk menunda tugas-tugas akademik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak SMA dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa guna menekan perilaku prokrastinasi akademik.
PENGARUH EMOTION FOCUSED COPING DALAM MENGHADAPI STRES AKADEMIK PADA SISWA DI SMAN Habibah, Siti; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6373

Abstract

This study aims to examine the relationship between emotion-focused coping (EFC) and academic stress among high school students. The novelty of this study lies in its participant context, as most previous research has focused on university students, while studies on the effectiveness of EFC among secondary school students remain limited. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 200 students from grades 10 and 11 at a public senior high school selected through simple random sampling. Data were collected using the Student-Life Stress Inventory and the Ways of Coping Questionnaire. The results showed a significant positive correlation between EFC and academic stress (r = 0.237; p = 0.001). Theoretically, these findings support the stress-coping model by Lazarus & Folkman (1984), suggesting that emotion-focused strategies, when not accompanied by problem-solving approaches, may exacerbate stress perceptions. Practically, the results highlight the need for counseling interventions that go beyond emotional release, emphasizing the development of active coping skills and problem-focused strategies in the school environment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotion focused coping (EFC) dan stres akademik pada siswa SMA. Kebaruan penelitian ini terletak pada konteks partisipan, karena sebagian besar studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada mahasiswa, sementara penelitian mengenai efektivitas EFC pada siswa sekolah menengah masih terbatas. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 200 siswa kelas X dan XI dari sebuah SMAN yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan Student-Life Stress Inventory dan Ways of Coping Questionnaire. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara EFC dan stres akademik (r = 0,237; p = 0,001). Secara teoretis, temuan ini mendukung model koping stres Lazarus & Folkman (1984) bahwa penggunaan strategi EFC yang tidak diimbangi dengan pemecahan masalah dapat memperburuk persepsi stres. Secara praktis, hasil ini mengindikasikan pentingnya intervensi konseling yang tidak hanya mendorong pelampiasan emosional, tetapi juga pengembangan keterampilan koping aktif dan problem-focused coping di lingkungan sekolah.
EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN Wahyuningsih, Viandini; Nabila Wibowo , Chairunnisa; Juwita, Melly; Windi Oktara, Tri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6374

Abstract

Learning evaluation is an essential component of education; however, current practices are still dominated by conventional summative approaches, with limited use of formative, project-based, character-based, and technology-integrated evaluations. This gap indicates a lack of holistic, continuous, and adaptive assessment aligned with 21st-century competencies, particularly in Indonesian primary and lower secondary education. Such conditions require improved evaluation strategies in the Society 5.0 era to ensure more effective and relevant learning. This study employed a library research approach, reviewing 35 articles that met the inclusion criteria—empirical studies or conceptual papers on learning evaluation at the primary and lower secondary levels, published between 2010 and 2024, in Indonesian or English, and sourced from accredited national and international journals. The analysis covered formative, summative, and non-test evaluations (observation, questionnaires, and interviews) using thematic synthesis. The findings reveal that 75% of the articles emphasized summative evaluation, 30% highlighted the implementation of continuous formative assessment, 67% supported project-based evaluation, 60% addressed character-based evaluation, and only 25% discussed the integration of technology in assessment. These results indicate the need for a shift from summative dominance toward integrating formative, project-based, and technology-enhanced evaluation to address instructional weaknesses and optimize curriculum development. Objective, reliable, valid, and continuous evaluation has significant potential to enhance the quality of education and its relevance to future challenges. ABSTRAK Evaluasi pembelajaran merupakan komponen esensial dalam pendidikan, namun praktik di lapangan masih didominasi pendekatan sumatif konvensional dengan penerapan formatif, berbasis proyek, karakter, dan teknologi yang terbatas. Kesenjangan ini menunjukkan minimnya integrasi evaluasi yang holistik, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kompetensi abad ke-21, khususnya pada jenjang SD SMP di Indonesia. Kondisi ini menuntut perbaikan strategi evaluasi di era Society 5.0 agar pembelajaran lebih efektif dan relevan. Penelitian ini merupakan library research terhadap 35 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu penelitian empiris atau kajian konseptual tentang evaluasi pembelajaran SD SMP, terbit antara 2010 - 2024, berbahasa Indonesia/Inggris, dan berasal dari jurnal nasional maupun internasional terakreditasi. Analisis mencakup evaluasi formatif, sumatif, dan non-tes (observasi, angket, wawancara) dengan sintesis tematik. Sebanyak 75% artikel menekankan evaluasi sumatif, 30% menggarisbawahi penerapan formatif berkelanjutan, 67% mendukung evaluasi berbasis proyek, 60% mengulas evaluasi berbasis karakter, dan hanya 25% membahas integrasi teknologi evaluasi. Temuan mengindikasikan perlunya pergeseran dari dominasi sumatif menuju integrasi formatif, proyek, dan teknologi, guna memperbaiki kelemahan instruksional dan mengoptimalkan pengembangan kurikulum. Evaluasi yang objektif, reliabel, valid, dan berkesinambungan berpotensi signifikan meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansinya terhadap tantangan masa depan.
STRATEGI COPING STRESS PADA REMAJA DI PANTI ASUHAN Fitriani Pujianahum, Nina; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6379

Abstract

Adolescents living in orphanages face more complex psychological challenges, such as limited emotional support, the absence of primary caregivers, and a highly regulated social environment. These conditions often trigger stress and shape the coping strategies they adopt. This study aims to identify the dominant coping stress strategies used by adolescents in Orphanage X, addressing a research gap since previous studies have largely focused on students and working adults rather than institutionalized adolescents. A descriptive quantitative design was employed, involving 120 adolescents selected through total sampling. The instrument used was a coping stress scale consisting of two dimensions: problem-focused coping and emotion-focused coping. The results showed that most adolescents used emotion-focused coping at a moderate level (60.8%), higher than problem-focused coping. These findings highlight that adolescents in orphanages rely more on emotional regulation strategies rather than direct problem-solving. The practical implication of this study is the need for structured interventions, such as psychoeducation, group counseling, and emotional regulation training, to enhance adaptive coping skills and promote psychological well-being among institutionalized adolescents. ABSTRAK Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi tantangan psikologis yang lebih kompleks, seperti keterbatasan dukungan emosional, kehilangan figur pengasuh utama, dan lingkungan sosial yang penuh aturan. Kondisi ini dapat memicu stres dan memengaruhi strategi coping yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi coping stress yang dominan digunakan oleh remaja di Panti Asuhan X, sekaligus menutup kesenjangan penelitian karena studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada mahasiswa dan pekerja dewasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 120 remaja melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala coping stress yang terdiri dari dua dimensi utama: problem-focused coping dan emotion-focused coping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menggunakan emotion-focused coping pada kategori sedang (60,8%), lebih tinggi dibandingkan problem-focused coping. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja panti lebih mengandalkan pengelolaan emosi dibandingkan penyelesaian masalah secara langsung. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya program intervensi berbasis psikoedukasi, konseling kelompok, dan pelatihan regulasi emosi untuk meningkatkan strategi coping yang lebih adaptif dan mendukung kesejahteraan psikologis remaja di panti asuhan.
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN RESOLUSI KONFLIK BERPACARAN PADA MAHASISWA DI UNIVERSITAS Alvita Ardiningrum, Nasywa; Supriatna , Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6381

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-control and dating conflict resolution in students at University. Self-control is an individual's ability to control the actions of individual perceptions of situations that affect behavior and emotions, while conflict resolution is the process of solving problems for differences between two parties. This study uses a correlational quantitative approach. The sample consisted of 115 students. The validity test was conducted through item-total correlation analysis, with 21 self-control scale items declared valid (r> 0.300) and 30 valid items from the conflict resolution scale. Reliability tests conducted using the Cronbach's Alpha coefficient showed that the self-control scale had reliability in the highly reliable category (? = 0.960) and the conflict resolution scale was in the reliable category (? = 0.988). Data analysis was conducted using Spearman's rho correlation test through JASP 0.19.3.0 software. The results of the study indicate a significant positive relationship between self-control and dating conflict resolution among students at University, with a correlation coefficient of r = 0.571 and a significance value of p < 0.001. This means that the higher the self-control possessed by students, the better the ability of students to resolve conflicts in dating relationships. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kontrol diri dengan resolusi konflik berpacaran pada mahasiswa di Universitas. Kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengontrol tindakan persepsi individu terhadap situasi yang mempengaruhi perilaku dan emosi, sedangkan resolusi konflik proses pemecahan masalah terhadap perbedaan antar dua belah pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sample terdiri dari 115 mahasiswa/i. Uji validitas dilakukan melalui analisis korelasi item-total, dengan 21 item skala kontrol diri dinyatakan valid (r > 0,300) dan 30 item yang valid dari skala resolusi konflik. Uji reliabilitas yang dilakukan menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa skala kontrol diri memiliki reliabilitas dengan kategori sangat reliabel (? = 0,960) dan skala resolusi konflik berada pada kategori reliabel (? = 0,988).  Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi spearman’s rho melalui software JASP 0.19.3.0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kontrol diri dan resolusi konflik berpacaran pada mahasiswa di Universitas, dengan koefisien korelasi sebesar r = 0,571, dan nilai signifikansi p < 0,001. Artinya, semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki oleh mahasiswa, maka semakin baik pula kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan konflik didalam hubungan berpacaran.
PENGARUH WORK LIFE BALANCE TERHADAP TURNOVER INTENTION GENERASI Z DI KOTA BANJARMASIN Fadhilah, Rachil; Ariani, Lita; Julaibib, Julaibib
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6392

Abstract

Generation Z, known for their values of flexibility and well-being, are increasingly paying attention to the importance of work-life balance, which in turn can affect their turnover intention at work. One of the keys to retaining employees is finding a good balance between personal and work needs, especially among a generation that is very concerned about mental health. The purpose of this research is to learn more about the effect of work-life balance on the turnover intention of Generation Z in Banjarmasin City. This research was conducted with a correlational quantitative approach. This study involved 101 people, data collection was done through Google Forms with convenience sampling technique.  The results of simple linear regression analysis indicate that work life balance is able to explain 25.1% of the variation of turnover intention (R2 = 0.251, F (1,99) = 33.25 p < 0.05). This means that there is a significant influence of work-life balance on turnover intention in Generation Z in Banjarmasin City. It is hoped that these findings can be a source of reference for future researchers to explore additional variables that may play a role in turnover intention. Suggestions for organizations are expected to create a work environment and atmosphere that can improve work life balance. ABSTRAK Generasi Z, yang dikenal dengan nilai-nilai fleksibilitas dan kesejahteraan, semakin memperhatikan pentingnya work-life balance, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi turnover intention mereka di tempat kerja. Salah satu kunci untuk mempertahankan karyawan adalah menemukan keseimbangan yang baik antara kebutuhan pribadi dan pekerjaan, terutama di kalangan generasi yang sangat memperhatikan kesehatan mental. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengaruh work life balance terhadap turnover intention Generasi Z di Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian ini melibatkan 101 orang, pengambilan data dilakukan melalui Google Forms dengan teknik convenience sampling. Hasil dari analisis regresi linear sederhana mengindikasikan bahwa work life balance mampu menjelaskan 25,1% variasi dari turnover intention (R2 = 0,251, F (1,99) = 33,25 p < 0,05). Artinya terdapat pengaruh work life balance yang signifikan terhadap turnover intention pada Generasi Z di Kota Banjarmasin. Diharapkan bahwa temuan ini dapat menjadi sumber referensi untuk peneliti selanjutnya untuk mengeksplorasi variabel tambahan yang mungkin berperan dalam turnover intention. Saran untuk organsasi diharapkan untuk menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang mampu meningkatkan work life balance.
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN KARIER DENGAN QUARTER LIFE CRISIS PADA PEKERJA Imamah, Fa’iqotul; Satiningsih, Satiningsih
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6496

Abstract

The quarter-life crisis is a psychological phenomenon commonly experienced by individuals aged 18–29, characterized by anxiety, confusion, and pressure in making life decisions, particularly regarding career. One factor influencing this condition is career maturity, defined as the readiness to plan and make career decisions appropriate to one’s developmental stage. This study aimed to examine the relationship between career maturity and quarter-life crisis among 115 employees at a business entity in Lamongan Regency. Using a quantitative approach with a correlational design, the study identified the strength and direction of the relationship between variables without manipulation. The instruments were a career maturity scale (Donald Super) and a quarter-life crisis scale (Robbins & Wilner), with validity tested using corrected item–total correlation and reliability assessed via Cronbach’s alpha. The results revealed a significant negative relationship (r =  -0.428, p < 0.05) with r² = 18.3%, indicating that career maturity explains 18.3% of the variance in quarter-life crisis. This finding fills a research gap that has predominantly focused on university students by highlighting a worker population facing real-world career challenges. Career maturity was shown to act as a protective factor against quarter-life crisis and provides a basis for developing workplace career mentoring programs. ABSTRAK Quarter life crisis adalah fenomena psikologis yang umum dialami individu usia 18–29 tahun, ditandai kecemasan, kebingungan, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, khususnya karier. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kematangan karier, yakni kesiapan merencanakan dan mengambil keputusan karier sesuai tahap perkembangan. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara kematangan karier dan quarter life crisis pada 115 pekerja di sebuah badan usaha di Kabupaten Lamongan. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, penelitian ini mengidentifikasi kekuatan dan arah hubungan antarvariabel tanpa manipulasi. Instrumen yang digunakan adalah skala kematangan karier (Donald Super) dan skala quarter life crisis (Robbins & Wilner), dengan validitas diuji melalui corrected item–total correlation dan reliabilitas melalui Cronbach’s Alpha. Hasil menunjukkan hubungan negatif signifikan (r = - 0,428, p < 0,05) dengan r² = 18,3%, yang berarti kematangan karier menjelaskan 18,3% variasi quarter life crisis. Temuan ini mengisi kesenjangan penelitian yang sebelumnya berfokus pada mahasiswa, dengan menyoroti populasi pekerja yang menghadapi tantangan nyata di dunia kerja. Kematangan karier terbukti berperan sebagai faktor protektif terhadap quarter life crisis dan menjadi dasar pengembangan program pendampingan karier di lingkungan kerja.