cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
INTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM DAN BIMBINGAN KONSELING DALAM PENGUATAN MENTAL PESERTA DIDIK GEN ALPHA DI SMP PLUS INSAN GEMILANG Aini, Siti Nur; Syaifulloh, Ahmad; Nurkayati, Siti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7259

Abstract

This study aims to describe the model of integration of Islamic Education and Guidance Counseling (BK) in strengthening the mental health of Generation Alpha students at SMP Plus Insan Gemilang. The background of this study is the increase in digital distractions and mental health challenges among the younger generation, which requires a holistic educational approach based on spiritual values. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through semi-structured in-depth interviews with students, guidance counselors, Islamic education teachers, and the principal, who were selected purposively. The data were analyzed using thematic analysis techniques and tested for validity through source triangulation and member checking. The results showed that the boarding school system, which has been a policy since the school's establishment, restrictions on the use of electronic devices, the habit of worship, and Islamic counseling services contributed positively to the inner peace, emotional control, resilience, and learning focus of students. These findings are in line with previous studies that confirm that religiosity and social support in Islamic educational environments are significantly related to students' psychological well-being. This study also found challenges in the form of homesickness, boredom due to busy schedules, and difficulties in time management that need to be overcome through counseling assistance and strengthening self-management skills. In conclusion, the integration of Islamic Education and BK in the context of boarding schools is a relevant and effective approach to strengthening the mental health of Generation Alpha students and can serve as a reference for other Islamic educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model integrasi Pendidikan Islam dan Bimbingan Konseling (BK) dalam penguatan kesehatan mental peserta didik Generasi Alpha di SMP Plus Insan Gemilang. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya distraksi digital dan tantangan kesehatan mental generasi muda sehingga diperlukan pendekatan pendidikan yang holistik berbasis nilai spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap peserta didik, guru BK, guru PAI, dan kepala sekolah yang dipilih secara purposive. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik dan diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem boarding school yang telah menjadi kebijakan sejak berdirinya sekolah, pembatasan penggunaan gawai, pembiasaan ibadah, dan layanan BK Islami berkontribusi positif terhadap ketenangan batin, pengendalian emosi, resiliensi, dan fokus belajar peserta didik. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa religiusitas dan dukungan sosial di lingkungan pendidikan Islam berhubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini juga menemukan tantangan berupa rasa kangen rumah, kejenuhan akibat jadwal padat, dan kesulitan manajemen waktu yang perlu diatasi melalui pendampingan konseling dan penguatan keterampilan manajemen diri. Kesimpulannya, integrasi Pendidikan Islam dan BK dalam konteks boarding school merupakan pendekatan yang relevan dan efektif untuk memperkuat kesehatan mental peserta didik Generasi Alpha serta dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan Islam lainnya.
GAMBARAN COPING STRESS MAHASISWA KULIAH SAMBIL BEKERJA YANG MENGALAMI BROKEN HOME DI BANJARMASIN Amalia, Riski; Quarta, Dicky Listin; Fikrie, Fikrie
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7305

Abstract

Students who study while working and come from broken-home families are vulnerable to psychological stress due to the demands of dual roles and family-related issues. This condition requires effective coping strategies to maintain mental well-being and ensure academic success. This study aims to identify coping strategies employed by students with such backgrounds in Banjarmasin. This research employed a qualitative approach with a phenomenological method. Participants consisted of three students selected purposively based on the criteria of coming from broken-home families, working while studying, and not receiving financial support from parents. Data were collected through semi-structured interviews, passive participant observation, documentation, and triangulation with significant others. Data were analyzed using the interactive model by Miles and Huberman (1994). The findings revealed that all three participants applied eight coping indicators proposed by Lazarus and Folkman (1984), with the dominant strategies being planful problem solving, seeking social support, positive reappraisal. The study highlights the importance of social support and problem-management skills in coping with dual-role stress. ABSTRAK Mahasiswa yang menjalani studi sambil bekerja dan berasal dari keluarga broken home rentan mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan peran ganda serta permasalahan keluarga. Kondisi ini memerlukan strategi coping yang efektif untuk menjaga kesejahteraan mental dan kelancaran studi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi coping yang digunakan oleh mahasiswa dengan latar belakang tersebut di Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan terdiri atas tiga mahasiswa yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria berasal dari keluarga broken home, bekerja sambil kuliah, dan tidak menerima dukungan finansial dari orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan pasif, dokumentasi, serta triangulasi dengan significant others. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman (1994). Temuan menunjukkan ketiga partisipan menerapkan delapan indikator coping menurut Lazarus dan Folkman (1984), dengan strategi dominan planful problem solving, mencari dukungan sosial, dan positive reappraisal. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan sosial dan keterampilan manajemen masalah dalam menghadapi tekanan peran ganda.
RELEVANSI KONSELING PANCAWASKITA TERHADAP PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN KEHIDUPAN EFEKTIF SISWA SMP SEKOLAH INDONESIA JEDDAH Saputra, Reri; Isdwiyanti, Dian; Habsy, Bakhrudin All
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7359

Abstract

This study aims to examine the relevance of Pancawaskita Counseling (KOPASTA) to the development of independence and effective daily living (KES) among junior high school students at the Indonesian School in Jeddah (SIJ). This approach is considered essential in the multicultural and religious context of education abroad, where Indonesian students face challenges of social adaptation, differences in cultural values, and the need for contextual counseling. The research method used is a library study (literature review) of ten scientific articles published between 2015 and 2025. The analysis shows that KOPASTA, as an eclectic and integrative counseling theory grounded in the values of Pancasila, Lirahid, Pancadaya, Masidu, and Likuladu, provides a conceptual foundation for developing the independence of Indonesian diaspora students. The approach emphasizes the balance between Internal Meaning (Arti Dari Dalam/ADD) and External Meaning (Arti Dari Luar/ADL) in forming a new gatra, which represents a wise, autonomous, and effective individual. Applying KOPASTA’s values in the Indonesian School in Jeddah can strengthen students’ moral, emotional, and spiritual resilience while fostering their national identity within a global environment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi Konseling Pancawaskita (KOPASTA) terhadap pengembangan kemandirian dan kehidupan efektif sehari-hari (KES) pada siswa SMP Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ). Pendekatan ini dipandang penting dalam konteks pendidikan multikultural dan religius di luar negeri, di mana siswa Indonesia menghadapi tantangan adaptasi sosial, perbedaan nilai budaya, dan kebutuhan bimbingan yang kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) terhadap sepuluh artikel ilmiah yang terbit dalam kurun waktu 2015–2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa KOPASTA sebagai teori konseling eklektik-integratif berlandaskan nilai-nilai Pancasila, Lirahid, Pancadaya, Masidu, dan Likuladu, mampu menjadi dasar konseptual untuk membangun kemandirian siswa diaspora. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara Arti Dari Dalam (ADD) dan Arti Dari Luar (ADL) dalam membentuk gatra baru, yaitu pribadi yang waskita, mandiri, dan berkehidupan efektif. Penerapan nilai-nilai KOPASTA di lingkungan Sekolah Indonesia Jeddah dapat memperkuat ketahanan moral, emosional, dan spiritual siswa sekaligus menumbuhkan identitas kebangsaan di tengah lingkungan global.
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA SISWA SMK Utami, Jian Vivi Tri; Amini, Soleh
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7453

Abstract

ABSTRACT Motivated by the increasing use of online games among adolescents, which has the potential to cause addiction and aggressive behavior, this study examines the relationship between self-control and online game addiction with aggressive behavior among vocational high school students in Nogosari District. This quantitative study used a survey method involving 83 students of SMK Negeri 1 Nogosari who were randomly selected from a total population of 490 students. Data were collected through self-control scales, online game addiction scales, and aggressive behavior scales, all of which had been tested for validity (Aiken's V) and reliability (Cronbach's Alpha). Multiple linear regression analysis using SPSS 26, after meeting classical assumption tests, was conducted to assess the simultaneous and partial relationships among the research variables. The results showed that self-control and online game addiction simultaneously had a significant relationship with aggressive behavior. Partially, self-control had a negative and significant effect on aggressive behavior (?: -1.019, <0.000), whereas online game addiction had a positive and significant effect (?: 0.284, <0.05). These two variables explained 46% of the variability in aggressive behavior, with the remaining influenced by other factors. These findings emphasize the role of self-control as a protective factor and online game addiction as a trigger for aggressive behavior, highlighting the importance of psychological and educational interventions in schools and families to enhance self-control and manage online game use among adolescents. ABSTRAK Dilatarbelakangi oleh peningkatan penggunaan game online di kalangan remaja yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan perilaku agresif, penelitian ini menguji hubungan antara kontrol diri dan kecanduan game online dengan perilaku agresif pada siswa SMK di Kecamatan Nogosari. Studi kuantitatif ini menggunakan metode survei pada 83 siswa SMK Negeri 1 Nogosari yang dipilih secara acak dari total populasi 490 siswa. Data dikumpulkan melalui skala kontrol diri, kecanduan game online, dan perilaku agresif, yang telah diuji validitas (Aiken's V) dan reliabilitas (Alpha Cronbach). Analisis regresi linear berganda dengan SPSS 26, setelah memenuhi uji asumsi klasik, dilakukan untuk menilai hubungan simultan dan parsial antara variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri dan kecanduan game online secara simultan berhubungan signifikan dengan perilaku agresif. Secara parsial, kontrol diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku agresif (?: -1.019, <0.000), sementara kecanduan game online berpengaruh positif dan signifikan (?: 0,284, <0,05). Kedua variabel ini menjelaskan 46% variabilitas perilaku agresif, dengan sisanya dipengaruhi faktor lain. Temuan ini menekankan peran kontrol diri sebagai pelindung dan kecanduan game online sebagai pemicu perilaku agresif, menggarisbawahi pentingnya intervensi psikologis dan edukatif di sekolah dan keluarga untuk meningkatkan kontrol diri dan mengelola penggunaan game online pada remaja.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA TINGKAT 3 STRATA-1 KEPERAWATAN Ismaini, Amellia; Carolina, Meilitha; Pristina, Nia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7468

Abstract

ABSTRACT Mental health is a condition in which individuals can function normally while facing various life challenges. College students are vulnerable to academic pressure, social changes, and environmental demands. In this context, peer social support plays an important role by providing emotional, informational, and practical assistance that enhances resilience, reduces isolation, and promotes mental well-being. This study aims to identify the relationship between peer social support and mental health among students at the University of Palangka Raya. The type of research used is correlational with a cross-sectional approach. The study involved a total of 69 student respondents. The sampling technique used was total sampling. Data were collected using a questionnaire distributed to students via Google Form. The statistical test used in this study was the Spearman Rank test. The results showed that the relationship between peer social support and mental health, based on the Spearman Rank analysis, obtained a p-value = 0.000 ? 0.05, indicating a significant relationship between social support and mental health with a correlation coefficient of 0.415 at Eka Harap University, Palangka Raya. This means that the strength of the relationship is categorized as high. It shows that there is a significant relationship between peer social support and mental health among third-year undergraduate nursing students at Eka Harap University, Palangka Raya, indicating a high level of correlation. ABSTRAK Kesehatan mental adalah kondisi individu yang mampu berfungsi secara normal dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Mahasiswa rentan mengalami tekanan akademik, perubahan sosial, serta tuntutan lingkungan. Dalam hal ini, dukungan sosial teman sebaya berperan penting melalui bantuan emosional, informasi, dan dukungan praktis yang meningkatkan resiliensi, mengurangi isolasi, serta mendorong kesejahteraan mental. Penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan kesehatan mental pada mahasiswa di Universitas Palanka Raya. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini berjumlah sebanyak 69 responden mahasiswa. Tehnik sampling yang digunakan adalah Total sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui google form yang dibagikan kepada mahasiswa. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian adalah Uji Spearman Rank. Penelitian ini diketahui bahwa hubungan dukungan sosial teman sebaya dari hasil analisis Spearman Rank diperoleh p (value) = 0,000 ? 0,05 artinya terdapat hubungan dukungan sosial dengan kesehatan mental correlation coefficient 0,415 di Universitas Eka Harap Palangka Raya, artinya terdapat keeratan hubungan dikategorikan tinggi. Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesehatan mental pada mahasiswa tingkat 3 strata-1 keperawatan di Universitas Eka Harap Palangka Raya yang artinya memiliki tingkat hubungan yang tinggi.
GAMBARAN WANITA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI FATHERLESS Turyati, Tri Vaiqotusa'adah; Setyo Ariyanto, Mustaqim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7583

Abstract

Indonesia ranks third in the world for cases of fatherlessness. Fatherlessness refers to a condition in which a person's development lacks the psychological and physiological role of a father. This condition is important to study because it can affect an individual's psychological well-being, especially in early adulthood. This study aims to describe the aspects of fatherlessness and identify the factors that influence it. The research method used is a qualitative phenomenological approach, with two early adult women as subjects, one due to a broken home and the other due to the death of their father. Data were collected through in-depth interviews, unstructured observations, and documentation, which were then analyzed descriptively. The results of the study show that both subjects did not receive optimal father roles in various aspects, leading to negative impacts such as feelings of sadness, anger, envy, low self-esteem, and emotional trauma. In conclusion, fatherlessness has a significant impact on the psychological well-being of early adult women, particularly in emotional and social aspects. The implications of this study emphasize the importance of the father's role in the family as a psychological foundation for children. ABSTRAK Indonesia menempati urutan ketiga di dunia untuk kasus "fatherless". Fatherless mengacu pada kondisi di mana seseorang dalam proses tumbuh kembangnya kekurangan peran psikologis maupun fisiologis dari ayah. Kondisi ini penting untuk diteliti karena dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu, terutama pada masa dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek fatherless serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif fenomenologi, dengan subjek dua wanita dewasa awal yang mengalami fatherless, satu karena broken home dan satu lagi karena kematian ayah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi tak berstruktur, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek tidak memperoleh peran ayah secara optimal dalam berbagai aspek, yang mengakibatkan dampak negatif seperti perasaan sedih, marah, iri, rendah diri, dan trauma emosional. Kesimpulannya, fenomena fatherless memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis perempuan dewasa awal, terutama dalam aspek emosional dan sosial. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peran ayah dalam keluarga sebagai dasar psikologis anak.
BAHASA TRAUMA: PADA KEHIDUPAN MIRIS FAREL PRAYOGA DALAM PODCAST DENNY SUMARGO UNGGAHAN YOUTUBE JULI 2025 Haryanto, Fahrani Almira Rizkya; Suroso, Eko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7585

Abstract

The phenomenon of psychological trauma revealed through language is an important issue in modern psycholinguistic studies. Language not only serves as a means of communication, but also as a container of inner expression that reflects emotional wounds and the process of self-healing. This research is motivated by the phenomenon of Farel Prayoga's speech in the podcast Curhat Bang Denny Sumargo, which shows typical linguistic symptoms of trauma such as interrupted speech, euphemisms, and changes in intonation and facial expressions. This case shows how traumatic experiences can affect language systems and become a form of unconventional emotional communication. This study aims to describe the forms of trauma language that appear in Farel Prayoga's speech, analyze its relationship with the speaker's psychological condition, and interpret the role of language as a means of self-reconstruction and trauma recovery. The method used is qualitative descriptive with a narrative psycholinguistic approach, using Cathy Caruth's narrative trauma theory as an analytical framework. Data were collected through Miles and Huberman's observation, transcription, and interactive analysis, taking into account verbal (sentence structure, word choice, prosody) and nonverbal (facial expressions, gestures, intonation) aspects. The results of the study showed that trauma is manifested through fragmentary linguistic patterns, word repetition, and procedural irregularities that indicate emotional burden. The choice of euphemisms and long pauses becomes a self-defense mechanism, while body gestures and facial expressions reinforce indications of trauma that have not been fully integrated in consciousness. Language in this context not only represents wounds, but also becomes a therapeutic space (healing discourse) in which individuals try to rearrange the meaning of their lives. Theoretically, this research expands the study of psycholinguistics by integrating the concept of narrative trauma in the context of digital communication. Practically, these findings have implications for the development of narrative therapy, language education, and emotional literacy in society. In conclusion, language is not just a cognitive action, but a therapeutic process that allows humans to face, process, and heal trauma through the power of speech. ABSTRAK Fenomena trauma psikologis yang diungkap melalui bahasa menjadi isu penting dalam kajian psikolinguistik modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah ekspresi batin yang mencerminkan luka emosional dan proses penyembuhan diri. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena tuturan Farel Prayoga dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo, yang memperlihatkan gejala linguistik khas trauma seperti tuturan terputus, eufemisme, serta perubahan intonasi dan ekspresi wajah. Kasus ini menunjukkan bagaimana pengalaman traumatik dapat memengaruhi sistem bahasa dan menjadi bentuk komunikasi emosional nonkonvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa trauma yang muncul dalam tuturan Farel Prayoga, menganalisis kaitannya dengan kondisi psikologis penutur, serta menafsirkan peran bahasa sebagai sarana rekonstruksi diri dan pemulihan trauma. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan psikolinguistik naratif, menggunakan teori trauma naratif Cathy Caruth sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, transkripsi, dan analisis interaktif Miles dan Huberman, dengan mempertimbangkan aspek verbal (struktur kalimat, pilihan kata, prosodi) dan nonverbal (mimik wajah, gestur, intonasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma terwujud melalui pola linguistik yang fragmentaris, pengulangan kata, serta ketidakteraturan prosodi yang menandakan beban emosional. Pilihan eufemisme dan jeda panjang menjadi mekanisme pertahanan diri, sementara gestur tubuh dan ekspresi wajah memperkuat indikasi trauma yang belum terintegrasi secara utuh dalam kesadaran. Bahasa dalam konteks ini tidak hanya merepresentasikan luka, tetapi juga menjadi ruang terapeutik (healing discourse) di mana individu berusaha menata kembali makna hidupnya. Secara teori, penelitian ini memperluas kajian psikolinguistik dengan mengintegrasikan konsep trauma naratif dalam konteks komunikasi digital. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan terapi naratif, pendidikan bahasa, dan literasi emosional di masyarakat. Kesimpulannya, berbahasa bukan sekadar tindakan kognitif, melainkan proses terapeutik yang memungkinkan manusia menghadapi, mengolah, dan menyembuhkan trauma melalui kekuatan tutur.
DINAMIKA PSIKOLOGIS MAHASISWA SANTRI: KONEKSI SPIRITUALITAS, PERSONAL GROWTH INITIATIVE, DAN PERFORMA AKADEMIK Royanulloh, Royanulloh; Ramadhani, Wirahadi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7596

Abstract

In the past five years, the number of santri continuing their studies at universities has increased, both in terms of quantity and quality. As university students, santri exhibit distinct psychological characteristics, particularly in terms of spirituality and Personal Growth Initiative (PGI), which are believed to influence their academic performance. However, there is limited research that simultaneously examines the role of spirituality and PGI on the academic performance of santri students. This study aims to investigate the impact of spirituality and PGI on the academic performance of santri students using a quantitative approach and multiple linear regression analysis. The sample consisted of 173 active students who were either current santri or alumni of Islamic boarding schools, selected through purposive sampling. Data were collected using three instruments: the Personal Growth Initiative Scale-II (PGI-II), the Academic Performance Scale, and the Intrinsic Spirituality Scale. The results show that both spirituality and PGI have a positive impact on academic performance, with a contribution of 28.5%. These findings emphasize the importance of spirituality and PGI in shaping the academic dynamics of santri students in higher education. ABSTRAK Dalam lima tahun terakhir, jumlah santri yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Sebagai mahasiswa, santri menunjukkan karakteristik psikologis khas, terutama dalam hal spiritualitas dan inisiatif pertumbuhan pribadi (Personal Growth Initiative/PGI), yang diduga berperan dalam performa akademik mereka. Namun, penelitian yang menguji pengaruh simultan spiritualitas dan PGI terhadap performa akademik pada mahasiswa santri masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tersebut dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi linier berganda. Sampel terdiri dari 173 mahasiswa aktif yang merupakan santri atau alumni pondok pesantren, yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan tiga instrumen: Personal Growth Initiative Scale-II (PGI-II), Academic Performance Scale, dan Intrinsic Spirituality Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dan PGI berpengaruh positif terhadap performa akademik, dengan kontribusi sebesar 28,5%. Temuan ini menegaskan pentingnya spiritualitas dan PGI dalam membentuk dinamika akademik mahasiswa santri di perguruan tinggi.
HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIER PADA SISWA SMA YAYASAN SEKOLAH KRISTEN INDONESIA (YSKI) Cintya Widyastuti Jianto, Debora; Karema Sarajar, Dewita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7597

Abstract

Self-efficacy, which refers to the belief in one's ability to face challenges, plays a significant role in students' career development, particularly in making decisions related to their future. This study aims to examine the relationship between self-efficacy and career decision-making among students of Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Senior High School in Semarang. Using a quantitative approach with a correlational design, the study involved 265 students from grades 10 to 12. The analysis revealed a significant positive relationship between self-efficacy and career decision-making (r = 0.443, p = 0.000). The findings suggest that the higher the students' self-efficacy, the better their ability to make career decisions. This study contributes to filling a gap in the literature, as most previous studies have focused on public school students or final-year students, while this research focuses on private school students who are in the early stages of career exploration. The findings also emphasize the importance of efforts to enhance students' self-efficacy, enabling them to make more focused career decisions that align with their potential and future goals. ABSTRAK Self-efficacy, yaitu keyakinan diri terhadap kemampuan untuk menghadapi tantangan, memiliki peran yang signifikan dalam perkembangan karier siswa, khususnya dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan masa depan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan karier pada siswa SMA Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Semarang. Dengan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional, penelitian ini melibatkan 265 siswa dari kelas 10 hingga 12. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-efficacy dan pengambilan keputusan karier (r = 0,443, p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy siswa, semakin baik kemampuan mereka dalam membuat keputusan karier. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengisi kesenjangan dalam literatur, yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada siswa di sekolah negeri atau kelas akhir, sementara penelitian ini meneliti siswa di sekolah swasta yang berada dalam tahap awal eksplorasi karier. Temuan ini juga menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan self-efficacy siswa agar mereka dapat membuat keputusan karier yang lebih terarah dan sesuai dengan potensi serta tujuan masa depan mereka.
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DAN REGULASI EMOSI PADA REMAJA AKHIR USIA 19-21 TAHUN Ruth Wijaya, Jemima; Kartasasmita, Sandy
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7600

Abstract

Late adolescence is marked by dynamic physical, cognitive, and emotional changes. Emotional regulation is an essential skill influenced by parenting styles. This study aims to analyze the relationship between parenting styles and emotional regulation abilities in late adolescents (aged 19–21 years) in DKI Jakarta. The study used a quantitative correlational design involving 510 adolescents living with their parents. The instruments used were the Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) and the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Pearson correlation analysis showed a significant positive relationship between authoritative parenting (r = 0.142; p = 0.035) and authoritarian parenting (r = 0.217; p = 0.009) with emotional regulation. In contrast, permissive parenting showed no significant relationship (r = 0.021; p = 0.801). These findings emphasize the importance of balanced, consistent, and warm parenting practices in supporting the development of adaptive emotional regulation in late adolescents. ABSTRAK Masa remaja akhir ditandai oleh perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang dinamis. Regulasi emosi merupakan keterampilan penting yang dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dan kemampuan regulasi emosi pada remaja akhir (usia 19–21 tahun) di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain korelasional kuantitatif dengan melibatkan 510 remaja yang tinggal bersama orang tua. Instrumen yang digunakan adalah Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) dan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pola asuh otoritatif (r = 0,142; p = 0,035) dan otoriter (r = 0,217; p = 0,009) dengan regulasi emosi. Sebaliknya, pola asuh permisif tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (r = 0,021; p = 0,801). Temuan ini menegaskan pentingnya pola pengasuhan yang seimbang, konsisten, dan penuh kehangatan dalam mendukung pengembangan regulasi emosi yang adaptif pada remaja akhir.