cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 390 Documents
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN ACADEMIC BURNOUT PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MERANTAU Andraini, Hanindita; Astuti, Niken Widi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8266

Abstract

ABSTRACT The heavy academic workload in the final semester, particularly during thesis completion, has the potential to trigger academic burnout among university students. This condition becomes more challenging for final-year students who study away from home and must cope with academic pressure without direct family presence. Family social support is considered a protective factor that can help students manage stress and academic demands during the completion of their studies. This study aims to examine the relationship between family social support and academic burnout among final-year students studying away from home. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 353 final-year students studying away from their hometowns, selected based on research criteria. Data were collected using family social support and academic burnout scales and analyzed using Spearman correlation. The results revealed a significant negative relationship between family social support and academic burnout with a correlation coefficient of r = -0.464. These findings indicate that higher levels of family social support are associated with lower levels of academic burnout, and vice versa. Therefore, family social support plays an important role in reducing academic burnout among final-year students studying away from home. This study highlights the importance of family involvement and communication as sources of psychological support for students in facing academic demands during their final semester. ABSTRAK Beban akademik yang tinggi pada tingkat akhir, khususnya dalam penyusunan tugas akhir, berpotensi memicu academic burnout pada mahasiswa. Kondisi ini semakin menantang bagi mahasiswa tingkat akhir yang merantau dan harus menghadapi tekanan akademik tanpa kehadiran langsung keluarga. Dukungan sosial keluarga dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang dapat membantu mahasiswa mengelola stres dan tekanan selama masa studi akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan academic burnout pada mahasiswa tingkat akhir yang merantau. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 353 mahasiswa tingkat akhir yang merantau, yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel yang sesuai dengan kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui instrumen skala dukungan sosial keluarga dan skala academic burnout, kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan academic burnout dengan koefisien korelasi sebesar r = -0,464. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang diterima mahasiswa, semakin rendah tingkat academic burnout yang dirasakan, dan sebaliknya. Dengan demikian, dukungan sosial keluarga memiliki peran penting dalam menekan tingkat academic burnout pada mahasiswa tingkat akhir yang merantau. Penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan dan komunikasi keluarga sebagai sumber dukungan psikologis bagi mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik pada tingkat akhir.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL WELL-BEING AND RESILIENCE IN STUDENTS FROM FATHERLESS BACKGROUNDS Napouling, Debby; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8327

Abstract

This study aims to examine the relationship between spiritual well-being and resilience among university students with a fatherless background. The study uses a quantitative correlational approach with the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) to measure spiritual well-being and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) to assess resilience. The sample consisted of 268 students aged 18–24 years, spanning from the 1st to the 7th semester. Data were collected using questionnaires measuring spiritual well-being, resilience, and the fatherless condition experienced by the respondents. The results show a strong positive relationship between spiritual well-being and resilience among fatherless students. Most respondents (90.3%) showed moderate levels of resilience, while 9.7% exhibited high resilience. Spiritual well-being was generally moderate among respondents. This study emphasizes the importance of strengthening spiritual well-being as a source of strength in building resilience among students from fatherless families. The findings also have implications for the development of psychological intervention programs that integrate spiritual aspects to enhance students' mental toughness. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa yang memiliki latar belakang tanpa ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan Skala Kesejahteraan Spiritual (SWBS) untuk mengukur kesejahteraan spiritual dan Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) untuk menilai ketahanan diri. Sampel penelitian terdiri dari 268 mahasiswa berusia 18–24 tahun, yang tersebar dari semester 1 hingga semester 7. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur kesejahteraan spiritual, ketahanan diri, dan kondisi tanpa ayah yang dialami oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa tanpa ayah. Sebagian besar responden (90,3%) menunjukkan tingkat ketahanan diri yang moderat, sementara 9,7% menunjukkan ketahanan diri yang tinggi. Kesejahteraan spiritual secara umum berada pada tingkat moderat di kalangan responden. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kesejahteraan spiritual sebagai sumber kekuatan dalam membangun ketahanan diri di kalangan mahasiswa dari keluarga tanpa ayah. Temuan ini juga memiliki implikasi untuk pengembangan program intervensi psikologis yang mengintegrasikan aspek spiritual untuk meningkatkan ketangguhan mental mahasiswa.
KONTRIBUSI SELF-COMPASSION TERHADAP FEAR OF MISSING OUT PADA PENGGUNA TIKTOK DI KALANGAN GENERASI Z Anaya Putri, Raisya; Sahrani, Riana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8328

Abstract

The phenomenon of fear of missing out (FoMO) is increasingly experienced by Generation Z in line with the rising use of social media, particularly TikTok, which has become a dominant platform with a very high level of engagement. This app, with its algorithm that continuously updates trends and content, can amplify the anxiety of users who feel left out of social activities, leading them to constantly monitor the platform. One psychological factor that can reduce the impact of FoMO is self-compassion, which refers to an individual’s ability to be kind to oneself and accept difficult experiences as part of the human condition. Individuals with higher self-compassion tend to cope better with social pressures and regulate their emotions more effectively. This study aims to examine the role of self-compassion in reducing FoMO among TikTok users in Generation Z. Through analysis of 305 participants aged 18–28 years, the study found that higher levels of self-compassion contribute to a decrease in the tendency to experience FoMO, explaining 13.2% of the variance in FoMO. The findings suggest that self-compassion can be an important factor in reducing the negative impact of FoMO, which is commonly experienced by social media users. These results highlight the importance of developing self-compassion as an adaptive strategy to cope with social pressure in the digital age. ABSTRAK Fenomena fear of missing out (FoMO) semakin banyak dialami oleh Generasi Z seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, yang telah menjadi aplikasi dominan dengan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi. Aplikasi ini, dengan algoritma yang terus memperbarui tren dan konten, dapat meningkatkan rasa cemas pengguna yang merasa tertinggal dari aktivitas sosial yang terjadi, sehingga mendorong mereka untuk terus memantau platform tersebut. Salah satu faktor psikologi yang dapat mengurangi dampak FoMO adalah self-compassion, yaitu kemampuan individu untuk bersikap welas asih terhadap diri sendiri dan menerima pengalaman sulit sebagai bagian dari kehidupan manusia. Individu dengan self-compassion yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan sosial dan mengelola emosi dengan lebih seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran self-compassion dalam mengurangi FoMO pada pengguna TikTok di kalangan Generasi Z. Melalui analisis terhadap 305 partisipan berusia 18–28 tahun, penelitian ini menemukan bahwa tingkat self-compassion yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan kecenderungan mengalami FoMO, menjelaskan 13,2% variasi FoMO. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion dapat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak negatif FoMO, yang sering muncul di kalangan pengguna media sosial. Temuan ini menyoroti pentingnya pengembangan self-compassion sebagai strategi adaptif dalam menghadapi tekanan sosial di era digital.
PENGARUH OUTBOUND TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA Uzzakiyah, Hasna; Maulida, Faza; Kumala Wati, Rinda
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8330

Abstract

The contemporary workplace faces increasing challenges in recruiting candidates who possess not only strong academic qualifications but also adequate interpersonal competencies. One essential competency is interpersonal communication, which plays a crucial role in enhancing work effectiveness, collaboration, and professional readiness. This study aims to examine the effectiveness of an experiential learning-based outbound training program in improving interpersonal communication skills among professional psychology students. The research employed a one-group pretest–posttest quasi-experimental design without a control group, involving 35 first-semester students enrolled in a professional psychology program, selected through purposive sampling. The intervention was conducted over six hours in three structured sessions targeting openness, empathy, positive attitudes, equality, and social support. Data were analyzed using a paired sample t-test to examine differences before and after the intervention. The results indicated a significant improvement in interpersonal communication skills following the training, t(34) = -3.28, p = 0.001, with a medium effect size (Cohen’s d = 0.55). These findings demonstrate that experiential learning-based outbound training is effective in enhancing students’ interpersonal communication skills. Theoretically, this study strengthens the application of experiential learning models in soft skills development within higher education. Practically, it provides recommendations for educational institutions to integrate experience-based learning methods into student competency development programs. ABSTRAK Dunia kerja dihadapkan pada tantangan untuk memperoleh kandidat yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi interpersonal yang memadai. Salah satu kompetensi penting adalah kemampuan komunikasi interpersonal yang berperan dalam meningkatkan efektivitas kerja, kolaborasi, dan kesiapan profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pelatihan outbound berbasis experiential learning dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa profesi psikolog. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental one-group pretest–posttest tanpa kelompok kontrol dengan melibatkan 35 mahasiswa semester pertama pendidikan profesi psikolog yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi dilaksanakan selama enam jam dalam tiga sesi terstruktur yang menargetkan aspek keterbukaan, empati, sikap positif, kesetaraan, dan dukungan sosial. Data dianalisis menggunakan paired sample t-test untuk menguji perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan komunikasi interpersonal setelah pelatihan, t(34) = -3.28, p = 0.001, dengan ukuran efek sedang (Cohen’s d = 0.55). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan outbound berbasis experiential learning efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat penerapan model experiential learning dalam pengembangan soft skills di pendidikan tinggi, serta secara praktis memberikan rekomendasi bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan metode pembelajaran berbasis pengalaman dalam program pengembangan kompetensi mahasiswa.
PENDIDIKAN BERINTEGRITAS SEBAGAI FONDASI GENERASI MASA DEPAN Naftali Kalengkongan, Aurelia; Jessica Claudia Sibi , Paula; Vandea Anika Tumundo, Celine; Febie Sombuk, Susana; Stanly Immanuel Rumainum, Vian; Tji Beng, Jap
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8331

Abstract

Education plays a crucial role in shaping individuals who are not only intellectually capable but also possess integrity and moral character. Although integrity has become a central focus of national education policy, empirical studies that deeply explore university students’ subjective experiences in interpreting and internalizing integrity within higher education remain limited. This study aims to explore the meaning of integrity from students’ perspectives and to identify the process through which integrity values are internalized in academic life. A qualitative approach with a phenomenological design was employed. Five active university students were purposively selected based on their academic engagement and participation in character education activities. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation and analyzed using a phenomenological analysis method. The findings reveal that integrity is understood as the alignment between thoughts, words, and actions grounded in moral values. The formation of integrity is influenced by educators’ role modeling, a supportive academic environment, reflective experiences in facing moral dilemmas, and self-awareness as part of students’ moral identity. These findings enrich the discourse on integrity-based education in higher education and provide practical implications for developing more contextual and sustainable character development programs. ABSTRAK Pendidikan berperan penting dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan bermoral. Meskipun nilai integritas telah menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional, kajian empiris yang menggali secara mendalam pengalaman subjektif mahasiswa dalam memaknai dan menginternalisasi integritas di pendidikan tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna integritas dari perspektif mahasiswa serta mengidentifikasi proses internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Lima mahasiswa aktif dipilih secara purposive berdasarkan kriteria keterlibatan dalam kegiatan akademik dan pengalaman mengikuti pendidikan karakter. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas dimaknai sebagai keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan yang berlandaskan nilai moral. Proses pembentukan integritas dipengaruhi oleh keteladanan pendidik, lingkungan akademik yang suportif, pengalaman reflektif dalam menghadapi dilema moral, serta kesadaran diri sebagai bagian dari identitas moral mahasiswa. Temuan ini memperkaya kajian tentang pendidikan berintegritas di pendidikan tinggi dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan program pembinaan karakter yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
PSIKOLOGI INDIVIDUAL – INFERIOR MENJADI SUPERIOR : UPAYA MENGURANGI POPULASI KORBAN PERUNDUNGAN PERSPEKTIF ALFRED ADLER Agung Dwi Kristiyanto, Albertus; Dwi Madyo Utomo, Kurniawan; Herjuno Handhika Pradinta, Agustinus
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8333

Abstract

This paper discusses how individuals who are victims of bullying (inferior) can develop into superior individuals based on Alfred Adler's individual psychology theory. Adler argued that every individual is born with a sense of inferiority that drives them to become superior through the development of their potential. This study employs a qualitative method with a literature review approach, analyzing literature related to Adler’s theory. The findings show that in order to transform from inferior to superior, individuals must go through three key stages: social interest, lifestyle, and creativity. Social interest helps individuals connect with others, lifestyle shapes healthy behavioral patterns, and creativity enables individuals to overcome their weaknesses by developing their uniqueness. These three stages work together to help individuals overcome feelings of inferiority and achieve superiority. Based on the analysis, the success rate of applying this theory to bullying victims shows an effectiveness of 75%, with many individuals successfully increasing their self-confidence and reducing their feelings of inferiority. ABSTRAK Tulisan ini membahas bagaimana individu yang menjadi korban perundungan (inferior) dapat berkembang menjadi individu yang superior berdasarkan teori psikologi individual Alfred Adler. Adler berpendapat bahwa setiap individu dilahirkan dengan rasa inferior yang memicu dorongan untuk menjadi superior melalui pengembangan potensi diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis literatur terkait dengan teori Adler. Temuan menunjukkan bahwa untuk berubah dari inferior menjadi superior, individu harus melalui tiga tahapan penting: minat sosial, gaya hidup, dan kreativitas diri. Minat sosial membantu individu untuk menghubungkan diri dengan orang lain, gaya hidup membentuk pola perilaku yang sehat, dan kreativitas diri memungkinkan individu mengatasi kelemahan dengan mengembangkan keunikan mereka. Ketiga tahapan ini saling mendukung dalam membantu individu mengatasi perasaan inferior dan mencapai superioritas. Berdasarkan analisis, keberhasilan penerapan teori ini pada korban perundungan menunjukkan tingkat efektivitas sebesar 75%, dengan banyak individu yang berhasil meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi perasaan inferior mereka. 
PERAN BUDAYA SEKOLAH POSITIF DALAM MENCEGAH PERUNDUNGAN DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN : SCOPING REVIEW Samuel Hutabarat, Justin; Stephen, Stephen; Tan, Elbert; Darrel Frans, Nathanael; Mafaza, Frisia; Tji Beng, Jap
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8339

Abstract

Bullying is a serious problem in educational settings that significantly affects adolescents’ psychological, social, and academic well-being. A preventive approach based on positive school culture is considered more sustainable than reactive interventions that focus solely on case handling. This study aims to map forms of interventions and bullying prevention strategies grounded in positive school culture and to identify factors that support their effectiveness. This study employed a scoping review approach following the PRISMA-ScR guidelines and the PCC (Population, Concept, Context) framework. A literature search was conducted across several scientific databases for articles published between 2020 and 2025 in Indonesian and English. After identification, screening, and full-text review processes, 16 articles met the inclusion criteria and were analysed using a descriptive-thematic approach. The synthesis findings indicate that a positive school culture emphasizing changes in social norms toward aggressive behaviour, strengthening empathy and social responsibility values, active teacher involvement as mediators, consistent anti-bullying policies, and collaboration between schools and parents contributes to reducing bullying prevalence. School-based programs such as KiVa and the Olweus Bullying Prevention Program have proven more effective when implemented comprehensively, supported by teacher training, and accompanied by systematic school supervision. It can be concluded that establishing a positive school culture through the internalization of prosocial values, reinforcement of school policies, enhancement of teacher competence, and transformation of collective student norms represents a systemic and sustainable preventive approach to reducing bullying and fostering a safe and healthy educational environment for all students. ABSTRAK Perundungan (bullying) merupakan permasalahan serius di lingkungan pendidikan yang berdampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, sosial, dan akademik remaja. Pendekatan preventif berbasis budaya sekolah positif dipandang lebih berkelanjutan dibanding intervensi reaktif yang hanya berfokus pada penanganan kasus. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bentuk intervensi dan strategi pencegahan perundungan berbasis budaya sekolah positif serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan scoping review dengan pedoman PRISMA-ScR dan kerangka PCC (Population, Concept, Context). Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data ilmiah untuk artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Setelah melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan telaah teks penuh, diperoleh 16 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa budaya sekolah positif yang menekankan perubahan norma sosial terhadap perilaku agresif, penguatan nilai empati dan tanggung jawab sosial, keterlibatan aktif guru sebagai mediator, kebijakan anti-perundungan yang konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua berkontribusi dalam menurunkan prevalensi perundungan. Program berbasis sekolah seperti KiVa dan Olweus terbukti lebih efektif ketika diimplementasikan secara menyeluruh, didukung pelatihan guru, dan disertai pengawasan lingkungan sekolah yang sistematis. Dapat disimpulkan bahwa pembentukan budaya sekolah positif melalui internalisasi nilai prososial, penguatan kebijakan sekolah, peningkatan kompetensi guru, dan perubahan norma kolektif siswa merupakan pendekatan preventif yang sistemik dan berkelanjutan dalam mencegah perundungan serta membangun iklim pendidikan yang aman dan sehat bagi seluruh peserta didik.
KETIKA MASA DEPAN MENANTI : STUDI TENTANG EFIKASI DIRI MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI PULAU JAWA Waruwu, Imelda Enerstine; Gunawan, William
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8968

Abstract

The transition to the workforce demands that final-year students possess sufficient self-confidence in career decision-making, given the current high level of economic uncertainty and educated unemployment. This study focuses on mapping the Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) levels of final-year students in Java as an indicator of work readiness. Using a descriptive quantitative approach, this study involved 540 respondents selected using a cluster quota sampling technique with a valid and reliable CDMSE Short-Form instrument. The data analysis results indicate that the majority of students fall into the moderate to high self-efficacy category, with goal selection and planning being the most dominant aspects. Conversely, the occupational information gathering dimension was recorded as the lowest aspect, indicating a lack of literacy and in-depth exploration of the job market. It can be concluded that although students generally possess strong self-confidence in planning their future, there is an urgency for educational institutions to provide specific support to improve access to and exploration of career information so that graduates are better prepared to face the realities of the professional world. ABSTRAK Transisi menuju dunia kerja menuntut mahasiswa tingkat akhir memiliki keyakinan diri yang memadai dalam pengambilan keputusan karier, mengingat tingginya tantangan ketidakpastian ekonomi dan angka pengangguran terdidik saat ini. Penelitian ini berfokus untuk memetakan tingkat Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) mahasiswa tingkat akhir di Pulau Jawa sebagai indikator kesiapan kerja. Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 540 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster quota sampling dengan instrumen CDMSE Short-Form yang valid dan reliabel. Hasil analisis data menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada kategori efikasi diri sedang hingga tinggi, di mana dimensi pemilihan tujuan (goal selection) dan perencanaan (planning) menjadi aspek yang paling dominan. Sebaliknya, dimensi pengumpulan informasi pekerjaan (occupational information) tercatat sebagai aspek terendah, mengindikasikan masih kurangnya literasi dan eksplorasi mendalam mengenai pasar kerja. Dapat disimpulkan bahwa meskipun secara umum mahasiswa memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam merancang masa depan, terdapat urgensi bagi institusi pendidikan untuk memberikan dukungan spesifik pada peningkatan akses dan kemampuan eksplorasi informasi karier agar lulusan lebih siap menghadapi realitas dunia profesional.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING GURU NON-PLB DI SLB Batoek, Natalie Angel Lyke; Damayanti, Yeni; Mage, Mernon Yerlinda C.; Wijaya, R. Pasifikus Ch.
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9760

Abstract

Psychological well-being is a fundamental pillar that ensures the sustainability of teachers' careers and the quality of instruction. However, educators with non-special education (non-PLB) backgrounds who work in Special Needs Schools (SLB) face significant challenges. These teachers often experience mental stress and technical obstacles due to limited specific knowledge in guiding children with special needs. This study aims to explore the picture of psychological well-being and identify the determinants that influence it in the SLB Negeri Pembina Kupang environment. Using descriptive qualitative methods, this study collected data through semi-structured interviews with four non-PLB teachers with less than five years of service, which were analyzed in depth using thematic analysis procedures. The research findings indicate that psychological well-being is significantly influenced by internal factors, including perseverance, resilience, emotional regulation skills, motivation for personal growth, and the meaning of the profession as a life calling that provides emotional satisfaction from student progress. In addition, external factors such as strong social support from colleagues, the principal, and parents are also crucial elements. The main conclusion is that the psychological well-being of these educators is the result of a dynamic interaction between personal capacity and socio-environmental support. These findings recommend the need for mental health strengthening programs for non-special education teachers to ensure the creation of a higher-quality inclusive education ecosystem. ABSTRAK Kesejahteraan psikologis merupakan pilar fundamental yang menjamin keberlanjutan karier serta kualitas instruksional guru, namun tantangan besar dihadapi oleh tenaga pendidik berlatar belakang non-pendidikan luar biasa (non-PLB) yang bertugas di Sekolah Luar Biasa (SLB). Para guru ini sering kali mengalami tekanan mental dan hambatan teknis karena keterbatasan pengetahuan spesifik dalam membimbing anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran kesejahteraan psikologis serta mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhinya di lingkungan SLB Negeri Pembina Kupang. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui teknik wawancara semi-terstruktur terhadap empat guru non-PLB dengan masa pengabdian kurang dari lima tahun, yang dianalisis secara mendalam menggunakan prosedur analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi secara signifikan oleh faktor internal, yang meliputi aspek ketekunan, resiliensi, kemampuan regulasi emosi, motivasi pertumbuhan pribadi, serta pemaknaan profesi sebagai panggilan hidup yang memberikan kepuasan emosional atas kemajuan siswa. Selain itu, faktor eksternal berupa dukungan sosial yang kuat dari rekan sejawat, kepala sekolah, dan orang tua siswa turut menjadi elemen krusial. Sebagai simpulan utama, kesejahteraan psikologis para pendidik ini merupakan hasil interaksi dinamis antara kapasitas personal dan dukungan lingkungan sosial-lingkungan. Temuan ini merekomendasikan perlunya program penguatan mental bagi guru non-PLB guna memastikan terciptanya ekosistem pendidikan inklusif yang lebih berkualitas.    
HUBUNGAN TOXIC PARENTING DENGAN SELF ESTEEM SISWA DI SMA KRISTEN Saiputa, Anaci Omega; Wijaya, R. Pasifikus Christa; Artati, Mardiana; Marni, Marni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9761

Abstract

Toxic parenting is a detrimental parenting pattern that can hinder adolescents’ psychological development, particularly in shaping their self-esteem. This parenting style includes excessive demands, emotional neglect, and demeaning criticism directed toward the child. This study aims to examine the relationship between toxic parenting and self esteem among students at SMA Kristen 1 Kalabahi. Employing a quantitative approach with a correlational design, the study involved 215 students aged 14-19 years selected using a quota sampling technique. The instruments used were the Toxic Parenting Scale based on the aspects proposed by Dunham, Dermer, and Carlson and the Self-Esteem Inventory developed by Coopersmith. The results indicated a significant negative relationship between toxic parenting and self-esteem (r = -0.306; p = 0.000), meaning that higher levels of toxic parenting are associated with lower levels of self-esteem. Most students were categorized as having moderate self-esteem (82.8%) and moderate levels of toxic parenting (76.3%). Regression analysis showed that toxic parenting contributed 9.36% to the variance in self-esteem, with the dismissive parents aspect being the most dominant factor in lowering students’ self-esteem. These findings highlight the crucial role of emotional bonding between parents and children in fostering healthy self-esteem, and suggest the need for parenting education interventions to promote healthier parenting practices that support adolescents’ psychological development.. ABSTRAK Toxic parenting merupakan pola asuh yang merugikan dan dapat menghambat perkembangan psikologis remaja, terutama dalam pembentukan self esteem. Pola asuh ini mencakup perilaku orang tua yang menuntut secara berlebihan, kurang memberi dukungan emosional, serta cenderung meremehkan atau mengkritik anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara toxic parenting dengan self esteem pada siswa di SMA Kristen 1 Kalabahi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 215 siswa berusia 14–19 tahun yang dipilih melalui teknik quota sampling. Instrumen penelitian terdiri dari Skala Toxic Parenting berdasarkan aspek Dunham, Dermer, & Carlson serta Self Esteem Inventory dari Coopersmith. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara toxic parenting dan self esteem (r = -0,306; p = 0,000), yang berarti semakin tinggi tingkat toxic parenting yang dialami siswa maka semakin rendah self esteem mereka. Mayoritas siswa berada pada kategori self esteem sedang (82,8%) dan toxic parenting kategori sedang (76,3%). Analisis regresi menunjukkan bahwa toxic parenting memberikan kontribusi sebesar 9,36% terhadap variasi self esteem, dengan aspek dismissive parents menjadi faktor yang paling dominan dalam menurunkan self esteem siswa. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak sangat penting dalam membangun self esteem yang sehat, serta perlunya intervensi berbasis edukasi parenting untuk meningkatkan pola asuh positif dalam mendukung perkembangan psikologis remaja..