cover
Contact Name
burhanuddin
Contact Email
burhanuddin@stainmajene.ac.id
Phone
+6285338415371
Journal Mail Official
almutsla@stainmajene.ac.id
Editorial Address
Jalan. Blk. Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae, Kabupaten. Majene, Provinsi Sulawesi Barat.
Location
Kab. majene,
Sulawesi barat
INDONESIA
Al-Mutsla: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kemasyarakatan
ISSN : -     EISSN : 27155420     DOI : https://doi.org/10.46870/jstain.v3i1
Jurnal Al Mutsla The journal contains many variants of the field Research and many variants of Islamic studies, among others Islamic education, the Shariah, Islamic thought, Study Al Quran and Hadits, Islamic economi, Islamic studies, Sosial Islamic and other general sciences.
Articles 182 Documents
Calibration of the Qibla Direction for Places of Worship Modern Cafe in Sungai Penuh City Zahira, Nisha; Darlius, Darlius; Susanti, Susi; Arzam, Arzam
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1912

Abstract

Qibla direction calibration is an effort to ensure the accuracy of the correct qibla direction. This study aims to determine the accuracy of the qibla direction indicated in various cafes in Sungai Penuh City by comparing it precisely with the correct direction through accurate geographical measurements and to examine the Islamic legal perspective on the accuracy of the qibla direction that does not point exactly to the Kaaba or causes deviation in performing prayers. This research is qualitative research with descriptive analysis, which describes the position of the qibla direction of each cafe before calibration and after this research was conducted, so that new findings on the true qibla direction were obtained. The primary data source was five pieces of initial qibla direction data from modern cafes in Sungai Penuh City that were found directly. The data collection techniques used were field observation and documentation. The results of this study found that the qibla direction of five cafes in Sungai Penuh City were all deviated from the correct direction, namely Shifa Donat 3°, Dapoer Qdoes 4°, Cafe Dapur Bunda 11°, Cafe Syahamma 17°, and Puji Sera 28°. Meanwhile, according to experts, a mosque/prayer room is considered accurate if the direction of the building does not deviate more than 2° from the direction of the Kaaba. A deviation of 0° 6' 36“ and -0° 10' 12” from the position of the Kaaba is the permissible limit for facing the qibla in Indonesia, and the magnitude of the qibla direction deviation is only 6 arc minutes.
Dampak Bahasa Media Digital dalam Membentuk Nilai-Nilai Keluarga Modern Rahmat R; Safaruddin; Andi Hamzah; Husnah Z
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1916

Abstract

Perkembangan pesat teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi dan nilai-nilai dalam keluarga modern. Media digital memungkinkan akses luas bagi anggota keluarga, terutama generasi muda, untuk berinteraksi dengan berbagai wacana nilai yang beragam, yang memengaruhi dinamika internal keluarga. Penggunaan bahasa di media sosial cenderung informal, singkat, dan mencampur kode bahasa, mencerminkan kecenderungan generasi milenial dan Gen Z. Fenomena "alone together" muncul di keluarga, di mana anggota fisik bersama namun psikologis terpisah karena fokus pada perangkat digital, yang menghambat komunikasi tatap muka dan keharmonisan keluarga. Literasi digital orang tua menjadi kunci agar dapat mendampingi anak secara efektif dalam pengelolaan teknologi, pengaturan waktu layar, dan pemilihan konten yang tepat demi perkembangan sosial dan emosional anak. Keluarga tetap menjadi institusi utama pembentukan karakter dan nilai moral melalui komunikasi interpersonal dan digital yang etis. Penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, orang tua, dan teknologi dalam membangun budaya literasi digital yang sehat serta menjaga keharmonisan sosial keluarga di era modern.
Aspek Teologi Al-Asy’ariyah dalam Tafsir Mafâtîh al-Ghaib: Studi atas Pemikiran Fakhruddin Ar-Razi Pahmi Zakiyudin; Abd. Muid; Nurbaiti
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1921

Abstract

This study examines aspects of Ash'ariyah theology in Fakhruddin Ar-Razi's Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib, with the aim of exploring how Ar-Razi integrates ratios and revelations in interpreting Qur'anic verses related to theology. Fakhruddin Ar-Razi is a central figure in the Ash'ariyah theological tradition known for his ability to combine rational and textual approaches in his commentary. In his commentary, Ar-Razi divides the attributes of Allah into two main categories: the nature of salbiyah and the nature of thubutiyah, and explains that Allah's will is absolute and His actions are not bound by time. Ar-Razi also discusses ru'yatullah (seeing Allah), emphasizing that seeing God physically in this world is impossible, but it is possible to do so in the hereafter in a spiritual sense. Regarding the purpose of Allah's actions, Ar-Razi argues that Allah does not have a specific purpose in each of His actions, but that all His actions are based on wisdom and benefits that arise as a natural result of His will. The study also notes how Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib combines peripatetic philosophy and Ash'ariyah theology, creating a powerful synthesis between ratio and revelation. Ar-Razi criticized the view of Mu'tazilah, who considered that Allah's actions must have a specific purpose, and asserted that Allah's actions remain legitimate and perfect without a specific purpose. Tafsîr Mafâtîh al-Ghaib is a monumental work in the study of Islamic theology, combining rationality with textual interpretation in understanding the theology of the Qur'an in depth.
The Contestation of Authority Among Traditional Leaders in Sungai Penuh City in Determining the Direction of the Qibla Darlius, Darlius; Susanti, Susi
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1922

Abstract

This study examines the differences among traditional leaders in determining the direction of the qibla for public cemeteries of indigenous communities in the village of Hamparan Rawang, Sungai Penuh City. Traditional leaders claim that their respective communities' graves face the correct direction of the qibla. The purpose of this study is to explain the causes of these differences and the methods used to determine the direction of the qibla for cemeteries. This study uses a qualitative method with data collection techniques through observation, interviews, and literature review with descriptive analysis. The results of this study indicate that the cause of the contestation between indigenous groups is due to several factors, namely differences in customs, ideology, and interpretation of religious values towards culture. In determining the direction of the qibla, traditional leaders only use two methods, namely: first, referring to the graves of ancestors or previous graves. Second, following the direction of the nearest mosque.
Etika Kecerdasan Buatan (AI) dalam Perspektif Al-Qur’an Kajian Tafsir Kontemporer M. Quraish Shihab: Analisis tentang Etika kecerdasan buatan AI dalam Perspektif Al-Qur'an menurut kajian tafsir kontemporer M. Quraish Shihab Khamdani, Eep Nafis Khamdani
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1927

Abstract

Kemajuan teknologi modern termasuk AI sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual dan etika Qur’ani. Karena itu, muncul kebutuhan mendesak untuk meninjau fenomena AI melalui lensa etika Al-Qur’an agar perkembangan teknologi tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Penelitian metode library research dan pendekatan tafsir maudhu‘i yang dipadukan dengan analisis etik-teologis. Sumber data dalam penelitian ini meliputi Al-Qur’an dan Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab serta buku dan jurnal yang membahas etika Islam, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan langkah kategorisasi ayat-ayat serta interpretasi makna etisnya dalam konteks fenomena AI. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Al-Qur’an selaras dengan pengembangan kecerdasan buatan dengan adanya perintah kepada manusia untuk mengamati, meneliti, dan menggunakan akal untuk memahami ciptaan Allah. Prinsip-prinsip etika al-Qur’an menjelaskan bahwa penggunaan teknologi harus didasarkan pada prinsip tanggungjawab, keadilan, keseimbangan, kebaikan dan keihlasan. Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab memberikan dasar yang kuat karena seluruh penafsirannya sejalan dengan kesimpulan bahwa AI hanya dapat diterima dalam perspektif Qur’ani apabila dikembangkan berdasarkan akal yang tercerahkan, dijalankan dengan etika yang kuat, dan digunakan untuk memperkuat keadilan serta kesejahteraan manusia. Tafsir al-Misbah memberikan kerangka hermeneutis yang relevan untuk memastikan bahwa inovasi seperti AI tetap berada dalam koridor nilai-nilai ilahiah yang menuntun manusia menuju kebaikan dan kemanusiaan. Dengan demikian, AI harus menjadi inovasi yang selaras dengan nilai-nilai moral dan tujuan
Analisis Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupate Polewali Mandar Muh. Fiqri Alamsyah
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1942

Abstract

Penelitian ini bertujuan: untuk menganalisis akuntabilitas pengelolaan dana desa di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar. Variabel penelitian ini adalah akuntabilitas pengelolaan dana desa yang diukur dengan menggunakan indikator yang ada dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Subjek penelitian ini adalah seluruh laporan pengelolaan dana desa dan dokumen-dokumen dan aparat yang mendukung proses pengelolaan keuangan dana desa di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar. Fokus penelitian ini adalah laporan pengelolaan dana desa dan dokumen-dokumen yang mendukung yakni tahun 2022 yang merupakan proses pengelolaan dana desa serta aparat desa yang berkaitan dengan pengelolaan dana desa di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar. Aparat desa yang dimaksud adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa dan Ketua BPD. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan pengelolaan dana desa di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar, pada tahap penatausahaan sudah sesuai, kemudian pada tahapan Perencanaan dan pelaksanaan cukup sesuai, serta pada tahap pelaporan dan pertanggungjawaban kurang sesuai dalam menerapkan tahapan Permendagri Nomor 20 tahun 2018.
Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Digital Studi Perbandingan Pengakuan Status Kerja Driver Ojek Online Di Indonesia Dan Prancis Hatmadja, Gigih Tri
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1944

Abstract

Digital transformation has generated the gig economy, reshaping employment relations, particularly for online motorcycle taxi drivers. In Indonesia, drivers are classified as partners, limiting their access to labor protections. In contrast, France has recognized elements of subordination within platform-based work. This study adopts a normative juridical approach combined with comparative legal methodology using functional and law in context perspectives. Analysis follows Eberle’s model, consisting of external law identification, internal law analysis, and functional comparison between legal systems. Indonesia maintains a partnership framework, resulting in drivers not being legally recognized as workers and thus excluded from minimum wages, social security, and protection against unfair termination. Existing regulations fail to address the complexities of digital labor. In France, the 2020 Court of Cassation decision affirmed the presence of subordination between platforms and drivers, granting them the status of workers and access to labor protections. France’s substantive approach ensures social security coverage, collective bargaining rights, and effective dispute resolution mechanisms. Divergent recognition of employment status leads to unequal legal protection effectiveness. Indonesia must adopt a progressive framework that evaluates employment relationships based on factual subordination to ensure fair and comprehensive protection for digital platform workers.
Perampasan Lahan : Membaca Ulang Hadits Larangan Mengambil Sejengkal Tanah Ria Renita Abbas; Firdaus Dahlan
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1947

Abstract

Mengambil sejengkal tanah dari milik orang lain telah dilarang oleh Rasulullah dalam haditsnya. Hadits tersebut harus dibaca ulang dalam konteks sekarang pada ranah perampasan lahan yang semakin marak. perampasan lahan bukan lagi pengambilan sejengkal tetapi dalam jumlah lokasi yang sangat luas. Perampasan lahan banyak dilakukan elit korporasi dengan dukungan penguasa, biasanya dengan sebuah perampasan dengan cara kekerasan atau dengan secara legal hukum lewat manipulasi administrasi dan keputusan pengadilan, selanjutnya diikuti dengan ulah manusia berupa eksploitasi yang menimbulkan krisis.Tehnik analisa menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menganalisis teks hadist dengan komponen yang biasa menyertainya. Pengkajian hadits tentang perampasan lahan dimaksudkan untuk mengeksplorasi makna hadis secara tekstual dan kontekstual atau mengambarkan realitas yang dapat memberi kontribusi pemikiran terkait perampasan lahan tersebut. Diantara hasilnya bahwa ulah manusia yang banyak memberikan andil dalam kerusakan di bumi adalah penguasaan perampasan lahan oleh korporasi, bahkan perampasan lahan tersebut dapat diklaim sebagai sebab utama dari kerusakan lingkungan hidup dan ekosistemnya, Taking even an inch of land from another person has been prohibited by the Prophet Muhammad in his hadith. This hadith must be reread in the current context of the increasingly rampant realm of land grabbing. Land grabbing is no longer just taking an inch but in a very large number of locations. Land grabbing is often carried out by corporate elites with the support of those in power, usually with a seizure by force or by legal means through administrative manipulation and court decisions, then followed by human actions in the form of exploitation that causes a crisis. The analysis technique uses a qualitative descriptive method, namely analyzing the text of the hadith with its usual components. The study of the hadith on land grabbing is intended to explore the meaning of the hadith textually and contextually or describe the reality that can contribute to thinking related to land grabbing. Among the results is that human actions that contribute greatly to the destruction of the earth is the control of land grabbing by corporations, in fact, this land grabbing can be claimed as the main cause of environmental damage and its ecosystem.
Sakralitas Alam dalam Perspektif Seyyed Hossein Nasr Mughits, Ahmad
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1948

Abstract

Abstrak Krisis ekologi global merupakan manifestasi dari krisis spiritual yang lebih dalam, berakar pada paradigma modernitas yang sekuler dan antroposentris. Pandangan ini telah mereduksi alam menjadi objek eksploitasi semata, menghilangkan dimensi sakralnya. Tulisan ini menelaah gagasan filsuf Muslim, Seyyed Hossein Nasr, yang menawarkan konsep sakralitas alam sebagai solusi fundamental. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka (library research) dan analisis konten terhadap karya-karya Nasr serta literatur pendukung, jurnal ini menguraikan bagaimana Nasr, melalui kerangka Filsafat Perennial dan ekoteologi Islam, mendiagnosis krisis lingkungan sebagai akibat dari hilangnya pandangan sakral terhadap kosmos. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Nasr mengusulkan "resakralisasi" alam, yaitu memandang alam sebagai ayat kauniyah (tanda-tanda Tuhan) dan teofani dari Sifat-sifat Ilahi, yang berlandaskan pada prinsip Tawhid. Solusi ini memiliki implikasi praktis bagi reformasi pendidikan, kebijakan, dan kesadaran masyarakat dengan mengintegrasikan kembali spiritualitas ke dalam etika lingkungan. Meskipun kuat secara filosofis, implementasi gagasan ini menghadapi tantangan dalam konteks global yang sekuler. Jurnal ini menyimpulkan bahwa pemulihan pandangan sakral terhadap alam adalah prasyarat esensial untuk mengatasi krisis ekologis secara berkelanjutan.
Urgensi Pembaharuan Hukum melalui Pendekatan Ius Constitutum dan Ius Constituendum pada Tindak Pidana dalam Kegiatan Bisnis di Indonesia Romadhoni, Kholid; Rosidin, Utang; Kholik, Muhamad Abdul; Alifi, Adif
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1953

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi pembaruan hukum tindak pidana dalam kegiatan bisnis di Indonesia melalui pendekatan ius constitutum dan ius constituendum. Kajian diawali dengan pemetaan regulasi yang berlaku serta identifikasi kekosongan norma, tumpang tindih aturan, dan kelemahan penegakan hukum dalam sistem hukum positif. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analisis kasus untuk memahami kesenjangan antara pengaturan yang ada dan kebutuhan hukum modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi ekonomi digital, meningkatnya kompleksitas transaksi bisnis, dan berkembangnya pola kejahatan korporasi tidak diimbangi dengan perkembangan hukum pidana yang memadai. Berbagai undang-undang yang menjadi dasar pengaturan tindak pidana bisnis terbukti belum harmonis, belum responsif terhadap teknologi baru, serta lemah dalam mekanisme pertanggungjawaban pidana korporasi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan arah pembaruan hukum yang meliputi harmonisasi regulasi, penguatan sistem pemidanaan korporasi, penyesuaian norma berbasis teknologi digital, dan peningkatan koordinasi antarlembaga penegak hukum. Penelitian menyimpulkan bahwa reformasi hukum pidana bisnis merupakan kebutuhan mendesak untuk memastikan kepastian hukum, perlindungan terhadap pelaku usaha dan konsumen, serta stabilitas ekonomi nasional.