cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : 28072316     EISSN : 28071670     DOI : https://doi.org/10.51878/language.v1i2.659
Core Subject : Education, Social,
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Innovation contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Language and Literature Education
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 21 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 4 (2026)" : 21 Documents clear
THE EFFECTIVENESS OF ECOLINGUISTICS-BASED TEACHING MATERIALS IN IMPROVING EFL STUDENTS’ WRITING SKILLS AND ENVIRONMENTAL AWARENESS Herman Herman; Annisah Annisah; Muhammad Yani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.14994

Abstract

ABSTRACT English language learning should develop students’ writing skills while connecting classroom activities with environmental issues relevant to their daily lives. This study aimed to examine the effectiveness of ecolinguistics-based teaching materials in improving students’ analytical exposition writing skills and to describe their environmental awareness. A quantitative quasi-experimental design was employed, involving 72 students at SMAN 1 Woha, divided equally into experimental and control groups, with 36 students in each group. The research was conducted on July 22–23, 2026. The experimental group used ecolinguistics-based materials themed “Take Your Part to Reduce Plastic Waste,” while the control group used regular teaching materials. Data were collected through writing pretests and posttests and an environmental awareness questionnaire. The data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, an independent-samples t-test, and N-Gain analysis. The experimental group’s mean writing score increased from 58.47 to 89.81, while the control group’s score increased from 58.20 to 81.94. The difference between the groups was statistically significant (p < 0.001). The experimental group achieved an N-Gain score of 0.75 (high category), compared with 0.56 (moderate category) in the control group. The experimental group’s environmental awareness questionnaire score reached 4.35, or 87%, indicating a very good level. These findings suggest that ecolinguistics-based materials were associated with greater writing improvement and positive environmental awareness responses. However, the questionnaire results do not establish an increase in environmental awareness relative to the control group. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Inggris perlu mengembangkan keterampilan menulis sekaligus menghubungkan proses belajar dengan persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas bahan ajar berbasis ekolinguistik terhadap keterampilan menulis teks analytical exposition serta mendeskripsikan kesadaran lingkungan siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental, melibatkan 72 siswa SMAN 1 Woha yang terbagi dalam kelompok eksperimen dan kontrol, masing-masing 36 siswa. Penelitian dilaksanakan pada 22–23 Juli 2026. Kelompok eksperimen belajar menggunakan bahan ajar bertema “Take Your Part to Reduce Plastic Waste”, sedangkan kelompok kontrol menggunakan bahan ajar reguler. Data diperoleh melalui tes menulis pretest dan posttest serta kuesioner kesadaran lingkungan. Analisis data mencakup statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, uji independent samples t-test, dan analisis N-Gain. Rata-rata skor menulis kelompok eksperimen meningkat dari 58,47 menjadi 89,81, sementara kelompok kontrol meningkat dari 58,20 menjadi 81,94. Perbedaan antarkelompok signifikan secara statistik (p < 0,001). Nilai N-Gain kelompok eksperimen mencapai 0,75 (kategori tinggi), sedangkan kelompok kontrol 0,56 (kategori sedang). Kuesioner kelompok eksperimen menghasilkan skor kesadaran lingkungan 4,35 atau 87% (kategori sangat baik). Dengan demikian, bahan ajar berbasis ekolinguistik menunjukkan hasil pembelajaran menulis yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen dan disertai respons kesadaran lingkungan yang positif. Namun, skor kuesioner belum membuktikan peningkatan kesadaran dibandingkan kelompok kontrol.
ANALISIS KESALAHAN PREFIKS DALAM NOVEL NARASI PERIHAL AYAH KARYA JAQUENZA EDEN Elfa Nur Alifia; Sucipto Sucipto; Imayah Imayah
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15127

Abstract

ABSTRACT The use of prefixes in literary works brings together rules of word formation and the need to present language that remains vivid in both narrative and dialogue. Accordingly, this study examines patterns of prefix usage, the grammatical meanings associated with their formation, and the contexts surrounding their occurrence in the novel Narasi Perihal Ayah by Jaquenza Eden. The study employed a descriptive qualitative approach to the 2023 edition of the novel published by Akad Media Cakrawala, using observation and note-taking techniques for data collection. The data were analyzed using the distributional method with Immediate Constituent Analysis (ICA) and substitution techniques to examine the relationships among base forms, affixes, and their derived forms. A total of 55 data items were identified and classified into four categories: prefix omission, phoneme assimilation errors, prefix writing errors, and prefix selection errors. Prefix omission represented the category with the greatest variety of examples, while the other categories reflected more specific issues involving morphophonemic processes, written representation, and affix selection. The dialogue data also indicate that nonstandard forms cannot always be regarded as errors, as some function to represent the characteristics of the characters’ speech. These findings underscore the need for prefix analysis to distinguish structural deviations from language variation so that morphological studies of literary works remain accurate while remaining sensitive to their contexts of use. ABSTRAK Penggunaan prefiks dalam karya sastra mempertemukan aturan pembentukan kata dengan kebutuhan menghadirkan bahasa yang hidup dalam narasi dan dialog. Atas dasar itu, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji bentuk penggunaan prefiks, makna gramatikal yang berkaitan dengan pembentukannya, serta konteks yang menyertai kemunculan bentuk tersebut dalam novel Narasi Perihal Ayah karya Jaquenza Eden. Kajian dilakukan secara deskriptif kualitatif terhadap novel terbitan Akad Media Cakrawala tahun 2023 melalui metode simak dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL) dan substitusi untuk menelusuri hubungan antara bentuk dasar, afiks, dan bentuk turunannya. Sebanyak 55 data teridentifikasi dan dipetakan ke dalam empat kategori, yakni penghilangan prefiks, kesalahan peluluhan fonem, kesalahan penulisan prefiks, dan kesalahan pemilihan prefiks. Penghilangan prefiks menjadi kategori dengan variasi contoh yang paling beragam, sementara kategori lainnya memperlihatkan persoalan yang lebih spesifik pada proses morfofonemik, representasi tulis, dan pemilihan afiks. Data dialog juga memperlihatkan bahwa bentuk nonbaku tidak selalu dapat disebut sebagai kesalahan karena sebagian berfungsi merepresentasikan karakteristik tuturan tokoh. Temuan ini menegaskan perlunya analisis prefiks yang membedakan penyimpangan struktural dari variasi bahasa agar kajian morfologi dalam sastra tetap akurat sekaligus peka terhadap konteks penggunaannya.
PERAN ORANG TUA DALAM KEGIATAN LITERASI ANAK DI RUMAH PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 11 KOTA BENGKULU Tria Bayu Desinta; Yanti Paulin; Man Hakim; Reni Kusmiarti; Ira Yuniati
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15411

Abstract

This study aimed to describe parents’ roles in supporting children’s reading literacy activities at home among seventh-grade students of SMP Negeri 11 Bengkulu City. Although parental involvement in children’s literacy has been widely examined, studies that specifically map parental roles among junior high school students through the dimensions of guidance, motivation, facilitation, role modeling, and control of media/gadget use remain limited. This study employed a descriptive quantitative method involving 38 parents/guardians selected from a population of 317. Data were collected using a four-point Likert-scale questionnaire consisting of 20 statements covering five indicators: guide, motivator, facilitator, role model, and controller of media/gadget use. The results showed an overall percentage of 76.15%. The most dominant role was motivator (78.78%), followed by facilitator (76.15%), controller of media/gadget use (75.99%), guide (75.00%), and role model (74.84%). The findings indicate that the main strength of parental involvement lies in providing encouragement and support, whereas reading role modeling is the aspect that most needs improvement. Since this study was descriptive and did not measure children’s literacy ability as a separate variable, the findings were not used to infer causal relationships. The contribution of this study lies in providing an empirical mapping of parental involvement in the home literacy environment of junior high school students and in identifying reading role modeling as an aspect requiring greater attention. These findings may serve as a basis for parents and schools to strengthen more targeted family literacy programs. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran orang tua dalam kegiatan literasi membaca anak di rumah pada siswa kelas VII SMP Negeri 11 Kota Bengkulu. Meskipun keterlibatan orang tua dalam literasi anak telah banyak dikaji, penelitian yang secara khusus memetakan peran orang tua pada siswa jenjang sekolah menengah pertama melalui aspek pembimbing, motivator, fasilitator, teladan, dan pengontrol penggunaan media/gawai masih terbatas. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sampel 38 orang tua/wali dari populasi 317 orang. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert empat pilihan yang terdiri atas 20 pernyataan berdasarkan lima indikator, yaitu pembimbing, motivator, fasilitator, teladan, dan pengontrol penggunaan media/gawai. Hasil penelitian menunjukkan persentase keseluruhan sebesar 76,15%. Peran yang paling dominan adalah motivator (78,78%), diikuti fasilitator (76,15%), pengontrol media/gawai (75,99%), pembimbing (75,00%), dan teladan (74,84%). Temuan menunjukkan bahwa kekuatan utama keterlibatan orang tua terletak pada pemberian dorongan dan dukungan, sedangkan keteladanan membaca merupakan aspek yang paling perlu ditingkatkan. Karena penelitian bersifat deskriptif dan tidak mengukur kemampuan literasi anak sebagai variabel tersendiri, hasil tidak digunakan untuk menyimpulkan pengaruh sebab-akibat. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan pemetaan empiris mengenai bentuk keterlibatan orang tua dalam lingkungan literasi rumah pada siswa SMP serta mengidentifikasi keteladanan membaca sebagai aspek yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi orang tua dan sekolah dalam memperkuat program literasi keluarga yang lebih Terarah.
HOW STUDENTS PERCEIVE TRUE-FALSE AND MULTIPLE-CHOICE READING TEST ITEMS WITH LOCAL LUCTURE Sri Wahyuni Thamrin; Andi Anugrah M; Syayyidina Ali; Nurbiati
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15608

Abstract

ABSTRAK This study employed a descriptive-comparative research design to analyze students’ perceptions of True–False (TF) and Multiple-Choice Questions (MCQ) reading test formats incorporating local culture passages. The research was conducted at Universitas Muhammadiyah Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia, during [month–month, year]. The participants were 43 EFL students who completed both reading test formats. Data were collected through a perception questionnaire and follow-up interviews to obtain information about students’ experiences and difficulties with both test formats. The research instruments consisted of TF and MCQ reading test items, a perception questionnaire, and a semi-structured interview guide. The test items and questionnaire were reviewed by experts in English language assessment to evaluate their content relevance, language clarity, and alignment with the research objectives. Based on the expert evaluation, the instruments were considered suitable and categorized as good. The questionnaire used a five-point Likert scale, with the scores converted to a 0–100 scale for interpretation: >80.0 = Very Positive, 50.1–80.0 = Positive, and ≤50.0 = Negative. The research was conducted in five stages: (1) preparation and instrument design, (2) instrument development and expert validation, (3) data collection through test administration, questionnaire distribution, and interviews, (4) data analysis, and (5) interpretation and reporting. Questionnaire data were analyzed using descriptive statistics by calculating mean and percentage scores for each indicator. Interview data were analyzed thematically by identifying recurring responses related to students’ understanding, perceived difficulty, interest, preferences, and experiences with the two test formats. ABSTRACT Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-komparatif untuk menganalisis persepsi mahasiswa terhadap format soal True–False (TF) dan Multiple-Choice Questions (MCQ) dalam tes membaca berbasis teks budaya lokal. Penelitian dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia, pada [bulan–bulan, tahun]. Partisipan penelitian berjumlah 43 mahasiswa EFL yang mengerjakan kedua format tes membaca. Data dikumpulkan melalui kuesioner persepsi dan wawancara lanjutan untuk memperoleh informasi mengenai pengalaman dan kesulitan mahasiswa dalam mengerjakan kedua format tes. Instrumen penelitian terdiri atas soal membaca TF dan MCQ, kuesioner persepsi, dan pedoman wawancara semi-terstruktur. Soal tes dan kuesioner ditinjau oleh ahli dalam bidang asesmen bahasa Inggris untuk menilai relevansi isi, kejelasan bahasa, dan kesesuaian dengan tujuan penelitian. Berdasarkan hasil penilaian ahli, instrumen dinyatakan layak digunakan dan termasuk dalam kategori baik. Kuesioner menggunakan skala Likert lima tingkat, kemudian skor dikonversi ke skala 0–100 dengan kategori: >80,0 = Sangat Positif, 50,1–80,0 = Positif, dan ≤50,0 = Negatif. Penelitian dilaksanakan melalui lima tahap: (1) persiapan dan perancangan instrumen, (2) pengembangan dan validasi instrumen oleh ahli, (3) pengumpulan data melalui pelaksanaan tes, penyebaran kuesioner, dan wawancara, (4) analisis data, dan (5) interpretasi serta pelaporan hasil. Data kuesioner dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan menghitung skor rata-rata dan persentase pada setiap indikator. Data wawancara dianalisis secara tematik dengan mengidentifikasi respons yang berulang terkait pemahaman, tingkat kesulitan, minat, preferensi, dan pengalaman mahasiswa terhadap kedua format tes.
KONFLIK SOSIAL ANTARA NORMA MAYORITAS DAN IDENTITAS MINORITAS MUSLIM DALAM NOVEL LANGIT GORYEO KARYA BERLIANA KIMBERLY: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA PERSPEKTIF PIERRE BOURDIEU Etik Dwi Maharti; M. Ridlwan; Suher Suher
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15744

Abstract

ABSTRACT Social conflict between majority norms and Muslim minority identity in literary works can reveal how individual beliefs encounter dominant social rules. This study analyzes the representation of such conflict and the relationship between habitus, field, capital, and symbolic power in shaping the position of characters in Berliana Kimberly’s novel Langit Goryeo. The study employs a qualitative descriptive approach, using the novel as the data source and collecting data in the form of words, phrases, sentences, dialogues, and narratives related to social conflict and identity negotiation. Data were collected through documentation and note-taking, while the analysis involved data reduction, classification, interpretation, and conclusion drawing. Analysis of six main data units revealed four prominent forms of conflict: tensions surrounding religious practices in social interactions, restrictions on interactions based on religious beliefs, family conflict concerning marital choices, and clashes over values related to family and descendants. Conflict emerges when the character’s religious habitus encounters a social field governed by different norms, while support from the Muslim community serves as social capital for maintaining identity. Identity negotiation occurs through rejecting practices that contradict religious beliefs, adjusting to social relationships, and participating in the Muslim community. These findings are limited to the social representation constructed within a single novel. ABSTRACT Konflik sosial antara norma mayoritas dan identitas minoritas Muslim dalam karya sastra dapat memperlihatkan bagaimana keyakinan individu berhadapan dengan aturan sosial yang dominan. Penelitian ini menganalisis representasi konflik tersebut serta hubungan antara habitus, arena, modal, dan kekuasaan simbolik yang membentuk posisi tokoh dalam novel Langit Goryeo karya Berliana Kimberly. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa novel dan data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, serta narasi yang berkaitan dengan konflik sosial dan negosiasi identitas. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan pencatatan, sedangkan analisis mencakup reduksi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian terhadap enam data utama memperlihatkan empat bentuk konflik yang menonjol, yaitu pertentangan praktik keagamaan dalam pergaulan, pembatasan interaksi berdasarkan keyakinan, konflik keluarga terkait pilihan perkawinan, dan benturan nilai mengenai keluarga serta keturunan. Konflik muncul ketika habitus religius tokoh berhadapan dengan arena sosial yang menetapkan norma berbeda, sementara dukungan komunitas Muslim menjadi sumber modal sosial bagi pemertahanan identitas. Negosiasi identitas berlangsung melalui penolakan terhadap praktik yang bertentangan dengan keyakinan, penyesuaian dalam relasi sosial, dan keterlibatan dalam komunitas Muslim. Temuan ini terbatas pada representasi sosial dalam satu novel.
REKONSTRUKSI NARATIF DALAM EKRANISASI BUMI MANUSIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Yanwar Samsul Akmal; Rina Andriani; Desma Yuliadi Saputra
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15748

Abstract

Literature learning in senior high school needs to develop students’ ability to understand literary works while examining changes in representation when literary texts are transformed into audiovisual media. The ecranisation of Bumi Manusia is important to examine because the transformation from novel to film reconstructs the narrative experience and provides opportunities for comparative and multimodal literature learning. This study aims to analyse the forms and functions of the ecranisation of Pramoedya Ananta Toer’s Bumi Manusia into Hanung Bramantyo’s film adaptation and to examine its implications for literature learning in senior high school. The study employed a qualitative descriptive method with a comparative approach. The data sources were the novel and film Bumi Manusia, while the data consisted of events, dialogue, narration, characters, settings, gestures, sound, and visual arrangements. The research instruments were a data-recording sheet and an ecranisation analysis guide used to identify and classify the data based on Eneste’s theory. Data were collected through repeated reading of the novel and viewing of the film and were analysed through identification, classification, comparison, interpretation, and conclusion drawing. The findings show that reductions mainly occur in internal monologue, ideological discourse, correspondence, genealogical background, and minor characters, making the film’s plot denser while reducing access to Minke’s interiority. Additions occur in romance, physical action, antagonistic gestures, and climactic scenes, while varied modifications transfer internal experience and characterisation into performance, sound, camera work, and mise-en-scène. These transformations affect narrative tempo, setting, focalisation, characterisation, and ideological density. In literature learning, the findings can be utilised to develop comparative reading, representation analysis, and multimodal literacy. ABSTRAK Pembelajaran sastra di SMA perlu mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami karya sastra sekaligus membaca perubahan representasi ketika karya dialihkan ke media audiovisual. Kajian ekranisasi Bumi Manusia penting dilakukan untuk menjelaskan bagaimana perubahan dari novel ke film membentuk kembali pengalaman naratif dan membuka peluang pembelajaran sastra berbasis perbandingan dan literasi multimodal. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan fungsi ekranisasi novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ke film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo serta menjelaskan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif. Sumber data berupa novel dan film Bumi Manusia, sedangkan data penelitian mencakup peristiwa, dialog, narasi, tokoh, latar, gestur, suara, dan pengaturan visual. Instrumen penelitian berupa lembar pencatatan dan pedoman analisis ekranisasi yang digunakan untuk mengidentifikasi serta mengklasifikasikan data berdasarkan teori Eneste. Data dikumpulkan melalui pembacaan novel dan penayangan film secara berulang, kemudian dianalisis melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, perbandingan, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciutan terutama terjadi pada monolog batin, diskursus ideologis, korespondensi, latar genealogis, dan tokoh minor sehingga alur film lebih padat, tetapi akses terhadap interioritas Minke berkurang. Penambahan ditemukan pada romansa, aksi fisik, gestur antagonistik, dan klimaks, sedangkan perubahan bervariasi mengalihkan pengalaman batin dan karakterisasi ke dalam akting, suara, kamera, dan mise-en-scène. Perubahan tersebut memengaruhi tempo alur, konstruksi latar, fokalisasi, penokohan, dan kepadatan ideologis. Dalam pembelajaran sastra, hasil kajian ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pembacaan komparatif, analisis representasi, dan literasi multimodal.
ANALISIS CAMPUR KODE DALAM PERCAKAPAN SISWA-SISWI DI SMA NEGERI 1 LARANTUKA KABUPATEN FLORES TIMUR Theresia Jawa Da Silva; Rikardus Pande; Pilipus Wai Lawet
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15844

Abstract

This study aims to describe the linguistic forms of code-mixing and identify the causal factors underlying its occurrence in student conversations at SMA Negeri 1 Larantuka, East Flores Regency. A qualitative approach utilizing a descriptive method grounded in sociolinguistic theory was employed. The data sources were obtained from the spoken interactions of 24 eleventh-grade students gathered through non-participant observation, audio recording, field note-taking, and semi-structured interviews conducted between January and March 2026. Data analysis followed the stages of data condensation, syntactic categorization, data display, and conclusion drawing. The findings from 36 identified speech corpora reveal that code-mixing manifests at three linguistic levels: the word level with 23 data (63.89%), the phrase level with 9 data (25.00%), and the clause level with 4 data (11.11%). Inner code-mixing was dominated by Larantuka Malay dialect and Lamaholot elements, whereas outer code-mixing appeared through English lexical items. The underlying causal factors include the role factor of equality among peers to foster intimacy, the informal situational register outside classroom hours, and the speakers' desire to emphasize communicative intentions and express spontaneous emotional nuances. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode pada tataran kebahasaan serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya peristiwa campur kode dalam percakapan siswa di SMA Negeri 1 Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang berlandaskan pada teori sosiolinguistik. Sumber data diperoleh dari interaksi lisan 24 siswa kelas XI yang dihimpun melalui teknik simak bebas libat cakap, perekaman audio, pencatatan lapangan, dan wawancara semi-terstruktur pada periode Januari hingga Maret 2026. Analisis data dilakukan melalui tahap kondensasi data, klasifikasi satuan sintaksis, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian terhadap 36 korpus tuturan menunjukkan bahwa campur kode terwujud ke dalam tiga tataran kebahasaan, yakni tataran kata sebanyak 23 data (63,89%), tataran frasa sebanyak 9 data (25,00%), dan tataran klausa sebanyak 4 data (11,11%). Campur kode ke dalam (inner code-mixing) didominasi oleh unsur bahasa Melayu Larantuka dan bahasa Lamaholot, sedangkan campur kode ke luar (outer code-mixing) berwujud leksikon bahasa Inggris. Faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode meliputi faktor peran kesetaraan antarsiswa untuk membangun keakraban, faktor ragam santai dalam situasi pergaulan informal di luar jam pelajaran, serta keinginan penutur untuk menegaskan maksud dan mengekspresikan emosi secara lebih spontan.    
ANALISIS NIAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA LISAN PADA UPACARA DEMU UE MASYARAKAT DESA KARAWATUNG Maria Imaculata Mura Sogen; Pilipus Wai Lawet; Rikardus Pande
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15845

Abstract

This study aims to describe the semantic meaning structure and analyze the local wisdom values reflected in the oral literature of the Demu Ue traditional ceremony in Karawatung Village, West Solor District, East Flores Regency. This study utilized a qualitative descriptive method with a contextual semantic analysis framework to dissect the lexical, grammatical, and cultural meanings of ritual speech. The primary data consisted of 12 ritual speech units (koda) chanted by custom leaders (Bapa Tobo Lango) and gathered through participatory observation, audio recording, structured in-depth interviews, and phonetic transcription. Data validity was established through source triangulation across community elders and methodological triangulation. Semantic analysis reveals that the oral literature of Demu Ue embodies five primary local wisdom values: (1) transcendental religious values (Lera Wulan Tana Ekan), (2) genealogical togetherness values, (3) sacred ancestral reverence, (4) cosmic ecological harmony with nature, and (5) functional mutual cooperation. The novel finding of this study underscores that Demu Ue oral literature serves not merely as an agrarian ceremonial complement, but functions as a cosmological legitimizing apparatus sustaining the social ecosystem and environmental preservation of the Solor Island community. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur makna semantik serta menganalisis nilai-nilai kearifan lokal yang terefleksi dalam sastra lisan pada upacara adat Demu Ue di Desa Karawatung, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis semantik kontekstual untuk membedah makna leksikal, gramatikal, dan makna kultural tuturan ritual. Data penelitian bersumber dari 12 unit tuturan ritual (koda) yang dilantunkan oleh pemangku adat (Bapa Tobo Lango) dan dihimpun melalui observasi partisipatif, rekaman audio, wawancara mendalam terstruktur, serta teknik pencatatan fonetis. Keabsahan data diuji secara ketat melalui triangulasi sumber terhadap tetua adat serta triangulasi teknik. Hasil analisis semantik membuktikan bahwa sastra lisan Demu Ue mengandung lima pilar nilai kearifan lokal utama, yaitu: (1) nilai religiusitas transendental (Lera Wulan Tana Ekan), (2) nilai kebersamaan genealogis, (3) nilai penghormatan sakral terhadap leluhur, (4) nilai keharmonisan kosmis dengan alam, dan (5) nilai gotong royong fungsional. Keunikan temuan penelitian ini menegaskan bahwa sastra lisan Demu Ue tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap seremoni agraris, melainkan merupakan media legitimasi kosmologis yang memelihara ekosistem sosial dan kelestarian lingkungan hidup masyarakat Pulau Solor.    
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK MOTIF KNIRE' DI DESA BANTALA KECAMATAN LEWOLEMA Kristina Tupa Hurit; Pilipus Wai Lawet; Oliva Wissang
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15846

Abstract

The ancient body tattooing tradition (knire') of the Lamaholot community in Bantala Village embodies local wisdom rich in spiritual and social values, yet it faces the threat of cultural erosion amidst rapid modernization. This study aims to analyze the sign structures and decode the symbolic meanings of thirteen knire' motifs using Roland Barthes' semiotic framework. A descriptive qualitative method was employed, involving eight key informants comprising customary elders (tua lewo), traditional tattoo practitioners (ata knire'), and community elders selected via purposive sampling. Data collection was carried out from July to September 2025 through participant observation, in-depth interviews, and visual documentation of body motifs. Data analysis proceeded through identifying signifiers and signifieds to formulate denotative, connotative, and cultural myth meanings. The findings revealed thirteen traditional knire' motifs categorized into three core philosophical value clusters: spiritual-cosmological values (petala, wula, kiring kele), social order and kinship values (knire' lema, kener telo, keniren telo, sulur), and moral ethics and survival resilience values (liman bolak, kolo matan, wato maing, wua matan, kapireng lere, ue meta). These symbolic meanings confirm that knire' serves as a cultural text denoting social maturity and communal identity among the Lamaholot people. ABSTRAK Tradisi rajah tubuh kuno (knire') pada masyarakat Lamaholot di Desa Bantala merekam kearifan lokal yang sarat nilai spiritual dan sosial, namun kini mulai terancam punah seiring derasnya modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur tanda dan membongkar makna simbolik tiga belas motif knire' melalui kerangka semiotika berjenjang Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melibatkan delapan orang informan kunci yang terdiri atas pemangku adat (tua lewo), penato tradisional (ata knire'), dan tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual terhadap motif rajah tubuh pada periode Juli hingga September 2025. Analisis data dilakukan melalui identifikasi penanda (signifier) dan petanda (signified) guna merumuskan makna denotasi, konotasi, serta mitos kultural. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga belas motif tradisional knire' yang terbagi ke dalam tiga gugus nilai filosofis utama, yaitu nilai spiritual-kosmologis (petala, wula, kiring kele), nilai keteraturan sosial dan kekerabatan (knire' lema, kener telo, keniren telo, sulur), serta nilai etika moral dan ketahanan hidup (liman bolak, kolo matan, wato maing, wua matan, kapireng lere, ue meta). Makna simbolik tersebut menegaskan bahwa knire' berfungsi sebagai teks kultural penanda kedewasaan sosial dan identitas komunal masyarakat Lamaholot.    
IMPROVING STUDENTS’ ENGLISH GRAMMAR MASTERY BY USING ENGLISH GRAMMAR STAR APP OF TENTH GRADE STUDENTS AT SMK KATOLIK HENDRICUS LEVEN Maria Elisabeth Sogen; German Oreng Ritan; Ummi Qalsum Arif
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15847

Abstract

This classroom action research was aimed at improving English grammar mastery specifically focusing on pronouns, possessives, adjectives, and adverbs among tenth-grade students at SMK Katolik Hendricus Leven through the implementation of the English Grammar Star App. In the preliminary diagnostic stage, students struggled with syntactic structures, yielding a low class average of 63.28 and a classical mastery rate of only 53.12%. To address this localized pedagogical issue, a two-cycle Classroom Action Research (CAR) design based on the Kemmis and McTaggart model (planning, acting, observing, and reflecting) was conducted with 32 students in Class X Pharmacy. Data were gathered through 40-item multiple-choice grammar achievement tests, structured observation checklists, and reflective field notes. The classical success criterion was pre-established at a minimum of 80% of students achieving the passing grade (Kriteria Ketuntasan Minimal / KKM) of 75. The findings revealed that the classical completion rate increased progressively from 53.12% in the pre-cycle baseline to 78.13% in Cycle I, and reached 81.25% (26 out of 32 students) in Cycle II, with the class mean score rising from 63.28 to 78.91. Concurrently, structured observational data demonstrated that active student participation rose from 46.88% at baseline to 84.38% in the final cycle. Within the boundaries of this single-class action research setting, the application served as an engaging digital scaffolding medium for contextualized grammar practice. ABSTRAK Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan tata bahasa Inggris—khususnya berfokus pada pronomina (pronouns), bentuk kepemilikan (possessives), kata sifat (adjectives), dan kata keterangan (adverbs) pada peserta didik kelas X di SMK Katolik Hendricus Leven melalui penerapan English Grammar Star App. Pada tahap diagnostik awal, peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami struktur sintaksis, yang ditunjukkan oleh rendahnya nilai rata-rata kelas sebesar 63,28 dan tingkat ketuntasan klasikal yang hanya mencapai 53,12%. Untuk mengatasi permasalahan pedagogis lokal tersebut, desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dua siklus yang mengacu pada model Kemmis dan McTaggart (perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi) dilakukan terhadap 32 peserta didik Kelas X Farmasi. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar tata bahasa berupa 40 butir soal pilihan ganda, lembar observasi terstruktur, dan catatan lapangan reflektif. Kriteria keberhasilan klasikal ditetapkan terlebih dahulu, yaitu minimal 80% peserta didik mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan klasikal meningkat secara bertahap dari data dasar prasiklus sebesar 53,12% menjadi 78,13% pada Siklus I, dan mencapai 81,25% (26 dari 32 peserta didik) pada Siklus II, disertai peningkatan nilai rata-rata kelas dari 63,28 menjadi 78,91. Secara bersamaan, data observasi terstruktur mencatat bahwa partisipasi aktif peserta didik meningkat dari 46,88% pada kondisi awal menjadi 84,38% pada siklus akhir. Dalam batasan latar penelitian tindakan pada satu kelas ini, aplikasi tersebut terbukti menjadi media perancah digital (digital scaffolding) yang menarik untuk latihan tata bahasa secara kontekstual.    

Page 1 of 3 | Total Record : 21