cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Relationship between Intelligence Quotient (IQ) level and learning motivation for psychology students Imam Dedikasi Malik Nur; Eva Meizara Puspita Dewi; Adinda Berliana Apriliyanti; Andi Tasya Alifya Ahsan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63667

Abstract

One of the many factors that supports student achievement is IQ (Intelligence Question). This study aimed to find out the relationship between intellectual ability (IQ) and the learning motivation of psychology students. The research method used is a non-experimental quantitative method and a statistical analysis approach using correlational analysis supported by SPSS version 26.0. Based on the research results, there is a significant relationship between IQ and Learning Motivation. Based on the Sig. (2-tailed) is 0.841, so it is more significant than 0.05, so there is no relationship between high IQ and learning motivation. The level of closeness of the relationship is -0.010, which, if confirmed by the correlation category, is below 0.020, which means the relationship is very low. This means there is no guarantee that the motivation to learn is high if IQ is high. Looking at the direction of the relationship, namely negative, it means that the higher a person's IQ, the lower the learning motivation. Thus, it can be concluded that the relationship formed between IQ test results and learning achievement is a low or weak but sure relationship. So, it can be said that there is no positive relationship between Intellectual Intelligence (IQ) and student learning motivation by looking at the significant relationship between IQ and learning motivation. Abstrak Dalam sekian banyak faktor yang menjadi Salah satu penunjang prestasi s iswa adalah IQ (Intelligence Question). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara kemampuan intelektual (IQ) dengan motivasi belajar mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar angkatan 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif non eksperimental dan pendekatan analisis statistik menggunakan analisis korelasional yang didukung SPSS versi 26.0. Berdasarkan hasil penelitian Melihat adanya hubungan yang signifikan antara IQ dengan Motivasi Belajar. Berdasarkan Sig. (2-tailed) sebesar 0,841 sehingga lebih besar dari 0,05 sehingga tidak ada hubungan antara IQ tinggi dengan motivasi belajar. Melihat tingkat keeratan hubungannya sebesar -0,010 yang jika dikonfirmasi dengan kategori korelasi yang berada di bawah 0,020 berarti hubungannya sangat rendah. Artinya tidak ada jaminan jika IQ tinggi maka motivasi belajar pun tinggi. Dilihat dari arah hubungannya yaitu negatif artinya semakin tinggi IQ seseorang maka semakin rendah motivasi belajarnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan yang terbentuk antara hasil tes IQ dengan prestasi belajar adalah hubungan yang rendah atau lemah tetapi pasti. Jadi dapat dikatakan tidak terdapat hubungan yang positif antara Kecerdasan Intelektual (IQ) dengan motivasi belajar siswa dengan melihat adanya hubungan yang signifikan antara IQ dengan motivasi belajar. Kata Kunci: Mahasiswa Psikologi, Motivasi Belajar, Tingkat Kecerdasan (IQ)
Discourse in curriculum: A focus on film, television, and media studies Firdaus Noor; Nuril Ashivah Misbah; Dede Suprayitno; Putrawan Yuliandri
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.67536

Abstract

This article using discourse theory, popularized by Foucault, is used to examine the production and use of knowledge and practices relevant to the discourse that applies to the film, television, and media studies study program curriculum. This research uses the interpretive phenomenology method (Interpretative Phenomenological Analysis), and the classification and framing of data are carried out through focused group discussions. The purposeful sampling technique was chosen through a maximum variation sampling strategy involving eight research subjects to understand the various experiences of campuses that already have similar programs and are considered the most "oriented" stakeholders. The result is that the curriculum discourse produces four themes: scientific vision and mission, graduate profile, learning outcomes, and curriculum structure. In the experience model, participants express discourse themes with actual social reality. In the end, how discourse speaks is expected to be a critical dimension in forming the Film, Television, and Media Studies program curriculum.  AbstrakArtikel ini menggunakan teori Diskursus yang dipopulerkan oleh Foucault digunakan dengan tujuan untuk melihat produksi dan penggunaan pengetahuan dan praktiknya yang relevansinya dengan wacana yang berlaku untuk kurikulum prodi kajian film, televisi, dan media. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis), klasifikasi dan pembingkaian data dilakukan melalui kegiatan diskusi terpumpun/Focus Group Discussion. Teknik purposeful sampling dipilih melalui strategi maximal variation sampling dengan melibatkan delapan subjek penelitian untuk memahami beragam pengalaman dari kampus-kampus yang sudah memiliki program serupa dan dianggap paling "berorientasi" sebagai pemangku kepentingan. Hasilnya bahwa diskursus kurikulum menghasilkan empat tema yaitu visi misi keilmuan, profil lulusan, capaian pembelajaran, dan struktur kurikulum. Model pengalaman, partisipan mengungkapkan tema wacana dengan realitas sosial yang sesungguhnya. Pada akhirnya cara diskursus berbicara diharapkan menjadi dimensi kunci dalam pembentukan kurikulum pada program studi Kajian Film, Televisi, dan Media.Kata Kunci: Diskursus kurikulum; fenomenologi interpretatif; foucault; kajian film, televisi, dan media
Kurikulum Merdeka for arabic language learning according to Piaget’s cognitive development theory Ahmad Hidayatullah Zarkasyi; Alin Safaraz Himam; Rahmat Hidayat Lubis; Sintya Kartika Prameswari; Iffatunnisail Badriya
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.61359

Abstract

The effectiveness of the Arabic educational process can't be separated from the curriculum that has been set and implemented properly. Kurikulum Merdeka, especially in Arabic language learning, is a new curriculum that has not been tested implementatively after its launch and is thought to be not following the level of student learning ability. Jean Piaget has given birth to a comprehensive theory of cognitive development which is the basis for the creation and development of educational curricula in the world. The purpose of cognitive development in Arabic language learning is to increase understanding to obtain new information. This study aims to determine the suitability and analyze the relevance of competence and objectives of Kurikulum Merdeka for Arabic language learning with Jean Piaget's cognitive theory. This study employs a descriptive analysis method along with a qualitative research design. While the method used is the method of observation and literature study. The data used is qualitative in the form of words, sentences, discourse, text, and the entire contents of Kurikulum Merdeka for Arabic language learning. The results of the analysis show that Kurikulum Merdeka for Arabic language learning achieves good results in its suitability and relevance to Jean Piaget's theory of cognitive development. AbstrakKeberhasilan proses belajar mengajar bahasa Arab tidak lepas dari kurikulum yang telah ditetapkan serta diterapkan dengan baik. Kurikulum Merdeka khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan kurikulum baru yang belum teruji secara implementatif setelah diluncurkannya dan diduga belum sesuai dengan tingkatan kemampuan belajar siswa. Jean Piaget telah melahirkan teori perkembangan kognitif yang komprehensif yang menjadi dasar dalam pembuatan dan pengembangan kurikulum pendidikan di dunia. Tujuan perkembangan kognitif dalam pembelajaran bahasa arab adalah untuk meningkatkan pemahaman untuk memperoleh informasi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian dan menganalisis relevansi kompetensi dan tujuan kurikulum Merdeka untuk pembelajaran bahasa Arab dengan teori kognitif Jean Piaget. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi dan studi literatur. Data kualitatif yang digunakan berupa kata, kalimat, wacana, teks, dan keseluruhan isi kurikulum Merdeka untuk pembelajaran bahasa Arab. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka untuk pembelajaran bahasa Arab mencapai hasil yang baik pada kesesuaian dan relevansinya dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget.Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; pembelajaran bahasa Arab; perkembangan kognitif; teori Jean Piaget
Creative teacher's dictionary: Enhancing teacher competence in creating learning media to support Indonesia's SDGs program Dea Febrina Irawan; Adilla Dzakiroh; Diva Ayu Putri Pradana; Dwi Antika Andi Saputri; Faisal Sadam Murron
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62921

Abstract

This research focuses on the Creative Teacher's Dictionary, specially designed for educators to assist in developing digital learning media that support Indonesia's Sustainable Development Goals (SDGs) program. This dictionary is crucial in shaping high-quality educators capable of providing meaningful learning experiences. The research is guided by selecting a dictionary as the primary tool for developing educational media because a dictionary plays a strategic role in providing comprehensive guidance to educators in designing learning media that support SDGs. The Creative Teacher's Dictionary offers practical guidance on using various up-to-date applications and technologies to create innovative and relevant learning experiences. This research aims to develop the Creative Teacher's Dictionary, provide comprehensive resources for educators, and ensure the quality of its content. The research employs the Design and Development (DD) method using the ADDIE model. The assessment involves expert validation and interviews to ensure the quality of the content of the Creative Teacher's Dictionary. The validation results by subject matter experts and language experts indicate an "Very Good" assessment. The final trial results affirm that this book can enhance teachers' competence in creating learning media and can be used by educators and students needing the most up-to-date information. This research analyzes the implementation, evaluates strengths and weaknesses, and provides solutions for creating learning media based on relevant application categories. AbstrakPenelitian ini membahas tentang Kamus Guru Kreatif yang dirancang khusus untuk para pendidik, membantu pengembangan media pembelajaran berbasis digital yang mendukung program Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Kamus ini berperan membentuk pendidik berkualitas yang mampu memberikan pengalaman belajar bermakna. Penelitian ini dipandu oleh pemilihan kamus sebagai alat utama pengembangan media pembelajaran karena kamus memiliki peran strategis dalam memberikan panduan lengkap bagi pendidik dalam merancang media pembelajaran yang mendukung SDGs. Kamus Guru Kreatif menyediakan panduan praktis tentang penggunaan berbagai aplikasi dan teknologi terkini untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang inovatif dan relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan Kamus Guru Kreatif, menyediakan sumber daya yang komprehensif bagi pendidik, dan menjamin kualitas isinya. Penelitian ini menggunakan metode Design and Development (DD) dengan model ADDIE. penilaian ini melibatkan validasi ahli dan wawancara untuk memastikan kualitas konten Kamus Guru Kreatif. Hasil validasi ahli materi dan ahli bahasa menunjukkan penilaian pada kategori “Sangat Baik”. Hasil akhir uji coba menyatakan bahwa buku ini mampu meningkatkan kompetensi guru dalam membuat media pembelajaran dan dapat digunakan oleh pendidik dan siswa yang membutuhkan sumber informasi terkini. Penelitian ini menganalisis penerapan, evaluasi kelebihan dan kelemahan, serta solusi pembuatan media pembelajaran berdasarkan kategori aplikasi yang relevan.Kata Kunci: Kamus guru kreatif; kompetensi guru; media pembelajaran; program SDGs Indonesia
Ancient sites as ethnomathematics for strengthening Profil Pelajar Pancasila in Malang Wikan Budi Utami; Sri Hariyani; Fikri Aulia
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65091

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of learning mathematics using ancient sites as a source of learning and to raise students' awareness of protecting and preserving ancient sites. The research design used was the pre and post-test group design with two groups. The experimental and control groups will be given a pretest before treatment and a posttest after treatment. The population used was 148 grade IV elementary school students, and the sample used was 120 people consisting of 60 experimental class students and 60 control class students. Data analysis in this study used statistical data processing software IBM SPSS version 27. Based on the summary of the independent t-test results, the value of Sig. (2-tailed) on the post-test data is 0.001. This value is smaller than the specified significance level of 0.05. This means that the averages of the experimental and control groups at the post-test were significantly different. The results showed that the archaeological site of Singosari temple can be used as a source of learning mathematics for elementary schools and can increase students' understanding of the preservation of ancient sites as a form of strengthening the Profil Pelajar Pancasila. AbstrakPenelitian ini mengungkap keefektifan pembelajaran matematika dengan menggunakan situs purbakala sebagai sumber belajar serta meningkatkan kesadaran siswa untuk menjaga dan melestarikan situs purbakala. Desain penelitian yang digunakan adalah pre and posttest group design dengan dua kelompok. Kelompok eksperimen dan kontrol akan diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan design dengan dua kelompok. Kelompok eksperimen dan kontrol akan diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan. Populasi yang digunakan sebanyak 148 siswa sekolah dasar kelas IV dan sampel yang digunakan sebanyak 120 orang yang terdiri dari 60 siswa kelas eksperimen dan 60 siswa kelas kontrol. Analisis data pada penelitian ini menggunakan software pengolah data statistik IBM SPSS versi 27. Berdasarkan rangkuman hasil uji t independen diperoleh nilai Sig. (2-tailed) pada data posttest 0,001. Nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan yaitu 0,05. Artinya rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol pada saat posttest berbeda secara signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs arkeologi Candi Singosari dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran matematika untuk sekolah dasar dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelestarian situs purbakala sebagai bentuk penguatan profil siswa Pancasila.Kata Kunci: Ethnomathematic; Profil Pelajar Pancasila; situs purbakala; sumber belajar
Analysis of jokes technique in TikTok contents as English learning media Erika Sinambela; Bimbi Izumi Sembiring; Sondang Manik; Darman Pangaribuan
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63906

Abstract

English is a foreign language studied in schools and is one of the compulsory subjects. However, a problem occurs in its implementation: the tendency to learn English using a focused memorization method. This can hinder English learning, focusing on the concept that language is part of culture, not just a series of memorized words. One learning method that can be used is by implementing humor. Humor serves as a bridge between teachers and students to create a more relaxed and comfortable classroom environment. This research aims to investigate the source of English Learning materials in the form of jokes from Stand-Up Comedians and ensure their use in English learning routines. The approach used in this research is descriptive qualitative, using the observation method. The research sample consists of 25 videos containing jokes obtained from English Stand-Up Comedians' TikTok user accounts. The data was then analyzed to identify the types of jokes used in each video and their use in English learning. The results show that the type of joke widely used in the content is Ridicule; however, the suitable joke techniques for use in English learning in the classroom are Politeness Strategy and Paralanguage. AbstrakBahasa Inggris merupakan bahasa asing yang dipelajari di sekolah dan menjadi salah satu mata pelajaran wajib. Akan tetapi, pada pelaksanaannya terdapat permasalahan yang terjadi, yakni adanya kecenderungan pembelajaran Bahasa Inggris menggunakan cara menghafal yang terfokus. Hal tersebut dapat menghambat pembelajaran Bahasa Inggris yang berfokus pada konsep bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya, dan bukan hanya sebagai rangkaian kata yang dihafal. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah dengan mengimplementasikan humor. Humor menjadi jembatan antara guru dan siswa untuk membangun lingkungan kelas yang lebih santai dan nyaman bagi para siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki sumber materi pembelajaran Bahasa Inggris berupa lelucon dari Stand Up Comedian, dan memastikan penggunaannya dalam rutinitas pembelajaran Bahasa Inggris. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan metode observasi. Sampel penelitian berupa 25 video berisi lelucon yang diperoleh dari akun pengguna TikTok stand-up comedy Inggris. Data kemudian melalui proses analisis untuk mengidentifikasi jenis candaan yang digunakan pada tiap video dan penggunaannya dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Hasil menunjukkan bahwa jenis candaan yang banyak digunakan pada konten adalah teknik candaan ridicule,akan tetapi teknik candaan yang cocok digunakan pada pembelajaran Bahasa Inggris di dalam kelas adalah Politeness Strategy dan Paralanguage.Kata Kunci: Pembelajaran bahasa Inggris; stand-up comedy; teknik lelucon; TikTok.
Evaluation of Science curriculum: A literature study Amsal Alhayat; Zainal Arifin
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.58887

Abstract

The goals and roles of education are reflected in the implementation outlined through a series of curriculum plans. Science as a learning program also has a curriculum that serves as a reference for its performance in the classroom. Therefore, it is necessary to evaluate the science curriculum to determine the achievement of the established goals, considering various aspects within it. Hence, this research aims to describe the factors that need to be considered in evaluating the science curriculum as a learning program. The research method used is Systematic Literature Review (SLR), which involves the initial stage of identifying the keywords "Evaluation of Science Curriculum" and synthesizing the results of the analysis to arrive at a general conclusion. The research findings indicate that evaluating the science curriculum needs to consider several important factors, including assessing the learning objectives, alignment with standards, relevance to students' lives, instructional effectiveness, availability of resources, stakeholder involvement, and curriculum renewal and development. However, empirical evidence is still needed to support the complexity of this research. A suggestion is to conduct similar research using the Delphi method to obtain better parameters and standards for evaluating the science curriculum by incorporating expert perspectives. AbstrakTujuan dan peran pendidikan tercermin dalam pelaksanaan yang dituangkan melalui serangkaian rencana kurikulum pembelajaran. IPA sebagai program pembelajaran juga memiliki kurikulum yang menjadi acuan dalam penyelenggaraannya di kelas. Seyogyanya kurikulum IPA tersebut perlu dilakukan evaluasi guna mengetahui ketercapaian dari tujuan yang telah ditetapkan dengan memperhatikan berbagai aspek yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi kurikulum IPA sebagai program pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan yaitu Sistematika Literatur Review (SLR) dengan tahapan yang diawali dengan identifikasi kata kunci “Evaluasi Kurikulum IPA” hingga sintesis hasil analisis untuk mendapati kesimpulan secara general. Hasil penelitian diperoleh bahwa dalam melakukan evaluasi kurikulum IPA perlu mempertimbangkan beberapa hal penting, yakni bahwa evaluasi tersebut melibatkan penilaian terhadap tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan standar, relevansi dengan kehidupan siswa, efektivitas pembelajaran, ketersediaan sumber daya, keterlibatan stakeholder, dan pembaruan dan pengembangan kurikulum. Namun, masih dibutuhkan hasil empiris untuk mendukung kekompleksitasan penelitian ini, seperti dibutuhkan penelitian senada dengan metode delphi, hal ini dimaksudkan agar dapat memperoleh parameter dan standar evaluasi kurikulum IPA yang lebih baik dengan mempertimbangkan pandangan ahli.Kata Kunci: Evaluasi kurikulum; Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Teacher competence development in Kurikulum Merdeka implementation: A literature study Endang Purwati; Dadang Sukirman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62277

Abstract

The Kurikulum Merdeka is an innovation in the world of education that requires teachers to play an active role in developing their competencies. This article aims to analyze the concept and model of teacher competency development, factors influencing teacher competency development, and effective strategies or methods for developing teacher competency in implementing the Kurikulum Merdeka. This article uses a qualitative descriptive research method by collecting literature from various sources that discuss teacher competence development. These factors influence teacher competence development and effective strategies or methods for developing teacher competence in implementing the Kurikulum Merdeka. Several significant findings from this literature review include that teachers have a strategic role in developing all aspects of human personality and abilities. Effective strategies and methods for developing teacher competency are also written, including training and development, collaboration and sharing, and the use of technology in learning. From these findings, it can be concluded that developing teacher competence in implementing the Kurikulum Merdeka requires understanding the concepts and types of teacher competence. These factors influence teacher competence development and effective strategies or methods for developing teacher competence. Hopefully, this article can provide insight and recommendations for educational practitioners in developing teacher competency in the Kurikulum Merdeka era. AbstrakKurikulum Merdeka Belajar merupakan inovasi dalam dunia pendidikan yang menuntut peran aktif guru dalam mengembangkan kompetensi mereka. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan model pengembangan kompetensi guru, faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kompetensi guru, serta strategi atau metode yang efektif untuk mengembangkan kompetensi guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan berbagai literatur dari berbagai sumber yang membahas tentang pengembangan kompetensi guru, faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kompetensi guru, dan strategi atau metode yang efektif untuk mengembangkan kompetensi guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Beberapa temuan penting dari kajian literatur ini antara lain guru memiliki peran strategis dalam mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan kemampuan manusia. Selain itu dituliskan juga strategi dan metode yang efektif untuk mengembangkan kompetensi guru antara lain pelatihan dan pengembangan, kolaborasi dan sharing, serta penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Dari temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan kompetensi guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan pemahaman tentang konsep dan jenis-jenis kompetensi guru, faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kompetensi guru, serta strategi atau metode yang efektif untuk mengembangkan kompetensi guru. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan rekomendasi bagi para praktisi pendidikan dalam mengembangkan kompetensi guru dalam era Kurikulum Merdeka.Kata Kunci: Implementasi kurikulum; kompetensi digital; kompetensi guru; Kurikulum Merdeka.
Development of project-based learning model based on ethno-steam to improve numeracy literacy skills H. Haryanto; S. Samsudi; Mintarsih Arbarini
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63400

Abstract

21st-century learning is learning that prepares students to have the ability to think creatively, critically, and innovatively and master technology. This research aims to analyze and describe the development design, feasibility, and effectiveness of a project-based learning model based on ethno-steam (science, technology, engineering, mathematics, and art) to improve numeracy literacy skills. This research uses the RD method with ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). This research was conducted in class VIII MTsN 3 Lima Puluh Kota in mathematics. PjBL, STEAM, and Material experts have validated this learning model. The results of the expert validation obtained an average value of 91% with a very feasible category. The N-Gain results to determine the effectiveness of the ethno-STEAM-based project-based learning model to improve numeracy literacy skills obtained a value of 0.69 in the medium category. The Ethno-STEAM-based project-based learning model is classified as adequate based on the N-Gain results. Developing an ethno-STEAM-based project learning model (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) is highly recommended to be applied in mathematics learning and implementing Kurikulum Merdeka. AbstrakPembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan berpikir kreatif, kritis, inovatif serta menguasai teknologi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mendeskripsikan desain pengembangan, menganalisis dan mendeskripsikan kelayakan serta menganalisis dan mendeskripsikan efektivitas pembelajaran project-based learning model based ethno-steam (sains teknologi teknik seni matematika) dalam meningkatkan kemampuan literasi numerasi. Penelitian ini menggunakan metode RD dengan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation).Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII MTsN 3 Lima Puluh Kota pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran ini telah divalidasi oleh ahli PjBL, ahli STEAM dan ahli Materi. Hasil validasi ahli tersebut memperoleh nilai rata-rata sebesar 91% dengan kategori sangat layak. Hasil N-Gain untuk mengetahui keefektifan model project-based learning berbasis ethno-STEAM untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi memperoleh nilai sebesar 0,69 dengan kategori sedang. Berdasarkan hasil N-Gain penggunaan model project-based learning berbasis Ethno-STEAM tergolong efektif Pengembangan model pembelajaran proyek berbasis etno-STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) sangat dianjurkan untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam menyambut kurikulum merdeka.Kata Kunci: Etno-STEAM; literasi numerasi; model pembelajaran berbasis proyek
Analysis of the implementation of Profil Pelajar Pancasila through school culture Raymundus Eko; Deny Setiawan; Anita Yus
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64971

Abstract

Learning encourages paradigm changes, including those related to school curriculum and education. Therefore, it is essential to ensure teachers' understanding of Profil Pelajar Pancasila and how to implement it through school culture at UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua. The research subjects were 16 teachers and 74 students. The research method used is descriptive qualitative research using observation, interview, and questionnaire data collection techniques. The research results show that the implementation of Profil Pelajar Pancasila at UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua has gone very well. This excellent result is supported by the teacher's understanding of the concept of Profil Pelajar Pancasila. The implementation of this program is also supported by 8 (eight) school cultures, namely religious culture, 5S culture (Senyum. Sapa, Salam, Sopan, dan Santun), Flag Ceremony culture, I work alone culture, Nail Cutting culture, Clean Class culture, Literacy culture, and “I Can” culture. By implementing the Kurikulum Merdeka and these eight cultures, UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua, as one of the driving schools, has made maximum efforts to realize students as lifelong learners with the character of the Profil Pelajar Pancasila. AbstrakPembelajaran mendorong terjadinya perubahan paradigma, termasuk yang berkaitan dengan kurikulum dan pendidikan di sekolah. Maka dari itu penting untuk memastikan pemahaman guru tentang Profil Pelajar Pancasila dan cara implementasinya melalui budaya sekolah di UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua. Subjek penelitian adalah 16 orang guru dan 74 peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deksriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan angket. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi Profil Pelajar Pancasila di UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua telah berjalan dengan sangat baik. Hasil sangat baik ini didukung oleh pemahaman guru terhadap konsep Profil Pelajar Pancasila. Implementasi program ini juga didukung oleh 8 (delapan) budaya sekolah yakni budaya Religius, budaya 5S (Senyum. Sapa, Salam, Sopan, dan Santun), budaya Upacara Bendera, budaya Aku Kerja Sendiri, budaya Potong Kuku, budaya Bersih Kelas, budaya Literasi dan, budaya Aku Bisa. Dengan menerapkan Kurikulum Merdeka dan kedelapan budaya ini, UPT SPF SD Negeri 101799 Deli Tua sebagai salah satu Sekolah penggerak, telah berusaha secara maksimal dalam mewujudkan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat yang berkarakter Profil Pelajar Pancasila.Kata Kunci: Budaya Sekolah, Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila