cover
Contact Name
Angga Hadiapurwa
Contact Email
angga@upi.edu
Phone
+6285722923393
Journal Mail Official
jurnal.inovasi.kurikulum@upi.edu
Editorial Address
Prodi Pengembangan Kurikulum, Gedung Sekolah Pascasarjana UPI Lt. 6 Jl. Dr. Setiabudhi Bandung 40154
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Inovasi Kurikulum
ISSN : 18296750     EISSN : 27981363     DOI : -
curriculum development; curriculum design; curriculum implementation; curriculum evaluation; instructional development; model of instructional; media of instructional; evaluation of instructional
Articles 295 Documents
Analysis of teacher readiness conditions in implementing characteristic school-based curriculum Wina Dewi; Laksmi Dewi
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62533

Abstract

Character education is highlighted and considered to improve positive character and behavior in children. Religion-based schools are the choice of parents in developing characters. The fundamental difference is based on religious teachings which are internalized in each component of the curriculum. The uniqueness of the curriculum at SMPI Cendekia Muda is a God Centered curriculum, each grade level is based on the Rasulullah phase. In implementing a-centered curriculum, teachers must prepare to design, implement and evaluate the success of the curriculum. This research is preliminary research to analyze teachers' readiness to develop a character-based curriculum internalized at SMP. In fulfilling data, this study uses a qualitative case study approach. The research techniques used were interviews and the study of curriculum documents. This research shows that in preparing the curriculum as a distinctive character at school, each teacher is trained at the start of becoming a teacher. Furthermore, in preparing and supporting teacher competence, is followed by some training and mentoring. This research also shows that training related to the typical curriculum still needs to be developed and provided on an ongoing basis so that the typical character curriculum can be seen in every of curriculum implementation. AbstrakPendidikan karakter menjadi hal yang disorot dan dipertimbangkan dalam meningkatkan karakter dan perilaku positif pada diri anak. Sekolah berbasis agama menjadi pilihan orang tua dalam mengembangkan karakter. Perbedaan mendasarnya adalah berlandaskan pada ajaran agama yang diinternalisasikan pada setiap komponen kurikulum. Kekhasan kurikulum di SMPI Cendekia Muda adalah berbasis God Centered, setiap jenjang kelas berlandaskan pada fase Rasulullah. Dalam mengimplementasikan God Centered Education dibutuhkan kesiapan guru agar tepat dalam merancang, implementasi, dan mengevaluasi keberhasilan kurikulum. Penelitian ini adalah preliminary research untuk menganalisis kesiapan guru dalam mengembangkan kurikulum berbasis karakter yang diinternalisasikan pada jenjang SMP. Dalam memenuhi data, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Teknik penelitian yang digunakan adalah wawancara dan studi dokumen kurikulum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mempersiapkan kurikulum God Centered Education sebagai karakter khas di SMPI Cendekia Muda, setiap guru dilatih pada awal menjadi guru. Selanjutnya dalam mempersiapkan dan menunjang kompetensi guru, dilanjutkan dengan beberapa pelatihan dan pendampingan. Penelitian ini juga menghasilkan bahwa pelatihan terkait kurikulum khas ternyata masih harus dikembangkan dan diberikan secara berkelanjutan agar mempersiapkan karakter khas dari kurikulum God Centered Education dapat terlihat dalam setiap elemen implementasi kurikulum.Kata Kunci: Pendidikan berbasis karakter; persiapan kurikulum; pelatihan
Authentic assessment in intensive training (bootcamp) of higher education students as well as feedback on the learning experience process Taopik Barkah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Authentic assessment in competency-based education should create opportunities that allow students to integrate learning and practice, resulting in mastery of the professional skills students will need in their future workplaces. Authentic assessment provides students with opportunities to engage in authentic tasks to develop, use and expand their knowledge, higher-order thinking and digital skills competencies. The role of authentic assessment in intensive training (Bootcamp) can prepare learners to improve their ability to be ready to practice when in the world of work based on tasks undertaken after completing a program in higher education. This study aims to describe the authentic form of assessment as an evaluation process used in intensive training (Bootcamp) for students to describe feedback on the Bootcamp learning experience process as consideration for improvement in the implementation of the next program. The author uses a descriptive method to provide an overview of the phenomenon studied through a literature study of existing documents. Authentic assessment activities in Bootcamp learning activities for each session per day ended with the assignment of a project called "Challenge" which was group in nature and was carried out for approximately two weeks, students were asked to express what they had understood and done during the project. Students can also give/convey feedback to each other. This is done so students can understand the material better and develop their skills. AbstrakPenilaian otentik dalam pendidikan berbasis kompetensi harus menciptakan peluang yang memungkinkan mahasiswa untuk mengintegrasikan pembelajaran dan praktik, menghasilkan penguasaan keterampilan profesional yang akan dibutuhkan mahasiswa di tempat kerja masa depan mereka. Tujuan dari penilaian otentik adalah untuk memberikan mahasiswa kesempatan untuk terlibat dalam tugas-tugas otentik untuk mengembangkan, menggunakan dan memperluas pengetahuan mereka, keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan digital. Peran penilaian autentik dalam pelatihan intensif (Bootcamp) dapat mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuannya untuk siap mempraktikkan ketika dalam lingkup dunia kerja berdasarkan tugas-tugas yang dikerjakan setelah menyelesaikan program di pendidikan tinggi. Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk penilaian otentik sebagai proses evaluasi yang digunakan dalam pelatihan intensif (Bootcamp) bagi mahasiswa, mendeskripsikan umpan balik terhadap proses pengalaman pembelajaran Bootcamp sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan pada pelaksanaan program berikutnya. Penulis menggunakan metode deskriptif untuk bertujuan memberikan gambaran tentang fenomena yang sedang dikaji melalui studi literatur terhadap dokumen-dokumen yang telah ada. Kegiatan penilaian otentik dalam kegiatan pembelajaran Bootcamp untuk setiap sesi per harinya diakhiri dengan pemberian penugasan proyek dengan sebutan challenge atau penugasan yang mengharuskan peserta untuk mengungkapkan apa saja yang telah mereka pahami dan lakukan selama proyek berlangsung. Sehingga mahasiswa dapat saling memberi/menyampaikan umpan balik kepada satu sama lain. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat memahami materi dengan lebih baik dan mengembangkan keterampilannya.Kata Kunci: Pelatihan intensif; pengalaman pembelajaran; penilaian otentik
Cultivating local wisdom through the Profil Pelajar Pancasila program in Kurikulum Merdeka Belajar Andrie Hasugian; Iim Siti Masyitoh; Susan Fitriasari
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.66755

Abstract

There is a transition from the 2013 curriculum to Kurikulum Merdeka at the elementary school level. What commonly occurs is that teachers are more focused on observing changes in the lesson plan format than on the essence of Kurikulum Merdeka. The essential aspect of Kurikulum Merdeka at the elementary school level is the emergence of Pancasila values, where these values must be internalized in children through various activities. One activity that can be used to internalize Pancasila values is traditional games, which are products of the local wisdom of Indonesian society. This study is ethnographic research, so the author gathered more data from online news used as a medium to access information related to Kurikulum Merdeka Belajar. The data were then analyzed using content analysis techniques. The research results indicate that six Pancasila values can be internalized in children through traditional games, namely belief in and devotion to the Almighty, noble character, global diversity, cooperation, independence, creativity, and critical thinking. Second, the internalization of Pancasila values through traditional games is carried out by introducing various classic games to children, demonstrating how to play them, and explaining the rules of the games. Based on these research findings, it can be concluded that the Pancasila values actualized by children in implementing traditional games can contribute to the success of Kurikulum Merdeka implementation while preserving local wisdom in society. AbstrakPada tingkat sekolah dasar, kurikulum 2013 saat ini sedang digantikan oleh kurikulum Merdeka. Guru-guru sering kali lebih fokus pada perubahan struktur rencana pembelajaran daripada pada inti yang terdapat dalam kurikulum Merdeka. Fokus utama dari kurikulum Merdeka di sekolah dasar adalah pengenalan nilai-nilai Pancasila, yang harus diinternalisasi oleh anak-anak melalui berbagai kegiatan. Permainan tradisional adalah salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk membantu anak-anak menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Permainan-permainan ini adalah hasil dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Karena penelitian ini bersifat etnografi, penulis mendapatkan data dari berita online yang digunakan sebagai media untuk mengakses informasi terkait kurikulum Merdeka belajar. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, anak-anak dapat menginternalisasi enam prinsip Pancasila melalui permainan tradisional, yaitu kemandirian, kreativitas, berpikir kritis, keberagaman global, karakter mulia, keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, serta kerja sama dan saling mendukung. Kedua, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai permainan tradisional, diajarkan cara memainkannya, dan diberikan penjelasan aturan main untuk memfasilitasi internalisasi nilai-nilai Pancasila melalui permainan tradisional. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikatakan bahwa aktualisasi nilai-nilai Pancasila oleh anak-anak melalui permainan tradisional dapat mendukung implementasi kurikulum Merdeka sambil mempromosikan pelestarian pengetahuan lokal dalam masyarakat.Kata Kunci: Kearifan lokal; kurikulum merdeka; profil pelajar pancasila
Analysis of the need for a survival thematic BIPA dictionary for Handai Indonesia Agus Setiadi; Suci Sundusiah; H. Halimah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.65951

Abstract

The use of dictionaries in beginner-level BIPA learning is important, considering the limited vocabulary students master. Things like this apply to formal students in class and Handai Indonesia who are in Indonesia. Handai Indonesia refers to foreign citizens who can speak Indonesian. Apart from being required to adapt to learning in the classroom, Handai Indonesia, who immediately learned Indonesian in Indonesia, was also necessary to survive in his new living environment. Therefore, there needs to be supported vocabulary materials packaged based on their needs. Supported by this vocabulary material, it can be made into a special thematic survival dictionary that is easy to use. This research analyzes Handai Indonesia's need for a survival thematic dictionary. The method used in this research is descriptive. The needs analysis results show that public transportation is the place or situation that Handai Indonesia most needs in terms of survivability in Indonesia. Many Handai Indonesians experience vocabulary problems when using public transportation services, so they need a transportation-themed survival dictionary, and the type of dictionary they need is a digital dictionary. Images contain explanations and examples of sentences, conversations, and audio. AbstrakPenggunaan kamus dalam pembelajaran BIPA level pemula merupakan hal yang penting mengingat terbatasnya kosakata yang dikuasai oleh pemelajar. Hal ini tidak hanya berlaku bagi pemelajar formal di kelas tetapi juga para Handai Indonesia yang berada di Indonesia. Handai Indonesia merujuk pada warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia. Selain dituntut untuk dapat beradaptasi dengan pembelajaran di kelas, Handai Indonesia yang langsung belajar bahasa Indonesia di Indonesia juga dituntut untuk dapat bertahan hidup di lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Oleh karena itu, perlu adanya sokongan materi kosakata yang dikemas berdasarkan kebutuhan mereka. Sokongan materi kosakata tersebut dapat dibuat menjadi sebuah kamus khusus kesintasan yang bersifat tematik sehingga mudah digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Handai Indonesia terhadap kamus tematik kesintasan. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa transportasi umum menjadi tempat atau situasi yang paling banyak dibutuhkan handai Indonesia dalam hal kesintasan di Indonesia. Para handai Indonesia banyak mengalami kendala kosakata pada saat menggunakan layanan transportasi umum sehingga membutuhkan kamus kesintasan bertema transportasi dan jenis kamus yang mereka butuhkan adalah jenis kamus digital, rancangan awal kamus dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dengan pengembangan lema kesintasan tema transportasi berbantuan aplikasi digital Android dengan fitur gambar dilengkapi dengan penjelasan dan contoh kalimat, percakapan, dan suara.Kata Kunci: Analisis kebutuhan; Handai Indonesia; kesintasan; kamus tematik kesintasan
Implementation of peace-love character development in elementary schools Sendi Fauzi Giwangsa; Bunyamin Maftuh; Mamat Supriatna; I Ilfiandra
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.61418

Abstract

The persistence of both physical and verbal violence in schools serves as the driving force for this study. Additionally, the teacher's efforts have not been the best in helping the elementary school pupils cultivate a spirit of harmony and nationalism. This study evaluates efforts to instill a love of peace in primary school kids. Utilizing a qualitative approach, this investigation. Interviews, questionnaires, and observational instructions were the instruments employed. According to the research's findings, activities in the classroom, extracurricular activities, and school culture all contribute to developing a peace-loving character in primary school pupils. Classroom activities include incorporating peace-loving values into studies through teaching and learning activities. Extracurricular activities such as scouting, choirs, and martial arts help build peace-loving character development outside the classroom. The developed school culture comprises example behavior from all school stakeholders, habituation, spontaneous activities, and conditioning. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyak ditemukannya kasus kekerasan di sekolah, baik itu kekerasan fisik atau verbal. Selain itu belum optimalnya upaya guru dalam mengembangkan karakter cinta damai dan nasionalisme bagi siswa sekolah dasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis upaya mengimplemntasikan karakter cinta damai bagi siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu kuisioner, pedoman observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pengembangan karakter cinta damai bagi siswa sekolah dasar dilakukan melalui kegiatan di dalam kelas melalui pembelajaran, kegiatan di luar kelas, serta budaya sekolah. Kegiatan di dalam kelas dilakukan melalui mengintegrasikan nilai-nilai cinta damai dalam mata pelajaran melalui kegiatan belajar mengajar. Pengembangan karakter cinta damai melalui kegiatan diluar kelas dilaksanakan melalui berbagi kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka, paduan suara serta pencak silat. Adapun budaya sekolah yang dilakukan untuk mengembangkan budaya sekolah diantaranya yaitu keteladanan dari seluruh stakeholder sekolah, pembiasaan, kegiatan spontan dan pengkondisian.Kata Kunci: Karakter cinta damai; pendidikan cinta damai; siswa sekolah dasar
Diversified curriculum design based on the potential of the archipelago area K. Kasman
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64149

Abstract

Through the diversity curriculum, local education units are expected to adjust, expand, and deepen competence through learning adapted to local and school potential, and the talents and interests of learners. However, in doing so, the diversification curriculum has not been implemented properly. Based on field studies conducted, it was found that there were some teachers who did not understand the diversification curriculum and students who did not recognize the potential of the archipelago area in several aspects. The study aimed to design a diversified curriculum based on the potential islands in south Sulawesi. The method used in the study was design and development for the findings that researchers have successfully obtained of a diversified curriculum design product based on the potential archipelago area. The design of the diversification curriculum is designed to consider two things: the framework for diversifying the design of the curriculum refers to the 2013 curriculum framework, the national education goals and national standards of education and the local content curriculum plans follow the micro curriculum steps. The study suggested local government support and a need for curriculum developers that could facilitate schools in diversified curriculum development.  AbstrakMelalui kurikulum diversifikasi diharapkan bahwa satuan pendidikan di daerah dapat menyesuaikan, memperluas, dan memperdalam kompetensi melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan potensi daerah dan sekolah, serta bakat dan minat peserta didik. Namun dalam pelaksanaannya, kurikulum diversifikasi belum dijalankan sebagaimana mestinya. Berdasarkan studi lapangan yang dilakukan ditemukan bahwa terdapat sebagian guru yang belum memahami kurikulum diversifikasi, dan siswa yang tidak mengenal potensi daerah kepulauan pada beberapa aspek. Atas permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana mendesain kurikulum diversifikasi berdasarkan potensi daerah kepulauan di Sulawesi Selatan. Sekaligus merupakan upaya peneliti mengisi celah studi penelitian terdahulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa penelitian Design and Development (DD). Adapun temuan yang berhasil diperoleh peneliti berupa produk desain kurikulum diversifikasi berdasarkan potensi daerah kepulauan. Desain kurikulum diversifikasi ini dirancang dengan mempertimbangkan dua hal yaitu kerangka pengembangan desain kurikulum diversifikasi mengacu pada kerangka kurikulum 2013, Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan rancangan kurikulum mata pelajaran muatan lokal mengikuti langkah-langkah perancangan kurikulum mikro. Penelitian ini menyarankan adanya dukungan pemerintah daerah dan diperlukan tenaga pengembang kurikulum (TPK) yang dapat memfasilitasi sekolah dalam pengembangan kurikulum diversifikasi.Kata Kunci: Desain kurikulum; kurikulum diversifikasi; potensi daerah kepulauan
Analysis of the teacher's difficulties in the preparation of teaching modules Kurikulum Merdeka in elementary school Septi Yulaehah; Ratnasari Diah Utami
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.64464

Abstract

The year 2023 is the second year of the implementation of Kurikulum Merdeka, but teachers are still unfamiliar with the curriculum transition. The purpose of this study is to find out which parts of the teacher have difficulty in compiling teaching modules and how efforts to overcome the challenges in compiling teaching modules. The method used is descriptive qualitative. The data source is selected by purposive sampling. The subject of this research is teachers who implement Kurikulum Merdeka, and the object is the teacher's difficulty in preparing the Kurikulum Merdeka teaching module. The data collection technique uses observation, interview, and documentation study methods. The data validity technique uses data and source triangulation techniques. The data analysis technique uses Milles & Huberman's interactive analysis model, which includes the stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. This study's results indicate teacher difficulties in preparing teaching modules, namely, analyzing the conditions and needs of students, ATP analysis, determining time allocations, learning models and methods, learning objectives, meaningful understanding, and assessment. Efforts made by teachers in overcoming difficulties, namely, observation, asking about activities and learning that students like, discussing with peers, looking for references on the internet, opening an independent teaching platform, adjusting student needs and predicting the duration of activities, and targeting time for doing assignments. Abtsrak Tahun 2023 merupakan tahun kedua diimplementasikannya Kurikulum Merdeka, namun guru masih belum terbiasa dengan adanya peralihan kurikulum tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pada bagian mana guru kesulitan dalam menyusun modul ajar dan bagaimana upaya untuk mengatasi kesulitan dalam menyusun modul ajar. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif, sumber data dipilih secara purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah guru yang menerapkan Kurikulum Merdeka, dan objeknya adalah kesulitan guru dalam penyusunan modul ajar Kurikulum Merdeka. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data dan sumber. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Milles dan Huberman yang meliputi tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesulitan guru dalam menyusun modul ajar yakni; menganalisis kondisi dan kebutuhan peserta didik, analisis ATP, menentukan alokasi waktu, model dan metode pembelajaran, tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna, asesmen. Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi kesulitan yakni; observasi, menanyakan kegiatan dan pembelajaran yang disukai peserta didik, berdiskusi dengan teman sejawat, mencari referensi di internet, membuka platform merdeka mengajar, menyesuaikan kebutuhan murid dan memprediksi lama durasi kegiatan, menentukan target waktu mengerjakan tugas. Kata Kunci: Kesulitan guru; kurikulum merdeka; modul ajar; sekolah dasar
Development of authentic assessment of 21st-century skills in Kurikulum Merdeka Neneng Widya Sopa Marwa; Pajar Reza Pitria; Faisal Madani
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.67273

Abstract

Kurikulum Merdeka has impacted educational progress in Indonesia, and authentic assessments are needed to ensure holistic and relevant evaluation of student learning progress. This research aims to analyze the importance of developing authentic assessments of 21st-century skills in implementing Kurikulum Merdeka in elementary schools. This research method uses the Systematic Literature Review (SLR) research method; the SLR stages consist of planning, implementation, and reporting. After searching on Google Chrome and the Google Scholar site, 24 articles were obtained relating to the discussion of authentic assessment of 21st-century skills in Kurikulum Merdeka in elementary schools. The 24 articles were then analyzed based on the criteria for determining the quality of the study material so that ten articles were obtained. Based on the results of the criteria analysis. The analysis involved identifying 21st-century skills essential to developing and understanding the benefits and challenges of implementing authentic assessment in learning. The results of this research show that the development of authentic assessment has an essential role in learning in elementary schools. Authentic assessment allows assessments that involve the application of students' knowledge and skills in real-life situations, creating a close connection between school learning and everyday life. AbstrakKurikulum Merdeka telah memberikan dampak terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, pengembangan asesmen otentik diperlukan untuk memastikan evaluasi yang holistik dan relevan terhadap kemajuan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mengenai pentingnya mengembangkan asesmen autentik keterampilan abad 21 dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian Systematic Literature Review (SLR), tahapan SLR tersendiri terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan. Setelah melakukan pencarian pada google chrome dan situs google scholar, diperoleh 24 artikel yang berkaitan dengan bahasan asesmen autentik keterampilan abad 21 pada Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. 24 artikel tersebut kemudian dianalisis berdasarkan kriteria penentuan kualitas bahan kajian sehingga diperoleh 10 artikel. berdasarkan hasil analisis kriteria. Analisis tersebut melibatkan identifikasi keterampilan abad 21 yang penting untuk dikembangkan, serta pemahaman tentang manfaat dan tantangan asesmen autentik dalam pembelajaran. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan pengembangan asesmen autentik memiliki peranan penting dalam pembelajaran di sekolah dasar. Asesmen autentik memungkinkan penilaian yang melibatkan aplikasi pengetahuan dan keterampilan siswa dalam situasi kehidupan nyata, menciptakan hubungan yang erat antara pembelajaran di sekolah dengan kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: Asesmen autentik; pendidikan abad 21; kurikulum merdeka
Repackaging the Indonesiana collection as a transformation of digital learning resources Dini Suhardini; Isma Anggini Saktiani; Lisna Nurhalisma
Inovasi Kurikulum Vol 20, No 2 (2023): Inovasi Kurikulum, August 2023
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v20i2.61127

Abstract

Collections are the main element to meet the information needs of college library users. One of the collections owned is the Indonesianna collection, which is a collection about Indonesia covering culture, arts, customs, and literature. This collection is not only presented in printed form but also in digital display, which is the result of repackaging with the hope that the digital form of the Indonesiana collection can be used as a digital learning resource and can make it easier for users to utilize the information contained in the collection. This research aims to discover the process of repackaging Indonesian collections as a form of transformation of digital learning resources in the UPI Library. This study used a qualitative descriptive method with data collection methods through interview techniques and literature study. Repackaging activities through media transfer from print to digital format so that it is easily accessible and avoids loss of information content. There are 2,505 Indonesiana collections in the UPI Library, but not all collections have been repackaged in digital format. The stages of repackaging the Indonesiana collection at the UPI Library include collection selection/selection, receiving and checking, data recapitulation/analysis, scanning (formatting), and uploading the scanned results as a product. To ease information retrieval for digital format, the patrons can access the Indonesiana collection through E-Lib UPI. AbstrakKoleksi menjadi unsur utama untuk memeuhi kebutuhan informasi pemustaka perpustakaan perguruan tinggi. Salah satu koleksi yang dimiliki adalah koleksi Indonesiana yaitu koleksi tentang Indonesia meliputi, budaya, seni, adat istiadat dan kesusastraan. Koleksi ini tidak hanya disajikan dalam bentuk cetak tetapi juga tampilan digital yang merupakan hasil repackaging dengan harapan bentuk digital dari koleksi Indonesiana ini dapat digunakan sebagai sumber belajar digital serta dapat mempermudah pemustaka dalam memanfaatkan informasi yang terkandung didalam koleksi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses repackaging koleksi Indonesia sebagai wujud transformasi sumber belajar digital di Perpustakaan UPI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui teknik wawancara serta studi pustaka. Kegiatan repackaging melalui alih media dari format cetak ke digital agar mudah diakses dan terhindar dari hilangnya kandungan informasi di dalamnya. Koleksi Indonesiana yang ada di Perpustakaan UPI saat ini berjumlah 2.505 judul tapi belum semua koleksinya di repackaging dalam format digital. Tahapan repackaging koleksi Indonesiana di Perpustakaan UPI meliputi kegiatan pemilihan/seleksi koleksi, penerimaan dan pengecekan, merekap data/analisis, scanning (alih format), melakukan unggah hasil scan sebagai produk. Untuk memudahkan penelusuran format digital, akses dilakukan dalam E-Lib UPI.Kata Kunci: E-Lib UPI; kemas ulang informasi; koleksi Indonesiana; sumber belajar digital; transformasi digital
Teacher performance in carrying out duties as curriculum developers in schools L. Lukman; N. Nurhayati
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63517

Abstract

The research aims to determine the competency and performance of Mataram City MTsN 1 teachers in planning, implementing, and evaluating the Merdeka curriculum. The research method used is qualitative. The research location is MTs Mataram City, Mataram City State. The data collection techniques used were observation, interviews, and documentation studies. The research results concluded that teachers' performance in carrying out their duties as curriculum developers generally showed performance in their role as educators. Factors that support teacher performance in carrying out their responsibilities as curriculum developers are the quality of the principal's leadership, teacher educational background, teacher welfare level, school environment, and facilities and infrastructure. Efforts are being made to improve teacher performance, namely empowering teacher development platforms, such as MGMP, providing opportunities for teachers to take part in higher education at state universities and private universities, as well as through various training activities, upgrading, workshops, seminars, improving teacher welfare, the role of supervisors, completing the facilities and infrastructure needed by teachers in carrying out teaching and learning process activities. Recommendations from the results of this research are addressed to school principals, teachers, and future researchers. AbstrakTujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi dan kinerja guru MTsN 1 Kota Mataram dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum Merdeka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di MTs Kota Mataram Negeri Kota Mataram. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa kinerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pengembang kurikulum secara umum sudah memperlihatkan kinerja yang sesuai dengan perannya selaku pendidik. Faktor-faktor yang mendukung kinerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pengembang kurikulum adalah kualitas kepemimpinan kepala sekolah, latar belakang pendidikan guru, tingkat kesejahteraan guru, lingkungan sekolah, dan sarana dan prasarana. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru yaitu memberdayakan wadah-wadah pembinaan guru, seperti MGMP, memberi kesempatan kepada guru untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi di Perguruan Tinggi Negeri dan di Perguruan Tinggi Swasta, maupun melalui berbagai kegiatan pelatihan, penataran, lokakarya, seminar, peningkatan kesejahteraan guru, peran pengawas, melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Rekomendasi dari hasil penelitian ini ditujukan kepada, kepala sekolah, guru, serta peneliti selanjutnya.Kata Kunci: Kinerja guru; pengembang kurikulum; pengembangan kurikulum; sekolah