cover
Contact Name
Choiril Anwar
Contact Email
choirilanwar@unissula.ac.id
Phone
+6281931704317
Journal Mail Official
abdimasku@unissula.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kaligawe Km 4 Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran
ISSN : -     EISSN : 2809915X     DOI : http://dx.doi.org/10.30659/abdimasku
Core Subject : Health,
Jurnal ABDIMAS-KU: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran is a peer-reviewed journal that includes the study of the development and application of science and technology aimed at publishing the results of community service activities in the field of: 1. Human resource development in medical and health 2. Community empowerment in medical and health 3. Rural health development 4. Health promotion 5. Technology application in medical and health 6. Business application in medical and health
Articles 77 Documents
Story Time Interaktif sebagai Alternatif Program Stimulasi untuk Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus Nopi Nur Khasanah; Indra Tri Astuti; Kurnia Wijayanti; Herry Susanto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.108-120

Abstract

Anak berkebutuhan khusus sering mengalami hambatan interaksi sosial yang memerlukan stimulasi terstruktur, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik belajar anak. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak berkebutuhan khusus melalui story time interaktif di SLB Bina Putra Salatiga. Kegiatan dilaksanakan pada 26 siswa dan 9 guru melalui penyusunan modul, validasi media, pelatihan guru, serta empat sesi implementasi kelas. Validitas isi media oleh tiga pakar menunjukkan skor rerata 0,93. Pemahaman guru meningkat dari rerata 58,33 menjadi 96,67. Keterlibatan aktif anak selama sesi mencapai 84,62%. Rerata skor interaksi sosial anak meningkat dari 21,12 menjadi 26,03 atau naik 23,32% setelah intervensi. Program ini menunjukkan bahwa story time interaktif dapat menjadi alternatif stimulasi sosial yang aplikatif, disukai anak, dan berpotensi dilanjutkan oleh sekolah.Children with special needs often experience social interaction difficulties that require structured, enjoyable, and developmentally appropriate stimulation. This community service program aimed to improve social interaction skills through interactive story time at SLB Bina Putra Salatiga. The program involved 26 students and 9 teachers through module development, media validation, teacher training, and four classroom implementation sessions. Content validity assessed by three experts showed a mean score of 0.93. Teachers’ knowledge increased from a mean score of 58.33 to 96.67. Active student engagement during the sessions reached 84.62%. The mean social interaction score increased from 21.12 to 26.03, representing a 23.32% improvement after the intervention. These findings indicate that interactive story time is a feasible and engaging social stimulation strategy and has good potential for continued implementation by the partner school.
Edukasi Kesehatan Rahim dan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Wanita Usia Subur Rahayu Rahayu; Masfiyah Masfiyah; Dina Fatmawati; Stefani Harumsari; Suryani Yuliyanti; Dewi Intisari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.64-71

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada wanita usia subur, terutama di negara berkembang, akibat rendahnya tingkat pengetahuan dan partisipasi dalam deteksi dini. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memberdayakan wanita usia subur melalui edukasi kesehatan rahim dan promosi deteksi dini kanker serviks. Kegiatan pengabdian meliputi penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, serta pemeriksaan sekret vagina, IVA, dan HPV DNA secara gratis bekerja sama dengan IBL FK Unissula dan Puskesmas Pandanaran Semarang. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Puskesmas Pandanaran Semarang pada tanggal 12 dan 21 Agustus 2025 melibatkan 46 wanita usia subur dengan latar belakang usia dan pendidikan yang beragam. Setelah mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi dan deteksi dini kanker serviks, seluruh peserta mengikuti pemeriksaan IVA, sekret vagina, dan HPV DNA. Hasil pemeriksaan menunjukkan 43,2% peserta IVA positif, 60,8% mengalami infeksi bakteri atau jamur, dan 47,7% terdeteksi positif HPV DNA. Kegiatan ini berhasil meningkatkan partisipasi dan kesadaran peserta dalam deteksi dini serta memberikan gambaran status kesehatan reproduksi wanita usia subur di wilayah tersebut. Edukasi kesehatan rahim dan deteksi dini kanker serviks secara berkelanjutan dapat meningkatkan pemberdayaan wanita usia subur, menurunkan hambatan partisipasi, dan berpotensi menurunkan angka kejadian kanker serviks di masyarakat.
Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Siswa SMA terhadap Kesehatan Reproduksi setelah Edukasi Kesehatan Seksual di SMA Karang Turi Semarang Denys Putra Alim; Gladys Adipranoto; Rosalyn Devina Santoso; Dhea Medisika Hertanti; Debby Victoria Arief; Purwakaning Purnomo Agung
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.72-83

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi akibat keterbatasan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang tepat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi setelah diberikan edukasi kesehatan seksual di SMA Karang Turi Semarang. Pengabdian masyarakat ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan one post-test only. Responden berjumlah 70 siswa, terdiri dari 35 siswa laki-laki dan 35 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan reproduksi. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden berada pada kategori sedang hingga baik dengan nilai rerata 65,71 dan median 70, meskipun masih ditemukan miskonsepsi terkait penularan HIV dan rendahnya pengetahuan mengenai vaksinasi HPV. Sikap responden terhadap kesehatan reproduksi secara umum menunjukkan kecenderungan positif, terutama pada pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi dan pendidikan seksual sejak remaja. Namun demikian, perilaku pencegahan kesehatan reproduksi belum sepenuhnya optimal, terutama pada penggunaan kondom dan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Kesimpulannya, edukasi kesehatan seksual memberikan gambaran bahwa siswa memiliki pengetahuan yang cukup baik dan sikap yang positif, namun belum sepenuhnya diikuti oleh perilaku yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan edukasi kesehatan seksual yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mendorong perubahan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja.Adolescents are a vulnerable age group to reproductive health problems due to limited knowledge, attitudes, and appropriate behaviors. This community service activity aimed to describe students’ knowledge, attitudes, and behaviors regarding reproductive health after receiving sexual health education at SMA Karang Turi Semarang. This activity used a descriptive design with a one post-test only approach. A total of 70 students participated, consisting of 35 male and 35 female students. Data were collected using a questionnaire covering aspects of knowledge, attitudes, and reproductive health behaviors. The results showed that the respondents’ level of knowledge ranged from moderate to good, with a mean score of 65.71 and a median of 70. However, misconceptions regarding HIV transmission and low awareness of HPV vaccination were still identified. Overall, students’ attitudes toward reproductive health were generally positive, particularly regarding the importance of maintaining reproductive organ hygiene and the need for sexual education from adolescence. Nevertheless, preventive reproductive health behaviors were not yet optimal, especially in terms of condom use and routine reproductive health check-ups. In conclusion, sexual health education provides an overview that students have fairly good knowledge and positive attitudes; however, these are not yet fully reflected in optimal behaviors. Therefore, more comprehensive and sustainable sexual health education is needed to promote behavioral changes in adolescent reproductive health.
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) sebagai Upaya Mengurangi Keluhan Psikosomatik pada Lansia di Panti Wreda Iskim Luthfa; Nopi Nur Khasanah; Sri Wahyuni; Dwi Heppy Rochmawati; Erna Melastuti; Moch Aspihan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.84-91

Abstract

Lansia yang tinggal di Panti Wreda merupakan kelompok rentan yang sering mengalami keluhan psikosomatik akibat tekanan emosional, kesepian, dan keterbatasan dukungan sosial serta spiritual. Keluhan tersebut meliputi gangguan tidur, nyeri tanpa sebab medis yang jelas, kelelahan, dan kecemasan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) sebagai upaya mengurangi keluhan psikosomatik pada lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan 20 lansia, melalui tahapan pengkajian, perencanaan, pelatihan, pendampingan, serta evaluasi. Intervensi SEFT dilaksanakan selama empat minggu dalam bentuk edukasi, latihan tapping, afirmasi spiritual, dan praktik mandiri dengan pendampingan caregiver. Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan intensitas dan frekuensi keluhan psikosomatik, terutama gangguan tidur, nyeri otot, kelelahan, dan kecemasan. Lansia juga melaporkan perasaan lebih tenang, rileks, dan mampu mengelola emosi secara lebih adaptif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa SEFT merupakan intervensi non-farmakologis yang sederhana, aman, dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan emosional dan spiritual lansia di Panti Wreda.Older adults living in nursing homes are a vulnerable population who frequently experience psychosomatic complaints resulting from emotional distress, loneliness, and limited social and spiritual support. These complaints commonly include sleep disturbances, pain without clear medical causes, fatigue, and anxiety. This community service activity aimed to implement the Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) as an effort to reduce psychosomatic complaints among older adults at Pucang Gading Nursing Home, Semarang. The program employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving 20 older adults through stages of assessment, planning, training, mentoring, and evaluation. The SEFT intervention was conducted over four weeks and included education, tapping exercises, spiritual affirmations, and independent practice with caregiver assistance. The results demonstrated a reduction in the intensity and frequency of psychosomatic complaints, particularly sleep disturbances, muscle pain, fatigue, and anxiety. Participants also reported feeling calmer, more relaxed, and better able to manage their emotions adaptively. This activity indicates that SEFT is a simple, safe, and effective non-pharmacological intervention for enhancing the emotional and spiritual well-being of older adults in nursing homes.
Pelatihan dan Edukasi Manfaat Minyak Atsiri dan Pembuatan Anti-repellent bagi Siswa SMA Ika Buana Januarti; Laily Mega Rahmawati; Muhammad Ali Maksum
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.92-98

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis memiliki permasalahan tingginya populasi nyamuk yang berpotensi menyebarkan penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), sehingga edukasi terkait penggunaan bahan alami sebagai repelan menjadi penting. Minyak atsiri diketahui memiliki kandungan sitronellal, geraniol dan citronella yang bersifat sebagai anti-repellent. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi sains terapan kepada siswa SMA melalui praktik pembuatan parfum EDT dari bahan baku minyak atsiri sereh wangi, adas dan nilam. Tahap  kegiatan pengabdian antara lain persiapan sarana prasarana, edukasi dan pelatihan pembuatan produk anti-repellent diakhiri pendampingan, monitoring serta evaluasi hasil kegiatan kepada siswa. Evaluasi kegiatan diukur melalui peningkatan pemahaman dari hasil kuesioner pretest dan postest. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa pemahaman siswa meningkat pada kategori sangat baik dari 86,5% ke 100% setelah edukasi dan praktik pembuatan parfum.Indonesia as a tropical country has a problem with a high mosquito population that has the potential to spread diseases such as Dengue Fever (DHF), so education regarding the use of natural ingredients as repellents is important. Essential oils are known to contain citronellal, geraniol and citronella which have anti-repellent properties. The purpose of this community service activity is to increase applied science literacy for high school students through the practice of making EDT perfume from essential oils of citronella, fennel and patchouli. The stages of the community service activity include preparation of infrastructure, education and training in making anti-repellent products, ending with mentoring, monitoring and evaluation of the results of the activity for students. Evaluation of the activity is measured through increased understanding from the results of the pretest and posttest questionnaires. The results of the community service activity show that students' understanding increased in the very good category from 86.5% to 100% after education and practice in making perfume.
Pencegahan, Pengendalian Kecacingan dan Deteksi Dini Anemia Anak di Dusun Hurnaladua dan Rupaitu Negeri Tulehu Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2025 Theresia Natalia Seimahuira; Elpira Asmin; Nathalie Elischeva Kailola; Ritha Tahitu; Christiana Rialine Titaley; Josepina Mainase; Michelle Wilda Pattiwaellapia; Anggita Rumata; Tiara Dewi Prawira; Zechaniah Marciela Maelissa; Thristy Tandililing; Ayu Lestari; Siti Nur Aisyah Sehol; Mahajum Tuakia; Muhammad Uly Algiffari Hasibuan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.99-107

Abstract

Penyakit kecacingan dan anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada anak usia dini. Kedua kondisi ini saling berkaitan karena infeksi cacing dapat mengganggu penyerapan zat besi, yang berujung pada anemia. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan informasi kepada ibu yang memiliki anak mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit kecacingan dan anemia, serta melakukan deteksi dini anemia pada anak di Dusun Hurnaladua dan Rupaitu, Negeri Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah. Metode: Kegiatan dilakukan pada 23 September 2025 dengan sasaran 47 anak (bayi 0–11 bulan dan balita 12–59 bulan). Metode pelaksanaan mencakup penyuluhan kesehatan mengenai sanitasi, kebersihan diri, pencegahan infeksi kecacingan pada ibu, serta pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) menggunakan alat Hemocue. Ibu yang memiliki anak dengan anemia ringan mendapat konseling gizi, sedangkan anemia sedang–berat dirujuk ke puskesmas. Hasil: Dari 47 anak, 20 (42,55%) laki-laki dan 27 (57,45%) perempuan; 38 (80,43%) berusia 12–59 bulan. Hasil pemeriksaan menunjukkan 21 anak (44,68%) mengalami anemia ringan, dan 26 anak (55,32%) memiliki kadar Hb normal. Kegiatan edukasi memberikan informasi kepada ibu-ibu mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kesimpulan: Program edukasi, pemeriksaan anemia, dan pemberian obat cacing massal efektif meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecacingan dan anemia. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkala untuk menurunkan prevalensi kedua penyakit ini di wilayah endemikWorm infections and anaemia remain public health issues in Indonesia, particularly among young children. These two conditions are interlinked because worm infections can interfere with iron absorption, leading to anaemia. Objective: This initiative aims to provide education and information to mothers with children regarding the prevention and control of parasitic worm infections and anaemia, as well as to conduct early detection of anaemia in children in the hamlets of Hurnaladua and Rupaitu, Tulehu Village, Central Maluku Regency. Methods: The activity was conducted on 23 September 2025, targeting 47 children (infants aged 0–11 months and toddlers aged 12–59 months). The implementation methods included health education on sanitation, personal hygiene, and the prevention of worm infections in mothers, as well as haemoglobin (Hb) level testing using the Hemocue device. Mothers with children suffering from mild anaemia received nutritional counselling, whilst those with moderate–severe anaemia were referred to the community health centre. Results: Of the 47 children, 20 (42.55%) were male and 27 (57.45%) were female; 38 (80.43%) were aged 12–59 months. The examination results showed that 21 children (44.68%) had mild anaemia, and 26 children (55.32%) had normal Hb levels. The educational activities provided information to mothers regarding clean and healthy living practices, as well as the importance of regular health check-ups. Conclusion: The educational programme, anaemia screening, and mass deworming were effective in raising community awareness of the importance of preventing intestinal worm infections and anaemia. Similar activities need to be carried out periodically to reduce the prevalence of these two diseases in endemic areas.
Edukasi Diet dan Skrining Obesitas pada Lansia dan Keluarga di Dusun III Desa Kutalimbaru Sarah Zahra Lubis; Huwainan Nisa Nasution; Keizha Feleina Rumondang Sitompul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 2 (2026): May 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.2.55-63

Abstract

Obesitas pada lansia merupakan masalah kesehatan yang terus meningkat akibat penurunan metabolisme, kurangnya aktivitas fisik, dan rendahnya pemahaman tentang pola makan seimbang. Di Dusun III Desa Kutalimbaru, masih ditemukan keterbatasan pengetahuan lansia dan keluarga terkait obesitas serta pemantauan status gizi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran lansia serta keluarga lansia melalui edukasi diet dan skrining obesitas. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan melalui penyuluhan mengenai obesitas dan pola makan seimbang, serta skrining status gizi dengan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Kegiatan dilaksanakan pada peserta lansia dan keluarga lansia di Dusun III Desa Kutalimbaru. Hasil menunjukkan bahwa rerata IMT pada kelompok usia 18–30 tahun sebesar 29,19 kg/m² (obesitas tingkat I) dan pada usia 45–60 tahun sebesar 35,64 kg/m² (obesitas tingkat II). Pada lansia, rerata IMT sebesar 24,04 kg/m² (overweight) dengan distribusi 2 orang IMT normal, 3 orang overweight, dan 3 orang obesitas tingkat I, dengan mayoritas terjadi pada perempuan. Kesimpulannya, prevalensi obesitas pada lansia dan keluarga lansia di Dusun III Desa Kutalimbaru masih tinggi. Diperlukan upaya berkelanjutan berupa edukasi gizi, peningkatan aktivitas fisik, dan skrining rutin untuk mencegah komplikasi akibat obesitas.Obesity in older adults is an increasing health problem due to decreased metabolism, lack of physical activity, and limited understanding of balanced nutrition. In Dusun III, Kutalimbaru Village, older adults and their families still have insufficient knowledge regarding obesity and nutritional status monitoring. This community service activity aimed to improve knowledge and awareness of older adults and their families through dietary education and obesity screening. The methods included health education through counseling on obesity and balanced diet, as well as nutritional status screening using Body Mass Index (BMI) measurements. The activity involved older adults and their family members in Dusun III, Kutalimbaru Village. The results showed that the mean BMI in the 18–30 age group was 29.19 kg/m² (obesity class I), while in the 45–60 age group it was 35.64 kg/m² (obesity class II). Among older adults, the mean BMI was 24.04 kg/m² (overweight), with distribution of 2 individuals having normal BMI, 3 overweight, and 3 obesity class I, predominantly in females. In conclusion, the prevalence of obesity among older adults and their families in Dusun III, Kutalimbaru Village remains high. Continuous efforts such as nutrition education, promotion of physical activity, and routine screening are needed to prevent obesity-related complications.