cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 2,161 Documents
DISTRIBUSI UKURAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG DIDARATKAN DI DESA KUBU Supriadi, Abang Reza; Padmarsari, F.X. Widadi; Anzani, Yunita Magrima
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.105988

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi dan banyak diminati masyarakat, termasuk di kawasan PT. Kandelia Alam, Desa Kubu. Kegiatan pemanfaatan yang dilakukan secara intensif mempengaruhi kondisi populasinya. Oleh karena itu, diperlukan kajian distribusi ukuran sebagai informasi dasar pengelolaan kepiting bakau yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada Agustus – Oktober 2025. Tujuan penelitian untuk menganalisis parameter distribusi ukuran. Pemilihan nelayan menggunakan metode purposive sampling sebanyak 10% dari populasi. Kepiting hasil tangkapan nelayan diamati secara sensus, diukur lebar karapas dan beratnya, lalu dianalisis menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan sebaran frekuensi lebar karapas kepiting jantan berkisar 60 – 151 mm, dengan berat berkisar 89 – 854 g, sedangkan betina berkisar 61 – 142 mm, dengan berat 94 – 495 g. Nisbah kelamin kepiting bakau menggambarkan tidak seimbang (2,81:1). Perlu adanya upaya pengelolaan dan penangkapan yang selektif di perairan Desa Kubu
EVALUASI SENSORI ES KRIM YANG DISUPLEMENTASI KOMBUCHA LIANG TEH PONTIANAK DENGAN SARI JERUK SAMBAL (Citrus microcarpa Bunge) Wei, A; Dewi, Yohana Sutiknyawati Kusuma; Sholahuddin, Sholahuddin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.106523

Abstract

Es krim merupakan makanan penutup beku yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Seiring meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat, konsumen cenderung memilih produk pangan yang tidak hanya lezat dan menarik, tetapi juga memiliki manfaat fungsional bagi kesehatan. Penambahan bahan alami kaya antioksidan seperti kombucha liang teh Pontianak sari jeruk sambal berpotensi meningkatkan nilai fungsional es krim. Oleh karena itu, evaluasi sensori es krim suplementasi kombucha liang teh Pontianak sari jeruk sambal perlu dilakukan sebagai dasar pengembangan es krim fungsional yang tetap memenuhi preferensi sensori konsumen. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor, yaitu suplementasi kombucha Liang Teh Pontianak sari jeruk sambal dengan enam taraf perlakuan (0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%) dan empat ulangan. Uji sensori dilakukan secara deskriptif dengan skala 1–5 terhadap atribut warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan menggunakan 30 panelis. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi kombucha liang teh Pontianak sari jeruk sambal meningkatkan intensitas warna kekuninggan, lebih beraroma kombucha, rasa lebih asam, namun menurunkan tekstru es krim menjadi agak kasar. Es krim suplementasi 15% paling disukai. Penelitian ini menukkan bahwa kombucha liang teh Pontianak sari jeruk sambal masih dapat diterima oleh konsumen.  
PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH IKAN TERHADAP EFEKTIVITAS PEMUPUKAN PADA TANAMAN KEDELAI DI TANAH GAMBUT Zahara, Syarifah Anita; Sasli, Iwan; Sirojul, Ahmad Mulyadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 2 No. 2: Agustus 2013
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v2i2.2494

Abstract

Tanah gambut sebagai medium tumbuh tanaman dibatasi sifat gambut yang masam, kejenuhan basa rendah, kadar P, K dan Ca rendah, sehingga perlu upaya untuk membuat gambut siap digunakan untuk budidaya kedelai. . Sementara itu secara fisik tanah gambut bersifat lebih berpori dibandingkan tanah mineral sehingga hal ini akan mengakibatkan cepatnya pergerakan air pada gambut yang belum terdekomposisi dengan sempurna sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman sangat terbatas. Pemberian limbah ikan dan penambahan pupuk N, P, K merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah ikan terhadap efektivitas pemupukan pada tanaman kedelai di tanah gambut. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial, terdiri dari 2 faktor perlakuan dengan 5 taraf perlakuan dan 2 taraf perlakuan dengan 3 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 3 sampel. Variabel yang diamati adalah volume akar, jumlah bintil akar, jumlah polong isi, berat biji kering, dan berat kering tanaman. Pemberian limbah ikan memberikan pengaruh nyata bagi jumlah bintil akar, jumlah polong, berat biji kering, dan berat kering tanaman, sedangkan perlakuan pemupukan N, P, K, memberikan pengaruh nyata pada volume akar, jumlah bintil, dan berat kering tanaman. Kata kunci: Gambut, Kedelai, Limbah ikan, Pupuk N, P, K.
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KAILAN TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK KASCING PADA TANAH ALUVIAL tikno, su; Hadijah, Siti; Susana, Rini
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4437

Abstract

Kailan merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari konsumen dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Penanaman kailan pada tanah aluvial dihadapkan pada sejumlah kendala, yaitu tingkat kemasaman tanah tinggi, struktur tanah yang kurang baik, dan kandungan bahan organik rendah. Salah satu jenis pupuk organik untuk mengatasi masalah ini adalah pupuk kascing. Pupuk kascing adalah pupuk yang berasal dari bahan organik yang telah divermi kompos oleh cacing tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik pupuk kascing terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kailan pada tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor, terdiri dari 6 taraf perlakuan, dan 4 kali ulangan. Penelitian dilakukan pada bedengan berukuran 100cm x 100 cm, sehingga terdapat 24 bedengan. Setiap bedengan terdiri dari 16 tanaman, sehingga jumlah tanaman keseluruhan adalah 384 tanaman kailan. Perlakuan pupuk kascing yang digunakan adalah pada dosis 0 ton/ha, 5 ton/ha, 10 ton/ha, 15 ton/ha, 20 ton/ha, dan 25 ton/ha. Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, volume akar, bobot kering tanaman, dan produksi per bedengan. Pemberian pupuk kascing pada tanah aluvial berpengaruh nyata pada variabel bobot segar tanaman, volume akar, dan bobot kering tanaman, namun berpengaruh tidak nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, dan produksi per bedengan. Pemberian kascing pada tanah aluvial dengan dosis 20 ton/ha adalah dosis terbaik pada penelitian ini. Kata kunci : Aluvial, Kailan, Kascing
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG PADA TANAH ALUVIAL Lestari, Sri; Zulfita, Dwi; Maulidi, Maulidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 2: Agustus 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i2.4457

Abstract

This research aimed to know the effect of the concentration of liquid organic seedto the growth and result of eegplant on alluvial soil. The research uses acompletely randomized design (CRD) the consint of 5 treatments and eachtreatments is repeated 5 times and replication consint of 3 plant samples. Thetreatment consist of POC 0,2 % (A), POC 0,3 % (B), 0,4 % (C), 0,5 % (D), 0,6 %(E). Observed variabels in this research are plant dry weight (g), days toflowering (HST), the number of flower each plant (bud), flower become fruitpercentege (%), number of fruits each plant (fruit), fruit weight each plant (g),number of fruit each plot (fruit). The results of this research shows the treatmeantgives significant effect on all the research variables. Concentration of 0,2 % produces the best growth and result to the variable plant dry weight, percentageof flowers into fruits, the number of fruits each plant, the number of number offruit each plot and fruit weight.Keywords: Concentration, Liquid Organic Seed (LOS), Eggplant, Alluvial soil
PENGARUH GEL Aloe vera PADA MEDIA DASAR VACINT DAN WENT TERHADAP PERTUMBUHAN SUBKULTUR ANGGREK Dendrobium spectabille Januardi, Januardi; Siregar, Chairani; Purwaningsih, Purwaningsih
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4558

Abstract

Anggrek merupakan jenis tanaman hias yang diminati oleh masyarakat salah satunya adalah Dendrobium spectabille yang merupakan jenis asli dari Indonesia tepatnya di Papua. Subkultur adalah transfer planlet dari media satu ke media lainnya dikarenakan persediaan makanan didalam media sebelumnya semakin berkurang, hal ini ditunjukan oleh mengecilnya media dalam botol kultur yang diakibatkan oleh tumbuhnya dan berkembangnyaplanlet.Media tanam merupakan hal terpenting dalam subkultur dan baiknya media yang baru harus sama dengan media sebelumnya yaitu Vacint dan Went + gel Aloe vera, namun untuk menentukan kosenterasi gel Aloe vera terbaik pada perkembangan Dendrobium spectabille tidaklah mudah, tahapan subkultur merupakan tahapan yang penting pada budidaya kultur jaringan (in vitro) karena planlet sudah mulai memenuhi botol kultur selain itu cadangan makanan didalam botol juga sudah sedikit.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mencari kosenterasi gel Aloe vera yang tepat pada media dasar Vacint dan Went terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium spectabille. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, yang dilaksanakan pada tanggal 2 April 2013 sampai dengan tanggal 2 Juli 2013. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 6 perlakuan yaitu: a1 (VW+Aloe vera 10g/l), a2 (VW+Aloe vera 20g/l), a3 (VW+Aloe vera 30g/l), a4 (VW+Aloe vera 40g/l), a5 (VW+Aloe vera 50g/l), a6 (VW+Aloe vera 60g/l), dan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati adalah persentase tanaman hidup (%), jumlah daun (helai), jumlah anakan (tunas) dan warna tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa beberapa kosenterasi pemberian gel Aloe vera tidak mempengaruhi pertumbuhan dari subkultur Dendrobium spectabille.
PENGARUH JARAK TANAM DAN N,P,K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI PADA LAHAN PASANG SURUT zulwidianty, rinni zulwi; muhammad, Ir.H.Kiswan Muhammad kiswan; jani, Ir.Nurjani,M.Sc nur
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4564

Abstract

Pengaruh Jarak Tanam Dan N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Pada Lahan Pasang Surut Rinni Zulwidianty (1) Kiswan Muhammad dan Nurjani (2) Mahasiswa Fakultas Pertanian dan (1) Staf Pengajar Fakultas Pertanian(2) Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan pemberian pupuk N,P,K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada lahan pasang surut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF), yang terdiri dari 2 faktor, yaitu kombinasi dari 3 tingkat jarak tanam j1= jarak tanam 10 x 20 cm, j2 = jarak tanam 20 x 20 cm dan j3 = jarak tanam 30 x 20 cm, dan 5 tingkat dosis pemupukan p1 = 50gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, p2 = 62,5gr Urea + 75 gr SP-36 + 33gr KCl, p3 = 75gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, p4 = 87,5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, dan p5 = 100gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl. Dimana 5 tingkat dosis pemupukan itu masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Serta 5 tanaman sebagai sampel. Sehingga terdapat 45 petak perlakuan. Variabel yang diamati pada penelitian adalah tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1000 butir gabah, dan hasil gabah kering per petak. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Jarak Tanam berpengaruh nyata terhadap variabel Jumlah anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Malai. Sedangkan perlakuan N, P, K berpengaruh nyata terhadap variabel Persentase Gabah Isi per Malai. Untuk Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan J3 memberikan rerata tertinggi pada variabel jumlah anakan produktif yaitu 10,16 batang, jumlah gabah per malai yaitu 116,22 butir, dan persentase gabah isi per malai yaitu 85,22 %, serta perlakuan P2 memberikan rerata tertinggi pada variabel persentase gabah isi per malai yaitu 85,44 %. Kata Kunci : Jarak Tanam, N, P, K, Varietas Inpara 3 dan Lahan Pasang Surut The Effect of Plant Rangeand N, P, K Fertilizer On Growth and Yield of Rice in Tidal Field Rinni Zulwidianty(1)Kiswan Muhammad and Nurjani(2) Agriculture Faculty Student(1) and Lecturer(2) Pontianak Tanjungpura University ABSTRACT This study aimed to determine the effect of range and N , P , K fertilizer on growth and yield of rice in tidal fiels. Used method is field experiment with pattern Randomized Factorial Group Design (RFGD), which consists of two factors , combinationconsist of 3 levels j1 range = range of 10 x 20 cm , j2 = range of 20 x 20 cm and j3 = range of 30 x 20 cm , and 5 dose levels of Urea fertilizer p1 = 50gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p2 = 62.5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p3 = 75gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p4 = 87.5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, and p5 = 100gr Urea + 75gr SP-36 ­+ 33gr KCl . Where 5 dose levels of each fertilizer was repeated 3 times with 5 plants samples. So there are 45 plots treatment. Observed variable were plant height, maximum number of tillers, number of productive tillers, number of grains per panicle, percentage of filled grains per panicle, 1000 grain weight of grain, and dry grain yield per plot. Research results showed that the treatment significantly affected Planting Distancevariable Total Productive tillers , number and percentage of Grain per MalaiMalai Rice Contents per . While the treatment of N , P , K significantly affect the contents of a variable percentage of Grain per Malai . For the interaction effect between the two treatments did not significantly affect all variables observations. J3 treatment gave the highest rates on the variable number of productive tillers 10.16 stems, number of grains per panicle is 116.22 points, and the percentage of filled grain per panicle is 85.22 %, and the treatment of p2 provides the highest rates on variable percentage of filled grain per panicle are 85.44 % . Keywords : Plant Range, N , P , K, Inpara Variety 3, and Tidal Fiels PENDAHULUAN Padi (Oryza sativa L.) merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi. Produksi padi di Kalimantan Barat pada tahun 2009 sebesar 1.007.896 ton dari lahan seluas 294.227 ha, dengan rata-rata produksi per hektar adalah 3,418 ton, ternyata masih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang mencapai 4,999 ton/ha, sedangkan produksi padi di Kalimantan Barat pada tahun 2010 sebesar 882.822 dari lahan seluas 267.055 ha, dengan rata-rata produksi per hektar adalah 3,465 ton, sedangkan produksi padi nasional dengan rata-rata 5,014 (BPS Kalbar, 2011). Rendahnya produktivitas di Kalimantan Barat tersebut disebabkan oleh kurangnya pemeliharaan secara intensif, cara pemupukan yang kurang tepat pada suatu jenis tanaman padi dilahan, terutama dilahan pasang surut, sehingga perlu adanya peningkatan produktivitas tanaman padi. Upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi yaitu dengan cara ekstenfikasi dan intensifikasi. Peningkatan produktivitas padi dengan cara Ekstensifikasi yaitu dengan pemanfaatan lahan marginal seperti lahan pasang surut yang ada di Kalimantan Barat, dan cara intensifikasi yaitu dengan penggunaan benih unggul, pemupukan yang seimbang dan cara budidaya yang benar. Adapun usaha dalam mengatasi hal tersebut yaitu diperlukan varietas padi yang toleran terhadap kondisi iklim yang ekstrim tersebut. Inovasi teknologi Varietas Unggul Baru (VUB) untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut seperti menggunakan padi varietas Inpara-3 karena padi varietas ini sangat toleran terhadap rendaman pada fase vegetatif, serta dapat tumbuh dengan baik khususnya pada sawah pasang surut dengan hasil produksi yang tinggi. Dalam upaya meningkatkan hasil padi di lahan pasang surut pada tanah alluvial maka dilakukan penelitian penggunaan jarak tanam dan N, P, K yang diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi tanaman padi pada lahan pasang surut. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di­­­­­­­­ Desa Sei. Kakap Kecamatan Sei. Kakap Kabupaten Kubu Raya pada tanah alluvial dengan pH 4,87 di lahan pasang surut tipe C dengan ketinggian tempat 0-1 m dpl. Penelitian berlangsung selama 4 bulan dimulai dari persemaian pada tanggal 30 Desember 2012 hingga panen pada tanggal 12 April 2013. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi, pupuk, pestisida, herbisida, perlengkapan bercocok tanam seperti traktor singkal, cangkul, sabit, parang, garu, meteran, tali raffia, tugal, timbangan, alat semprot, alat tulis, mulsa yang digunakan untuk pagar, dan perlengkapan dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian. Penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri dari dua faktor. Perlakuan yang dimaksud adalah jarak tanam yang diberi dengan simbol (J) dengan 3 taraf perlakauan yaitu : 10cm x 20cm (J1), 20cm x 20cm (J2) dan 30cm x 20 cm (J3), sedangkan pemberian pupuk (N, P, K) diberi simbol (P) dengan 5 taraf perlakuan yaitu : 50gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P1), 62,5gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P2), 75gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P3), 87,5gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P4), dan 100gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P5), dengan masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan, setiap ulangan diambil 5 sampel tanaman. Pelaksanaan penelitian seperti : persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman (penyulaman, penyiangan gulma, dan pengendalian hama penyakit), serta pemungutan hasil atau panen. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah anakan maksimum (batang), jumlah anakan produktif (batang), jumlah gabah per malai (butir), persentase gabah isi per malai (%), berat 1000 butir gabah (g), dan berat gabah kering per petak (kg). HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman (cm) Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman. Jumlah Anakan Maksimum (batang) Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan maksimum. Jumlah Anakan Produktif (batang) Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5. Uji BNJ 5% Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Jumlah Anakan Produktif Perlakuan Rerata J1 J2 7,45 b 8,7 ab J3 10, 16 a BNJ 5 % = 1,78 Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian 2013 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda tidak nyata pada taraf uji BNJ 5% Berdasarkan hasil uji BNJ pada tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 30cm x 20cm (J3) berbeda nyata terhadap jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 10cm x 20cm (J1), sedangkan berbeda tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 20cm x 20cm (J2). hal ini dapat dipahami bahwa pada perlakuan jarak tanam rapat, jumlah daun secara komunitas lebih banyak dibandingkan dengan jarak tanam lebar sehingga luas fotosintesis lebih tinggi. Jarak tanam berpengaruh terhadap kerapatan tanaman. Pada kerapatan tanaman yang tinggi terdapat persaingan tanaman untuk mendapatkan cahaya. (Wuryaningsih,1995). Pada jarak tanam yang rapat (10 cm x 20 cm) tanaman yang dipupuk dengan takaran rendah sampai sedang tidak menunjukkan peningkatan jumlah anakan produktif yang nyata, namun apabila dipupuk dengan takaran yang tinggi akan meningkatkan jumlah anakan secara nyata. Bila jarak tanam yang digunkan lebih lebar (30 cm x 20 cm) penambahan takaran pupuk meningkatkan jumlah anakan produktif pada tanaman. Hal ini disebabkan dengan peningkatan takaran pupuk berarti meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman dengan tersedianya unsur hara yang cukup maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak akan terhambat. Dijelaskan oleh Hardjowigeno dan Rayes (2005), yang mengatakan bahwa perlu diperhatikan ketersediaan unsur N dan P agar unsur yang diserap tanaman terdapat dalam keadaan seimbang. Hal ini diketahui bahwa fungsi unsur P adalah untuk memacu pertumbuhan generatif tanaman. Terbentuknya anakan produktif yaitu berasal dari anakan yang terbentuk pada masa vegetatif sebelumnya. Anakan yang terbentuk pada fase vegetatif tidak semuanya yang menghasilkan malai, artinya terdapat satu atau lebih anakan yang telah terbentuk dan tidak berproduksi. Jumlah Gabah per Malai (butir) Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 7 sebagai berikut: Tabel 7. Uji BNJ 5% Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Jumlah Gabah per Malai Perlakuan Rerata J1 J2 102,01 b 111,74 a J3 116,22 a BNJ 5 % = 8,66 Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian 2013 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda tidak nyata pada taraf uji BNJ 5% Berdasarkan hasil uji BNJ pada tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah gabah per malai yang ditanam pada jarak tanam 30cm x 20cm (J3) dan 20cm x 20cm (J2) berbeda nyata terhadap jumlah gabah per malai yang ditanam pada jarak tanam 10cm x 20cm (J1), hal ini disebabkan karena pada jarak tanam lebar itu memiliki ruang gerak untuk menyebar serta masuk lebih dalam ke permukaan tanah sehingga tanaman dapat mengambil air dan unsur hara lebih banyak, tidak mengalami persaingan dalam penyerapan cahaya matahari untuk proses fotosintesis sehingga jumlah gabah yang dihasilkan lebih banyak. Pembentukan jumlah gabah per malai erat kaitannya dengan faktor lingkungan karena bila faktor lingkungan sesuai maka jumlah malai dan gabah akan optimal. Salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah gabah per malai adalah sinar matahari. Sinar matahari pada pembentukan malai berhubungan erat dengan proses fotosintesis. Laju fotosintesis sangat ditentukan oleh sinar matahari yang sampai ke permukaan daun. Daya tangkap varietas unggul yang tinggi menyebabkan laju fotosintesis tinggi pula akibatnya varietas unggul memerlukan unsur hara yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hara padi bila di dalam tanah tidak mencukupi. Hal ini ditegaskan oleh Fagi dan Las (1989) yang menyatakan bahwa semakin banyak hasil fotosintesis tanaman maka jumlah bunga yang berkembang menjadi buah atau biji dalam suatu malai juga akan semakin banyak. Oleh karena itu, jika fotosintesis berjalan dengan baik maka bunga yang terbentuk dalam satu malai juga akan semakin banyak. Persentase Gabah Isi per Malai (%) Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K berpengaruh nyata terhadap persentase gabah isi per malai, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 9 sebagai berikut: Tabel 9. Uji BNJ Interaksi Pengaruh Jarak Tanam dan N, P, K Terhadap Persentase Gabah Isi per Malai Jarak Tanam Rerata J1 80 b J2 83,87 ab J3 85,22 a BNJ 5% = 4,13 N, P, K Rerata p1 76 b P2 84,88 a P3 85,44 a P4 83,77 a P5 84,55 a BNJ 5% = 6,28 Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013. Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5% Berdasarkan tabel 9 didapatkan bahwa perlakuan jarak tanam 30cm x 20cm (J3) berbeda nyata terhadap perlakuan jarak tanam 10cm x 20cm (J1), namun berbeda tidak nyata terhadap perlakuan jarak tanam 20cm x 20cm (J2). Perlakuan pupuk menunjukkan bahwa perlakuan P5, P4, P3 dan P2 berbeda nyata terhadap perlakuan P1. Sedangkan antara perlakuan P5, P4, P3 dan P2 berbeda tidak nyata. Jumlah gabah yang dihasilkan dari suatu malai yang terdapat pada suatu rumpun belum seluruhnya menggambarkan banyaknya hasil yang akan diperoleh. Hal ini disebabkan oleh adanya gabah yang tidak bernas atau hampa dalam suatu malai. Banyaknya gabah yang tidak bernas akan sangat menentukan terhadap persentase gabah bernas atau gabah isi. Dari data rerata persentase gabah isi per malai menunjukkan bahwa 87,05 % merupakan gabah yang bernas, sedangkan sisanya sebesar 12,95 % adalah gabah hampa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian memperoleh gabah bernas cukup banyak. Tingginya persentase gabah bernas disebabkan oleh baiknya pertumbuhan vegetatif tanaman dan tersedianya unsur hara P yang dapat mempengaruhi pengisian biji karena unsur P sangat dibutuhkan tanaman dan berperan vital dalam pembentukan buah dan biji. Banyaknya unsur hara yang diserap oleh tanaman padi juga berpengaruh positif terhadap persentase gabah isi terutama penyerapan unsur N, P, dan K. Unsur N berpengaruh dalam proses fotosintesis untuk pembentukan biji atau gabah. Hal ini didasarkan pada pendapat Lakitan (1995) yang mengatakan bahwa sebagian besar gabah bernas atau gabah isi berasal dari asimilat yang dihasilkan setelah pembungaan. Unsur P pada tanaman padi berguna untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sedangkan unsur K dapat membantu dalam pembentukan karbohidrat dan meningkatkan besar gabah isi (Lingga, 1990). Berat 1000 butir Gabah Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap berat 1000 butir gabah. Gabah Kering per Petak Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap gabah kering per petak. Rangkuman Hasil Penelitian Rangkuman Uji (BNJ) dan rerata hasil pengamatan pengaruh jarak tanam dan N, P, K terhadap pertumbuhan dan hasil padi varietas Inpara 3 dapat dilihat pada tabel 12 dan 13 berikut ini: Tabel 12. Rekapitulasi Uji BNJ Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Varietas Inpara 3 pada Lahan Pasang Surut Perlakuan Tinggi Tanaman Minggu ke-8(cm) Jumlah Anakan Maksimum Minggu ke-8(batang) Jumlah Anakan Produktif (batang)* Jumlah Gabah perMalai (butir)* Persentase Gabah Isi perMalai (%)* Berat 1000 butir Gabah (gr) Gabah Kering perPetak (kg) J1 59 24,8 7,45 b 102,01 b 80 b 23,24 3 J2 57,86 24,96 8,7 ab 111,74 a 83,87 ab 24,48 2,7 J3 57,61 25,24 10,16 a 116,22 a 85,22 a 24,03 3 BNJ 5% = 1,78 BNJ 5% = 8,66 BNJ 5% = 4,13 Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013. Keterangan : * = berpengaruh nyata Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5% Tabel 13. Rekapitulasi Uji BNJ Pengaruh N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Varietas Inpara 3 pada Lahan Pasang Surut Perlakuan Tinggi Tanaman Minggu ke-8(cm) Jumlah Anakan Maksimum Minggu ke-8(batang) Jumlah Anakan Produktif (batang) Jumlah Gabah perMalai (butir) Persentase Gabah Isi perMalai (%)* Berat 1000 butir Gabah (gr) Gabah Kering perPetak (kg) P1 63,03 23,93 8,31 110,31 76 b 23,52 2,75 P2 60,33 25,71 9,02 105,34 85,44 a 24,49 2,75 P3 55,10 25,95 8,64 109,71 84,88 a 23,94 2,8 P4 56,02 25,31 9,13 108,19 83,77 a 24,22 2,73 P5 56,32 24,08 8,75 116,39 84,55 a 23,42 2,65 BNJ 5% = 6,28 Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013. Keterangan : * = berpengaruh nyata Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5% Berdasarkan hasil analisis keragaman terhadap semua variabel pengamatan diketahui bahwa perlakuan Jarak Tanam berpengaruh nyata terhadap variable Jumlah Anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Malai. Hasil analisis keragaman perlakuan N, P, K berpengaruh nyata terhadap Persentase Gabah Isi per Malai. Sedangkan Interaksi diantara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa perlakuan jarak tanam 30cm x 20cm (J3) memberikan rerata tertinggi pada variabel Jumlah Anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Petak. Sedangkan perlakuan N, P, K 62,5gr urea + 75gr sp-36 + 33gr kcl (P2) memberikan rerata tertinggi pada variabel Persentase Gabah Isi per Malai. Untuk Interaksi diantara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian, penulis dapat menyarankan yaitu untuk mendapatkan hasil produksi padi yang optimal, dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan lahan pasang surut sebagi lahan penelitian karena pada lahan pasang surut untuk budidaya tanaman padi memiliki masalah, yaitu airnya. Areal penanaman padi akan tergenang jika musim penghujan dan kering pada musim kemarau. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2011. Kalimantan Barat Dalam Angka 2010, Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat: Pontianak. Fagi, A. dan I. Las, 1989, Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi, Dalam Padi Buku I. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Bogor. Hardjowigeno, S. dan L. Rayes. 2005.Tanah Sawah Karakteristik Kondisi Dan Permasalahan Tanah Sawah Di Indonesia. Bayu Media: Malang. Lakitan, B, 1995, Fisiologi Tanaman Tropik, Andi Offset: Yogyakarta. Lingga, P., 1990, Petunjuk Penggunaan Pupuk Swadaya: Jakarta. Wuryaningsih, S. 1995. Pengaruh Jarak Tanam Dan Dosis N Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Bunga Mawar Kultivar Cherry Brendy. J. Hort. 5 (2) ; 76-80
Pengaruh Pemberian Kascing Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai Pada Tanah Alluvial Yokhanan, Bayu; Rahmidiyani, Rahmidiyani; Astina, Astina
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4775

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kascing terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada tanah alluvial. Penelitian ini dilaksanakan dirumah penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dimulai sejak tanam 26 Mei 2013 hingga panen 12 Agustus 2013 dengan menggunakan metoda eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 1 faktor yaitu kascing (K), 6 taraf yaitu k1 (kascing 62,5 g/polybag), k2 (kascing 87,5 g/polybag), k3 (kascing 112,5 g/polybag), k4 (kascing 137,5 g/polybag), k5 (kascing 162,5 g/polybag), dan k6 (kascing 187,5 g/polybag). Setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 4 sampel, sehingga terdapat 24 satuan perlakuan dan 96 tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu bobot kering tanaman (g), jumlah bintil akar, berat biji pertanaman (g), jumlah polong pertanaman, dan volume akar (cm3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kascing berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan 162,5 g/polybag memberikan rerata tertinggi pada variabel bobot kering tanaman yaitu 8,2 g. Perlakuan 137,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel jumlah bintil akar yaitu 8. Perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel jumlah polong pertanaman yaitu 67,87. Perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel berat biji pertanaman yaitu 22,73 g. Dan perlakuan 187,5 g/polybag memberi rerata tertinggi pada variabel volume akar yaitu 6,75 cm3.
Pengaruh Pemberian Larutan KNO3 terhadap Pematahan Dormansi Benih Sirsak baehaqi, eko; palupi, tantri; asnawati, asnawati
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4878

Abstract

THE EFFECT OF KNO3 TREATMENT ON SEED DORMANCY BREAKING OF SOURSOP By Eko Baehaqi1) Tantri Palupi2) Asnawati2) 1) Student 2) The Lecturers at Faculty of Agriculture University of Tanjungpura ABSTRAK The Soursop seed is the dormant seed which begins to germinate in 20-30 days after planting, that need an effort to quicken the germination. The reseach is aimed to find the concentration and the length of the submersion using the proper KNO3 soluble to break the soursop seed dormancy. The reseach uses the Complete Random Plan (CRP) method in the factorial with two factors. The First factor is the KNO3 concentration, that is k0= (0%), k1= (1,5%), k2= (3%), k3= (4,5%), and k4= (6%). The second factor is the length of the submersion, that is w1= (12 hours), w2= (24 hours), w3= (36 hours). The reseach consists of fifteen treatments with three repeatations. Every repeatations uses twenty-five seeds. Total obtained is 45 experimental units. The result of the reseach indicates that the giving of the KNO3 soluble to concentration 0%, 1,5%, 3%, 4,5%, and 6% with the length of submersion 12 hours, 24 hours and 36 hours influence unreallity to all variables of the observation. The highest capacity of the germination is on concentration of K4 (6%) and the submersion lenght of 12 hours for 45,33%. Keywords : Consentration KNO3,Dormancy, Soursop Seed
Pengaruh Abu Limbah Kandang Ayam Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan,Hasil, Dan Kemunculan Blossom End Rot Pada Tanaman Tomat Di Tanah Gambut keti, keti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 3 No. 1: April 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i1.4926

Abstract

THE EFFECT OF THE ASH FROM CHICKEN COOP WASTE AND VARIETIES ON GROWTH, YIELD AND APPEARANCE OF BLOSSOM END ROT OF TOMATOES IN PEAT SOIL Keti (1), Nurjani (2), Sholahuddin(2) (1) Student Of Agriculture Faculty Of Tanjungpura University (2) The Lecturer Of Agriculture Faculty Of Tanjungpura University ABSTRACT The purpose of this research is to know the interaction between the ash of chicken coop waste and tomato varieties on growth, yield and appearance of Blossom End Rot in peat soil. The study was conducted in Kalimas village, Kakap subdistric, Kubu Raya distric, from April to July 2013. The method was a field experiment with factorial pattern Completely Randomized Design (CRD) consists of 2 factors which is the ash from chicken coop waste as (0kg, 1,3kg, 1,8kg, 2,3kg) and varieties of plants (Permata dan Tymoti). Observed variables were the dry weight plants (g), the flowering ages (dap), the harvest age (dap), the plant heights (cm), the fruit set per plant (fruit set), the fruit number per plant (fruits), the fruit weight per plant (g), the fruits number attacked by BER (fruits), and the percentage of yield reduction due to BER (%). The results showed that supply of ash chicken coop waste in peat soil does not make a difference on the growth and yield of tomato plants. The use Tymoti varieties tend to give better results than Permata. The study revealed that the ash of chicken coop waste and varieties have not been able to suppress the appearance of Blossom End Rot (BER) on tomato plants in peat soil. The interaction of both are shown only on the amount of tomato fruits set. Key words : Ash, Blossom End Rot, Peat soil, Tomato.