cover
Contact Name
Makhyatul Fikriya
Contact Email
mahyafi@yahoo.co.id
Phone
+6285736448018
Journal Mail Official
jurnalhq@gmail.com
Editorial Address
Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto Jombang Jl. Raya Jogoroto, Sumberbendo, Jogoroto, Kec. Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61485
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an
ISSN : 27228991     EISSN : 27228983     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Hamalatul Quran : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Quran is Journal the publishes scientific articles on research in fields related to the Quran sciences
Articles 208 Documents
Kepastian Pemenuhan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian di Indonesia dan Malaysia Pasla, Jimmi; Akbarizan, Akbarizan
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.400

Abstract

The study uses a comparative study approach to provide knowledge and information related to the certainty of the fulfillment of women's and children's rights after divorce in Indonesia and Malaysia, in accordance with the provisions stipulated in the laws and regulations of each country. The research method in this study is normative legal research, by analyzing library study materials and supported by other secondary data. The research findings show that the fulfillment of women's and children's rights after divorce in Indonesia is regulated in Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and the Kompilasi Hukum Islam (KHI). Several rights are regulated which are the responsibility of the father. The child's right to receive maintenance and education is a manifestation of the parents' obligations, as regulated in Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection and Law Number 9 of 1979 concerning Child Welfare. The amount of maintenance to be paid is determined by the Court. If the Court considers that the father is considered incapable, then the responsibility for the costs also shifts to the mother. In Malaysia, there are clearer regulations regarding the rights of women and children after divorce. This is seen through the establishment of Bahagian Sokongan Keluarga (BSK), a division that has full authority to handle cases of violations related to these rights. BSK operates as a special department under the Jabatan Kehakiman Syariah Malaysia (JKSM), which is under the auspices of the Jabatan Perdana Menteri (JPM). This institution has the authority to resolve various issues related to the provision of maintenance, in order to ensure justice for those who are entitled to receive it.
Belajar dan Mengajar dalam Perspektif Al-Qur'an Hasanah, Nurhidayati; Alwizar, Alwizar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.410

Abstract

Belajar dan mengajar adalah komponen penting dalam kehidupan manusia karena membantu meningkatkan keterampilan dan karakter seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-‘Alaq (96:1–5), Al-Qur'an menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, tata krama, dan moralitas adalah komponen penting dari proses pendidikan. Selain itu, Al-Qur'an menganggap pendidikan sebagai kewajiban individu. Mengajar dianggap sebagai tugas besar yang melibatkan penyebaran pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai moral. Dalam Al-Qur'an, prinsip-prinsip pendidikan termasuk nilai-nilai tauhid, motivasi, pengulangan pelajaran, perhatian terhadap siswa, penggunaan teknik demonstrasi, dan keterlibatan aktif, baik fisik maupun spiritual. Al-Qur'an juga menekankan betapa pentingnya peran guru sebagai pembimbing, yang harus mengajarkan siswa nilai-nilai iman dan moral yang diwariskan para nabi. Al-Qur'an juga menekankan betapa pentingnya interaksi yang ramah dan penuh kasih sayang antara guru dan siswa mereka. Pendidikan Islam menawarkan panduan komprehensif untuk membangun individu yang memiliki kesadaran intelektual, spiritual, dan moral dengan menjadikan Al-Qur'an dan alam sebagai sumber pembelajaran. Pandangan keseluruhan ini menggarisbawahi bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur'an sangat penting untuk mencetak orang yang berakar kuat.
Isi dan Fungsi Al-Qur'an Novelia, Via; Alwizar, Alwizar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.411

Abstract

Penelitian ini mengkaji isi dan peran Al-Qur'an sebagai kitab suci terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Penelitian dilakukan melalui studi literatur dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, dan pandangan para ulama. Pembahasan utama mencakup isi pokok Al-Qur'an, seperti akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan kisah-kisah yang berisi hikmah. Selain itu, fungsi Al-Qur'an dijelaskan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia, penyempurna kitab suci sebelumnya, dan sumber ajaran Islam yang utama. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak hanya berfungsi sebagai panduan keimanan, tetapi juga memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan manusia hingga akhir masa.
Pendekatan Konstruktifisme dalam Psikologi Belajar Berbasis Nilai-Nilai Islam Luthfiyani, Putri Wahidah; Rajab, Khairunnas; Masyhuri, Masyhuri
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.469

Abstract

Psikologi belajar merupakan bidang penting dalam memahami bagaimana individu memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pendekatan konstruktivisme, yang menekankan bahwa pembelajaran adalah proses aktif di mana peserta didik membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman dan interaksi, menawarkan pendekatan yang relevan dengan pendidikan modern. Integrasi teori ini dengan nilai-nilai Islam memberikan perspektif unik, terutama dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teori konstruktivisme dalam psikologi belajar, mengeksplorasi relevansinya dengan nilai-nilai Islam, dan menganalisis penerapannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan studi kasus pada materi zakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur, analisis isi, dan studi kasus. Data diperoleh dari kajian teori konstruktivisme, pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Al-Ghazali dan Ibn Khaldun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruktivisme sejalan dengan prinsip Islam, seperti dorongan untuk berpikir kritis, pembelajaran berbasis pengalaman, dan pengembangan holistik individu. Studi kasus menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual, keterampilan sosial, dan kesadaran religius siswa melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis masalah. Namun, penerapan konstruktivisme memerlukan peran aktif guru sebagai fasilitator, dukungan sarana yang memadai, dan waktu yang cukup untuk pelaksanaannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruktivisme dapat diadaptasi secara efektif dalam pembelajaran PAI untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membentuk individu yang lebih kritis, reflektif, dan religius.
Privacy, Security, and Ethics in Technology: A Qur'anic Perspective Through Cybercrime Aisyah, Septi; Ainur Rhain
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.475

Abstract

  The rapid advancement of technology facilitates all forms of human activities, especially in communicating. But not a few who use technology inappropriately, such as making technology a means to steal, spread lies, hate speech and various modes of fraud. Such as making technology a means to steal, spread lies, hate speech and various modes of fraud. This research uses literature research methods with a maudhui approach according to Al-Farmawi. Studies show that in the Qur'an there are guarantees of security, privacy, and ethics regarding the use of technology. Thus, it can be proven that the Qur'an can indeed be used as a reference to solve contemporary problems that exist today, including the problem of crime in cyberspace.
The Meaning of Qawwam in Q.S. An-Nisa: 34 (A Comparative Study of the Interpretations of Ibn Kathir and Al-Maraghi) Syahroni, Asma; Nurrohim, Ahmad
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.477

Abstract

Abstract The concept of qawwam in Q.S. An-Nisa: 34 is one of the topics that is widely discussed in the study of Qur'an interpretation, especially related to the relationship between husband and wife in the household. This verse is often used as a reference in understanding the husband's responsibility and leadership in the family, which is considered an important foundation in maintaining household harmony. This study aims to analyze the meaning of qawwam through a comparative study between Ibn Katsir's classical interpretation and Al-Maraghi's contemporary interpretation. Ibn Katsir used the tafsir bil-ma'tsur approach with an emphasis on narration sourced from the Prophet Muhammad PBUH, the companions, and the tabi'in. On the other hand, Al-Maraghi applies the method of tafsir bil-ra'yi with the style of adabi ijtima'i, which further highlights the relevance of Islamic values in modern social life. This study uses a qualitative method with a library research approach, where primary and secondary data from both interpretations are analyzed in depth. This analysis aims to identify the differences in methodology, social context, and interpretation of the two mufasirs on the concept of qawwam. The results of the study show that this difference in understanding is not only influenced by the interpretation method used, but also by the challenges and needs of each mufasir's era. Thus, this study makes a significant contribution to enriching the treasures of comparative interpretation while highlighting the relevance of the concept of qawwam in Muslim families in the modern era. Keywords: Qawwam, Ibnu Katsir, Al-Maraghi, Comparative Abstrak Konsep qawwam dalam Q.S. An-Nisa: 34 menjadi salah satu topik yang banyak dibahas dalam kajian tafsir Al-Qur'an, khususnya terkait hubungan suami istri dalam rumah tangga. Ayat ini sering dijadikan rujukan dalam memahami tanggung jawab dan kepemimpinan suami dalam keluarga, yang dianggap sebagai landasan penting dalam menjaga harmoni rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna qawwam melalui studi komparatif antara penafsiran klasik Ibnu Katsir dan tafsir kontemporer Al-Maraghi. Ibnu Katsir menggunakan pendekatan tafsir bil-ma’tsur dengan penekanan pada riwayat yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan tabi'in. Di sisi lain, Al-Maraghi menerapkan metode tafsir bil-ra’yi dengan corak adabi ijtima’i, yang lebih menyoroti relevansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research, di mana data primer dan sekunder dari kedua tafsir dianalisis secara mendalam. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan metodologi, konteks sosial, dan interpretasi kedua mufasir terhadap konsep qawwam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pemahaman ini tidak hanya dipengaruhi oleh metode tafsir yang digunakan, tetapi juga oleh tantangan dan kebutuhan zaman masing-masing mufasir. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya khazanah tafsir komparatif sekaligus menyoroti relevansi konsep qawwam dalam keluarga Muslim di era modern. Kata kunci: Qawwam, Ibnu Katsir, Al-Maraghi, Komparatif
Implikasi Kepala Rumah Tangga Tidak Mampu Memberi Nafkah Dalam Mewujudkan Keutuhan Rumah Tangga Perspektif Maqashid Syari’ah Netti, Misra; Nur, Syamsiah; Setiawan, Thoat
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.493

Abstract

This research examines the effect of the inability of the head of the family to fulfill the responsibility of providing for his family from the point of view of Maqashid Shari'ah. The husband's obligation to provide for his wife and children has been explained in the Qur'an and strengthened through legislation, such as Law No. 1 of 1974 concerning Marriage and the Compilation of Islamic Law (KHI). This research aims to understand the impact of the husband's inability to fulfill his obligation to provide for the stability of the household and identify solutions that can be done by the wife to maintain family harmony according to the principles of Maqashid Shari'ah. A normative qualitative approach is used in this research by analyzing the content of relevant secondary data. The results show that the husband's failure to fulfill his livelihood can be caused by various factors, such as economic conditions, unemployment, or physical limitations, which have the potential to threaten the integrity of the family. However, the role of a working wife can be one of the efforts to support the family's needs, as long as she maintains her role as a wife and mother in the family.
Makna Estetika Qs. An-Nur [24]:35 (Analisis Tematik Terhadap Penafsiran Ibnu Katsir Dalam Kitab Tafsirnya Al-Qur’an Al ‘Adhim) Muzaki, Bagus Ahmad; Natsir, Abdul; Zulkarnain, Iskandar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.495

Abstract

Mengingat banyaknya makna nur yang perlu difahami dalam al-Qur’an. Dengan begitu penggalian mengenai nilai-nilai estetika yang ada dalam term nur dalam QS. An-Nur ayat 35, penting adanya. Karena dengan mengetahui hakikat cahaya Allah yang digambarkan dengan perumpamaan dalam QS. An-Nur ayat 35 dapat digali nilai-nilai estetika yang kemudian dijadikan sebuah pengetahuan terkait ragam makna kata nur yan disebutkan dalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik. Tafsir tematik merupakan suatu metode yang mengarahkan pandangan kepada satu tema tertentu, lalu mencari pandangan al-Qur’an tentang tema tersebut dengan jalan menghimpun semua ayat yang membicarakannya, menganalisis dan memahami ayat demi ayat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan makna estetika penafsiran surah An-Nur ayat 35 menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya Al-Qur’an al-‘Adhim serta mengetahui ayat-ayat yang berkaitan dengan Nur. Berdasarkan hasil penelitian ini Adapun yang dimaksud pada pembahasan dalam surah Al-Nur ayat 35 kali ini adalah sebuah keestetikan Nur (cahaya) yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dalam ajaran Islam, Allah juga menggunakan cahaya sebagai makna penerangan, makna yang jauh dari konotasi negatif. Allah bahkan menggunakan cahaya untuk memisalkan Dzat-Nya yang Agung, hingga menjadikannya salah satu nama Surat Al-Qur’an, yaitu An-Nur. Ia menyebutkan satu ayat secara khusus, yaitu Surat An-Nur 35, mengenai Diri-Nya sebagai Sang Maha Cahaya. Di dalam al-Qur'an, cahaya dapat memiliki makna spiritual dan fisis sebagaimana Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut. Dalam arti spiritual cahaya dipahami sebagai agama, petunjuk, iman dan kitab suci (al-Qur'an). Sedangkan dalam arti fisis cahaya di dalam al-Qur'an diartikan sebagaimana cahaya dalam pandangan ilmu fisika dan sains.
Ad-Dakhil Fi al-Tafsir Ad-Dakhil Fi al-Tafsir: Analisis al-Dakhil dalam Penafsiran Sekte al-Babiyah dan al-Bahaiyah Adawiyah, Abidah; Al Kamil, Safinatul Ilmi
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.295

Abstract

This research explores the al-Babiyah dan al-Bahaiyah sects in the context of deviations made in interpreting Al-Qur’an verses. Al-Babiyah and al-Bahaiyah are tow new sects that emerged in the Persian region (Iran) in the 19th century. The two sects claimed thet they were in a prophetic position and received revelations from God, resulting in different holy books and different teachings. Of course, the differences come from the interpretation they make of the Qoran. Through this study, a literature approach is used to obtain comprehensive data and the results are presented according to the analysis in the form of descriptive analysis. From this research, the results can be seen that Babiyah and Bahaiyah sects in interpreting the Qur’an have distorted the meanings from what they should be, without a strong basis and are very weak and dangerous for people who are weak in faith. This is what makes them a type of al-Dakhil interpretation. Based on these findings, it is hoped that it will bring new insight into the deviations carried out by religious sects regarding the interpretation of verses of the Qoran which is to legitimize their sect.  
Hakikat Wahyu Perspektif Manna Al-Qathan Qimanullah, Abdul Malik; Sanah, Siti
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.406

Abstract

The Qur'an is a holy book and the main source of teachings for Muslims containing the word of Allah SWT, revealed to the Prophet Muhammad SAW as revelation through the intermediary of the Angel Gabriel. The process of receiving the revelation is unique and exclusive, occurring when the Prophet is conscious or through a real dream. Revelation, in this context, is fundamentally different from inspiration and instinct, although all three can be understood as forms of "supernatural calling." Revelation is specific and only addressed to prophets and apostles, while inspiration and instinct are psychological processes that can be experienced by ordinary humans. This study uses a qualitative approach with a literature study method, which includes analysis of interpretations, classical Islamic literature, and the views of contemporary scholars, to explore the meaning of revelation and distinguish it from inspiration and instinct conceptually and theologically.