cover
Contact Name
Hariyanto
Contact Email
hariyantogracia@gmail.com
Phone
+628121024884
Journal Mail Official
davarjurnalteologi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. Ratu Menten, Komplek Grogol Permai Blok C 41, Jakarta Barat, DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Davar: Jurnal Teologi
ISSN : 27229041     EISSN : 2722905X     DOI : https://doi.org/10.55807/davar
Davar: Jurnal Teologi adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun. Menerima naskah dari Dosen, Peneliti, Mahasiswa, dan Praktisi yang sesuai dengan lingkup jurnal ini. Focus dan Scope Davar: Jurnal Teologi adalah Teologi Biblikal Teologi Sistematika Studi Pastoral dan Konseling Kristen Filsafat Kristen Apologetika Pendidikan Kristen (Gereja, Keluarga, dan Sekolah) Manajemen Gereja Kepemimpinan Kristen Sosiologi Agama Misiologi dan Penginjilan
Articles 79 Documents
Implementasi Nilai Kristiani di Era Digital Berdasarkan Model Integratif Pendidikan Agama Kristen sariyanto Sariyanto; Linda M Pangaribuan; Chandra Kristian
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.217

Abstract

Abstract This study explores the implementation of Christian values as a philosophical foundation in Christian Religious Education (PAK), which plays a vital role in shaping students’ character, faith, and morality amid globalization and digitalization. Using a literature-based research method, this study analyzes the integration of theological, philosophical, ethical, and technological dimensions within PAK. The findings indicate that values such as love, honesty, responsibility, and justice serve as the core principles in forming a faith-based character aligned with contemporary socio-cultural dynamics. PAK functions not only as a means of teaching doctrine but also as a framework for developing reflective, critical, and ethical individuals. This education emphasizes digital theological literacy to enable students to critically assess and internalize faith-based teachings in the open information era. Thus, Christian value-based education effectively cultivates a generation that is faithful, morally grounded, and globally minded while maintaining a strong spiritual identity within a multicultural society.   Keywords: character, christian religious education, christian values, digital theological, philosophical foundation   Abstrak Penelitian ini membahas implementasi nilai-nilai Kristiani sebagai landasan filosofis dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang berperan penting dalam membentuk karakter, iman, dan moralitas peserta didik di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi. Melalui metode penelitian pustaka, kajian ini menganalisis integrasi dimensi teologis, filosofis, etis, dan teknologi dalam PAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan merupakan dasar utama dalam pembentukan karakter beriman yang kontekstual dengan dinamika sosial budaya masa kini. PAK tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran doktrin agama, tetapi juga sebagai wadah pembentukan pribadi yang reflektif, kritis, dan beretika. Pendidikan ini menekankan pentingnya literasi teologi digital agar peserta didik mampu menilai dan menginternalisasi ajaran iman secara bijak di era informasi terbuka. Dengan demikian, PAK berbasis nilai Kristiani mampu menghasilkan generasi yang beriman, berkarakter, dan berwawasan global tanpa kehilangan identitas spiritualnya di tengah masyarakat multikultural.   Kata Kunci: karakter, pendidikan agama kristen, nilai kristiani, teologi digital, landasan filosofis
Studi tentang Realitas Kerajaan Seribu Tahun Kaum Postmilenialisme dari Perspektif Eskatologis Misi Kristen Leniwan Darmawati Gea; Romelus Blegur; Juliasmi Juliasmi; Elika Megi
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.219

Abstract

Abstract The reality of the millennial Kingdom has now given rise to various approaches that tend to disagree with one another, one of which is postmillennialism. The purpose of this study is to investigate the main ideas of postmillennialists about the millennial Kingdom in relation to evangelism and the progress of civilization as its manifestation in the eschatological perspective of Christian mission. The method used in this study is the library research method. The results of this study are that evangelism to all nations is the responsibility of believers with an eschatological dimension, but the Bible reveals that not everyone will believe and become Christians. In addition, the Millennial Kingdom is spiritual or symbolic and is a reality that believers are experiencing amidst the reality of a world that is heading towards its misery. Another point is that the Kingdom of God does not depend on the progress of civilization, because the Kingdom comes from God. Therefore, the mission must be carried out with full responsibility, but not oriented towards such speculations.   Key words: christian mission, eschatology, millennial Kingdom, postmillennialism   Abstrak Realitas Kerajaan seribu tahun kini menimbulkan berbagai pendekatan yang cenderung tidak sepakat antara satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah postmilenialisme. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki pokok pikiran kaum postmilenialisme tentang Kerajaan seribu tahun dalam kaitan dengan penginjilan dan kemajuan peradaban sebagai perwujudannya dalam perspektif eskatologis misi Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penginjilan kepada semua bangsa merupakan tanggung jawab orang percaya yang berdimensi eskatologis, namun Alkitab mengungkapkan bahwa tidak semua orang akan percaya dan menjadi Kristen. Selain itu Kerajaan Seribu Tahun bersifat rohani atau simbolis dan merupakan kenyataan yang sedang dialami oleh orang percaya di tengah realitas dunia yang sedang menuju kedusahannya. Pokok lainnya adalah bahwa, Kerajaan Allah tidak bergantung pada kemajuan peradaban, sebab Kerajaan itu berasal dari Allah. Dengan demikian, maka misi haruslah dijalankan dengan penuh tanggung jawab, tetapi tidak berorientasi pada spekulasi-spekulasi yang demikian.   Kata kunci: misi Kristen, eskatologi, Kerajaan seribu tahun, postmilenialisme
Liturgi yang Membebaskan: Upaya Mewujudkan Teologi Yang Kontekstual dan Relevan Bagi Penyandang Disabilitas Stepanus Stepanus; Juffri Kristianta; Rikki Riswanto; Drivin D; Paulus Sugianto
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.260

Abstract

Abstract People with disabilitas often face discrimination in physical access and liturgical engagement in the church, creating a gap between inclusive theology and the reality of ministry. This study aims to examine efforts to realize contextual theology through the design of a leberating liturgy. The study was conducted at the Hermon Panampo Congregation, a Toraja Mamasa church with a significant popilation of people with disabilities. The research method used was a qualitative approach using observation, interviews, and documentation studies. The findings indicate that limited physical access and a lack of special attention in worship services hinder the full participation of people with disabilitas. The study concludes that implementing a leberating liturgy requirs providing comprehensive accessibility and recognizing the dignity of people with disabilitird as subjects of faith. This paper contributes to strengthening the theological foundation for the church to prioritize inclusive ministry as a concrete manifestation of God’s love and justice.   Keywords: contextual theology, liberating liturgy, people with disabilities   Abstrak Penyandang disabilitas sering menghadapi diskriminasi dalam akses fisik dan keterlibatan liturgi di gereja, sehingga menciptakan kesenjangan antara teologi inklusi dan realitas pelayanan. Penelitian ini ini betujuan mengkaji upaya mewujudkan teologi kontekstual melalui perancangan liturgi yang memerdekakan. Penelitian dilakukan di Gereja Toraja Mamasa Jemaat Hermon Panampo, yang memiliki populasi disabilitas signifikan. Metode penelitian yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa keterbatasan akses fisik dan kurangnya perhatian khusus dalam tata ibadah menghambat partisipasi penuh jemaat penyandang disabilitas. Penelitian menyimpulkan bahwa implementasi liturgi yang memerdekakan memerlukan penyediaan aksebilitas menyeluruh dan pengakuan terhadap martabat disabilitas sebagai subyek iman. Tulisan ini memberikan konstribusi dalam memperkuat landasan teologis bagi gereja untuk mengutamakan pelayananan inklusif sebagai wujud nyata kasih dan keadilan Allah.   Kata kunci: teologi kontekstual, liturgi yang memerdekakan, penyandang disabilitas
Dari William Seymour ke Misi Global: Warisan Pentakostal bagi Praktik Amanat Agung Efri Mariana Luis; Jonathan Patrick Lumban Tobing; Meriyana Meriyana
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.261

Abstract

Abstract This study addresses a gap between historical studies of the Azusa Street revival and analyses of contemporary Pentecostal mission practice, which are often treated separately, leaving the conceptual relationship between early Pentecostal pneumatology and the global practice of the Great Commission insufficiently articulated. This study aims to examine the historical and theological continuity between William Seymour’s pneumatological vision and mission practice within global Pentecostalism. Employing a qualitative approach with a historical-theological design, the study analyzes primary sources from the early Pentecostal revival alongside contemporary literature on mission theology and pneumatology, interpreted through a hermeneutical framework within the perspective of missio Dei. The findings indicate that the outpouring of the Holy Spirit in early Pentecostalism was understood as a commissioning event that shaped the church as a participatory and cross-cultural missionary community, functioning as an operative principle in evangelistic patterns, lay mobilization, and social engagement. These findings suggest a conceptual continuity between Seymour’s pneumatology and the contemporary practice of the Great Commission in global contexts, albeit expressed in dynamic and contextual forms. Therefore, Pentecostal pneumatology may be understood as a significant theological framework for interpreting the transformation of contemporary mission paradigms.   Keywords: William Seymour; Azusa Street Revival; Pentecostal Pneumatology; Great Commission; Global Mission   Abstrak Penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara kajian historis kebangunan Azusa Street dan analisis praksis misi Pentakostal kontemporer yang umumnya diperlakukan terpisah, sehingga hubungan konseptual antara pneumatologi awal dan praktik Amanat Agung global belum dijelaskan secara sistematis. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesinambungan historis dan teologis antara visi pneumatologis William Seymour dan praktik misi dalam Pentakostalisme global. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain historis-teologis melalui analisis terhadap sumber primer kebangunan awal serta literatur teologi misi dan pneumatologi kontemporer, yang diolah dengan kerangka hermeneutis dalam perspektif missio Dei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencurahan Roh Kudus dalam tradisi Pentakostal awal dipahami sebagai peristiwa pengutusan yang membentuk gereja sebagai komunitas misioner partisipatif dan lintas budaya, serta berfungsi sebagai prinsip operatif dalam pola penginjilan, mobilisasi umat, dan keterlibatan sosial. Temuan ini mengindikasikan adanya kesinambungan konseptual antara pneumatologi Seymour dan praktik Amanat Agung dalam konteks global, meskipun diekspresikan dalam bentuk yang kontekstual dan dinamis. Oleh karena itu, pneumatologi Pentakostal dapat dipahami sebagai salah satu kerangka teologis penting dalam menjelaskan transformasi paradigma misi gereja kontemporer.   Kata Kunci: William Seymour; Azusa Street Revival; Pneumatologi Pentakostal; Amanat Agung; Misi Global
Digital Prosperity: Redefinisi Makna Berkat Di Tengah Perilaku Flexing Generasi Z Dalam Ekosistem Ekonomi Digital Paulus Michael Kristiawan; Yakub Hendrawan Perangin Angin
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.263

Abstract

Abstract The development of digital technology and the digital economy has given rise to a culture of flexing as a symbol of a life blessed by God. In this context, blessing is often reduced to merely material standards, so that prosperity and materialism are perceived as evidence of achievement and success in life by Z generation. Such perceptions create significant concerns because they tend to marginalize the spiritual and relational dimensions of human existence. This study aims to explore how flexing and personal branding in digital spaces shape the redefinition of the meaning of blessings and success, using the framework of “digital prosperity.” The research employs a literature review with a thematic hermeneutic approach. The findings indicate that, within the digital prosperity, indicators of blessings and success are measured through visibility, performativity, and publicly consumable symbols of luxury. The primary manifestation of this redefinition is observed through flexing practices, highlighting the dominance of digital logic in shaping public perceptions of blessings and achievement. Keywords: blessings, christian generation Z, digital economic ecosystem, flexing   Abstrak Perkembangan teknologi digital dan ekonomi digital telah melahirkan budaya flexing sebagai simbol hidup yang diberkati Tuhan. Dalam konteks ini, berkat sering direduksi menjadi ukuran materi semata, sehingga kemakmuran dan materialistis dipersepsikan oleh Generasi Z sebagai bukti pencapaian dalam kehidupan. Persepsi tersebut justru menimbulkan persoalan karena mengesampingkan dimensi spiritual dan relasional. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana flexing dan personal branding di ruang digital membentuk redefinisi makna berkat dan kesuksesan, menggunakan kerangka konsep “digital prosperity.” Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan tematik hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam digital prosperity, indikator berkat dan kesuksesan diukur melalui visibilitas, performativitas, dan simbol-simbol kemewahan yang dapat dikonsumsi publik. Manifestasi utama dari redefinisi tersebut terlihat melalui praktik flexing, yang menegaskan dominasi logika digital dalam membentuk persepsi publik tentang berkat dan keberhasilan.   Kata Kunci: berkat, generasi Z kristen, ekosistem ekonomi digital, flexing
Teologi Pancasila Sebagai Sintesis Teologis Lintas Agama: Sebuah Konstruksi Konseptual bagi Moderasi Beragama di Indonesia Andreas Agus; Yaterorogo Zebua; Zakharia Suparyadi
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.265

Abstract

Abstract The Pew Research Center 2024 released survey results indicating that Indonesia is the most religious country in the world. However, there is a sad paradox: cases of intolerance in the name of religion have continued to occur over the past five years. Yet Indonesia possesses Pancasila as the nation’s noble values, which should serve as a guide in all aspects of life, including religious life. Using a descriptive-qualitative method and literature review, the study formulates three contextual theological frameworks, as the novelty of this study:Civilized Believe in God, Nation Dogmatic, and Bridge of Reconciliation to bridge private religiosity with public solidarity. By integrating doctrinal values from diverse faiths with the ethical foundations of Pancasila, this theology provides a constructive model for interfaith coexistence, ensuring that religious promises such as rahmatan lil’alamin, good news, imago dei, shanti, and rahayu are realized as lived realities in Indonesian society. The framework thus positions Pancasila Theology as both an academic innovation and a practical instrument for sustaining tolerance, justice, and harmony in a pluralistic nation.   Abstrak Pew Research Center 2024 merilis hasil survei yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Namun, terdapat sebuah paradoks yang menyedihkan: kasus-kasus intoleransi atas nama agama terus terjadi selama lima tahun terakhir. Padahal, Indonesia memiliki Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa, yang seharusnya menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan beragama. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif dan tinjauan pustaka, penelitian ini merumuskan tiga kerangka teologis kontekstual, sebagai novum dari penelitian ini: Kepercayaan Beradab kepada Tuhan, Dogma Bangsa, dan Jembatan Rekonsiliasi untuk menjembatani religiositas pribadi dengan solidaritas publik. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai doktrinal dari berbagai keyakinan dengan landasan etis Pancasila, teologi ini menyediakan model konstruktif bagi kerukunan antaragama, memastikan bahwa janji-janji keagamaan seperti rahmatan lil’alamin, kabar baik, imago dei, shanti, dan rahayu diwujudkan sebagai realitas yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Kerangka kerja ini menempatkan Teologi Pancasila sebagai inovasi akademis sekaligus instrumen praktis untuk mempertahankan toleransi, keadilan, dan harmoni dalam negara yang pluralistik.
Yesus Kristus Anak Domba yang Sempurna: Finalitas Penebusan Berdasarkan Yohanes 1:29 Ibrahim Ibrahim; Fonny Natalia Joseph; Sri Wahyuni
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.268

Abstract

Abstract This study discusses the theological meaning of John the Baptist's statement in John 1:29 about Jesus as the Lamb of God who takes away the sins of the world. This study is carried out because the concept is often understood in a limited way, even though it has important significance in redemptive theology. This research aims to examine the theological meaning of the concept of the Lamb of God and show the finality of Christ's redemptive work. This study uses a qualitative approach with the method of biblical exegesis through the analysis of Greek texts, tracing the background of the Old Testament, and the study of theological literature. The results of the study show that the term Lamb of God refers to the fulfillment of the Passover sacrifice and the sin offering in the Old Testament. Through His sacrifice on the cross, Christ offered the perfect and final sacrifice that effectively took away the sin of mankind with universal coverage. This study concludes that Christ's redemptive finality provides a theological basis for the certainty of salvation and renews the church's understanding of worship and mission.  Key words: Lamb; Sin; finality; Redemption; Jesus Christ.   Abstrak Penelitian ini membahas makna teologis pernyataan Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 1:29 tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kajian ini dilakukan karena konsep tersebut sering dipahami secara terbatas, padahal memiliki signifikansi penting dalam teologi penebusan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna teologis konsep Anak Domba Allah serta menunjukkan finalitas karya penebusan Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis biblika melalui analisis teks Yunani, penelusuran latar belakang Perjanjian Lama, dan kajian literatur teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah Anak Domba Allah menunjuk pada penggenapan korban Paskah dan korban penghapus dosa dalam Perjanjian Lama. Melalui pengorbanan-Nya di salib, Kristus mempersembahkan korban yang sempurna dan final yang secara efektif menghapus dosa manusia dengan cakupan universal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa finalitas penebusan Kristus memberikan dasar teologis bagi kepastian keselamatan serta memperbarui pemahaman gereja tentang ibadah dan misi.  Kata kunci: Anak Domba; Dosa; finalitas; Penebusan; Yesus Kristus.
Strategi Gereja Dalam Merangkul “Umat Yang Terasing” Di Paroki St. Kornelius Pohon Bao Januaria Irianti Boga; Agatha Anna Barek Boleng; Anna Veronika L Mudaj; Maria Fabiana Lusintha Kota; Rosa Da Lima Reban Meman; Hendriku Febrianto Fernandes
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.276

Abstract

Abstract This study examines the Church's strategy in engaging the isolated congregation in St. Cornelius Pohon Bao Parish. This phenomenon poses a complex pastoral challenge driven by economic, social, and technological factors. This study aims to analyze the causes of congregation alienation and the pastoral strategies implemented to rebuild their ecclesial involvement. Using a qualitative descriptive method, data were gathered through interviews with the Parish Priest, church leaders, and the congregation. The results indicate that alienation stems from personal, social, and a weakened sense of community belonging. Effective pastoral strategies include pastoral visits, family accompaniment, strengthening KBG, and persuasive personal approaches. This study concludes that an integrative pastoral model combining personal accompaniment and family involvement is more effective than solely relying on liturgical activities. The novelty lies in identifying this integrative pastoral model within a rural parish context, contributing to contextual and participatory synodal church development.   Keywords: ecclesial base communities, isolated communities, pastoral accompaniment, pastoral strategy, synodal church   Abstrak Penelitian ini mengkaji  strategi Gereja dalam merangkul “umat yang terasing” di Paroki St. Kornelius Pohon Bao. Fenomena ini menjadi tantangan pastoral  kompleks akibat faktor ekonomi, sosial, dan pengaruh teknologi. Penelitian ini  bertujuan menganalisis faktor penyebab keterasingan umat dan strategi pastoral yang diterapkan untuk membangun kembali keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Metode yabg dimenggunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara terhadap Pastor Paroki, Ketua DPP, Ketua KBG, dan umat. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterasingan umat dipicu oleh faktor personal, sosial, serta melemahnya rasa memiliki terhadap komunitas iman. Strategi Pastoral yang diterapkan meliputi kunjungan pastoral, pendampingan keluarga, penguatan KBG,  dan pendekatan persuasif personl. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model pastorla integratif lebih efektif membanhun kembali relasi umat dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada kegiatan liturgis. Kebaharuan penelitian ini terletak pada identifikasi model Pastoral integratif  dalam konteks paroki pedesaan guna mendukung pengembangan gereja sinodal yang kontekstual dan partisipasif.   Kata kunci: komunitas basis gerejawi, umat terasing, pendampingan pastoral, strategi pastoral, sinode gereja
Jesus as a Good Shepherd in John 10:11: Spiritual Leadership in Indonesian Context Paulus Eppang; Inge Nuraini; Hartanto Hartanto
Davar : Jurnal Teologi Vol. 7 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v7i1.278

Abstract

Abstract The metaphor of Jesus as the Good Shepherd in John 10:11 has long shaped Christian understandings of spiritual leadership, yet its relevance to contemporary pastoral leadership in Indonesia has received limited scholarly attention. This study aimed to examine the concept of the shepherd as a spiritual leader by drawing on Jesus' example and exploring its application within the Indonesian Christian community. The study was situated within the context of Indonesian churches. It employed exegetical and hermeneutical approaches, integrating biblical and literary analysis with observations from Indonesian scholarship and interviews with church pastors. The findings showed that effective spiritual leadership reflected Christ's example through sacrificial service, close pastoral relationships, moral integrity, unity, and care for the flock. The study concluded that the Good Shepherd model remained highly relevant for pastoral leadership in Indonesia and contributed a contextual biblical framework for developing Christ-centred spiritual leadership in contemporary Christian communities.   Keywords: good Shepherd, hermeneutics, Indonesian Christianity, John 10:11, spiritual leadership