cover
Contact Name
debie anggraini
Contact Email
scientificj.id@gmail.com
Phone
+6281277167619
Journal Mail Official
scientific.journal@scientic.id
Editorial Address
Jalan Khatib Sulaiman, Kel. Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Scientific Journal
ISSN : 28100204     EISSN : 28100204     DOI : https://doi.org/10.56260/sciena
Core Subject : Health, Science,
Scientific Journal(SCIENA) published by an official of Scientific.id_considers the following types of original contribution for peer review and publication: Research Articles, Review Articles, Letters to Editor, Brief Communications, Case Reports, Book Reviews, Technological Reports, and Opinion Articles. It Is published six times a year and serves the need of scientific and non-scientific personals involved/interested in Natural Science (Physics, Chemistry, Electronics, Mathematics, Astronomy, Oceanography, Engineering), Social Science, Economics, Biology and Medicine. Each issue covers topics, which are of broad readership interest to personals from General Public, Industry, Clinicians, Academia, and Government. Scientic Journal is a must read journal for every one with curiosity in science.
Articles 188 Documents
Gambaran Penderita Ulkus Diabetikum yang Menjalani Tindakan Operasi Faiza Zubir, Aurelia; Alimurdianis; Brisma, Shinta; Zulkarnaini , Aryaldy; Anissa, Mutiara
Scientific Journal Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i4.151

Abstract

Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan hiperglikemia. Menurut WHO, sekitar 463 juta orang di seluruh dunia mengidap diabetes pada tahun 2014. Indonesia merupakan negara kelima dengan jumlah penderita diabetes tertinggi dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2045. Dengan meningkatnya jumlah penderita diabetes, maka angka kejadian komplikasi diabetes juga meningkat. Komplikasi jangka panjang dari diabetes melitus adalah ulkus diabetikum. Di Indonesia, ulkus diabetikum telah mencapai 25% dengan angka kejadian pada DM sebesar 15-25%. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ulkus diabetikum antara lain usia, lama menderita DM, kebiasaan berolahraga, kepatuhan minum obat, penggunaan alas kaki, perawatan kaki, riwayat ulkus, dan dukungan keluarga. Ulkus diabetikum sering kali memerlukan pembedahan untuk meminimalkan nekrosis jaringan dan mengangkat jaringan yang terinfeksi. Pencegahan dan perawatan lebih lanjut penting untuk meminimalkan kekambuhan.
Hubungan Kadar HBA1C dengan Konversi BTA Sputum pada Penderita Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Melitus Tipe II Rasyid, Yulson; Sari Caniago, Reno; Aliefia Adzani, Nazwa; Setiawati, Erdanela; Heppy, Fredia
Scientific Journal Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i4.152

Abstract

Tuberkulosis paru atau disebut dengan TB paru merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun 2022, TB menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia dan hingga saat ini, TB masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Tingginya kasus TB paru dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengatasi atau mencegah terkenanya infeksi tuberculosis, status gizi, pola hidup, kontak erat dengan penderita TB paru dan penyakit penyerta seperti HIV, Diabetes Melitus (DM), dan Asma. Diabetes Melitus (DM) tipe II merupakan penyakit yang sampai saat ini masih dominan sebagai penyerta TB paru. Salah satu indikator kontrol glikemik pada DM adalah kadar hemoglobin A1c (HbA1c). Seseorang dikatakan DM tipe II apabila pada pengukuran kadar HbA1c ≥ 6,5%. Kondisi hiperglikemia pada DM tipe II juga dapat meningkatkan resiko seseorang terinfeksi TB paru dikarenakan hiperglikemia dapat menekan produksi sitokin, timbulnya defek pada fagositosis dan terjadinya disfungsi sel imun sehingga akan memengaruhi respon imun terhadap infeksi TB. DM tipe II sebagai penyakit penyerta pada TB paru diketahui dapat menyebabkan perpanjangan waktu konversi BTA sputum sehingga perubahan BTA positif menjadi negatif membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga akan berdampak terhadap lama terapi, meningkatnya resiko penularan serta meningkatnya resiko timbulnya multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB).
Depresi Paska Melahirkan Anissa, Mutiara; Rahmawati, Rani; Riaty, Zufrias
Scientific Journal Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i4.156

Abstract

Depresi paska melahirkan atau post partum depression merupakan gangguan mental yang sering terjadi setelah persalinan, dengan prevalensi mencapai 10-20% di seluruh dunia. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya depresi paska melahirkan antara lain usia ibu, tingkat pendidikan, jenis persalinan, pekerjaan, dan riwayat paritas. Etiologi depresi paska melahirkan tidak diketahui secara pasti, tetapi diduga melibatkan perubahan fisiologis dan psikologis selama kehamilan dan setelah persalinan. Gejala depresi paska melahirkan meliputi gangguan suasana hati, kurangnya minat, gangguan tidur, dan kelelahan. penatalaksanaan depresi paska melahirkan yang mencakup terapi psikologis dan farmakologis.
Kepatuhan Pengobatan Pasien Skizofrenia Dengan Diabetes Melitus di RSJ Prof. HB Saanin Padang Amellia, Ade Yuli; Afghan Abdillaha, Muhammad
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.157

Abstract

Pendahuluan: Pasien skizofrenia memiliki faktor resiko penyakit degeneratif, salah satu yang paling sering adalah diabetes melitus. Hal ini dapat meningkatkan resiko terhadap gangguan keduanya, sehingga kepatuhan terhadap pengobatan merupakan salah satu upaya untuk mencapai kepulihan.  Tujuan penelitian: Untuk mengetahui kepatuhan pengobatan pasien skizofrenia dengan diabetes melitus di RSJ. Prof. HB Saanin Padang. Metode: Ruang lingkup penelitian ini adalah mengenai Kepatuhan Pengobatan Pasien Skizofrenia dengan Diabetes Melitus. Penelitian dilakukan pada bulan Desember sampai Januari 2024. Jenis penelitian adalah deskriptif kategorik. Populasi terjangkau pada penelitian adalah pasien skizofrenia dengan diabetes melitus di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. HB Saanin Padang sebanyak 45 sampel dengan teknik consecutive sampling. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi IBM 25.0.Hasil: Usia terbanyak adalah 26-45 tahun yaitu 27 orang (60%), jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki yaitu 26 orang (57,8%), pendidikan terakhir terbanyak adalah SMA/SMK/STM yaitu 20 orang (44,4%), status pekerjaan terbanyak adalah tidak bekerja yaitu 31 orang (68,9%), dan kepatuhan pengobatan terbanyak adalah kepatuhan sedang yaitu 29 orang (64,4%). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 responden, kepatuhan pengobatan terbanyak adalah kepatuhan sedang yaitu 29 orang (64,4%).
Demensia Haiga, Yuri; Yulson; Sari Chaniago, Reno
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.158

Abstract

Latar Belakang: Demensia adalah sindrom penurunan fungsi intelektual yang progresif, ditandai dengan gangguan kognitif dan fungsional yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, fungsi sosial, dan profesional. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyakit degeneratif otak seperti demensia Alzheimer, demensia vaskular, demensia frontotemporal, dan demensia badan Lewy. Tujuan: Makalah ini bertujuan memberikan tinjauan komprehensif mengenai demensia, mencakup definisi, klasifikasi, patofisiologi, faktor risiko, kriteria diagnosis, serta tatalaksana yang tersedia. Metode:  Makalah ini disusun melalui tinjauan pustaka dari berbagai sumber ilmiah yang membahas mekanisme fisiologis neuron, patofisiologi demensia, dan pendekatan klinis dalam diagnosis serta penatalaksanaannya. Hasil: Demensia melibatkan kerusakan neuron yang signifikan, ditandai dengan akumulasi protein abnormal seperti beta-amiloid dan tau pada Alzheimer, serta gangguan vaskular pada demensia vaskular. Diagnosis memerlukan evaluasi klinis menyeluruh berdasarkan kriteria DSM-5 dan MMSE. Tatalaksana meliputi terapi farmakologis seperti penghambat kolinesterase (donepezil, galantamine, rivastigmine) dan terapi non-farmakologis seperti stimulasi kognitif, terapi okupasi, dan dukungan bagi keluarga serta pengasuh. Kesimpulan: Demensia adalah kondisi kronis yang memerlukan pendekatan multidisiplin dalam diagnosis dan penatalaksanaan. Edukasi publik tentang faktor risiko dan upaya pencegahan melalui gaya hidup sehat sangat penting untuk mengurangi dampak penyakit ini.
Karakteristik Apendisitis pada Usia Muda dan Usia Lanjut di RS Siti Ramah Padang Tahun 2023 Rauda, Puti Reno; Sjaaf, Fidiariani; Yulhasfi Febrianto, Budi
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.159

Abstract

Pendahuluan: Apendisitis merupakan salah satu kondisi bedah perut yang paling sering terjadi, dengan variasi karakteristik klinis berdasarkan usia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik apendisitis pada kelompok usia muda (18-44 tahun) dan lanjut (≥45 tahun) di RS Siti Rahmah Padang tahun 2023. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia muda, gejala lebih khas seperti nyeri iliaka kanan (88,3%), sedangkan pada usia lanjut, gejala cenderung tidak spesifik (37,9%), menyebabkan keterlambatan diagnosis dan peningkatan risiko komplikasi, seperti perforasi (37,9%). Durasi rawat inap lebih lama pada pasien usia lanjut (>5 hari, 93,1%), mencerminkan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi. Meskipun demikian, semua pasien berhasil keluar dalam kondisi hidup (100%). Kesimpulan: Temuan ini menyoroti pentingnya diagnosis dini, penggunaan pencitraan diagnostik, dan pendekatan penanganan berbasis usia untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas perawatan
Imunopatogenesis Karsinoma Mamae Donaliazarti
Scientific Journal Vol. 3 No. 6 (2024): SCIENA Volume III No 6, November 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i6.160

Abstract

Malignant tumors that originate in the breast tissue are breast cancer. Breast cancer is the most common cancer in women and is the main cause of death in women between 40 and 59 years of age. Risk points for developing mammary carcinoma include age, gender, ethnicity, hormones, previous history of cancer, environmental exposures, diet, and inflammation. Breast cancer can have different characteristics even though it arises from the same cell type. Based on the presence or absence of ER, breast cancer is divided into ER- breast cancer and ER+ breast cancer. The change of normal cells into cancer is a complex process and consists of at least two phases, namely initiation and promotion. Cancer-related genes are divided into three categories: oncogenes, tumor suppressor genes, and genes that regulate apoptosis. Mutations in these genes can cause normal breast cells to become cancerous. The immune system acts as immunosurveillance needed to recognize and destroy abnormal cells before they develop into tumors or kill them if they have already grown. A new paradigm on the interaction of the immune system and tumor cells developed the immunoediting hypothesis. The immunoediting process consists of three phases: elimination, equilibrium and escape. Immunopathogenesis of breast cancer needs to be known as a basis for the development of future management.
Presbiakusis: Patofisiologi, Faktor Risiko, dan Implikasi Klinis pada Lansia Triola, Seres; Maulana, Muhamad Anton; Ashan , Haves; Sjaf, Fidiariani
Scientific Journal Vol. 3 No. 6 (2024): SCIENA Volume III No 6, November 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i6.161

Abstract

Presbiakusis adalah gangguan pendengaran neurosensorik bilateral yang progresif dan ireversibel akibat penuaan organ pendengaran. Gangguan ini lebih umum terjadi pada lansia dan berdampak pada kualitas hidup serta interaksi sosial mereka. Dengan meningkatnya populasi lanjut usia secara global, termasuk di Indonesia, pemahaman yang lebih mendalam tentang patofisiologi, faktor risiko, dan implikasi klinis presbiakusis menjadi semakin penting. Kajian ini bertujuan untuk meninjau aspek patofisiologi, faktor risiko, dan implikasi klinis presbiakusis berdasarkan bukti ilmiah terbaru. Literatur yang berkaitan dengan presbiakusis dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk penelitian epidemiologi, studi patofisiologi, dan laporan klinis mengenai manajemen presbiakusis. Presbiakusis disebabkan oleh degenerasi koklea dan jalur auditorik akibat penuaan. Faktor risiko meliputi predisposisi genetik, hipertensi, diabetes mellitus, paparan kebisingan, dan konsumsi zat ototoksik seperti rokok dan alkohol. Secara klinis, presbiakusis ditandai dengan penurunan kemampuan mendengar suara berfrekuensi tinggi, gangguan diskriminasi bicara, serta gejala tambahan seperti tinnitus dan vertigo. Tatalaksana presbiakusis melibatkan penggunaan alat bantu dengar, rehabilitasi pendengaran, serta pencegahan melalui kontrol faktor risiko.Presbiakusis merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada lansia dengan dampak luas terhadap kognisi, kesejahteraan mental, dan sosial. Meskipun tidak dapat disembuhkan, intervensi dini dengan alat bantu dengar dan modifikasi gaya hidup dapat meningkatkan kualitas hidup penderita. Edukasi serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini dan strategi pencegahan presbiakusis sangat diperlukan untuk mengurangi dampak buruk kondisi ini.
Gambaran Fungsi Kognitif Penderita Post Stroke di Poliklinik Neurolgi RSUD M. Natsir Asril, Asrizal
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.162

Abstract

Latar Belakang : Stroke sampai saat ini masih merupakan masalah besar, sekaligus tantangan dibidang kesehatan. Data epidemiologi dari seluruh dunia saat ini menunjukkan bahwa stroke menduduki peringkat kedua penyebab kematian dan disabilitas ketiga di dunia. Disabilitas pascastroke tidak hanya berupa gangguan fisik (motorik), namun juga gangguan kognitif.  Penderita stroke diRSUD M Natsir tahun 2023 sebanyak 580 orang yang terdiri dari stroke iskemik 484 orang dan stroke hemoragik 96 orang.Data tentang gambaran fungsi kognitif penderita post stroke di RSUD M Natsir dalam 5 tahun terakhir tidak ada.t ujuan:Mengetahuigambaran fungsi kognitif penderita post stroke di PoliklinikNeurologi RSUD M. Natsir. Metode : Studi deskriptif  kuantitatif melalui desain cross sectional dengan menggunakan data rekam medik penderita post stroke di Poliklinik Neurologi RSUD M Natsir dari bulan Januari 2024 sampai Juni 2024. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui fungsi kognitif responden menggunakan MMSE (Mini Mental State Examination). Data penderita strokekemudiandiolahdanditampilkandalambentuknarasi dan tabel. Hasil :Padapenelitian, didapatkan 35 subjek penelitian terdiri post stroke iskemik sebanyak  20 orang (57,1 %) dan stroke hemoragik sebanyak 15 orang (42,9 %). Mayoritas penderita post stroke adalah jenis kelamin laki-laki 25 orang (71,4 %), usia terbanyak 56-65 tahun 16 orang (45,7 %), pekerjaan terbanyak pensiunan PNS 13 orang (37,2 %) dan tingkat pendidikan terbanyak SMA 15 orang (42,9%). Hasil pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan MMSE didapatkan 18 orang (51,4%) dengan  hasil normal, 10 orang (28,6 %) dengan hasil probable gangguan kognitif dan 7 orang (20 %) dengan hasil definite gangguan kognitif . Kesimpulan : Pada penderita post stroke didapatkan hasil mayoritas fungsi kognitif normal sebanyak 18 orang (51,4%), diikuti dengan probable gangguan kognitif sebanyak 10 orang (28,6 %)dan 7 orang (20 %) dengan definite gangguan kognitif.
Gambaran Pasien Tuberkulosis Multidrug Resistance (TB-MDR) yang Menjalani Pengobatan di RSUD M.Natsir Selama Periode Tahun 2021-2024 Nikmawati, Sari
Scientific Journal Vol. 3 No. 5 (2024): SCIENA Volume III No 5, September 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i5.163

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis Multidrug-Resistant (TB MDR) merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TB secara global. Indonesia termasuk dalam negara dengan beban TB MDR tinggi, di mana resistensi terhadap rifampisin dan isoniazid mengakibatkan pengobatan yang lebih kompleks, berdurasi panjang, serta berisiko efek samping. Tujuan: Mengetahui gambaran pasien TB MDR yang menjalani pengobatan di RSUD M. Natsir selama periode 2021–2024. Metode: Studi deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien TB MDR yang menjalani pengobatan di RSUD M. Natsir Solok pada tahun 2021– 2024. Sampel penelitian berjumlah 62 pasien yang dipilih dengan metode total sampling. Hasil: Mayoritas pasien TB MDR adalah laki-laki sebanyak 32 orang (51,6%) dan paling banyak terjadi pada kelompok usia 46–55 tahun (42%). Berdasarkan jenis pekerjaan, kasus TB MDR terbanyak terjadi pada Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 25 orang (40,3%). Komorbid yang paling sering ditemukan adalah diabetes melitus tipe 2 (54,5%). Efek samping pengobatan yang paling banyak dikeluhkan adalah mual sebanyak 37 kasus (59,6%). Indeks Massa Tubuh (IMT) yang paling banyak ditemui adalah underweight (56,4%) dengan jenis resistensi yang paling sering ditemukan adalah resistensi sekunder (59,6%). Kesimpulan: Kasus TB MDR di RSUD M. Natsir selama periode tahun 2021-2024 lebih banyak lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan kelompok usia terbanyak pada kategori 46-55 tahun. Mayoritas pasien bekerja sebagai IRT dan DM tipe 2 merupakan penyakit komorbid yang paling sering ditemukan . Efek samping pengobatan yang paling banyak dikeluhkan adalah mual. Berdasarkan status gizi terbanyak ditemui adalah underweight dengan jenis resistensi yang paling sering ditemukan adalah resistensi sekunder.