cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru
ISSN : 28078837     EISSN : 28078667     DOI : https://doi.org/10.51878/teacher.v2i1
Core Subject : Education,
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik dan lain lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 146 Documents
UPAYA MENINGKATKAN LISTENING SKILL PADA PEMBELAJARAN TRANSAKSIONAL TEKS MELALUI METODE THREE PHASE TECHNIQUE DI KELAS VIII Astati, Era
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.5753

Abstract

Learning English listening for junior high school students is highly recommended so that students are able to communicate verbally. One method that can be used in learning to improve students' listening skills is the Three-Phase Technique Learning Method. The Three-Phase Technique Learning Method is a technique that divides learning activities into three main parts, namely initial activities (Pre Activities), core activities (Main Activities), and final activities (Post Activities). This study focuses on improving abilities, namely listening skills. This study is a type of classroom action research (PTK) through the stages of planning, implementation, evaluation and reflection for two cycles. The results of this PTK concluded that there was an increase in students' listening skills after going through transactional text learning using the Three-Phase Technique Learning Method. In the pre-cycle, the achievement of learning completeness was 37.5%, cycle I was 65.6% and in cycle II it reached 84.3%. With the indicator of the achievement of this PTK success, the learning completeness was at least 80%, so this PTK has been successfully and effectively implemented for two cycles. ABSTRAKBelajar listening Bahasa Inggrispada siswa SMP sangat dianjurkan agar siswa mampu berkomunikasi secara verbal. Salah satu metode yang bisa digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan aspek listening skill siswa adalah Metode Pembelajaran Three-Phase Technique. Metode Pembelajaran Three-Phase Technique adalah teknik yang membagi kegiatan pembelajaran menjadi tiga bagian utama yaitu kegiatan awal (Pre Activities), kegiatan inti (Main Activities), dan kegiatan akhir (Post Activities). Dalam penelitian ini memfokuskan pada peningkatan kemampuan yaitu kemampuan listening skill. Penelitian ini berjenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi selama dua siklus. Hasil PTK ini diperoleh simpulan bahwa adanya peningkatan listening skill siswa setelah melalui pembelajaran transaksional teks menggunakan Metode Pembelajaran Three-Phase Technique. Pada pra siklus, capaian ketuntasan pembelajaran sebesar 37,5%, siklus I sebesar 65,6% dan pada siklus II mencapai 84,3%. Dengan indikator capaian keberhasilan PTK ini ketuntasan pembelajaran minimal 80% maka PTK ini telah berhasil dan efektif diterapkan selama dua siklus.
POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PEMBELAJARAN SOSIAL ANAK GENERASI ALPHA DI GKJ JENAWI SRAGEN Natalia, Yustika Widia; Setyanti, Eliana; Kristriyanto, Kristriyanto
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.5869

Abstract

ABSTRACT The rapid development of digital technology has shaped the unique characteristics of Generation Alpha children born into a world already saturated with gadgets and the internet. Their high exposure to digital media has led to a decline in essential social skills such as empathy, communication, and interpersonal relationships. In this context, parents play a vital role as the primary social educators who influence their children’s character development through the parenting styles they apply. This study aims to describe and analyze parenting styles in relation to the social learning of Generation Alpha children in the context of Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jenawi, Sragen. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with five parents and five children aged 7–12 who actively participate in church activities. The results show that most parents adopt a democratic parenting style characterized by role modeling, two-way communication, logical discipline, and positive reinforcement through praise. In addition, parents actively regulate gadget usage, reflect on their own behaviors, and provide non-digital alternative activities for their children. These practices create a family microsystem environment that supports holistic social learning. In conclusion, active parental involvement using a balanced and adaptive parenting approach in the digital era can effectively foster children’s social competencies. These findings highlight the need for church and community-based support programs to assist parents in contextual and sustainable parenting practices. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membentuk karakteristik unik pada Generasi Alpha, yakni anak-anak yang sejak lahir akrab dengan gawai dan internet. Tingginya keterpaparan terhadap media digital berdampak pada menurunnya keterampilan sosial anak, seperti empati, komunikasi, dan relasi interpersonal. Dalam konteks ini, orang tua memegang peranan penting sebagai pendidik sosial pertama yang dapat membentuk karakter anak melalui pola asuh yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pola asuh orang tua terhadap pembelajaran sosial anak Generasi Alpha di lingkungan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jenawi, Sragen. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima orang tua dan lima anak usia 7–12 tahun yang aktif mengikuti kegiatan gereja. Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis yang diwujudkan melalui keteladanan, komunikasi dua arah, disiplin yang edukatif, serta pemberian pujian sebagai bentuk penguatan positif. Selain itu, orang tua secara aktif mengatur penggunaan gadget dengan bijak, melakukan refleksi terhadap perilaku mereka sendiri, dan menyediakan alternatif kegiatan non-digital bagi anak-anak. Pola pengasuhan ini membentuk lingkungan mikrosistem keluarga yang mendukung proses pembelajaran sosial secara holistik. Kesimpulannya, peran aktif orang tua dengan pendekatan pengasuhan yang seimbang dan adaptif terhadap era digital mampu mengembangkan kemampuan sosial anak secara efektif. Temuan ini berimplikasi pada pentingnya peran gereja dan komunitas dalam mendukung orang tua melalui program pendampingan pengasuhan yang kontekstual dan berkelanjutan.
PENDIDIKAN LIBERALISME DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Br, A. Nurhidayah; Harisah, Afifuddin
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.6295

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the relationship between liberal education and Islamic educational philosophy, highlighting their points of convergence and divergence in the development of a contemporary Islamic education model in Indonesia. Through a qualitative approach and philosophical analysis, this research explores how the values of freedom of thought, rationality, and autonomy, which are characteristic of liberal education, can interact with the principles of monotheism, the integration of reason and revelation, and the cultivation of noble character within Islamic education. The findings indicate that while there are similarities in the emphasis on the development of rationality and intellectual freedom, there are fundamental differences in epistemological and axiological aspects, particularly concerning the role of revelation as a source of knowledge and moral boundaries within Islamic education. The primary challenges in integrating these two approaches include differing perceptions of individual freedom, curriculum design, teacher training, and social resistance to change. This research proposes a holistic model of Islamic education that is responsive to the dynamics of globalization while preserving its spiritual identity and Islamic values. The implications of this study are significant for the development of an adaptive, inclusive, and character-driven Islamic education system, aimed at preparing a generation capable of competing on a global scale without losing their spiritual and moral roots. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara pendidikan liberalisme dan filsafat pendidikan Islam, dengan menyoroti titik temu dan perbedaan keduanya dalam pengembangan model pendidikan Islam kontemporer di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis filosofis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai kebebasan berpikir, rasionalitas, dan otonomi yang menjadi ciri khas pendidikan liberal dapat berinteraksi dengan prinsip-prinsip tauhid, integrasi akal dan wahyu, serta pembentukan akhlak mulia dalam pendidikan Islam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pada penekanan pengembangan rasionalitas dan kebebasan intelektual, namun terdapat perbedaan mendasar dalam aspek epistemologi dan aksiologi, khususnya terkait peran wahyu sebagai sumber pengetahuan dan batasan moral dalam pendidikan Islam. Tantangan utama dalam integrasi kedua pendekatan ini meliputi perbedaan persepsi tentang kebebasan individu, desain kurikulum, pelatihan guru, dan adanya resistensi sosial terhadap perubahan. Penelitian ini menawarkan model pendidikan Islam yang holistik dan responsif terhadap dinamika globalisasi, namun tetap menjaga identitas spiritual dan nilai-nilai keislaman. Implikasi dari penelitian ini penting bagi pengembangan sistem pendidikan Islam yang adaptif, inklusif, dan berkarakter, guna menyiapkan generasi yang mampu berkompetisi secara global tanpa kehilangan akar spiritual dan moralnya.
TEOLOGI SEBAGAI PILAR UTAMA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KRISTEN DI LINGKUNGAN GEREJA Parebong, Wawan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.6351

Abstract

ABSTRACT The church is a community of believers called to proclaim the truth based on the teachings of Scripture, one of which is through the implementation of Christian Religious Education (CRE). This responsibility is ongoing, as the spiritual formation of the congregation must be continuously nurtured. In facing modernization, changes in lifestyle among church members, and the rise of teachings that deviate from God’s Word, the church needs to develop CRE that is grounded in theology. The content and direction of CRE stem from theological reflection that reveals God's will. Therefore, theology serves as a vital foundation in designing biblical CRE instruction aimed at shaping spiritually mature believers who can live out their faith in daily life. This article utilizes a qualitative descriptive approach, based on literature study. The data were obtained through the exploration and analysis of various sources such as books, scholarly journals, and relevant references in order to explore theological understanding as the foundation for the development of Christian Religious Education (CRE). The findings underscore the importance of recognizing PAK as a central mission of the church that must be nurtured and expanded. As a theological endeavor, PAK must be developed with theology as its guiding principle—ensuring that Christian education within the church remains doctrinally sound and spiritually transformative. ABSTRAK Gereja adalah komunitas orang percaya yang dipanggil untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan ajaran Kitab Suci, salah satunya melalui penyelenggaraan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Tanggung jawab ini bersifat berkelanjutan karena pembinaan iman jemaat harus terus dilakukan. Dalam menghadapi modernisasi dan perubahan gaya hidup jemaat, serta tantangan ajaran yang menyimpang dari firman Tuhan, gereja perlu mengembangkan PAK yang berlandaskan teologi. Sebab, isi dan arah PAK bersumber dari refleksi teologis yang menjelaskan kehendak Allah. Dengan demikian, teologi menjadi dasar penting dalam merancang pengajaran PAK yang alkitabiah untuk membentuk jemaat yang matang secara rohani dan mampu menghidupi imannya dalam keseharian. Artikel ini disusun dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur. Data diperoleh melalui penelusuran dan analisis terhadap berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, dan referensi relevan guna menggali pemahaman teologis sebagai dasar pengembangan Pendidikan Agama Kristen (PAK). Hasil dari kajian ini menegaskan bahwa PAK merupakan bagian integral dari misi gereja yang tidak boleh diabaikan. Sebagai wujud karya teologis, PAK harus dikembangkan secara konsisten dengan landasan teologi yang kokoh, agar gereja dapat menumbuhkan jemaat yang kuat dalam iman dan aktif dalam pelayanan.
DISIPLIN POSITIF DI TENGAH ARUS DEGRADASI KARAKTER DAN ALTERNATIF PENDIDIKAN BARAK: STUDI KASUS IMPLEMENTASI DI SMAN 1 RANCABUNGUR Purnamasari, Ria Indria; US, Supardi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i2.6472

Abstract

The focus of this research was to determine the experiences, perceptions, and practices of implementing positive discipline at SMA Negeri 1 Rancabungur as the first generation of Sekolah Penggerak. In the midst of character degradation issues and military barracks education controversies, the researcher was interested in highlighting the theme of positive discipline as an alternative to character building. This research used a qualitative descriptive method with a case study approach. Data were collected through questionnaires, participant observation, structured interviews, and document analysis. The result showed that members of SMA Negeri 1 Rancabungur share a common perception of positive dicipline and have implemented it in various school activities through preventive and persuasive approaches such as colossal approach, classical approach, and personal approach. The majority of respondents considered the implementation of positive discipline at SMA Negeri 1 Rancabungur to provide good results. However, challenges such as time constraints, consistency, and diversity of student backgrounds that must be overcome have led to differing opinions on the issues. Some believed that strict discipline and punishment should be applied, while others believed that positive discipline is the best method. ABSTRAKFokus penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui pengalaman, persepsi, dan praktik penerapan disiplin positif di SMA Negeri 1 Rancabungur sebagai sekolah penggerak angkatan pertama. Di tengah masalah degradasi karakter dan kontroversi pendidikan barak militer, peneliti tertarik mengangkat tema disiplin positif sebagai alternatif penanaman karakter. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data melalui metode kuesioner, observasi partisipan, wawancara terstruktur, dan analisis dokumen.  Hasil menunjukkan bahwa warga SMA Negeri 1 Rancabungur telah memiliki persepsi yang sama tentang disiplin positif dan telah menerapkan disiplin positif dalam berbagai kegiatan sekolah melalui pendekatan prefentif dan persuasif seperti pendekatan kolosal, pendekatan klasikal, dan pendekatan personal.  Mayoritas responden menganggap penerapan disiplin positif di SMA Negeri 1 Rancabungur memberikan hasil yang baik. Namun, adanya tantangan seperti masalah waktu, konsistensi, dan keanekaragaman latar belakang siswa yang harus diatasi menghadirkan perbedaan pendapat mengenai masalah . Sebagian orang setuju bahwa disiplin yang tegas dan hukuman harus diterapkan, sedangkan yang lain tetap percaya bahwa disiplin positif adalah metode terbaik.
MODIFIKASI PERILAKU TEKNIK TOKEN ECONOMY UNTUK MENGURANGI KEBIASAAN BERMAIN GAME ONLINE PADA SISWA SEKOLAH DASAR Yemima, Chrisanta Kezia
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i3.7691

Abstract

ABSTRACT The tendency of elementary school students to play the online game Mobile Legends excessively leads to various negative impacts, ranging from decreased learning concentration to the emergence of inappropriate language use in daily interactions. This study focuses on reducing such gaming habits through the application of the token economy technique as a behavior modification strategy for a fifth-grade student who shows symptoms of game addiction. The research employed a single-subject design with an A-B-A pattern over a two-month period and involved giving tokens each time the subject demonstrated positive behaviors such as reducing gaming duration, completing school assignments on time, and maintaining a regular sleep routine. Data were collected through observations, interviews, and daily monitoring sheets completed by parents and teachers. The results indicate a reduction of more than 80% in gaming duration compared to the initial condition, accompanied by improved learning discipline and more consistent sleep patterns during the intervention phase. These findings confirm that the token economy technique is effective in reducing game addiction behavior and enhancing academic responsibility in elementary school students. ABSTRAK Kecenderungan bermain game online Mobile Legends secara berlebihan pada siswa sekolah dasar menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari penurunan konsentrasi belajar hingga munculnya penggunaan bahasa kasar dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini berfokus pada upaya mengurangi kebiasaan bermain game tersebut melalui penerapan teknik token economy sebagai strategi modifikasi perilaku pada seorang siswa kelas V yang menunjukkan kecenderungan kecanduan bermain game. Metode yang digunakan adalah single-subject design dengan pola A-B-A, dilaksanakan selama dua bulan, dan mencakup pemberian token setiap kali subjek memperlihatkan perilaku positif seperti mengurangi durasi bermain game, menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu, serta menjaga pola tidur. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta lembar pemantauan harian dari orang tua dan guru. Hasil penelitian menunjukkan penurunan durasi bermain game hingga lebih dari 80% dibandingkan kondisi awal, disertai peningkatan disiplin belajar dan perbaikan pola tidur secara konsisten selama fase intervensi. Temuan ini menegaskan bahwa teknik token economy efektif dalam mengurangi perilaku kecanduan game dan meningkatkan tanggung jawab akademik pada siswa sekolah dasar.
PENGEMBANGAN MANAJEMEN SEKOLAH RAMAH ANAK DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SISWA SEKOLAH DASAR Harahap, Rizki Dwi Aprilia; Purba, Diva Egita; Siburian, Parasina Caroldion Br; Namira, R. Nazra Fitri; Budianto, Agum
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8219

Abstract

ABSTRACT The development of Child-Friendly Schools (CFS) is crucial in creating a safe, inclusive learning environment that supports the psychological development of elementary school students. However, the implementation of CFS in many schools still faces challenges, particularly in terms of management, teacher readiness, and the availability of supporting facilities. This study aims to analyze how school management develops CFS and how these efforts contribute to improving students’ psychological well-being. The study employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through observations, in-depth interviews with principals, teachers, and students, as well as analysis of school documents. The study includes identification of initial conditions and needs mapping, analysis of child protection policies and programs, evaluation of CFS implementation in classrooms and the school environment, and assessment of its impact on indicators of students’ psychological well-being. The results indicate that CFS development is carried out through the formulation of child protection policies, enhancement of teachers’ capacity in positive parenting, strengthening guidance and counseling services, and provision of child-friendly facilities such as counseling rooms and safe play areas. The findings also show increased student self-confidence, reduced learning anxiety, and improved academic motivation. Overall, the study concludes that school management that consistently applies CFS principles is able to create a safe and supportive learning environment, thereby significantly contributing to the improvement of students’ psychological well-being. ABSTRAK Pembangunan Sekolah Ramah Anak (SRA) sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan psikologis siswa sekolah dasar. Namun, implementasi SRA di banyak sekolah masih menghadapi hambatan, terutama dalam hal manajemen, kesiapan guru, dan ketersediaan fasilitas pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana manajemen sekolah mengembangkan SRA dan bagaimana upaya ini berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta analisis dokumen sekolah. Penelitian ini mencakup identifikasi kondisi awal dan pemetaan kebutuhan, analisis kebijakan dan program perlindungan anak, evaluasi implementasi CFS di kelas dan lingkungan sekolah, serta penilaian dampak terhadap indikator kesejahteraan psikologis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SRA dilakukan melalui formulasi kebijakan perlindungan anak, peningkatan kapasitas guru dalam parenting positif, penguatan layanan bimbingan dan konseling, serta penyediaan fasilitas ramah anak seperti ruang konseling dan area bermain aman. Temuan juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri siswa, penurunan kecemasan belajar, dan peningkatan motivasi akademik. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa manajemen sekolah yang secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip SRA mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung, sehingga berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa.
TANTANGAN ETIKA DIGITAL ISLAMI: STUDI FENOMENOLOGIS PADA SISWA YANG MENGAKSES KONTEN KEAGAMAAN SINGKAT Hasibuan, Sulham Efendi; Dini, Fitri Rahma; Hasibuan, Nesmi Yuli
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8366

Abstract

The rise of short-form video platforms has transformed how young people consume religious content shifting from in-depth study to bite-sized religious messages. This transformation presents both opportunities for religious outreach and ethical challenges for students as consumers and sharers of content. This paper provides a systematic literature review (SLR) of empirical and conceptual studies on Islamic digital ethics and the consumption of short religious content among students. Reviewing 5 key articles (2020–2025), the study identifies core themes: (1) accuracy and tabayyun (verification) of content, (2) oversimplification and decontextualization of scriptural texts, (3) performative religiosity, (4) privacy and dissemination of personal data, (5) polarisation and provocation risks, and (6) potential for digital religious education. While short videos increase religious interest and engagement, students often face interpretive confusion and vulnerability to unverified information. Recommendations include embedding Islamic digital ethics into curricula, tabayyun training, and partnerships between religious educators and content creators to enhance content integrity. These findings are relevant to educators, policy makers, and digital da'wah practitioners engaging Gen Z and younger audiences. ABSTRAK Perkembangan platform short-form video telah mengubah cara generasi muda mengakses konten keagamaan: dari kajian panjang ke potongan pesan singkat yang mudah disebarluaskan. Transformasi ini menghadirkan peluang dakwah dan pembelajaran agama yang lebih luas sekaligus menimbulkan tantangan etis bagi siswa sebagai konsumen dan penyebar konten. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap studi-studi empiris dan konseptual mengenai etika digital Islami dan praktik konsumsi konten keagamaan singkat di kalangan pelajar. Dengan menelaah 15 artikel utama (2020–2025) yang relevan, artikel ini mengidentifikasi tema-tema utama: (1) akurasi dan tabayyun (verifikasi) konten, (2) simplifikasi teks-naqli dan kehilangan konteks/tafsir, (3) fenomena performativitas keagamaan (pamer ibadah), (4) privasi dan penyebaran data personal, (5) polarisasi & potensi provokasi, serta (6) peluang pendidikan religius digital. Hasil menunjukkan bahwa meski konten singkat efektif menarik perhatian dan meningkatkan minat beragama, banyak pelajar mengalami kebingungan interpretatif dan rentan menerima informasi yang belum terverifikasi. Artikel ini merekomendasikan integrasi pendidikan etika digital Islami dalam kurikulum, pelatihan tabayyun, dan kolaborasi antara pendidik agama dengan pembuat konten untuk memastikan kualitas pesan dakwah. Temuan ini penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi dakwah digital yang bekerja dengan generasi Z dan alfa.
SUARA YANG DIBUNGKAM DI SEKOLAH: ANALISIS SOSIAL-KRITIS ATAS TEKANAN TERHADAP GURU DAN SISWA Alhafizh, Muhammad Rasyad; Nasarani, Kerensa Ruth Rengganis; Brahmantia, Farrell Anugrah; Fitri, Erika Annisa; Harianto, Muhammad Fauzan
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8800

Abstract

Freedom of expression for teachers and students is a crucial element in achieving democratic education. However, in practice there are still silenced voices in schools due to various pressures. This research aims to critically analyze the social conditions that pressure teachers and students, limiting their right to speak up. Using a qualitative method, data were gathered through case studies from media reports and relevant literature. The findings reveal forms of voice suppression, including students punished for criticizing school policies and teachers sanctioned for expressing their opinions. Hierarchical culture and a prevailing culture of silence in educational institutions perpetuate this phenomenon, causing school members’ aspirations to be neglected and constructive dialogue stifled. The discussion highlights that silencing contradicts the principles of national education which are supposed to be democratic, as well as laws that guarantee freedom of expression. As recommendations, it is imperative to foster a school climate that is more inclusive, democratic, and safe for constructive criticism. Supportive policies and commitment from all stakeholders are needed so that schools truly become venues for character building that respects the dignity and voice of every educational individual. ABSTRAK Kebebasan berpendapat bagi guru dan siswa merupakan elemen penting dalam mewujudkan pendidikan demokratis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya suara-suara yang dibungkam di lingkungan sekolah akibat berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara sosial-kritis fenomena tekanan yang membatasi hak bersuara guru dan siswa. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui studi kasus dari laporan media dan literatur terkait. Temuan mengungkap bentuk-bentuk pembungkaman suara, antara lain siswa yang dihukum karena mengkritik kebijakan sekolah dan guru yang dikenai sanksi saat menyuarakan pendapat. Budaya hierarkis dan budaya diam di institusi pendidikan turut melanggengkan fenomena ini. Akibatnya, aspirasi warga sekolah terabaikan dan potensi dialog konstruktif terhambat. Hasil pembahasan menekankan bahwa pembungkaman tersebut bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang demokratis serta amanat hukum yang menjamin hak berpendapat. Sebagai rekomendasi, perlu dibangun iklim sekolah yang lebih inklusif, demokratis, dan aman bagi kritik membangun. Dukungan kebijakan dan komitmen semua pihak diperlukan agar sekolah benar-benar menjadi wahana pembentukan karakter yang menghargai martabat dan suara setiap insan pendidikan.
DARI LISAN KE LAYAR: PERGESERAN OTORITAS GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MEDIA DIGITAL Safitri, Yenni; Andini, Tri; Hasibuan, Sulham Efendi
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v5i4.8835

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed the educational landscape, including Islamic Religious Education (PAI). This transformation has led to a shift in teacher authority, where teachers are no longer the sole source of knowledge but share their roles with digital media and online learning platforms. This study aims to examine the shift in the authority of Islamic education teachers in digital-based learning and the factors influencing this transformation. Using a qualitative literature review approach, this research analyzes various national and international scholarly articles related to digital learning, teacher authority, and Islamic education. The findings indicate that the shift in teacher authority is characterized by the increasing role of digital media, the transformation of teachers into facilitators, and the emergence of alternative religious authorities through social media and online platforms. Nevertheless, teachers remain essential in guiding students, validating religious knowledge, and shaping students’ moral and spiritual character. Therefore, strengthening digital competence and pedagogical skills is crucial to maintaining the authority and relevance of Islamic education teachers in the digital era. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Transformasi ini berdampak langsung pada pergeseran otoritas guru yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, kini berbagi peran dengan media digital dan sumber belajar daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif bagaimana pergeseran otoritas guru PAI terjadi dalam konteks pembelajaran berbasis media digital, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran otoritas guru PAI ditandai oleh meningkatnya peran teknologi sebagai sumber belajar, perubahan peran guru menjadi fasilitator, serta munculnya otoritas alternatif seperti media sosial dan platform digital keagamaan. Meskipun demikian, guru tetap memiliki peran strategis dalam membimbing, memvalidasi informasi, serta membentuk karakter dan nilai keislaman peserta didik. Oleh karena itu, penguatan kompetensi digital dan pedagogik guru PAI menjadi kebutuhan mendesak agar otoritas keilmuan dan moral tetap terjaga di era digital.