cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 132 Documents
PERAN MEDIA LEAFLET DIDALAM MENINGKATKAN PERSEPSI ORANGTUA TENTANG IMUNISASI DASAR DI DESA KERTONEGORO JEMBER Hasri, Dwi; Subiastutik, Eni
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i4.7294

Abstract

ABSTRACT The coverage of complete basic immunization in Kertonegoro Village reached only 75.3%, still below the 90% target, resulting in the absence of herd immunity. A total of 6.41% of the target population refused immunization, mainly because families did not allow their children to be immunized and due to parents’ negative perceptions that immunization causes fever and fussiness in children, leading to incomplete basic immunization. Efforts to improve parents’ perceptions and understanding of basic immunization during posyandu (integrated health post) activities are generally carried out through direct counseling and rarely use media aids. The purpose of this study was to analyze the effect of using leaflet media on parents’ perceptions of basic immunization in Kertonegoro Village. This study employed a Pre-Experimental Design with a One Group Pretest-Posttest approach. The population consisted of parents with infants aged 1–12 months, totaling 135 respondents. A sample of 57 parents was selected using simple random sampling and analyzed bivariately using the McNemar Test. Before the counseling, nearly half of the parents had negative perceptions of basic immunization. After counseling using leaflet media, there was a significant increase of 24.6% in parents’ positive perceptions. This finding indicates that leaflet media is effective in changing parents’ perceptions of basic immunization for infants. Therefore, leaflets can serve as an effective alternative medium to improve parents’ perceptions and help achieve the target of complete basic immunization coverage. ABSTRAK Cakupan imunisasi dasar lengkap di Desa Kertonegoro hanya mencapai 75,3%, masih di bawah target 90%, sehingga herd immunity belum terbentuk. Sebanyak 6,41% sasaran menolak imunisasi dengan alasan utama keluarga tidak mengizinkan anak diimunisasi serta persepsi negatif orang tua bahwa imunisasi menyebabkan anak demam dan rewel, sehingga pemberian imunisasi dasar menjadi tidak lengkap. Upaya untuk meningkatkan persepsi dan pemahaman tentang imunisasi dasar selama kegiatan posyandu umumnya dilakukan melalui penyuluhan langsung, dan jarang sekali menggunakan alat bantu media. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa pengaruh penggunaan media leaflet terhadap persepsi orangtua tentang imunisasi dasar di desa Kertonegoro. Penelitan ini menggunakan Pre-Experimental Design dengan pendekatan One Group Pretest-Postest. Populasi dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki bayi usia 1-12 bulan yang berjumlah 135 responden. Sampel berjumlah 57 orang tua bayi yang diambil secara simple random sampling dan dianalisa bivariat dengan menggunakan uji Mc Nemar Test. Sebelum penyuluhan, hampir setengah dari orang tua memiliki persepsi negatif terhadap imunisasi dasar. Setelah diberikan penyuluhan menggunakan media leaflet, terjadi peningkatan signifikan pada persepsi positif orang tua sebesar 24,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa media leaflet efektif dalam mengubah persepsi orang tua tentang imunisasi dasar pada bayi. Dengan demikian, leaflet dapat dijadikan sebagai media alternatif yang efektif untuk meningkatkan persepsi orang tua dan membantu pencapaian target imunisasi dasar.
HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA MASYARAKAT TABANAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDIRI I PUSPAYANI, NI PUTU; WIDYANDARI, NI MADE AYU SUKMA; MAHARDIKA, I MADE RAI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i1.4454

Abstract

Introduction: Hypertension is an increase in systolic blood pressure above 140 mmHg and diastolic blood pressure above 90 mmHg. Meanwhile, efforts to control high blood pressure are only carried out by one fifth of hypertension sufferers. Hypertension can be influenced by various factors, namely excessive consumption of sugar, salt and fat, lack of physical activity, excessive alcohol consumption, and stress. Method: This research design uses quantitative descriptive with cross-sectional approach. The total sample was 168 respondents using random sampling techniques. The data collection tool used was a questionnaire. Data analysis used the Chi-Square test. Results: lifestyle variables and eating patterns have a significant relationship with the incidence of hypertension, and lifestyle variables have a greater influence with a p value of 0.036 greater on the incidence of hypertension. Conclusion: lifestyle variables and eating patterns have a significant relationship with the incidence of hypertension (P-value 0.036: AOR 0.442). ABSTRAKPendahuluan: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg. Sementara upaya pengendalian tekanan darah tinggi itu hanya dilakukan oleh seperlima penderita hipertensi. Hipertensi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu konsumsi gula, garam dan lemak berlebih, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan stress. Metode: Desain penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 168 responden menggunakan teknik random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: variabel gaya hidup dan pola makan memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian hipertensi,dan variabel gaya hidup memiliki pengaruh lebih besar dengan nilai hasil p 0,036 lebih besar terhadap kejadian hipertensi. Simpulan: variabel gaya hidup dan pola makan memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian hipertensi (P-value 0,036 : AOR 0,442).
TERAPI PERILAKU KOGNITIF PADA PASIEN LAKI-LAKI DENGAN GANGGUAN CEMAS MENYELURUH DENGAN SERANGAN PANIK: SEBUAH LAPORAN KASUS Putra, I Putu Risdianto Eka; Harianja, Sahat Hamonangan; Aryani, Luh Nyoman Alit; Yuanita, Savitri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i1.4609

Abstract

Generalized Anxiety Disorder (GAD) with panic attacks is a debilitating condition that significantly disrupts daily functioning and quality of life. Cognitive Behavior Therapy (CBT) is an evidence-based intervention known to be effective in treating anxiety-related disorders. This study was a qualitative study with case study appoach using in-dept interview, presenting the treatment process and outcomes of a male patient diagnosed with GAD who frequently experiences panic attacks. The patient underwent structured CBT sessions focusing on cognitive restructuring, exposure techniques, and relaxation strategies. Throughout the treatment, the patient demonstrated a reduction in anxiety symptoms, decreased frequency of panic attacks, and improved coping mechanisms. These findings highlight the effectiveness of CBT in managing GAD with panic attacks and emphasize the importance of an individualized therapeutic approach. This case contributes to the growing body of evidence supporting CBT as a primary treatment modality for anxiety disorders. ABSTRAKGangguan cemas menyeluruh/ Generalized Anxiety Disorder  (GAD) dengan serangan panik adalah kondisi yang melemahkan dan secara signifikan mengganggu fungsi sehari-hari dan kualitas hidup. Terapi Perilaku Kognitif/Cognitive Behavior Therapy (CBT) adalah intervensi berbasis bukti yang dikenal efektif dalam mengobati gangguan terkait kecemasan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan metode wawancara mendalam yang menyajikan proses perawatan dan luaran dari seorang pasien laki-laki yang didiagnosis dengan GAD dan sering mengalami serangan panik. Pasien menjalani sesi CBT terstruktur yang berfokus pada restrukturisasi kognitif, teknik pemaparan, dan strategi relaksasi. Selama perawatan, pasien menunjukkan penurunan gejala kecemasan, penurunan frekuensi serangan panik, dan peningkatan mekanisme koping. Temuan ini menyoroti efektivitas CBT dalam mengelola GAD dengan serangan panik dan menekankan pentingnya pendekatan terapeutik yang individual. Kasus ini berkontribusi pada pengumpulan bukti yang berkembang yang mendukung CBT sebagai modalitas tatalaksana utama untuk gangguan cemas.
SISTEMATIK REVIEW PERBANDINGAN ANTARA MRI DAN PET/CT DALAM MENDETEKSI METASTASIS KELENJAR GETAH BENING PADA KANKER SERVIKS Amaliya, Shafitri Firda; Puspita, Eka Ari; Pratiwi, Vivi Irma
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.5873

Abstract

ABSTRACT An estimated 660,000 new cases of cervical cancer are identified each year globally, with mortality rate of approximately 350,000 cases. Early detection and accurate detection of Lymph Node Metastasis (LNM) is important aspect on determining the appropriate stage, prognosis and choice of therapy in cervical cancer patients. Magnetic resonance imaging (MRI) and Positron Emission Tomography/Computed Tomography (PET/CT) are common imaging modalities to detect lymph node metastasis. The purpose of this study is to evaluate the diagnostic sensitivity and specificity of PET/CT and MRI in identifying lymph node metastases (LNM) in cervical cancer. The PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) was considered to be the guideline of this systematic review. A comprehensive literature search was performed in several database including PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. The current findings show that PET-CT had higher sensitivity and AUC values than MRI in diagnosing lymph node metastasis in cervical cancer patients. But MRI may have higher specificity. The advantage PET/CT is generally more effective than MRI in evaluating distant metastasis. While MRI offers several advantages including no radiation exposure, potential improved accessibility, and also superior ability to evaluate local structures. The combination of MRI and PET/CT are preferred for cervical cancer patients planning therapy, though in terms of, MRI is more accessible than PET/CT in developing countries, particularly Indonesia. ABSTRAK Angka insiden kanker serviks mencapai 660.000 kasus baru per tahun secara global, dengan tingkat mortalitas sekitar 350.000 kasus. Deteksi dini dan akurat terhadap metastasis kelenjar getah bening (KGB) merupakan aspek penting dalam menentukan staging, prognosis, dan pilihan terapi yang tepat pada pasien kanker serviks. Modalitas imaging yang sering digunakan untuk mendeteksi adanya metastasis Kelenjar Getah Bening (KGB) meliputi Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Positron Emission Tomography/Computed Tomography (PET/CT). Tujuan dari review ini untuk menilai sensitivitas dan spesifisitas diagnostik MRI dan PET/CT dalam mendeteksi metastasis Kelenjar Getah Bening (KGB) pada kanker serviks. Ulasan sistematis ini mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian komprehensif dilakukan di beberapa database, termasuk PubMed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil menunjukkan bahwa PET-CT menunjukkan sensitivitas dan AUC yang lebih tinggi dibandingkan MRI dalam mendeteksi metastasis kelenjar getah bening pada pasien kanker serviks. Namun, MRI memiliki spesifisitas yang lebih tinggi. Kelebihan PET/CT lebih efektif untuk mengevaluasi metastasis lebih jauh dibandingkan MRI. Walaupun begitu MRI memiliki kelebihan tidak adanya paparan radiasi, akses lebih tersedia, dan lebih baik dalam mengevaluasi struktur lokal. Kombinasi keduanya lebih direkomendasikan untuk perencanaan terapi pasien kanker serviks, walaupun dari segi fasilitas MRI lebih tersedia dibandingkan PET/CT terutama di negara berkembang khususnya di Indonesia.
KORELASI ANTARA HBA1C DENGAN KADAR KREATININ PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DISERTAI HIPERTENSI Wulandari, Merry; Haryanto, Edy; Istanto, Wisnu; Jukadiarko, Gesang
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.5959

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia. This condition can lead to microvascular complications such as diabetic nephropathy. Diabetic nephropathy occurs due to uncontrolled blood glucose levels, resulting in the kidneys working harder to filter blood. Increased blood urea and creatinine levels indicate decreased kidney function. This study aimed to examine the correlation between HbA1c levels and creatinine levels in patients with diabetes mellitus and hypertension. This study was an observational and analytical study using a purposive sampling method at the Regional Health Laboratory of Magetan Regency. The sample in this study was 88 patients with diabetes mellitus and hypertension who participated in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) at the Magetan Regency Community Health Center between January and April 2025. HbA1c examination was performed using the Fluorescent Immunoassay (FIA) method, while creatinine levels were measured using the Jaffe method. Statistical analysis was performed using a non-parametric correlation test (Spearman test). The study results showed a moderately positive correlation between HbA1c and creatinine levels in patients with diabetes mellitus and hypertension. Higher HbA1c levels are associated with higher creatinine levels, indicating a risk of kidney damage. Therefore, regular check-ups, regular medication consumption, and a healthy lifestyle are highly recommended to prevent complications. ABSTRAK Diabetes melitus adalah masalah metabolik kronis dengan ciri hiperglikemia. Kondisi ini mampu menimbulkan komplikasi mikrovaskuler seperti nefropati diabetik. Nefropati diabetik terjadi akibat kadar glukosa darah yang tidak terkendali, akibatnya dalam penyaringan darah, ginjal bekerja lebih ekstra. Meningkatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah menjadi indikasi turunnya fungsi ginjal. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat korelasi antara kadar HbA1c dengan kadar kreatinin pada pengidap diabetes melitus disertai hipertensi. Studi ini tergolong observasional analitik dengan metode purposive sampling di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Magetan. Sampel dalam studi ini sebanyak 88 pengidap diabetes melitus yang disertai hipertensi pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Kabupaten Magetan selama pada bulan Januari-April 2025. Pemeriksaan HbA1c dilakukan menggunakan metode Fluorescent Immunoassay (FIA), sedangkan kadar kreatinin diukur dengan metode Jaffe. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi non parametrik (uji Spearman). Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi bermakna yang positif sedang antara HbA1c dengan kadar kreatinin pada penderita diabetes melitus disertai hipertensi. Peningkatan kadar HbA1c, semakin tinggi pula kadar kreatinin, yang mengindikasikan risiko kerusakan ginjal. Oleh karena itu, kontrol rutin, konsumsi obat teratur, dan pola hidup sehat sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi.
ARTIKEL REVIEW: KARAKTERISTIK DAN EVALUASI SEDIAAN TABLET EFFERVESCENT Cahyani, Mesya Pramesti Regita; Rodiyah, Siti; Prasetyo, Muhammad Angga; Rahmawati, Dewi; Zhihrotulwida, Dzakiya; Mubarak, M. Fithrul
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.6038

Abstract

ABSTRACT Effervescent tablets are a pharmaceutical dosage form that is increasingly popular due to their practicality, ease of consumption, and ability to improve medication adherence and absorption. The purpose of reviewing articles is to determine the characteristics and evaluation of effervescent tablet preparations, including formulations, physical properties and physical quality evaluation of effervescent tablets. The method used in writing this article is the 2019-2025 literature study search method. National and international scientific articles were reviewed and examined regarding the formulation and evaluation of effervescent tablets made from herbal and natural ingredients. The data were systematically analyzed to identify physical parameters, ingredient variations, and key factors influencing the quality and success of the formulation. The results show that the formulation of effervescent tablets from herbal ingredients such as noni, meniran, and katuk leaves can meet the established physical and quality standards, especially on parameters such as hardness, dissolving time, and stability. Some formulas show optimal results, although optimization still needs to be done on certain parameters such as size uniformity and friability to meet pharmacopoeial standards. In addition, production process factors such as humidity also affect the dissolving time and final quality of effervescent tablets. ABSTRAK Tablet effervescent merupakan bentuk sediaan farmasi yang semakin populer karena kepraktisannya, kemudahan konsumsi, serta kemampuannya untuk meningkatkan kepatuhan dan penyerapan obat. Tujuan meriview artikel adalah untuk mengetahui karakteristik dan evaluasi sediaan tablet effervescent, termasuk formulasi, sifat fisik dan evaluasi mutu fisik Tablet effervescent. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelusuran studi pustaka tahun 2019-2025. Artikel-artikel ilmiah nasional dan internasional ditelaah dan dikaji mengenai formulasi dan evaluasi tablet effervescent berbahan herbal dan alami. Data dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi parameter fisik, variasi bahan, dan faktor-faktor yang memengaruhi mutu dan keberhasilan sediaan. Hasil menunjukkan bahwa formulasi tablet effervescent dari bahan herbal seperti mengkudu, meniran, dan daun katuk dapat memenuhi standar fisik dan mutu yang ditetapkan, terutama pada parameter seperti kekerasan, waktu larut, dan kestabilan. Beberapa formula menunjukkan hasil yang optimal, meskipun masih perlu dilakukan pengoptimalan pada parameter tertentu seperti keseragaman ukuran dan friabilitas agar memenuhi standar farmakope. Selain itu, faktor proses produksi seperti kelembaban juga mempengaruhi waktu larut dan kualitas akhir tablet effervescent.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN TABLET TAMBAH DARAH TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI Susanti, Reni; Krihariyani, Dwi; Endarini, Lully Hanni; Suliati, Suliati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i2.6391

Abstract

ABSTRACT Iron deficiency anemia is a common nutritional problem among adolescent girls in developing countries such as Indonesia, affecting both health and academic performance. The government has implemented a school-based iron supplementation program to address this issue. This study aims to evaluate the effectiveness of iron tablet supplementation in increasing hemoglobin levels among 10th-grade female students at MAN 3 Magetan. The study used a quasi-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. A total of 122 students aged 15–18 years participated based on inclusion criteria and parental consent. The intervention involved weekly iron tablet supplementation for three months. Hemoglobin levels were measured before and after the intervention using a HemoCue device, and data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank test. The results showed a significant increase in hemoglobin levels after the intervention (p < 0.05). Prior to supplementation, 39% of the students were anemic, which decreased to 8% after the intervention, with 92% having normal hemoglobin levels. These findings indicate that regular iron supplementation effectively improves hemoglobin levels and reduces anemia prevalence. The program should be continued with sustained nutrition education and monitoring of compliance to ensure long-term effectiveness. ABSTRAK Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang umum pada remaja putri di negara berkembang seperti Indonesia, berdampak pada kesehatan dan prestasi belajar. Pemerintah telah menjalankan program pemberian tablet tambah darah (TTD) di sekolah sebagai upaya pencegahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemberian TTD terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi kelas X di MAN 3 Magetan. Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen dengan pendekatan one group pre-test dan post-test. Sebanyak 122 siswi usia 15–18 tahun menjadi responden berdasarkan kriteria inklusi dan persetujuan orang tua. Intervensi berupa pemberian TTD dilakukan seminggu sekali selama tiga bulan. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat HemoCue, dan data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan kadar hemoglobin setelah intervensi (p < 0,05). Sebelum intervensi, 39% siswi mengalami anemia, sementara setelahnya hanya 8%, dengan 92% memiliki kadar hemoglobin normal. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian TTD secara rutin efektif meningkatkan kadar hemoglobin dan menurunkan prevalensi anemia. Program ini perlu dilanjutkan secara berkelanjutan dengan edukasi gizi dan pemantauan kepatuhan konsumsi untuk hasil jangka panjang.
KORELASI ANTARA NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DAN C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA PASIEN ANAK SUSPEK SEPSIS Purnomowati, Anik; Woelansari, Evy Diah; Sasongkowati, Retno
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6611

Abstract

ABSTRACT Sepsis neonatorum is one of the biggest triggers of neonatal deaths in Indonesia. The Diagnosis of sepsis is difficult to establish due to non-specific symptoms, so accurate, affordable, and easily accessible biomarkers are needed. Commonly used biomarkers such as C-Reactive Protein (CRP) and Procalcitonin (PCT) have limited cost and availability. Neutrophil lymphocyte Ratio (NLR) is a promising alternative because it can be obtained from a routine complete blood count. The study intends to determine the correlation between the value of NLR and CRP in children indicated sepsis in RSUD dr. Sayidiman Magetan. The study was classified as cross sectional based analytical observational in 33 pediatric patients suspected of sepsis during October 2024 to March 2025. Spearman correlation testing is used in the data analysis of this study because the distribution of data is not normal based on the Shapiro-Wilk test. The average value of NLR was 6.72% and CRP was 70.16 mg/L. Spearman correlation test results showed a moderate correlation between NLR and CRP with a correlation coefficient of 0.407 (p = 0.019). There is a significant moderate correlation between NLR and CRP in pediatric patients with suspected sepsis, so NLR can potentially be used as an alternative inflammatory marker to detect pediatric sepsis. ABSTRAK Sepsis neonatorum ialah satu di antara pemicu terbesar terhadap kematian neonatal di Indonesia. Diagnosis sepsis sulit ditegakkan karena gejala yang tidak spesifik, sehingga dibutuhkan penanda biologis (biomarker) yang akurat, terjangkau, dan mudah diakses. Biomarker yang umum digunakan seperti C-Reactive Protein (CRP) dan Procalcitonin (PCT) memiliki keterbatasan biaya dan ketersediaan. Rasio Neutrofil Limfosit (Neutrophil Lymphocyte Ratio/NLR) menjadi alternatif yang menjanjikan karena dapat diperoleh dari hitung darah lengkap rutin. Penelitian bermaksud mengetahui korelasi antara nilai NLR dan CRP pada anak terindikasi sepsis di RSUD dr. Sayidiman Magetan. Penelitian tergolong observasional analitik berbasis cross sectional pada 33 pasien anak suspek sepsis selama Oktober 2024 hingga Maret 2025. Pengujian korelasi Spearman dimanfaatkan dalam analisis data penelitian ini sebab distribusi data tidak normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk. Nilai rata-rata NLR sebesar 6,72% dan CRP sebesar 70,16 mg/L. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi sedang antara NLR dan CRP dengan koefisien korelasi sebesar 0,407 (p = 0,019). Terdapat korelasi sedang yang signifikan antara NLR dan CRP pada pasien anak suspek sepsis, sehingga NLR berpotensi digunakan sebagai penanda inflamasi alternatif untuk mendeteksi sepsis anak.
PENGARUH KINESIO TAPING TERHADAP NYERI PUNGGUNG BAWAH IBU HAMIL TRIMESTER III DI PMB “T” SUMBERSARI JEMBER A, Hanida Aisyah; Telaumbanua, May Kristina Indah K
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6778

Abstract

ABSTRACT Pregnant women experience numerous changes in their bodies. Around 60%–90% of pregnant women report complaints of low back pain, making it the most common disorder. A non-pharmacological therapeutic alternative is the application of kinesio taping. The purpose of this study was to identify the effect of kinesio taping on the intensity of low back pain in third-trimester pregnant women who underwent examinations at PMB “T” Sumbersari, Jember. This study employed a Quasi-Experimental Design. The study population included all third-trimester pregnant women attending ANC at PMB “T” Sumbersari in 2022, with a total sample of 26 respondents. The research instrument used was a questionnaire sheet (NRS), while data analysis was carried out using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that before kinesio taping (pretest), most third-trimester pregnant women experienced low back pain at a scale of 7, whereas after kinesio taping intervention (posttest), the majority reported a pain scale of 2. The analysis revealed a p-value of 0.000 ? ? = 0.05, leading to the rejection of H0. This indicates that kinesio taping has an effect on reducing low back pain in third-trimester pregnant women. In conclusion, kinesio taping is effective in decreasing the intensity of low back pain in third-trimester pregnant women. Therefore, healthcare providers, particularly midwives, are encouraged to apply kinesio taping therapy as an effort to reduce complaints of low back pain in third-trimester pregnant women. ABSTRAK Wanita hamil akan merasakan banyak sekali perubahan pada dirinya. Sebanyak 60%–90% ibu hamil mengalami keluhan nyeri punggung bawah, menjadikannya gangguan yang paling umum. Alternatif terapi non farmakologis yaitu pemberian kinesio taping. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi efek penerapan kinesio taping terhadap intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III yang melakukan pemeriksaan di PMB “T” Sumbersari Jember. Penelitian ini menerapkan metode Quasi Experimental Design. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu hamil trimester III yang menjalani ANC di PMB “T” Sumbersari pada tahun 2022, dengan jumlah sampel sebanyak 26 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar kuesioner (NRS), sedangkan analisis data dilakukan melalui uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pemberian kinesio taping (pretest), mayoritas ibu hamil trimester III mengalami nyeri punggung bawah pada skala 7, sedangkan setelah intervensi kinesio taping (posttest), sebagian besar berada pada skala nyeri 2. Uji analisis menunjukkan nilai p = 0,000 ? ? = 0,05, sehingga H0 ditolak. Hal ini menandakan bahwa terdapat pengaruh kinesio taping terhadap nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Dapat disimpulkan bahwa kinesio taping efektif dalam menurunkan intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, khususnya bidan, dianjurkan untuk menerapkan terapi kinesio taping sebagai upaya mengurangi keluhan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.
HUBUNGAN BUDAYA TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-12 BULAN DI DESA NAMOSIMPUR Telaumbanua, May Kristina Indah K; A, Hanida Aisyah
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6779

Abstract

ABSTRACT The high incidence of underage (early-age) marriage in Indonesia is influenced by various factors, including economic conditions, low levels of education, understanding of cultural and certain religious values, out-of-wedlock pregnancy (married by accident), and other factors. This study aims to identify the factors influencing mothers to marry at an early age in Tangkahan Village, Namorambe Subdistrict, Deli Serdang Regency. The study employed an analytical method with a cross-sectional design. It was conducted in Namosimpur Village, Hamlet 1, with a population of 30 people. A total of 30 people were included as the study sample. The findings showed that 19 respondents (63.3%) had negative cultural beliefs, while 11 respondents (36.7%) had positive cultural beliefs. The majority of respondents, namely 22 people (73.3%), held negative cultural beliefs or perceptions regarding breastfeeding, while 8 respondents (26.7%) had positive beliefs related to breastfeeding. Most respondents, or 21 people (70.0%), did not practice exclusive breastfeeding, whereas 9 respondents (30.0%) did. There was a significant relationship between breastfeeding mothers and the provision of exclusive breastfeeding for infants aged 0–12 months, with p-values of 0.004 and 0.032. The conclusion of this study is that there is a relationship between cultural values regarding exclusive breastfeeding and mothers’ beliefs about breastfeeding with the practice of exclusive breastfeeding. It is recommended that healthcare workers promote the importance of exclusive breastfeeding for infants. ABSTRAK Tingginya kasus perkawinan di bawah umur (usia dini) di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kondisi ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, pemahaman terhadap budaya serta nilai-nilai agama tertentu, terjadinya kehamilan di luar nikah (married by accident), dan faktor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ibu melakukan perkawinan usia dini di Desa Tangkahan, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Desa Namosimpur Dusun 1 dengan jumlah populasi 30 orang. Sebanyak 30 orang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden (63,3%) memiliki budaya negatif, sedangkan 11 responden (36,7%) memiliki budaya positif. Mayoritas responden, yaitu 22 orang (73,3%), memiliki budaya atau keyakinan mengenai ASI yang bersifat negatif, sementara 8 responden (26,7%) memiliki budaya atau keyakinan positif terkait ASI.  Sebagian besar responden, yakni 21 orang (70,0%), tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan 9 responden (30,0%) memberikan ASI eksklusif.   Terdapat   hubungan   ibu menyusui dengan pemberian asi eksklusif pada bayi 0-12 bulan  dengan p value 0.004 dan 0.032. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan budaya nilai kebudayaan tentang ASI eksklusif dan keyakinan atau kepercayaan tentang ASI ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif. Disarankan, supaya petugas kesehatan melakukan promosi kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi.