cover
Contact Name
Rachmat
Contact Email
rachmat@unm.ac.id
Phone
+6281244440017
Journal Mail Official
botinglangi@gmail.com
Editorial Address
Gedung DE Lantai 2 Kampus FSD UNM Parangtambung Jl. Daeng Tata Makassar 90224
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : -     EISSN : 28299280     DOI : http://dx.doi.org/10.26858/
Core Subject : Education, Art,
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan diterbitkan oleh Jurusan Seni Pertunjukan Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Boting Langi menerbitkan karya ilmiah hasil penelitian seni dan pendidikan seni. Redaksi menerima artikel belum pernah dipublikasikan di media lain dengan format penulisan sebagaimana tercantum pada halaman pedoman penulisan naskah. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun.
Articles 99 Documents
FENOMENOLOGI MEDIA VISUAL LAKON "MEREKA YANG MENUNGGU DI BANDA NAIRA" SUTRADARA WAWAN SOFWAN Saing, Muhammad Erwan; Parmin, Parmin; Fitra, Hawwin
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.76781

Abstract

As the title implies, this study explores the phenomenology of visual media in a play by Wawan Sofwan, which is presented by cultivating historical memories of the exile of Indonesian national figures in an effort to preserve theater in Indonesia. This study uses a qualitative approach specific to the phenomenological paradigm. The research object is the play “Mereka Yang Menunggu di Banda Naira,” produced by the Titimangsa Foundation in 2021. Based on the assumption that visual media is the most popular form of media among theater audiences in Indonesia, this study examines public interest in historical memory and the aesthetics of theatrical performances through digital media. Data was collected through observation, interviews, and analysis of digital media. The results of the study indicate that visual media can expand audience access, strengthen the educational and aesthetic aspects of plays, and open new discourse in the documentation of modern theater, thereby helping the public and theater practitioners to package performances more effectively and avoid falling behind.
MENGUNGKAP NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PERTUNJUKAN TEATER RAKYAT KONDOBULENG Ramli, Asia
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.79263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan mengungkap nilai-nilai pendidikan karakter dalam pertunjukan teater rakyat Kondobuleng. Jenis penelitian menggunakan metode kualitatif jenis pencarian pesanan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter terungkap dalam pertunjukan teater rakyat Kondobuleng, antara lain: (1) jujur, yaitu menyatakan apa adanya, berani karena memang benar, percaya, (2) tanggung jawab, bekerja dengan etos kerja yang tinggi, (3) berpikir cerdas, cermat dan tepat, menjunjung tinggi kebenaran dan kebajikan. (4) sehat dan bersih, menghormati ketertiban, terampil, menjaga diri sendiri dan lingkungan, (5) peduli, santun, toleran terhadap perbedaan, mampu bekerja sama, cinta damai dalam menghadapi masalah, (6) kreatif, mampu memecahkan masalah secara inovatif, berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, menampilkan sesuatu yang luar biasa (unik), memiliki ide-ide baru, (7)gotong royong, mau bekerja sama dengan baik.
MEMBACA KEARIFAN LOKAL SUKU SASAK (TEMBANG) PADA SENI PERTUNJUKAN SILANG MEDIA: TANAH DIALEKTIKA “LIVE STREAMING, TEMBANG, DENGKREK” Renda, Rapi; Qatrunnada, Qatrunnada
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.75083

Abstract

This research aims to re-explore the local wisdom of the Sasak community specifically tembang (traditional chant) as a form of oral cultural heritage that is reinterpreted through a cross-media performance titled Tanah Dialektika: Live Streaming, Tembang, Dengkrek. In this performance, exploration is conducted through the collaboration of traditional expressions (tembang and dengkrek) with digital technology (live streaming), forming a performative space that is not only cross-medium but also cross-temporal. This study employs a qualitative descriptive method to examine how performance art serves not merely as an aesthetic domain, but also as a dialectical medium between local values and the evolution of new media, a practice referred to here as cross media performance. This fusion becomes a creative strategy to sustain traditional values within the contemporary realm while also broadening audience engagement. The resulting creative process places tembang as the narrative core and a convergence point between local expression and technological possibilities. The primary research data is the performance Tanah Dialektika: Live Streaming, Tembang, Dengkrek, a collaborative work involving artists from West Nusa Tenggara, presented during FKSM 2023. Data sources include video recordings uploaded to the Literasi Teater and Seniman Kolaborasi YouTube channels. Field research was conducted at the West Nusa Tenggara Cultural Center. The findings show that cross-media performance can serve as both an artistic and cultural strategy to preserve, respond to, and revitalize local wisdom in the rapidly evolving digital landscape.
BENTUK DAN MAKNA TARI RAMPAK TERBANG CIOLANG DI SANGGAR WANDA BANTEN Muhayaroh, Muhayaroh; Permanasari, Alis Triena; Lestari, Dwi Junianti
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82086

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna Tari Rampak Terbang Ciolang yang berkembang di Sanggar Wanda Banten. Tari ini merupakan bagian dari kesenian tradisional yang kaya akan nilai budaya dan spiritual masyarakat Banten. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui teori semiotika Ferdinand de Saussure yang membedakan antara penanda (gerakan fisik tari) dan petanda (makna simbolik).Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap gerakan dalam tari ini mengandung sistem tanda budaya yang merefleksikan nilai religius, sosial, dan emosional masyarakat. Gerakan awal seperti Napok Rebana dan Jangkung Ilo melambangkan keseimbangan dan harapan. Gerakan inti seperti Rebana Tanjeb dan Gembrung menggambarkan semangat kolektif dan kekuatan spiritual. Sementara gerakan akhir seperti Sholawat dan Silat Panakol menyiratkan rasa syukur dan keteguhan menghadapi tantangan.Keseluruhan gerak tari Rampak Terbang Ciolang bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian identitas budaya lokal yang sarat makna. Dengan demikian, tari ini menjadi simbol penting dalam menjaga warisan budaya masyarakat Banten.
EKSISTENSI KESENIAN MUSIK ODROT: TANTANGAN DALAM PELUANG DAN REGENERASI Yonaldi, Andra; Kiswanto, Kiswanto
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.75130

Abstract

Tulisan ini membahas tentang eksistensi kesenian Musik Odrot sebagai salah satu warisan budaya tradisional yang mulai terpinggirkan di tengah arus modernisasi di Ponorogo. Musik Odrot, yang berkembang sejak tahun 1950-an, merupakan transformasi dari musik tiup kolonial yang menjadi bentuk hiburan rakyat yang khas, dengan fungsi sosial, spiritual, dan budaya yang penting dalam masyarakat. Namun, eksistensinya kini menghadapi berbagai tantangan serius seperti krisis regenerasi, kerusakan instrumen, minimnya dokumentasi, serta fokus kebijakan budaya daerah yang lebih mengutamakan kesenian Reog. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika eksistensi Musik Odrot serta menawarkan strategi pelestarian yang relevan dengan konteks saat ini. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi multi metode atau mixmethods research dengan fokus pada data kualitatif, yaitu dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara langsung dengan pelaku kesenian Odrot, serta observasi dokumentasi visual dari video pertunjukan Musik Odrot yang diunggah di platform YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Musik Odrot dapat dipulihkan dan diperkuat melalui revitalisasi instrumen, pelibatan pendidikan, pendokumentasian, serta penyelenggaraan festival dan kolaborasi antar-lembaga. Musik Odrot tidak hanya pantas dipertahankan karena nilai tradisinya, tetapi juga karena potensinya dalam membangun kembali ekosistem budaya lokal yang adil dan beragam
JE’ NERUWE AJEM : KAJIAN SEMIOTIK TOKOH BIANG DALAM LAKON SUMBADRA TUNDHUNG WAYANG TOPENG SRI KRESNA SITUBONDO Rahmayani, Wahdania Nur; Wardani, Diah Octavia Kusuma; Bambang, Siti Enik Mukhoiyaroh; Rahmawati, Sophia
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82153

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap makna tanda dan fungsi humor dalam tokoh Biang pada lakon Sumbadra Tundhung dalam pertunjukan Wayang Topeng Sri Kresna Situbondo. Tokoh Biang merupakan figur lawakan yang tidak hanya sekadar menghadirkan kelucuan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai moral dan religius yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure untuk menganalisis hubungan antara penanda dan petanda pada unsur visual, verbal, dan gerak tubuh dalam pementasan. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan dalang dan penonton, serta dokumentasi dan studi pustaka yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk tanda, menginterpretasikan maknanya dalam sosial budaya Situbondo, dan menafsirkan nilai-nilai yang disampaikan melalui humor Biang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Biang menampilkan karakter yang jenaka dan spontan melalui gerak tubuh, dialog, serta ekspresi topeng yang khas. Di balik kelucuannya, Biang menyampaikan pesan kehidupan tentang keikhlasan, kesederhanaan, serta ajakan menjauhi sifat sombong, riya, dan iri hati. Humor yang dibawakan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan refleksi sosial. Dengan demikian, kehadiran Biang dalam Wayang Topeng Sri Kresna menjadi wujud ekspresi budaya yang menggabungkan estetika tawa dengan kebijaksanaan hidup masyarakat Situbondo.
ORKES KERONCONG ALUNAN SEMUT IRENG SEBAGAI REPRESENTASI BUDAYA PURA MANGKUNEGARAN Allya Dwi Melati Amurwaningtyas; Kiswanto Kiswanto
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82062

Abstract

Penelitian ini membahas Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng sebagai representasi budaya Pura Mangkunegaran. Latar belakang penelitian berangkat dari fenomena bahwa kelompok musik ini tidak hanya hadir sebagai wadah hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian tradisi dan nilai-nilai kadipaten. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkap bagaimana musik, repertoar, kostum, serta sikap para musisi dipakai sebagai medium representasi budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng menampilkan identitas budaya Mangkunegaran melalui repertoar yang sarat makna historis, kostum yang mencerminkan filosofi kadipaten, serta tata krama musisi yang menegaskan posisi mereka sebagai abdi dalem. Selain itu, inovasi pertunjukan dan kolaborasi musikal memperlihatkan strategi adaptasi agar tetap relevan dengan audiens lintas generasi. Dengan demikian, Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng dapat dipahami sebagai medium penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat representasi budaya Pura Mangkunegaran di ruang publik.
KREATIVITAS PERTUNJUKAN PADUAN SUARA MAHASISWA DIVINA ETNIKA LAGU OH ADINGKOH ARANSEMEN GERHARD GERE Gisela Lilin Cahayani Putri; Denis Setiaji
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5, No 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v5i1.83652

Abstract

Penelitian ini menganalisis dan menguraikan proses kreatif Paduan Suara Mahasiswa Divina Etnika Institut Seni Indonesia Surakarta dalam menyajikan lagu Oh Adingkoh aransemen Gerhard Gere pada Festival Swara Saraswati II tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-etnografi dengan peneliti sebagai pengamat-partisipan, dan berfokus pada dinamika kerja kolektif serta integrasi elemen pertunjukan. Proses kreatif tersebut dipetakan menggunakan model Empat Tahap Graham Wallas (1926), yaitu: tahap Persiapan yang mencakup analisis aransemen berbasis sistem nada pentatonis Dayak Ngaju, penetapan pola perkusi, perancangan gerak dasar, dan desain kostum; tahap Inkubasi yang ditandai dengan eksplorasi gerak dan penguatan teknik nasal  vocal quality yang menyerupai sansana serta pola tabuhan; tahap Iluminasi yang muncul melalui pengambilan keputusan artistik final berupa integrasi gerak tasai/manasai dan samba setengah; serta tahap Verifikasi yang dikonfirmasi melalui penilaian juri yang menyoroti keselarasan interpretasi dan presentasi keseluruhan elemen pertunjukan.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif dilakukan dengan cara yang terorganisir melalui kerjasama antara pelatih, komposer, penata musik perkusi, dan penata koreografi,  sehingga menghasilkan keterpaduan konsep vokal, koreografi, dan kostum. Penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian medali emas didukung oleh manajemen latihan yang efektif serta kemampuan tim dalam membangun konsep pertunjukan yang relevan dan terintegrasi. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian model empiris mengenai kreativitas kolektif dan manajemen pertunjukan etnik dalam konteks paduan suara mahasiswa.
ORGANOLOGI KITOKA SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN KECAPI TRADISIONAL DI AMPARITA KECAMATAN TELLUE LIMPOE KABUPATEN SIDRAP Andi Ihsan; Andi Taslim Saputra
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5, No 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/botinglangi.v5i1.83645

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan organologi Kitoka sebagai bentuk pengembangan Kecapi tradisional. Kitoka merupakan inovasi kecapi tradisional yang dikembangkan oleh Karsin Kati pada tahun 1992 dan mulai diproduksi secara resmi pada 1995 di Kecamatan Amparita, Kabupaten Sidrap. Inovasi ini didasarkan pada kebutuhan akan instrumen musik yang lebih adaptif terhadap perkembangan musik modern, mengingat keterbatasan kecapi tradisional dalam menjangkau variasi nada yang lebih luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan bentuk organologi dari Kitoka di Amparita Kecamatan Tellue Limpoe Kabupaten Sidrap sekaligus menganalisis Kitoka sebagai bentuk pengembangan Kecapi Tradisional di Amparita. Metode yang digunakan tergolong penelitian kualitatif dengan menggunakan data dari studi pustaka, observasi partisipan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keberadaan Kitoka tidak menggantikan kecapi tradisional, tetapi justru berperan sebagai sarana adaptasi musik tradisional dalam lanskap musik modern. Dengan karakteristik yang lebih fleksibel, Kitoka banyak digunakan di sanggar seni dan lembaga pendidikan, bahkan telah dikenal hingga luar negeri. Meskipun pemasaran masih dilakukan secara terbatas, inovasi ini menjadi kontribusi penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan musik tradisional di Indonesia.

Page 10 of 10 | Total Record : 99