cover
Contact Name
Yurnalis
Contact Email
jurnal.musiketniknusantara@gmail.com
Phone
+6285263221706
Journal Mail Official
jurnal.musiketniknusantara@gmail.com
Editorial Address
Jl. Bahder Johan 27128, Sumatera Barat
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Musik Etnik Nusantara
Core Subject : Art,
JURNAL MUSIK ETNIK NUSANTARA is an academic journal published by Department of Karawitan, Faculty of Performing Arts, Institut Seni Indonesia Padangpanjang twice a year. This journal publishes original articles with focuses on the results of studies in the field of Indonesian ethnic music. The coverage of topics in this journal includes: Traditional Music Contemporary Music Musik Performence Composition or Arrangement Musicology Ilustration Music Etnomusicology World Music Technology Music Music Education Organology of Music
Articles 76 Documents
Study Deskriptif Pembuatan Sunai Pondok Kandang Muko Muko Provinsi Bengkulu Muhammad Widodo; Desmawardi Desmawardi; IDN. Supenida
Jurnal Musik Nusantara Vol 3, No 2 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i2.4063

Abstract

This research focuses on the traditional musical instrument called Sunai, which is a wind and melodic instrument made from telang Kapa bamboo. The study aims to explore the organology of Sunai, including the manufacturing concepts, materials, processes, and sound production techniques. A qualitative research method with an ethnomusicological approach was employed.The research reveals that Sunai making involves several stages, such as material selection, drying, cutting, and creating tone holes according to the artist's preferences. Sunai is classified as an aerophone instrument, producing sound through the air. The instrument is commonly played during public events like weddings and the annual Gandai Dance, typically performed at night after the Isha prayer and concluding before dawn. This study specifically examines Mr. Ma'rup's unique technique in making Sunai, which differentiates his instruments from those made by other artisans. The findings highlight the distinctive characteristics of Mr. Ma'rup's Sunai. The research findings contribute to a deeper understanding of Sunai as a traditional musical instrument and its significance in the cultural heritage of Bengkulu.
Manyampai Perwujudan Musik Sirompak di Nagari Taeh Baruah Kabupaten Lima Puluh Kota Dicky Chandra; Alfalah Alfalah; Sriyanto Sriyanto
Jurnal Musik Nusantara Vol 3, No 2 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i2.4068

Abstract

Sirompak is a traditional Minangkabau art originating from Taeh Baruah, Limapuluh Kota, West Sumatra. In the past, Sirompak was known as a magical ritual ceremony carried out by a sirompak handler whose aim was to avenge the heart of a woman who had insulted a man. The basirompak performance is a presentation of vocal music called dendang Minangkabau presentation of singing vocal music with the production of a wind instrument called saluang sirompak. This musical instrument is included in the classification of aerophone musical instruments (the main sound is produced by the vibration of blowing air). Traditional musical instruments accompany melodic vocals (dendang/mantras) by a singer (singer). The composition work "manyampai" consists of two parts, using a traditional reinterpretation approach, in the first part of this work using the 'emergent' technique, in the first part the composer provides several repetitive vocal compositions, using the instruments saluang Sirompak, kerinding, cymbals, didgeredo, gong, rain stick. The second part of this work emphasizes the production of several screaming vocals, screams, laughing vocals, animal sounds and crying. This second part also uses the instruments cymbals, gongs, Sirompak saluang
ANALISIS MUSIK CANDENG DI DESA PANGKALAN KECAMATAN KEJURUAN MUDA KABUPATEN ACEH TAMIANG rizal, maysyah; Denada, Berlian; Andiko, Benny
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4491

Abstract

Candeng merupakan seni tutur berbentuk syair dan mengandung kata-kata pujian, rayuan dan bujukan sekaligus perintah halus agar alam dan "penjaga alam" memberi izin dalam prosesi pengambilan madu hutan pada masyarakat Melayu di Aceh Tamiang. Prosesi pengambilan madu hutan tidak diiringi oleh instrument, melainkan hanya menggunakan musik vokal. Proses pengambilan madu dilaksanakan pada malam hari dan dilakukan oleh Pawang Tuhe (pawang tua/kepala pawang) dan dibantu oleh Pawang Mude. Pelafalan Candeng dilakukan ketika memanjat pohon sambil menancapkan pating pada batang pohon tualang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk dan struktur susunan musik candeng di Desa Pangkalan Kecamatan Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang, menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori bentuk dan struktur menurut Pradopo dan Endaswara untuk mendukung teori bentuk dan struktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik Candeng Desa Pangkalan Kecamatan Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari 2 bentuk.
Komposisi Musik Elegi Suayan: Terinspirasi dari Dendang Suayan Buayan Anak di Nagari Suayan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota Rafif, Muhammad; Anton, Syahri; Firdaus, Firdaus
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4556

Abstract

Karya komposisi karawitan yang berjudul Elegi Suayan terinspirasi dari kesenian dendang Minangkabau dengan repertoar Suayan Buayan Anak di Kanagarian Suayan Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota. Dendang Suayan Buayan Anak termasuk kategori jenis dendang ratok (nyanyian ratapan) pada dendang Minangkabau, yang dimana media pengiring dalam dendang Minangkabau pada umumnya yaitu instrumen saluang, rabab darek, rabab pasisia, dan lainnya. Karakter pada dendang Suayan Buayan Anak memiliki unsur musikal yang disebut “glissando”. Unsur musikal pada pertengahan dendang Suayan Buayan Anak yang mana seniman tradisi pendendang bagurau menyebutnya dengan istilah “malayuak” (mendayu-dayu). Rumusan penciptaan yang diajukan dalam karya seni ini yaitu: Bagaimana mewujudkan karya komposisi karawitan yang bersumber dari dendang Suayan Buayan Anak yang dimana fenomena musikal malayuak pengkarya temui pada dendang tersebut digarap kedalam sebuah komposisi karawitan. Penciptaan karya Elegi Suayan ini dilatarbelakangi oleh keinginan pengkarya untuk menggarap unsur-unsur musikal yang ada pada dendang Suayan Buayan Anak sehingga mewujudkan tawaran baru dalam bentuk garap yang bersumber dari kesenian saluang dendang yang mana didalam penggarapan karya ini terdapat pergabungan idiom-idiom tradisi dengan bentuk musikal inovatif dan harmonisasi yang dikemas dalam bentuk karya komposisi karawitan menggunakan garap pendekatan tradisi.Kata Kunci: Elegi Suayan, Glissando, Suayan Buayan Anak, dendang ratok, malayuak.
KOMPOSISI MUSIK DISAUIK TINGKAH, METODE PENDEKATAN TRADISI KESENIAN CENANG TIGO KENAGARIAN KINALI habida, novita; Supenida, I Dewa Nyoman; Zulfahmi, Muhammad
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4599

Abstract

Kesenian cenang tigo adalah tradisi masyarakat kampung Aia Maruok, Nagari Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Metode yang digunakan dalan menciptakan musik komposisi karya Disauik Tingkah adalah pendekatan tradisi dengan intrumen canang, talempong, gandang katindiak, gandang tambua, gong, kecapi Payakumbuh, saluang, accordion. Tujuaan menciptakan karya ini adalah Menciptakan komposisi musik karawitan yang bersumber dari pola permainan manciek dan manduo dari kesenian cenang tigo, dan sebagai bentuk mengekspresikan diri, dalam bentuk kreativitas penciptaan musik karawitan. Cenang tigo menjadi sumber dalam penggarapan komposisi musik baru, yang memiliki pola permainan seprti pada pola manciek dangan manduo yang saling bersaut-sautan dan mancarak ini memiliki keunikan karena permainan yang bersifat bebas dan tidak terikat pada permainan manciek dan manduo tetapi masih dalam tempo yang sama. Cenang tigo terbagi atas tiga nada yaitu nada C, D, dan F. Manciek adalah permainan yang memiliki pola permainan dasar tetapi terdapat semacam pola paningkah yang disebut pola manigo (pola tiga). Manduo adalah permainan yang dimain sama seperti manciek tetapi tidak memakai pola minigo (pola tiga). Sedangkan mancarak adalah permainan pola peningkah antara permainan pola manciek dengan pola manduo. Kata Kunci: Canang Tigo; manciek; manduo; mancarak
URANG SIAK: PERTUNJUKAN SENI RELIGIUS DALAM UPACARA DIKIA MULUIK KECAMATAN BATIPUH Wati, Herlina Ira; Syafniati, Syafniati; Sastra, Andar Indra
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4619

Abstract

Keberagaman budaya masyarakat lokal terlihat dari kekayaan seni budaya masyarakat, diantaranya pada kesenian Dikia Muluik (Dzikir Maulid). Kegiatan ini membutuhkan peran Urang Siak. Urang Siak merupakan sebutan bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam mendalami ajaran islam dan berperan penting dalam Pendidikan religi di surau, menjadi imam masjid serta patokan atau guru bagi masyarakat sekitar dalam mendalami ajaran islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran Urang Siak di dalam kegiatan Dikia Muluik di Nagari Sabu Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, melalui pengumpulan data yang di lakukan dengan observasi dan wawancara serta di dukung dengan analisa dan pengujian data. Hasil yang dicapai dari penelitian ini, yaitu menjelaskan bahwa peran Urang Siak memang sangat esensial dalam kehidupan masyarakat dapat juga dilihat dari kuatnya peran Urang Siak sebagai tokoh kharismatik, berkedudukan status sosial tinggi sebagai imam masjid, pemimpin ritual agama, mediator penengah dalam masyarakat, sebagai ulama, penceramah agama dan penjaga tradisi budaya. Hasil penelitian inilah yang kemudian disusun dalam bentuk skripsi. Kata Kunci: Urang Siak, Seni Religius, Dikia Muluik, Nagari Sabu
Organologi Dan Kegunaan Tifa Pada Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula Maluku Utara Irwan, Irmawati; Latuni, Glenie; Hartati, RAD Sri
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4847

Abstract

This research aims to describe the organ structure and uses of Tifa music in the Sula Islands Regency, North Maluku Province. The method used is descriptive qualitative method with data collection techniques using interviews with cultural actors in the Sula Islands, direct observation in Waihama village, documentation with Tifa makers or players and literature study. The results showed that Tifa music in the Sula Islands Regency has an organ structure including: the surface of the Tifa is made of goat skin. Tifa body that uses gufasa wood with a height of 44 cm, upper diameter 35 cm and lower diameter 33 cm. Tifa holes consisting of lower Tifa holes with a diameter of 33 cm and side Tifa holes with a diameter of 5 cm. Rattan Ring 1, Rattan Ring 2. The string or string used is number 210. Tifa wedge in the form of a small piece of gufasa wood like a blunt arrowhead. Tifa beater made of rattan with a length of 40 cm. Tifa music has various uses in the Sula Islands community, including: in traditional events used in weddings and welcoming guests, the sound of Tifa is considered sacred and has spiritual power. Entertainment is used to entertain the community when working together to prepare for celebrations. Education is used as a learning medium to introduce history, customs, culture and how to play Tifa. Therapy is used to help calm the mind, reduce stress, and improve motor coordination. Economy provides income for Tifa players and makers and supports the sustainability of cultural activities. Cultural identity is used as a symbol of strong cultural identity, reflecting the pride of the people of the Sula Islands Regency in their cultural heritage.
EKSISTENSI RATEB MENSA DI DESA KUTA TEUNGOH KECAMATAN BEUTONG ATEUH BANGGALANG KABUPATEN NAGAN RAYA Mukhlishiin, Badrul; Wirandi, Rika; Denada, Berlian
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4449

Abstract

Rateb Mensa merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun pada Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya. Penyajian Rateb Mensa disajikan dalam bentuk zikir tubuh yakni membaca zikir sambil menggerakkan badan. Rateb Mensa dilaksanakan pada malam ke empat Idul Fitri selama tiga sampai empat malam berturut-turut. Penyajian Rateb Mensa dimulai dengan membaca do’a kemudian dilanjutkan membaca Takbir lebaran, zikir, laweut, ditutup dengan do’a dan makan kenduri bersama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahi bagaimana eksistensi Rateb Mensa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Desa Kuta Teungoh, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori eksistensi menurut Abidin dan teori fungsionalisme kebudayaan menurut Malinowski untuk mendukung teori eksistensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Rateb Mensa sebagai kesenian Islami dan objek kebudayaan yang ada pada Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya.
“BASINTOJIK” BERSUMBER DARI KESENIAN “CALEMPONG RARAK GODANG” DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU Azrizer, Azrizer; Haris, Asep Saepul; Arnailis, Arnailis
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4622

Abstract

The composition "Basintojik" is a musical composition inspired by the art of calempong rarak godang which was born and developed in the Kuantan Singingi Regency, Riau Province. This art is usually performed at various traditional events and important ceremonies, such as weddings, religious celebrations, silek, and processional music at track events. Calempong rarak godang has several repertoires including Kedidi, Tigo-tigo, Ciek-ciek, Tak tendut, Gelang-gelang, Kacimpuang, Gamiak-gamiak and Pik tontong. The results of the artist's analysis of the art of Calempong Rarak Godang found that the beginning of each song always has the same rhythm pattern and also every Calempong Rarak Godang repertoire always ends using the same ending melody (bonti) using meter three or a 3/4 melody pattern. The principle of the bonti melody, which is always the same, became the basic idea in the work which was done using the World Musik approach, giving birth to a new composition entitled "Basintojik".
Bamomong Dalam Kajian Bentuk dan Fungsi Pada Upacara Pernikahan Di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya Sari, Gustika; Ediwar, Ediwar; Desmawardi, Desmawardi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4568

Abstract

This research aims to describe the form and function of the baby in wedding ceremonies in Nagari Bayua, Tanjung Raya District, Agam Regency, besides that the baby is also used in local communities such as inauguration of events such as: welcoming guests, baduduak activities, and other related activities with Alek Nagari. This research uses qualitative research methods with data collection techniques through observation, documentation and interviews in the field to obtain research results according to descriptive context. The results of this research explain the form and function of children in wedding ceremonies in Nagari Bayua, Tanjung Raya District, Agam Regency.