cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
Peran persepsi terhadap electronic service quality dan electronic word-of mouth (e-wom) terhadap intensi pembelian ulang melalui e-commerce Dian Febriany Putri; Sumaryono Sumaryono
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 2 (2021): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.853 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i2.12933

Abstract

Expanding the process of buying and selling goods or business transactions from offline to online becomes a challenge for its users. The intensity of purchasing goods by consumers through e-commerce is influenced by various factors, one of which is the perception of electronic service quality and electronic word-of-mouth (e-wom). The purpose of this study is to find out the role of perceptions of electronic service quality and electronic word-of-mouth (e-WOM) toward re-purchase intention through e-commerce. Respondents in this research were individuals with an age range of 18-35 years and the total of respondents were 232 people. The sampling technique used purposive sampling. Data was collected using the re purchase intention, perception of electronic service quality, and e-WOM scales. Methods of data analysis using Structural Equation Modeling (SEM). The results of the study explain that one’s perception of electronic service quality and information circulating through e-WOM each have a role in influencing or strengthening consumer intentions to repurchase products through e-commerce.
Studi meta analisis: Efektivitas progressive muscle relaxation untuk menurunkan kecemasan orang dengan penderita penyakit kronis. Nur Fadillah; Ananta Yudiarso
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.841 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.13479

Abstract

Objektif: Kecemasan sering terjadi oleh siapapun, terutama yang memiliki riwayat penyakit akan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Progressive muscle relaxation merupakan salah satu pengobatan non farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas progressive muscle relaxation dalam menurunkan kecemasan. Metode: Menggunakan meta-analysis berupa review literatur 14 jurnal penelitian internasional. Total partisipan sebanyak 1.022 yang terdiri dari kelompok kontrol sebesar 516 dan kelompok eksperimen sebesar 506. Analisis data menggunakan website Meta-mar. Peneliti menggunakan pedoman dari PRISMA dan MARS.Temuan: Dengan menggunakan analisis statistik cohen’s d effect size, diperoleh hasil pengolahan data yaitu mean (M), standar deviasi (SD), dan sample size (N) menghasilkan effect size dengan menggunakan random effect dengan Hedges'g sebesar 0.81, 95%CI=0,224 sampai 1.401 dengan nilai Inconsistency (I2)= 94,5%. yang berarti bahwa progressive muscle relaxation memiliki efek yang besar untuk menurunkan kecemasan.Kesimpulan: Progressive muscle relaxation memberikan efek yang besar dalam menurunkan kecemasan.
Efektivitas functional communication training dalam meningkatkan perilaku meminta pada anak dengan autism spectrum disorder Detricia Tedjawidjaja; Fenny Hartiani
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 2 (2021): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.247 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i2.13533

Abstract

The current study aims to examine the effectiveness of functional communication training to increase asking behavior by exchanging pictures for children with an autism spectrum disorder. The participant in this study is a 6-years old girl with a diagnosis of Autism Spectrum Disorder with Intellectual Impairment. This study uses a single-subject design consisting of A-B-A phases. Functional communication training is implemented using the most-to-least prompting technique which is divided into 8 sessions. The result depicts that 84% of participants increase their ability to perform requesting behavior by exchanging pictures of the trials given. Furthermore, after the implementation of functional communication training, there is an increase in the frequency of requesting behavior by exchanging pictures at post-test (average 74%) and at follow-up (average 82%). Implications of this study indicate the importance of considering the function of problem behavior in training the appropriate communicative responses for children with an autism spectrum disorder.
Efektivitas teknik forward chaining dalam meningkatkan keterampilan mengenakan kemeja berkancing pada anak dengan intellectual disability taraf sedang Diah Wahyuningsih; Fenny Hartiani
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.541 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.13547

Abstract

Objektif: Anak-anak dengan intellectual disability menunjukkan defisit dalam fungsi adaptif. Secara khusus, anak moderate intellectual disability seringkali kesulitan melakukan tugas bantu diri dan bergantung pada orang lain. Berpakaian sendiri merupakan salah satu keterampilan bantu diri yang penting dikuasai untuk menunjang kemandirian anak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas teknik forward chaining untuk meningkatkan keterampilan mengenakan kemeja berkancing pada anak dengan moderate intellectual disability. Teknik forward chaining memecah keterampilan menjadi tahapan-tahapan sederhana. Dalam setiap tahapan forward chaining, anak akan diberikan prompting dan positive reinforcement.Metode: Penelitian ini menggunakan single subject A-B design. Partisipan merupakan anak laki-laki berusia 12 tahun 4 bulan dengan moderate intellectual disability. Intervensi diberikan dalam 6 sesi dengan 30 kali percobaan.Temuan: Terdapat perbedaan signifikan pada kemampuan mengenakan kemeja berkancing sebelum dan setelah intervensi dilakukan.Kesimpulan: Teknik forward chaining yang melibatkan prompting dan positive reinforcement efektif dalam meningkatkan keterampilan mengenakan kemeja berkancing pada anak dengan moderate intellectual disability.
Approach coping dan belanja kompulsif pakaian dengan program studi sebagai variabel moderator Djudiyah Djudiyah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 8 No. 2 (2020): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.348 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v8i2.13556

Abstract

Objektif:Pandemi Covid 19 yang mewabah di seluruh dunia saat ini berdampak pada cara individu dalam melakukan berbagai macam aktivitas, salah satunya dalam melakukan pembelanjaan. Banyaknya aktivitas individu yang dilakukan di rumah dan penggunaan IT dengan intensitas tinggi mendorong pesatnya perkembangan e-marketing dan maraknya pembelanjaan online. Pesatnya perkembangan fashion di Indonesia membuat mahasiswi mudah terpengaruh iklan atau teman, sehingga mendorong mereka melakukan pembelanjaan pakaian secara kompulsif. Mahasiswi dengan approach coping tinggi cenderung rasional dalam berbelanja sehingga mereka memiliki kecenderungan rendah untuk melakukan belanja kompulsif pakaian. Apalagi bila mereka sedang menempuh studi pada fakultas eksakta, yang cenderung banyak menggunakan analisa sintesa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan approach coping dengan belanja kompulsif pakaian pada mahasiswa dengan fakultas eksakta dan non eksakta sebagai variabel moderator.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini berjumlah 264 mahasiswi aktif Universitas Muhammadiyah Malang. Metode pengumpul data yang digunakan adalah skala Coping Respon Inventoty (CRI) dan skala belanja kompulsif pakaian.  Analisis data dilakukan dengan metode analisis moderasi (Moderation Analysis) dari Hyes dengan bantuan program SPSS versi 21. Temuan: Hasil analisis menunjukkan ada hubungan negatif antara approach coping dengan belanja kompulsif pakaian pada mahasiswi. Program studi mampu memoderasi hubungan antara approach coping dengan belanja kompulsif pakaian pada mahasiswi.Kesimpulan:Hipotesis penelitian diterima
Pelatihan job crafting sebagai solusi burnout pada karyawan Agus Salim; Nanik Prihartanti
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 8 No. 2 (2020): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.551 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v8i2.13557

Abstract

Objektif:Karyawan diharapkan mampu menyelesaikan tuntutan pekerjaannya seperti kelelahan kerja agar mampu bersaing dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Pelatihan job crafting menjadi salah satu cara untuk mengurangi burnout, karena job crafting membantu karyawan untuk aktif dan proaktif dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pelatihan job crafting untuk menurunkan burnout pada karyawan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 28 orang karyawan PT. CDM Semarang Jawa Tengah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran burnout dilakukan dengan skala Maslach Burnout inventory (MBI). Data dianalisis dengan analisis ANOVA mixed design.Temuan: Hasil uji interaksi skor burnout antara kelompok eksperimen dan kontrol yang disilangkan dengan waktu pengukuran skor (pretest-posttest-follow up) menunjukkan nilai F-hitung sebesar 52,977 dan signifikansi 0,000. Sumbangan efektif yang diberikan pelatihan job crafting dalam menurunkan burnout adalah sebesar 85,5% untuk kelompok eksperimen.Kesimpulan:Pelatihan job crafting efektif digunakan untuk menurunkan burnout pada karyawan.Objektif:Karyawan diharapkan mampu menyelesaikan tuntutan pekerjaannya seperti kelelahan kerja agar mampu bersaing dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Pelatihan job crafting menjadi salah satu cara untuk mengurangi burnout, karena job crafting membantu karyawan untuk aktif dan proaktif dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pelatihan job crafting untuk menurunkan burnout pada karyawan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 28 orang karyawan PT. CDM Semarang Jawa Tengah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran burnout dilakukan dengan skala Maslach Burnout inventory (MBI). Data dianalisis dengan analisis ANOVA mixed design.Temuan: Hasil uji interaksi skor burnout antara kelompok eksperimen dan kontrol yang disilangkan dengan waktu pengukuran skor (pretest-posttest-follow up) menunjukkan nilai F-hitung sebesar 52,977 dan signifikansi 0,000. Sumbangan efektif yang diberikan pelatihan job crafting dalam menurunkan burnout adalah sebesar 85,5% untuk kelompok eksperimen.Kesimpulan:Pelatihan job crafting efektif digunakan untuk menurunkan burnout pada karyawan.
Peran money attitudes terhadap financial well-being dengan financial stress sebagai mediator pada mahasiswa rantau di Surabaya Honey Wahyuni Elgeka; Gabriella Querry
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.288 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.13906

Abstract

Objektif: Pengelolaan keuangan yang baik pada kehidupan mahasiswa rantau akan dapat berdampak pada financial well-being. Hipotesis dari penelitian ini adalah financial stress dapat berperan sebagai mediator pada hubungan antara money attitudes terhadap financial well-being.Metode: Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa rantau yang tinggal di Surabaya berusia 17-22 tahun dan berjumlah 267 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Metode analisis data menggunakan PROCESS HAYES model 4.Temuan: Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa financial stress dapat berperan sebagai mediator (parsial) dengan nilai negatif, dimana aspek power prestige dan distrust dalam money attitudes berhubungan positif dengan financial well-being.Kesimpulan: Hal ini menjelaskan bahwa mahasiswa rantau menganggap uang sebagai simbol kesuksesan, dapat memberikan kesan yang baik bagi orang lain, dan menimbulkan financial well-being serta tidak mengalami financial stress. Selain itu, kondisi ini akan sangat berdampak pada nilai akademik dan kesehatan mental para mahasiswa rantau jika mereka salah dalam mengelola keuangannya.
Sikap terhadap bantuan psikologis (tatap muka dan daring) ditinjau dari penyembunyian diri, harapan pengungkapan, dan stigma diri pada mahasiswa Diany Ufieta Syafitri; Luh Putu Shanti Kusumaningsih
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.86 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.14151

Abstract

Objektif: Artikel ini bertujuan untuk mengulas tantangan dan hambatan yang dihadapi pelaksanaan pendidikan inklusi serta strategi yang dapat dilakukan oleh negara.Metode: Artikel ini merupakan telaah kritis sistematis . Jurnal diambil dari 9 situs artikel penelitian internasional berbeda. Pencarian jurnal diutamakan terbit tahun 2011-2020. Didapatkan 11 jurnal yang merupakan jurnal kualitatif.Temuan: Hambatan yang dihadapi yaitu tenaga pendidik kurang terlatih, stigma negatif, kebijakan otoritas yang kurang aplikatif, kurangnya pengetahuan tenaga pendidik, hambatan aksesibilitas, keterbatasan sumber belajar, dan keterbatasan finansial. Strategi yang dilakukan yaitu peningkatan kualitas inservice training (INSET), awareness programmes, school-based professional development programmes, family support, kontekstualisasi proses belajarmengajar, dukungan berkelanjutan selama proses implementasi di lapangan, komitmen pemerintah memberikan sebagian prosentase dari GNP sebagai sumber dana, kolaborasi dengan stakeholders, dan kerjasama regional, nasional, maupun internasional.Kesimpulan: Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan di Indonesia, yaitu pelatihan kepada guru kelas, menyelenggarakan awareness program, bekerjasama dengan tim Pokja yang memiliki resource center yang mendukung implementasi pendidikan inklusi, penyediaan dana untuk menyelenggarakan pelatihan guru kelas, dan
Hambatan pendidikan inklusi dan bagaimana mengatasinya: Telaah kritis sistematis dari berbagai negara Citra Nadia Sari; Wiwin Hendriani
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.372 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.14154

Abstract

Objektif:Artikel ini bertujuan untuk mengulas tantangan dan hambatan yang dihadapi pelaksanaan pendidikan inklusi serta strategi yang dapat dilakukan oleh negara.Metode: Artikel ini merupakan telaah kritis sistematis. Jurnal diambil dari 9 situs artikel penelitian internasional berbeda. Pencarian jurnal diutamakan terbit tahun 2011-2020. Didapatkan 11 jurnal yang merupakan jurnal kualitatif.Temuan:Hambatan yang dihadapi yaitu tenaga pendidik kurang terlatih, stigma negatif, kebijakan otoritas yang kurang aplikatif, kurangnya pengetahuan tenaga pendidik, hambatan aksesibilitas, keterbatasan sumber belajar, dan keterbatasan finansial. Strategi yang dilakukan yaitu peningkatan kualitas in-service training (INSET), awareness programmes, school-based professional development programmes, family support, kontekstualisasi proses belajar-mengajar, dukungan berkelanjutan selama proses implementasi di lapangan, komitmen pemerintah memberikan sebagian prosentase dari GNP sebagai sumber dana, kolaborasi dengan stakeholders, dan kerjasama regional, nasional, maupun internasional.Kesimpulan:Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan di Indonesia, yaitu pelatihan kepada guru kelas, menyelenggarakan awareness program, bekerjasama dengan tim Pokja yang memiliki resource center yang mendukung implementasi pendidikan inklusi, penyediaan dana untuk menyelenggarakan pelatihan guru kelas, dan membangun fasilitas umum yang lebih ramah terhadap individu dengan disabilitas.
Bahagia tanpa anak? Arti penting anak bagi involuntary childless Miwa Patnani; Bagus Takwin; Winarini Wilman Mansoer
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 9 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.398 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v9i1.14260

Abstract

Objektif: Studi empiris tentang dampak ketidakhadiran anak dalam perkawinan menunjukkan hasil berbeda yang diasumsikan berkaitan dengan perbedaan arti penting anak bagi tiap pasangan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui arti penting anak dan pengaruhnya pada perkawinan pasangan involuntary childless.Metode: Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan dengan metode pengambilan data berupa wawancara secara individual. Partisipan penelitian ini berjumlah 9 orang dengan kriteria involuntary childless, sudah menikah minimal selama 3 tahun dan belum pernah memiliki anak kandung. Analisis data dilakukan dengan interpretative phenomenological analysis (IPA)Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran anak masih dianggap sebagai hal yang penting dalam perkawinan karena dianggap sebagai pemberian dari Tuhan, memberikan dampak positif pada kehidupan, memberikan manfaat bagi orangtua, dan memberi dampak positif pada pasangan suami istri.Kesimpulan: Nilai anak masih dipandang secara positif karena dinilai memberikan banyak manfaat, sehingga ketidakhadiran anak mempengaruhi perkawinan pasangan involuntary childless. Namun pasangan involuntary childless mampu melihat sisi positif dari ketidakhadiran anak sehingga tetap menilai perkawinannya sebagai perkawinan yang membahagiakan.