cover
Contact Name
Santun Bhekti Rahimah
Contact Email
uptpublikasiunisba@gmail.com
Phone
+6285295184370
Journal Mail Official
jrk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Rektorat Unisba, Jl Tamansari no.20
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Kedokteran
ISSN : 28083040     EISSN : 27986594     DOI : https://doi.org/10.29313/jrk.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Kedokteran Jurnal Riset Kedokteran (JRK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian kesehatan, masyarakat industri dll. JRK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6594 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 120 Documents
Perbandingan Destruksi Septum Alveolar Pasca Paparan Rokok Tembakau dan Rokok Elektrik Salsa Putri Sabila; Arief Budi Yulianti; Ajeng Kartika Sari
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6486

Abstract

Abstract. Cigarettes are divided into two types, tobacco cigarettes and electronic cigarettes. Tobacco cigarettes are cylindrical products that consumed by inhaling smoke. Electronic cigarettes using a battery, and the vapor enters the lungs. This research is a True Experimental using Post Test Control Group Design. Population of male Swiss Webster strain mice, with 27 mice for sample. This study uses indicator of lung damage, specifically destruction of alveolar septa. The analysis of parameters used Spearman Rank Analysis. The method of qualitative data collection involved the descriptive interpretation of histopathological preparations, scoring parameters from three groups: the control group (K), the second group (K2) exposed to 6 cigarettes with 2 mg of nicotine/cigarette, and the third group (K3) exposed to 1 ml with 12 mg/ml of nicotine from electronic cigarette. The results found lung damage with indicators of alveolar septum destruction compared to the control group. The results of the non-parametric Rank Spearman test analysis have significant value, indicating that the statistical test results show that mice without exposure, mice exposed to tobacco smoke, and mice exposed to electronic cigarettes experience differences in damage. The conclusion of this study on histopathological showed differences in damage to the destruction of alveolar septa. Abstrak. Rokok terbagi menjadi dua jenis, rokok tembakau dan rokok elektrik. Rokok tembakau adalah hasil produksi berbentuk silinder yang dikonsumsi untuk dihirup asapnya. Rokok elektrik menguapkan cairan menggunakan baterai dan uapnya masuk ke paru-paru pemakai. Penelitian ini merupakan True Experimental menggunakan Post Test Control Group Design. Populasi penelitian adalah mencit jantan galur Swiss Webster dan diambil sampel sebayak 27 ekor. Penelitian ini menggunakan indikator kerusakan paru destruksi septum alveolar. Analisis parameter tersebut menggunakan Analisis Rank Spearman. Metode pengumpulan data kualitatif dengan intepretasi preparat histopatologi secara deskriptif hasil skoring parameter kerusakan paru dari tiga kelompok yaitu kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan dua (K2) dipapar 6 batang rokok dengan 2 mg nikotin/batang, dan kelompok perlakuan tiga (K3) diapapar 1 ml dengan 12mg/ml nikotin larutan rokok elektik. Hasil dari penelitian ditemukan kerusakan jaringan paru dengan indikator destruksi septum alveolar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis non parametric test Rank Spearman memiliki nilai signifikasi yang berarti hasil uji statistik menggambarkan bahwa mencit tanpa paparan, mencit dengan pemberian asap rokok tembakau dan elektrik mengalami perbedaan kerusakan. Kesimpulan penelitian ini pada preparat histopatologi paru-paru mencit yang tidak dipapar, dipapar rokok tembakau dan rokok elektrik terjadi perbedaan kerusakan pada destruksi septum alveolar.
Gambaran Lesi Kanker Paru-paru Tikus Akibat Paparan Subkronis Pewarna Golongan Azo Zidan Zuhdi; Nuzirwan Acang; Meike Rachmawati
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6487

Abstract

Abstract. Bandung Regency has many large-scale textile industries. One part of the production process is coloring. About 60% of the entire dyeing process uses azo group dyes with an estimated usage of around 300,000 tons and is expected to increase. Azo dyes can cause a variety of health problems in different organs, one of them being the lungs. The purpose of this study was to determine the histopathological picture of lung cancer lesion in rats due to azo dye subchronic toxicity. This experimental study used four-week-old male wistar strain rats as subjects. There was a total of 28 rats that were divided into four groups, namely control, group P1 (dose of 190 mg/kgBB), group P2 (dose of 375 mg/kgBB), and group 3 (dose of 750 mg/kgBB). Congo red azo dye was mixed with rat food and was given for 13 weeks. Analysis was performed using the Kruskal-Wallis test. The results of this study were that no cancerous lesion found on all group. These results indicate that subchronic exposure to azo dyes is not sufficient to cause cancerous lesion in rat lungs. Abstrak. Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah yang banyak memiliki industri tekstil berskala besar. Salah satu bagian dari proses produksi dalam industri tekstil adalah pewarnaan. Sekitar 60% dari seluruh proses pewarnaan menggunakan pewarna golongan azo dengan perkiraan penggunaan sekitar 300.000 ton dan diperkirakan semakin meningkat. Zat pewarna azo merupakan bahan kimia yang dapat menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan di berbagai organ, salah satunya paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran histopatologis lesi kanker pada paru-paru tikus akibat paparan subkronis zat pewarna azo. Penelitian eksperimental ini menggunakan subjek tikus galur wistar berjenis kelamin jantan yang berumur empat minggu. Jumlah sampel tikus yang diuji coba sebanyak 28 tikus yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan, yaitu kontrol, kelompok P1 (dosis 190 mg/kgBB), kelompok P2 (dosis 375 mg/kgBB), dan kelompok 3 (dosis 750 mg/kgBB). Zat pewarna azo congo red dicampurkan dengan makanan tikus dan makanan yang sudah tercampur diberikan selama 13 minggu. Analisis dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tidak adanya lesi kanker pada paru-paru tikus di semua kelompok perlakuan. Hasil ini menunjukkan bahwa paparan subkronis zat pewarna azo belum memunculkan lesi keganasan pada paru-paru tikus.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Baros Zakira Shabira Putri; Cice Tresnasari; Umar Islami
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6609

Abstract

Abstract. Stunting is a serious condition caused by chronic malnutrition in the first 1,000 days of life (1,000 HPK), causing children to experience growth disorders and be shorter than their age. One of the causes of stunting is not giving exclusive breast milk for six months. This study aims to analyze the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers in Baros Village, Arjasari District, Bandung Regency in 2024. The method used in this research is analytical observational with a case-control research design involving 64 respondents, including 32 case groups and 32 control group. Data was taken through questionnaires and height measurements using a microtoise device. The chi-square statistical test shows a p-value of 0.005 and an Odds Ratio value = 0.192, significant results that exclusive breastfeeding plays a role as a protective factor against stunting. Thus, it can be concluded that exclusive breastfeeding has a significant relationship with the incidence of stunting in toddlers. Exclusive breastfeeding has been proven to be effective in preventing stunting, because it contains macronutrients, micronutrients and bioactive components that support growth and development and improve the baby's immune system. Not giving exclusive breast milk can increase the risk of infection which ultimately causes growth and development disorders, because the energy that should be used for growth and development includes fighting infection. Abstrak. Stunting merupakan kondisi serius yang disebabkan oleh kurangnya gizi kronis dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK), sehingga menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan lebih pendek daripada seusianya. Salah satu penyebab stunting adalah tidak diberikannya ASI eksklusif selama enam bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Desa Baros Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian case-control melibatkan 64 responden, meliputi 32 kelompok kasus dan 32 kelompok kontrol. Data diambil melalui kuesioner dan pengukuran tinggi badan dengan alat microtoise. Uji statistik chi-square menunjukkan p-value sebesar 0,005 dan nilai Odds Ratio = 0,192, hasil mengindikasikan bahwa pemberian ASI eksklusif berperan sebagai faktor protektif terhadap stunting. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian ASI eksklusif memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita. Pemberian ASI eksklusif terbukti efektif dalam mencegah stunting, karena di dalamnya terdapat makronutrien, mikronutrien, dan komponen bioaktif yang mendukung tumbuh kembang serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Tidak diberikannya ASI eksklusif, dapat meningkatkan risiko infeksi yang akhirnya menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang, karena energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh kembang dialokasikan untuk melawan infeksi.
Hubungan Status Gizi dengan Panjang Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Kedokteran Unisba Teuku Faathir Al Fath; Jusuf Sulaeman Effendi; Indri Budiarti
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6620

Abstract

Abstract. An irregular menstrual cycle length may indicate hormonal disturbances affecting women's reproductive health. Nutritional status is a crucial factor influencing menstrual cycle regularity. Nutritional imbalances can disrupt reproductive hormone regulation, affecting the cycle length. This study aims to analyze the relationship between nutritional status and menstrual cycle length among female medical students at Universitas Islam Bandung. The research problem is: Is there a relationship between nutritional status and menstrual cycle length? This observational study uses a cross-sectional approach. The population comprises 146 female medical students meeting inclusion and exclusion criteria. Data were collected via questionnaires and anthropometric measurements. The chi-square test analyzed the relationship between nutritional status and menstrual cycle length. Results indicate a significant relationship with a p-Value of 0.030 (p < 0.05). Students with obesity are more likely to experience irregular menstrual cycles than those with normal nutritional status. This finding suggests that suboptimal nutritional status disrupts hormonal balance, affecting cycle regularity. Abstrak. Panjang Siklus menstruasi yang tidak teratur dapat menjadi tanda adanya gangguan hormonal yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi wanita. Status gizi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keteraturan siklus menstruasi pada wanita. Ketidakseimbangan gizi dapat mengganggu regulasi hormon reproduksi sehingga memengaruhi panjang siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan panjang siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Rumusan Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan antara status gizi dan panjang siklus menstruasi?”. Penelitian ini menggunakan metode analisis observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 146 mahasiswi Fakultas Kedokteran Univeristas Islam Bandung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square untuk menguji hubungan status gizi dengan panjang siklus menstruasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan panjang siklus menstruasi dengan nilai p-Value = 0,030 (p < 0,05). Mahasiswi dengan status gizi obesitas lebih cenderung mengalami siklus menstruasi tidak teratur dibandingkan dengan mahasiswi dengan status gizi normal. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi yang tidak optimal berperan dalam mengganggu keseimbangan hormonal yang memengaruhi keteraturan siklus menstruasi.
Gambaran Karakteristik Demensia Vaskular pada Pasien Stroke Iskemik RSAU Salamun Bandung Zahra Khairunnisa Karimah; Nugraha Sutadipura; Alya Tursina
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6687

Abstract

Abstract. Ischemic stroke in Indonesia accounts for 67% of all cases and often leads to vascular dementia that reduces the quality of life for patients. This study is a qualitative study using descriptive analysis methods. The research was conducted on 569 ischemic stroke patients first diagnosed with head CT scan results at the neurology clinic of RSAU Salamun Bandung, with vascular dementia patients having a MoCA-INA score < 24 or MMSE score < 26, based on medical records from 2022 – 2024. The results showed that the majority of ischemic stroke patients were male (54%), with the most common age being 60-64 years (18.1%), the last education level being high school (41.8%), and the most common occupation being housewives (29.7%). The majority of ischemic stroke lesions were located in the supratentorial area (79.8%) with the highest frequency in the parietal lobe (36%). The incidence of post-stroke vascular dementia accounted for only 12.7%. This study shows that the characteristics of stroke patients and post-stroke dementia can be seen from age, gender, education level, and stroke lesion location. This study highlights the importance of early detection and proper management of ischemic stroke and vascular dementia to improve patients' quality of life. Abstrak. Stroke iskemik di Indonesia menyumbang 67% dari semua kasus dan sering menyebabkan demensia vaskular yang mengurangi kualitas hidup pasien. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Penelitian dilakukan pada 569 pasien stroke iskemik yang pertama kali didiagnosis dengan hasil CT scan kepala di klinik neurologi RSAU Salamun Bandung, dengan pasien demensia vaskular memiliki skor MoCA-INA < 24 atau skor MMSE < 26, berdasarkan catatan medis dari tahun 2022 – 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien stroke iskemik adalah laki-laki (54%), dengan usia paling umum 60-64 tahun (18,1%), tingkat pendidikan terakhir adalah sekolah menengah atas (41,8%), dan pekerjaan paling umum adalah ibu rumah tangga (29,7%). Mayoritas lesi stroke iskemik terletak di area supratentorial (79,8%) dengan frekuensi tertinggi di lobus parietal (36%). Insiden demensia vaskular pasca-stroke hanya mencapai 12,7%. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien stroke dan demensia pasca-stroke dapat dilihat dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan letak lesi stroke. Penelitian ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap stroke iskemik dan demensia vaskular untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Gambaran Karakteristik Balita Stunting dan Severely Stunting di Puskesmas Palasari Subang Sarah Siti Nurnabilah; Zulmansyah; Suganda Tanuwidjaja
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6688

Abstract

Abstract. Stunting is one of the chronic nutritional problems that affect the growth and development of toddlers. The working area of Palasari Health Center in Subang shows a high prevalence of stunting. The study employs a quantitative descriptive design with a purposive sampling technique. The sample consists of 84 toddles recorded in the working area of the Palasari Health Center. Secondary data were obtained through the e-PPGBM (Electronic Community-Based Nutrition Recording and Reporting). The results show that stunted toddlers are more common among boys (62%), as well as severely stunted toddlers (52.4%). The majority of both stunted and severely stunted toddlers belong to the age group >36 months (69%). Additionally, most stunted toddlers have mothers with inadequate weight gain during the third trimester of pregnancy (52.4%), similar to severely stunted toddlers, where most have mothers with insufficient weight gain during the third trimester (76%). The high prevalence of stunting and severe stunting in this area is influenced by various factors, including male gender, age >36 months, and mothers with inadequate weight gain during the third trimester of pregnancy. Integrated intervention efforts, including enhanced nutrition education and strengthened maternal and child health programs, are necessary to address this issue. Abstrak. Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang berdampak pada tumbuh kembang balita. Wilayah kerja Puskesmas Palasari Subang  menunjukkan prevalensi stunting yang masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik balita stunting dan severely stunting, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari  84 balita yang terdata di wilayah kerja Puskesmas Palasari. Data sekunder didapatkan melalui e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita stunting lebih banyak pada laki-laki(62%), begitupun dengan balita severely stunting (52,4%). Mayoritas balita stunting maupun severely stunting berasal dari kelompok umur >36 bulan (69%). Selain itu, mayoritas balita stunting memiliki ibu dengan  penambahan berat badan saat hamil trimester III yang kurang (52,4%). Sama halnya dengan balita  severely stunting yang sebagian besar memiliki ibu penambahan berat badan saat hamil trimester III yang kurang (76%). Tingginya prevalensi stunting dan severely stunting di wilayah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya jenis kelamin laki-laki, usia > 36 bulan, dan ibu yang memiliki penambahan berat badan trimester III kehamilan dengan kategori kurang. Upaya intervensi yang terintegrasi, termasuk peningkatan edukasi gizi dan penguatan program kesehatan ibu dan anak, diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini.
Gambaran Klinis dan Laboratorium Kejadian Resistensi Karbapenem Bakteri Acinetobacter Baumannii Muhammad Cendekia Robbani; Usep Abdullah Husin; Winni Maharani Mauliani
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6694

Abstract

Abstract. Antimicrobial Resistance Collaborators mentioned there are six main pathogens in antibiotic resistance cases, including Acinetobacter baumannii. This study aims to determine the incidence, clinical features and laboratory results of carbapenem-resistant Acinetobacter baumannii infection. The sampling method used total sampling and was carried out in November-December 2024 at Al-Ihsan Hospital, from all patients with Acinetobacter baumannii findings, most patients were obtained according to the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the majority of patients were female, with the most age group being infants aged less than one year, and the most sampling locations were in the ICU. Most clinical features were sepsis accompanied by respiratory distress. The main sample type used was blood. Most of the antibiotics tested showed no response in the culture. It was found that most of the Carbapenem Resistant Acinetobacter baumannii (CRAB) cultures showed extensively-drug resistant (XDR) characteristics, while the rest showed multi-drug resistant (MDR) characteristics. Some findings are not in line with previous studies that have been carried out due to the limited number of patients. Based on the results of the national antibiotic sensitivity examination, there are similarities in the resistance patterns of the study with the 2023 surveillance. Abstrak. Antimicrobial Resistance Collaborators menyebutkan terdapat enam patogen utama dalam kasus resistensi antibiotik, diantaranya Acinetobacter baumannii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi, gambaran klinis dan hasil laboratorium infeksi Acinetobacter baumannii yang resisten terhadap karbapenem. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling dan dilakukan pada bulan November—Desember 2024 di RSUD Al-Ihsan, dari seluruh pasien dengan temuan Acinetobacter baumannii didapatkan sebagian besar pasien sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan, dengan kelompok usia terbanyak adalah bayi berusia kurang dari satu tahun, dan lokasi pengambilan sampel terbanyak berada di ICU. Gambaran klinis terbanyak berupa sepsis disertai gangguan pernafasan. Jenis sampel utama yang digunakan adalah darah. Sebagian besar antibiotik yang diujikan tidak menunjukkan respons pada biakkan. Ditemukan bahwa sebagian besar biakkan Carbapenem Resistant Acinetobacter baumannii (CRAB) menunjukkan karakteristik extensively-drug resistant (XDR), sementara sisanya menunjukkan karakteristik multi-drug resistant (MDR). Beberapa hasil temuan tidak sejalan dengan penelitian terdahulu yang telah dilaksanakan karena jumlah pasien yang terbatas. Berdasarkan hasil pemeriksaan kepekaan antibiotik nasional, terdapat kesamaan pola resistensi penelitian dengan surveilans tahun 2023.
Daya Hambat Emulgel Ampas Kopi Arabika Java Preanger terhadap Cutibacterium acnes Pramudya Adithya Putra Subekti; Santun Bhekti Rahimah; Mia Yasmina Andarini
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6695

Abstract

Abstract. Acne vulgaris (AV) is a common skin disease, affecting almost 80%-100% of the population. The purpose of this study was to determine Java Preanger Arabica coffee grounds extract emulgel (Coffea arabica L.) against C. acnes bacteria. This study used an in vitro experimental study using C. acnes bacterial isolates, taken from the Unisba Pharmacy microbiology lab, with the well method and measured with UV-Vis Spectro with a wavelength of 600nm at an absorbance of 0.08-0.1. There are four research groups consisting of two concentrations of Java Preanger Arabica coffee grounds (Coffea arabica L.) emulgel extract 75% and 100%, positive control clindamycin, and emulgel base as a negative control which are then incubated for 24 hours at 37oC and the inhibition zone is measured in millimeters. The results of the study showed that the inhibition zone at a concentration of 100% was 18.19mm, while at a concentration of 75% it was 18.74mm. The conclusion of this study is that the inhibition test of Java Preanger Arabica coffee grounds (Coffea arabica L.) emulgel extract has significant results. This proves that coffee can overcome bacterial infections because it has inhibitory power against C. acnes bacteria. Abstrak. Akne vulgaris (AV) merupakan penyakit kulit yang umum, menyerang hampir 80%-100% dari populasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan emulgel ekstrak ampas kopi arabika Java Preanger (Coffea arabica L.) terhadap bakteri C. acnes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen in vitro dengan menggunakan isolat bakteri C. acnes yang diambil dari laboratorium mikrobiologi Farmasi Unisba, dengan metode sumuran dan diukur dengan Spektro UV-Vis dengan panjang gelombang 600 nm pada absorbansi 0,08-0,1. Terdapat empat kelompok penelitian yang terdiri dari dua konsentrasi emulgel ekstrak ampas kopi arabika Java Preanger (Coffea arabica L.) 75% dan 100%, kontrol positif klindamisin, dan basis emulgel sebagai kontrol negatif yang kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC dan diukur zona hambatnya dalam satuan milimeter. Hasil penelitian menunjukkan zona hambat pada konsentrasi 100% sebesar 18,19 mm, sedangkan pada konsentrasi 75% sebesar 18,74 mm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah uji daya hambat emulgel ampas kopi arabika Java Preanger (Coffea arabica L.) memiliki hasil yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa kopi dapat mengatasi infeksi bakteri karena memiliki daya hambat terhadap bakteri C. acnes.
Synovial Sarcoma of the Wrist in Pediatric Patient: Case Report Andini, Suci Nurul; Budi, Muhamad Naseh Sajadi
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.5868

Abstract

Abstract. Synovial sarcoma is a rare type of soft tissue sarcoma, accounting for approximately 5% of all cases and frequently occurring in adolescents and young adults. It most commonly affects the extremities and is characterized by its aggressive behavior, with a high propensity for local recurrence and distant metastasis. This case report aims to discuss the diagnosis, treatment, and postoperative outcomes of an 11-year-old girl with synovial sarcoma of the right wrist. The patient underwent limb salvage surgery, including wide excision of the affected ulna and tendon reconstruction, followed by adjuvant chemotherapy and radiotherapy. Postoperatively, the patient showed significant improvements in pain, function (M-DASH score), and range of motion over a three-month period, with no signs of infection or disease recurrence.  Although the patient showed significant improvement in pain and functional ability within three months postoperatively, long-term follow-up is essential to monitor for recurrence or metastasis and to assess ongoing functional recovery. This case emphasizes the importance of a multidisciplinary approach in the management of synovial sarcoma, particularly in young patients. Abstrak. Synovial sarcoma adalah jenis langka dari sarkoma jaringan lunak yang mencakup sekitar 5% dari semua kasus dan sering terjadi pada remaja serta dewasa muda. Kondisi ini paling sering menyerang ekstremitas dan ditandai dengan perilaku agresif, memiliki kecenderungan tinggi untuk kambuh secara lokal dan menyebar ke tempat yang jauh. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas diagnosis, pengobatan, dan hasil pascaoperasi pada seorang anak perempuan berusia 11 tahun dengan synovial sarcoma di pergelangan tangan kanan. Pasien menjalani operasi limb salvage, termasuk eksisi luas pada ulna yang terkena serta rekonstruksi tendon, diikuti dengan kemoterapi dan radioterapi adjuvan. Secara pascaoperasi, pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam hal nyeri, fungsi (skor M-DASH), dan rentang gerak dalam tiga bulan, tanpa tanda-tanda infeksi atau kekambuhan penyakit. Meskipun pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam hal nyeri dan kemampuan fungsional dalam tiga bulan pascaoperasi, tindak lanjut jangka panjang sangat penting untuk memantau kekambuhan atau metastasis serta mengevaluasi pemulihan fungsional yang berkelanjutan. Kasus ini menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam penanganan synovial sarcoma, terutama pada pasien muda.
Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Pasien Balita Destiyani, Trya; Suryani, Yani Dewi; Putri, Mirasari
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.1, Juli 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i1.6301

Abstract

Abstract. ISPA is still the cause of the highest number of illnesses and deaths in children. According to WHO, worldwide ISPA has a mortality rate in toddlers of around ±13 million per year in developing countries. According to the Ministry of Health in 2021, the number of ISPA cases in Indonesia in toddlers was 278,261. Nutritional status can affect the occurrence of ISPA, children with poor nutritional status tend to have decreased cellular immunity and a poor immune system, making them more susceptible to infection. The purpose of this study was to determine the Relationship between Nutritional Status and the incidence of ISPA in Toddler Patients. This type of research is quantitative using observational analytic with a case control research method. The research sampling technique used a nonprobability sampling technique with a consecutive sampling type. Data analysis was carried out univariately and bivariately, the results of the chi square test obtained a probability value (p = 0.065> 0.05). In children with ISPA, 15.5% had poor nutritional status, 61.9% normal nutrition and 22.6% had excess nutritional status. In children who did not have ARI, there were 4.8% malnutrition, 72.6% good nutrition and 22.6% overnutrition. This concludes that there is no significant relationship between nutritional status and the incidence of ARI in toddler patients at the Purwaharja 1 Health Center, Banjar City in 2024. Abstrak. ISPA masih menjadi penyebab angka penyakit dan kematian tertinggi yang terjadi pada anak. Berdasarkan WHO, di seluruh dunia ISPA menempati angka kematian pada anak balita sekitar ±13 juta pertahun terjadi di negara berkembang. Menurut Kemenkes tahun 2021 jumlah kasus ISPA di Indonesia pada balita sebanyak 278.261. Status gizi dapat mempengaruhi terjadinya ISPA, anak-anak dengan status gizi buruk cenderung memiliki imunitas seluler yang menurun dan sistem kekebalan yang buruk, sehingga lebih rentan terkena infeksi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Status Gizi dengan kejadian ISPA pada Pasien Balita. Jenis penelitian ini kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan metode penelitian case control. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik non probability sampling dengan jenis consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, hasil uji chi square diperoleh nilai probabilitas (p=0,065>0,05). Pada anak dengan ISPA, sebanyak 15,5% memiliki status gizi kurang-buruk, 61.9% gizi normal dan 22.6% memiliki status gizi lebih. Pada anak yang tidak ISPA, terdapat 4,8% dengan gizi kurang-buruk, 72,6% gizi baik dan 22.6% gizi lebih. Hal ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada pasien balita di Puskesmas Purwaharja 1 Kota Banjar 2024.

Page 11 of 12 | Total Record : 120