cover
Contact Name
Santun Bhekti Rahimah
Contact Email
uptpublikasiunisba@gmail.com
Phone
+6285295184370
Journal Mail Official
jrk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Rektorat Unisba, Jl Tamansari no.20
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Kedokteran
ISSN : 28083040     EISSN : 27986594     DOI : https://doi.org/10.29313/jrk.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Kedokteran Jurnal Riset Kedokteran (JRK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian kesehatan, masyarakat industri dll. JRK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6594 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 120 Documents
Faktor Risiko Kanker Payudara pada Wanita Muda di RSUD Al Ihsan Tahun 2025 Eriantiningrum, Salsabila; Sumantri , Agung Firmansyah; Maharani, Winni
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8307

Abstract

Abstract, Currently, the world is experiencing a shift in disease trends, from predominantly infectious diseases to an increasing prevalence of non-communicable diseases (NCDs). One of the leading causes of death among NCDs is breast cancer, which ranks as the second leading cause of mortality worldwide. The incidence of this disease is rising among young women, triggered by various risk factors that contribute to the development of cancer cells, such as Body Mass Index (BMI), family history, early menarche, long-term use of hormonal therapy, smoking habits, and marital status. This study aims to describe the risk factors associated with breast cancer in young women at RSUD Al Ihsan, West Java, during the year 2025. This study is a descriptive study with a cross-sectional approach was conducted using secondary data obtained from the medical records of young female breast cancer patients at RSUD Al Ihsan, with a total of 64 respondents. The results indicate that the majority of respondents had a normal BMI with an average of 19.30, were married (96.88%), non-smokers (93.75%), did not undergo hormonal therapy (71.88%), had no family history of breast cancer (73.44%), and did not experience early menarche (98.44%). These findings suggest that most respondents did not present classical risk factors such as a family history of breast cancer, early menarche, smoking habits, or long-term hormonal therapy. This indicates the potential involvement of other factors, such as diet, physical activity, environmental exposure, or more complex genetic predispositions. Abstrak, Saat ini, dunia mengalami perubahan tren penyakit, dari dominasi penyakit menular menjadi peningkatan penyakit tidak menular (PTM). Salah satu PTM yang menjadi penyebab utama kematian adalah kanker payudara. Penyakit ini merupakan penyebab kematian kedua di dunia dan semakin banyak ditemukan pada wanita usia muda. Beberapa faktor risiko dapat memicu perkembangan kanker payudara, di antaranya Indeks Massa Tubuh (IMT), riwayat keluarga, menarche dini, penggunaan obat hormonal jangka panjang, kebiasaan merokok, dan status pernikahan. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan faktor risiko kejadian kanker payudara pada wanita muda di RSUD Al Ihsan, Jawa Barat, periode tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien kanker payudara wanita usia muda di RSUD Al Ihsan. Total subjek penelitian sebanyak 64 responden. Mayoritas responden memiliki IMT normal dengan rata-rata 19.30, sudah menikah (96.88%), tidak merokok (93.75%), tidak menjalani terapi hormon (71.88%), tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara (73.44%), dan tidak mengalami menarche dini (98.44%). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak memiliki faktor risiko klasik. Ini menunjukkan kemungkinan peran faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, paparan lingkungan, atau predisposisi genetik dalam kejadian kanker payudara.
Gambaran Karakteristik dan Komorbid Pasien Akne Vulgaris di RSUD Al-Ihsan Periode Tahun 2019–2023 Ananta, Defika; Shahib, Muhammad Nurhalim; Muflihah, Heni
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8308

Abstract

Abstract, Acne Vulgaris (AV) is a skin condition caused by chronic inflammation pf the pilosebaceous follicles. A previous study conducted in Indonesia in 2016, which investigated the risk factors of AV, found that various factors can influence the development of AV, such as age, gender, stress, environment, hormonal medication use, and pollution. This condition may be exacerbated by comorbidities present in the patient, which can subsequenly affect both the choice of therapy and the prognosis of AV. This study aims to determine the characteristics and comorbidities of acne vulgaris patients at Al-Ihsan Regional Hospital for the period 2019-2023. This study is a descriptive observational study with a cross-sectional approach. Data collection used secondary data obtained from data reports of acne vulgaris patients for the period 2019-2023 at Al-Ihsan Regional Hospital, with a total of 518 respondents. This study showed that 74.52% of patients were between the ages of 16 and 35, with the majority being female (70.7%). Comorbidity distribution was predominantly seborrheic dermatitis (0.77%) and folliculitis (0.58%). The prevalence of comorbidities was relatively low, with seborrheic dermatitis (0.97%) and folliculitis (0.77%) being the most common. This low prevalence may be due to limited patient data recording at the Dermatology and Venereology Polyclinic, or because most patients did not have formally diagnosed comorbidities. Abstrak, Akne Vulgaris (AV) merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh peradangan menahun folikel pilosebasea. Pada penelitian lain yang dilakukan di Indonesia 2016, yang meneliti faktor penyebab terjadinya AV mendapati bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya AV seperti usia, jenis kelamin, stress, lingkungan, penggunaan obat hormonal dan polusi. Penyakit ini dapat diperparah dengan kondisi komorbiditas yang terjadi pasa pasien yang selanjutnya akan mempengaruhi pilihan terapi dan prognosis AV pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran karakteristik dan komorbid pasien akne vulgaris di RSUD Al-Ihsan Periode tahun 2019-2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan data pasien akne vulgaris periode 2019-2023 di RSUD Al-Ihsan, dengan total subjek pada penelitian ini sebanyak 518 responden. Penelitian ini menunjukkan 65,83% pasien berada di rentang usia 15-24 tahun dengan mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 70,7%. Distribusi pasien paling banyak tidak mengalami komorbid yaitu sebanyak 9,46%, komorbiditas mayoritas pasien mengalami dermatitis seboroik, dermatitis kontak, abses dan sikatriks yaitu sebanyak 0,97%. Komorbiditas yang ditemukan relatif rendah, dengan dermatitis seboroik (0,97%) dan folikulitis (0,77%) sebagai yang terbanyak. Rendahnya prevalensi ini mungkin dipengaruhi oleh keterbatasan pencatatan laporan data pasien di Poliklinik Kulit dan Kelamin, atau karena sebagian besar pasien tidak memiliki penyakit penyerta yang terdiagnosis secara formal.
Pengaruh Faktor Orang Tua terhadap Kepatuhan Imunisasi Ardhana, Feri; Djojosugito, Ahmad; Garina, Lisa Adhia
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8309

Abstract

Abstract. Basic immunization is a crucial foundation for creating a healthy and productive society in the future. It plays a significant role in the scope of health services by protecting vulnerable infants from various diseases. According to the National Immunization Strategy 2020–2024, Indonesia targets a minimum of 90% coverage of complete basic immunization at the national level and at least 80% in all districts and cities. However, in reality, disparities in achieving these targets still exist. This study aims to analyze the relationship between parental education level, age, occupation, and income with compliance in providing complete basic immunization in the working area of Babakan Tarogong Public Health Center, Bandung City. The research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through questionnaires distributed to 90 mothers who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using the spearman statistical test to assess the relationship between variables, utilizing the SPSS software. The results showed that the parents' level of education was significantly associated with compliance to basic immunization (p = 0.000), as was the mother's age (p = 0.042). This relationship indicates that the higher the mother's level of education and age, the more likely she is to comply with providing basic immunizations for her child. Abstrak. Imunisasi dasar merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif di masa depan. Imunisasi dasar berperan penting dalam cakupan layanan kesehatan yang berdampak pada terlindunginya bayi yang rentan terhadap segala jenis penyakit. Berdasarkan Strategi Nasional Imunisasi 2020–2024, Indonesia menargetkan minimal 90% cakupan imunisasi dasar lengkap pada tingkat nasional dan minimal 80% di semua kabupaten/kota. Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan adanya ketimpangan dalam pencapaiannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan, usia, pekerjaan dan penghasilan orang tua dengan kepatuhan pemberian imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Babakan Tarogong, Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observational analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 90 ibu yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik spearman untuk menilai hubungan antara dua variabel dengan perangkat SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua memiliki hubungan dengan kepatuhan imunisasi dasar (p=0.000), begitu juga dengan usia ibu (p=0.042). Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan usia ibu, maka semakin patuh untuk melakukan imunisasi dasar kepada anaknya.
Gambaran Penggunaan Media Sosial dan Pemanfaatan Informasi Kesehatan Efendi, Mochammad Nauval Asraf; Irasanti, Siska Nia; Dananjaya, Rio
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8362

Abstract

Abstract. The advancement of information technology has facilitated public access, including that of medical students, to health information through social media. This study aims to describe the types of social media used, the duration of usage, and the characteristics of health information utilization, which include the types of information, forms of information, and the most trusted sources of information among students. This research employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach and utilized a questionnaire as the data collection instrument. The results showed that the most commonly used social media platform was WhatsApp (75.67%), with a usage duration of more than 4 hours per day (55.08%). The most frequently accessed health information included education, health learning materials, and disease prevention (34.46%). The most easily understood form of information was video (93.24%), and the most trusted source of information was from healthcare professional accounts (42.57%). The conclusion of this study indicates that social media plays a significant role in the utilization of health information among students; however, digital literacy is necessary to enable them to filter accurate and reliable information. Abstrak. Kemajuan teknologi informasi telah memudahkan masyarakat, termasuk mahasiswa kedokteran, dalam mengakses informasi kesehatan melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis media sosial, durasi penggunaan media sosial, serta karakteristik pemanfaatan informasi kesehatan yang mencakup jenis informasi, bentuk informasi, dan sumber informasi yang paling dipercaya oleh mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan instrumen kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp (75,67%) dengan durasi penggunaan lebih dari 4 jam per hari (55,08%). Jenis informasi kesehatan yang paling banyak diakses adalah edukasi, pembelajaran kesehatan, dan pencegahan penyakit (34,46%). Bentuk informasi kesehatan yang paling mudah dipahami adalah video (93,24%), dan sumber informasi yang paling dipercaya berasal dari akun tenaga kesehatan (42,57%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam pemanfaatan informasi kesehatan di kalangan mahasiswa, namun dibutuhkan literasi digital agar mereka mampu menyaring informasi yang akurat dan terpercaya.
Hubungan Derajat Hipertensi dengan Kecemasan di Klinik Pratama Biddokkes Polda Jawa Barat Tahun 2024 Rifki, Muhammad Hikmal; Akbar, Ieva Baniasih; Widayanti
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8369

Abstract

Abstract. Hypertension, a global health threat, frequently coexists with anxiety, yet specific data on this association in local, high-stress populations are limited. This study aimed to analyze the relationship between hypertension grade and anxiety among patients at the Pratama Biddokkes Clinic of the West Java Regional Police. Employing an observational cross-sectional design, the study included 88 adult hypertensive patients (aged 30–69 years) with a normal body mass index; data was collected during November–December 2024. Hypertension was classified as grade 1 or 2, and anxiety was quantitatively measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The relationship's strength and risk were analyzed using the Gamma test and Odds Ratio (OR). Results showed a majority of respondents had grade 2 hypertension (74%) and experienced anxiety (64%). A significant relationship was confirmed via chi-square analysis (p = 0.025). The Gamma test yielded a coefficient of +0.518, indicating a positive, moderate-strength relationship. Patients with grade 2 hypertension were 3.14 times more likely to experience anxiety (OR = 3.14). In conclusion, a significant, positive, and moderately strong relationship exists between hypertension grade and anxiety. A higher hypertension grade increases the likelihood of anxiety, emphasizing the critical importance of screening and managing anxiety as part of holistic care to improve treatment outcomes. Abstrak. Hipertensi sering disertai kecemasan, namun bukti mengenai hubungan keduanya pada populasi dengan tingkat stres tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara derajat hipertensi dan kecemasan pada pasien di Klinik Pratama Biddokkes Polda Jawa Barat. Studi observasional cross-sectional ini melibatkan 88 pasien hipertensi dewasa berusia 30–69 tahun dengan indeks massa tubuh normal. Data dikumpulkan pada November–Desember 2024. Derajat hipertensi diklasifikasikan menjadi derajat 1 dan derajat 2, sementara kecemasan dinilai menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Analisis dilakukan melalui uji chi-square, Gamma, dan Odds Ratio (OR). Hasil menunjukkan sebagian besar responden mengalami hipertensi derajat 2 (74%) dan kecemasan (64%). Ditemukan hubungan signifikan antara derajat hipertensi dan kecemasan (p = 0,025). Koefisien Gamma +0,518 menunjukkan hubungan positif berkekuatan moderat. Pasien dengan hipertensi derajat 2 memiliki risiko 3,14 kali lebih tinggi mengalami kecemasan (OR = 3,14). Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan derajat hipertensi berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, sehingga skrining dan penanganan kecemasan perlu menjadi bagian dari pendekatan perawatan yang komprehensif.
Hubungan Index Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi dan Acne Vulgaris Aulia, Vadila; Sulaeman, Jusuf; Budiarti, Indri
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8389

Abstract

Abstract. Kesehatan reproduksi perempuan, terutama menstruasi dan acne vulgaris, menjadi isu penting pada masa remaja dan dewasa awal. Indeks Massa Tubuh (IMT) diduga memengaruhi keteraturan menstruasi dan kejadian acne vulgaris melalui mekanisme hormonal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan IMT dengan siklus menstruasi dan acne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung. Desain penelitian menggunakan cross-sectional dengan 115 responden yang dipilih melalui stratified random sampling. IMT dikategorikan menjadi underweight, normal, dan overweight/obesitas, sedangkan siklus menstruasi diklasifikasikan sebagai teratur atau tidak teratur. Analisis menggunakan uji chi-square dan multivariat. Hasil menunjukkan sebagian besar mahasiswi memiliki IMT normal (61,7%), siklus teratur (71,3%), dan mengalami acne vulgaris (79,1%). Terdapat hubungan signifikan antara IMT dan keteraturan siklus menstruasi (p = 0,001), dengan kelompok overweight menunjukkan risiko siklus tidak teratur tertinggi (85,7%). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara IMT dan acne vulgaris (p = 0,358). IMT menjelaskan 35,9% variasi siklus menstruasi, namun hanya 1,8% variasi acne vulgaris. Kesimpulannya, IMT berhubungan dengan keteraturan menstruasi, tetapi tidak dengan acne vulgaris yang lebih dipengaruhi faktor hormonal, genetik, dan lingkungan. Abstrak. Women’s reproductive health, particularly menstruation and acne vulgaris, is essential during adolescence and early adulthood. Body Mass Index (BMI) may influence menstrual cycle regularity and acne vulgaris through hormonal pathways. This study analyzed the relationship between BMI, menstrual cycle regularity, and acne vulgaris among female students at the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung. A cross-sectional design was used involving 115 students selected through stratified random sampling. BMI was classified into underweight, normal, and overweight/obesity, while menstrual cycles were categorized as regular or irregular. Data were analyzed using chi-square and multivariate tests. Most respondents had normal BMI (61.7%), regular cycles (71.3%), and experienced acne vulgaris (79.1%). A significant association was found between BMI and menstrual cycle regularity (p = 0.001), with the overweight group showing the highest risk of irregular cycles (85.7%). No significant association was found between BMI and acne vulgaris (p = 0.358). BMI explained 35.9% of menstrual cycle variation but only 1.8% of acne vulgaris occurrence. In conclusion, BMI is associated with menstrual cycle regularity but not with acne vulgaris, which is more strongly influenced by hormonal, genetic, and environmental factors.
Hubungan Jumlah Trombosit dengan Lama Rawat Inap pada Pasien DBD Anak di Rumah Sakit Sariningsih Bandung Tahun 2023 Wicaksono, Elang Susilo Satrio; Tanuwidjaja, Suganda; Zulmansyah
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8437

Abstract

Abstract. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus which is characterized by high fever that continues for 2-7 days. Thrombocytopenia, and typical symptoms in the form of plasma leakage due to increased vascular permeability which is characterized by increased hematocrit. The incidence of DHF in children at Sariningsih Hospital, Bandung during 2023 was 101 cases. The purpose of this study was to determine the relationship between platelet count and length of hospitalization in pediatric DHF patients at Sariningsih Hospital, Bandung. This study is an observational analytic with a cross-sectional design and data will be collected through medical records of patients who have undergone treatment at Sariningsih Hospital, Bandung, with a sample size of 96 children. The data collection technique using the sample selection technique in this study was taken from an accessible population using the non-probability sampling method. The type of non-probability sampling technique used for this study is purposive sampling. Data analysis using the Spearman test. The results of the statistical test concluded that the p-value was 0.027, which indicated a statistically significant relationship between platelet count and length of hospitalization. Abstrak. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditandai dengan demam tinngi terus menerus selama 2-7 hari. Trombositopenia, serta gejala khas berupa perembesan plasma karena meningkatnya permeabilitas vaskuler yang ditandai dengan peningkatan hematokrit. Kejadian DBD pada anak di Rumah Sakit Sariningsih bandung selama tahun 2023 sebanyak 101 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara jumlah trombosit dengan lama rawat inap pada pasien DBD anak di Rumah Sakit Sariningsih Bandung. Penelitian ini berupa analitik observasional dengan desain cross sectional dan data akan dikumpulkan melalui rekam medik pasien yang sudah menjalani perawatan di RS Sariningsih Bandung, dengan jumlah sampel berupa 96 anak. Teknik pengambilan data menggunakan teknik pemilihan sampel pada penelitian ini diambil dari populasi terjangkau dengan menggunakan metode non-probability sampling. Jenis teknik non-probability sampling yang digunakan untuk penelitian ini adalah purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil uji statistik disimpulkan menunjukkan nilai p sebesar 0,027, yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara jumlah trombosit dan lama rawat inap.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Cenderawasih Ayorbaba, Novia Adeltje; Victor John Sembay, Jimmy Victor John; Astawa, Gregorius Adista Enrico; Christiani, Yemima Wandia; Watofa, Yosefina Marijke
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8645

Abstract

Abstract. Sleep is a biological process that is essential for optimal life and health. Poor sleep quality can be experienced by everyone, including students. During their studies, medical students tend to experience problems with sleep quality due to heavy academic demands and busy lecture schedules. One way to improve and enhance sleep quality is by doing physical activity. This study aims to determine the relationship between physical activity and sleep quality in medical students at Cenderawasih University. Methods: This study used a quantitative analytic survey design with a cross-sectional approach. The sample in this study was taken from medical students of Cenderawasih University class of 2023 and 2024 who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments in study were the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). A total of 206 students participated in the study. The majority had moderate physical activity levels (47.6%) and poor sleep quality (88.35%). The Chi-Square analysis test revealed no statistically significant relationship between physical activity and sleep quality (p = 0.764). There is no significant association between physical activity and sleep quality among medical students at Cenderawasih University. Although many students reported moderate levels of physical activity, other factors may influence their sleep quality. Abstrak. Tidur merupakan proses biologis yang penting untuk kehidupan dan kesehatan yang optimal. Keadaan kualitas tidur yang buruk dapat dialami oleh setiap orang termasuk mahasiswa. Dalam menjalani masa studi, mahasiswa kedokteran cenderung mengalami masalah dengan kualitas tidur dikarenakan tuntutan akademik yang berat dan jadwal perkuliahan yang padat. Salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tidur adalah dengan melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada mahasiswa kedokteran Universitas Cenderawasih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik cross sectional. Sampel penelitian diambil dari mahasiswa kedokteran Universitas Cenderawasih angkatan 2023 dan 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Penelitian melibatkan 206 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa tergolong memiliki aktivitas fisik sedang yaitu sebanyak 98 orang (47,6%) dan kualitas tidur buruk yaitu sebanyak 182 orang (88,35%). Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,764 yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada mahasiswa kedokteran Universitas Cenderawasih.
Perbandingan Kadar Interleukin-10 pada Pasien Terduga Tuberkulosis Terkonfirmasi dan Tidak Terkonfirmasi Bakteriologis Shibly, Khairunnissa; Parwati, Ida; Suraya, Nida; Wasilah, Fajar
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8742

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains a critical global health crisis, demanding non-sputum biomarkers to overcome the limitations of traditional diagnostics. This study investigated Interleukin-10 (IL-10), a cytokine linked to Mycobacterium tuberculosis survival, as a novel, non-invasive diagnostic marker for active TB. A cross-sectional study (Jan–Mar 2024) at DR. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung measured serum IL-10 levels via ELISA in 84 individuals. Levels were compared between patients with bacteriologically confirmed TB and those with unconfirmed or suspected TB. Confirmed TB patients showed significantly higher median IL-10 levels (1.58 pg/mL) than unconfirmed cases (1.10 pg/mL; p=0.0001). Diagnostic utility was strong, with the Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis yielding an Area Under the Curve (AUC) of 0.787 (P < 0.001), achieving 80.0% sensitivity and 67.3% specificity. The significant difference in IL-10 levels confirms its potential as a non-sputum-based clinical biomarker to enhance the diagnosis and global management of active Tuberculosis. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi permasalahan kesehatan global, perlunya ditemukan biomarker non-sputum untuk mengatasi keterbatasan diagnostik tradisional. Studi ini meneliti Interleukin-10 (IL-10), sitokin yang terkait dengan kelangsungan hidup Mycobacterium tuberculosis, sebagai penanda diagnostik non-invasif yang baru untuk TB aktif. Studi cross-sectional (Januari–Maret 2024) dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Sebanyak 84 subjek diukur kadar IL-10 serumnya menggunakan metode ELISA. Kadar IL-10 dibandingkan antara pasien TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis dan yang tidak terkonfirmasi atau suspek TB. Pasien TB terkonfirmasi menunjukkan kadar IL-10 median yang jauh lebih tinggi (1,58 pg/mL) dibandingkan kasus tidak terkonfirmasi (1,10 pg/mL; p=0,0001). Nilai diagnostik yang kuat didukung analisis kurva ROC dengan Area Under the Curve (AUC) sebesar 0,787 (P < 0,001), mencapai sensitivitas 80,0% dan spesifisitas 67,3%. Perbedaan signifikan pada kadar IL-10 menunjukan potensinya sebagai biomarker klinis non-sputum untuk meningkatkan diagnosis dan penatalaksanaan Tuberkulosis aktif
Implementasi Alur Klinis Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Jantung Tasikmalaya Widiyanti, Alvira; Lestari, Rini; Zulmansyah
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8854

Abstract

Abstract. The social security program is government effort to facilitate public health in Indonesia. The quality of health services accordance with the Minister of Health Regulation 2022 Number 30, one of them is compliance by clinical pathway (CP). Acute Coronary Syndrome (ACS) is the second highest cause of death in Indonesia after stroke at 12.9%. Several previous studies have shown that the implementation of ACS CP has the benefit of reducing the length of time and cost of patient care. Tasikmalaya Heart Hospital as a hospital with cardiac health services specialities in East Priangan area. This study aims to assess the implementation and effect of the implementation ACS CP on the length of time and cost of care. This study used Kolmogorov-Smirnov normality test, homogenity testing for multivariate test using Box's M-Test, and continued with MANOVA test. It found that the implementation of CP in ACS patients had been implemented 78.33%, with a length of treatment time of 71.7% in the low category, 45% treatment costs in the moderate category with a median of Rp 7.599.300,00  and the results of the MANOVA test found that the implementation of CP was significant to the length of time and cost of treatment. Abstrak. Program jaminan sosial adalah upaya pemerintah dalam memfasilitasi kesehatan masyarakat di Indonesia. Mutu Pelayanan Kesehatan di evaluasi menggunakan Indikator Mutu Nasional Rumah Sakit sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022, salah satunya adalah kepatuhan terhadap alur klinis. Sindroma Koroner Akut (SKA) merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke sebesar 12.9%. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukan bahwa penerapan Alur Klinis SKA memiki manfaat untuk menurunkan lama waktu dan biaya perawatan pasien. RS Jantung Tasikmalaya sebagai rumah sakit yang memiliki kekhususan pelayanan kesehatan jantung di daerah Priangan Timur diharapkan dapat menyediakan layanan kesehatan yang mumpuni. Penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi dan pengaruh implementasi alur klinis  SKA terhadap lama waktu dan biaya perawatan di RS Jantung Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, pengujian homogenitas untuk uji multivariate menggunakan Box’s M Test, dan dilanjutkan uji MANOVA. Pada penelitian ini didapatkan bahwa implementasi alur klinis pada pasien SKA di RS Jantung Tasikmalaya telah terlaksana 78,33%, dengan lama waktu perawatan 71,7% masuk ke dalam kategori rendah, biaya perawatan 45% masuk ke dalam kategori cukup dengan median Rp 7.599.300, serta hasil uji MANOVA didapatkan bahwa implementasi alur klinis bermakna secara signifikan terhadap lama waktu dan biaya perawatan.

Page 12 of 12 | Total Record : 120