cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 42 No 2 (2024): Juni" : 13 Documents clear
Erector Spinae Plane Block Menunjang Stabilitas Hemodinamik dan Analgesia pada Video-Assisted Thoracoscopy Surgery: Sebuah Laporan Kasus Rahmawati, Prameita; Tirta, Ian; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.318

Abstract

Latar Belakang: Tindakan pembedahan video-assisted thoracoscopic surgery (VATS) memiliki nyeri yang tidak cukup dikendalikan menggunakan agen analgesik intravena dan hemosinamik tidak stabil intraoperatif. Dalam laporan kasus ini kami menambahkan teknik regional erector spinae plane block (ESPB) dengan menggunakan anestesi lokal dosis rendah dan terbukti memperbaiki kualitas nyeri dan hemodinamik intraoperatif.Ilustrasi Kasus: Laki-laki berusia 51 tahun dengan diagnosis tumor paru sinistra malignansi dan tuberkulosis paru diterapi fase lanjutan. Rontgen toraks pneumonia dan fibrosis zona atas kiri. Pasien status fisik ASA III dengan VATS menggunakan anestesia umum (GA-OTT DLT kiri) dan ESPB. ESPB setinggi T5 dengan anestesia lokal bupivakain 0,15% volume 15 mL. Hemodinamik durante stabil dengan fluktuasi minimal. Kondisi pasien pascaoperasi stabil dengan NRS 1.Simpulan: Analgesik multimodal ESPB menurunkan kebutuhan opioid intraoperatif dibandingkan anestesia umum tunggal. Keunggulan ESPB adalah memberikan kestabilan hemodinamik intraoperatif pada VATS.
Kompleksitas Tindakan De-resusitasi pada Pasien Maternal: Fokus pada Kegagalan Resusitasi Wundiawan, Kristian Felix; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.327

Abstract

Latar Belakang: De-resusitasi mengacu pada penghilangan cairan secara agresif melalui diuretik dan terapi penggantian ginjal dengan target balans negatif yang merupakan prediktor independen untuk bertahan hidup pada pasien ICU.Ilustrasi Kasus: Pasien perempuan berusia 29 tahun dengan diagnosis awal Gravida 27 minggu dengan edema pulmonum, dan gagal napas tipe 1. Klinis pasien ditemukan dengan distres napas berat dengan efusi pleura masif serta edema paru kardiogenik. Untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dilakukan intubasi dilanjutkan dengan ventilasi mekanik. Pasien kemudian dilakukan De-resusitasi dengan target keseimbangan cairan negatif melalui pemberian diuretika (furosemide). De-resusitasi dilakukan tanpa mempertimbangkan untuk melakukan resusitasi, optimalisasi, dan stabilisasi. Hal ini yang mungkin menjadi salah satu poin penanganan yang terlewati di mana pasien mungkin terjadi hipoperfusi pada saat awal masuk. Pemeriksaan inisial objektif serial dan kontinyu untuk menilai perfusi dan mikrosirkulasi serta pemantauan hemodinamik dinamis tidak dilakukan karena keterbatasan sumber daya dan alat. Hal ini juga menjadi keterbatasan dan tantangan dalam penanganan pasien kritis di mana terjadi kesulitan menentukan tindakan dan acuan untukintervensi pada pasien. De-resusitasi dilakukan dan sudah tercapai balans negatif pada hari kedua perawatan. Perkembangan oksigenasi pasien dipantau setiap harinya melalui pemeriksaan analisa gas darah serial dan cenderung terus memburuk. Pasien dicurigai mengalami sindrom peningkatan permeabilitas global yang menyebabkan pasien jatuh dalam sindrom kegagalan organ multipel sampai akhirnya meninggal.Simpulan: De-resusitasi bukan suatu hal yang sederhana. Pemantauan dan parameter objektif yang baik bisa menjadi tuntunan dalam menentukan intervensi yang tepat dan berdampak pada luaran pasien yang lebih baik
Perbandingan Ekokardiografi Transtorakal dan Ultrasonic Cardiac Output Monitor dalam Menilai Respon Terapi Cairan pada Pasien Sepsis Gultom, Andrio Farel Edward; Lubis, Bastian; Wijaya, Dadik Wahyu
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.328

Abstract

Latar belakang: Pada sepsis terjadi deplesi volume intravaskular, sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang akurat dan non-invasif untuk pemantauan hemodinamik. Ekokardiografi transtorakal (ETT) telah menjadi standar baku. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) adalah alat pemantauan hemodinamik non-invasif, yang menggunakan gelombang ultrasonik Doppler. USCOM dapat mengukur cardiac output (CO), stroke volume (SV), stroke volume respiratory variation (SVV), dan beberapa parameter hemodinamik lainnya. Metode: Penelitian ini merupakan pretest-posttest study dengan total sampel sejumlah 40 pasien yang dilakukan pemeriksaan dengan ETT dan USCOM dalam menilai respon terapi cairan pada pasien sepsis. Hasil: SVV dengan menggunakan TTE sebelum terapi cairan (T0) dengan rerata sebesar 9,45 ± 2,51, dimana pasien yang respon terhadap cairan sebesar 27 pasien (67,5%). SVV dengan menggunakan USCOM sebelum terapi cairan (T0) dengan rerata sebesar 9,14 ± 2,9, dimana pasien yang respon terhadap cairan sebesar 24 pasien (60%). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ETT dengan USCOM untuk menilai respon terapi cairan pasien sepsis yang dirawat di ICU Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
Delta Rasio PaO2/FiO2 dengan Luaran Pasien Sindroma Cedera Paru Akut (SCPA) di Intensive Care Unit Herwin; Salam, Syamsul Hilal; Muchtar, Faisal
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.329

Abstract

Latar Belakang: Sindroma cedera paru akut (SCPA) adalah bentuk dari edema paru non kardiogenik,akibat cedera alveolar sekunder hasil dari proses inflamasi, yang dapat menyebabkan hipoksemia refraktori, meningkatkan kekakuan paru dan merusak kemampuan paru untuk menghilangkan karbondioksida. rasio PaO2/FiO2 dapat menjadi alat untuk mengidentifikasi kondisi pasien pada SCPA dan melihat tingkat keparahan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat delta rasio PaO2/ FiO2 terhadap luaran pada pasien SCPA di perawatan intensif. Metode: Populasi pada penelitian ini adalah pasien dengan SCPA di unit perawatan intensif RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Sampel penelitian merupakan pasien yang dirawat di unit perawatan intensif RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Diambil data mengenai karakteristik pasien, data mengenai rasio PaO2/FiO2 pasien saat masuk, rasio PaO2/FiO2 pasien saat 24 jam dirawat, dan menghitung nilai delta rasio PaO2/FiO2. Dilakukan analisis secara statistik menggunakan program SPSS 26.. Hasil: Hemoglobin, hematokrit, sequential organ failure assessment (SOFA) dan albumin didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok (p < 0,05). SCPA berat memiliki angka mortalitas paling tinggi dan dengan nilai statistik signifikan (p < 0,001). SCPA berat terhadap lama rawat (28 hari) memiliki angka lama rawat inap paling tinggi dan dengan nilai statistik signifikan (p < 0,001). Pada analisis rasio PaO2/FiO2 dan delta rasio PaO2/FiO2 terhadap luaran, kelompok rasio PaO2/FiO2 hari 2 dan delta rasio PaO2/FiO2 secara statistik signifikan terhadap mortalitas dengan nilai (p < 0,005). Kelompok rasio PaO2/FiO2 hari 1 dan 2 didapatkan hasil yang signifikan terhadap lama rawat (p < 0,005). Simpulan: Delta rasio PaO2/FiO2 dapat dijadikan sebagai prediktor angka mortalitas dan lama rawat terhadap pasien SCPA di perawatan intensif.
Perbandingan Efektivitas Efedrin dengan Ondansetron dalam Mencegah Kejadian Hipotensi dan Bradikardi pada Anestesi Spinal Simanjuntak, Ikrar Rananta; Hanafie, Achsanuddin; Tanjung, Qadri Fauzi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.330

Abstract

Latar Belakang: Anestesi spinal menyebabkan hipotensi. Berbagai metode telah dilakukan untuk mencegah konsekuensi kardiovaskular dari blok subarachnoid. Efedrin adalah suatu zat stereoisomer dari pseudoefedrin yang bekerja pada stimulasi pada reseptor alfa dan beta-adrenoreseptor, yang umumnya digunakan sebagai vasopressor pada kondisi hipotensi selama anestesi. Ondansetron bekerja pada sentral dan perifer, efek sentralnya dimediasi oleh efek antagonis reseptor serotonin 5-HT3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas efedrin dengan ondansetron dalam mencegah hipotensi dan bradikardi pada anestesi spinal.Metode: Penelitian ini dilakukan pada 57 pasien yang menjalani prosedur pembedahan abdomen bawah, ginekologi, ekstremitas bawah yang terjadwal elektif dengan anestesi spinal. Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi variabel yang diteliti dan korelasi antar variabel.Hasil: Sebanyak 29 pasien dikelompokan dalam grup efedrin dan sebanyak 28 pasien dikelompokkan dalam grup ondansetron. Dari hasil analisis data, tidak didapatkan hasil yang bermakna dalam perbedaan antara kedua grup efedrin dan ondansetron pada variabel sistol, diastol, maupun mean arterial pressure (MAP) (p > 0,05).Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ondansetron dan efedrin dalam mencegah bradikardia dan hipotensi pada pasien dengan anestesi spinal. Tidak terdapat hipotensi dan bradikardi dengan pemberian efedrin dan ondansetron sebelum pemberian obat spinal pada pasien anestesi spinal.
Perbandingan Nilai Inferior Vena Cava Distensibility Index Sebelum dan Sesudah Pembedahan Kraniotomi Pengangkatan Tumor Otak Siregar, Ahmad Solihin; Rr Sinta Irina; Lubis, Andriamuri P.
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.334

Abstract

Latar Belakang: Autoregulasi otak adalah kemampuan otak mengendalikan volume aliran darahnya sendiri di bawah tekanan arteri yang selalu berubah-ubah, yang dilakukan dengan cara mengubah ukuran pembuluh darah di otak. Tindakan kraniotomi menyebabkan terjadinya perdarahan yang dapat dilihat dari penurunan aliran balik vena. Terdapat hubungan antara volume aliran balik vena dengan ukuran diameter vena cava inferior yang dapat diukur dengan USG melalui vena cava inferior (IVC). Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai Inferior Vena Cava Ditensibility Index (IVCDI) sebelum dan sesudah pembedahan kraniotomi pengangkatan tumor otak. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan metode consecutive sampling. Analisi data dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi variabel yang diteliti dan korelasi antar variabel. Hasil: Pada penelitian ini, didapati rerata usia pasien yang menjadi subjek penelitian adalah 51,33 ± 12,70 tahun. Pada penelitian ini, seluruh pasien adalah perempuan. Pada parameter distensibility index, terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pemeriksaan sebelum dan sesudah operasi (p=0,004) dan hasil pengukuran distensibility index sebelum dan sesudah operasi memberikan hasil yang normal dengan nilai > 18%. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara distensibility index sebelum dan setelah operasikraniotomi. Pemantauan IVCDI sebelum dan setelah operasi kraniotomi dapat dijadikan acuan pemantauan kecukupan volume cairan pada pasien yang menjalani kraniotomi untuk pengangkatan tumor otak
Perbandingan Efektifitas Teknik Jugular Interna dan Supraklavikula pada Pemasangan Kateter Vena Sentral dengan Panduan USG di RSUP H. Adam Malik Medan Fauzi, Muhammad; Lubis, Bastian; Irina, Rr Sinta
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.338

Abstract

Latar Belakang: Kateter vena sentral (KVS) bermanfaat untuk pemantauan invasif resusitasi hemodinamik. Penggunaan ultrasonografi (USG) dapat mengurangi komplikasi saat pemasangan KVS. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pemasangan KVS antara teknik jugular interna dengan supraklavikula menggunakan ultrasonografi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode ekperimen kuasi (eksperimen semu). Penelitian dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dengan besar sampel sebanyak 56 orang. Dilakukan pencatatan karakteristik, kedalaman tip KVS, rasio sukses, jumlah percobaan, durasi insersi, dan komplikasi, dengan uji analisis Independent T-Test.Hasil: Terdapat 28 orang melalui prosedur supraklavikula dan 28 orang melalui prosedur jugularis interna. Frekuensi sampel dengan ujung tip yang tepat sebanyak 23 sampel (82,14%) dan 5 sampel (17,86%) tidak tepat. Dari uji Chi-Square diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelompok dengan tingkat ketepatan kedalaman tip KVS di atas atrium kanan (p = 1,000). Rerata waktu pemasangan KVS dengan pendekatan jugularis interna adalah 19,64 (2,18) menit dan pendekatan supraklavikula adalah 21,11 (2,28) menit, dan kecepatan secara keseluruhan adalah 20,28 (2,33) cm. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pendekatan jugularis interna dengan supraklavikula (p < 0,05).Simpulan: Pemasangan KVS dengan pendekatan teknik jugular interna lebih efektif dibandingkan supraklavikula dinilai dari waktu pemasangan, tingkat ketepatan sebesar 82,14 % dan tidak memiliki komplikasi. Pemasangan KVS pada teknik jugular interna memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan teknik supraklavikula. Pemasangan KVS pada teknik jugular interna lebih cepat dibandingkan teknik supraklavikula yang bermakna secara statistik. Komplikasi tidak dijumpai pada pemasangan KVS pada jugular interna dan supraklavikula.
Perbandingan Efektifitas Bisoprolol 2,5 mg dan Bisoprolol 5 mg dalam Mengontrol Denyut Jantung pada Pasien Sepsis di Ruang Rawat Intensif Pohan, Alfindy Maulana; Lubis, Bastian; Lubis, Andriamuri Primaputra
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.339

Abstract

Latar Belakang: Sepsis merupakan keadaan disfungsi organ yang mengancam jiwa di mana terjadi disregulasi respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis dikaitkan dengan pelepasan katekolamin endogen masif yang memberikan hasil klinis buruk. Takikardia merupakan prognostik yang buruk pada pasien sepsis. Pasien sepsis dengan takikardi yang mendapat terapi beta-blocker dihubungkan dengan penurunan angka kematian. Bisoprolol merupakan antagonis selektif-ß1 yang mempunyai efek kronotropik negatif. Penggunaan beta-blocker dapat berkontribusi pada perlindungan sistemik dari lonjakan katekolamin yang terjadi selama sepsis. Bisoprolol menurunkan denyut jantung sehingga dapat mengurangi kontraktilitas miokard, lalu mengurangi kebutuhan oksigen miokard yang meningkat pada pasien sepsis.Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial (RCT) dengan double blind. Pengumpulan data dengan metode prospektif dilaksanakan di RSUP. H. Adam Malik Medan periode Desember 2022 – Februari 2023. Pemilihan sampel dengan consecutive sampling yang memenuhi kriteria inkusi dan eksklusi. Semua sampel akan diambil data denyut jantung, tekanan darah, tekanan arteri rata-rata (MAP), dan laktat yang nantinya akan dilakukan perhitungan secara statistik. lanjut dengan secara statistik.Hasil: Dengan uji T Independent pada denyut jantung, tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, dan MAP pada 2 jam dan 12 jam setelah perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan, didapatkan nilai p < 0,05. Hasil serupa didapatkan pada pemeriksaan laktat pada 24 jam setelah perlakuan, terdapat perbedaan yang signifikan, nilai p < 0,05.Simpulan: Berdasarkan hasil studi kami, terdapat perbedaan yang bermakna antara pemberian bisoprolol 2,5 mg dan bisoprolol 5 mg. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian bisoprolol 5 mg lebih efektif dibandingkan dengan bisoprolol 2,5 mg dalam menurunkan denyut jantung pada pasien sepsis
Pengendalian Urine Output pada Diabetes Insipidus Sentral dengan Hipernatremia Berat Pasca Traumatic Brain Injury Pratana, Yolanda Jenny; Suarjaya, I Putu Pramana; Senapathi, Tjokorda GA; Sinardja, Cynthia Dewi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.347

Abstract

Pendahuluan: Diabetes insipidus sentral (DIS) merupakan komplikasi cedera sekunder pada traumatic brain injury (TBI). Cedera neurohipofisis menyebabkan insufisiensi hipofisis posterior untuk mensekresi arginine vasopressin (AVP) dalam kondisi hiperosmolalitas. Prevalensi hipernatremia pada pasien dengan TBI lebih dari 35% dengan kemungkinan penyebab dehidrasi dan hipovolemia dengan tingkat mortalitas mencapai 86,8%.Ilustrasi Kasus: Kami melaporkan sebuah kasus dari pria berusia 20 tahun dengan DIS dan hipernatremia berat pasca TBI. Pasien menjalani operasi pemasanganan ventriculoperitoneal shunt dengan perawatan pasca operasi di ruang rawat intensif. Ditemukan poliuria dengan urine output 3,2 ml/kg/jam dengan kadar natrium 190 mmol/L. Koreksi hipernatremia dengan KA-EN 3B intravena dan intake cairan per oral diberikan sebagai pengganti free water deficit. Desmopressin oral diberikan sebagai kompensasi defisiensi AVP untuk mengurangi kehilangan cairan yang berlangsung. Respon baik tercapai pada hari kedua perawatan, ditunjukkan dengan penurunan urine output hingga 1,4 ml/kg/jam dan penurunan kadar natrium dengan target 10-12 meq/L/hari. Efek samping pemberian desmopressin tidak ditemukan pada pasien ini.Simpulan: Kasus ini menunjukkan bahwa pemantauan ketat dan terapi yang sesuai menghasilkan luaran yang baik pada pasien DIS dengan hipernatremia berat pasca TBI.
Perbandingan antara Anestesi Tanpa Opioid (ATO) dengan Anestesi Berbasis Opioid (ABO) Terhadap Kejadian Mual dan Muntah Pascabedah Mastektomi Radikal Modifikasi dan Lama Rawat di Unit Perawatan Pascaanestesi Winanda, Haris; Gaus, Syafruddin; Husain, Alamsyah Ambo Ala; Arif, Syafri Kamsul; Salahuddin, Andi; Adil, Andi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 42 No 2 (2024): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v42i2.355

Abstract

Latar Belakang: Anestesi umum seimbang telah bergantung hampir secara eksklusif pada opioid untuk mengelola nosiseptif intraoperatif dan nyeri pascabedah. Anestesi tanpa opioid (ATO) sekarang mulai diminati sebagai strategi potensial dalam mengurangi penggunaan opioid perioperatif. Penggunaan ATO diketahui dapat menurunan konsumsi total opioid perioperatif dan penurunan lama rawat di Unit Perawatan Pascaanestesi (UPPA). Di Indonesia, belum ada penelitian mengenai pengaruh ATO pada pembedahan mastektomi radikal modifikasi (MRM) terhadap kejadian mual muntah pascabedah (MMPB) dan lama perawatan di UPPA. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ATO dengan anestesi berbasis opioid (ABO) pada pembedahan mastektomi radikal modifikasi (MRM) dan efeknya terhadap kejadian mual dan muntah pascabedah (MMPB) dan lama perawatan di UPPA.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian uji acak tersamar tunggal. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani prosedur pembedahan MRM elektif di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit jejaring pendidikan. Sampel penelitian dibagi menjadi kelompok ABO dan kelompok ATO. Setelah operasi selesai pasien dipindahkan ke UPPA dan dicatat lama rawat dan kejadian mual dan muntah hingga 2 jam pascabedah.Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna lama perawatan di UPPA pada kedua kelompok (p=0,184).Terdapat perbedaan bermakna pada kejadian mual dan muntah pada kedua kelompok (p=0,044 dan p=0,02).Simpulan: Kejadian MMPB pada kelompok ATO lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ABO.

Page 1 of 2 | Total Record : 13