cover
Contact Name
Yahyah
Contact Email
yahyahrachim@gmail.com
Phone
+628113828906
Journal Mail Official
baharipapadak00@gmail.com
Editorial Address
Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JURNAL BAHARI PAPADAK
ISSN : -     EISSN : 27236536     DOI : -
Jurnal Bahari Papadak adalah sebuah jurnal nasional dalam bidang ilmu-ilmu kelautan dan perikanan yang di kelolah oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana. Tujuan utamanya adalah menyajikan artikel-artikel hasil riset atau penelitian yang berkualitas yang meliputi semua sub-bidang kajian dalam lingkup ilmu kelautan dan perikanan. Jurnal ini menyediakan ruang publikasi bagi akademisi, peneliti, mahasiswa dan kalangan professional lainnya. Artikel ilmiah yang diajukan untuk diterbitkan dalam jurnal ini harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu, merupakan paper asli (bebas plagiarisme), tidak dipublikasikan atau tidak sedang diajukan ke jurnal lain. Lingkup topik Jurnal Bahari Papadak meliputi manajemen sumberdaya perairan, perikanan tangkap, pengolahan hasil perikanan, sosial ekonomi perikanan, ilmu kelautan, bioteknologi perikanan, biologi dan ekologi biota perairan, serta penilaian dan pengelolaan ekosistem perairan.
Articles 193 Documents
ANALISIS KERAMAHAN JARING INSANG DASAR DI KAWASAN KONSERVASI DESA OENGGAE, KABUPATEN ROTE NDAO Wero, Giacinta Yuliana W. D.; Yahyah, Yahyah; Boikh, Lebrina Ivantry
Jurnal Bahari Papadak Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak – Jaring insang dasar merupakan alat tangkap yang teknik pengoperasian secara aktif, semi aktif, maupun pasif dan dioperasikan di dasar perairan. Penggunaan alat tangkap jaring insang dasar pada kawasan konservasi Desa Oenggae, Kabupaten Rote Ndao perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak menimbulkan dampak negatif dan merusak habitat. Penilaian tingkat keramahan alat tangkap jaring insang dasar menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Keramahan jaring insang dasar dinilai melalui skoring pada 9 kriteria CCRF dengan total responde 17 orang. Tingkat keramahan jaring insang dasar yang digunakan oleh nelayan di Desa Oenggae tergolong alat tangkap yang ramah lingkungan dengan skor 27,23. Alat tangkap yang masuk dalam kategori alat tangkap ramah lingkungan merupakan alat tangkap yang memperhatikan selektivitas, kualitas hasil tangkapan, dan tingkat bahaya yang ditimbulkan bagi nelayan dalam pengoperasiannya. Kata Kunci : Jaring Insang Dasar, Tingkat Keramahan, Kawasan Konservasi. Abstrac - Bottom gillnets are fishing tools that operate actively, semi-actively, or passively and are operated on the bottom of the water. The use of bottom gillnet fishing gear in the conservation area of ​​Oenggae Village, Rote Ndao Regency, needs special attention so that it does not cause negative impacts and damage the habitat. Assessment of the level of friendliness of basic gillnet fishing gear using descriptive qualitative and quantitative analysis. The friendliness of the bottom gillnet was assessed through scoring on 9 CCRF criteria with a total of 17 respondents. The level of friendliness of the bottom gillnet used by fishermen in Oenggae Village is classified as environmentally friendly fishing gear with a score of 27.23. Fishing gear that is included in the environmentally friendly fishing gear category is fishing gear that pays attention to selectivity, the quality of the catch, and the level of danger posed to fishermen in its operation. Keywords : Bottom Gillnet, Level of Friendlessness, Conservation Area
JENIS-JENIS MIKROPLASTIK PADA SEDIMEN SUNGAI DI KOTA KUPANG Faustina, Maria Avila; Toruan, Lumban N. L.; Tallo, Ismawan; Saraswati, Suprabadevi A.
Jurnal Bahari Papadak Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Sungai merupakan salah satu ekosistem perairan tawar yang memiliki peran penting terhadap kebutuhan air, diantaranya perikanan, perairan dan kebutuhan lainnya. Adanya aktivitas dari permukiman penduduk, pertokoan, perkantoran, dan lain sebagainya akan meningkatkan produksi sampah, salah satunya adalah sampah plastik. Sampah plastik dari aktivitas sekitar akan masuk ke sungai dan membuat sungai tercemar. Sampah plastik yang tadinya masuk ke sungai akan terdegradasi menjadi mikroplastik melalui proses kimia, fisika,dan biologi. Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran <5 mm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mikroplastik pada sedimen Sungai Kali Dendeng dan Kali Liliba. Metode penelitian mikroplastik terdiri dari sampling dan analisis laboratorium. Lokasi sampling dilakukan pada 10 titik dengan jarak antar titik 1 km. Sampel sedimen diambil sebanyak 150 gr menggunakan pipa besi, kemudian dibungkus menggunakan aluminum foil dan diberi label. Analisis laboratorium melalui tiga tahap, yakni pengambilan sampel sedimen, preparasi sampel sedimen, dan identifikasi mikroplastik. Mikroplastik yang ditemukan pada sedimen DAS Kali Dendeng dan Liliba ada empat jenis, yaitu jenis fiber, fragmen, granula, dan film. Kata kunci : Sedimen, Sungai Kali Dendeng, Sungai Kali Liliba, Mikroplastik, Jenis Abstract - The river is one of the freshwater ecosystems that has an important role in water needs,including fisheries, waters and other needs. The existence of activities from settlements, shops, offices, and so on will increase waste production, one of which is plastic waste. Plastic waste from surrounding activities will enter the river and make the river polluted. Plastic waste that previously entered the river will be degraded into microplastics through chemical, physical and biological processes. Microplastics are plastic particles that are <5 mm in size. The purpose of this study was to determine the types of microplastics in the sediments of Kali Dendeng and Kali Liliba. The microplastic research method consisted of sampling and laboratory analysis. The sampling location was conducted at 10 points with a distance of distance between points 1 km. Sediment samples were taken as much as 150 gr using an iron pipe, then wrapped using aluminum foil and labeled. Laboratory analysis went through three stages, namely sediment sampling, sediment sample preparation, and microplastic identification. There are four types of microplastics found in the sediments of the Dendeng and Liliba River watersheds, namely fiber, fragment, granule, and film types. Keywords : Sediment, Kali Dendeng River, Kali Liliba River, Microplastic, Types
PENGARUH EKSTRAK LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata) TERHADAP DAYA HAMBAT BAKTERI Pseudomonas fluorescens SECARA IN VITRO Hidayati, Desy Amalia; Palinggi, Rifka Liling; Tampa, Ahazia Imanuel; Boikh, Lebrina Ivantry
Jurnal Bahari Papadak Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Serangan penyakit merupakan pemicu kegagalan budidaya. Penyakit yang menyerang organisme budidaya air tawar yaitu penyakit bacterial salah satu agen bakteri yang menginfeksi adalah bakteri P. fluorescens. Penggunaan antibiotik seringkali digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sehingga perlu adanya alternatif dengan penggunaan bahan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak lengkuas merah (A. purpurata) terhadap daya hambat bakteri P. fluorescens secara In Vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan, 2 kontrol dan 4 kali ulangan. Perlakuan A (100 ppm), perlakuan B (105 ppm), perlakuan C (110 ppm), perlakuan D (115 ppm), perlakuan E (120 ppm), kontrol positif menggunakan tetracyline 30 ppm, dan kontrol negatif tanpa pemberian ekstrak. Hasil penelitian didapat zona hambat tertinggi pada perlakuan E (120 ppm) dengan rerata zona hambat sebesar 10,53 mm dan terendah pada perlakuan A (100 ppm) dengan rerata zona hambat sebesar 8,15 mm. Zona hambat antar perlakuan menunjukkan grafik linier dengan persamaan y = -3,25 + 0,11x dan koefisien determinasi (R2) yaitu sebesar 0,8552. Kata kunci: Lengkuas Merah (A. purpurata), P. fluorescens, Antibakteri Abstract - Disease attack is a trigger for cultivation failure. Disease tat attack freshwater aquaculture organisms, namely bacterial disease, one of the bacterial agents that infect are P. fluorescens bacteria. The use of antibiotics is still often used to treat diseases caused by bacteria, so there is a need for alternatives to the use of natural ingredients. This study aims to determine effect of red galangal extract (A. pupurata) on inhibitory of P. fluorescens bacteria in vitro. This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments, 2 controls and 4 replications. Treatment A (100 ppm), treatment B (105 ppm), treatment C (110 ppm), treatment D (115 ppm), treatment E (120 ppm), positive control with 30 ppm tetracyline, and negative control without extract. The results showed that the highest inhibition zone was in treatment E (120 ppm) with an average inhibition zone of 10,53 mm and the lowest was in treatment A (100 ppm) with an average inhibition zone of 8,15 mm. The inhibition zone between treatments shows a linear graph with the equation y = -3,25 + 0,11x and the coefficient of determination (R2) is 0,8552. Key words: Red galangal (A. purpurata), P. fluorescens, Antibacterial
KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK KAMABOKO IKAN LELE (Clarias gariepenus) DENGAN PENAMBAHAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI (ISP) Djonu, Asriati; ., Suleman
Jurnal Bahari Papadak Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Isolat protein kedelai (ISP) memiliki kandungan protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan makanan pada berbagai produk olahan. Selain kandungan protein, isolate protein kedelai mampu memperbaiki karakteristik organoleptik produk olahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik organoleptik kamaboko ikan lele (Clarias gariepenus) dengan penggunaan isolat protein kedelai (ISP) sebagai bahan tambahan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rancangan lengkap dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Hasil penelitian diperoleh karakteristik organoleptik kamaboko ikan lele terbaik terdapat pada perlakuan penambahan isolat protein kedelai sebanyak 7.5%. Karakteristik organoleptik meliputi tekstur dengan nilai 5.01, aroma dengan nilai 5.08, warna dengan nilai 5.01. Nilai karakteristik organoleptik yang dihasilkan berada pada katagori suka. Kata Kunci : Clarias gariepenus, Isolat Protein Kedelai, Kamaboko, Organoleptik. Abstract - Isolate soy protein (ISP) has a high protein content which can be used as a food additive in various processed products. In addition to protein content, isolate soy protein can improve the organoleptic characteristics of processed products The aim of this study was to determine the organoleptic characteristics of catfish kamaboko (Clarias gariepenus) using isolate soy protein (ISP) as a food additive. The research method used was a complete design method with five treatments and three replications. The results showed that the best organoleptic characteristics of catfish kamaboko were found in the addition of 7.5% isolate soy protein. Organoleptic characteristics include texture with a value of 5.01, aroma with a value of 5.08, color with a value of 5.01. The resulting organoleptic characteristic values are in the like category. Keywords : Clarias gariepenus, Isolate Soy Protein, Kamaboko, Organoleptic.
JENIS DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR YANG DIOPERASIKAN NELAYAN DI DESA SAKUBATUN, KECAMATAN ROTE BARAT DAYA, KABUPATEN ROTE NDAO Dethan, Valentino A. M.; Yahyah, Yahyah; Ayubi, Aludin Al
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Pancing ulur merupakan salah satu alat tangkap tradisional yang digunakan masyarakat nelayan untuk beroperasi dalam menangkap ikan. Desa Sakubatun adalah salah satu daerah di Kecamatan Rote Barat Daya yang memiliki potensi sumberdaya kelautan yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan. Kegiatan penangkapan ikan hasil tangkapan di Desa Sakubatun umumnya menggunakan berbagai alat tangkap tradisional salah satunya adalah pancing ulur (Handline). Data dan informasi mengenai jenis hasil tangkapan, jumlah hasil tangkapan serta komposisi hasil tangkapan ikan di perairan sangat penting bagi pengelolaan, regulasi perikanan serta memberikan landasan strategis bagi pemanfaatan sumber daya perikanan secara optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hasil tangkapan dan jumlah hasil tangkapan alat tangkap pancing ulur (Handline). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada 34 sampel yang diambil secara acak periode bulan Juli-Agustus 2024. Data dianalisis menggunakan buku identifikasi, jumlah dan komposisi hasil tangkapan. Jenis-jenis ikan yang tertangkap sebanyak 21 spesies yang tergolong dalam 10 famili, yaitu Skombridae, Carangidae, Lutjanidae, Lethrinidae, Serranidae, Balistidae, Coryphaenidae, Trichiuridae, Isthioporidae dan Sphyraenidae. Jumlah hasil tangkapan dalam kurun waktu satu bulan sebanyak 10 kali trip penangkapan dengan total individu yang tertangkap sebanyak 868 individu dengan berat total secara keseluruhan adalah 1.110,9 kg. Dengan komposisi hasil tangkapan paling banyak yang tertangkap ialah ikan cakalang dengan persentase sebesar 43,80% dan hasil tangkapan paling sedikit ialah ikan kerapu belang putih dengan komposisi sebesar 0,02 %. Kata kunci : Desa Sakubatun, Pancing Ulur, Hasil Tangkapan, Nelayan. Abstract - Handline fishing is one of the traditional fishing gear fishermen use to catch fish. Sakubatun Village is one of the areas in Rote Barat Daya District with potential marine resources that can be utilized as a fishing location. Fishing activities in Sakubatun Village generally use various traditional fishing gear, one of which is handline fishing. Data and information regarding the types of catches, the number of catches, and the composition of fish catches in the waters are very important for fisheries management, and regulation and provide a strategic basis for optimal and sustainable utilization of fishery resources. This study aims to determine the types of catches and the number of catches of handline fishing gear. Data were collected through observation, interviews, and documentation on 34 samples taken randomly in the period July-August 2024. Data were analyzed using identification books, the number and composition of catches. The types of fish caught were 21 species belonging to 10 families, namely Skombridae, Carangidae, Lutjanidae, Lethrinidae, Serranidae, Balistidae, Coryphaenidae, Trichiuridae, Isthioporidae and Sphyraenidae. The number of catches within one month was 10 fishing trips with a total of 868 individuals caught with a total weight of 1,110.9 kg. The composition of the most caught catches was skipjack tuna with a percentage of 43.80% and the least catch was white striped grouper with a composition of 0.02%. Keywords: Sakubatun Village, Handline, Catch, Fisherman.
LAJU TANGKAP PUKAT CINCIN PADA KM. ADIKA JAYA 05 DI PERAIRAN KUPANG WPPNRI 573 Mau, Yesaya; Rajab, Rezki A.; N., Alan Faisal,
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Tujuan dari penelitian ini untuk mememahami terknik pengoperasian alat tangkap pukat cincin, laju tangkap ikan dalam kurun waktu satu tahun, komposisi hasil tangkapan ikan dalam setiap tripnya, dan menganalisis biaya operasional selama masa praktik. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan metode survei. Data primer diperoleh dari survei, wawancara, dan dokumentasi. Data sekunder diperoleh dari dokumen kapal dan data produksi KMN. Adika Jaya 05. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pengoperasian alat tangkap pukat cincin terdiri dari penurunan jaring setting dan hauling kegiatan tersebut harus dilakukan dengan cermat, teliti dan penuh kehati-hatian agar proses pengoperasian dapat berjalan dengan efisien, laju tangkap ikan dalam kurun waktu 1 tahun dengan nilai tertinggi terjadi pada bulan febuari yaitu sejumlah 688 kg/trip dan terendah pada bulan november 75 kg/trip sedangkan komposisi hasil tangkapan dalam 3 bulan masa praktek apabila dikomparasikan hasil tangkapan ikan paling tinggi adalah jenis ikan Layang (Decapterus sp) sebesar 61% diikuti ikan Selar (Selaroides sp) sebesar 13%, ikan Kembung (Rastrelliger kanagurata) sebesar 13%, dan yang paling sedikit adalah ikan tongkol (Euthynnus affinis), dan biaya operasional yang dihitung selama 3 (tiga) bulan masa penelitian yaitu dengan pendapatan dengan jumlah Rp. 93.150.000 pengeluaran Rp.56.794.773 dan memporoleh keuntungan sebesar Rp. 42.122.620. sedangkan rata-rata Benefit Cost Of Rasio dan (BCR) sebesar 1,58 artinya usaha layak untuk diteruskan diperoleh. Laju tangkap ikan pada kapal KM. Adika Jaya 05 mengulai fluktuasi dalam setiap periode waktu tertentu hal ini karena beberapa faktor yang mempengaruhi seperti angin dan musim. Kata Kunci : Pukat cincin, laju tangkap, komposisi dan biaya operasional Abstract - The purpose of this study is to understand the technique of operating purse seine fishing gear, the rate of fish catch within one year, the composition of fish catches in each trip, and analyze operational costs during the practice period. This research uses descriptive analysis with survey method. Primary data were obtained from surveys, interviews, and documentation. Secondary data were obtained from ship documents and KMN production data Adika Jaya 05. Based on the results of the study, it is concluded that the operation of purse seine fishing gear consists of lowering the net setting and hauling these activities must be carried out carefully, carefully and carefully so that the operation process can run efficiently, the rate of fish catch within a period of 1 year with the highest value occurs in the month of February which is a total of 688 kg / trip and the lowest in November 75 kg / trip while the composition of the catch in 3 months of practice when compared the highest fish catch is the type of Kite (decapterus sp) by 61% followed by Mackerel (selaroides sp) by 13%, Mackerel (rastrelliger kanagurata) by 13%, and the least is tuna (euthynnus affinis), and the operational costs calculated during the 3 (three) month practice period are with an income of Rp. 93,150,000 expenses Rp. 93,150,000 expenses Rp.56 794,773 and profit of Rp. 42,122,620. while the average Benefit Cost Of Ratio and (BCR) of 1.58 means that the business is feasible to continue to be obtained. The fishing rate on board KM. Adika Jaya 05 starts fluctuating in each specific time period this is due to several influencing factors such as wind and season. Keywords : Purse seine, catch rate, composition and operational costs
PENGELOLAAN PERIKANAN PELAGIS BESAR BERBASIS PENDEKATAN EKOSISTEM PADA DOMAIN SUMBERDAYA IKAN DI PPI OEBA, KOTA KUPANG Missa, Christin; Tallo, Ismawan; Paulus, Chaterina A.
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak- Pengelolaan perikanan di Pangkalan Pendaratan Ikan Oeba, Kota Kupang belum dilakukan secara terintegrasi. Kepentingan sosial ekonomi cenderung mendapatkan perhatian lebih dibandingkan kesehatan ekosistem sebagai wadah dari sumber daya ikan, sebagai target penangkapan. Kondisi pengelolaan yang demikian mempengaruhi tingkat kelimpahan sumber daya ikan. Hal ini terlihat dengan menurunnya jumlah hasil tangkapan nelayan pelagis besar di PPI Oeba pada daerah tangkapan yang sama dalam lima tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status terkini pengelolaan perikanan pelagis besar di PPI Oeba, Kota Kupang berdasarkan pendekatan ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dengan menganalisis indikator dalam domain sumberdaya ikan. Indikator yang dianalisis antara lain adalah indikator trend CPUE baku, trend ukuran ikan, proporsi ikan yuwana (juvenil) yang tertangkap, komposisi spesies hasil tangkapan, range collapse sumber daya ikan, dan spesies ETP (Endangered, Threatened, and Protected Species). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner. Sampel penelitian yang diambil sebanyak 37 responden dengan pertimbangan responden yakni sebagai nelayan yang menggunakan armada penangkapan pancing ulur tuna. Data dari setiap indikator domain sumberdaya ikan dianalisis dari hasil skoring yang didapatkan dari hasil wawancara dan survei untuk mengetahui nilai dan status dari setiap indikator dengan ketentuan semakin besar nilai indikator maka semakin baik status pengelolaan perikanan dan juga sebaliknya semakin kecil nilai indikator maka semakin buruk status pengelolaannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa status terkini pengelolaan perikanan pelagis besar berbasis pendekatan ekosistem pada domain sumberdaya ikan di PPI Oeba, Kota Kupang berada pada status baik dalam menerapkan EAFM, dengan nilai agregat komposit sebesar 225 dan visualisasi model bendera berwarna hijau muda. Kata kunci : Pengelolaan Perikanan, Pelagis Besar, Domain Sumberdaya Ikan, EAFM, PPI Oeba. Abstract- Fisheries management at the Fishery Port Oeba Site in Kupang City has not been integrated. Socio-economic interests tend to get more attention than the ecosystem's health as a container of fish resources, as the target of capture. Such management conditions affect the abundance of fish resources. This can be seen by the declining catch of large pelagic fishers at Fishery Port Oeba in the same area in the last five years. This study aims to determine the current status of large pelagic fisheries management in Fishery Port Oeba Kupang City based on the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) by analyzing indicators in the fish resource domain. The indicators analyzed include standardized CPUE trend indicator, fish size trend, proportion of juvenile fish caught, species composition of the catch, range collapse of fish resources, and ETP species (Endangered, Threatened, and Protected Species). The methods used in this study were observation and interviews using questionnaires. The research sample taken was 37 respondents with the consideration that the respondents were fishermen who used the tuna longline fishing fleet. Data from each indicator of the fish resource domain were analyzed from the scoring results obtained from interviews and surveys to determine the value and status of each indicator with the provision that the greater the value of the indicator, the better the status of fisheries management and vice versa, the smaller the value of the indicator, the worse the management status. The results of this study indicate that the current status of large pelagic fisheries management based on the ecosystem approach in the fish resource domain at Fishery Port Oeba, Kupang City is in good status in implementing EAFM. Keywords: Fisheries Management, Large Pelagics, Fish Resource Domain, EAFM, Fishery Port Oeba
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN WISATA PANTAI SULAMANDA DI DESA MATA AIR, KECAMATAN KUPANG TENGAH, KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Nenobesi, Kristo A.; Paulus, Chaterina A.; Saraswati, Suprabadevi A.
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Pantai Sulamanda merupakan salah satu pantai di Pulau Timor yang terletak di Desa Mata air, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bagaimana daya dukung Pantai Sulamanda terhadap tingkat kesesuaian wisata berdasarkan kondisi fisik Menganalisis tingkat kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan berdasarkan kondisi fisik kawasan Pantai Sulamanda sebagai objek wisata. Metode yang digunakan untuk menentukan tempat pengambilan sampel adalah purpossive sampling. Penggunaan metode ini dipertimbangkan karena purpossive sampling merupakan teknik pengambilan sampel atau sumber data dengan pertimbangan tertentu berdasarkan jumlah pengunjung/wisatawan yang menempati suatu lokasi untuk melakukan kegiatan wisata. Dari data ketiga stasiun yang telah diamati dan diukur berdasarkan sembilan parameter yang diinginkan. kawasan wisata pantai dapat merepresentasi pantai Sulamanda sehingga dapat diketahui apakah pantai Sulamanda layak atau tidak untuk dijadikan sebagai suatu kawasan wisata pantai. Hasil kesesuaian kawasan wisata pantai untuk kategori rekreasi pantai dan berenang dapat dilihat pada Tabel 6,7 dan lampiran 1 dan 2 Nilai kesesuaian wisata (NKW), stasiun I memiliki nilai persentase 85% stasiun II 88,75% dan stasiun III 66,25%. Sedangkan untuk daya dukung kawasan Pantai Sulamanda (DDK) untuk rekreasi pantai adalah 255 orang per harinya. Pantai Sulamanda dapat menampung 148 orang per harinya untuk wisata berenang. Dengan demikian total wisata yang dapat ditampung oleh aktifitas wisata pantai. Kata kunci: kesesuaian dan daya dukung pantai Sulamanda Abstract - Sulamanda Beach is one of the beaches on Timor Island located in Mata air Village, East Kupang Subdistrict, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. Analyzing the level of tourism suitability and carrying capacity of the area based on the physical condition of Sulamanda Beach area as a tourist attraction. The method used to determine the sampling place is purpossive sampling. The use of this method is considered because purposive sampling is a sampling technique or data source with certain considerations based on the number of visitors/tourists who occupy location to conduct tourism activities. From the data of the three stations that have been observed and measured based on the nine desired parameters, the beach tourism area can represent Sulamanda beach so that it can be known whether Sulamanda beach is suitable or not to be used as a beach tourism area. The results of the suitability of coastal tourism areas for the category of beach recreation and swimming can be seen in Table 6,7 and appendix 1 and 2. The value of tourism suitability (NKW) is, station I has a percentage value of 85% station II 88.75% and station III 66.25%. As for the carrying capacity of Sulamanda Beach area (DDK) for beach recreation is 255 people per day. Sulamanda Beach can accommodate 148 people per day for swimming tours. Thus the total tourism that can be accommodated by the activities of the beach. Keywords: suitability and carrying capacity of Sulamanda beach
DINAMIKA KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA LINGKUNGAN BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DI KAWASAN PT. TIMOR OTSUKI MUTIARA (TOM), BOLOK, KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Takua, Irmina; Toruan, Lumban N. L.; Sine, Kiik G.; Saraswati, Suprabadevi A.
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak – PT. Timor Otsuki Mutiara (TOM) merupakan perusahaan swasta yang bergerak di bidang budidaya tiram mutiara jenis Pinctada maxima. Kelimpahan fitoplankton sebagai produsen primer berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tiram mutiara di PT. TOM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika kelimpahan fitoplankton di kawasan budidaya PT. TOM, Bolok, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun di Bulan Juli 2023, Agustus 2023, Desember 2023, Januari 2024, Februari 2024, dan April 2024 menggunakan metode purposive sampling. Sampel fitoplankton diperoleh melalui penyaringan air laut menggunakan planktonet sebanyak 100 L dari permukaan perairan. Hasil penyaringan sampel kemudian dimasukkan kedalam botol bervolume 110 ml dan diawetkan dengan menambahkan larutan lugol. Sampel fitoplankton diidentifikasi menggunakan mikroskop untuk mendapatkan data kelimpahan fitoplankton. Pengukuran parameter lingkungan dilakukan secara in situ untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan fitoplankton. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan kelimpahan fitoplankton, sementara parameter lingkungan dianalisis secara deskriptif. Analisis data menunjukan kelimpahan fitoplankton tertinggi secara spasial terdapat pada stasiun yang memiliki aktivitas perikanan, seperti pembersihan tiram mutiara dan budidaya rumput laut (Stasiun 1), sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiu Kata kunci: Kelimpahan fitoplankton, Kawasan PT. TOM, Budidaya tiram mutiara. Abstract – PT. Timor Otsuki Mutiara (TOM) is a private company engaged in the cultivation of pearl oysters of the Pinctada maxima type. The abundance of phytoplankton as primary producers plays an important role in the growth and development of pearl oysters at PT. TOM. This study aims to determine the dynamics of phytoplankton abundance in the cultivation area of ​​PT. TOM, Bolok, Kupang Regency, East Nusa Tenggara Province. Sampling was carried out at three stations in July 2023, August 2023, December 2023, January 2024, February 2024, and April 2024 using the purposive sampling method. Phytoplankton samples were obtained by filtering seawater using planktonnet as much as 100 L from the surface of the water. The results of the sample filtration were then put into a 110 ml bottle and preserved by adding lugol's solution. Phytoplankton samples were identified using a microscope to obtain phytoplankton abundance data. Measurement of environmental parameters was carried out in situ to determine their effect on phytoplankton growth. The data obtained were analyzed to determine the abundance of phytoplankton, while environmental parameters were analyzed descriptively. Data analysis shows that the highest abundance of phytoplankton spatially is found at stations that have fisheries activities, such as pearl oyster cleaning and seaweed cultivation (Station 1), while the lowest abundance is found at stations adjacent to the PLTU (Station 2). Temporally, the highest abundance of phytoplankton occurs in the West Season (January), and the lowest abundance occurs in the East Season (August). Keywords: Phytoplankton abundance, PT. TOM area, Pearl oyster cultivation.
TRADISI LEFA NUANG DI DESA LAMALERA, KABUPATEN LEMBATA DALAM KAITANYA DENGAN KONSERVASI BIOTA LAUT Wahon, Richad; Yahyah, Yahyah; Boikh, Lebrina Ivantry
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses ritual adat yang dilakukan sebelum dan sesudah tradisi Lefa Nuang dijalankan, Mengenal Jenis alat tangkap dan alat bantu penangkapan yang digunakan pada tradisi Lefa Nuang dan Dampak dari tradisi Lefa Nuang terhadap keberlangsungan hidup biota laut yang dilindunggi. Metode yang digunakan berupa metode Survey yang melibatkan responden dan peniliti secara langsung. Data yang di kumpulkan berupa data sekunder dan data primer. Responden untuk menggali informasi terkait tujuan dari penelitian ini adalah para key informant seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, aparat desa serta nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selalu ada perbedaan dalam ritual adat dari satu daerah ke daerah lainnya. Sebagai masyarakat nelayan, orang Lamalera memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dari kehidupan masyarakat nelayan pada umumnya. Ritual keistimewaan ini terletak pada proses penangkapan ikan paus yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Lamalera. Alat tangkap dan alat bantu penangkapan yang digunakan dalam tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan dirawat dengan cara yang ramah lingkungan sehingga tidak berdampak negatif pada perairan dan ekosistem di sekitarnya. Yang membuat tradisi ini bertentangan dengan peraturan pemerintah saat ini bukan ritual adat yang dilakukan atau jenis alat tangkap dan alat bantu penangkapan yang digunakan. Oleh karena itu, tradisi ini secara tidak langsung berdampak pada biota laut yang dilindungi. Hal ini jelas terlihat dari penurunan jumlah tangkapan nelayan, yang antara tahun 2008 dan 2009 mencapai 15-20 ekor, namun pada tahun 2023 hanya 6 ekor yang ditangkap. Kata Kunci : Lefa Nuang, Lamalera, Kabupaten Lembata Abstrack-This research aims to determine the traditional ritual process carried out before and after the Lefa Nuang tradition is carried out, to understand the types of fishing gear and fishing aids used in the Lefa Nuang tradition and the impact of the Lefa Nuang tradition on the survival of protected marine biota. The method used is a survey method which involves respondents and researchers directly. The data collected is in the form of secondary data and primary data. Respondents to dig up information related to the objectives of this research were key informants such as community leaders, traditional leaders, youth leaders, village officials and fishermen. The research results show that there are always differences in traditional rituals from one region to another. As a fishing community, the Lamalera people have unique characteristics and are different from the lives of fishing communities in general. This special ritual lies in the whale catching process carried out by the Lamalera fishing community. The fishing gear and fishing aids used in this tradition have been around for hundreds of years and are maintained in an environmentally friendly manner so that they do not have a negative impact on the surrounding waters and ecosystem. What makes this tradition contrary to current government regulations is not the traditional rituals carried out or the type of fishing gear and fishing aids used. Therefore, this tradition indirectly impacts protected marine biota. This is clearly visible from the decline in the number of fishermen's catches, which between 2008 and 2009 reached 15-20 fish, but in 2023 only 6 fish were caught. Keywords : Lefa Nuang, Lamalera, Lembata Regency