cover
Contact Name
Didik Sumanto
Contact Email
jipmi@unimus.ac.id
Phone
+6282221586617
Journal Mail Official
jipmi@unimus.ac.id
Editorial Address
Jalan Kedungmundu Raya No. 18 Tembalang Kota Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA
ISSN : -     EISSN : 28295617     DOI : https://doi.org/10.26714/jipmi
Jurnal Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JIPMI) mewadahi publikasi kegiatan pengabdian masyarakat dan temuan inovasi teknologi terapan diutamakan yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 215 Documents
Pemberdayaan Masyarakat dalam Peningkatan Produktivitas Budidaya Ikan Lele melalui Inovasi Pakan Wahyu Imam Santoso; Ali Khamdi; Nur Muttaqien Zuhri; Nurul Puspita; Nun Maulida Suci Ayomi; Hardiwinoto Hardiwinoto; Muhammad Yusuf
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Biaya pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam produksi budidaya ikan lele dan dapat membatasi keberlanjutan usaha pembudidaya skala rumah tangga. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya ikan lele melalui penerapan pakan alternatif berbasis ikan rucah di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Metode: Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif melalui pelatihan, praktik pembuatan pakan, aplikasi langsung pada budidaya lele, dan pendampingan. Intervensi meliputi pemanfaatan ikan rucah sebagai sumber protein lokal, formulasi dan pembuatan pakan secara mandiri, serta penambahan enzim fitase untuk meningkatkan pemanfaatan nutrien. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman peserta terhadap bahan baku, formulasi, kandungan nutrisi, dan proses produksi pakan. Hasil: Pelatihan meningkatkan pemahaman peserta pada seluruh indikator yang dievaluasi. Rata-rata tingkat pemahaman meningkat dari 44% sebelum pelatihan menjadi 87% setelah pelatihan, dengan peningkatan sebesar 43 poin persentase. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek pengetahuan formulasi pakan, yaitu 45 poin persentase, diikuti pengetahuan proses produksi pakan 44 poin persentase, pengetahuan bahan baku pakan alternatif 42 poin persentase, dan pengetahuan kandungan nutrisi pakan 41 poin persentase. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan efektif dalam meningkatkan kapasitas peserta dalam pengelolaan pakan alternatif. Kesimpulan: Penerapan inovasi pakan berbasis ikan rucah yang dipadukan dengan formulasi pakan dan suplementasi enzim fitase dapat menjadi strategi pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya dalam menghasilkan pakan secara mandiri. Pendekatan partisipatif ini berpotensi mendukung efisiensi dan keberlanjutan usaha budidaya lele serta pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya air tawar. Kata kunci: budidaya ikan lele, efisiensi produksi, ikan rucah, minapolitan, pakan alternatif, pemberdayaan masyarakat _____________________________________________________________ Abstract Background: High feed costs remain a major constraint to the sustainability of small-scale catfish farming. Utilizing locally available resources as alternative feed ingredients may reduce dependence on commercial feed while improving production efficiency. Objective: This community-based intervention aimed to strengthen farmers’ capacity to formulate and produce trash-fish-based alternative feed to support more efficient catfish production in Tambaksari Village, Rowosari District, Kendal Regency, Indonesia. Method: A participatory approach was implemented through structured training, hands-on feed formulation and production, application in catfish farming, and follow-up assistance. The intervention focused on utilizing trash fish as a locally available protein source and incorporating phytase supplementation to improve nutrient utilization. Intervention effectiveness was assessed using pre- and post-tests measuring participants’ understanding of alternative feed ingredients, formulation, nutritional composition, and feed production processes. Result: Participants’ overall knowledge increased from 44% at baseline to 87% following the intervention, representing a 43-percentage-point improvement. The greatest gain was observed in feed formulation knowledge (45 percentage points), followed by feed production processes (44 points), alternative feed ingredients (42 points), and nutritional composition (41 points). Conclusion: The participatory combination of training, hands-on practice, and follow-up assistance effectively strengthened farmers’ capacity to produce trash-fish-based alternative feed. This approach offers a feasible community empowerment strategy for improving feed self-sufficiency and production efficiency while supporting the sustainability of small-scale catfish farming and the development of freshwater aquaculture-based minapolitan areas. Keywords: alternative feed, catfish farming, community empowerment, minapolitan, production efficiency, trash fish
Enhancing Islamic Astronomical Literacy and Religious Practice through Qibla Direction Training Using the Istiwa’aini Method and Google Earth at Patna Witya School, Thailand Mawardi Mawardi; Alamsyah Alamsyah; Mursyid Fikri; Rusdee Mangkache Ibrahim
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Strengthening Islamic astronomy literacy is essential to ensure that qibla direction education is grounded not only in religious principles but also in scientific and technological approaches. Patna Witya School in Thailand requires practical assistance in understanding geographical coordinates, visualizing the direction of the Kaaba, and performing basic qibla measurements. Objective: This program aimed to enhance students’ Islamic astronomy literacy, understanding of qibla direction, and practical skills in using Google Earth and the Istiwa’aini method. Methods: The program was conducted over two days, comprising eight hours of instruction and involving 30 students. The activities included a pre-test, instructional sessions, a Google Earth demonstration, hands-on practice of the Istiwa’aini method through solar-shadow observations, guided discussion, and a post-test. Results: The program demonstrated a substantial improvement in participants’ understanding of Islamic astronomy and qibla direction. The mean pre-test score increased from 43.87 to 92.83 on the post-test, representing an absolute increase of 48.96 points and a relative increase of 111.6%. These findings indicate that the training was effective in strengthening participants’ conceptual understanding and practical skills in qibla direction determination. Conclusion: Integrating religious knowledge with science and technology through Google Earth and the Istiwa’aini method provides an effective approach to qibla direction education. This integrated approach can serve as a practical model for strengthening digital religious literacy in Muslim educational institutions. Keywords: google earth, islamic astronomy, istiwa’ aini, qibla direction, digital religious literacy ___________________________________________________________ Abstrak Latar belakang: Penguatan literasi astronomi Islam diperlukan agar pembelajaran arah kiblat tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga berbasis sains dan teknologi. Patna Witya School Thailand membutuhkan pendampingan praktis dalam memahami koordinat geografis, visualisasi arah Ka’bah, dan pengukuran kiblat sederhana. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi astronomi Islam, pemahaman arah kiblat, serta keterampilan siswa dalam menggunakan Google Earth dan metode Istiwa’aini. Metode: Program dilaksanakan selama dua hari dengan total delapan jam dan melibatkan 30 siswa. Tahapan kegiatan meliputi pre-test, penyampaian materi, demonstrasi Google Earth, praktik metode Istiwa’aini melalui pengamatan bayangan matahari, diskusi, dan post-test. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Nilai rata-rata pre-test sebesar 43,87 meningkat menjadi 92,83 pada post-test. Peningkatan sebesar 48,96 poin atau 111,6% menunjukkan keberhasilan pelatihan dalam memperkuat pemahaman konseptual dan keterampilan aplikatif peserta. Kesimpulan: Integrasi agama, sains, dan teknologi melalui Google Earth dan Istiwa’aini efektif diterapkan dalam pembelajaran arah kiblat dan direkomendasikan sebagai model penguatan literasi digital religius di sekolah Muslim. Kata kunci: arah kiblat, astronomi Islam, google earth, istiwa’aini, literasi digital religius
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dan Koperasi Desa dalam Penguatan Usaha Gula Kelapa Suminah Suminah; Sapja Anantanyu; Hanifah Ihsaniyati; Emi Widiyanti; Imam Santoso
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Sentra produksi gula semut yang memiliki potensi besar namun menghadapi berbagai tantangan, seperti penggunaan alat tradisional, rendahnya motivasi usaha, lemahnya kelembagaan kelompok, kurangnya keterampilan branding, dan belum adanya pembukuan usaha. Tujuan: Untuk meningkatkan kapasitas petani dalam aspek produksi, kewirausahaan, branding, manajemen kelompok, dan pencatatan keuangan. Metode: Mitra kegiatan pengabdian ini yaitu Koperasi Produsen Karnika Mandiri Sejahtera dan Kelompok Wanita Tani Sajeng Mulyo. Metode yang digunakan meliputi pelatihan motivasi usaha, branding, pembukuan, penguatan kelembagaan, dan pelatihan penggunaan alat produksi modern seperti cabinet dryer, evaporator kristalisasi, dan ayakan manual. Hasil: Terjadi peningkatan kapasitas produksi dari 1.000 kg menjadi 1.700 kg per minggu, meningkatnya semangat berwirausaha, terciptanya identitas produk yang kuat, koordinasi kelompok yang lebih efektif, dan penerapan pencatatan keuangan sederhana. Kesimpulan: Pendekatan terpadu melalui pelatihan dan teknologi mampu meningkatkan kemandirian dan daya saing petani, serta penting sebagai strategi pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi desa. Kata kunci: gula semut, kewirausahaan, koperasi, pemberdayaan masyarakat, wanita tani _____________________________________________________________ Abstract Background: The palm sugar production center has substantial potential for local economic development but continues to face several challenges, including reliance on traditional production equipment, low entrepreneurial motivation, weak farmer-group institutional capacity, limited branding skills, and the absence of systematic financial record-keeping. Objective: This community engagement program aimed to strengthen farmers’ capacities in production, entrepreneurship, product branding, group management, and financial record-keeping. Method: The program involved the Karnika Mandiri Sejahtera Producer Cooperative and the Sajeng Mulyo Women Farmers Group. An integrated capacity-building approach was implemented through entrepreneurship motivation training, product branding, basic bookkeeping, institutional strengthening, and hands-on training in the use of improved production technologies, including a cabinet dryer, crystallization evaporator, and manual sieve. Result: The intervention increased production capacity from 1,000 kg to 1,700 kg per week, representing a 70% increase. In addition, the program strengthened participants’ entrepreneurial motivation, facilitated the development of a distinctive product identity, improved group coordination and institutional management, and promoted the adoption of simple financial record-keeping practices. Conclusion: An integrated approach combining capacity-building interventions with appropriate production technologies can enhance the self-reliance, productivity, and competitiveness of smallholder palm sugar producers. The findings highlight the importance of technology-enabled community empowerment as a strategic approach to strengthening village-based economic development and optimizing local productive potential. Keywords: palm sugar, entrepreneurship, producer cooperative, community empowerment, women farmers
Optimalisasi Under-Counter Chiller untuk Meningkatkan Higiene dan Sanitasi Operasional Restoran: Studi Pre-Post pada UMKM Pana Roastery Bimo Kuncoro Jati; Shinta Doriza; Rachmadina Rafika Triani; Riswano Rafika Triani; Candra Kharismawan; Shafa Radiva Assyam; Alika Nabila
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Peningkatan mutu manajemen operasional dan penerapan higiene serta sanitasi merupakan aspek penting dalam menjamin keamanan pangan dan efisiensi usaha pada UMKM kuliner. Keterbatasan fasilitas penyimpanan bahan baku dan belum optimalnya pemanfaatan under-counter chiller dapat memengaruhi efektivitas pengelolaan bahan pangan dan alur kerja di area produksi. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan mitra mengenai higiene dan sanitasi serta mengoptimalkan pemanfaatan under-counter chiller dalam mendukung efisiensi penyimpanan bahan baku dan operasional dapur pada UMKM Pana Roastery. Metode: Program dilaksanakan melalui tahapan persiapan, edukasi manajemen operasional, pelatihan higiene dan sanitasi, serta pendampingan teknis penggunaan dan penataan bahan baku pada under-counter chiller. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-post untuk mengukur perubahan pengetahuan mitra terkait higiene, sanitasi, dan efisiensi penyimpanan bahan baku. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan mitra sebesar 31,25 poin atau 21,4% setelah intervensi. Peningkatan pengetahuan tersebut disertai dengan perbaikan penataan penyimpanan bahan baku dan efisiensi alur kerja di area dapur. Kesimpulan: Optimalisasi pemanfaatan under-counter chiller yang disertai edukasi dan pendampingan manajerial dapat meningkatkan pengetahuan higiene dan sanitasi serta mendukung efisiensi operasional UMKM kuliner. Integrasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dengan optimalisasi fasilitas penyimpanan berpotensi memperkuat penerapan keamanan pangan dan profesionalisme pengelolaan usaha. Kata kunci: hygiene, sanitasi, manajemen operasional, UMKM kuliner, under-counter chiller, keamanan pangan __________________________________________________________ Abstract Background: Improving operational management and implementing effective hygiene and sanitation practices are essential for ensuring food safety and operational efficiency in culinary micro, small, and medium-sized enterprises (MSMEs). Inadequate food storage facilities and suboptimal utilization of under-counter chillers may compromise food ingredient management and workflow efficiency in food preparation areas. Objective: This community-based intervention aimed to improve partners’ knowledge of hygiene and sanitation and optimize the use of an under-counter chiller to enhance food storage efficiency and kitchen operations at Pana Roastery, a culinary MSME. Method: The program comprised several stages, including preparation, operational management education, hygiene and sanitation training, and technical assistance in the use and organization of food ingredients within the under-counter chiller. Program effectiveness was evaluated using a pre–post design to assess changes in participants’ knowledge of hygiene, sanitation, and food storage efficiency. Result: The intervention increased participants’ knowledge scores by 31.25 points, equivalent to a 21.4% improvement. This increase was accompanied by improved organization of food ingredients and greater workflow efficiency in the kitchen area. Conclusion: Optimizing the use of an under-counter chiller, combined with targeted education and managerial assistance, can improve knowledge of hygiene and sanitation while supporting operational efficiency in culinary MSMEs. Integrating human resource capacity building with optimization of food storage facilities may strengthen food safety practices and enhance the professionalism of MSME operations. Keywords: hygiene, sanitation, operational management, culinary MSMEs, under-counter chiller, food safety
Sosialisasi Peningkatan Kesehatan dan Kebugaran Jasmani pada Siswa Pondok Pesantren Al-Mukmin Tembarak Kabupaten Temanggung Ahad Agafian Dhuha; Mifbakhuddin Mifbakhuddin; Mohammad Fajar Firdaus
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 5 No 3 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rendahnya aktivitas fisik dan kebugaran pada remaja merupakan masalah kesehatan yang dapat meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, penyakit kardiovaskular, serta gangguan kesehatan lainnya. Permasalahan tersebut juga berkaitan dengan kesehatan mental, mengingat prevalensi depresi pada remaja masih cukup tinggi, dengan proporsi depresi ringan sebesar 26,5%, depresi sedang 13,2%, dan depresi berat 11,8%. Aktivitas fisik dan olahraga berpotensi menjadi strategi promotif untuk meningkatkan kebugaran sekaligus mendukung kesehatan mental remaja. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai perilaku hidup sehat dan strategi peningkatan kebugaran sebagai upaya mendukung pencegahan penyakit tidak menular dan gangguan kesehatan mental pada remaja. Metode: Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi dan edukasi mengenai perilaku hidup sehat serta metode peningkatan kebugaran. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala penilaian 0–100 sebelum dan setelah intervensi. Perubahan pengetahuan dianalisis secara deskriptif berdasarkan nilai minimum, maksimum, dan rata-rata. Hasil: Sebelum intervensi, skor pengetahuan siswa berkisar antara 50–75 dengan rata-rata 62,5. Setelah diberikan sosialisasi dan edukasi, skor meningkat menjadi 75–90 dengan rata-rata 82,5. Dengan demikian, terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 20 poin atau 32%. Peningkatan juga terlihat pada skor minimum sebesar 50% dan skor maksimum sebesar 20%. Kesimpulan: Sosialisasi dan edukasi mengenai perilaku hidup sehat serta peningkatan kebugaran dapat meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran. Penguatan edukasi dan pembiasaan aktivitas fisik pada remaja perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari investasi kesehatan dan pembangunan sumber daya manusia menuju generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Kata kunci: aktivitas fisik, edukasi kesehatan, kebugaran, perilaku hidup sehat, remaja _________________________________________________________ Abstract Background: Low physical fitness and insufficient physical activity among adolescents represent important public health concerns because they increase the risk of obesity, hypertension, cardiovascular disease, and other non-communicable diseases. These conditions may also have implications for adolescent mental health, particularly given the reported prevalence of mild (26.5%), moderate (13.2%), and severe (11.8%) depressive symptoms. Physical activity and exercise may provide a dual benefit by improving physical fitness and supporting psychological well-being. Objective: This community-based intervention aimed to improve adolescents’ knowledge of healthy lifestyle practices and strategies for maintaining and improving physical fitness as a foundation for disease prevention and mental health promotion. Method: The intervention was conducted among students at Al-Mukmin Islamic Boarding School, Tembarak, Temanggung, Indonesia, through structured health education and socialization focusing on healthy lifestyle practices and physical fitness improvement. Knowledge was assessed before and after the intervention using a questionnaire scored on a 0–100 scale. Descriptive analysis was performed using minimum, maximum, and mean scores, with changes in knowledge quantified as percentage improvement. Result: The baseline knowledge score ranged from 50 to 75, with a mean of 62.5. Following the intervention, scores increased to a range of 75–90, with a mean of 82.5. The mean score increased by 20 points, corresponding to a 32% improvement. The minimum and maximum scores increased by 50% and 20%, respectively, indicating an overall improvement in students’ understanding of healthy lifestyle practices and physical fitness. Conclusion: Structured health education focusing on healthy lifestyle practices and physical fitness was associated with improved knowledge among adolescents. Integrating health literacy with physical activity promotion in school and boarding-school settings may provide a feasible strategy for strengthening preventive health behaviors and supporting adolescents’ physical and mental well-being. Sustained and behavior-oriented interventions are warranted to translate improvements in knowledge into long-term healthy lifestyle practices. Keywords: adolescents, health education, health literacy, healthy lifestyle, physical activity, physical fitness