cover
Contact Name
Agustinus Konda Malik
Contact Email
aguskondamalik@staf.undana.ac.id
Phone
+6281237987345
Journal Mail Official
jurnalpeternakan@undana.ac.id
Editorial Address
Jl. Adisucipto Penfui, Kupang Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Peternakan Lahan Kering
ISSN : -     EISSN : 27147878     DOI : -
Jurnal Peternakan Lahan Kering (JPLK) menerbitkan artikel hasil penelitian yang meliputi Produksi ternak, Pakan dan nutrisi ternak, Reproduksi dan pemuliaan ternak, Teknologi hasil ternak, Sosial ekonomi peternakan, dan Kesehatan ternak
Articles 201 Documents
Pengaruh Pemberian Silase Pakan Komplit Berbasis Sorgum dan Clitoria Ternatea dengan Penambahan Berbagai Level Konsentrat ZnSO4 dan Zn-Cu Isoleusinat terhadap Konsentrasi Metabolit Darah Sapi Bali: The Effect of Feeding Complete Feed Based on Sorghum Clitoria Ternatea Silage with Added Concentrate Containing ZnSO4 and ZnCu Isoleucinate on The Concentration of Blood Metabolites In Bali Cattle Maria Oktaviani Jelamut; I Gusti Ngurah Jelantik; Erna Hartati
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted with the aim to determine the effect of feeding complete silage of sorghum-Clitoriaternatea to Bali cattle which was added concentrate containing zinc sulfate and zinc-copper isoleucinate on thelevels of metabolites found. in animal blood. In this study, four male Bali cattle aged one to one and a half yearswere used, weighing between 123 and 130 kg and a coefficient of variation (CV) of 26%. This study used a Latinsquare design, with four different treatments and four different time periods as replications. The four treatments areas follows: T0: Sorghum-Clitoria ternatea silage without added concentrate; T1: Complete feed made fromsorghum-Clitoria ternatea silage with the addition of 10% concentrate containing 150 mg ZnSO4 and 2% Zn-CuIsoleucinate; and T2: complete feed made from sorghum-Ci silage. T3:Sorghum-Clitoria ternatea Silage-BasedComplete Feed Clitoria ternatea with the addition of 20% concentrate containing 150 mg ZnSO4 and 2% Zn-CuIsoleucinate, and T3:Sorghum-Clitoria ternatea Silage-Based Complete Feed Clitoria ternatea with the addition of30% Concentrate containing 150 mg ZnSO4 and 2% Zn-Cu Isoleucinate. Analysis of variance was used tounderstand the collected data. Concentrations of glucose, urea, total plasma protein, and blood cholesterol are someof the parameters analyzed. The findings from the statistical analysis revealed that the therapy had no significanteffect (P>0.05) on blood metabolite concentrations in Bali cattle. The results of this study indicated that the addition of concentrates containing zinc sulfate and zinc copper isoleucinate to a complete feed consisting of Clitoria ternateasorghum silage did not increase the concentration of metabolites present in the blood of Bali cattle. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan silase lengkap sorgum-Clitoriaternatea pada sapi Bali yang ditambahkan konsentrat yang mengandung seng sulfat dan seng-tembaga isoleusinatterhadap kadar metabolit yang ditemukan dalam darah hewan. Dalam penelitian ini digunakan empat ekor sapi Balijantan berumur satu sampai satu setengah tahun, dengan bobot antara 123 sampai 130 kg dan koefisien variasi (26%. Penelitian ini menggunakan desain bujur sangkar latin, dengan empat perlakuan berbeda dan empat periodewaktu berbeda sebagai ulangan. Keempat perlakuan tersebut adalah sebagai berikut: T0: Sorgum-Clitoria ternateasilase tanpa penambahan konsentrat; T1: Pakan komplit berbahan dasar silase sorgum-Clitoria ternatea denganpenambahan konsentrat 10% mengandung ZnSO4 150 mg dan Isoleusinat Zn-Cu 2%; dan T2: pakan lengkapberbahan dasar silase sorgum-Ci. T3:Pakan Lengkap Berbasis Silase Sorghum-Clitoria ternatea Clitoria ternateadengan penambahan konsentrat 20% mengandung 150 mg ZnSO4 dan 2% Zn-Cu Isoleucinate, dan T3:PakanLengkap Berbasis Silase Sorghum-Clitoria ternatea Clitoria ternatea dengan penambahan Konsentrat 30%mengandung 150 mg ZnSO4 dan 2% Zn-Cu Isoleusinat. Analisis varians digunakan untuk memahami data yangdikumpulkan. Konsentrasi glukosa, urea, protein plasma total, dan kolesterol darah adalah beberapa parameter yangdianalisis. Temuan dari analisis statistik mengungkapkan bahwa terapi tidak memiliki dampak yang signifikan(P>0,05) terhadap konsentrasi metabolit darah pada sapi Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahankonsentrat yang mengandung seng sulfat dan seng tembaga isoleusinat pada pakan lengkap yang terdiri dari silasesorgum Clitoria ternatea tidak menyebabkan peningkatan konsentrasi metabolit yang terdapat dalam darah sapi Bali.
Karakteristik Kimia dan Organoleptik Sosis Sapi dengan Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) : Chemical and Organoleptic Characteristics of BeefSausage With the Addition of Moringa Leaf Flour Maria Carmelita Bere; Geertruida Margareth Sipahelut; Heri Armadianto
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of the addition of moringa leaf flour on the chemical and organoleptic quality of beef sausage. A completely randomized design (CRD) with four treatments and four replications was used in the research approach. P0 represents without the addition of Moringa leaves, P1 represents 1% Moringa leaf powder, P2 represents 2% Moringa powder, and P3 represents 3% Moringa powder. The results showed that protein content, water content, color, taste, aroma, texture and tenderness had a significant effect (P < 0.05) with the addition of Moringa leaf flour. However, there was no visible effect on the fat content (P>0.05.The researchers came to the conclusion that the addition of moringa flour to the beef sausage making process resulted in an increase in protein content, a decrease in water content, and no change in fat content. Fat content, less texture dense and less tender, while the characteristics of the color are greener, the aroma is less preferred, and the typical taste of Moringa leaves is greener. While the water content of beef sausage decreased along with the increase in moringa flour content. The organoleptic properties of beef sausage were less visible when moringa leaf flour was added. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh sifat kimiawi dan organoleptik sosis sapi dengan penggunaan tepung daun kelor. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. P0 mewakili tanpa tepung daun kelor, P1 mewakili 1% tepung daun kelor, P2 mewakili 2% tepung kelor, dan P3 mewakili 3% tepung daun kelor. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kadar protein, kadar air, warna, rasa, aroma, tekstur, dan kelembutan berpengaruh nyata (P < 0,05) dengan penambahan tepung daun kelor. Namun tidak ada pengaruh yang terlihat dari kandungan lemak (P>0,05. Disimpulkan bahwa kandungan protein sosis sapi meningkat dengan bertambahnya jumlah tepung kelor,kandungan lemaknya tetap, sedangkan kadar air sosis sapi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan kadar tepung kelor. Sifat organoleptik sosis sapi menurun ketika tepung daun kelor ditambahkan  
Komposisi Botani dan Produksi Hijauan Pakan serta Kapasitas Tampung Padang Rumput Alam di Desa Praipaha: Botanical Composition and Forage Production and Capacity of Natural Grasslands in Praipaha Village Maria Oktavia Biso; Herayanti P. Nastiti; Stefanus Tany Temu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to collect information on forage composition, forage production, and capacity of natural grasslands inPraipah Village, which is located in Ngaha Ori Angu District, East Sumba Regency. Forage for natural pastures can befound in the natural meadows of Praipah Village, which is a place of study material. The research was conducted usinga survey approach, in addition to direct observation and measurements in the field. The "Actual Weight Estimat ion"approach and the Summed Dominance Ratio method were used in Praipaha village for the purpose of determininganimal feed production and botanical composition in the region. A 1x1 m quadrant frame is used for this purpose. Theinformation collected is entered into a spreadsheet, and then analyzed mathematically to determine the typicalpercentage of botanical composition, forage production and carrying capacity. The results showed that naturalgrasslands in the Praipaha Village area consisted of 88.12% grass, 0.54% leguminous and 11.34% weeds. There is acapacity of 0.90 UT per hectare annually, with fresh material production of 2,111 kg BS/Ha and dry matter productionof 1,519 kg BK/Ha respectively. It can be concluded that the types of grass included in the production group and thesuperior forage capacity dominate the grassland flora in Praipah Village. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang komposisi hijauan, produksi hijauan pakan, dan dayatampung padang rumput alami Desa Praipaha yang terletak di Kecamatan Ngaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur.Makanan ternak padang rumput alam dapat ditemukan di padang rumput alam Desa Praipaha, yang merupakan tempatbahan kajian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan survey, selain pengamatan langsung danpengukuran di lapangan. Pendekatan "Estimasi Bobot Aktual" dan metode Summed Dominance Ratio digunakan di desaPraipaha dengan tujuan untuk menentukan produksi pakan ternak dalam bentuk bahan segar (BS) dan bahan kering(BK), kapasitas tampung dan komposisi botani di wilayah tersebut. Bingkai kuadran 1x1 m digunakan untuk tujuan ini.Informasi yang dikumpulkan dimasukkan ke dalam spreadsheet, dan kemudian dianalisis secara matematis untukmenentukan persentase tipikal komposisi botani, produksi hijauan, dan daya dukung. Hasil penelitian menunjukkanbahwa padang rumput alami yang terdapat di wilayah Desa Praipaha terdiri dari 88,12% rumput, 0,54% leguminosa, dan11,34% gulma. Terdapat kapasitas 0,90 UT per hektar setiap tahunnya, dengan produksi bahan segar 2.111 kg B S/Hadan produksi bahan kering masing-masing 1.519 kg BK/Ha. Dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis rumput yangtermasuk dalam kelompok produksi dan kapasitas hijauan mendominasi flora padang rumput di Desa Praipaha.  
Pengaruh Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera Linn) dalam Pengencer Tris Kuning Telur Terhadap Kualitas Spermatozoa Babi Landrace: Effect AdditionAloe Vera Extract In Egg Yolk Tris Diluent On Sperm Quality Landrace Boars Kristina Meldiana Hayati; Kirenius Uly; Petrus Kune; Thomas Mata Hine
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted with the aim of evaluating the effect of adding aloe vera extract (ave) in egg yolktris diluent on the quality of spermatozoa of landrace boar during storage. The material used was good qualitysemen of landrace boar, diluted with treatment diluents viz: TO: (100%), T-EY, T1: 98% T- EY + 2% AVE, T2: 96% T-EY + 4% AVE, T3: 94% T- EY + 6% AVE.Storage of diluted semen at 180 C, and evaluationmotility, viability, abnormality and longerly of spermatozoa every 8 hours. If the data obtained, there aresignificant differences, continue with the Duncan Test. The results showed that the addition of aloveraextract in the Tris-Egg Yolk diluent has no significant effect (P>0.05) on the spermatozoa quality of landraceboar, but the storage time for 8-48 hours P0, P1 and P2 were significant effect (P < 0.05) with P3 on themotility and viability. The conclusion of this study is that the addition of aloevera extract in Tris-Egg Yolkdiluent did not effective in maintaining the quality of spermatozoa landrace boars. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak lidah buaya(ELB) dalam pengencer tris kuning telur (T-KT) terhadap kualitas spermatozoa babi landrace selamapenyimpanan. Materi yang digunakan adalah semen segar babi landrace yang berkualitas baik, masingmasing diencerkan dengan: PO: (100%) tris-kuning telur, P1: 98% tris kuning telur + 2% ekstrak lidahbuaya, P2: 96% tris kuning telur + 4% ekstrak lidah buaya, P3: 94% tris kuning telur+ 6% ekstrak lidahbuaya. Penyimpanan semen hasil pengenceran pada temperature 180C, dan evaluasi motilitas, viabilitas,abnormalitas dan daya tahan hidup spermatozoa setiap 8 jam. Data dianalisis menggunakan analysis ofvariance (ANOVA) dan jika terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakanprogram softwere SPSS 29.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak lidahbuaya dalam pengencer Tris-Kuning telur tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kualitas spermatozoa babilandrace, tetapi pada lama waktu penyimpanan selama 8-48 jam P0: (100%) tris-kuning telur, P1: 98% triskuning telur + 2% ekstrak lidah buaya, dan P2: 96% tris kuning telur + 4% ekstrak lidah buaya berbeda nyata(P<0,05) dengan P3: 94% tris kuning telur+ 6% ekstrak lidah buaya pada motilitas dan viabilitas.Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan ekstrak lidah buaya dalam pengencer Tris-Kuning Telurtidak efektif dalam mempertahankan kualitas spermatozoa babi landrace.  
Strategi Pengembangan Ternak Sapi Potong Pola Usaha Rakyat di Kawasan Peternakan Kabupaten Ende: Strategy for Development of Beef Cattle Livestock Patterns of People's Business in the Livestock Area of Ende Regency Yeniria Sofia Ida; Ulrikus Romsen Lole; Tenang Barus; Maria Krova
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the strategy for the development of beef cattle according to the people's business pattern in the livestock area of ​​Ende Regency. The research was conducted in the livestock area of ​​Ende Regency. Data collection techniques used are observation and interviews. The sampling method was carried out in 3 (three) stages, namely stages 1 and 2 carried out purposively and stage 3 carried out by simple random sampling. The analysis used is SWOT analysis. The results of the IFE matrix analysis obtained a total score of 2.605 meaning that internally the development of cattle is strong enough so that the business remains sustainable. The EFE matrix obtained a total score of 3.76, meaning that externally the development of cattle is very strong where the response from the development area has been very good. The results obtained through SWOT diagram analysis are in Quadrant 1, namely supporting aggressive growth policies or very profitable positions. The results of the QSPM analysis, the three main priority strategies that will be implemented are educating farmers regarding maintenance management for the development of cattle business with a total attractiveness score (TAS) of 6.99; procure supporting equipment or technology for processing feed in the form of hay and silage with a TAS acquisition of 4.84 and optimizing the availability of grazing land for cattle development with a TAS acquisition of 4.8. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan ternak sapi potong pola usaha rakyat di kawasan peternakan Kabupaten Ende. Penelitian dilakukan di kawasan peternakan Kabupaten Ende. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Metode penarikan sampel dilakukan dalam 3 (tiga) tahap yakni tahap 1 dan 2 dilakukan secara purposif dan tahap 3 dilakukan secara simple random sampling . Analisis yang digunakan adalah analisis  SWOT. Hasil analisis matriks IFE memperoleh total skor 2,605 artinya secara internal pengembangan ternak sapi cukup kuat sehingga usaha tetap berkelanjutan. Matriks EFE memperoleh total skor 3,76 artinya secara eksternal pengembangan ternak sapi sangat kuat dimana respon dari wilayah pengembangan sudah sangat baik. Perolehan hasil melalui analisis diagram SWOT berada pada Kuadran 1 yaitu mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif atau posisi yang sangat menguntungkan. Hasil analisis QSPM, tiga prioritas utama strategi yang akan diterapkan yakni mengedukasi petani peternak terkait manajemen pemeliharaan  untuk pengembangan usaha ternak sapi dengan perolehan total attractiveness score (TAS) 6,99; mengadakan alat penunjang atau teknologi  untuk pengolahan pakan berupa hay dan silase dengan perolehan TAS 4,84 dan mengoptimalkan ketersediaan padang penggembalaan untuk pengembangan ternak sapi dengan perolehan TAS 4,8.
Kualitas FisikoKimia Dendeng Sapi Betina Peranakan Ongole yang Diberi Madu dan Beberapa Jenis Gula : Physico-Chemical Quality of Ongole Breed Beef Jerky Given Honey and Several Types of Sugar Anita Nenohaifeto; Yakob Robert Noach; Gemini Ermiani Mercurina Malelak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted to examine the physicochemical quality of beef jerky of Ongole breed heifers given honey and several types of sugar. The experimental design of this study was a Complete Randomized Design (RAL) through four treatments and four repeats and obtained 16 experimental units. The treatment is as follows: (T0) Giving granulated sugar 15% + honey 0% (control), (T1) honey 7.5% + granulated sugar 7.5%, (T2) honey 7.5% + solid palm sugar 7.5% (T3) honey 7.5% + solid coconut sugar 7.5%. Observed variables pH, water activity aw, yield, fat oxidation, water content, fat and protein. The results showed that honey and some types of sugar did not significantly affect (P>0.05) on pH, water activity, water content, fat oxidation, fat and protein content, but had a real effect (P<0.05) on the percentage of beef jerky yield of ongole breeds. It was concluded that the feeding of honey and some types of sugar did not change the physicochemical qualities of beef jerky of Ongol breeds. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji tentang kualitas fisikokimia dendeng sapi betina peranakan Ongole yang diberi madu dan beberapa jenis gula. Rancangan percobaan penelitian ini ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) melalui empat perlakuan dan empat ulangan dan didapatkan 16 unit percobaan. Perlakuan tersebut sebagai berikut: (T0) Pemberian gula pasir 15% + madu 0% (kontrol), (T1) madu 7,5% + gula pasir 7,5%, (T2) madu 7.5% + gula lontar padat 7,5% (T3) madu 7,5% + gula kelapa padat 7,5%. Variabel yang diamati pH, aktivitas air aw, rendemen, oksidasi lemak, kadar air, lema k dan protein. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian madu dan beberapa jenis gula tidak mempengaruhi secara nyata (P>0,05) terhadap pH, aktivitas air, kadar air, oksidasi lemak, kadar lemak dan protein, namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase rendemen dendeng sapi betina peranakan ongole. Disimpulkan bahwa pemberian madu dan beberapa jenis gula tidak mengubah kualitas fisikokimia dendeng sapi betina peranakan ongol
Kandungan Nutrisi Tepung Sabut Kelapa Muda Hasil Fermentasi Khamir Saccharomyces cerevisiae dengan Lama Waktu Inkubasi yang Berbeda : Nutritional Content of Young Coconut Fiber Flour Results Fermentation Old Yeast Saccharomyces cerevisiae with Different Incubation Times Fridolin Umbu Bura; Grace Maranatha; Daud Amalo
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to determine the changes in crude protein, crude fiber, and crude fat content that occur during the fermentation of coconut husk using Saccharomyces cerevisiae yeast, influenced by the duration of coconut husk incubation. Coconut husk was used as a nutritional source for yeast development as Saccharomyces cerevisiae in this study. The research employed a Completely Randomized Design (CRD), consisting of four different interventions and three separate processes. The following procedures were used: R0; unfermented coconut husk flour (control) R1: coconut husk flour underwent fermentation for one week. R2: coconut husk flour underwent fermentation for two weeks. R3: coconut husk flour underwent fermentation for three weeks. Tabulations and calculations were performed on the collected data, followed by analysis of variance (ANOVA). According to the findings of the statistical analysis, the treatments had a significant effect (P<0.05) on the amount of crude fiber and crude protein, but did not have a significant effect (P > 0.05) on the concentration of Nitrogen-Free Extract . The conclusion is that the fermentation duration of coconut husk flour using Saccharomyces cerevisiae yeast for 7, 14, or 21 days can reduce crude fiber content while increasing crude protein content and maintaining the same Nitrogen-Free Extract content. The best fermentation of young coconut husk flour using Saccharomyces cerevisiae yeast is achieved after a seven-day incubation period. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perubahan jumlah protein kasar, serat kasar, dan lemak kasar yang terjadi selama fermentasi sabut kelapa menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae dipengaruhi oleh lama waktu inkubasi sabut kelapa. Sabut kelapa digunakan dalam penelitian ini sebagai sumber nutrisi untuk perkembangan ragi sebagai Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang mencakup empat intervensi berbeda dan tiga proses terpisah. Berikut prosedur yang digunakan: R0; tepung sabut kelapa tidak difermentasi (kontrol) R1: tepung sabut kelapa mengalami fermentasi selama seminggu. R2: tepung sabut kelapa melalui proses fermentasi dua minggu. R3: tepung sabut kelapa mengalami fermentasi selama tiga minggu. Tabulasi dan perhitungan dilakukan terhadap data yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis varians (ANOVA). Menurut temuan analisis statistik, perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap jumlah serat kasar dan protein kasar, tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata (P > 0,05) terhadap konsentrasi Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen Kesimpulannya adalah lama waktu fermentasi tepung sabut kelapa menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae selama 7, 14, atau 21 hari dapat menurunkan kadar serat kasar sekaligus meningkatkan kadar protein kasar dan mempertahankan kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen yang sama. Fermentasi tepung sabut kelapa muda menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae paling baik dilakukan setelah masa inkubasi tujuh hari.
Fraksi Serat Silase Campuran Sorgum (Sorghum bicolor (L) Moench) dan Kelor (Moringa oleifera Lam) yang Ditanam pada Jarak Tanam Berbeda: Fiber Fraction of Mixed Silage Sorgum (Sorghum bicolor (L) Moench) and Moringa (Moringa Olifera Lam) Planted At Different Planting Distances Maria Suryanti Nenu; Markus Miten Kleden; Gusti Ayu Yudiwati Lestari; Mariana Nenobais
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted with the aim of looking at the silage fiber fraction in a mixture of sorghum and moringa grown at different distances from moringa. This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD) design with four trials and four replications, namely: P0: Sorghum silage without moringa, P40: Sorghum + Moringa silage with a spacing of Moringa 40 x 40 cm, P60: Sorghum + Moringa silage with Moringa silage 40 x 40 cm, P60: Sorghum + Moringa silage with Moringa plant spacing 60 x 60 cm, P80 : Sorghum + Moringa silage with Moringa plant spacing 80 x 80 cm. The variables measured were neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), and lignin. The research showed that threre was variation NDF, ADF and lignin content of sorgum-moringa silage of each treatment. Satistical analysis showed that the treatment had no effect on NDF and ADF content while it had contrary on lignin content. It can be concluded that more wide distance planted of moringa more growth rate and production of moringa forage and it had an effect on fiber fraction of silage while distance plated of moringa 80x80 cm was the best distance planted spacing with shorgum at distance planted spacing of shorgum 40x40 cm Riset ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat fraksi serat silase pada campuran sorgum dan kelor yang ditanam pada jarak yang berbeda dari kelor. Penilitian ini menggunakan metode eksprimen desain Rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat percobaan dan empat ulangan, yaitu: P0: Silase sorgum tanpa kelor, P40: silase sorgum + kelor dengan jarak tanam kelor 40 x 40 cm, P60: Silase sorgum + kelor dengan jarak tanam kelor 60 x 60 cm, P80 : Silase sorgum + kelor dengan jarak tanam kelor 80 x 80 cm. Variabel yang diukur adalah neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), dan lignin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya variasi kandungan NDF, ADF dan lignin silase sorgum-kelor pada masing-massing perlakuan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap NDF dan ADF namun berpengaruh nyata terhadap kandungan lignin. Dapat disimpulkan bahwa semakin lebar jarak tanam kelor, kemampun kelor untuk hidup dan berproduki lebih tinggi dan memberikan kontribusi terhadap fraksi serat silase yang ada dengan jarak tanam kelor 80x80 cm merupakan jarak tanam terbaik yang ditanam bersama sorgum dengan jarak tanam sorgum 40x40 cm.
Konsentrasi Asetat Propionat Butirat, Gas Metan In Vitro Silase Campuran Sorgum, Kelor Tanam pada Jarak Berbeda: Concentrations of Acetate, Propionate, Butyrate, Methane Gas Silage of a Mixture of Sorghum, Moringa Different Distance Plantings Denti Martiana Seran; Erna Hartati; Gusti Ayu Y. Lestari
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of mixed silage of sorghum (Sorghum Bicolor L. Moench)and Moringa (Moringa Olifera Lam) rown at different distances on acetic acid (C₂), butyric acid(C₄), ad increasing propionic acid (C₃) as well as decreased production of Methane Gas (CH₄) invitro. The method used in this study was a completely randomized design (CRD), wuth 4 treatmentin question was sorghum silage grown without moringa (KO), sorghum- moringa silage at aspacing of 40 X 40 cm moringa (K40), sorghum – moringa silage at a spacing of 60 x 60 cm(K60), sorghum – moringa silage at a spacing of 80 x 80 cm (K80). The variables measured werwthe increase in concentration of acetic acid (C₂), propionic acid (C₃), and butyrat acid (C₄), aswell as the production of methane gas (CH₄) in a mixture of sorghum and moringa silage. Theresults of the treatment had no significant effect (P>0.05) on decreasing the concentrations ofacetic acid (C₂), butyrat acid (C₄), and increasing propionic acid (C₃), as well as decreasingmethane gas (CH₄) production. The conclusion was that the silage of a mixture of sorghum andmoringa grown at different spacing had no offect on the concentrations of acetic acid (C₂), butyricacid (C₄). Jurnal Peternakan Lahan Kering Volume 6 No.1 (Maret, 2024), 94 – 100 ISSN :2714-787894Konsentrasi Asetat Propionat Butirat, Gas Metan In Vitro Silase CampuranSorgum, Kelor Tanam pada Jarak BerbedaConcentrations of Acetate, Propionate, Butyrate, Methane Gas Silage of a Mixture ofSorghum, Moringa Different Distance PlantingsDenti Martiana Seran1*, Erna Hartati1, Gusti Ayu Y. Lestari11Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa CendanaJln. Adisucipto Penfui, Kode Pos 104 Kupang 85001Email Koresponden dentiseran23@gmail.comABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh silase campuran sorgum (Sorghum Bicolor (L)Moench) dan kelor ( Moringa olifera Lam) yang ditanam pada jarak berbeda terhadap konsentrasiasam asetat (C₂), asam butirat (C₄) dan peningkatan asam propionat (C₃) serta penurunan produksiGas Metan (CH₄) secara in vitro.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancanganacak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, perlakuan yang dimaksud adalahsilasesorgum ditanam tanpa kelor (K0), silase sorgum-kelor pada jarak tanam kelor 40 x 40 cm (K40),silase sorgum-kelor pada jarak tanam kelor 60 x 60 cm (K60), silase sorgum-kelor pada jaraktanam kelor 80 x 80 cm (K80). Variabel yang diukur adalah peningkatan konsentrasiasam asetat(C₂), asam propionat (C₃), dan asam butirat (C₄), serta produksi Gas Metan (CH₄) pada silasecampuran sorgum dan kelor. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa perlakuan tidakberpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsentrasi asam asetat (C₂), asam butirat (C₄), danpeningkatan asam propionat (C₃),serta penurunan produksi gas metan (CH₄). Kesimpulan bahwasilase campuran sorgum dan kelor yang ditanam pada jarak tanam berbeda tidak berpengaruhterhadap penurunan konsentrasi asam asetat (C₂), asam butirat (C₄) dan peningkatan asampropionat (C₃) dan penurunan produksi gas metan (CH₄).  
Kualitas Fisik dan Organoleptik Se’i Kambing Menggunakan Jus Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) dan Jahe (Zingiber officinale): Physical and Organoleptic Quality of Se'i Goat Using Lime (Citrus aurantiifolia) and Ginger (Zingiber officinale) Juice Maria Iwanti Eno; Gemini Ermiani Mercurina Malelak; Bastari Sabtu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to determine the effect of curing using different types of ginger juiceand lime juice on the physical and organoleptic qualities of goats. The ingredients used includefresh goat meat, ginger, lime juice, and additional ingredients, namely table salt and saltpeter. Theexperiment used a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. namely P0:Without adding lime and ginger (control), P1: Adding 15% ginger juice, P2: Adding 3% lime juiceand P3: Adding 15% ginger + 3% lime solution. The variables measured were organoleptic,cholesterol, yield and Total Plate Count. The results of the research showed that the treatment hada very significant effect (P<0.01) on aroma, color, taste and tenderness, and had no effect (P>0.05)on cholesterol, Total Plate Count and yield of se'i goat meat. It was concluded that the lime juiceand ginger used could improve the aroma, taste, color and tenderness of se'i goat meat but notcholesterol. Tujuan dari dilakukannya riset ini adalah untuk mengetahui efek pemeraman yang menggunakanjus jahe dan jus jeruk nipis yang berbeda pada kualitas fisik, organoleptik se’i kambing. Bahanyang digunakan antara lain Daging kambing segar, Jahe, jus jeruk nipis, dan bahan tambahan yaitugaram dapur dan saltpeter. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuandan 4 ulangan. yakni P0: Tanpa penambahan jeruk nipis dan jahe (kontrol), P1: Penambahanjusjahe 15%, P2: Penambahan jus jeruk nipis 3% dan P3: Penambahan dengan larutan jahe 15% +jeruk nipis 3%. Variabel yang diukur yaitu organoleptik, kolesterol, rendemen dan Total PlateCount. Hasil penelitian, perlakuan berpengaruh sangat signifikan (P<0,01) pada aroma, warna,rasa dan keempukan, tidak berpengaruh (P>0,05) pada kolesterol, Total Plate Count dan rendemendaging se’i kambing. Disimpulkan, bahwa jus jeruk nipis dan jahe yang digunakan dapatmeningkatkan aroma, rasa, warna dan keempukan daging se’i kambing tetapi tidak terhadapkolesterol