cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
jlbi@iplbijournals.id
Phone
+628122184048
Journal Mail Official
dhinijlbi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Antropologi 20. Komp. UNPAD. Cigadung. Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia
ISSN : 23019247     EISSN : 26220954     DOI : https://doi.org/10.32315/jlbi
Jurnal ini menerima tulisan ilmiah dalam bentuk artikel hasil penelitian, artikel diskursus, dan artikel metode penelitian. Ruang lingkup keilmuan yang diwadahi oleh jurnal ini meliputi bidang arsitektur lanskap, arsitektur perilaku dan lingkungan, pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan, perancangan arsitektur, perencanaan dan perancangan kota, perencanaan wilayah dan perdesaan, perumahan dan permukiman, sains dan teknologi bangunan, sejarah dan teori arsitektur dan kota, sistem infrastruktur wilayah dan kota, serta bidang keilmuan lingkungan binaan lainnya.
Articles 245 Documents
Sistem Pengolahan Sampah pada Permukiman Industri Studi Kasus: RW 02 dan RW 12 Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Cigondewah, Kota Bandung Hartabela, Dadang; Bakri, Nurjirah; Syahriyah, Dewi R.; Anwar, Saiful
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.223

Abstract

Pengolahan sampah yang baik merupakan hal penting bagi siapapun guna menjamin kualitas kesehatan pada suatu permukiman. Riset ini dilakukan untuk mengetahui sistem pengolahan sampah yang terjadi pada permukiman industri, baik secara mandiri maupun dengan bantuan pihak lain. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan menguraikan atau menjelaskan suatu fenomena yang terjadi. Adapun populasi pada penelitian ini ialah masyarakat dan wilayah permukiman di RW 02 dan RW 12. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, yaitu teknik pemilihan sampel terhadap siapa saja yang ditemui tim peneliti pada saat penelitian. Hasil riset menemukan bahwa terdapat dua jenis limbah di permukiman industri Kelurahan Cigondewah Kaler ini, yaitu limbah organik dan anorganik. Limbah anorganik dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu sampah tekstil, sampah plastik, dan sampah kardus. Permasalahan limbah anorganik tersebut diatasi oleh warga dengan cara pemilahan (sorting) kemudian dijual ke pihak lain. Sedangkan untuk limbah organik, masyarakat kampung Cigondewah belum melakukan upaya Pengolahan
Ruang Terbuka Hijau sebagai Katalis Urban dalam Revitalisasi Kawasan Kota Lama Trunojoyo Malang Baskara, Medha
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.224

Abstract

Penurunan kualitas dan vitalitas pada kawasan kota lama Trunojoyo Malang akibat berkurangnya kinerja kawasan dan terjadinya ketidaksesuaian antara kemampuan kawasan dengan kebutuhan masa kini. Studi ini bermaksud untuk menguji ruang terbuka Trunjoyo mampu menciptakan kawasan kota lama berkarakter unik yang mampu berperan skala kota dengan vitalitas yang tinggi secara fisik, sosial dan ekonomi. Secara spesifik ruang terbuka hijau sebagai katalis urban menekankan pada terbentuknya kawasan sebagai destinasi baru, yang selaras dan terintegrasi secara fisik maupun visual dengan lingkungan kota lama maupun kawasan lain disekitarnya. Studi berkesimpulan bahwa pengembangan strategis elemen katalis urban pada ruang terbuka hijau didasarkan pada karakteristik ruang terbuka di kawasan Trunojoyo dengan pengembangan kegiatan-kegiatan yang tepat yang dapat menjadi alternatif penggerak revitalisasi kawasan kota lama Malang.
Perencanaan Grenbelt pada Lansekap Bantaran Sungai Wilayah Perkotaan Wuisang, Cynthia E.V; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.225

Abstract

Pada banyak kota besar di Indonesia, eksistensi dan kehidupan, kelestarian dan juga estetika lingkungan dari beberapa sungai dan bantarannya telah terancam. Hal ini terlihat dengan adanya dampak negatif yang terjadi seperti erosi, banjir, adanya limbah polutan, penyempitan sungai ataupenggunaan lahan yang tidak sesuai pada tepian sungai.Penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman sistim alami dan pengelolaan yang kurang sesuai dengan karakter sungai-sungai yang mengalir di kawasan tersebut. Keterkaitan fisik dan sosial budaya masyarakat disekitarnya juga merupakan permasalahan lain yang perlu dikaji seperti manfaat domestik sungai tersebut bagi masyarakat untuk mandi, mencuci dan lainnya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari karakter serta fungsi bantaran sungai di kawasan perkotaan sebagai satu bagian dari sistim DAS dan mengkaji model perencanaan lansekap yang berkaitan dengan tata hijau sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan bantaran sungai wilayah perkotaan. Studi dilakukan di wiayah perkotaan dengan metoda kualitatif dan dengan mengambil kasus kota Manado. Melalui studi ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah terkait untuk dapat melakukan strategi penataan lansekap secara efisien dan produktif sehingga bentuk dan peran serta fungsi fisik dan ekologis yang diinginkan dan berkelanjutan dapat dicapai secara optimal.
Peranan Green Transportation untuk Mewujudkan Green Urban Area pada Kawasan Pusat Kota Simpanglima Semarang Mulyani, IM. Tri Hesti; Gandhi, B. Pat Ristara
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.226

Abstract

Pemanasan global menjadi isu penting di seluruh belahan dunia.Temperatur bumi yang terus menerus meningkat membuat bumi semakin panas dan menimbulkan semakin menurunya kualitas lingkungan kota-kota di Indonesia. Untuk mencegah atau mengurangi menurunnya kualitas lingkungan perlu ada upaya yang sistematis dan komprehensif, antara lain dengan menerapkan delapan atribut kota hijau, yaitu: Green planning & designing;, Green open space, Green waste, Green transportation, Green water, Green energy; Green building, Green community, yang pada akhirnya mewujudkan kota berkelanjutan. Kawasan Pusat Kota Simpanglima Semarang diarahkan sebagai green urban area, dengan menerapan delapan atribut kota hijau, khususnya atribut green transportation. Bagaimana peranan green transportation untuk mewujudkan green urban area menjadi fokus utama utama pembahasan. Peranan tersebut ditelusuri melalui studi dokumentasi dan wawancara terstruktur ke responden ahli, dan metoda analisis Analytic Hierarchy Process. Hasil yang dicapai peranan green transportation untuk mewujudkan green urban area diungkapan melalui skala prioritas dan penilaian kinerja green urban area dari faktor green transportation.
Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang Studi Kasus: Kota Manado Moniaga, Ingerid L.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan RTH kota yang berbasis infrastruktur hijau (infrastruktur ekologis) harus terpadu dengan RTH sebagai komponen utama pembentuk ruang. Kota Manado merupakan kota yang memiliki sumberdaya alam yang sangat indah dengan bentang alam yang topografikal yakni berbukit, bergunung, dan berombak-ombak. Karakteristik kota yang alami seperti ini membutuhkan peren-canaan tata ruang yang berbasis ekologis dan berkelanjutan. Kawasaan perbukitan yang berfungsi lindung tangkapan air (catchment area) seharusnya merupakan kawasan yang dalam perencanaan dan pengendalian ruang Kota Manado difungsikan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Daerah-daerah yang sensitif terhadap perubahan harusnya dipreservasi atau dikonservasi sebagai infrastruktur hijau sehingga paradigma bahwa RTH bukanlah ruang-ruang sisa diantara ruang-ruang terbangun melainkan RTH merupakan unsur utama dalam tata ruang Kota. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi RTH pada kawasan perbukitan di Kota Manado dengan variabel analisis yakni kelerengan, topografi, jenis tanah, dan curah hujan, untuk menghasilkan penataan terintegrasi RTH dan Tata Ruang berdasarkan karakteristik wilayah Kota Manado. Metodologi penelitian ini dilakukan dengan metode analisis spasial yang menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.0 dan global mapper.
Investigasi Ventilasi Gaya-Angin Rumah Tradisional Indonesia dengan Simulasi CFD Suhendri; Koerniawan, M. Donny
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.228

Abstract

Bangunan modern di Indonesia hampir selalu menggunakan peralatan mekanis untuk menyediakan kenyamanan termal di dalam bangunan. Sementara bangunan tradisional dikenal tidak menggunakan strategi aktif dalam menyediakan kenyamanan termal bagi penghuninya. Dengan memfokuskan pada ventilasi gaya-angin, studi ini bertujuan untuk mempelajari pola pergerakan udara dan perubahan angin di dalam rumah tradisional Indonesia. Dua rumah tradisional dipilih sebagai studi kasus, Rumah Lampung dan Rumah Jawa, untuk dianalisis dengan simulasi komputer menggunakan software CFD. Sejalan dengan hasil studi, ventilasi alami pada rumah tradisional di Indonesia berpotensi menyediakan kenyamanan termal di dalam bangunan. Desain Rumah Jawa lebih dapat mengalirkan udara secara merata di dalam bangunan tanpa turbulensi dibanding Rumah Lampung. Namun, ventilasi gaya-angin yang terjadi pada Rumah Lampung dan Rumah Jawa belum optimal dalam mengurangi temperatur di dalam ruangan.
Kecerdasan Place-making Pentas Barong Kemiren, Banyuwangi Hadinugroho, Dwi Lindarto; D.D. Harisdani; Rahman, Masyithah
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.74

Abstract

Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi memiliki atraksi Barong Kemiren yang  berpotensi sebagai unsur pembentuk identitas tempat. Identitas tempat salah satunya dapat terwujud oleh kegiatan lokal. Kajian ini secara arsitektural bertujuan mengungkapkan bagaimana atraksi Barong Kemiren membentuk suatu tempat yang disebut sebagai konsep place-making . Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dilakukan jelajah terhadap hubungan timbal balik antara jalan, lapangan, ruang publik dengan aktivitas tarian Barong Kemiren yang akhirnya membentuk tempat berkarakter sebagai suatu place attachment. Dengan metode kritik interpretatif evocatif diungkapkan bahwa pentas Barong Kemiren memiliki locally distinctiveness. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi place Kemiren memenuhi kaidah pentas dramaturgi, back-stage, audio visual place, boundary, audience place, interaction, atmosphere, stage-catwalk dalam versi lokal yang unik dan berkarakter. Masing-masing panggung   tersebut berpotensi membentuk linkage yang berfungsi sebagai pengarah  kunjungan wisata. Linkage antar panggung Barong Kemiren tersebut merangkai atraksi  wisata desa Kemiren berupa serial vision dan sequencial view tourism. Manfaat kajian pembentukan panggung Barong Kemiren dapat dikatakan sebagai kecerdasan lokal tentang konsep place-making.
Studi Transfigurasi Masjid melalui Periodisasi Pembangunan Masjid di Indonesia A.Hildayanti; Wasilah
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.76

Abstract

Perkembangan masjid di Kota-kota besar Indonesia seakan mulai merubah “image” masjid yang identik dengan kubah melalui bentuk-bentuk yang memetaforakan budaya dan modernisasi dengan tujuan menciptakan bangunan yang ikonik. Permasalahan yang muncul kemudian adalah perlahan hilangnya pakem kubah dari bagian wujud masjid. Eksistensi kubah seakan telah tertanam dibenak masyarakat sebagai penanda keberadaan rumah ibadah ummat Islam (masjid) sebagai unsur landmark mulai melebur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi transfigurasi masjid dan periodisasi bentuk masjid di Indonesia. Melalui metode penelitian studi kasus, penelitian ini akan menginterpretasi perubahan yang terjadi pada perkembangan masjid secara spesifik dan realistik. Sehingga diperoleh hasil penelitian bahwa masjid sebagai tempat ibadah umat Islam pada dasarnya tidak memiliki aturan khusus dalam desain bentuk bangunannya. Bentuk bangunan masjid yang identik dengan penggunaan kubah kini mulai dikembangkan mengikuti aliran arsitektur baru dan berkembang. Keberadaan kubah pada masjid selama kurun waktu yang panjang memberikan pandangan bahwa kubah pada masjid tidak bisa dipisahkan, meskipun kubah sebagai penutup atap pada masjid bukanlah suatu keharusan.
Fenomena Pedagang Kaki Lima pada Kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh Karsono, Bambang; Maghfira; Fidyati; Olivia, Sisca
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.78

Abstract

Pedagang kaki lima (PKL) merupakan salah satu fenomena di perkotaan yang selalu menarik menjadi topik diskusi dan diteliti. Kesempatan kerja di sektor formal di kota yang terbatas menjadikan PKL sebagai alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan. Aktivitas PKL dikategorikan sebagai informal, tumbuh secara spontan, mudah cara pengoperasian dan kadang kala tidak ada prosedur standar yang mengaturnya. Ada kalangan yang mendukung bahwa keberadaan PKL di ruang perkotaan karena dapat memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan perkotaan (livability). Namun ada juga yang mempermasalahkan keberadaannya dengan alasan ruang kota menjadi tidak teratur. Di Kota Banda Aceh, PKL tumbuh menyebar dan mendominasi ruang publik di sepanjang koridor jalan. Kajian ini bertujuan mengungkapkan faktor penyebab, cara pemanfaatan koridor jalan yang didominasi oleh pedagang kaki lima serta dampak positifnya terhadap livability dan keberlanjutan kota. Penelitian memilih PKL pada satu koridor jalan di Kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh sebagai studi kasus. Pendekatan penelitian metode campuran diterapkan dalam penelitian ini, data kuantitatif dan kualitatif diperoleh melalui observasi, pemetaan, photo-trekking, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara triangulasi deskriptif, guna mengungkap keterkaitan antar fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena PKL pada kawasan studi kasus memberi kontribusi kepada keberlangsungan kehidupan kota dan menjadi generator kegiatan pada siang dan malam hari. Di sisi lain, tempat tersebut menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan tempat bagi PKL untuk memperoleh pendapatan.
Pendampingan Perencanaan Fasilitas Penunjang di Pura Dalem Desa Adat Sebunibus, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali Mustika, Ni Wayan Meidayanti; Wijaya, I Kadek Merta; Rahadiani, Anak Agung Sagung Dewi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.85

Abstract

Pura Dalem Desa Adat Sebunibus adalah salah satu pura Tri Khayangan di Desa Adat Sebunibus yang belum memiliki fasilitas penunjang yang berfungsi untuk mewadahi kegiatan persiapan upakara keagamaan seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan servis lainnya. Dari permasalahan tersebut maka harus direncanakan fasilitas penunjang di Pura Dalem Desa Adat Sebunibus yang sesuai dengan kebutuhan fungsi dan standar teknis yang baik. Artikel ini memaparkan tentang pelaksanaaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mitra masyarakat pangempon Pura Dalem Desa Adat Sebunibus. Kegiatan ini merupakan upaya pendampingan dan pemberdayaan potensi masyarakat mitra dalam merencanakan desain arsitektur fasilitas penunjang berupa pewaregan (dapur), bangunan reringgitan dan panggung pertunjukan tari. Metode pelaksanaan kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahap yaitu: 1). Tahap persiapan dan identifikasi awal; 2). Tahap penyusunan desain alternatif; 3). Tahap Focus Group Discussion; dan 4). Tahap Finalisasi Desain. Bangunan fasilitas penunjang yang direncanakan menggunakan penerapan arsitektur tradisional Bali modern dengan pendekatan kontekstual berupa memaksimalkan penggunan material lokal. Hasil kegiatan ini adalah gambar rencana desain bangunan – bangunan fasilitas penunjang yang dapat menjadi dokumen perencanaan untuk tahap pembangunan selanjutnya.