cover
Contact Name
Muhammad Rizki
Contact Email
m.rizki8787@gmail.com
Phone
+6285219941987
Journal Mail Official
admin@jurnal-tmit.com
Editorial Address
Jalan Padang Bolak, No. 1B, Labuh Baru Timur, Pekanbaru-Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
ISSN : 28290232     EISSN : 28290038     DOI : -
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) adalah journal blind peer-review yang bersifat open access yang memungkinkan artikel tersedia secara online tanpa berlangganan apapun. JTMIT didedikasikan untuk publikasi hasil penelitian, artikel teknis, konseptual dan laporan studi kasus dalam bidang Teknologi dan Manajemen secara umum, namun tidak terbatas secara implisit. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan (JTMIT) dikelola secara professional dan diterbitkan oleh Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual dalam membantu para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk menyebarkan hasil penelitiannya
Arjuna Subject : -
Articles 735 Documents
Analisis Penyebab Keterlambatan Pengiriman Pada Agen Indah Logistik Cargo (ILC) Pilar Menggunakan Metode DMAIC Rachmanda Luthfi Firdaus; Gigih Hapsak Pradipto; Andriani
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1853

Abstract

Keterlambatan pengiriman barang merupakan salah satu permasalahan yang dapat mempengaruhi kualitas layanan dan kepuasan pelanggan pada perusahaan logistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab keterlambatan pengiriman barang serta memberikan usulan perbaikan menggunakan metode DMAIC pada Indah Logistik Cargo (ILC) Pilar. Data penelitian diperoleh dari total pengiriman barang periode Juni hingga November 2025 sebanyak 2.915 pengiriman dengan jumlah keterlambatan sebanyak 356 pengiriman. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai Defects Per Million Opportunities (DPMO) sebesar 122.126 dengan level sigma sebesar 2,66 sigma. Analisis Fishbone menunjukkan bahwa faktor penyebab keterlambatan berasal dari aspek man berupa ketidakhadiran kurir dan penerima tidak berada di tempat, method berupa ketidaksesuaian jadwal armada kapal, machine berupa kendala teknis kendaraan, material berupa kesalahan label barang, serta environment berupa wilayah out delivery area yang sulit dijangkau. Usulan perbaikan yang diberikan meliputi penyediaan backup kurir, sinkronisasi jadwal pengiriman, penerapan preventive maintenance kendaraan, pengecekan label barang secara berkala, serta penggunaan sistem pemetaan logistik digital untuk meningkatkan efektivitas pengiriman barang.
Keterbatasan Indikator LPI dalam Menilai Kinerja Logistik Negara Kepulauan: (Studi Kasus: Indonesia dan Filipina) Syafina Putri Teyansyah; Enda Permana; Wiku Larutama
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1857

Abstract

Negara kepulauan seperti Indonesia dan Filipina menghadapi tantangan logistik yang kompleks akibat keterbatasan konektivitas antarpulau, ketimpangan infrastruktur, serta tingginya biaya distribusi domestik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja logistik Indonesia dan Filipina serta mengkaji keterbatasan indikator World Bank Logistics Performance Index (LPI) dalam merepresentasikan tantangan logistik negara kepulauan. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis 40 artikel ilmiah yang dipublikasikan pada periode 2018-2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur dan kepelabuhanan, biaya logistik, tata kelola pemerintahan dan regulasi, serta tantangan geografis kepulauan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja logistik kedua negara. Infrastruktur yang belum merata, lemahnya integrasi transportasi multimoda, serta rendahnya konektivitas antarpulau menjadi penyebab utama tingginya biaya logistik dan rendahnya efisiensi distribusi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa indikator LPI belum mampu sepenuhnya mencerminkan kondisi logistik domestik negara kepulauan karena lebih berfokus pada perdagangan internasional dan logistik lintas batas berbasis persepsi pelaku logistik global. Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan pengembangan indikator logistik yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap karakteristik geografis negara kepulauan agar mampu merepresentasikan tantangan logistik domestik secara lebih komprehensif.
Analisis Kegagalan Proses Pengujian Tss Divisi Instalasi Pengolahan Air Limbah Dengan Pendekatan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Dan Fault Tree Analysis (FTA) Muhammad Arif Agustianto; Deny Andesta
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1858

Abstract

Akurasi pengujian Total Suspended Solids (TSS) merupakan faktor penting dalam evaluasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan pemenuhan baku mutu lingkungan. Pemantauan efluen IPAL industri pengolahan kelapa sawit selama April 2026 menunjukkan bahwa 13 dari 30 hari pengamatan (43,3%) memiliki nilai TSS ≥ 30 mg/L, dengan nilai maksimum 39 mg/L, sedangkan parameter efluen lainnya masih memenuhi baku mutu. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakstabilan sistematis yang berpotensi berasal dari proses pengolahan maupun prosedur pengujian laboratorium. Penelitian ini bertujuan menganalisis kegagalan proses pengujian TSS secara gravimetri menggunakan pendekatan terintegrasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA). FMEA digunakan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan mode kegagalan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN) dari penilaian Severity, Occurrence, dan Detection melalui kuesioner multi-responden serta observasi langsung. Selanjutnya, FTA digunakan untuk memetakan hubungan sebab–akibat kegagalan dominan dan menentukan minimal cut sets. Hasil FMEA menunjukkan empat mode kegagalan kritis, yaitu sampel tidak representatif (RPN = 336), timbangan tidak terkalibrasi (RPN = 294), volume sampel tidak konsisten (RPN = 280), dan oven pengering tidak terkontrol (RPN = 280). Analisis FTA mengidentifikasi sembilan minimal cut sets orde tunggal, dengan jalur kritis utama terkait prosedur pengambilan sampel dan sistem penimbangan. Temuan menunjukkan bahwa integrasi FMEA–FTA mampu memberikan analisis risiko yang lebih komprehensif. Rekomendasi perbaikan meliputi standardisasi pengambilan sampel, kalibrasi peralatan terjadwal, dan penggunaan desikator sebelum penimbangan.
Analisis Waste Supply Part Dengan Pendekatan Six Sigma DMAIC Davry Sandy Imandha; Syarah Rizkia Feriaty; Rudy Effendy Listyanto
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1861

Abstract

PT Toyota Boshoku Indonesia mengadopsi sistem Just in Time (JIT) guna memastikan efisiensi distribusi komponen. Namun, dalam pelaksanaannya masih dijumpai pemborosan berupa motion dan transportation yang memicu keterlambatan serta menurunkan produktivitas. Penelitian deskriptif kuantitatif-kualitatif ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab waste tersebut dan menyusun rekomendasi perbaikan menggunakan metodologi Six Sigma DMAIC. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan alat kendali mutu seperti SIPOC, CTQ, histogram, Pareto, Fishbone, dan 5 Why. Hal ini terjadi karena ukuran trolley yang tidak memadai, layout lingkungan kerja yang kurang praktis, dan sistem kerja yang kurang efektif. Demi menekan angka pemborosan ini, dirumuskan strategi perbaikan yang meliputi pembaruan volume muatan trolley, redesain tata ruang operasional, serta penerapan SOP yang disertai dengan evaluasi berkala. Disimpulkan bahwa pendekatan Six Sigma DMAIC mampu mengidentifikasi akar masalah secara sistematis demi menciptakan proses distribusi yang berkelanjutan.
Analisis Defect Dent Menggunakan Six Sigma DMAIC Untuk Peningkatan Kualitas Produksi Ridhwan Sukrisna; Susan Kustiwan; Andriani
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1863

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab terjadinya defect dent pada proses assembly di PT XYZ menggunakan metode Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan data sekunder quality control periode April–Agustus 2025. Berdasarkan data tersebut, defect dent merupakan jenis cacat tertinggi dengan jumlah 436 kasus atau 30,4% dari total keseluruhan defect pada Departemen Assembly. Tahap measure menunjukkan nilai Defect Per Unit (DPU) sebesar 0,0136 dan Defects Per Million Opportunities (DPMO) sebesar 13.625 dengan tingkat kapabilitas proses sebesar 3,7 sigma. Tahap analyze menggunakan analisis 5W+1H dan diagram Fishbone menunjukkan bahwa penyebab dominan berasal dari faktor manusia dan metode kerja, yaitu kurangnya ketelitian operator saat handling material, kelelahan kerja, serta belum optimalnya penerapan SOP. Tahap improve menghasilkan usulan berupa pelatihan operator, standarisasi SOP, perawatan jig dan tooling, serta penyusunan checklist pengawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Six Sigma DMAIC dapat digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab defect dent dan memberikan rekomendasi perbaikan guna meningkatkan kualitas proses assembly.
Analisis Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proses Pembuatan Kusen Pintu Menggunakan Metode HIRARC: (Studi Kasus: UD Berkah Jaya Kusen ) Yayang Fadilla; Setiawan; Yulia Aneke Putri
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1864

Abstract

K3 adalah komponen dalam membangun tempat kerja yang aman dan produktif. Namun, penerapan K3 pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih belum dilakukan secara optimal, termasuk pada industri pembuatan kusen pintu. Penelitian bertujuan untuk menemukan risiko K3, menganalisis tingkat risiko, bersama dengan menentukan pengendalian risiko selama proses pembuatan kusen pintu di UD Berkah Jaya Kusen menggunakan teknik HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control).  Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif  dengan pendekatan deskriptif yang menggunakan  observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Hasil studi menunjukkan bahwa potensi bahaya ditemukan pada seluruh tahapan pembuatan, yaitu pemilihan bahan kayu, pemotongan kayu, penghalusan dan penyerutan, perakitan serta finishing. Pengendalian risiko dilakukan melalui penggunaan alat pelindung diri (APD), perbaikan metode kerja, penyusunan prosedur  kerja aman, serta penataan lingkungan kerja. Metode HIRARC memberikan gambaran risiko kerja serta rekomendasi pengendalian risiko pada setiap tahapan pembuatan kusen pintu di UD Berkah Jaya Kusen.
Analisis Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Menggunakan Metode Nordic Body Map (NBM) dan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) pada Pekerja Produksi : (Studi Kasus: CV. Samaraya) M. Aldy Gifari; Elly Ismiyah
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1865

Abstract

Gangguan Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan salah satu permasalahan kesehatan kerja yang sering terjadi pada pekerja industri akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas repetitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keluhan musculoskeletal menggunakan metode Nordic Body Map (NBM), menganalisis tingkat risiko postur kerja menggunakan metode RULA, serta memberikan usulan perbaikan postur kerja pada pekerja produksi CV. Samaraya. Meskipun penelitian tentang MSDs di industri manufaktur telah berkembang, kajian yang secara khusus mengombinasikan pendekatan kuantitatif (RULA) dan subjektif (NBM) pada industri konveksi skala menengah masih sangat terbatas. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut, dengan kontribusi berupa evaluasi risiko MSDs secara komprehensif menggunakan kedua metode sekaligus. Hasil pengukuran NBM menunjukkan adanya keluhan dominan pada bagian punggung, pinggang, bahu, dan pergelangan tangan. Hasil analisis RULA sebelum perbaikan menunjukkan skor 5–6 pada aktivitas pemotongan, penjahitan, dan quality control, yang termasuk dalam kategori risiko sedang hingga tinggi, sehingga memerlukan investigasi, perencanaan intervensi ergonomi, dan perbaikan segera. Setelah dilakukan perbaikan postur kerja dan penyesuaian tinggi meja kerja, skor RULA menurun menjadi 4 pada seluruh aktivitas, yang menunjukkan adanya penurunan tingkat risiko ergonomi. Meskipun terjadi penurunan risiko, kondisi kerja masih memerlukan evaluasi lanjutan. Keterbatasan penelitian ini mencakup ukuran sampel yang terbatas, observasi di satu lokasi, dan faktor subjektif pada kuesioner NBM. Perbaikan ergonomi secara berkelanjutan serta evaluasi jangka panjang sangat direkomendasikan guna menurunkan risiko MSDs lebih lanjut.
Penerapan Good Manufacturing Practice Dalam Aspek Personal Higiene Untuk Menjamin Keamanan Pangan Menggunakan Metode FMEA   Gilang Apriliansyah; Setiawan; Yulia Aneke Putri
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1872

Abstract

Industri pangan memiliki risiko tinggi terhadap kontaminasi produk oleh sebab itu mekanisme penerapan keamanan pangan yang efisien diperlukan. Salah satu sistem dasar yang digunakan dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan adalah Good Manufacturing Practice (GMP). Fokus penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penerapan GMP pada aspek personal higiene karyawan di PT XYZ serta mengidentifikasi risiko kegagalan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik studi kasus. Pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, dokumentasi perusahaan, dan analisis FMEA. Hasil studi menunjukkan bahwa penerapan GMP pada aspek personal higiene masih belum optimal, terutama pada penggunaan alat pelindung diri, prosedur mencuci tangan, dan kepatuhan penggunaan seragam kerja. Berdasarkan analisis FMEA, risiko tertinggi berasal dari ketidakpatuhan operator dalam mencuci tangan sebelum memasuki area produksi, serta penggunaan APD yang tidak lengkap. Nilai Risk Priority Number (RPN) digunakan sebagai dasar penentuan prioritas perbaikan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan pengawasan, pelatihan berkala, penerapan inspeksi rutin, dan penguatan budaya higiene untuk meningkatkan efektivitas sistem keamanan pangan di PT XYZ.
Analisis Faktor Penyebab Kontaminasi Material Dengan Metode FMEA: (Studi Kasus: PT Cataler Indonesia ) Ahmad Arya Rahmadin; Fibi Eko Putra; Agus Andriyansyah
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1873

Abstract

Kontaminasi material slurry pada proses produksi dapat menyebabkan penurunan kualitas produk serta meningkatkan risiko cacat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab kontaminasi serta menentukan prioritas perbaikan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Fishbone Diagram, dan analisis 5W+1H. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan leader produksi, serta dokumentasi perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab kontaminasi berasal dari aspek manusia, metode, mesin, material, dan lingkungan. Berdasarkan analisis FMEA, diperoleh nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi pada faktor kebersihan alat dan prosedur kerja yang tidak konsisten. Rekomendasi perbaikan difokuskan pada peningkatan standar operasional prosedur (SOP), pelatihan operator, serta pengendalian lingkungan produksi. Implementasi perbaikan diharapkan mampu menurunkan risiko kontaminasi secara signifikan.
Strategi Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kain Tas Menggunakan Metode EOQ Dan POQ: (Studi Kasus : CV. SMY) Muhammad Risky Ficroni; Elly Ismiyah
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1875

Abstract

CV. SMY merupakan perusahaan konveksi tas yang masih melakukan pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan perkiraan sehingga pengelolaan persediaan belum berjalan secara optimal dan menyebabkan biaya persediaan menjadi kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan metode Economic Order Quantity (EOQ) dan Periodic Order Quantity (POQ) guna menentukan sistem pengendalian persediaan bahan baku kain tas hitam yang lebih efektif dan ekonomis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data periode November 2024–Oktober 2025 yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode POQ menghasilkan jumlah pemesanan optimal sebanyak 213 rol dengan frekuensi 7 kali pemesanan per tahun dan total inventory cost sebesar Rp. 8.150.137 per tahun. Sementara itu, metode EOQ menghasilkan total inventory cost sebesar Rp. 10.737.210 per tahun. Penelitian ini juga memperoleh safety stock sebesar 25,2 rol dan reorder point sebesar 65,6 rol untuk mengantisipasi keterlambatan pasokan dan kekurangan bahan baku selama proses produksi. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, metode POQ dinilai lebih efektif dan efisien dalam menekan biaya persediaan, mengurangi risiko kelebihan maupun kekurangan stok, serta mendukung kelancaran proses produksi pada CV. SMY.