cover
Contact Name
Zidnal Falah
Contact Email
jusindo.jsi@gmail.com
Phone
+6285322218207
Journal Mail Official
muhammadzidnal31@gmail.com
Editorial Address
Greenland Sendang Residence Blok H1, Sendang, Kec. Sumber, Cirebon, Jawa Barat 45611
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Published by Publikasi Indonesia
ISSN : 27753077     EISSN : 27750892     DOI : 10.36418
Core Subject : Health,
Ruang lingkup dan fokus penelitian terkait bidang kajian dengan penekanan pada pendekatan, yang meliputi: Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Kesehatan Kerja; Hyperkes), Kebijakan Kesehatan (dan Analis Kesehatan), Ilmu Gizi, Epidemiologi, Teknik Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan, Asuransi Jiwa dan Ilmu Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Ilmu Olah Raga, Ilmu Keperawatan, Kebidanan, Administrasi Rumah Sakit, Entomologi (Kesehatan, Fitopatologi), Ilmu Biomedis, Ergonomi, Fisiologi Kerja, Fisioterapi, Analis Medis, Fisiologi (Olahraga ), Reproduksi (Biologi dan Kesehatan), Akupunktur, Rehabilitasi Medis.
Articles 411 Documents
Analisa Pengaruh Karakteristik Pasien terhadap Hasil Calsium Score pada Pemeriksaan CT Scan Cardiac di Rumah Sakit Arifin Achmad Pekanbaru Provinsi Riau Syahputra, Febri Yoga
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.228

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian di dunia, dan salah satu cara untuk mendeteksi risiko PJK adalah melalui pemeriksaan Calcium Score menggunakan CT Scan Cardiac. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pasien terhadap hasil Calcium Score pada pemeriksaan CT Scan Cardiac di Rumah Sakit Arifin Achmad, Pekanbaru, Provinsi Riau. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional. Sampel penelitian terdiri dari 19 pasien yang menjalani pemeriksaan CT Scan Cardiac di Rumah Sakit Arifin Achmad. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, dan berat badan pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Mann-Whitney dan uji Friedman untuk menguji apakah ada pengaruh signifikan antara karakteristik pasien dan hasil Calcium Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara karakteristik pasien, seperti jenis kelamin, usia, dan berat badan, terhadap hasil Calcium Score pada pemeriksaan CT Scan Cardiac. Nilai p (sig) yang lebih besar dari 0,05 untuk semua variabel yang diuji menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut tidak mempengaruhi hasil Calcium Score. Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa karakteristik pasien yang biasa digunakan sebagai indikator risiko tidak selalu berpengaruh signifikan terhadap hasil pemeriksaan Calcium Score, dan pentingnya mempertimbangkan faktor lain dalam penentuan diagnosis dan pencegahan penyakit jantung koroner.
Tantangan dalam Mendiagnosis Leptospirosis pada Fasilitas Kesehatan Dasar di “Serambi Nusantara” Penajam Paser Utara: Laporan Kasus Priscillah, Wildan; Paramarta, Vip; Putri, Dhiya Nada
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.242

Abstract

Pendahuluan: Leptospirosis merupakan fenomena the tip of iceberg yang kenyataannya kasus ini meningkat tetapi sering mengalami misdiagnosis, under-diagnosis, dan under reported di pelayanan dasar kesehatan. Minimnya fasilitas dan belum adanya laboratorium untuk melakukan pemeriksaan Leptospirosis di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi tantangan seorang dokter untuk menegakkan diagnosis dan memberikan terapi pengobatan secara tepat dan akurat. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan dan tatalaksana Leptospirosis pada fasilitas kesehatan di Penajam Paser Utara. Hasil dan Pembahasan: Pasien Laki-laki berusia 42 tahun datang ke Puskesmas Sebakung Jaya, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dengan keluhan utama rasa sakit pada kaki, disertai demam, mual, dan nyeri kepala yang berlangsung selama dua hari. Pasien memiliki riwayat kadar asam urat yang tinggi. Pasien seorang petani yang memiliki kebiasaan tidak menggunakan alas kaki saat pergi ke sawah. Pasien dilakukan pengambilan sampel darah vena untuk dilakukan pemeriksaan Leptospirosis. Hasil pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode pemeriksaan PCR dengan Pockit Micro Plus didapatkan hasil pasien positif (+) Bakteri Leptospira sp. Pasien diberikan terapi sementara yaitu Doksisiklin 100 mg dua kali sehari selama 7 hari, Piroxicam 100 mg dua kali sehari, Aloopurinol 100 mg sekali sehari, dan Zink sekali sehari serta pasien diminta untuk kontrol kembali dalam waktu 3 hari setelah kunjungan. Pasien diberikan KIE untuk menggunakan sepatu pada saat pergi kesawah untuk meminimalisir faktor predisposisi. Kesimpulan: Minimnya fasilitas kesehatan dasar di Penajam Paser Utara menjadikan seorang dokter harus lebih sensitive lagi dalam penegakkan diagnosis khususnya pada kasus Leptospirosis sehingga dapat memberikan pertolongan pertama seperti pemberian antibiotik saat muncul gejala untuk menghindari kondisi yang lebih buruk.
Angiomatous Nasal Polyp: Laporan Kasus dan Pembahasan Literatur Herryanto, David; Leslie, Greatavia Meanda; Kristanto, Fernando Heri
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.247

Abstract

Polip Nasal Angiomatous (ANPs) adalah varian langka dari polip sinonasal inflamatori (ISP), ditandai oleh pertumbuhan pembuluh darah yang luas. ANPs harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding seperti polip antrochoanal, angiofibroma juvenil, keganasan, papiloma, dan hemangioma. Penelitian mengenai ANPs masih sangat terbatas, sehingga penegakan diagnosis memerlukan data klinis, radiologis, dan patologis yang mendalam. Laki-laki 21 tahun datang ke IGD dengan keluhan massa keluar dari hidung kiri selama 5 hari, epistaksis berulang dan hidung tersumbat selama sebulan terakhir. Pemeriksaan fisik menunjukkan massa merah kehitaman yang memenuhi cavitas nasal sinistra. CT scan menunjukkan massa poliposus sinonasal di antrum sinus maxillaris sinistra. Pasien didiagnosis rhinosinusitis kronis dengan polip angiomatous nasal grade 3. Pasien menjalani ekstirpasi massa, dan patologi mengkonfirmasi jaringan mukosa nasal dengan epitel berlapis gepeng dan pembuluh hiperemis. Nasoendoskopi pasca operasi tidak menunjukkan adanya massa polip yang tersisa. ANPs sulit didiagnosis karena gejalanya beragam dan mirip dengan kondisi neoplastik. Patogenesisnya diduga melibatkan gangguan pada pembuluh darah, stasis, edema, dan nekrosis. Evaluasi yang mendalam melalui pemeriksaan klinis, radiologis, dan patologis sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Penanganan ANPs umumnya melibatkan ekstirpasi massa, yang menunjukkan hasil baik dan rendahnya kekambuhan. Laporan kasus menunjukkan variasi gejala dan pentingnya evaluasi klinis, radiologis, dan patologis yang mendalam untuk diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang efektif.
Gambaran Pemeriksaan HbSAG (Hepatitis B), Periode Januari-Februari 2024 dengan Metode Immunochromatografi (ICT) di Virtudigilab, Nusa Dua Endrawati, Komang Juwita; Ginitri, Anak Agung Bulan; Melani, Ni Ketut Lyra Sakhya
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.251

Abstract

Virus Hepatitis B (HBV) merupakan virus yang mampu membuat terjadinya radang atau infeksi pada sel hati, yang dapat berkembang menjadi hepatitis akut maupun kronis. Infeksi kronis berisiko menyebabkan sirosis atau kanker hati. Deteksi dini infeksi HBV dapat dilakukan melalui pemeriksaan Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg), yaitu antigen permukaan yang ada dalam virus Hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan HBsAg serta menganalisis persentase pemeriksaan yang dilakukan selama periode Januari–Februari 2024 di Laboratorium VirtuDigilab Nusa Dua. Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif. Populasinya adalah pasien yang menjalani pemeriksaan HBsAg pada periode Januari-Februari 2024 dengan menggunakan metode deskriptif yang melibatkan 50 orang. Sampel berupa serum diuji menggunakan metode Immunochromatographic Test (ICT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96% sampel memiliki hasil HBsAg non-reaktif (-), sementara 4% menunjukkan hasil HBsAg positif. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar dilakukan dengan populasi sampel yang lebih besar serta dilanjutkan dengan pemeriksaan deteksi anti-HBsAg guna mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai status infeksi Hepatitis B.
Luaran Klinis Metode Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) dalam Praktek Klinis Sehari-hari: A Systematic Review dan Meta Analysis Hanafi, Tata; Susiyadi, Susiyadi; Riyanto, Refni; Almanfaluthi, M. Luthfi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.264

Abstract

Metode ERAS telah dikembangkan diberbagai ilmu bedah salah satunya pada bidang obstetri yang disebut ERACS, saat ini metode ERACS sudah menjadi kebutuhan pasien sectio caesarea. Oleh karena itu, tujuan tinjauan sistematis ini untuk mengetahui luaran klinis protokol ERACS dibandingkan protokol non ERACS. Pencarian literatur menggunakan database PubMed, science direct, Scopus, dan google scholar. Desain studi yang dimasukan dalam tinjauan sistematis berupa RCTs dan observasional. Dengan membandingkan protokol ERACS dan protokol Non ERACS. Semua analisis dimasukan menggunakan perangkat lunak Review Manager 5.4.1. Hasil tinjauan sistematis ini melibatkan 25.636 pasien dari total 32 artikel. Protokol ERACS menurunkan skor nyeri pasca operasi pada hari pertama dan hari kedua, readmision rate lebih rendah, lamanya tinggal di rumah sakit lebih pendek, pelepasan kateter urin dini dan mobilisasi dini. Dalam hal asupan oral, pasien ERACS jauh lebih baik dibandingkan pasien Non ERACS. Penggunaan opioid yang lebih sedikit pada pasien ERACS. Tetapi untuk hasil opioid yang diresepkan pada saat pulang (MME) tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Dan dalam komplikasi tidak tedapat perbedaan yang signifikan. Namun, komplikasi ibu secara keseluruhan didapatkan hasil yang signifikan. Pasien yang mengadopsi portokol ERACS memiliki berbagai manfaat seperti, menurunkan skor nyeri pasca operasi pada hari pertama dan hari kedua serta readmision rate lebih rendah. Tetapi dalam hal komplikasi tidak berbeda secara signifikan kecuali komplikasi ibu secara keseluruhan mendapatkan hasil yang signifikan.
Implementasi dan Evaluasi Strategi dalam Manajemen Rumah Sakit Caroline, Maria; Tarukallo, Noverio Michael samban; Marlinda, Rifi; Mentari, Putri
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.274

Abstract

Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan fundamental bagi setiap individu dan masyarakat. Rumah sakit memiliki peran penting dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Namun, dalam menghadapi tantangan seperti persaingan yang ketat dan perubahan regulasi, diperlukan strategi yang efektif untuk memastikan keberhasilan manajemen rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan pengelolaan rumah sakit melalui penerapan strategi yang efektif dan evaluasi yang berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi analisis kualitatif terhadap data manajemen rumah sakit, dengan fokus pada penetapan tujuan, pelibatan staf dalam implementasi, serta pengelolaan sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan strategi sangat bergantung pada evaluasi rutin untuk mengukur kinerja dan efektivitas, sehingga perbaikan dapat dilakukan secara tepat waktu. Pembahasan menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dengan pihak terkait, termasuk pemerintah, pasien, dan masyarakat, dalam mencapai tujuan manajemen yang optimal. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa manajemen rumah sakit yang efektif memerlukan pendekatan holistik yang mencakup strategi yang matang, evaluasi berkelanjutan, dan kolaborasi multi-stakeholder.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Pencegahan Virus Leptospirosis pada Kelompok Petani Wahyudiyanti, Arum; Isnaeni, Yuli; Suryani, Suryani
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.279

Abstract

Leptospirosis penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Di Indonesia sebanyak 1.408 kasus dengan 139 kematian, di Yogyakarata terdapat 86 kasus dan 10 kematian pada 2023. Pedukuhan Jipangan terdapat 5 kasus dan 2 kematian. Dukungan keluarga sangat penting bagi petani, minimnya perhatian atau motivasi dalam menyediakan peralatan pelindung diri, serta rendahnya pengetahuan individu tentang perilaku pencegahan leptospirosis dapat mempengaruhi perilaku yang buruk. Tujuan penelitian mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pencegahan virus leptospirosis pada kelompok Petani di Pedukuhan Jipangan Bantul. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Deskriptif Kolerasi menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah kelompok petani di Pedukuhan Jipangan, sampel diambil dengan teknik total Sampling dengan jumlah sampel 30 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan perilaku pencegahan. Teknik analisis data menggunakan uji non-parametrik Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menerima dukungan keluarga yang baik sebanyak 19 orang (63,3%), sementara perilaku pencegahan leptospirosis yang baik ditemukan pada 26 responden (86,7%). Berdasarkan hasil uji Chi-square, diperoleh nilai p = 0,019 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku pencegahan leptospirosis pada kelompok petani di Pedukuhan Jipangan, Bangunjiwo, Bantul. Temuan ini menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara tingkat dukungan keluarga dan penerapan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar keluarga meningkatkan dukungan, terutama dalam bentuk dukungan instrumental, guna memperkuat upaya pencegahan leptospirosis.
Dermatitis Kontak Iritan dengan Infeksi Sekunder Bakteri Pramesti, Indah; Lusiana, Lusiana; Sidiq, Hadi Firmansyah
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.281

Abstract

Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan peradangan kulit yang disebabkan oleh pajanan bahan yang bersifat iritan dan terjadi akibat reaksi non imunologi. Salah satu bagian tubuh yang sering terkena DKI yaitu tangan. Kelainan kulit tergantung sifat bahan iritan. Pada gejala akut ditimbulkan oleh iritan kuat, sedangkan gejala kronis timbul karena iritan lemah (air, bahan pelarut, deterjen, dan sabun). Infeksi sekunder bakteri terjadi ketika integritas kulit mengalami kerusakan dan imun lokal mengalami perubahan akibat penyakit kulit primer yang diikuti oleh infeksi bakteri. Dilaporkan sebuah kasus, pasien seorang wanita berusia 43 tahun, pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT), datang dengan keluhan bercak merah dengan luka bernanah pada jari tengah dan telapak tangan kanan dan kiri yang disertai rasa nyeri, perih, gatal, dan kulit terkelupas yang semakin memberat sejak 3 minggu SMRS. Keluhan saat ini muncul sejak 2 bulan SMRS dengan kelainan pada kulit yang sudah terinfeksi ditandai dengan adanya nanah. Pertama kali pasien mengalami hal serupa, yaitu tahun 2007. Keluhan selalu muncul sesudah pasien kontak dengan sabun cuci piring dan deterjen. Pasien membeli salep bethametasone, namun tidak perbaikan seperti biasanya. Riwayat alergi disangkal, pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi, dan riwayat keluarga dengan keluhan serupa yaitu ayah pasien. DKI didiagnosis dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada kasus ini pasien diedukasi untuk menghindari pajanan bahan iritan dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa sarung tangan. Selain itu, diberikan racikan clobetasol propionate cream 0.05% dan salicylic acid 3% 2x/hari, emolien 2x/hari, amoxicillin clavulanate 625 mg 3x/hari per oral, cetirizine 10mg 1x/hari per oral, dan amlodipine 5mg 1x/hari.
Analisis Tingkat Pengetahuan, Sikap, Perilaku Pencegahan Infeksi TB dan Risiko Penularan di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturrahman Pedurungan Semarang Hadipranoto, Ichsan; Afriansya, Roni; Rahayuni, Arintina
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.282

Abstract

Berdasarkan Laporan WHO Global TB Tahun 2020 dalam profil kesehatan Jawa Tengah menunjukkan sekitar 10 juta orang di dunia yang menderita TBC dimana perkiraan jumlah pasien TBC di Indonesia mencapai angka 845.000 orang. Adapun insiden tuberkulosis pada Propinsi Jawa Tengah pada Tahun 2020 mencapai sekitar 2261 per 100.000 penduduk. Dengan demikian hal ini akan menjadikan sebuah risiko serius karena dapat menjadi suatu muara bagi penularan orang-orang yang ada disekitar tempat tinggalnya. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan dengan tingkat risiko penularan TB di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturahhman, Pedurungan, Semarang. Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif kualitatif dengan strategi observasional dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) pendekatan statistik, dalam penelitian tersebut pengumpulan data primer dalam bentuk wawancara dan kuesioner dilakukan terhadap pengurus dan santri Di Panti Asuhan Riyaadlul Jannah Baiturrahman Pedurungan Semarang. Penelitian ini menggunakan uji Spearman Rho untuk menentukan ada tidaknya hubungan dan uji lanjutan regresi linear dummy. Setelah melalui uji korelasi Spearman Rho, diperoleh nilai signifikansi < 0,05, yang bermakna adanya hubungan yang signifikan (berarti) antara keenam variabel bebas tersebut dan variabel terikat (total tingkat risiko penularan TB Santri). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan ada pengaruh antara tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku serta faktor risiko riwayat santri, faktor risiko lingkungan dan faktor risiko fasilitas santri terhadap faktor risiko total penularan TB pada santri. Perbaikan maupun pengembangan model dan desain penelitian menggunakan sampel yang lebih besar dan instrumen yang lebih lengkap dapat dilakukan pada penelitian berikutnya.
Laporan Kasus Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Dengan Manifestasi Atipikal: Tantangan Diagnostik Dan Penatalaksanaan di Fasilitas Kesehatan Dengan Keterbatasan Diagnostik Prakoso, Iqbal Adi; Wijaya, Muhammad Satri Delta; Kathrine, Anita Septiana Maria
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.285

Abstract

Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) merupakan bagian dari sindrom koroner akut (SKA), yang sering kali ditandai dengan nyeri dada tipikal dan atipikal. Manifestasi atipikal dapat menyulitkan diagnosis dini, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi fatal. Dilaporkan seorang pria 53 tahun dengan keluhan nyeri dada menjalar ke punggung dan lengan kiri, disertai keringat dingin. Gejala awal berupa nyeri atipikal yang berubah menjadi tipikal. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol, kebiasaan merokok, obesitas (IMT 30,3), dan pola makan tidak sehat. Diagnosis NSTEMI ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil EKG (T-inversi pada lead V1-V4). Penatalaksanaan meliputi terapi farmakologis sesuai panduan, namun keterbatasan fasilitas menghambat tindakan invasif seperti angiografi koroner. Manifestasi atipikal sering ditemukan pada pasien dengan faktor risiko seperti diabetes, usia lanjut, dan wanita. Penanganan NSTEMI melibatkan kombinasi terapi farmakologis, evaluasi risiko menggunakan skoring (TIMI, GRACE), dan strategi invasif bila tersedia. Diagnosis dini sangat penting meskipun dengan keterbatasan fasilitas diagnostik. Kesimpulan: Kasus ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan penanganan NSTEMI terutama di fasilitas dengan sumber daya terbatas. Edukasi pasien dan keluarga tentang kontrol faktor risiko serta kepatuhan terapi menjadi kunci pencegahan komplikasi berulang.