Bandung Conference Series: Psychology Science
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
490 Documents
Pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagement pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Bandung
Fernanda Dwi Fadhilah;
Djamhoer, Temi Damayanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10046
Abstract. Work engagement in an organization is an important thing to pay attention to because it is very important for the overall work function of employees and the sustainability of the organization. One of the efforts to increase work engagement is by doing job crafting or modification in work. This study aims to determine how much influence job crafting has on work engagement in elementary school teachers. The research method used is the causality method through multiple regression analysis with 373 public elementary school teachers in Bandung as subjects, including 10 elementary schools in Bandung City and 4 elementary schools in Bandung Regency. The measuring instruments used in this study are Job Crafting Scale developed by Tims [10], and adapted by Astuti (2023) and Utrecht Work Engagement Scale developed by Schaufeli & Bakker [12]. The results showed that public elementary school teachers in Bandung had a high level of job crafting, which amounted to 96.8%. In addition, the teachers also have a high level of work engagement, which is 99.2%. The effect of job crafting on work engagement found is 52% with the increasing structural job resources dimension as the dimension that has the highest value. Increasing structural job resources is done through efforts to utilize opportunities to develop and optimize personal abilities. Abstrak. Keterikatan kerja atau work engagement pada suatu organisasi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena sangat penting untuk keseluruhan fungsi kerja karyawan dan keberlanjutan organisasi. Salah satu upaya untuk meningkatkan work engagement adalah dengan melakukan job crafting atau modifikasi dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh job crafting terhadap work engagement pada guru sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausalitas melalui analisis regresi berganda dengan 373 guru Sekolah Dasar Negeri di Bandung sebagai subjek, mencakup 10 SDN di Kota Bandung dan 4 SDN di Kabupaten Bandung. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Job Crafting Scale yang dikembangkan Tims [10], dan diadaptasi oleh Astuti (2023) dan Utrecht Work Engagement Scale yang dikembangkan oleh Schaufeli & Bakker [12]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guru Sekolah Dasar Negeri di Bandung memiliki tingkat job crafting yang tinggi, yaitu sebesar 96.8%. Disamping itu, para guru juga memiliki tingkat work engagement yang tinggi, yaitu sebesar 99.2%. Pengaruh job crafting terhadap work engagement yang ditemukan adalah 52% dengan dimensi increasing structural job resources sebagai dimensi yang memiliki nilai paling tinggi. Increasing structural job resources dilakukan melalui upaya pemanfaatan kesempatan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kemampuan diri.
Gambaran Kecemasan Perubahan Iklim pada Mahasiswa di Kota Bandung
Ferani Suciana;
Milda Yanuvianti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10050
Abstract. Climate change is threatening human life and well-being. Human health affected by climate change is now a global concern. Bandung is one of the cities in Indonesia that is vulnerable to climate change. The emergence of the phenomenon of fear and concern is felt as an impact of climate change. This phenomenon is referred to as climate change anxiety (Clayton & Karazsia, 2020). This study aims to look at the description of anxiety about climate change among students in Bandung City. Climate anxiety is climate change anxiety as a negative response associated with concerns about climate change (Clayton & Karazsia). The participants in this study were 270 students in Bandung City. This research is a quantitative descriptive research. The measuring instrument used to measure climate anxiety is the Climate Anxiety scale developed by Clayton and Karazsia (2020). The results showed that 168 students with a percentage of 62.2% experienced anxiety at a low level and 102 respondents or students with a percentage of 32.8% experienced anxiety at a high level. Abstrak. Perubahan iklim telah mengancam kehidupan serta kesejahteraan manusia. Kesehatan manusia yang dipengaruhi oleh perubahan iklim kini menjadi perhatian global. Kota Bandung menjadi salah satu kota di Indonesia yang memiliki tingkat rentan terhadap perubahan iklim. Munculnya fenomena ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan sebagai dampak dari terjadinya perubahan iklim. Fenomena tersebut disebut sebagai kecemasan perubahan iklim (Clayton & Karazsia, 2020). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecemasan terhadap perubahan iklim pada mahasiswa di Kota Bandung. Kecemasan iklim merupakan kecemasan perubahan iklim sebagai respons negatif yang terkait dengan kekhawatiran terhadap perubahan iklim (Clayton & Karazsia). Pertisipan pada penelitian ini adalah 270 mahasiswa yang berada di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan iklim adalah alat ukur Climate Anxiety scale yang dikembangkan oleh Clayton dan Karazsia (2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 168 mahasiswa dengan persentase 62.2% mengalami kecemasan pada tingkat rendah dan 102 responden atau mahasiswa dengan persentase 32.8% mengalami kecemasan pada tingkat tinggi.
Pengaruh Sikap Mengenai Bullying terhadap Perilaku Prososial Santri Bystander di Pondok Pesantren
Khoirotun Nisa, Luthfiah;
Nurul Khasanah, Andhita
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10051
Abstract. Islamic boarding schools are schools with the characteristic of teaching Islamic religious values. Adolescents who are in Islamic boarding schools will adapt or adjust themselves to various conditions within the scope of Islamic boarding schools. Cases of bullying in Islamic boarding schools are increasing because there are teenagers who become observers (bystanders) watching bullying incidents directly in front of their eyes which makes the perpetrators of bullying become reinforcements in carrying out bullying behavior. This research used a quantitative experimental method with a total of 344 MTS Islamic boarding school students in Bandung City as subjects. The measuring instrument used in this research uses the Attitude Scale which measures attitudes regarding bullying and the Prosocial Tendencies Measure (PTM) measuring instrument which measures prosocial behavior. The research results show that there is no influence of bullying attitudes on the prosocial behavior of Islamic boarding school observer students (Sig. 0.167 > 0.05). Abstrak. Pondok pesantren merupakan sekolah dengan ciri khas mengajarkan nilai agama islam. Remaja yang berada di pondok pesantren akan beradaptasi atau menyesuiakan dirinya dengan berbagai macam kondisi dalam ruang lingkup pondok pesantren. Kasus bullying di dalam pesantren semakin meningkat karena terdapat remaja yang menjadi pengamat (bystander) menonton kejadian bullying secara langsung di depan mata yang menjadikan pelaku bullying sebagai penguat dalam melakukan perilaku bullying. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan jumlah subjek 344 santri MTS pondok pesantren di Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Attitude Scale yang mengukur sikap mengenai bullying dan alat ukur Prosocial Tendencies Measure (PTM) yang mengukur perilaku prososial. Uji hipotesis dengan pengolahan data dilakukan dengan program SPSS. Hasil penelitan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh sikap mengenai bullying terhadap perilaku prososial santri pengamat pondok pesantren (Sig. 0,167 > 0,05).
Studi Deskripsi Subjective Well-Being Korban Poliviktimisasi Perundungan di Kota Bandung
Labibah Nur Hasanah;
Borualogo, Ihsana Sabriani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10052
Abstract. Bullying has a negative impact on the subjective well-being (SWB) of children and adolescents. In Indonesia, there is a lot of research discussing bullying and its relationship with the SWB of children, but research on polyvictimization of bullying is still limited. Polyvictimization of bullying is a condition where students experience more than one form of bullying incident conducted by different perpetrators in different settings. This study aims to provide a description of cases of polyvictimization of bullying in schools by other student in school and also at home conducted by siblings experienced by junior high school students in the city of Bandung, and how their SWB is described. Participants in this study were junior high school students in Bandung in grades 7, 8, and 9 (N = 160) with a gender ratio of 56.3% female and 43.8% male. The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools used included the frequency of bullying from Children's Worlds (α = 0.895), socio-economic status (SES), CW-PNAS (α = 0.975), and CW-SWBS5 (α = 0.525). The results of the study showed that the average SWB scores of male students who were victims of polyvictimization of bullying (M = 79.0; SD = 22.1) were higher than the SWB scores of female students (M = 59.7; SD = 30.2). Female students also showed a more dominant negative affect (M = 67; SD = 30.5) compared to male students (M = 53; SD = 31.8). Overall, junior high school students who were victims of polyvictimization of bullying in Bandung had SWB scores (M = 68.1; SD = 27.4), which means that these students did not feel a sense of well-being. Abstrak. Perundungan memberikan dampak yang negatif teerhadap subjective well-being (SWB) anak dan remaja. Di Indonesia banyak penelitian yang membahas mengenai perundungan dan hubungannya dengan SWB anak, namun penelitian yang membahas mengenai poliviktimisasi perundungan masih terbatas. Poliviktimisasi perundungan adalah kondisi di mana siswa mengalami lebih dari satu perundungan yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda dan dilakukan pada setting tempat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi kasus poliviktimisasi perundungan di sekolah dan di rumah oleh siswa lain di sekolah dan juga saudara kandung yang dialami oleh siswa SMP di Kota Bandung dan bagaimana deskripsi SWB mereka. Partisipan pada penelitian ini adalah siswa SMP di Kota Bandung yang berada di kelas 7, 8 dan 9 SMP (N = 160) dengan perbandingan jenis kelamin sebanyak 56.3% perempuan, 43.8% laki-laki. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah frekuensi perundungan dari Children’s Worlds (α=.895), socio economic status (SES), CW-PNAS (α=.975) dan CW-SWBS5 (α=.525). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor SWB siswa laki-laki korban poliviktimisasi perundungan (M = 79. ; SD = 22.1) lebih tinggi dibandingkan dengan skor SWB siswa perempuan (M = 59.7; SD = 30.2). Siswa perempuan juga menunjukkan lebih dominan negative affect (M = 67; SD = 30.5) dibandingkan dengan siswa laki-laki (M = 53; SD = 31.8). Secara keseluruhan siswa SMP yang menjadi korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung memiliki skor SWB (M = 68.1; SD = 27.4), yang berarti siswa SMP korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung tidak merasa well-being.
Dinamika Self Esteem pada Perempuan Fatherless dalam Menjalin Relasi Romantis
Jihaan Adilah Mochtar Arief K;
Dr. Yunita Sari, M.Psi., Psikolog
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10053
Abstract. The increase in fatherless cases in Indonesia is alarming. Fatherless also has an impact on a girl's life which will affect self-esteem while self-esteem and romantic relationships influence each other. This study aims to determine the dynamics of self-esteem in fatherless women in romantic relationships. Phenomenological method is used in this research. The data analysis technique uses descriptive phenomenology (PFD). Data collection was done by interview. All participants were female and experienced fatherless and aged 18-25 years old who were selected by purposive sampling technique. The results showed that both participants experienced increasingly negative self-perceptions after undergoing poor romantic relationships. In contrast to participants three who experienced positive self-assessment, due to factors in the quality of romantic relationships. The dynamics of self-esteem in fatherless women have a similar pattern, due to the similarity of backgrounds, namely not having a close relationship with the father. The dynamics of self-esteem are also influenced by the quality of romantic relationships, the role of maternal support and relationships with friends. Abstrak. Peningkatan kasus fatherless atau kehilangan figur ayah di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Fatherless juga berdampak dalam kehidupan seorang anak perempuan yang akan berpengaruh pada self-esteem sedangkan Self-esteem dan hubungan romantis saling mempengaruhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika self-esteem pada perempuan fatherless dalam relasi romantis. Metode fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Teknik analisis data menggunakan fenomenologis deskriptif (PFD). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara. Seluruh partisipan berjenis kelamin perempuan dan mengalami fatherless dan berusia 18-25 tahun yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua partisipan mengalami persepsi diri yang semakin negatif setelah menjalani relasi romatis yang buruk. Berbeda dengan partisipa tiga yang mengalami penilaian diri yang positif, dikarenakan adanya faktor pada kualitas relasi romantis. Dinamika terjadinya self-esteem pada perempuan fatherless memiliki pola yang serupa, dikarenakan adanya kesamaan latar belakang yakni tidak memiliki relasi kedekatan dengan ayah. Dinamika terjadinya self-esteem juga di pengaruhi oleh adanya faktor kualitas relasi romantis, peran dukungan ibu dan relasi dengan teman-teman.
Gambaran Intimacy terhadap Pria Dewasa
Azizah Khairunnisa;
Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10056
Abstract. The issue of infidelity that is rampant in Indonesia is mostly found in men because the perception of marital intimacy in men itself can vary depending on various factors. One of them is individual experience in sharing intimate experiences in several areas in the hope that the relationship can last over time. This study aims to determine the picture of intimacy in adult men. This study uses descriptive statistical technique method with non probability sampling technique, namely purposive sampling. The measuring instrument used in this study uses the Personal Assessment of Intimacy in Relationship (PAIR) which measures the intimacy of romantic relationships. The research location was in Bandung City with a total of 101 participants who were married men in young adulthood with a marriage age of 1-5 years. The results of this study indicate that the intimacy of adult men is in the high category (50.5%) which means that they have intimacy in their relationship with their partner. Abstrak. Isu perselingkuhan yang marak terjadi di Indonesia banyak ditemukan pada pria karena persepsi keintiman pernikahan pada pria itu sendiri bisa berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor. Salah satunya adalah pengalaman individu dalam berbagi pengalaman intim di beberapa area dengan harapan hubungan tersebut dapat bertahan dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keintiman pada pria dewasa. Penelitian ini menggunakan metode teknik statistik deskriptif dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling, yaitu purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Personal Assessment of Intimacy in Relationship (PAIR) yang mengukur keintiman hubungan romantis. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Bandung dengan jumlah partisipan sebanyak 101 orang pria yang sudah menikah pada usia dewasa muda dengan usia pernikahan 1-5 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keintiman pria dewasa berada pada kategori tinggi (50,5%) yang berarti memiliki keintiman dalam hubungannya dengan pasangan.
Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Intensi Turnover Karyawan Hotel Bintang Tiga
Alfiyah, Hilmy Aulia;
Widawati, Lisa;
Utami, Ayu Tuty
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10059
Abstract. The hospitality industry in Indonesia is a rapidly growing economic sector and has an important role in supporting tourism and the national economy. Where in this development is accompanied by a high turnover intention in Indonesia, especially for employees who work in the hospitality industry in the hospitality sector. One of the factors that encourage hotel employees to change workplaces is the perception that the quality of their work life has not been fulfilled properly. The purpose of this study is to see the extent of the influence of quality of work life on turnover intention in hotel employees. This study used a non-experimental quantitative method, involving 98 respondents and applying a simple regression analysis test. The measuring instrument for the quality of work life variable was adapted by Wardani (2019), which refers to Walton's (1973) measuring instrument. While the measuring instrument for the turnover intention variable was adapted by Tata Saefullah (2019), which refers to Mobley's (1978) measuring instrument. The results of simple regression analysis show that quality of work life is significantly correlated to turnover intention. This correlation is indicated by the negative regression coefficient (quality of work life = -0.069), which shows that the higher the quality of work life, the lower the turnover intention. In addition, the coefficient of determination reveals that 16.2% of the turnover intention variable is influenced by the variables in quality of work life. Abstrak. Industri perhotelan di Indonesia adalah sektor ekonomi yang berkembang pesat dan memiliki peran penting dalam mendukung pariwisata dan ekonomi nasional. Dimana dalam perkembangan ini disertai adanya intensi turnover yang tinggi di Indonesia, terutama pada karyawan yang bekerja di industri hospitality bidang perhotelan. Salah satu faktor yang mendorong karyawan hotel untuk berpindah-pindah tempat kerja adalah persepsi bahwa kualitas kehidupan kerjanya belum terpenuhi dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap intensi turnover pada karyawan hotel. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental, dengan melibatkan 98 responden dan menerapkan uji analisis regresi sederhana. Alat ukur untuk variabel kualitas kehidupan kerja diadaptasi oleh Wardani (2019), yang merujuk pada alat ukur Walton (1973). Sementara alat ukur untuk variabel intensi turnover, diadaptasi oleh Tata Saefullah (2019), yang merujuk pada alat ukur Mobley (1978). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja berkorelasi signifikan terhadap intensi turnover. Korelasi ini ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi bertanda negatif (kualitas kehidupan kerja = -0.069), yang memperlihatkan semakin tinggi kualitas kehidupan kerja maka semakin rendah intensi turnover. Selain itu, koefisien determinasi mengungkapkan bahwa sebesar 16.2% dari variabel intensi turnover dipengaruhi oleh variabel dalam kualitas kehidupan kerja.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Work Engagement pada Guru SLB
Shofy Chaerunnisa Zahara;
Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10060
Abstract. The lack of special school teachers is a problem because they will experience an increase in workload. This increase in workload will affect teacher performance so that it requires an engaged condition to improve teacher performance. Work engagement is a positive psychological construct in which employees feel enthusiastic at work. Perceived organizational support according to Eisenberger et al., (1986) is the employee's perception of the extent to which the organization appreciates their contribution during work and cares about their welfare. This study aims to determine how much influence perceived organizational support has on work engagement in special education teachers in Cirebon Regency. The method used in this research is quantitative method. The subjects in this study were 87 special school teachers in Cirebon Regency. The data analysis technique used is simple linear regression. The measuring instrument used in this study is SPOS (Survey Perceived Organizational Support) which refers to the theory of Eisenberger et al. (1986) and adapted by Kurniawan and Harsono (2021) and the UWES (Utrecht Work Engagement Scale) measuring instrument adapted by Kristiana et al. (2018). The results of this study indicate that Perceived Organizational Support only has an effect of 6.5% on Work Engagement. Abstrak. Kurangnya jumlah guru sekolah luar biasa menjadi sebuah masalah karena akan mengalami peningkatan beban kerja. Peningkatan beban kerja ini nantinya akan mempengaruhi kinerja guru sehingga membutuhkan kondisi yang engaged untuk meningkatkan kinerja guru. Work engangement merupakan konstruks psikologi positif yang dimana para karyawan merasa antusias dalam bekerja. Perceived organizational support menurut Eisenberger et al., (1986) merupakan persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi menghargai kontribusi mereka selama bekerja dan peduli akan kesejahteraan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perceived organizational support terhadap work engagement pada guru SLB di Kabupaten Cirebon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Subjek pada penelitian ini adalah guru sekolah luar biasa di Kabupaten Cirebon sebanyak 87 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah SPOS (Survey Perceived Organizational Support) yang mengacu pada teori Eisenberger et al. (1986) dan diadaptasi oleh Kurniawan dan Harsono (2021) dan alat ukur UWES (Utrecht Work Engagement Scale) yang diadaptasi oleh Kristiana et al. (2018). Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa Perceived Organizational Support hanya memberikan pengaruh sebesar 6,5% terhadap Work Engagement.
Pengaruh Sikap Mengenai Bullying terhadap Perilaku Prososial Siswa Bystander di SMP Islam Terpadu
Arda Fadilla, Raisya;
Nurul Khasanah, Andhita
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10062
Abstract. Integrated Islamic Schools (SIT) are schools that implement a curriculum in which general education and Islamic education are combined. Islamic-based schools emphasize Islamic ethical and moral values, which not all students always understand and apply religious values in their daily lives. Lack of understanding and awareness of religious values and norms can lead to actions that are not in accordance with religious teachings, one of which is bullying behavior. This research uses quantitative methods with a true-experiment design with probability sampling techniques, namely stratified random sampling with 386 participants. Researchers distributed questionnaires to collect participants. The measuring instruments used in this research used the Attitudes Against Bullying Scale which measures attitudes regarding bullying and the Prosocial Tendencies Measure (PTM) measuring instrument which measures prosocial behavior. Analysis of this research data used two-way ANOVA and multiple linear regression analysis. Hypothesis testing with data processing was carried out using the SPSS program. The results show that there is an influence of attitudes towards bullying on the prosocial behavior of bystander students at Integrated Islamic Middle School (Sig. 0.00 < 0.05). Abstrak. Sekolah Islam Terpadu (SIT) adalah sekolah yang menerapkan kurikulum dengan di antaranya pendidikan umum dan pendidikan Islam disatukan. Sekolah berbasis Islam menekankan nilai-nilai etika dan moral Islam, yang tidak semua siswa selalu memahami dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kesehariannya. Kurangnya pemahaman dan kesadaran akan nilai dan norma agama dapat menyebabkan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama, yaitu salah satunya perilaku bullying. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain true-experiment dengan teknik sampling probability sampling yaitu stratified random sampling dengan partisipan berjumlah 386. Peneliti menyebarkan angket kuesioner untuk menjaring partisipan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Skala Sikap Terhadap Bullying yang mengukur sikap mengenai bullying dan alat ukur Prosocial Tendencies Measure (PTM) yang mengukur perilaku prososial. Analisis data penelitian ini menggunakan two-way ANOVA dan analisis regresi linier berganda. Uji hipotesis dengan pengolahan data dilakukan dengan program SPSS. Hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh sikap atas bullying terhadap perilaku prososial siswa bystander SMP Islam Terpadu (Sig. 0,00 < 0,05).
Pengaruh Pola Asuh Otoriter terhadap Kecerdasan Emosi Remaja di Kota Bandung
Icha Dwi Septyawati;
Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10064
Abstract. Authoritarian parenting consistently correlates with the development of adolescents leading to negative behaviors. This is due to the high control but low closeness and communication in implementing authoritarian parenting, causing adolescents to struggle in developing their emotional intelligence. While many parents may be aware of the negative impact of applying authoritarian parenting in educating adolescents, this research focuses on adolescents' perceptions of the parenting style applied by their parents. Thus, there may be differences in opinions regarding the perspective of parenting styles between parents and adolescents in the city of Bandung. This study aims to examine the influence of parents' authoritarian parenting on the emotional intelligence of adolescents in Bandung, using a quantitative causality approach. The research sample consists of 151 adolescents in Bandung. The analysis technique used is simple regression analysis. The measurement tools used include the authoritarian parenting measurement tool created by Emmanuel M. (2017), referring to Baumrind's theory, and the emotional intelligence measurement tool created by the researcher based on Goleman's theory. The hypothesis test results show a significance value of 0.000 < α = 0.05, indicating an influence between variable X and variable Y, with an influence of 50.4% from the R-square result showing a figure of 0.504. In this study, the influence of variable X on Y is in a negative direction. The higher the perceived implementation of authoritarian parenting by parents, the lower the emotional intelligence of adolescents in Bandung. Abstrak. Pola asuh otoriter secara konsisten dikaitkan dengan perkembangan remaja yang mengarah pada perilaku yang negatif. Hal ini dikarenakan adanya kontrol yang tinggi, namun kedekatan dan komunikasi yang rendah, pada penerapan pola asuh otoriter orang tua kepada remaja membuat remaja mengalami kesulitan dalam mengembangkan kecerdasan emosinya. Mungkin saja banyak orang tua yang sudah mengetahui dan memahami akan dampak buruk menerapkan pola asuh otoriter dalam mendidik remaja, namun pada penelitian ini mengacu pada persepsi remaja mengenai pola asuh yang diterapkan oleh orang tua mereka, sehingga mungkin saja terjadi adanya perbedaan pendapat mengenai sudut pandang dalam penerapan pola asuh antara orang tua dan remaja di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap kecerdasan emosional remaja di Kota Bandung, dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif kausalitas. Sampel penelitian adalah 151 remaja di Kota Bandung. Teknis analisis yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Menggunakan alat ukur pola asuh otoriter yang dibuat oleh Emmanuel M. (2017) yang mengacu pada teori Baumrind dan alat ukur kecerdasan emosi yang dibuat oleh peneliti berdasarkan teori Goleman. Hasil uji hipotesis menunjukkan hasil nilai sig. sebesar 0.000 < α= 0.05, sehingga terdapat pengaruh antara variabel X terhadap variabel Y, dengan pengaruh sebesar 50.4% dari hasil R square sebesar 0.504. Dalam penelitian ini, pengaruh variabel X terhadap Y mengarah pada arah yang negatif. Semakin tinggi penerapan pola asuh otoriter orang tua yang dipersepsi remaja, maka akan semakin rendah kecerdasan emosi remaja di Kota Bandung.