cover
Contact Name
Oris Krianto Sulaiman
Contact Email
oris.ks@ft.uisu.ac.id
Phone
+6281361694230
Journal Mail Official
pubhealt@gmail.com
Editorial Address
Jl. Imam Bonjol No. 9 Forum 9th Floor, Kota Medan, Sumatera Utara 20112
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat
Published by Ilmu Bersama Center
ISSN : -     EISSN : 28307224     DOI : https://doi.org/10.56211/pubhealth
Core Subject : Health,
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat merupakan jurnal yang membahas ilmu di bidang Kesehatan Masyarakat, jurnal ini juga sebagai wadah untuk menuangkan hasil penelitian baik secara konseptual maupun teknis yang berkaitan dengan Kesehatan Masyarakat. PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat terbit 4 kali dalam setahun yaitu pada bulan Juli, Oktober, Januari dan April. Terbitan pertama adalah bulan Juli 2022. Naskah yang masuk akan diterima oleh editor untuk kemudian kan dilakukan pemeriksaan kemiripan naskah dengan aplikasi Plagiarism Checker X. Proses review dilakukan dengan menggunakan peer review. PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat menerima naskah dengan topik Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Biostatistik dan Kependudukan, Epidemiologi, Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Kesehatan Lingkungan, Gizi Masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Mutidisiplin terkait dengan ilmu Kesehatan dan Kedokteran.
Articles 115 Documents
Bilateral Peritonsillar Cellulitis in a 38-Year-Old Female: A Case Report Laksono, Rian Kurniawan; Pinzon, Nicholas Adriel; Prameswari, Aurora Putri; Negoro, Maydeline Kezia Puspa
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1521

Abstract

Peritonsillar cellulitis represents an inflammatory reaction of the tissue between the palatine tonsil capsule and pharyngeal muscles without pus collection, representing a stage in the progression from acute tonsillitis to peritonsillar abscess. Bilateral involvement is uncommon and presents diagnostic challenges as classic unilateral signs are absent. Case report: A 38-year-old female presented with five days of progressive sore throat, fever, dysphagia, and hot potato voice. Physical examination revealed bilateral peritonsillar swelling, hyperemia, and edema with T3-T3 tonsillar hypertrophy and exudate. Aspiration of both peritonsillar areas produced no pus. Laboratory studies demonstrated leukocytosis with neutrophilia. The patient was admitted and treated with intravenous third generation cephalosporin (ceftriaxone), metronidazole, glucocorticoid (methylprednisolone), and supportive care. After three days, swelling subsided, leading to discharge with plans for interval tonsillectomy. Conclusion: This case demonstrates that bilateral peritonsillar cellulitis can mimic abscess clinically but requires different management. Negative aspiration distinguishes cellulitis from abscess, guiding conservative treatment and timing of definitive surgical intervention.  
Persepsi dan Hambatan Orang Tua dalam Mengikuti Program Pendidikan Pengelolaan DA di Fasilitas Primer: Studi Fenomenologi di Puskesmas Secanggang Afriyanti, Dhewi Sri; Wasliati, Balqis; Karo–karo, Tati Murni; Herlina, Herlina; Sirait, Reni Aprinawaty
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1580

Abstract

Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis pada anak yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan keterlibatan aktif orang tua. Program pendidikan orang tua di fasilitas kesehatan primer menjadi strategi penting dalam meningkatkan kemampuan keluarga mengelola DA. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi dan hambatan orang tua dalam mengikuti Program Pendidikan Pengelolaan DA di Puskesmas Secanggang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 10 orang tua yang memiliki anak usia 0–5 tahun dengan diagnosis DA dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memiliki motivasi tinggi untuk mengikuti program, pengalaman positif selama proses edukasi, serta memaknai program sebagai, meskipun motivai tinggi dan sarana pemberdayaan dalam pengelolaan DA anak banyak hambatan berupa keterbatasan waktu kerja, jarak ke Puskesmas dan kurangnya dukungan keluarga. Program pendidikan berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku perawatan, dan penurunan kecemasan orang tua.
Analisis Faktor Ergonomi dan Individu terhadap Risiko Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Dokter Gigi: Systematic Literature Review Ranjani, Aisyah Asylah; Rini, Willia Novita Eka; Aswin, Budi
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1583

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan gangguan muskuloskeletal akibat kerja yang banyak ditemukan pada profesi dokter gigi, terutama akibat paparan faktor ergonomi dan faktor individu secara kumulatif. Literature review ini bertujuan untuk mengkaji faktor ergonomi kerja dan faktor individu yang berperan dalam meningkatkan risiko kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada dokter gigi. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci Carpal Tunnel Syndrome, dentist, ergonomic risk factors, repetitive movement, dan work-related musculoskeletal disorders. Dari hasil penelusuran ditemukan 396 artikel dan yang memenuhi seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh 15 artikel ilmiah yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa gerakan tangan repetitif dengan durasi lama, postur kerja pergelangan tangan yang tidak netral (fleksi, ekstensi, dan deviasi ulnar atau radial), serta durasi tindakan klinis yang panjang (>30 menit) secara konsisten meningkatkan tekanan pada terowongan karpal dan menjadi faktor risiko utama terjadinya CTS pada dokter gigi. Paparan alat kedokteran gigi yang menghasilkan getaran juga berkontribusi terhadap peningkatan gangguan saraf perifer dan memperberat gejala CTS. Selain faktor pekerjaan, usia yang lebih tua dan masa kerja yang panjang berperan sebagai faktor predisposisi yang memperkuat kejadian CTS, sedangkan indeks massa tubuh (IMT) tinggi cenderung meningkatkan risiko melalui peningkatan tekanan jaringan lunak pada terowongan karpal. Dapat disimpulkan bahwa CTS pada dokter gigi merupakan masalah kesehatan kerja yang bersifat multifaktorial, di mana faktor ergonomi kerja bertindak sebagai pemicu utama, dan faktor individu memperkuat tingkat keparahan dan kejadian CTS. Penerapan ergonomi kerja yang baik, pengendalian durasi tindakan klinis, serta upaya pencegahan berbasis kesehatan kerja diperlukan untuk menurunkan risiko CTS pada dokter gigi.
Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Musculoskeletal Disorders pada Dokter Gigi: Systematic Literature Review Rahmanda, Haliva Asih; Rini, Willia Novita Eka; Kusmawan, David
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1584

Abstract

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang banyak dialami oleh tenaga kesehatan, khususnya dokter gigi, akibat tuntutan pekerjaan yang melibatkan postur kerja tidak ergonomis, posisi statis dalam durasi lama, serta gerakan berulang selama tindakan klinis. Kondisi tersebut menyebabkan dokter gigi memiliki risiko tinggi mengalami keluhan musculoskeletal yang dapat berdampak pada penurunan kenyamanan kerja, produktivitas, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif faktor-faktor ergonomi dan faktor individu yang berhubungan dengan kejadian Musculoskeletal Disorders pada dokter gigi melalui metode literature review. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Berdasarkan proses penelusuran dan seleksi terhadap 86 artikel literatur yang diperoleh, sebanyak 15 artikel yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2015–2025 memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara naratif dalam penelitian ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor pekerjaan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian MSDs pada dokter gigi, meliputi postur kerja tidak ergonomis, posisi statis dalam waktu lama, durasi kerja harian yang panjang, gerakan kerja berulang, serta tingginya beban kerja. Selain itu, faktor individu seperti usia, masa kerja, indeks massa tubuh, dan riwayat keluhan muskuloskeletal juga berkontribusi terhadap terjadinya MSDs, meskipun pengaruhnya relatif lebih kecil dibandingkan faktor pekerjaan. Oleh karena itu, penerapan prinsip ergonomi kerja, penyesuaian fasilitas dan lingkungan kerja, serta edukasi ergonomi secara berkelanjutan diperlukan sebagai upaya pencegahan untuk menurunkan risiko Musculoskeletal Disorders pada dokter gigi.
Genitourinary Syndrome of Menopause dan Kualitas Hidup Perempuan Lanjut Usia: Systematic Literature Review Oktaviani, Perly Otis Putri; Juariah, Siti
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1588

Abstract

Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM) merupakan kumpulan gejala urogenital akibat penurunan hormon estrogen pada perempuan pascamenopause dan dapat menetap hingga usia lanjut. Kondisi ini sering tidak terdiagnosis meskipun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup perempuan lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis bukti ilmiah mengenai hubungan antara GSM dan kualitas hidup perempuan lanjut usia pascamenopause. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data internasional bereputasi dengan kriteria artikel terindeks Scopus kuartil Q1–Q3 dan jurnal nasional terakreditasi, diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif melalui sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa GSM berhubungan erat dengan penurunan kualitas hidup, terutama pada domain fisik seperti nyeri dan ketidaknyamanan urogenital, domain psikologis seperti kecemasan dan penurunan kepercayaan diri, serta domain sosial dan seksual yang ditandai dengan gangguan relasi intim dan kecenderungan menarik diri dari pasangan. Selain itu, GSM sering tidak dilaporkan secara aktif oleh perempuan lanjut usia karena dianggap bagian normal dari penuaan. Simpulan kajian ini menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran, skrining dini, dan penatalaksanaan GSM yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan lansia pascamenopause.
Biofeedback Device sebagai Adjuvan Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) untuk Stress Urinary Incontinence pada Ibu Postpartum: Systematic Literature Review Juariah, Siti; Oktaviani, Pearly Otis Putri
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1590

Abstract

Stress urinary incontinence (SUI) merupakan keluhan yang sering dialami ibu postpartum terutama pada masa nifas dini (0–6 minggu). Pelvic floor muscle training (PFMT) menjadi terapi konservatif lini pertama, namun keberhasilannya dipengaruhi oleh teknik kontraksi yang tepat dan kepatuhan latihan. Biofeedback device dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk membantu meningkatkan efektivitas PFMT melalui umpan balik real-time. Systematic literature review ini bertujuan mengevaluasi efektivitas biofeedback device sebagai adjuvan PFMT dibanding PFMT standar dalam menurunkan gejala SUI pada ibu postpartum masa nifas dini. Review dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 melalui penelusuran literatur open-access terindeks Scopus dan Garuda pada rentang tahun 2020–2025. Sebanyak 25 artikel awal diidentifikasi, dan setelah proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh 8 artikel utama yang dianalisis dalam review ini, terdiri dari randomized controlled trial, quasi-experimental study, meta-analysis, serta systematic review postpartum. Temuan menunjukkan bahwa biofeedback berbasis tekanan (pressure-mediated biofeedback) merupakan jenis yang paling konsisten memberikan perbaikan terhadap gejala SUI dibanding PFMT tanpa biofeedback. Sebaliknya, EMG-biofeedback pada nifas sangat dini menunjukkan hasil yang lebih bervariasi karena heterogenitas protokol latihan dan outcome yang dinilai. Secara keseluruhan, biofeedback device terutama pressure-based biofeedback cenderung memberikan hasil lebih baik dibanding PFMT saja dalam mengurangi gejala SUI postpartum. Namun, bukti khusus pada periode nifas dini masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih terstandar.
Analisis Persepsi Pasien terhadap Implementasi SPO Alur Pelayanan Fisioterapi: Studi Kualitatif di RSUD BLU Timika Mote, Kosmas; Wasliati, Balqis
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i3.1594

Abstract

Pelayanan fisioterapi yang bermutu menuntut penerapan Standar Prosedur Operasional (SPO) secara konsisten dan dipahami oleh pasien sebagai pengguna layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pasien terhadap implementasi SPO alur pelayanan fisioterapi di RSUD BLU Timika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam terhadap 12 pasien fisioterapi rawat jalan yang dipilih secara purposive. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan kerangka SERVQUAL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien memiliki persepsi positif terhadap kompetensi dan sikap fisioterapis, namun masih terdapat persepsi kurang positif terkait kejelasan alur pelayanan dan fasilitas pendukung, khususnya media informasi dan ruang tunggu. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara implementasi SPO secara struktural dan pengalaman pelayanan yang dirasakan pasien. Oleh karena itu, peningkatan sosialisasi SPO dan perbaikan fasilitas pendukung diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan fisioterapi.
Efektifitas Batu Karang Jahe dalam Menaikkan Kadar pH Air Minum Depot di Wilayah Kecamatan Kulim Alda Ardila; Jufenti Ade Fitri
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Edisi April
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i4.1593

Abstract

Air minum yang layak dan aman untuk dikonsumsi harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh WHO, termasuk tingkat keasaman (pH) pada rentang 6,5–8,5. Namun, hasil survei menunjukkan sebagian besar depot air minum isi ulang di Kecamatan Kulim masih memiliki kadar pH di bawah standar tersebut, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan konsumen. Upaya perbaikan kualitas air perlu dilakukan dengan metode yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan. Batu karang jahe diketahui memiliki kandungan mineral kalsium dan magnesium yang mampu menetralkan keasaman air sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bahan alami untuk meningkatkan kadar pH. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif dengan purposive sampling pada 33 depot air minum isi ulang yang memiliki pH awal <6,5. Perlakuan dilakukan dengan merendam batu karang jahe ke dalam sampel air, kemudian dilakukan pengukuran kadar pH sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan pH meter digital. Analisis data dilakukan dengan uji paired sample t-test untuk mengetahui signifikansi perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kadar pH. Nilai rata-rata pH sebelum perlakuan adalah 4,04 dan meningkat menjadi 7,50 setelah perlakuan, dengan nilai p-value = 0,000 (p<0,05). Hal ini membuktikan bahwa batu karang jahe efektif dalam menaikkan pH air hingga memenuhi standar kesehatan air minum yang berlaku. Kesimpulannya, penggunaan batu karang jahe dapat menjadi solusi alternatif yang alami, ekonomis, dan ramah lingkungan dalam meningkatkan kualitas air minum depot di Kecamatan Kulim, serta berpotensi diterapkan secara luas pada wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa.
Evaluasi Pelaksanaan Skrining Penyakit Tidak Menular pada Klaster 3 Integrasi Layanan Primer di Puskesmas Paal X Nafathu Rahmah; Willia Novita Eka Rini; Andy Amir; Dwi Noerjoedianto
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Edisi April
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i4.1606

Abstract

Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif untuk mendeteksi berbagai faktor risiko dan penyakit kronis secara dini di tingkat pelayanan kesehatan primer. Namun, capaian skrining di Puskesmas Paal X Kota Jambi masih berada di bawah target Standar Pelayanan Minimal. Data Dinas Kesehatan Kota Jambi tahun 2024 menunjukkan cakupan skrining usia produktif sebesar 40,3%, pelayanan hipertensi 50,7%, dan diabetes melitus 15,0%, yang mencerminkan adanya kesenjangan antara target dan realisasi program. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan skrining PTM pada Klaster 3 Integrasi Layanan Primer menggunakan pendekatan Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif evaluatif melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi terhadap 10 informan yang terdiri dari kepala puskesmas, pengelola program PTM, dokter, bidan, kader, dan masyarakat sasaran skrining, sehingga mencerminkan keberagaman perspektif pelaksanaan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan serta ketersediaan sumber daya manusia, sarana, dan pendanaan relatif memadai. Namun, perencanaan operasional belum terstruktur secara sistematis, pelaksanaan masih bersifat insidental, dan partisipasi masyarakat rendah. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya capaian skrining, terutama pada pelayanan diabetes melitus yang hanya mencapai 15,0%, sehingga menunjukkan kontras antara kesiapan sumber daya dan realisasi program di lapangan. Penguatan perencanaan berbasis pemetaan sasaran, optimalisasi peran kader, serta perbaikan sistem pencatatan dan tindak lanjut diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan cakupan skrining PTM di tingkat pelayanan primer.
Hubungan Faktor Individu dan Faktor Pekerjaan dengan Keluhan Carpal Tunnel Syndrome pada Pekerja Produksi di PT Hok Tong Jambi Tahun 2025 RTS.Gita Putri Enindra; Herwansyah Herwansyah; Hendra Dhermawan Sitanggang; Budi Aswin
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Edisi April
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v4i4.1334

Abstract

Latar Belakang: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah rasa sakit seperti nyeri, kebas dan kesemutan pada pergelangan tangan akibat pekerjaan yang dilakukan secara monoton. Potensi bahaya ergonomis pada aktivitas pekerjaan di PT Hok Tong Jambi dapat berisiko terjadinya Carpal Tunnel Syndrome. Tujuan umum penelitian ini yaitu mengetahui hubungan faktor individu dan pekerjaan dengan keluhan Carpal Tunnel Syndrome pada pekerja produksi di PT Hok Tong Jambi. Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukan proporsi pekerja yang mengalami keluhan Carpal Tunnel Syndrome sebanyak 34 pekerja (68%). Didapatkan bahwa faktor individu dan pekerjaan berhubungan dengan kejadian Carpal Tunnel Syndrome yaitu Usia (p-value 0,026), Masa Kerja (p-value <0,001), Gerakan Berulang (p-value <0,001) dan Postur Kerja (p-value <0,001). Kesimpulan: Faktor individu (Usia) dan faktor pekerjaan (Masa Kerja, Gerakan Berulang dan Postur Kerja) dapat meningkatkan risiko pekerja mengalami Carpal Tunnel Syndrome. Disarankan melakukan peregangan singkat setiap 60 menit bekerja, peregangan dilakukan agar mengurangi ketegangan pada pergelangan tangan dan menurunkan gejala Carpal Tunnel Syndrome.

Page 11 of 12 | Total Record : 115