cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 231 Documents
The Effectiveness of Neuromuscular Taping (NMT) and Combination of Physiotherapy Exercise in Improving Microsirculation, Balance and Mobiliy: Systematic Review Dewi, Asri Seftika; Rahayu, Umi Budi
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intoduction: Diabetes Millitus yang tidak terkontrol akan mengakibatkan komplikasi seperti penyakit jantung, nefropati, retinopati, cedera kaki diabetik, neuropati serta arteri perifer, yang disebabkan oleh aterosklerosis pada penyakit pembuluh darah perifer yang berdampak pada menurunnya aliran darah ke ekstremitas bawah yang ditandai dengan penurunan Ankle Brachial Index (ABI). Penurunan Microsirculation akan mempenaruhi balance dan mobility pada pasien dengan diabetes millitus.Method: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam terkait intervensi untuk Neuromuscular Tapping (NMT) dan Exercise Therapy dalam meningkatkan microsirculation, Balance and Mobility melalui analisis data sekunder.Result: Hasil review menunjukkan bahwa NMT dapat meningkatkan mikrosirkulasi dengan memperbaiki aliran darah melalui efek mekanis pada jaringan lunak. Senam kaki diabetik dan latihan fisioterapi lainnya terbukti efektif meningkatkan keseimbangan dan mobilitas melalui peningkatan kekuatan otot dan propriosepsi. Kombinasi NMT dengan fisioterapi memberikan efek sinergis, memperkuat mekanisme perbaikan mikrosirkulasi dan fungsi neuromuskular yang lebih optimal dibandingkan intervensi tunggalConclusion: Exercise Therapy and Neuromuscular Tapping (NMT) menjadi salah satu pengobatan non-farmakologi dan efektif meningkatkan mikrosirkulasi, keseimbangan, dan mobilitas pada pasien Diabetes Mellitus. Kombinasi terapi memberikan manfaat lebih besar dibandingkan intervensi tunggal.
Physiotherapy Management in Case of Osteoarthritis Genu Dextra Grade 1: A Case Report Widyastuti, Anggitya; Naufal, Adnan Faris; Yanuar, Reza Arshad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Osteoarthritis (OA) genu merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada populasi lanjut usia. Meskipun gejalanya sering muncul sejak stadium awal, OA grade 1 sering kali tidak ditangani secara aktif, padahal penanganan dini berpotensi mencegah progresi penyakit. Fisioterapi multimodal dapat menjadi pendekatan efektif dalam mengatasi nyeri dan meningkatkan fungsi aktivitas pada pasien OA.Case Presentation: Seorang perempuan usia 52 tahun dengan diagnosis OA genu dextra grade 1 menjalani fisioterapi sebanyak empat sesi selama dua minggu. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah terapi menggunak NPRS, MMT, dan WOMAC.Management and Outcome: Melaporkan respons klinis pasien OA genu dextra grade 1 terhadap kombinasi intervensi yaitu Ultrasound (US), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), serta latihan Open Kinetic Chain (OKC) dan Close Kinetic Chain (CKC).Result: Adanya penurunan skor NPRS pada nyeri saat gerak (6 menjadi 3), nyeri tekan (4 menjadi 2), dan nyeri istirahat (1 menjadi 0). Kekuatan otot meningkat dari MMT skor 4 menjadi 5. Skor WOMAC menunjukkan penurunan dari 42 menjadi 23, menandakan perbaikan fungsi aktivitas harian.Conclusion: Kombinasi fisioterapi US, TENS, OKC, dan CKC berpotensi memberikan manfaat klinis jangka pendek bagi pasien OA genu grade 1. Namun, temuan ini bersifat deskriptif dan perlu dikaji lebih lanjut melalui studi eksperimental dengan sampel yang lebih besar.
Management Fisioterapi pada Kasus post Orif 1/3 Distal Radius di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo Panrus, Ali Imroni Muhammad; Rahayu, Umi Budi; Putra, Guntur Rusmana
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Fraktur merupakan gangguan pada kesinambungan struktur tulang. Umumnya, ketika mengalami kecelakaan, tangan secara otomatis menjadi korban untuk menopang atau menahan beban saat jatuh, dan dengan posisi tangan yang sedikit terputar, fraktur 1/3 distal radius dapat terjadi. Inframerah mampu menghasilkan panas lokal yang bersifat superfisial dan disarankan untuk kondisi subakut guna mengurangi rasa sakit dan peradangan. Pemijatan merupakan teknik terapi yang memanfaatkan gerakan tangan atau alat pada jaringan tubuh yang lembut, dengan keahlian gerakan tangan yang bertujuan untuk meraih kenyamanan dan menjaga kesehatan.Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk memahami manajemen fisioterapi dalam kasus pasca ORIF 1/3 radius distal. Penelitian ini dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo pada seorang pria berinisial Tn. A.S yang berusia 44 tahun, bekerja di sektor swasta, tinggal di Songgorunggi Desa Kepuh Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Pasien mengunjungi poli fisioterapi dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan kanan dan kaku saat digerakkan.Management and Outcome: Pasien menerima pijatan dan latihan terapi selama 1 minggu dengan 3 pertemuan, serta dosis 3 kali dalam 4 minggu dengan durasi setiap sesi 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan memanfaatkan Rentang Gerak (ROM), Pengujian Otot Manual, Skala Penilaian Numerik dan WHDI.Conclussion: Setelah menjalani intervensi dengan masase dan terapi latihan sebanyak 3 kali pertemuan, diperoleh hasil perubahan yang cukup signifikan.
Management of Physiotherapy in Pre and post Mitral Valve Replacement e.c. Mitral Regurgitation: A Case Study Mutiara, Dwi; Pristianto, Arif; Setiawan, Purnomo Gani
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Manajemen fisioterapi pada pasien dengan kondisi pre dan post operasi penggantian katup mitral akibat regurgitasi mitral memiliki peran penting dalam mendukung pemulihan fungsi respirasi, aktivitas fungsional, dan kemampuan fisik. Penelitian ini merupakan studi kasus yang melibatkan evaluasi klinis pada tiga titik waktu: sebelum terapi (T0), setelah terapi awal (T1), dan pasca terapi lanjutan (T2). Program fisioterapi meliputi latihan pernapasan, spirometri, mobilisasi dini, latihan ROM, dan edukasi home programPurpose: Penelitian ini bertujuan untuk mengisi gap of knowledge dengan mengevaluasi efek fisioterapi pada pasien dengan kondisi pre dan post operasi penggantian katup mitral akibat regurgitasi mitral.Case Presentation: Seorang ibu rumah tangga 42 tahun menjalani operasi penggantian katup mitral di RS Kariadi akibat regurgitasi mitral yang menyebabkan nyeri dada, sesak napas, dan batuk berdahak kronis.Management and Outcome: Pasca operasi, pasien mendapat fisioterapi berupa latihan pernapasan, mobilisasi, dan ROM untuk mempercepat pemulihan. Evaluasi dilakukan menggunakan NRS, 6MWT, spirometri, dan tanda vital. Hasil awal menunjukkan nyeri ringan, jarak tempuh 252 m (6MWT), volume paru 1,5 liter, dan SpO2 93%. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas fisioterapi terstruktur terhadap pemulihan pasien. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kapasitas paru, dengan volume inspirasi meningkat dari 1000 ml (T0) menjadi 2000 ml (T2). Skor Indeks Barthel meningkat dari 11 (T0) menjadi 19 (T2), menandakan perbaikan signifikan dalam aktivitas fungsional. Kemampuan fisik juga membaik, tercermin dari hasil 6 Minute Walk Test (6MWT) sejauh 252 meter pada T2. Parameter laboratorium mendukung proses pemulihan, seperti peningkatan hemoglobin dari 10,8 g/dL (T0) menjadi 11,6 g/dL (T2).Conclusion: intervensi fisioterapi yang terstruktur dapat memberikan dampak positif yang signifikan dalam pemulihan pasien pre dan post operasi penggantian katup mitral. Studi ini menggarisbawahi pentingnya manajemen fisioterapi sebagai bagian integral dari perawatan multidisiplin pada pasien kardiovaskular.
Effektivitas Pelvic Floor Exercise pada Kasus post Sectio Caesarea: A Case Report Rizwana, Fifi Nursyifa; Wijianto, W; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Peran fisioterapi dalam mengatasi kelemahan otot panggul pada ibu post sectio caesarea yaitu secara manual, menggunakan pelatihan fungsi gerak tubuh. Dengan menggunakan metode menggunakan intervensi fisioterapi yang dapat menunjukkan program latihan pada ibu post partum, hal itu mampu dilakukan dengan mandiri sebagai tujuan mengurangi rasa nyeri, meningkatkan pemulihan dan meningkatkan kekuatan otot panggul pasca melahirkan.Case Presentation: Seorang ibu berusia 30 tahun telah melakukan operasi section caesarea datang ke fisioterapi dengan keluhan pasien merasakan nyeri, mengalami kelemahan kekuatan otot panggul dan penurunan kemampuan fungsional.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Pelvic floor exercise, latihan mengontraksikan perineum atau seperti menahan buang air kecil (BAK) dengan menahan selama 15 detik atau semampunya pasien menahan, lalu dirileksasikan selama 5 detik, dengan dosis 8 repetisi dalam 2 set per sesi terapi. Pengukuran dilakukan dengan beberapa parameter, yaitu tingkat nyeri dengan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), serta kemampaun fungsional menggunakan Kenny Selfcare Index. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nyeri yang signifikan, peningkatan kekuatan otot dari MMT 2 hingga MMT 3, dan peningkatan kemampuan fungsional aktivitas sehari-hari.Discussion: Peningkatan aktivitas fungsional pada pasien terjadi karena adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuan fungsional sehingga dapat dikatakan bahwa Exercise Fisioterapi berupa pelvic floor dapat meningkatkan aktivitas fungsional pasien akibat problematika yang ada.Conclussion: latihan pelvic floor memberikan dampak positif pada pemulihan pasien pasca operasi sectio caesarea dengan kondisi kelemahan pada otot panggul.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus pasca Laparotomi Debulking Histerektomi Total Salpingooforektomi Bilateral Limfadenektomi Pelvic Kanan: Studi Kasus Maharani, Klarisa Salsa Bila; Maghfiroh, Rinna Ainul; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Neoplasma ovarium kistik merupakan salah satu tumor ginekologis yang sering memerlukan tindakan pembedahan mayor seperti laparotomi debulking dan histerektomi total. Prosedur ini berdampak besar pada sistem muskuloskeletal dan fungsi dasar tubuh, termasuk nyeri, gangguan pernapasan, serta penurunan kemampuan fungsional.Case Presentation: Pasien perempuan usia 39 tahun didiagnosis dengan neoplasma ovarium kistik susp. maligna dan menjalani prosedur pembedahan berupa laparotomi debulking, histerektomi total, salpingooforektomi bilateral, omentektomi, dan limfadenektomi pelvic kanan. Pasien mengalami keluhan nyeri hebat pascaoperasi, keterbatasan mobilisasi, gangguan pernapasan, serta belum mampu buang angin.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan sejak pre-operasi hingga tiga hari pascaoperasi, terdiri dari deep breathing exercise, general active exercise, abdominal strengthening, pelvic floor exercise, mobilisasi bertahap, dan edukasi postur. Evaluasi menunjukkan penurunan nyeri (NRS diam dari 6 ke 0), peningkatan kekuatan otot abdomen (MMT dari 1 ke 3), perbaikan kontrol pernapasan (Borg Scale dari 3 ke 0.5), serta peningkatan skor Kenny Self Care Index pada kemampuan fungsional dasar pasienDiscussion: Intervensi fisioterapi yang diberikan terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan sesak napas, serta meningkatkan kekuatan otot dan kapasitas fungsional. Latihan seperti abdominal strengthening dan pelvic floor exercise mendukung stabilisasi core dan kontrol kandung kemih. Mobilisasi dini mempercepat pemulihan, dan edukasi postur membantu mencegah komplikasi gerak dan nyeri.Conclusion: Fisioterapi pascaoperasi mayor ginekologis yang diberikan secara bertahap dan komprehensif berperan penting dalam mempercepat pemulihan fisik, mengurangi keluhan, dan meningkatkan kemandirian aktivitas pasien.
Pengaruh Terapi Rehabilitasi terhadap Visuomotor Neuronal Plasticity pada Pasien Stroke dengan Diabetes Millitus: Systematic Review Pratiwi, Citra Dewi Loh Budi; Rahayu, Umi Budi
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke merupakan penyebab utama keterbatasan neurologis dan sering disertai gangguan fungsi visuomotor. Komorbiditas diabetes melitus (DM) memperparah kondisi ini melalui gangguan vaskular dan metabolik kronis yang menghambat proses pemulihan dan mengurangi kapasitas plastisitas neuronal. Terapi rehabilitasi diketahui dapat merangsang reorganisasi saraf dan memperkuat konektivitas neuron, namun efektivitasnya pada pasien stroke dengan DM masih perlu ditelaah lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh terapi rehabilitasi terhadap plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan DM. Methode: penelitian ini merupakan kajian literatur sistematis yang menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi bukti ilmiah yang ada mengenai pengaruh terapi rehabilitasi terhadap plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan diabetes melitus (DM). Studi ini disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk menjamin informasi dan penulusuran proses seleksi artikel. Pencarian disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta sumber data melalui pencarian Pubmed,PMC dan google scholar dengan total 250 artikel ditemukan. Rentang publikasi dari tahun 2020-2025 dan disaring berdasarkan skrening hingga didapatkan 5 artikel jurnal yang masuk analisis sistematis. Conclussion: terapi rehabilitasi berperan penting dalam mendukung plastisitas neuronal visuomotor pada pasien stroke dengan DM. Namun, keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh jenis intervensi yang diterapkan serta kondisi metabolik pasien. Penyesuaian terapi berdasarkan status glikemik dan neurofisiologis individu diperlukan untuk mengoptimalkan pemulihan neurologis secara menyeluruh.
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien Pneumothorax Dextra Et Causa Tuberculosis dengan Pemasangan Water Seal Drainage di RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga: Case Report Rosyad, Hanif Ar; Wijianto, W; Hartoto, Joko Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pneumothoraks adalah keadaan di mana terdapat ruang di dalam kantong pleura. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah pada pernapasan, pasokan oksigen, atau kedua-duanya. Gejala yang dialami dengan kesulitan untuk bernapas, kulit yang berubah menjadi kebiruan, pernapasan yang cepat, keterbatasan dalam bergerak, serta nyeri di dada yang berasal dari paru-paru akibat adanya udara di ruang pleura. Pneumotoraks terjadi akibat infeksi tuberculosis (TB) pada paru-paru dan pleura serta berdampak pada sekitar 1,5% dari semua pasien. Teknik Pursed Lip Breathing dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah pembersihan saluran pernapasan yang tidak efektif pada pasien pneumotoraks. Latihan Ekspansi Toraks, baik yang dilakukan secara aktif maupun pasif, dapat membantu memperbaiki kondisi dinding dada, dan pijatan lembut dapat digunakan untuk merelaksasi otot-otot pernapasan yang tegang.Case Presentation: Pasien berusia 34 tahun dengan keluhan batuk, sesak, dan saat menarik napas terasa dada sebelah kanan terasa berat dan tidak full mengembang saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, heart rate 84x/menit, respiratory rate 24x/menit, mMRC dengan skor 2. Ekspansi thoraks pada axilla 1,5 cm, ICS 4 didapati 1,5 cm, processus xipoid 2 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian intervensi Pursed Lip Breathing, Thoracic Expansion Exercise dan Gentle Massage selama 3 hari dan dilakukan evaluasi, didapati penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 3, peningkatan kemampuan fungsional dengan mMRC dari 2 menjadi 1, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Discussion: Rehabilitasi paru-paru memiliki manfaat yang signifikan dalam mengurangi gejala sesak napas, serta meningkatkan kekuatan dan stamina otot. PLB dan TEE sering dilakukan dalam program rehabilitasi paru-paru dan selama aktivitas kehidupan sehari-hari karena mengurangi laju pernapasan saat istirahat, meningkatkan saturasi oksigen dan volume tidal. Begitu juga dengan Gentle Massage efektif pada peningkatan aliran darah dan suhu kulit, serta pengaktifan sistem limfatik.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien yang mengalami Pneumothoraks menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan ekspansi dada, dan memperbaiki kemampuan fungsional paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Management Fisioterapi pada Kasus Lymphedema et Causa Ca Mamae di Poli Rehab Medik RSUP Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah Bali: Studi Kasus Hanum, Ery Nafisah; Wahyuni, W; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Limfedema pada kanker payudara merupakan kondisi ketika terganggunya sistem limfatik sehingga menimbulkan akumulasi cairan yang kaya dengan protein di ruang interstisial yang menyebabkan terjadinya pembengkakan. Kejadian ini akan merasakan nyeri, keterbatasan gerak, distorsi bentuk anggota tubuh, dan penurunan kemampuan fungsional pada ekstremitas atas pasien. Fisioterapis memiliki tujuan untuk menurunkan rasa nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan bengkak, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan pemberian modalitas dan intervensi lain.Case Presentation: Seorang pasien perempuan berusia 46 tahun mengeluhkan nyeri pada leher hingga jari-jari tangan sisi kiri ketika ditekan, keterbatasan gerak pada leher dan bahu sisi kiri, serta bengkak pada lengan sisi kiri. Pasien mempunyai riwayat 5 tahun lalu muncul benjolan pada payudara kiri dan ketiak, ketika menjalani kemoterapi pasien mulai merasakan bengkak pada lengan kiri yang kian membesar setiap harinya. Dilakukan pemeriksaan nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, oedema menggunakan midline, dan kemampuan fungsional menggunakan SPADI.Management and Outcome: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan observasional. Pasien mendapatkan intervensi berupa modalitas TENS, manual lymphatic drainage vodder (MLDV), stretching, dan mobilisasi sendi. Pasien mendapatkan terapi sebanyak 5 kali pertemuan dengan fisioterapis dan dilakukan evaluasi pada setiap pertemuannya. Hasil menunjukkan penurunan nyeri NRS. Rata-rata lingkup gerak cervical dan shoulder sinistra meningkat. Oedema lingkar lengan menurun. Kemampuan fungsional meningkat, skor SPADI dari 33,8% menjadi 28,4%. Namun, kekuatan otot regio cervical dan shoulder sinistra tidak menunjukkan peningkatan.Discussion: Kombinasi terapi TENS, MLDV, stretching, dan ROM terbukti efektif untuk menurunkan gejala lymphedema dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil ini sejalan dengan teori bahwa intervensi fisioterapi multimodal dapat memperbaiki fungsi sistem limfatik, mengurangi nyeri akibat peradangan kronis, dan meningkatkan mobilitas pasien pasca kanker payudaraConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi fisioterapi menggunakan modalitas TENS, stretching exercis, mobilisasi sendi, dan Manual Lymphatic Drainage Vodder (MLDV) selama 5 kali pertemuan efektif menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi oedema, dan meningkatkan fungsi pada kasus lymphedema et causa CA Mamae.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Chronic Low Back Pain pada Lansia: A Case Report Wulan, Ayundya Putri Antoko; Santoso, Totok Budi; Pradana, Nurwidya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) pada lansia sering menyebabkan penurunan fungsi dan kualitas hidup. Pendekatan fisioterapi multimodal diperlukan untuk mengatasi nyeri peningkatan kekuatan otot trunk dan peningkatan aktivitas fungsional.Case Presentation: Seorang pasien Tn.S berusia 65 tahun dengan komorbid hipertensi dan mitral stenosis mengeluhkan nyeri kronik pada regio lumbal yang menjalar ke paha kanan, disertai rasa kaku dan sensasi tidak nyaman (kemeng) saat berdiri atau berjalan. Pasien memiliki riwayat jatuh yang cukup lama, namun tidak segera mendapat penanganan. Dalam aktivitas sehari-hari, pasien bekerja sebagai penjaga warung yang sering mengangkat beban berat dan duduk dalam waktu yang lama. Keluhan pegal telah dirasakan selama bertahun-tahun namun diabaikan, hingga setahun terakhir terjadi penurunan kekuatan otot yang menyebabkan perubahan postur menjadi membungkuk (kifosis). Pada pemeriksaan spesifik ditemukan bahwa SLR test negatif, patrick test positif, fair test positif, piriformis test positif, slump test negatif. Saat ini, pasien masih mengeluhkan nyeri punggung bawah yang menjalar ke tungkai kiri. Pasien disarankan untuk menjalani program fisioterapi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot trunk, dan meningkatkan aktivitas fungsional.Management and Outcome: Subjek diberikan kombinasi intervensi fisioterapi berupa Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan Core Stability Exercise (CSE) seperti hamstring stretch, piriformis stretch, iliopsoas stretch, tensor fasciae latae stretch, erector spine stretch diberikan 2x dalam seminggu selebihnya dilakukan dirumah. Setelah diberikan latihan didapatkan hasil penurunan nyeri gerak dan nyeri tekan serta peningkatan kekuatan otot dan peningkatan aktivitas fungsional sehari-hariConclusion: Pemberian kombinasi intervensi MWD, TENS, dan CSE efektif dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot flexor trunk, dan meningkatkan fungsi pada lansia dengan CLBP.