cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 260 Documents
Manajemen Fisioterapi pada post Orif Fraktur Olecranon Sinistra: Studi Kasus Prahesti, Yona Risha; Perdana, Suryo Saputra; Yanuar, Reza Arshad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Fraktur olecranon merupakan cedera yang umum terjadi, yang mencakup 10% dari seluruh fraktur yang terjadi pada lengan. Manajemen fisioterapi bertujuan untuk mengurangi keluhan yang dirasakan seperti nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot, penurunan kemampuan fungsional, dan untuk mencegah timbulnya masalah baru. Tujuan studi kasus ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dari management fisioterapi menggunakan multimodal intervensi berupa Infrared, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan terapi latihan berupa Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) Hold-relax stretching exercise.Case Presentation: Pasien wanita berusia 23 tahun dengan diagnosa medis post ORIF fraktur olecranon sinistra mengeluhkan kaku, kesulitan untuk menekuk dan meluruskan siku kiri secara maksimal, dan terasa nyeri saat siku sebelah kiri digerakkan sehingga pasien merasa terganggu dalam beraktivitas sehari-hari.Management and Outcome: Manajemen Fisioterapi yang diberikan pada kasus ini berupa InfraRed, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan terapi latihan berupa Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) Hold-relax stretching exercise. Discussion: Manajemen fisioterapi selama 3 sesi pada post ORIF fraktur olecranon sinistra dapat menurunkan nyeri tekan dan gerak, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kemampuan fungsional, menjaga kondisi otot. Conclusion: Manajemen fisioterapi selama 3 sesi pada post ORIF fraktur olecranon sinistra dapat meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
Pengaruh Program Rehabilitasi berbasis Latihan pada Kasus Osteoarthritis Knee: A Case Report Hastuti, Rehning Puji; Wahyuni, W; Yunanto, Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Osteoartritis lutut adalah penyakit degeneratif yang memengaruhi sendi dan berkembang seiring waktu. Penyakit ini ditandai dengan kerusakan struktur tulang rawan, yang menyebabkan perubahan patologis. Gejala yang sering terjadi meliputi kekakuan di pagi hari dan suara "cracking", terkadang dikenal sebagai suara krepitus, saat menggerakkan lutut. Ketidaknyamanan lutut memengaruhi banyak elemen kualitas hidup karena mengurangi tugas fungsional seperti berjongkok, berdiri, berjalan jauh, dan naik turun tangga. Prevalensi penderita osteoartritis lutut sekitar 25% orang dewasa, dan dalam 20 tahun terakhir.Case Presentation: Penelitian ini dilakukan di RSUD Bagas Waras Klaten, dan partisipan penelitian yaitu Tn. S.B. berusia 59 tahun dan berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen telah didiagnosis menderita osteoartritis lutut unilateral. Pasien datang dengan keluhan kaku dan nyeri pada lutut kanan. Keluhan ini membuat pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pergerakan dari duduk ke berdiri, berjalan jauh, dan gerakan sholat menjadi aktivitas utama yang terganggu. Selain itu pasien melaporkan saat melakukan gerakan lutut terdengar bunyi "krek" atau krepitus pada lutut kanan.Management and Outcome: Rehabilitasi berbasis Latihan dapat meningkatkan status fungsional, mengurangi tingkat dan intensitas nyeri, serta meningkatkan kualitas hidup yang merupakan manfaat manajemen fisioterapi untuk mengatasi masalah Osteoartritis.Conclusion: Pertemuan Fisioterapi pada pasien osteoartritis lutut dengan empat kunjungan menggunakan TENS, mobilisasi patela, dan latihan mengurangi rasa tidak nyaman, meningkatkan aktivitas fungsional, memperkuat otot, dan memperluas jangkauan gerak sendi.
Manajemen Fisioterapi pada post Sectio Caesaria et Causa Ketuban Pecah Dini+Mal Posisi: A Case Report Elgina, Ike Puteri; Supriyadi, Arin; Abdullah, Arif
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Sectio caesarea merupakan prosedur pembedahan yang umum dilakukan untuk mengatasi komplikasi kehamilan, salah satunya ketuban pecah dini (KPD) dan malposisi janin. Kondisi pasca operasi seringkali menimbulkan nyeri, keterbatasan mobilitas, dan gangguanlaktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi fisioterapi dalam mempercepat pemulihan pasca sectio caesarea dengan indikasi KPD dan malposisi.Case Presentation: Studi ini menggunakan desain studi kasus pada pasien Ny. I, usia 35 tahun, pasca operasi sectio caesarea. Intervensi fisioterapi dilakukan dua kali pada hari ke-1 dan ke-2 pasca operasi, meliputi mobilisasi dini, latihan pernapasan, penguatan otot abdomen dan dasar panggul, serta senam laktasi. Evaluasi dilakukan menggunakan NRS, MMT, dan Kenny Self CareEvaluation.Management and Outcome: Terdapat penurunan nyeri signifikan (nyeri diam 3→0, tekan 5→2, gerak 6→2), peningkatan kekuatan otot abdomen (MMT 2→4), dan peningkatan kemampuan fungsional (KSCE F→A). Produksi ASI juga menunjukkan perbaikan pasca intervensi.Conclusion: Intervensi fisioterapi terstruktur terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan fungsional, serta mendukung laktasi pada pasien post sectio caesarea dengan komplikasiobstetri.
Physiotherapy Management for Bell's Palsy in A 17-Year-Old Female: A Case Report Aminarto, Muhammad Ghofar
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bell's palsy is an acute, idiopathic peripheral facial nerve paralysis that commonly affects individuals between 15 and 45 years old. It is often attributed to viral reactivation, particularly herpes simplex virus type 1. The sudden onset of facial weakness or paralysis may cause significant psychological and functional impairments, especially in adolescents. Physiotherapy is considered an effective supportive treatment to restore neuromuscular function when pharmacological approaches alone are insufficient.Case Presentation: A 17-year-old female presented with progressive right-sided facial stiffness and pain without apparent cause, eventually leading to noticeable facial asymmetry. Physical examination revealed reduced facial muscle strength (MMTgrade 0-3), tenderness in facial andneckmuscles, andmoderatepain(VAS 5-6). A facial function score of 51 on the Ugo Fisch scale indicated moderate facial paralysis. The patient's condition also interfered with chewing and social interaction due to altered facial appearance.Management and Outcome: The patient received a three-week physiotherapy intervention including infrared therapy, neuromuscular electrical stimulation, manual massage techniques, and isometric facial exercises. Sessions were held twice per week, complemented by a daily home- based exercise program. Pain levels decreased steadily, and a mild improvement was observed in forehead movement and overall facial function (Ugo Fisch score increased from 51 to 54).Conclusion: Physiotherapy combining infrared, NMES, manual techniques, and facial muscle training proved beneficial in managing Bell's palsy in an adolescent patient. Consistent home exercises and long-term monitoring are recommended to optimize outcomes and prevent persistent dysfunction.
Manfaat Fisioterapi pada Pasien Perempuan Berusia 65 Tahun dengan Hemiparesis Dextra pasca Stroke Non Hemorraghic: Studi Kasus Agasi, Muhammad Andre; Sudaryanto, Wahyu Tri; Fauzan, Muhammad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke non Hemorraghic merupakan penyebab utama kecacatan fisik, khususnya pada populasi lanjut usia. Salah satu manifestasinya adalah hemiparase yang berdampak pada gangguan mobilitas, kekuatan otot, koordinasi, serta kemampuan menjalankan aktivitas fungsional. Fisioterapi memiliki peran penting dalam rehabilitasi untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasiCase Presentation: Penelitian ini merupakan studi case report terhadap seorang pasien perempuan berusia 65 tahun dengan hemiparase dextra akibat stroke non hemoragik.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan selama tiga minggu (2 sesi/minggu) dengan modalitas Infrared (IR), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), latihan ROM aktif, massage, dan core muscle exercise. Evaluasi dilakukan pada T0, T1, dan T2 menggunakan NRS, MMT, MAS, dan Barthel Index Disability. Terjadi penurunan nyeri (NRS nyeri gerak: 6 menjadi 5; nyeri tekan: 4 menjadi 3) dan spastisitas (MAS fleksor elbow dan knee dextra dari 3 menjadi 2 dan 2 menjadi 1). Tidak ada peningkatan signifikan pada kekuatan otot maupun skor Barthel Index (tetap 85).Conclusion: Intervensi fisioterapi efektif dalam menurunkan nyeri dan spastisitas pada pasien pascastroke, namun peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional memerlukan intervensi lanjutan.
Kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, Low Laser Light Therapy dan Mirror Therapy Exercise sebagai Intervensi Fisioterapi pada Pasien post Herpetic Neuralgia: A Case Report Maharrani, Dian; Pristianto, Arif; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Post Herpetic neuralgia (PHN) atau neuralgia pasca herpes adalah komplikasi paling umum dari terjadinya herpes zoster. Karakteristik Postherpetic Neuralgia (PHN) ditandai dengan nyeri tajam atau sensasi terbakar yang mengikuti pola dermatom satu sisi, dan berlangsung selama tiga bulan atau lebih setelah infeksi herpes zoster terjadi. Faktor risiko PHN yang sering terjadi adalah usia lanjut, jenis kelamin perempuan, imunosupresi berat, ruam parah, dan nyeri akut saat terpapar herpes zoster.Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November 2024. Pasien seorang pria, atas nama Tn. IMS, berusia 71 tahun dengan diagnosis post herpetic neuralgia. Pasien mengeluhkan nyeri dan sensai terbakar di bagian mata, alis, dan dahi sebelah kiri sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasakan hilang-timbul, tajam, dan tidak menjalar. Nyeri bertambah parah saat terkena gesekan, seperti pakaian atau masker dan saat terkena angin. Nyeri tidak terasa saat tidur sehingga tidak mengganggu waktu tidur pasien. Pasien mempunyai riwayat hipertensi, diabetes, dan bell palsy.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan kepada pasien adalah Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Low Laser Light Therapy (LLLT), dan Mirror therapy exercise. Evaluasi pengukuran tingkat nyeri pasien menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot wajah pasien menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran skala integritas kulit dengan metode SWEAT, dan pengukuran kemampuan fungsional menggunakan Ugo Fisch Scale.Conclusion: Penelitian ini dilaksanakan langsung pada pasien dengan kondisi Post Herpetic Neuralgia dengan terapi sebanyak 5 kali sesi pertemuan dengan modalitas fisioterapi berupa TENS, LLLT, dan mirror therapy exercise terlihat perubahan yang signifikan dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki integritas kulit, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
Penanganan Fisioterapi pada Kasus post Bentall Procedure: A Case Report Salatina, Alfi; Rahayu, Umi Budi; Aryani, Kadek Agustini
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Prosedur Bentall merupakan salah satu metode operasi jantung yang penting dan sering digunakan untuk mengatasi gangguan pada akar aorta, seperti aneurisma aorta asendens serta diseksi aorta tipe A. Teknik bedah ini pertama kali dikembangkan oleh Hugh Bentall pada tahun 1968 dan telah mengalami berbagai penyempurnaan untuk meningkatkan keberhasilan jangka panjang serta mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi.Case Presentation: Seorang remaja berusia 20 tahun mengalami kondisi post operasi jantung yaitu Bentall procedure. Pasien menunjukkan menurunnya kapasitas aerobik, nyeri pada luka post operasi serta terbatasnya kemampuan fungsional.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan meliputi latihan pernapasan, latihan aktif ROM, latihan batuk efektif serta mobilisasi dini sebelum dan setelah dua sesi intervensi. Hasil menunjukkan belum ada perubahan klinis yang signifikan, namun terdapat perbaikan berupa penurunan 1 angka skala nyeri, Skor Index Barthel meningkat dari 40 menjadi 60.Conclusion: Walaupun perkembangan pasien belum terlihat secara signifikan, akan tetapi ada manfaat didapat dari latihan yang sudah dilakukan. Dukungan dari penelitian terbaru memperkuat efektivitas teknik yang digunakan, sehingga fisioterapi perlu dilakukan secara rutin dengan evaluasi berkala untuk mendukung pemulihan fungsi pasien secara optimal.
Management Fisioterapi pada Kasus post Operasi Fraktur Tibia Proximal Dextra di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto: Studi Kasus Fathan, Muhammad; Sudaryanto, Wahyu Tri; Gemilang, G
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Fraktur adalah diskontinuitas pada tulang (atau tulang rawan) kekuatan akibat mekanisme yang melebihi kemampuan tulang untuk menahannya. Tujuan guna memahami tata laksana fisioterapi pada kasus pasca fraktur tibia proximal dextra.Case Presentation: Ny. U, berusia 59 tahun, berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang menjalani terapi fisioterapi pasca operasi fraktur tibia proximal kanan. Program intervensi dilakukan sebanyak empat kali sesi di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto.Management and Outcome: Penanganan fisioterapi pada kasus ini dilakukan dalam empat sesi terapi. Pasien dengan diagnosis post operasi fraktur tibia proximal kanan menjalani intervensi berupa terapi ultrasound, stretching (termasuk teknik hold-relax), serta latihan penguatan otot (quadset dan ankle range of motion).Conclusion: Berdasarkan hasil evaluasi penerapan modalitas ultrasound, Streching (senam peregangan), dan program penguatan otot pada pasien berinisial Ny. U yang didiagnosa Post Fraktur Tibia Proximal Dextra, disimpulkan bahwa setelah menyelesaikan empat kali perawatan selama sebulan, terjadi peningkatan kapasitas fungsional dengan FADI, ada perubahan kekuatan otot quadricep dan ankle dextra, dan terjadi pengurangan nyeri pada knee dan ankle dextra.
Tai Chi untuk Lansia dengan Fisioterapis Puskesmas Kartasura Arianti, Bella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun atau lebih yang pada fase ini mengalami perubahan pada dimensi fisik, psikologis seperti depresi, cemas, dan sulit konsentrasi dan social. Kualitas tidur berhubungan dengan tingkat kesejahteraan lansia. Kualitas tidur pada lansia meliputi tujuan tidur, durasi tidur dan latensi tidur, kualitas tidur secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Tai Chi berpengaruh dalam kualitas hidup lansia. Management and Outcome: Metode penelitian One Group Pre-Post Test Design. Pengujian data menggunakan uji normalitas data dan juga uji paired t-test yang tujuannya melihat pengaruh senam tai chi. Berdasarkan karakteristik usia responden lanjut usia di Indonesia berusia 60-90 tahun dan juga lansia yang masih bisa melihat dan juga mendengar dan tidak mnegonsumsi obat tidur, lansia yang masih aktif, lansia yang tidak memakai alat bantu untuk berdiri, lansia yang masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti berkebun,beribadah, memasak, memakai bajuConclusion: Program latihan Tai Chi yang dilakukan bersama fisioterapis terbukti memberikan manfaat nyata bagi lansia, baik secara fisik maupun psikososial. Gerakan Tai Chi yang lembut, berirama, dan penuh perhatian terbukti dapat meningkatkan keseimbangan, kelenturan, dan mengurangi risiko terjatuh. Dengan bantuan fisioterapis, latihan dapat disesuaikan dengan kondisi individu sehingga aman dan efektif.
Pengaruh Neuromuskular Taping terhadap Nyeri, Keseimbangan, serta Proprioseptif pada Pasien Neuropati Perifer Diabetik: Tinjauan Naratif Nuraini, Hikmatul Laili; Rahayu, Umi Budi
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi kronis yang sering disertai komplikasi seperti neuropati perifer dan gangguan fungsi otot, yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup penderita. Neuromuscular taping (NMT) telah muncul sebagai pendekatan terapi non-invasif yang berpotensi bermanfaat dalam mengelola komplikasi terkait DM. Method: Tinjauan literatur dilakukan dengan menelusuri data menggunakan teknik Boolean (AND, OR) untuk mengidentifikasi studi yang membahas penggunaan NMT pada individu dengan DM. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Result: Sebanyak 22 artikel relevan diidentifikasi, dengan 8 di antaranya secara khusus membahas aplikasi NMT pada DM. Dari artikel tersebut, 5 merupakan randomize control trial terhadap efektivitas NMT. Hasil menunjukkan bahwa NMT dapat memberikan dampak positif terhadap Ankle Brakialis Indeks (ABI), sirkulasi darah perifer, dan parameter kesehatatan lainnya seperti penurunan nyeri, keseimbangan, dan propioseptif. Prinsip dan teknik aplikasi NMT juga diuraikan, memberikan landasan pemahaman terhadap potensi efek terapeutiknya. Discussion: Potensi mekanisme terapeutik NMT mencakup peningkatan umpan balik sensorik, aktivasi otot, serta perbaikan sirkulasi darah yang berdampak pada peningkatan keseimbangan dan propioseptif. Aspek keamanan dan kelayakan integrasi NMT dalam manajemen komprehensif DM juga menjadi fokus pembahasan, mengingat tantangan terkait kurangnya protokol standar dan variasi desain studi. Conclusion: Neuromuscular taping merupakan terapi non farmalogis yang menjanjikan dalam penanganan komplikasi DM. Tinjauan ini memberikan pemahaman menyeluruh terkait potensi manfaat NMT sekaligus menganalisis keterbatasan layanan kesehatan dalam implementasinya.