cover
Contact Name
Yuli Andriansyah
Contact Email
yuliandriansyah@uii.ac.id
Phone
+6281325445300
Journal Mail Official
thullab@uii.ac.id
Editorial Address
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM Gedung K.H.A. Wahid Hasyim Kampus Terpadu UII Jl. Kaliurang KM 14.5 Sleman Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam
ISSN : 26858924     EISSN : 26858681     DOI : 10.20885/tullab
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam is published by the Faculty of Islamic Studies in the Islamic University of Indonesia in 2019 which is published twice a year as a journal which becomes a forum for students to improve their abilities in the fields of Islamic Law, Islamic Education and Islamic Economics into Indonesian, English and Arabic.
Articles 204 Documents
PERAN PELAKSANAAN MANAJEMEN DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KURIKULUM DI MTS AL-IKHLAS PROKLAMASI KARAWANG Riyasyah, Durrota; Iqbal Amar Muzaki; Afiyatun Kholifah
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art5

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyelidiki secara mendalam fungsi dan kontribusi dari pelaksanaan manajemen dalam meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum di lembaga pendidikan. Manajemen yang baik merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal, terutama dalam konteks kurikulum yang dinamis. Pendekatan yang diterapkan dalam studi ini adalah kualitatif, dengan cara pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa penerapan manajemen yang efisien, termasuk tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan implementasi kurikulum. Perencanaan yang sistematis memungkinkan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal. Selain itu, pengorganisasian sumber daya manusia dan material yang efisien mendukung proses belajar mengajar yang lebih terstruktur. Pelaksanaan kurikulum yang terencana dan terarah, didukung oleh evaluasi yang berkelanjutan, memastikan bahwa setiap elemen kurikulum dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Dengan demikian, manajemen yang efektif bukan hanya memperbaiki kualitas pendidikan Selain itu, juga membangun kolaborasi yang harmonis di antara seluruh pihak yang berperan dalam proses pendidikan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya pelatihan manajerial bagi pendidik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kurikulum secara efektif, sehingga Tujuan pendidikan dapat direalisasikan secara lebih efektif melalui berbagai upaya yang tepat.  
EPISTEMOLOGI ILMU SOSIAL: SEBUAH KOMPARASI PARADIGMA ISLAM DAN BARAT Tri Al Rizqi, Idnur; Sinta Nabilah, Mashdalia; Febrianti, Miska; Lintang Nindyasari, Ones; Nur Fitriany, Syalma; Arief, Armai
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art7

Abstract

Ilmu sosial kontemporer banyak dibangun di atas epistemologi Barat yang berakar pada rasionalisme dan empirisme, sehingga cenderung memisahkan aspek moral dan spiritual dari proses pengetahuan. Namun, perspektif ini memperoleh kritik dari tradisi Islam yang memandang wahyu dan akal sebagai sumber ilmu yang saling melengkapi. Penelitian ini bertujuan mengkomparasi paradigma epistemologis, tujuan, dan aksiologi ilmu sosial dalam budaya Barat dan Islam, guna merumuskan model keilmuan yang relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan komparatif melalui studi dokumen terhadap buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan epistemologi Barat menekankan netralitas nilai, rasionalitas instrumental, dan tujuan pragmatis-teknokratik, sementara itu epistemologi Islam memadukan wahyu, akal, empiris, dan intuisi, sehingga ilmu sosial diarahkan untuk transformasi sosial yang berkeadilan dan mendekatkan manusia pada nilai transendental. Aksiologi Islam menekankan integrasi etika dan spiritualitas dalam penerapan ilmu, menjadikannya alternatif penting di tengah krisis moral modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan normatif-transendental Islam menawarkan paradigma ilmu sosial yang lebih utuh, humanistik, dan relevan dalam menjawab tantangan kontemporer.
MODEL PENALARAN DUNIA BARAT SERTA RELEVANSINYA DALAM ILMU, KEHIDUPAN, DAN AGAMA Husna, Sofiatul; Usman
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art2

Abstract

Penelitian ini membahas tiga jenis penalaran utama dalam tradisi Barat yakni deduktif, induktif, dan abduktif serta relevansi ketiganya dalam konteks ilmu pengetahuan, kehidupan sehari-hari, dan agama. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap berbagai literatur klasik dan kontemporer dalam bidang filsafat, logika, dan teologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penalaran deduktif berperan penting dalam pembentukan argumentasi logis, penalaran induktif dalam pengembangan teori berdasarkan pengalaman empiris, dan penalaran abduktif dalam merumuskan hipotesis awal terhadap fenomena yang tidak pasti. Ketiganya saling melengkapi dalam proses berpikir ilmiah, sosial, maupun spiritual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap ketiga bentuk penalaran tersebut dapat memperkuat rasionalitas, memperkaya metode ilmiah, serta menumbuhkan respons keagamaan yang adaptif dan kontekstual.
KHURAFAT BULAN SHAFAR DALAM PERSPEKTIF HADIS: STUDI ATAS FENOMENA KEPERCAYAAN UNLUCKY DAY DI KALANGAN GEN Z Ilma, Nadia ilma; Mohammad Hamsa Fauriz
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art10

Abstract

Artikel ini mengkaji khurafat atau kepercayaan mistis yang berkembang seputar bulan Shafar melalui analisis tematik hadis serta melihat fenomena kepercayaan unlucky day di kalangan gen z. Di masyarakat beredar berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa bulan Shafar membawa kesialan, bala, atau pertanda buruk. Narasi tersebut tidak hanya bertentangan dengan prinsip tauhid, tetapi juga berseberangan dengan hadis-hadis sahih yang secara tegas menolak segala bentuk takhayul dan tatayyur. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keabsahan hadis-hadis yang berkaitan dengan khurafat bulan Shafar sekaligus mengidentifikasi bagaimana kepercayaan terhadap hari atau bulan sial tetap bertahan dan muncul kembali dalam budaya modern, khususnya di kalangan milenial yang dipengaruhi oleh media sosial,konten viral, dan tren astrologi digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis studi literatur dengan fokus pada analisis tematik terhadap hadis-hadis dalam kitab-kitab primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa hadis yang menyebutkan kesialan bulan Shafar berstatus lemah (da‘if) bahkan sebagian tergolong palsu (maudhu‘). Sebaliknya, hadis sahih seperti “lā shafara” justru menegaskan bahwa Islam tidak mengakui adanya hari atau bulan yang membawa sial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keyakinan terhadap bulan Shafar sebagai bulan naas tidak memiliki dasar hadis yang valid dan bahwa fenomena unlucky day pada gen Z lebih dipengaruhi oleh budaya populer dan turun temurun sejak masa para islam serta adanya konstruksi digital kontemporer daripada ajaran agama.  
KEDUDUKAN TRANSGENDER DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA DAN PERSPEKTIF FIKIH MAZHAB SYAFI’I abdurahman, aisyah; Deva Nur Syahroni; Nafasa Azka Salsabila
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art14

Abstract

Fenomena transgender merupakan realitas sosial yang semakin mendapat perhatian dalam diskursus hukum dan keagamaan di Indonesia. Keberadaan transgender menimbulkan persoalan hukum yang kompleks karena berhadapan dengan sistem hukum nasional yang masih berlandaskan pada pengakuan dua jenis kelamin, serta nilai-nilai keagamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan transgender dalam hukum positif Indonesia serta pandangan hukum Islam menurut perspektif fikih mazhab Syafi’i. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari peraturan perundang-undangan yang relevan, literatur fikih mazhab Syafi’i, serta artikel jurnal ilmiah yang membahas isu transgender dari perspektif hukum dan keislaman. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif untuk membandingkan pengaturan dan konstruksi hukum transgender dalam hukum positif Indonesia dan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum positif Indonesia belum mengatur secara eksplisit kedudukan transgender. Pengakuan negara terhadap transgender masih terbatas pada aspek administratif melalui mekanisme penetapan pengadilan, tanpa disertai perlindungan hukum yang komprehensif. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan membuka ruang terjadinya diskriminasi. Sementara itu, dalam perspektif fikih mazhab Syafi’i, perubahan jenis kelamin tanpa dasar medis yang sah dipandang sebagai perbuatan yang dilarang karena termasuk dalam kategori taghyīr khalqillāh. Namun, perilaku tersebut tidak secara otomatis dikenai sanksi hudūd, melainkan ditempatkan dalam ranah ta‘zīr yang penentuannya diserahkan kepada otoritas yang berwenang. Dengan demikian, baik hukum positif Indonesia maupun fikih mazhab Syafi’i sama-sama belum memberikan legitimasi penuh terhadap perubahan identitas gender, meskipun tetap mengakui transgender sebagai manusia yang memiliki hak dasar yang harus dihormati.
FENOMENA KESEJAHTERAAN GURU AGAMA YANG RENDAH DALAM PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH Asma’ Fauziah Saidah; Marfu'athus, Nuur; Zahidah Fauziyah
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art9

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena rendahnya kesejahteraan guru agama di Indonesia melalui perspektif Maqasid Syari‘ah. Meskipun pemerintah telah berupaya meningkatkan tunjangan, sebagian besar guru agama non-PNS masih menerima kompensasi yang tidak memadai, jauh di bawah standar hidup layak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesejahteraan guru agama berdasarkan lima tujuan utama Maqasid Syari‘ah, yaitu: pemeliharaan agama (hifz din), jiwa (hifz nafs), akal (hifz ‘aql), keturunan (hifz nasl), dan harta (hifz mal). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, data diperoleh dari al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta laporan resmi Kementerian Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi yang dialami guru agama tidak hanya memengaruhi kesejahteraan material mereka, tetapi juga mengganggu kapasitas spiritual, intelektual, dan sosialnya. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip dasar hukum Islam mengenai keadilan dan martabat manusia. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan administratif, melainkan kewajiban moral dan teologis yang sejalan dengan tujuan Maqasid syari‘ah  dalam mewujudkan keadilan (‘adl) dan kemaslahatan umum (maslahah) dalam pendidikan Islam.
MODEL PENDIDIKAN CONSCIENTIZATION PAULO FREIRE: KONTRIBUSI BAGI PENGEMBANGAN ILMU PAI Mulyadi; Usman; Sibawaihi
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art8

Abstract

Artikel ini mengkaji kontribusi model pendidikan conscientization Paulo Freire bagi pengembangan Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam konteks kontemporer. Kritik Freire terhadap banking education menunjukkan perlunya pendidikan yang dialogis dan membebaskan, sehingga peserta didik tidak hanya menjadi objek penerima informasi, tetapi subjek yang mampu berpikir kritis dan melakukan tindakan transformatif. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka terhadap karya-karya Freire dan literatur terkini terkait pedagogi kritis serta pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep penyadaran relevan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan integrasi akal, iman, dan amal. Conscientization memperkaya epistemologi PAI dengan menghubungkan pembacaan teks keagamaan dan realitas sosial, serta menawarkan pendekatan problem-posing sebagai alternatif pembelajaran yang lebih dialogis dan partisipatif. Selain itu, pendekatan ini mendorong penguatan literasi digital kritis, pengembangan kurikulum yang kontekstual, dan reposisi peran guru sebagai fasilitator penyadaran. Dengan demikian, model pendidikan penyadaran Freire memiliki kontribusi signifikan bagi rekonstruksi tujuan, metodologi, dan praksis PAI agar lebih humanis, kritis, dan responsif terhadap tantangan zaman
RESILIENSI IDENTITAS SOSIAL ISLAM MELALUI PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL DI ERA GLOBALISASI Ali, Mohammad Ali; Yudik Pradana; M. Khusna Amal; Abd. Halim Soebahar; Mursalim
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art11

Abstract

Era globalisasi telah memunculkan dinamika sosial yang kompleks dan sering kali menantang stabilitas identitas keagamaan, termasuk dalam komunitas Muslim yang memiliki akar budaya lokal yang kuat. Arus informasi global, budaya populer, dan nilai-nilai transnasional kerap menekan identitas lokal, sehingga memicu apa yang disebut sebagai krisis identitas sosial. Dalam konteks ini, pelestarian kearifan lokal menjadi semakin signifikan sebagai mekanisme pertahanan budaya sekaligus penopang identitas Islam yang inklusif dan adaptif. Kajian pustaka dari berbagai disiplin studi Islam, sosiologi, dan antropologi budayamenunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi mengandung nilai, simbol, dan praktik sosial yang memiliki kesesuaian mendalam dengan ajaran Islam. Tradisi seperti selamatan, gotong royong, takziah, dan tradisi keagamaan lokal lain, ketika dipadukan dengan nilai-nilai Islam, berfungsi sebagai media internalisasi ajaran agama yang membumi dan mudah diterima masyarakat. Integrasi inilah yang menjadikan identitas sosial Islam tetap kuat di tengah gempuran globalisasi. Lebih jauh, kearifan lokal berperan sebagai benteng resiliensi sosial, karena mampu menjaga kohesi komunitas dan meneguhkan rasa memiliki. Dengan mempertahankan tradisi lokal yang selaras dengan nilai Islam, komunitas Muslim tidak hanya menjaga kontinuitas budaya, tetapi juga membangun identitas keagamaan yang otentik, fleksibel, dan relevan dengan tantangan zaman.
ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU BULLYING SANTRI DI PONDOK PESANTREN Salwa, Atikah; Hanifah Qodriyaturrosidah
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art16

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam idealnya menjadi ruang pembentukan akhlak dan karakter mulia. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik bullying masih terjadi di lingkungan pesantren dalam bentuk verbal, fisik, sosial, maupun cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying santri di pondok pesantren melalui perspektif Teori Ekologi Bronfenbrenner. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terbitan tahun 2013–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan permisif berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku agresif dan kecenderungan bullying pada santri Sebaliknya, pola asuh demokratis (authoritative) berperan protektif dalam membentuk empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial anak. Selain faktor keluarga, pengaruh teman sebaya dan budaya senioritas di pesantren turut memperkuat praktik bullying. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara orang tua dan pesantren dalam menerapkan pola asuh yang sehat serta pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam untuk mencegah bullying.
TEKNIK MULAZAMAH DENGAN DUDUK BERSILA DILANTAI DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN Rosyidah, Rosifatur Rosyidah; Shiddiq, Aulia Rahma; Labibah, Salma
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art13

Abstract

Penelittian ini menelaah teknik mulazamah yang dalam praktiknya sering dilakukan dengan duduk bersila di lantai dalam durasi yang relatif panjang, serta implikasinya dari perspektif kesehatan. Penelitian menggunakan tinjauan pustaka naratif-terstruktur dengan menelusuri literatur terkait (1) mulazamah dalam tradisi pembelajaran pesantren dan (2) kajian kesehatan/ergonomi tentang duduk lantai, postur bersila, perilaku duduk statis, dan keluhan muskuloskeletal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa duduk bersila di lantai yang dipertahankan lama berpotensi berkaitan dengan keluhan seperti pegal pada punggung bawah, ketegangan otot, rasa kebas, dan ketidaknyamanan pada panggul atau lutut, terutama bila postur cenderung membungkuk, tumpuan tidak seimbang, serta minim variasi posisi. Dalam konteks mulazamah, faktor adab dan kekhidmatan majelis dapat membuat peserta didik menahan gerak sehingga durasi postur statis meningkat. Kajian ini merekomendasikan strategi yang tetap selaras dengan adab mulazamah: edukasi postur duduk yang lebih tegak dan seimbang, variasi posisi dan pergantian silang kaki, penggunaan alas duduk/penyangga kitab yang sederhana, serta penerapan microbreak singkat dan tertib pada titik transisi materi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan postur agar mulazamah berkelanjutan dan lebih ramah kesehatan.