cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 481 Documents
Perbedaan Skor Nasional dan Internasional dalam Mendiagnosis Pasien dengan Apendisitis Akut di RSUD Ulin Banjarmasin Ovimillia Anindia Tasya; Agung Ary Wibowo; Ida Yuliana; Winardi Budiwinata; Mashuri Mashuri
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.002 KB)

Abstract

Abstract: Appendicitis is a disease caused by a blockage in the appendix. In 2009 it was found that at least 596,132 people in Indonesia had acute appendicitis. The diagnosis of appendicitis can be seen based on clinical manifestations, physical examination, and supporting examinations. Scoring is the fastest tool for predicting the diagnosis of acute appendicitis. This study will show whether there are differences in Alvarado scores, modified Alvarado scores, and Kalesaran scores in diagnosing acute appendicitis patients. With an analytical observational study, 66 samples from purposive sampling were processed through a retrospective cross-sectional approach. The inclusion criteria determined were patients aged 18-65 years and patients with physical examination of fever, epigastric diffuse pain, anorexia, nausea and vomiting, lower right tenderness, loose tenderness, Rovsing Sign, Psoas Sign, cough sign, leukocytosis, and displacement neutrophils to the left. With the exclusion criteria of patients with other infections and patients with incomplete data in the morning report. 44% were patients aged 18-25, and 9% were 56-65 years. 63% experienced by men and 38% by women. The most common manifestation was tenderness in the right lower quadrant while the least was fever with a total of 24 people. Data analysis using logistic regression showed P > 0.05 with the conclusion that there was no significant difference between Alvarado, modified Alvarado, and Kalesaran scores in diagnosing acute appendicitis patients. Keywords: acute appendicitis, Alvarado score, modified Alvarado score, Kalesaran Abstrak: Apendisitis merupakan  penyakit yang disebabkan oleh sumbatan pada apendiks. Pada 2009 didapatkan setidaknya 596.132 orang di Indonesia mengalami apendisitis akut. Diagnosis apendisitis dapat dilihat berdasarkan  manifestasi klinis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Skoring menjadi alat paling cepat untuk memprediksi diagnosis apendisitis akut. Penelitian ini akan menunjukkan apakah terdapat perbedaan skor Alvarado, skor Alvarado termodifikasi, dan Skor Kalesaran dalam mendiagnosis pasien apendisitis akut. Dengan penelitian observasional analitik, 66 sampel dari purposive sampling diolah melalui pendekatan retrospective cross-sectional. Kriteria inklusi yang ditentukan adalah pasien dengan umur 18-65 tahun dan pasien dengan pemeriksaan fisik demam, nyeri baur epigaster, anoreksia, mual muntah, nyeri tekan kanan bawah, nyeri tekan lepas, Rovsing Sign, Psoas Sign, cough sign, leukositosis, serta perpindahan neutrofil ke kiri. Dengan kriteria eksklusi pasien yang mengalami infeksi lain serta pasien dengan data tidak lengkap pada morning report. 44% merupakan pasien dengan umur 18-25, dan 9% pada 56-65 tahun. 63% dialami oleh laki-laki dan 38% oleh perempuan.manifestasi paling banyak ditemukan adalah nyeri tekan pada kuadran kanan bawah sedangkan paling sedikit adalah demam dengan jumlah 24 orang. Analisis data menggunakan regresi logistik menunjukkan P > 0,05 dengan kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor Alvarado, Alvarado termodifikasi, dan Kalesaran dalam mendiagnosis pasien apendisitis akut. Kata-kata kunci: apendisitis akut, skor Alvarado, skor Alvarado termodifikasi, Kalesaran
GAMBARAN FAKTOR PROGNOSIS PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Eka Putri Widyarti; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.328 KB)

Abstract

Abstract: Schizophrenia is a severe mental disorder. This study aims to describe the prognostic factors in schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital. The method used is descriptive. The number of samples is 103 people using purposive sampling technique. Data were obtained from medical records, interviews, DAI-10 questionnaires, and patient assessment response to family support questionnaires. Data analysis using frequency distribution. The result showed that majority of respondents were men (76%), elementary education (43%), unemployed (72%), unmarried (83%), age of onset in early adults (33%), hadn’t family history (83%), duration of untreated psychosis less than 1 month (41%), had trigger factors (52%), duration of illness for 1-4 years (37%), moderate family support (54 %),  relapse (66%), adhered to treatment (87%), didn’t have a prepsychotic personality (83%), and undifferentiated schizophrenia (47%). The conclusion of this study is that most schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital have a poor prognosis factor (62%). Keywords: schizophrenia, prognostic factors Abstrak: Skizofrenia termasuk dalam gangguan mental yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor prognosis pada pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 103 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data didapat dari rekam medis, wawancara, kuesioner DAI-10, dan kuesioner respon penilaian pasien terhadap dukungan keluarga. Analisis data dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah laki-laki (76%), pendidikan SD (43%), tidak bekerja (72%), tidak menikah (83%), usia onset pada dewasa awal (33%), tidak memiliki riwayat keluarga (83%), durasi psikosis yang tidak diobati kurang dari 1 bulan (41%), memiliki faktor pencetus (52%), durasi sakit 1-4 tahun (37%), dukungan keluarga sedang (54%), pernah relaps (66%), patuh terhadap pengobatan (87%), tidak memiliki kepribadian prepsikotik (83%), dan tipe skizofrenia tak terinci (47%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum memiliki faktor prognosis yang buruk (62%). Kata-kata kunci: skizofrenia, faktor prognosis.
Aktivitas Cairan Kulit dan Biji Buah Pepaya (Carica papaya L.) dalam Menurunkan Jumlah Koloni Bakteri Hasil Rekultur Swab Tangan Nadya Salsabila; Lia Yulia Budiarti; Siti Kaidah
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.734 KB)

Abstract

Abstract: Hands are a medium for bacterial growth or transmission of various diseases. The production of papaya fruit (Carica papaya L.) in Indonesia tends to increase every year. it is known that papaya seeds contain antibacterial compounds such as flavonoids, alkaloids and saponins. Antibacterial compounds such as flavonoids, saponins, and steroids are contained in papaya skin. This study analyzed the activity of the liquid of papaya skin and seed in reducing the quantity of staphylococcus aureus and escherichia coli. The study design used true experimental, pre and posttest with control group design, consist of 6 treatments of water papaya seed liquid and papaya skin liquid (25%, 50%, 75%, 100%, 125%, and 150%) and alcohol 70% (positive control). The conclusion is water papaya skin and papaya seed liquid show an effect in reducing the quanitity of colonies of staphylococcus aureus and escherichia coli; effectiveness of S.aureus is greater than E.coli. Keywords: Papaya Skin, papaya seeds, Number of bacterial colonies, Staphylococcus aureus, Escherichia coli Abstrak: Tangan merupakan salah satu media pertumbuhan bakteri atau penularan penyebab berbagai penyakit. Di Indonesia Produksi buah pepaya (Carica papaya L.) cenderung meningkat setiap tahun. Biji pepaya diketahui mengandung senyawa-senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid dan saponin. Kulit pepaya diketahui mengandung berbagai senyawa antibakteri juga seperti flavonoid, saponin dan steroid. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas cairan kulit dan biji pepaya (Carica papaya L.) dalam menurunkan jumlah koloni bakteri pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia. coli hasil rekultur swab tangan. Rancangan penelitian menggunakan true experimental, pre and posttest with control group design, terdiri dari 6 perlakuan cairan kulit dan biji pepaya (25%, 50%, 75%, 100%, 125% dan 150%) dan alkohol 70% (kontrol positif). Simpulan penelitian ini yaitu terdapat perbedaan penurunan jumlah koloni bakteri dari cairan kulit dan biji pepaya terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dibandingkan dengan Escherichia coli. Kata-kata kunci: Biji dan kulit pepaya, jumlah koloni bakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli
Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia di SMP Negeri 18 Banjarmasin 2019/2020 Krishna Satyagraha Kusuma Putera; Meitria Syahadatina Noor; Farida Heriyani
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.338 KB)

Abstract

Abstract: Anemia in adolescents can occur due to malnutrition. Many young women experience a lack of nutrients in their daily food consumption. Based on data from the Banjarmasin City Health Office in 2018, the prevalence of anemia in adolescents aged 10-19 years in Banjarmasin City was 924 cases, in 884 adolescent girls. One factor causing anemia is poor diet. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between eating patterns and the incidence of anemia in adolescent girls at SMP Negeri 18 Banjarmasin 2019/2020. The method used is observational analytic with cross sectional approach. The sample of the study was 88 female teenagers from SMPN 18 Banjarmasin. Taken with proportional random sampling. Data analysis using fisher exact test (α=0,05). The results of this study were 45% of respondents with anemia and 55% of anemia, 89% of bad eating patterns and 11% of good eating patterns. The analysis showed that the value of p = 0.104 with the conclusion of the study there was no relationship between eating patterns with the incidence of anemia. Keywords: Food diet, anemia, adolescents females Abstrak: Anemia pada remaja dapat terjadi disebabkan oleh kekurangan gizi. Remaja putri banyak mengalami kekurangan zat-zat gizi dalam konsumsi makanan sehari-harinya. Berdasarkan data dinas kesehatan Kota Banjarmasin pada tahun 2018, prevalensi anemia pada remaja usia 10-19 tahun di Kota Banjarmasin terdapat 924 kasus, pada remaja putri sebanyak 884 kasus. Salah satu faktor penyebab anemia adalah buruknya pola makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 18 Banjarmasin 2019/2020. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah remaja putri SMPN 18 Banjarmasin dengan jumlah 88 orang. Diambil dengan proportional random sampling. Analisis data menggunakan uji fisher exact test (α=0,05). Hasil penelitian ini responden yang mengalami anemia 45% dan tidak anemia 55%, pola makan tidak baik sebanyak 89% dan pola makan baik sebanyak 11%. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,104 dengan kesimpulan penelitian tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia. Kata-kata kunci: Pola makan, anemia, remaja putri
Efek Lama Penyimpanan Whole Blood AB+ terhadap Kadar Albumin Serum di Bank Darah RSUD Ulin Banjarmasin Levina Halim; Miftahul Arifin; Ida Yuliana
Homeostasis Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.052 KB)

Abstract

Abstract: Whole blood is one type of blood transfusion with a complete component, which has plasma and all blood cells. AB+ blood type is the least in Indonesia, which is only 8.51%. One of the components of whole blood is albumin. This study aims to determine the effect of whole blood AB+ storage duration to serum albumin levels in Blood Bank Ulin Hospital Banjarmasin. This research is a quasi-experimental study by discussing time series design. The number of samples used were 2 whole blood AB+ obtained from healthy donors and stored at 2o-6oC. Serum albumin levels were measured on days 0, 10 and 20. The results of this research were obtained that average serum albumin levels on day 0= 3.34 g/dL, day 10= 3.16 g/dL, and day 20= 2.90 g/dL with the percentage decrease in serum albumin levels day 0-10= 5.4%, day 10-20= 8.2%, and day 0-20= 13.2%. Based on the result of this research, it can be concluded that there is a tendency decreased to serum albumin levels on whole blood AB+ stored in the Blood Bank of Ulin Hospital Banjarmasin for 20 days.  Keywords: whole blood, storage duration, serum albumin. Abstrak: Whole blood adalah salah satu jenis darah transfusi dengan komponen yang lengkap, yaitu memiliki plasma dan semua sel darah beserta komponennya. Golongan darah AB+ jumlahnya paling sedikit di Indonesia yaitu hanya sebesar 8,51%. Salah satu komponen penyusun whole blood adalah albumin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lama penyimpanan whole blood AB+ terhadap kadar albumin serum di Bank Darah RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pendekatan time series design. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 2 kantong whole blood AB+ yang diperoleh dari pendonor sehat dan dilakukan penyimpanan pada suhu 2o-6oC. Kadar albumin serum diukur pada hari ke-0, 10, dan 20. Hasil penelitian diperoleh rerata kadar albumin serum pada hari 0= 3,34 g/dL, hari 10= 3,16 g/dL, dan hari 20= 2,90 g/dL dengan persentase penurunan kadar albumin serum hari 0-10= 5,4%, hari 10-20= 8,2%, dan hari 0-20= 13,2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat kecendrungan penurunan kadar albumin serum pada whole blood AB+ yang disimpan di Bank Darah RSUD Ulin Banjarmasin selama 20 hari. Kata-kata kunci: whole blood, lama penyimpanan, albumin serum.
Hubungan Suhu Rumah dengan Kejadin Hipertensi Muhammad Halil Gibran; Farida Heriyani; Djallalluddin Djallalluddin
Homeostasis Vol 3, No 3 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.294 KB)

Abstract

Abstract: High population density and dense housing in the area of Banjarmasin East Kelayan Health Center can trigger a hot temperature in the region. As a result of these hot temperatures can increase levels of stress hormones, such as epineprin, non-epineprin and cortisol, the body can cause hypertension. The purpose of this study is to determine the relationship of home temperature with the incidence of hypertension in dense residential dwellings in the area of Health Center East Kelayan Banjarmasin. This study uses an analytic observational method with a case control approach. The sample of this study was hypertension and non-hypertension patients based on medical record data which was according to the diagnosis by the doctor at the Kelayan East Health Center in Banjarmasin. The method of sampling uses random sampling technique which is divided into 30 groups of hypertensive cases and 30 control groups without hypertension and obtained as many as 60 samples that fit the inclusion criteria. Data analysis using Chi square test. The results of this study in the case group there were 76.7% of patients with hypertension at high temperatures, 23.3 low temperatures while the control group contained 40% of patients without hypertension at high temperature, 60%. The results of the analysis were obtained (p = 0.009 OR = 4,929) there is a significant relationship between house temperature and the incidence of fist hypertension in dense residential dwellings in the Banjarmasin Kelayan Timur Health Center area. Keywords: House Temperature, Solid residence, Hypertension. Abstrak: Kepadatan penduduk yang tinggi dan hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin dapat memicu suatu suhu panas di wilayah tersebut. Akibat dari suhu panas tersebut dapat meningkatkan pelebaran vasodilatasi pembuluh darah tepi dan vasokontraksi pembuluh darah dalam yang disertai terjadi peningkatan denyut nadi dan tekanan darah naik menyebabkan hipertensi.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan suhu rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Penelitian ini dengan menggunakan metode observasionaal analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini pasien hipertensi dan tidak hipertensi berdasarkan data rekam medis yang sesuai diagnosis dokter Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Analisis data menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian ini pada kelompok kasus terdapat 76,7% penderita hipertensi berada tinggal di rumah suhu yang tinggi, 23,3% suhu rendah sedangkan kelompok kontrol terdapat 40% penderita tidak hipertensi berada tinggal di rumah suhu yang tinggi, 60% suhu rendah. Hasil analisis diperoleh (p=0,009 OR=4,929) terdapat hubungan signifikan antara suhu rumah dengan kejadian hipertensi tinjuan pada hunian rumah yang padat di wilayah‘Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Kata-kata kunci: Suhu rumah, Hunian padat, Hipertensi
Perbedaan Luaran Maternal pada Pasien Preeklampsia dengan Covid-19 dan Tanpa Covid-19 Veronica Shania Aprillia; Ferry Armanza; Rahmiati Rahmiati
Homeostasis Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.331 KB)

Abstract

Abstract: Preeclampsia is a pregnancy complication characterized by the onset of high blood pressure that occurs after 20 weeks of pregnancy. Pregnant women are prone to infection by COVID-19 and the risk of pregnancy complications. These causes can effect complications in maternal outcomes such as HELLP syndrome, pulmonary edema, acute kidney failure, and eclampsia, which will affect methods of childbirth and even cause maternal death. The purpose of this study is to determine the differences in maternal outcomes of preeclampsia with COVID-19 and without COVID-19.This study is an analytical observational with a retrospective approach using chi-square test and fisher exact test as an alternative, using secondary data from medical records of preeclampsia patients with COVID-19 and without COVID-19 at RSUD Ulin Banjarmasin for May 2020 – April 2021. The results showed there were differences in outcomes of methods of childbirth (p=0,001) while there were no differences in outcomes of HELLP syndrome (p=0,554), eclampsia (p=0,960), kidney failure (p=0,139), pulmonary edema (p=0,730), and maternal death (p=0,521). From those results, it can be concluded that there were differences in outcomes of methods of childbirth and there were no differences in outcomes of HELLP syndrome, eclampsia, kidney failure, pulmonary edema, and maternal death in preeclampsia patients with COVID-19 and without COVID-19. Keywords: maternal outcomes, preeclamsia, COVID-19 Abstrak: Preeklampsia adalah gangguan kehamilan ditandai hipertensi setelah 20 minggu kehamilan. Ibu hamil rentan terjangkit COVID-19 dan berisiko komplikasi kehamilan. Gangguan ini mengakibatkan terjadinya luaran maternal seperti sindrom HELLP, edema paru, gagal ginjal akut, eklampsia, mempengaruhi metode persalinan bahkan kematian ibu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan luaran maternal pasien preeklampsia dengan COVID-19 dan tanpa COVID-19. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan retrospektif menggunakan uji chi-square dan uji fisher exact sebagai alternatif, menggunakan data sekunder dari rekam medik pasien preeklampsia dengan COVID-19 dan tanpa COVID-19 di RSUD Ulin Banjarmasin periode Mei 2020 – April 2021. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan luaran metode melahirkan (p=0,001), sedangkan luaran  sindrom HELLP (p=0,554), eklampsia (p=0,960), gagal ginjal (p=0,139), edema paru (p=0,730), dan kematian (p=0,521) tidak terdapat perbedaan. Kesimpulan penelitian terdapat perbedaan luaran metode melahirkan dan tidak terdapat perbedaan luaran sindrom HELLP, eklampsia, gagal ginjal, edema paru dan kematian pada pasien preeklampsia dengan COVID-19 dan tanpa COVID-19. Kata-kata kunci: luaran maternal, preeklampsia, COVID-19
Literature Review: Kualitas Hidup Pasien Kolitis Berdasarkan Data Demografi dan Klinis Alifah Nadia; Rahmiati Rahmiati; Agung Ary Wibowo; Hery Poerwosusanta; Ika Kustiyah Oktaviyanti
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.718 KB)

Abstract

Abstract: Colitis is an inflammatory bowel disease (IBD) which includes three idiopathic gastrointestinal diseases, namely Crohn's Disease (CD), Ulcerative Colitis (UC), and intermediate colitis. UC patients have lower quality of life rather than non- colitis population. The purposed of this paper was to analyze the relationship between demographic data which are age, gender, and employment status, as well as clinical data which are disease activity and disease duration with quality of life in patients with colitis. This paper was done using narrative review. Selected articles were full text original articles published in the last 10 years. The search articles was found out through Pubmed and Google Scholar databases using keywords “colitis AND quality of life AND demographic AND clinical”. The results of review of 17 articles found that the lower quality of life associated with younger age, female gender, unemployment status, higher disease activity and shorter disease duration. Keywords: colitis, quality of life, demographic, clinical Abstrak: Kolitis merupakan Inflammatory Bowel Disease (IBD) yang mencakup tiga penyakit gastrointestinal idiopatik yaitu Crohn’s Disease (CD), Ulcerative Colitis (UC), dan kolitis intermediet. Pasien UC memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan populasi non kolitis. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis hubungan antara data demografi berupa usia, jenis kelamin, dan status pekerjaan, serta data klinis berupa derajat penyakit dan durasi penyakit dengan kualitas hidup pada pasien kolitis. Penulisan ini dilakukan dengan metode literature review yaitu narrative review. Artikel yang dipilih merupakan full text original article yang dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir. Pencarian artikel dilakukan melalui database Pubmed dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci “colitis AND quality of life AND demographic AND clinical”. Hasil tinjauan terhadap 17 artikel didapatkan kualitas hidup yang lebih rendah dipengaruhi oleh usia yang lebih muda, jenis kelamin wanita, pasien yang tidak bekerja, aktivitas penyakit yang lebih tinggi serta durasi penyakit yang lebih pendek. Kata-kata kunci: kolitis, kualitas hidup, demografi, klinis
Karakteristik Pasien Hidrosefalus di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2018-2020 Muhammad Ananda Putera; Agus Suhendar; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Ardik Lahdimawan; Istiana Istiana
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.429 KB)

Abstract

Abstract: Hydrocephalus is a disorder or disease caused by increased intracranial pressure which is characterized by an increase in cerebrospinal fluid, caused by tumors, congenital, vascular disorders, infections, and head injuries. Hydrocephalus can cause seizures, neurological deficits, headache, fever, and paralysis, which causes a decrease in quality of life. This study aims to determine the characteristics of hydrocephalus patients at Ulin Hospital Banjarmasin in 2018-2020. This type of research is a descriptive retrospective research. The highest number of hydrocephalus cases was in 2018 namely 143 patients (49.14%). The 46 - 55 years old age group is the most patient age group. Males were found the most among hydrocephalus patients. The majority of patients came from South Kalimantan. Islam is the religion of most of the patients. The majority of patients are BPJS participants. Family history was found in 81 patients (29.56%) and a history of allergies was found in 19 patients (6.52%). Patients with headache and loss of consciousness are the majority of clinical symptoms in patients. Vascular abnormalities, tumors, and congenital are the most common causes in patients. Communicating hydrocephalus is the most common classification. The category of GCS scores in and out of patients that are often encountered is GCS 13-15. The majority of patients' length of stay was 15 days. The majority of patients improved after undergoing treatment. So, it can be concluded that most of them were in 2018, Islam, South Kalimantan, BPJS participants, male, with headache, 46-55 years old, communicating hydrocephalus, with GCS 13-15, length of treatment 15 days, and improving. Keywords: Characteristics, Hydrocephalus  Abstrak: Hidrosefalus adalah suatu kelainan atau penyakit yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan adanya peningkatan cairan serebrospinal, yang disebabkan oleh tumor, kongenital, kelainan vaskular, infeksi, dan cedera kepala. Hidrosefalus dapat menimbulkan kejang, defisit neurologis, nyeri kepala, demam dan paralisis yang menyebabkan penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hidrosefalus di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2018-2020. Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif. Jumlah kasus hidrosefalus paling banyak terdapat pada tahun 2018 yaitu 143 pasien (49,14%). Kelompok usia 46-55 tahun merupakan kelompok usia pasien terbanyak. Laki-laki ditemukan paling banyak diantara pasien hidrosefalus. Mayoritas pasien berasal dari Kalimantan Selatan. Islam merupakan agama terbanyak dari pasien. Mayoritas pasien adalah peserta BPJS. Ditemukan riwayat keluarga pada 81 pasien (29,56%) dan untuk riwayat alergi ditemukan pada 19 pasien (6,52%). Pasien dengan nyeri kepala dan penurunan kesadaran merupakan gejala klinis mayoritas pada pasien. Kelainan vaskular, tumor, dan kongenital merupakan penyebab paling banyak pada pasien. Hidrosefalus komunikans merupakan klasifikasi terbanyak. Kategori skor GCS masuk dan keluar pasien yang sering ditemui adalah GCS 13-15. Mayoritas Lama perawatan pasien adalah ≥15 hari. Mayoritas pasien membaik setelah menjalani pengobatan. Maka dapat disimpulkan paling banyak terdapat pada tahun 2018, islam, Kalimantan Selatan, peserta BPJS, laki-laki, dengan nyeri kepala, usia 46-55 tahun, hidrosefalus komunikans, dengan GCS 13-15, lama perawatan 15 hari, dan membaik. Kata-kata Kunci: Karakteristik, hidrosefalus
KORELASI ALKALINE PHOSPHATASE DAN KALSIUM SERUM PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN Marcella Pavita; FX Hendriyono; Mohammad Rudiansyah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.453 KB)

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease is one of the health problems throughout the world with incidence and prevalence that always rincrease, bad outcome, and high costs. In patients with CKD there are an imbalance of fluids and minerals due to kidney inability to excrete fluids which affect calcium levels in blood and enzyme alkaline phosphatase (ALP) levels. Alkaline phosphatase is an enzyme which works on alkaline so calcium can easily deposit in tissue. This study is conduncted to determine the correlation of ALP and serum calcium in CKD patients undergoing routine hemodialysis. Observasional analytic with cross sectional approach on 30 research subject is used for the method. The reasearch subjects were selected by purposive sampling with an alternative tests Sommers d gamma. The results showed no correlation between ALP and serum calcium in CKD patients undergoing routine hemodialysis (p value=0,91) Keywords: chronic kidney disease , alkaline phosphatase, calcium, routine hemodialysis Abstrak: Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia dengan insidensi dan prevalensi yang selalu meningkat, hasil yang buruk dan biaya perawatan yang tinggi. Pada penderita PGK keseimbangan cairan dan mineral akan terganggu akibat ketidakmampuan ginjal dalam eksresi cairan sehingga akan mempengaruhi kadar kalsium dan enzim alkaline phosphatase (ALP) dalam darah. Alkaline phosphatase merupakan enzim untuk mempersiapkan suasana basa agar kalsium mudah terdeposit pada jaringan. Penelitian ini dilakukan di instalasi hemodialisis RSUD Ulin Banjarmasin untuk mengetahui korelasi ALP dan kalsium serum pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 30 subjek penelitian. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan purposive sampling dengan analisis uji alternatif Sommers d gamma. Hasil uji analisis menunjukan tidak adanya korelasi antara ALP dan kalsium serum pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis rutin (p value=0,91) Kata-kata kunci: Penyakit ginjal kronik, alkaline phosphatase, kalsium, hemodialisis rutin.

Page 9 of 49 | Total Record : 481