cover
Contact Name
Hari Susanto
Contact Email
p3m.banten@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
p3m@poltekpel-banten.ac.id
Editorial Address
JL. Raya No.1, Karang Serang, Kec. Sukadiri, Tangerang, Banten 15330
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Marine Inside
ISSN : 27162656     EISSN : 29859638     DOI : 10.62391/ejmi
Core Subject : Engineering,
Jurnal Marine Inside adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dan dikelola oleh Politeknik Pelayaran Banten. Jurnal ini merupakan media sarana publikasi berbagai macam penelitian dan pengembangannya di bidang Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi laut.
Articles 30 Documents
Search results for , issue "vol 8 no 1 (2026)" : 30 Documents clear
OPTIMALISASI PENGGUNAAN PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT PADA KARYAWAN UNTUK MENUNJANG KESELAMATAN KERJA DI PT. SAVANA CHARTA INDONESIA Zainal Arifin; Arief Hidayat Tumanggor; Antaris Fahrisani; Djibril Tri Bayu Pamungkas
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.185

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan prioritas utama dalam operasional industri maritim dan logistik, termasuk pada PT Savana Charta Indonesia. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang konsisten dan tepat oleh karyawan menjadi faktor kunci dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sosialisasi, kenyamanan APD, dan pengawasan terhadap keselamatan kerja dengan mediasi optimalisasi penggunaan APD. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda (SPSS) dengan melibatkan karyawan PT Savana Charta Indonesia sebagai responden. Hasil uji simultan (Uji F) menunjukkan bahwa variabel sosialisasi, kenyamanan APD, dan pengawasan berpengaruh signifikan terhadap keselamatan kerja dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,684 menunjukkan bahwa 68,4% variasi keselamatan kerja dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Secara parsial, sosialisasi merupakan variabel paling dominan (B=0,35; Sig. 0,000) dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan APD, diikuti oleh pengawasan (B=0,31; Sig. 0,001) dan kenyamanan APD (B=0,29; Sig. 0,002). Meskipun demikian, terdapat tantangan signifikan terkait kenyamanan, di mana 27% responden menyatakan bahwa APD yang tersedia kurang ergonomis, sehingga berpotensi menurunkan tingkat kepatuhan. Penelitian ini merekomendasikan perusahaan untuk mengevaluasi kualitas serta spesifikasi APD, mengintensifkan sosialisasi berkelanjutan, dan memperketat pengawasan di lapangan guna mencapai target Zero Accident secara efektif.   Occupational Safety and Health (K3) is a top priority in the maritime and logistics industry operations, including at PT Savana Charta Indonesia. Consistent and appropriate use of Personal Protective Equipment (PPE) by employees is a key factor in preventing workplace accidents. This study aims to analyze the influence of socialization, PPE comfort, and supervision on occupational safety through the mediation of PPE use optimization. The research method used is a quantitative approach through multiple linear regression analysis (SPSS) involving PT Savana Charta Indonesia employees as respondents. The results of the simultaneous test (F Test) show that the variables of socialization, PPE comfort, and supervision have a significant effect on occupational safety with a significance value of 0.000. The coefficient of determination (R2) value of 0.684 indicates that 68.4% of the variation in occupational safety is explained by these three variables. Partially, socialization is the most dominant variable (B=0.35; Sig. 0.000) in increasing compliance with PPE use, followed by supervision (B=0.31; Sig. 0.001) and PPE comfort (B=0.29; Sig. 0.002). However, there are significant challenges related to comfort, where 27% of respondents stated that the available PPE is less ergonomic, thus potentially reducing the level of compliance. This study recommends companies to evaluate the quality and specifications of PPE, intensify ongoing socialization, and tighten supervision in the field to effectively achieve the Zero Accident target.
ANALISIS IMPLEMENTASI PENGAWASAN KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN OLEH KANTOR KESYAHBANDARAN DAN OTORITAS PELABUHAN KELAS I BANTEN Asnawi; Arief Hidayat Tumanggor; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Ahmad Shulhany; Chairiyah Chair
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.187

Abstract

Pelabuhan Ciwandan, Banten, merupakan simpul transportasi strategis yang dikelola oleh PT Pelindo, dengan fungsi pengawasan operasional yang berada di bawah tanggung jawab Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten. Sinergi antara regulator (KSOP) dan operator (Pelindo) sangat krusial untuk menjamin kinerja pelabuhan yang efisien dan berdaya saing global. Namun, dalam praktiknya masih terdapat kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia pengawas, integrasi sistem Inaportnet yang belum optimal, serta tantangan koordinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pengawasan (administratif, teknis, dan keselamatan) oleh KSOP, mengidentifikasi hambatan yang ada, serta merumuskan strategi peningkatan efektivitas pengawasan terhadap kinerja operasional pelabuhan. Metode yang digunakan adalah pendekatan mixed method (kualitatif dan kuantitatif) dengan melibatkan responden dari pihak KSOP, PT Pelindo, dan stakeholder terkait. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear berganda melalui perangkat lunak SPSS terhadap 30 sampel responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengawasan administratif, teknis, dan keselamatan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja operasional ($F=42,518$; $Sig=0,000$). Koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,709 mengindikasikan bahwa 70,9% variasi kinerja dipengaruhi oleh ketiga variabel pengawasan tersebut. Faktor pengawasan keselamatan dan keamanan terbukti menjadi variabel paling dominan dengan koefisien regresi tertinggi ($B=0,402$) dan korelasi terkuat ($r=0,741$). Selain itu, rata-rata Berth Occupancy Ratio (BOR) sebesar 30,34% menunjukkan kategori "Baik" (di bawah standar UNCTAD <70%), yang mengindikasikan bahwa kapasitas dermaga masih tersedia secara luas untuk peningkatan kunjungan kapal.   Ciwandan Port, Banten, is a strategic transportation hub managed by PT Pelindo, with operational supervision under the authority of the Harbor Master and Port Authority Office (KSOP) Class I Banten. Synergy between the regulator (KSOP) and the operator (Pelindo) is crucial to ensure efficient and globally competitive port performance. However, practical challenges remain, such as limited supervisory human resources, suboptimal integration of the Inaportnet system, and coordination issues. This study aims to analyze the implementation of supervision (administrative, technical, and safety) by KSOP, identify existing obstacles, and formulate strategies to improve the effectiveness of supervision on port operational performance. A mixed-method approach (qualitative and quantitative) was employed, involving respondents from KSOP, PT Pelindo, and relevant stakeholders. Data were analyzed using descriptive statistics and multiple linear regression via SPSS with a sample of 30 respondents. The results show that administrative, technical, and safety supervision variables simultaneously have a significant effect on operational performance ($F=42.518$; $Sig=0.000$). The coefficient of determination ($R^2$) of 0.709 indicates that 70.9% of performance variation is explained by these three supervisory variables. Safety and security supervision is proven to be the most dominant factor, with the highest regression coefficient ($B=0.402$) and the strongest correlation ($r=0.741$). Furthermore, the average Berth Occupancy Ratio (BOR) of 30.34% falls into the "Good" category (below the UNCTAD standard of <70%), indicating that there is still significant idle capacity for increased vessel traffic.
STUDI KASUS KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT DI PELABUHAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP LOGISTIK DI PT. KRAKATAU BANDAR SAMUDRA BANTEN Arief Hidayat Tumanggor; Asnawi; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Budi Purnomo; Ahmad Shulhany; Yudha Prawira; Eka Sutrisno
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.188

Abstract

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan merupakan salah satu mata rantai krusial dalam sistem logistik nasional. Efisiensi proses ini sangat menentukan kelancaran arus barang, efektivitas biaya operasional, serta keandalan rantai pasok industri. Namun, keterlambatan bongkar muat masih sering terjadi dan berpotensi meningkatkan biaya logistik, mengganggu operasional industri, hingga menurunkan daya saing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab keterlambatan bongkar muat serta dampaknya terhadap sistem logistik di PT Krakatau Bandar Samudra (KBS) Banten. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode studi kasus, didukung oleh data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap 75 responden. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, korelasi Pearson, serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknis, sumber daya manusia (SDM), administratif, dan cuaca berpengaruh signifikan terhadap keterlambatan bongkar muat. Faktor teknis menjadi variabel paling dominan (Beta=0,402; Sig=0,000), diikuti oleh faktor SDM, administratif, dan cuaca. Secara simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh signifikan (Sig=0,000) dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,490. Keterlambatan bongkar muat terbukti berdampak langsung terhadap logistik, yaitu menyebabkan kongesti pelabuhan, peningkatan biaya demurrage dan storage, serta terganggunya jadwal distribusi industri. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan keandalan peralatan melalui preventive maintenance, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi administrasi pelayanan kapal, serta penguatan sistem mitigasi cuaca guna meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja rantai pasok di PT Krakatau Bandar Samudra Banten.   Loading and unloading activities at ports are a critical link in the national logistics system. The efficiency of these processes significantly determines the flow of goods, operational cost-effectiveness, and industrial supply chain reliability. However, loading and unloading delays still occur, potentially increasing logistics costs, disrupting industrial operations, and reducing company competitiveness. This study aims to analyze the factors causing these delays and their impact on the logistics system at PT Krakatau Bandar Samudra (KBS), Banten. A descriptive approach with a case study method was employed, supported by primary data gathered through observation, interviews, and questionnaires from 75 respondents. Quantitative data were analyzed using SPSS through validity, reliability, normality, Pearson correlation, and multiple linear regression tests. The results indicate that technical factors, human resources (HR), administrative, and weather factors significantly affect loading and unloading delays. Technical factors are the most dominant (Beta=0.402; Sig=0.000), followed by HR, administrative, and weather factors. Simultaneously, all factors have a significant effect (Sig=0.000) with an R^2 value of 0.490. These delays are proven to have a direct negative impact on logistics, causing port congestion, increased demurrage and storage costs, and disruptions to industrial distribution schedules. This study recommends improving equipment reliability through preventive maintenance, strengthening HR competencies, digitalizing vessel service administration, and enhancing weather mitigation systems to improve operational efficiency and supply chain performance at PT Krakatau Bandar Samudra Banten.
Correlation analysis between engine power and bollard pull of tugboats in Indonesia Rachmad Tri Soelistijono; Urip Mudjiono; Catur Rakhmad Handoko; Hendro Agus Widodo; Joessianto Eko Poetro
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.189

Abstract

This study aims to analyze the correlation between engine power (horsepower) and bollard pull capacity of tugboats operating in Indonesian ports. The empirical data utilized in this research was gathered from online tugboat specifications, encompassing a sample of 12 tugboats with diverse propulsion systems and engine power ratings. A correlational analysis was employed to determine the relationship between engine power and bollard pull capacity. The analytical estimates demonstrate a strong positive correlation (β = 0.0125; R2 = 0.936), indicating that 93.6% of the variation in bollard pull can be explained by variations in engine power. These findings provide precise guidance for selecting tugboats that align with the operational requirements of Indonesian ports. Furthermore, the results suggest that strategic tugboat fleet planning, based on the relationship between engine power and bollard pull, is essential for improving port operational efficiency. This study is expected to enrich the literature regarding tugboat capacity in Indonesia and contribute to port technical and operational planning.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara tenaga mesin (horsepower) dan kapasitas bollard pull pada kapal tunda (tugboat) yang beroperasi di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Data empiris dalam penelitian ini diperoleh dari spesifikasi teknis kapal tunda yang tersedia secara daring, mencakup sampel sebanyak 12 kapal tunda dengan berbagai jenis sistem propulsi dan daya mesin. Analisis korelasional digunakan untuk menentukan hubungan antara tenaga mesin dan kapasitas bollard pull. Estimasi analisis menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat kuat (β = 0,0125; R2 = 0,936), yang mengindikasikan bahwa 93,6% variasi dalam bollard pull dapat dijelaskan oleh variasi daya mesin. Temuan ini memberikan panduan yang lebih akurat dalam pemilihan kapal tunda yang sesuai dengan kebutuhan operasional pelabuhan di Indonesia. Selain itu, hasil penelitian ini menyarankan perlunya perencanaan armada kapal tunda yang didasarkan pada hubungan antara daya mesin dan bollard pull guna meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur terkait kapasitas kapal tunda di Indonesia serta berkontribusi dalam perencanaan teknis dan operasional pelabuhan.
Analisis Risiko Bahaya Kebakaran di KM. Sabuk Nusantara 108 Mashudi Rofik; Awel Suryadi; Nisa Hasna Fadhilah
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.194

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran strategis KM Sabuk Nusantara 108 sebagai kapal perintis dalam menjaga konektivitas masyarakat di wilayah 3T, yang menuntut standar keselamatan tinggi, khususnya terhadap potensi bahaya kebakaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kebakaran, mengukur tingkat kesiapsiagaan kru, serta merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang efektif guna meningkatkan keselamatan pelayaran. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di KM Sabuk Nusantara 108. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data menggunakan diagram tulang ikan (fishbone diagram), dan penarikan kesimpulan, dengan validitas data yang diuji melalui triangulasi sumber, metode, serta teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko kebakaran di KM Sabuk Nusantara 108 dipicu oleh penempatan alat pemadam yang tidak strategis, manajemen penyimpanan barang mudah terbakar yang belum standar, rendahnya kedisiplinan kru terhadap prosedur keselamatan, serta minimnya pelaksanaan latihan keadaan darurat (drill). Kesiapsiagaan kru dinilai belum optimal akibat keterbatasan pelatihan, kurangnya familiarisasi peralatan keselamatan, serta belum terbentuknya budaya keselamatan yang kuat. Penelitian ini merekomendasikan strategi mitigasi yang komprehensif, mencakup penataan ulang fasilitas pemadam, pengelolaan material berbahaya, peningkatan disiplin personel, serta pelaksanaan latihan keadaan darurat secara rutin dan variatif untuk meminimalkan risiko kebakaran di atas kapal.   This research was motivated by the important role of KM Sabuk Nusantara 108 as a pioneer ship in supporting connectivity and the lives of people in 3T regions, alongside the increased risk to safety, particularly the potential for fires on board. Therefore, the aim of this study is to analyse the risk factors of fire, the preparedness of the crew, and the fire mitigation strategies implemented on KM Sabuk Nusantara 108 to improve maritime safety. This research used qualitative methods with data collection through direct observation, interviews, and documentation studies on KM Sabuk Nusantara 108 to gain an in-depth understanding of fire risk mitigation. The data were analyzed through data reduction, data presentation using fishbone diagrams, and conclusion drawing, with data validity tested through triangulation of sources, methods, and theories. The findings indicate that fire risks on KM Sabuk Nusantara 108 are influenced by the improper placement of firefighting equipment, inadequate management of flammable materials, low crew compliance with safety procedures, and the limited implementation of emergency drills. Crew preparedness in responding to fire emergencies remains insufficient due to limited training, lack of familiarization with safety equipment, and the absence of a strong safety culture on board. Therefore, systematic mitigation efforts are required, including improved placement of firefighting equipment, proper handling of flammable materials, enhanced crew discipline and training, and the regular implementation of varied emergency drills to reduce the impact of fire hazards on board.
Digitalisasi Tata Kelola Pelabuhan dengan menganalisis Efektivitas Sistem Inaportnet dalam Proses Clearance In dan Clearance Out pada Pelabuhan Kawasan Perdagangan Bebas. Nova Adelia Putri Aryanti; Slamet Pamujianto; Slamet Pamujianto; Vivid Dekanawati; Handoyo Widiyanto; Natal NT Nainggolan
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.195

Abstract

Implementasi sistem informasi digital dalam sektor maritim ditujukan untuk mereduksi birokrasi serta meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem Inaportnet dan Simlala dalam proses Clearance In dan Clearance Out kapal asing, dengan studi kasus pada MV. Seacon Yokohama di Pelabuhan Sarana Citra Nusa (SCN) Kabil, Batam. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif selama empat bulan, wawancara mendalam dengan praktisi keagenan kapal, serta dokumentasi sistemik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi telah mengintegrasikan berbagai dokumen administrasi melalui sistem satu pintu, efisiensi operasional masih terkendala oleh ketergantungan pada verifikasi manual serta instabilitas infrastruktur jaringan. Ditemukan pula fenomena "birokrasi digital paralel," di mana koordinasi informal melalui platform pesan instan tetap diperlukan untuk mempercepat persetujuan otoritas. Penelitian ini berkontribusi dalam memetakan tantangan transisi digital di kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone) dan merekomendasikan perlunya integrasi sistem yang lebih otonom serta penguatan infrastruktur teknologi guna meminimalkan dwelling time.   The implementation of digital information systems in the maritime sector aims to reduce bureaucracy and enhance port operational efficiency. This study evaluates the efficacy of the Inaportnet and Simlala systems in the Clearance In and Clearance Out processes for foreign vessels, focusing on the case of MV. Seacon Yokohama at Sarana Citra Nusa (SCN) Kabil Port, Batam. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, data were gathered through four months of participatory observation, in-depth interviews with ship agency practitioners, and systemic documentation. The findings indicate that while digitalization has integrated various administrative documents into a single-window system, operational efficiency remains hindered by a reliance on manual verification and network infrastructure instability. A unique phenomenon of "parallel digital bureaucracy" was identified, where informal coordination via instant messaging platforms is still required to expedite authority approvals. This research contributes to the understanding of digital transition challenges in Free Trade Zone (FTZ) ports and recommends the necessity for more autonomous system integration and strengthened technological infrastructure to minimize dwelling time.
Studi Penataan Zonasi Pelabuhan Kumai untuk Meningkatkan Kelancaran Arus Penumpang dan Kendaraan Febriansyah; Santoso; Ridho Nur Kholik
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.201

Abstract

Pelabuhan Penyeberangan Kumai saat ini belum menerapkan sistem zonasi sesuai dengan regulasi yang berlaku, sehingga penataan tata ruang dan operasional pelabuhan menjadi kurang teratur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merancang sistem zonasi serta manajemen pola arus lalu lintas kendaraan di pelabuhan tersebut. Analisis dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021 tentang Sistem Zonasi di Kawasan Pelabuhan yang Digunakan untuk Melayani Angkutan Penyeberangan, serta Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.242/HK.104/DRJD/2010 tentang Pedoman Teknis Manajemen Lalu Lintas Penyeberangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi zonasi dan rekayasa pola arus kendaraan di Pelabuhan Penyeberangan Kumai masih belum memenuhi standar regulasi. Selain itu, teridentifikasi defisiensi pada fasilitas pendukung kelancaran lalu lintas, di mana pelabuhan masih kekurangan 23 rambu lalu lintas, marka penyeberangan (zebra cross), serta lampu peringatan bahaya (warning light kuning kelap-kelip). Sebagai langkah perbaikan, penelitian ini merekomendasikan penerapan sistem zonasi secara tegas, pengaturan ulang rekayasa pola arus kendaraan, serta pemenuhan kebutuhan rambu dan fasilitas keselamatan di setiap zona wilayah pelabuhan.   Currently, the Kumai Ferry Port has not implemented a zoning system in accordance with applicable regulations, resulting in an unorganized port layout and operational management. This study aims to analyze and design the zoning system and vehicle traffic flow management at the port. The analysis is guided by the Minister of Transportation Regulation Number 91 of 2021 concerning Zoning Systems in Port Areas Used for Ferry Transport Services, as well as the Decree of the Director General of Land Transportation Number SK.242/HK.104/DRJD/2010 concerning Technical Guidelines for Ferry Traffic Management. The results indicate that the existing zoning implementation and vehicle traffic flow engineering at Kumai Ferry Port do not comply with current regulatory standards. Furthermore, a deficiency in supporting traffic facilities was identified, with the port lacking 23 traffic signs, pedestrian crossings (zebra crosses), and hazard warning lights (flashing yellow lights). As a corrective measure, this study recommends the strict implementation of a port zoning system, the reconfiguration of vehicle traffic flow patterns, and the provision of necessary traffic signs and safety facilities in each port zone.
Analisis kelayakan teknis dan ekonomi PLTS off-grid 480 Wp untuk sistem pompa aksial pada tambak udang Rifki Ramadani; Yosi Apriani; Asri Indah Lestari; Wiwin A. Oktaviani; Taufik Barlian
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.202

Abstract

Krisis energi dan tingginya ketergantungan terhadap generator set (genset) diesel pada sektor budi daya tambak udang telah mendorong urgensi pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja teknis dan kelayakan ekonomi dari implementasi sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid berkapasitas 480 Wp guna memenuhi kebutuhan energi pompa aksial di Desa Bumi Dipasena Sentosa, Provinsi Lampung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pemodelan dan simulasi komputasi dengan perangkat lunak HOMER Pro. Parameter simulasi didasarkan pada data radiasi matahari, temperatur lingkungan presisi, serta profil beban harian operasional sebesar 1,6 kWh. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem PLTS mampu memproduksi energi sebesar 678 kWh/tahun dengan capacity factor sebesar 16,1% dan fraksi energi terbarukan (renewable fraction) mencapai 100%. Selain itu, simulasi mengonfirmasi ketiadaan beban yang tidak terpenuhi (unmet load) maupun kekurangan kapasitas (capacity shortage). Dari aspek ekonomi, nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) tercatat sebesar Rp274/kWh, yang mengindikasikan bahwa sistem ini sangat ekonomis dan kompetitif jika dikomparasikan dengan sumber energi fosil konvensional. Analisis struktur biaya juga mengungkapkan bahwa komponen baterai merupakan penyumbang proporsi terbesar, yakni mencapai 77,15% dari total biaya sistem. Secara keseluruhan, perancangan sistem PLTS off-grid 480 Wp ini dinyatakan sangat layak baik secara teknis maupun ekonomis, serta berpotensi menjadi solusi energi bersih yang andal untuk mendukung keberlanjutan operasional tambak udang di kawasan terpencil.   The energy crisis and the high dependency on diesel generator sets within the shrimp farming sector have driven the urgency of utilizing renewable energy as a sustainable solution. This study aims to evaluate the technical performance and economic feasibility of implementing a 480 Wp off-grid Solar Power Plant (PLTS) system to meet the energy demands of an axial pump in Bumi Dipasena Sentosa Village, Lampung Province. The research methodology employs a quantitative approach through computational modeling and simulation using the HOMER Pro software. The simulation parameters consider solar radiation data, ambient temperature, and a daily operational load profile of 1.6 kWh. The simulation results reveal that the system is capable of generating 678 kWh/year of energy with a capacity factor of 16.1% and a renewable energy fraction reaching 100%. Furthermore, the simulation confirms the absence of both unmet load and capacity shortage. From an economic perspective, the Levelized Cost of Energy (LCOE) is recorded at Rp274/kWh, indicating that the system is highly economical and competitive compared to conventional fossil energy sources. Cost structure analysis also highlights that the battery component constitutes the largest proportion, accounting for 77.15% of the total system cost. Overall, the design of the 480 Wp off-grid solar power system is proven to be highly feasible, both technically and economically, establishing it as a reliable clean energy solution to support the sustainability of shrimp farming operations in remote areas.
Sistem Keamanan Kualitas Udara pada Restricted Area Kapal Berbasis Internet of Things (IoT) Frenki Imanto; Edi Kurniawan; Dianfresta Krisdianto; Jaka Septian Kustanto
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.203

Abstract

Kualitas udara pada area terbatas (restricted area) di atas kapal, khususnya ruang merokok (smoking area), berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat paparan akumulasi asap rokok dan gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO). Sistem ventilasi konvensional saat ini dinilai belum optimal dalam menyeimbangkan sirkulasi udara dengan fluktuasi jumlah pengguna di dalam ruangan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pemantauan kapasitas ruang dan kontrol sirkulasi udara berbasis Internet of Things (IoT) guna meningkatkan kualitas udara serta kenyamanan pengguna. Metodologi penelitian mencakup perancangan sistem, pembuatan purwarupa (prototype), dan pengujian kinerja perangkat keras yang mengintegrasikan mikrokontroler ESP32, sensor gas MQ-2, sensor inframerah, pemurni udara (air purifier), serta sistem blower. Hasil pengujian menunjukkan bahwa purwarupa sistem secara efektif mampu mendeteksi keberadaan asap rokok, mengaktifkan sirkulasi udara secara otomatis, serta menghitung dan membatasi jumlah pengguna secara real-time melalui antarmuka aplikasi IoT. Implementasi sistem cerdas ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan area terbatas, mereduksi polusi udara dalam ruang, serta mendukung pemenuhan standar keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan maritim.   Air quality in restricted areas on board ships, particularly smoking areas, poses potential health risks due to the accumulation of cigarette smoke and hazardous gases such as carbon monoxide (CO). Current conventional ventilation systems are considered suboptimal in balancing air circulation with the fluctuating number of occupants in the room. Therefore, this study aims to design an Internet of Things (IoT)-based capacity monitoring and air circulation control system to improve air quality and user comfort. The research methodology encompasses system design, prototype fabrication, and performance testing of hardware integrating an ESP32 microcontroller, an MQ-2 gas sensor, infrared sensors, an air purifier, and a blower system. The testing results demonstrate that the prototype system effectively detects cigarette smoke, automates air circulation, and tracks as well as limits the number of users in real-time through an IoT application interface. The implementation of this smart system is expected to optimize the management of restricted areas, reduce indoor air pollution, and support occupational health and safety standards in the maritime environment.
The Optimalisasi Pencegahan Tubrukan Di Alur Pelayaran Sempit MT. Aerosea Catalina Yusran Ababil; Prolin Tarigan; Firnayati
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.205

Abstract

Kecelakaan kapal di alur pelayaran sempit mayoritas disebabkan oleh faktor kesalahan manusia (human error) dalam operasional navigasi dan olah gerak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosedur dan teknik olah gerak kapal yang tepat saat melintasi alur sempit guna menjamin keselamatan navigasi dan mencegah bahaya tubrukan. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi langsung di lapangan dan wawancara terstruktur dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan navigasi dan pemanduan kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tubrukan di alur sempit utamanya dipicu oleh rendahnya pemahaman terhadap aturan pencegahan tubrukan di laut (COLREG), khususnya saat melakukan manuver penyusulan (overtaking) dan berpapasan (passing). Selain itu, komunikasi yang tidak efektif antara pandu (pilot) dan nakhoda (master), serta kondisi lingkungan perairan seperti arus yang kuat dan keterbatasan lebar alur, secara signifikan meningkatkan eskalasi risiko navigasi. Kesimpulannya, sinergi komunikasi di atas anjungan dan kepatuhan penuh terhadap regulasi navigasi sangat krusial untuk meminimalisasi insiden di alur pelayaran sempit.   Ship accidents in narrow shipping channels are predominantly caused by human errors in navigation and maneuvering operations. This study aims to analyze the proper operational procedures and ship maneuvering techniques when navigating narrow channels to ensure navigational safety and prevent collisions. A descriptive qualitative approach was employed, with primary data gathered through direct field observations and structured interviews with key personnel directly involved in navigation and pilotage operations. The findings indicate that the potential for collisions in narrow channels is primarily triggered by a lack of understanding of the International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREGs), particularly during overtaking and passing maneuvers. Furthermore, ineffective communication between the pilot and the master, compounded by environmental factors such as strong currents and limited channel width, significantly escalates the risk of navigational hazards. In conclusion, effective bridge team synergy and strict compliance with navigational regulations are crucial to minimizing incidents in narrow shipping channels.

Page 1 of 3 | Total Record : 30