cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Edukasi peningkatan kualitas pemulihan dan perawatan pasca operasi katarak Kalbuadi, Heru; Rohmah, Anis Ika Nur
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1524

Abstract

Background: Cataract is the leading cause of global blindness, with a high prevalence in developing countries, including Indonesia. Cataract management through surgery requires adequate postoperative educational support, as patient and family knowledge plays a vital role in successful recovery. Health Education Communication (HEC) regarding eye wound care prior to patient discharge is considered crucial to prevent complications and accelerate healing. Purpose: Optimizing family knowledge and attitudes in supporting post-cataract surgery patient care to improve the quality of recovery and success of therapy. Method: The activity was conducted from July 28 to August 1, 2025, at Abdul Malik Fadjar Hospital, Sumbawa Regency, involving eight families of postoperative cataract patients selected purposively. The educational intervention consisted of a 3-minute video screening and a 10–15-minute direct counseling session, followed by assessment of knowledge and practice using pre-test and post-test questionnaires. Evaluation was carried out using 10 items in multiple-choice and yes/no formats, scored from 0 to 10, with qualitative interpretation of knowledge categories: Good (76–100%), Fair (56–75%), and Poor (<56%). Results: The majority of respondents were aged 31–40 years (50%), female (75%), held a higher education degree (50%), worked as entrepreneurs (50%), and were the children of postoperative cataract patients (62.5%). Pre-test evaluation showed that 50% of respondents had fair knowledge, while post-educational intervention results indicated a significant improvement, with 75% of respondents achieving a good knowledge category. Conclusion: Health education has proven effective in enhancing the knowledge of families of postoperative cataract patients, particularly among productive age groups, women, and those with higher education. The provided education successfully improved understanding and reinforced confidence in caregiving, thereby significantly supporting postoperative recovery outcomes. Suggestion: The postoperative cataract care education program is recommended to be implemented continuously across various healthcare facilities with broad coverage, including communities with low educational backgrounds and inflexible occupations. Educational materials should be tailored to the demographic characteristics of participants to ensure information is easily understood and capable of enhancing motivation and accuracy in caregiving practices by patients’ families. Keywords: Care; Cataract; Education; Postoperative Pendahuluan: Katarak merupakan penyebab utama kebutaan global, dengan prevalensi tinggi di negara berkembang termasuk Indonesia. Penatalaksanaan katarak melalui pembedahan memerlukan dukungan edukasi pascaoperasi yang memadai, karena pengetahuan pasien dan keluarga berperan penting dalam keberhasilan pemulihan. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) tentang perawatan luka mata sebelum pasien pulang dinilai krusial untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tujuan:  Mengoptimalkan pengetahuan dan sikap keluarga dalam mendukung perawatan pasien pascaoperasi katarak guna meningkatkan kualitas pemulihan dan keberhasilan terapi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 28 Juli–1 Agustus 2025 di Rumah Sakit Abdul Malik Fadjar, Kabupaten Sumbawa, dengan melibatkan 8 keluarga pasien pascaoperasi katarak yang dipilih secara purposive. Intervensi edukasi dilakukan melalui pemutaran video berdurasi 3 menit dan penyuluhan langsung selama 10–15 menit, diikuti pengukuran pengetahuan dan praktik menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Evaluasi dilakukan dengan 10 item soal pilihan ganda dan pilihan ya/tidak, dengan skor 0–10 dan interpretasi kategori pengetahuan secara kualitatif: Baik (76–100%), Cukup (56–75%), dan Kurang (<56%). Hasil: Mayoritas responden berusia 31–40 tahun (50%), perempuan (75%), berpendidikan perguruan tinggi (50%), bekerja sebagai wiraswasta (50%), dan merupakan anak dari pasien pascaoperasi katarak (62,5%). Evaluasi pre-test menunjukkan 50% responden memiliki pengetahuan cukup, sementara setelah intervensi edukasi, terjadi peningkatan signifikan dengan 75% responden mencapai kategori pengetahuan baik. Simpulan: Penyuluhan kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan keluarga pasien pascaoperasi katarak, khususnya pada kelompok usia produktif, perempuan, dan berpendidikan tinggi. Edukasi yang diberikan mampu memperbaiki pemahaman dan memperkuat keyakinan dalam perawatan, sehingga mendukung keberhasilan pemulihan pascaoperasi secara signifikan. Saran: Program edukasi perawatan pascaoperasi katarak disarankan dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai fasilitas kesehatan dengan cakupan luas, termasuk masyarakat berpendidikan rendah dan berpekerjaan tidak fleksibel. Materi penyuluhan perlu disesuaikan dengan karakteristik demografis peserta agar informasi mudah dipahami dan mampu meningkatkan motivasi serta ketepatan praktik perawatan oleh keluarga pasien.
Edukasi gizi seimbang: Gerakan cegah stunting (GEGATI) Apdola, Zikrina; Anggraini, Anggraini; Rachmawati, Fijri; Fratama, Aldy; Putri, Miranda
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1454

Abstract

Background: Stunting is the stunted growth and development of children due to chronic malnutrition. This is characterized by a child's height not meeting standards, especially during the first 1,000 days of life. In Banjar Masin Village, several children fall into the malnourished category. Purpose: To provide knowledge to expectant mothers and mothers with toddlers regarding stunting, its management and prevention, and the importance of balanced nutrition for child growth and development. Method: The GEGATI "Stunting Prevention Movement" outreach program was held at the Banjar Masin Village Hall, West Kota Agung District, on August 14, 2025. The event was held from 10:00 AM to 12:00 PM WIB. Forty-four participants, including pregnant women and mothers with toddlers, attended the event. The outreach program was conducted interactively, with open discussions and questions and answers. The informational materials covered stunting prevention in the health sciences, including using turmeric and honey, and processing tempeh into nuggets. Pre-test and post-test were used to measure changes in respondents' knowledge levels. Results: The majority of respondents' knowledge before (pre-test) education was in the poor category (39%, 88.6%), while the majority of respondents' knowledge after (post-test) education was in the good category (35%, 79.6%). Conclusion: Counseling activities are very effective in improving and increasing the understanding of stunting among expectant mothers and mothers with toddlers. Increased knowledge about nutrition and health can shape the mindset and parenting practices of the community to improve stunting prevention. Suggestion: Village cadres are expected to coordinate with the village government and health workers and regularly organize community knowledge-building activities related to nutrition, healthy lifestyles, and environmental protection. This will specifically empower mothers and expectant mothers to gain knowledge about childcare, from pregnancy through the first 1,000 days of life. Keywords: Balanced nutrition; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting adalah terhambatnya tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronis. Hal ini bisa ditandai dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai standar, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Di Pekon Banjar Masin, ada beberapa anak yang masuk dalam kategori gizi buruk. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan calon ibu dan ibu yang mempunyai balita terkait stunting, penanggulangan dan pencegahannya, serta gizi seimbang yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Metode: Penyuluhan GEGATI “Gerakan Cegah Stunting” di Balai Pekon Banjar Masin, Kecamatan Kota Agung Barat dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 10.00-12.00 WIB. Responden yang hadir dalam acara ini sebanyak 44 peserta yang terdiri dari ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita. Penyuluhan ini dilakukan secara interaktif, diskusi terbuka dan tanya jawab bersama dengan para responden. Materi informasi terkait dengan pencegahan stunting dalam bidang ilmu kesehatan, dengan temulawak dan madu serta dengan olahan tempe menjadi nugget. Pre-test dan post-test digunakan untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan responden. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum (pre-test) pemberian edukasi adalah sebagian besar dalam kategori kurang yaitu sebanyak 39 (88.6%), sedangkan tingkat pengetahuan responden sesudah (post-test) pemberian edukasi adalah sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 35 (79.6%). Simpulan: Kegiatan penyuluhan sangat efektif memberikan peningkatan dan pemahaman calon ibu dan ibu dengan balita terhadap stunting. Meningkatnya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan dapat membentuk pola pikir dan pola asuh masyarakat menjadi lebih baik dalam pencegahan terjadinya stunting. Saran: Diharapkan para kader desa untuk selalu berkoordinasi dengan pemerintah desa dan tenaga kesehatan, secara berkala menyelenggarakan kegiatan peningkatan pengetahuan masyarakat terkait pemahaman tentang gizi, pola hidup sehat dan menjaga lingkungan, sehingga secara khusus untuk para ibu atau calon ibu mendapatkan pengetahuan tentang pola asuh anak, baik sejak kehamilan sampai 1000 hari pertama kehidupan.
Sosialisasi mitigasi bencana: aman dari bencana tanah longsor dan luapan air (AMERTA) Pratama, Reza Hardian; Purwoko, Eko; Husna, Nurul; Julian, Aqlifa Hanif
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1517

Abstract

Background: Indonesia’s complex topography, geology, and climate make hilly areas such as Karang Rejo Village in Ulubelu Subdistrict, Tanggamus Regency highly vulnerable to landslides and flash floods. Steep slopes, unstable soil conditions, unsustainable land use practices, and unmanaged household waste accumulation contribute to disaster risk and environmental pollution. Open burning of waste further exacerbates health risks due to the emission of toxic substances and fine particulates. Limited waste processing facilities compel residents to locate disposal sites on the village outskirts, increasing both financial burdens and environmental impacts. Purpose: Improving the capacity of the Karang Rejo Village community in mitigating landslide and flood risks through integrated disaster education, as well as introducing and testing the effectiveness of environmentally friendly waste incineration tools. Method: The community service activity themed "Safe from Landslide and Water Hazards" was held on August 27, 2025, at the multi-purpose building Village Hall of Karang Rejo, Ulubelu Subdistrict, Tanggamus Regency, with participants including the Village Head, Village Secretary, BHP Chairperson, Heads of Hamlets 1–6, and local residents. The implementation combined persuasive, educational, and participatory approaches through a seminar on landslide and flood mitigation, introduction of low-smoke waste incinerators, interactive discussions, demonstrations using repurposed drums as burning tools, and hands-on training based on a practical guidebook. A final evaluation was conducted to assess the strengths and weaknesses in terms of both process and outcomes. Results: The activity began with a needs assessment identifying landslide and flood-prone areas as well as the local waste management system. Based on these findings, the work group’s team designed and disseminated low-smoke waste incinerators along with a disaster mitigation education package through seminars, practical demonstrations, interactive discussions, and guidebooks. Residents gained understanding of early signs of landslides and floods, the impact of waste accumulation on water overflow, and procedures for constructing and using the incinerator. The symbolic handover of the incinerator to the village head and the community’s enthusiastic response marked the success of an integrated approach in enhancing environmental awareness and disaster resilience. Conclusion: The activity successfully enhanced community awareness, skills, and preparedness in mitigating landslides, floods, and environmental management. The combination of disaster mitigation outreach and the innovation of low-smoke waste incinerators strengthened residents’ active role in preventing risks stemming from human behavior. The incinerator proved effective in reducing smoke emissions, odors, and heat radiation, thereby supporting healthier and more sustainable household waste management. Suggestion: Recommended follow-up actions include advanced training and the development of low-smoke waste incinerators equipped with integrated filtration systems to more effectively reduce pollution. Strengthening intensive collaboration with the Regional Disaster Management Agency (RDMA) and the Environmental Agency is essential to ensure program sustainability and expand its positive impact on the community. Keywords: AMERTA; Disaster mitigation; Environmental health; Flood; Landslide Pendahuluan: Indonesia dengan karakteristik topografi, geologi, dan iklimnya yang kompleks menjadikan wilayah berbukit seperti Desa Karang Rejo di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, sangat rentan terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Lereng curam, kondisi tanah labil, penggunaan lahan yang kurang konservatif, serta akumulasi sampah rumah tangga yang tidak terkelola memicu kerawanan bencana dan pencemaran lingkungan. Praktik pembakaran sampah terbuka menambah risiko kesehatan akibat emisi zat beracun dan partikel halus. Keterbatasan fasilitas pengolahan sampah memaksa masyarakat menempatkan TPA di pinggiran desa, meningkatkan beban biaya dan dampak lingkungan. Tujuan: Meningkatkan kapasitas komunitas Desa Karang Rejo dalam mitigasi risiko tanah longsor dan banjir melalui edukasi bencana terintegrasi, serta memperkenalkan dan menguji efektivitas alat pembakaran sampah yang ramah lingkungan. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat bertema "Aman dari Bencana Tanah Longsor dan Air (AMERTA)" dilaksanakan pada 27 Agustus 2025 di GSG Balai Desa Karang Rejo, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, dengan peserta meliputi Kepala Pekon, Sekretaris Desa, Ketua BHP, Kepala Dusun 1–6, dan warga setempat. Pelaksanaan menggabungkan pendekatan persuasif, edukatif, dan partisipatif melalui seminar mitigasi tanah longsor dan banjir, pengenalan tong pembakar sampah minim asap, diskusi interaktif, demonstrasi pemanfaatan drum bekas sebagai alat pembakaran, serta pelatihan praktik berbasis buku panduan. Evaluasi akhir diadakan untuk menilai kelebihan dan kekurangan dari segi proses maupun hasil kegiatan. Hasil: Kegiatan diawali dengan analisis kebutuhan yang mengidentifikasi titik rawan longsor, banjir, dan sistem pengelolaan sampah lokal. Berdasarkan temuan tersebut, tim KKN merancang dan menyosialisasikan tong pembakar sampah minim asap serta paket edukasi mitigasi bencana melalui seminar, demonstrasi praktis, diskusi interaktif, dan buku panduan. Warga memperoleh pemahaman tentang tanda awal longsor dan banjir, dampak tumpukan sampah pada luapan air, serta prosedur pembuatan dan penggunaan alat pembakar. Penyerahan simbolis tong pembakar kepada kepala pekon dan respons antusias masyarakat menandai keberhasilan pendekatan terpadu dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dan ketahanan bencana komunitas. Simpulan: Kegiatan berhasil meningkatkan kesadaran, keterampilan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam mitigasi tanah longsor, banjir, dan pengelolaan lingkungan. Kombinasi sosialisasi mitigasi bencana dan inovasi alat pembakar sampah minim asap memperkuat peran aktif warga dalam pencegahan risiko yang bersumber dari perilaku manusia. Alat tersebut terbukti efektif mengurangi emisi asap, bau, dan radiasi panas, sehingga mendukung pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih sehat dan berkelanjutan. Saran: Rekomendasi tindak lanjut meliputi pelatihan lanjutan dan pengembangan alat pembakar sampah minim asap dengan sistem filtrasi terpadu untuk menekan polusi lebih efektif. Kolaborasi intensif dengan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup perlu diperkuat guna menjamin keberlanjutan program dan memperluas dampak positif bagi masyarakat.
Kegiatan penyuluhan pencegahan stunting dan pemanfaatan lahan pekarangan (BUNZIKA SEHAT) Sari, Dina Amilia; Rembulan , Shafa Annisa; Fadilasari , Dewi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1526

Abstract

Background: Stunting remains a chronic nutritional problem in Indonesia, particularly in rural areas, impacting children's physical growth, cognitive development, and future productivity. According to the 2024 National Child Health Survey (SSGI), the prevalence of stunting in Indonesia reached 19.8%, still above the WHO threshold of 20%. One strategy for preventing stunting is utilizing home gardens as a source of nutritious food. Purpose: To determine the implementation of the BUNZIKA SEHAT outreach program in improving community knowledge and skills in utilizing home gardens as a stunting prevention effort. Method: The activity was conducted in Padang Ratu Village, Wonosobo District. Nineteen participants participated, consisting of housewives and integrated health post (Posyandu) cadres in Padang Ratu Village, Wonosobo District. The selection of participants focused on families with toddlers or those at risk of malnutrition. Interventions were conducted through outreach, training, and mentoring. Results: The implementation showed an increase in participant knowledge, from 89.5% in the good category in the pre-test to 100% in the post-test. The interactive lecture, discussion, and hands-on practice methods proved effective in improving community understanding and skills. Conclusion: The BUNZIKA SEHAT program successfully increased community knowledge and skills in utilizing home gardens, promoted family food security, and can be used as a model for community empowerment to sustainably prevent stunting. Suggestion: The BUNZIKA SEHAT program can be used as a model for community empowerment in a broader area and can be implemented sustainably. Village governments are also expected to provide support by providing seeds, fertilizer, and regular mentoring to ensure program sustainability. Keywords: Balanced nutrition; Community empowerment; Home gardens; Stunting Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah gizi kronis di Indonesia, terutama di wiayah pedesaan, yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas anak di masa depan. Berdasarkan SSGI (2024) prevalensi stunting di Indonesia mencapau 19.8%, masih di atas ambang batas masalah kesehatan menurut WHO sebesar 20%. Salah satu strategi pencegahan stunting aalah melalui pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi. Tujuan: Untuk mengetahui implementasi penyuluhan BUNZIKA SEHAT dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan rumah sebagai upaya pencegahan stunting. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Pekon Padang Ratu, Kecamatan Wonosobo. Peserta dalam kegiatan ini adalah 19 orang, yang terdiri dari ibu rumah tangga dan kader posyandu di Pekon Padang Ratu, Kecamatan wonosobo. Pemilihan peserta difokuskan pada keluarga yang memiliki anak balita atau berisiko mengalami kekurangan gizi. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Hasil: Pelaksanaan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserra dari 89.5% berada dalam kategori baik pada pre-test menjadi 100% pada post-test. Metode ceramah interaktif, diskusi, dan praktik langsung terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat. Simpulan: Program BUNZIKA SEHAT berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyrakat dalam pemanfaatan pekarangan rumah, mendorong ketahanan pangan keluarga, dan dapat dijadikan model pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan stunting secara berkelanjutan. Saran: Program BUNZIKA SEHAT dapat dijadikan model pemberdayaan masyarakat untuk wilayah yang lebih luas dan dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah pekon juga diharapkan memberikan dukungan melalui penyediaan bibit, pupuk, serta pendampingan rutin sehingga keberlanjutan program lebih terjamin.
Kegiatan peningkatan ekonomi melalui produksi olahan kakao dalam upaya pencegahan stunting Setiawan, Noval Abdi; Hidayah, Taswin; Amelia, Rosa; Sejati, Hiro
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1527

Abstract

Background: Stunting remains a public health challenge in Indonesia, with a prevalence of 21.6% in 2022. Contributing factors include chronic malnutrition, recurrent infections, and low family purchasing power. In Ketapang Village, cocoa potential has not been optimally utilized, even though it could be developed into nutritious food with high economic value. Local cocoa processing is considered strategic for supporting Stunting prevention and improving community welfare. Purpose: Increase community income and prevent Stunting through entrepreneurship training, nutrition education, and diversification of processed cocoa products, such as Broka Brownies Cocoa, as a healthy food alternative based on local potential. Method: The 2025 KKL-PPM activity was conducted in Ketapang Village, Tanggamus, involving 25 housewives and village youth, supported by Posyandu (Integrated Service Post) cadres and village officials. Implementation methods included socialization of Stunting and balanced nutrition, training and practice in making Broka Brownies Cocoa using local ingredients, entrepreneurship mentoring (packaging, marketing, and small business management), and monitoring and evaluation of the activity's impact. The production process used simple tools and materials easily accessible to residents. Results: Community nutrition knowledge increased by approximately 30% and encouraged the production of Broka Brownies Cocoa by 25 participants with consistent quality. This innovative product was well-received by the community and provided added economic value, with a net profit margin of approximately 30% of production costs. The positive social impact was reflected in the formation of small business groups of housewives who independently continued production and marketing, demonstrating the potential for local empowerment based on functional foods. Conclusion: Nutrition literacy, cocoa processing skills, and the empowerment of community entrepreneurial potential through the Broka Brownies Cocoa innovation increased. This activity contributed to Stunting prevention, family economic empowerment, and the development of a competitive local culinary identity. Cross-sector collaboration and a local potential-based approach proved effective in creating sustainable solutions, with recommendations for further training, access to capital, and marketing networks to support business independence and village food security. Suggestion: The village government should support the formation of joint ventures and ongoing mentoring, and encourage the use of the product as a nutritious snack at integrated health posts (posyandu) and schools. Further research is needed to confirm the nutritional impact and sustainability of the program. Keywords: Community empowerment; Local potential; Nutrition; Socioeconomic; Stunting Pendahuluan: Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi 21.6% pada 2022. Faktor penyebabnya meliputi kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan rendahnya daya beli keluarga. Di Desa Ketapang, potensi kakao belum dimanfaatkan optimal, padahal dapat dikembangkan menjadi pangan bergizi bernilai ekonomi tinggi. Pengolahan kakao lokal dinilai strategis untuk mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tujuan: Meningkatkan pendapatan masyarakat dan mencegah stunting melalui pelatihan kewirausahaan, edukasi gizi, dan diversifikasi produk olahan kakao, seperti Broka Brownies Kakao, sebagai alternatif pangan sehat berbasis potensi lokal. Metode: Kegiatan KKL-PPM tahun 2025 dilaksanakan di Desa Ketapang, Tanggamus, dengan melibatkan 25 orang ibu rumah tangga dan pemuda desa, didukung oleh kader posyandu, dan perangkat desa. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi stunting dan gizi seimbang, pelatihan serta praktik pembuatan Broka Brownies Kakao berbahan lokal, pendampingan kewirausahaan (pengemasan, pemasaran, dan pengelolaan usaha kecil), serta monitoring dan evaluasi dampak kegiatan. Proses produksi menggunakan alat sederhana dan bahan yang mudah diakses warga. Hasil: Peningkatan pengetahuan gizi masyarakat sebesar ±30% dan mendorong produksi Broka Brownies Kakao oleh 25 peserta dengan kualitas seragam. Produk inovatif ini diterima baik oleh masyarakat dan memberikan nilai tambah ekonomi, dengan margin keuntungan bersih sekitar 30% dari biaya produksi. Dampak sosial positif tercermin dari terbentuknya kelompok usaha kecil ibu rumah tangga yang secara mandiri melanjutkan produksi dan pemasaran, menunjukkan potensi pemberdayaan lokal berbasis pangan fungsional. Simpulan: Terjadi peningkatan literasi gizi, keterampilan pengolahan kakao, dan pemberdayaan potensi kewirausahaan masyarakat melalui inovasi Broka Brownies Kakao. Kegiatan ini berkontribusi pada pencegahan stunting, penguatan ekonomi keluarga, dan pembentukan identitas kuliner lokal yang kompetitif. Kolaborasi lintas sektor serta pendekatan berbasis potensi lokal terbukti efektif menciptakan solusi berkelanjutan, dengan rekomendasi pelatihan lanjutan, akses permodalan, dan jejaring pemasaran untuk mendukung kemandirian usaha dan ketahanan pangan desa. Saran: Pemerintah desa perlu mendukung pembentukan usaha bersama dan pendampingan lanjutan, serta mendorong pemanfaatan produk sebagai camilan bergizi di posyandu dan sekolah. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan dampak gizi dan keberlanjutan program.
Kegiatan peduli anak stunting (PEDAS) dengan pemenuhan gizi dari bahan pangan lokal Anggunan, Anggunan; Fransiska, Amelia; Hanafi, Ari Eka; Septiani, Ayu Aulia; Indriana, Danti; Gunawan, Muhammad Arfan; Putra, Ramanda Hadi; Maharani, Reysha Putri; Syahrin, Tiara Laili Alfy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1566

Abstract

Background: Stunting is a condition of growth failure in toddlers due to chronic malnutrition and frequent recurrent infections, especially during the first 1,000 days of life. Stunting is characterized by a child's height being lower than the standard for their age. The impact is not only physical, but also cognitive development and future productivity. Stunting remains a significant health problem in Negara Batin Village, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. This condition is closely related to the community's lack of understanding regarding balanced nutrition, parenting practices, and environmental health. Purpose: To increase community knowledge about stunting prevention through nutrition education and nutritious food processing practices based on local ingredients. Method: The "Caring for Stunting Children" outreach activity was held at the Negara Batin Village Hall, West Kota Agung District, Tanggamus, on August 12, 2025, from 8:00 a.m. to close. Forty-one participants attended, consisting of pregnant women and mothers of toddlers from the Negara Batin Village community. The delivery of material in this extension activity uses an interactive method through open discussions and question and answer sessions with the participants. Results: The community demonstrated high enthusiasm and active participation in the discussion sessions. Prior to the activity, most residents did not fully understand the causes and prevention of stunting. Using corn as the main ingredient in porridge also provides added value. Besides being readily available, corn boasts excellent nutritional value for children, making it a healthy food alternative. Conclusion: The "Caring for Stunting Children" outreach program had a positive impact on the community. Through education and hands-on practice, participants were able to effectively increase their understanding of balanced nutrition, parenting styles, and environmental health. Suggestion: The community of Negara Batin Village is expected to be more concerned with stunting prevention by maintaining a nutritious diet, good parenting styles, and environmental cleanliness. Village officials and health workers need to continue providing regular education and supporting facilities to ensure the sustainability of these efforts. Keywords: Balanced nutrition; Local food ingredients; Outreach; Stunting prevention Pendahuluan: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan sering mengalami infeksi berulang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya. Dampaknya bukan hanya pada fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan produktivitas di masa depan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang cukup menonjol di Pekon Negara Batin, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Kondisi ini erat kaitannya dengan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang, pola asuh anak, serta kesehatan lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting melalui edukasi gizi dan praktik pengolahan makanan bergizi berbasis bahan lokal. Metode: Kegiatan penyuluhan “Peduli Anak Stunting (PEDAS)” dilaksanakan di Balai Pekon Negara Batin, Kecamatan Kota Agung Barat, Tanggamus pada tanggal 12 agustus 2025 pukul 08.00 – selesai WIB. Partisipan yang hadir dalam acara ini sebanyak 41 peserta yang terdiri dari ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita merupakan warga Pekon Negara Batin. Penyampaian materi dalam kegiatan penyuluhan ini menggunakan metode interaktif melalui diskusi terbuka serta sesi tanya jawab bersama para peserta. Hasil: Masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan keterlibatan aktif dalam sesi diskusi. Sebelum kegiatan, sebagian besar warga belum memahami secara detail mengenai faktor penyebab dan cara pencegahan stunting. Pemanfaatan jagung sebagai bahan pangan utama bubur juga memberikan nilai tambah. Selain mudah diperoleh, jagung memiliki kandungan gizi yang baik bagi anak, sehingga dapat dijadikan alternatif makanan sehat. Simpulan: Kegiatan dengan program penyuluhan “Peduli Anak Stunting (PEDAS)”) memberikan dampak positif pada masyarakat. Melalui edukasi dan praktik langsung secara efektif dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai gizi seimbang, pola pengasuhan, serta kesehatan lingkungan. Saran: Masyarakat Pekon Negara Batin diharapkan lebih peduli terhadap pencegahan stunting dengan menjaga pola makan bergizi, pola asuh yang baik, serta kebersihan lingkungan, sementara perangkat desa dan tenaga kesehatan perlu terus melakukan edukasi secara berkala dan menyediakan fasilitas pendukung agar upaya ini berjalan berkelanjutan.
Kegiatan asuhan keperawatan dengan pemberian jus wortel pada penderita hipertensi Sakti, Ilham Agung; Wandini, Riska
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1502

Abstract

Background: A complex lifestyle often triggers diseases, one of which is hypertension, known as a silent killer because it often goes unnoticed. High blood pressure is influenced by poor diet, lack of activity, and stress. In addition to medication, non-pharmacological treatments are also important, one of which is using carrots (Daucus Carota L.). Carrots are easily accessible and rich in vitamins (A, B, C, D, E, K), minerals, potassium, and beta-carotene, making them effective in helping control blood pressure in people with hypertension. Purpose: To describe nursing care using non-pharmacological carrot juice therapy to lower blood pressure in people with hypertension. Method: The activity was conducted in June 2025 in Batu Menyan Village, Sukajaya, Lempasing, Pesawaran. This quantitative descriptive study used a quasi-experimental approach with a one-group pretest-posttest design. The subjects used in this case study were four elderly people with hypertension. The nursing intervention was administering carrot juice three times daily after meals for five consecutive days. During the therapy period, participants were not allowed to smoke, drink alcohol, drink coffee, or engage in strenuous physical activity. Blood pressure measurements (systolic and diastolic) were taken before therapy as pre-test data and after therapy as post-test data. Results: showed that for the participants' blood pressure before therapy by drinking carrot juice for Mrs. Sa. was 180/90 mmHg and for Mrs. Sb. was 200/130 mmHg, after therapy by drinking carrot juice for 5 days, the blood pressure for Mrs. Sa. was 140/90 mmHg and for Mrs. Sb. was 140/90 mmHg. While the blood pressure for participants taking antihypertensive medication for Mr. K. was 190/100 mmHg and for Mrs. F. was 170/70 mmHg, after a period of 7 days, the blood pressure for Mr. K. was 150/100 mmHg and for Mrs. F. was 150/100 mmHg. Conclusion: Providing a non-pharmacological intervention in the form of drinking 200 grams of carrot juice every morning for 5 consecutive days in patients with hypertension had a positive impact on lowering blood pressure and also contributed to changes in physical condition. Suggestion: It is hoped that this will serve as a source of information and add to the application of nursing care theory to patients with hypertension. Furthermore, future researchers are expected to develop research with a larger number of participants, compare doses, and increase the duration, so as to provide an understanding of healthy lifestyles in elderly people with hypertension. Keywords: Blood pressure; Carrot juice; Hypertension; Non-pharmacological therapy Pendahuluan : Gaya hidup kompleks sering memicu penyakit, salah satunya hipertensi yang dikenal sebagai silent killer karena sering tidak disadari. Tekanan darah tinggi dipengaruhi pola makan buruk, kurang aktivitas, dan stres. Selain obat, pengobatan non-farmakologis juga penting, salah satunya menggunakan wortel (Daucus Carota L). Wortel mudah dijangkau, kaya vitamin (A, B, C, D, E, K), mineral, kalium, dan beta karoten, sehingga efektif membantu mengontrol tekanan darah pada penderita hipertensi. Tujuan: Untuk menggambarkan asuhan keperawatan dengan pemberian terapi non-farmakologi jus wortel dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni 2025 di Desa Batu Menyan Sukajaya Lempasing Pesawaran. Penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan pendekatan quasi eksperimen dengan rancangan one grup pretest-posttest design. Subyek yang digunakan dalam studi kasus ini sebanyak empat lansia dengan masalah hipertensi untuk dijadikan partisipan. Intervensi keperawatan adalah berupa pemberian jus wortel dengan durasi 3 kali sehari setelah makan selama 5 hari berturut-turut. Dan selama periode terapi, partisipan tidak boleh merokok, minum alkohol, minum kopi serta melakukan aktivitas fisik yang berat. Dilakukan pengukuran tekanan darah (sistolik dan diastolik) pada saat sebelum terapi sebagai data pre-test dan sesudah terapi sebagai data post-test. Hasil: menunjukkan bahwa untuk tekanan darah partisipan sebelum terapi dengan minum jus wortel pada Ny. Sa. adalah sebesar 180/90 mmHg dan pada Ny. Sb. adalah 200/130 mmHg, setelah terapi dengan minum jus wortel selama 5 hari, tekanan darah pada Ny. Sa. adalah sebesar 140/90 mmHg dan pada Ny. Sb. adalah sebesar 140/90 mmHg. Sedangkan tekanan darah untuk partisipan dengan minum obat anti hipertensi pada Tn. K. adalah sebesar 190/100 mmHg dan pada Ny. F. adalah 170/70 mmHg, setelah periode selama 7 hari, tekanan darah pada Tn. K. adalah sebesar 150/100 mmHg dan pada Ny. F. adalah sebesar 150/100 mmHg. Simpulan: Pemberian intervensi non-farmakologi berupa minum jus wortel 200 gr sebanyak setiap pagi hari selama 5 hari berturut-turut pada penderita hipertensi, memberikan dampak positif dalam menurunkan tekanan darah dan juga berkontribusi dalam perubahan perbaikan kondisi fisik. Saran: Diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan menambah dalam menerapkan teori asuhan keperawatan pada pasien hipertensi, serta bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian dengan jumlah partisipan yang lebih besar, serta membandingkan dosis, dan memperbanyak durasi, sehingga dapat memberikan pemahaman tentang pola hidup sehat pada lansia dengan hipertensi.
Edukasi dengan inovasi produk pangan berbasis daun kelor sebagai upaya pencegahan stunting pada anak Anggunan, Anggunan; Pangestu, Herwindu Danu; Moch Adytia Pangestu, Moch Adytia; Emelianti, Dipsi; Andini, Mutia; Ludfi, Nyimas Zazkia; Sari, Ni Wayan Widia; Amanda, Dania Tri
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1552

Abstract

Background: Stunting in Indonesia remains a serious challenge to improving child health, with a national prevalence reaching 21.6% in 2022. Early prevention efforts through nutritional improvement and the use of balanced, nutritious local foods are essential. The Moringa oleifera plant, rich in essential nutrients, has significant potential as a functional food ingredient to prevent stunting. In Pekon Belu, Tanggamus Regency, the use of Moringa is still limited despite its abundant availability. This study analyzes innovative local food products based on Moringa leaves, such as pudding and dumplings, as an adaptive, affordable, and sustainable nutritional intervention strategy to support stunting prevention in children. Purpose: To provide education on innovative processed food products based on Moringa leaves, such as pudding and dumplings, as an effort to increase children's nutritional intake. Method: The activity was conducted in 2025 in Pekon Belu, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. It involved 63 participants, consisting of 3 pregnant women, 6 infants aged 0–12 months, 15 toddlers, and 43 children. The activity included education on the local potential of the Moringa plant and outreach on its nutritional content to meet nutritional needs that can contribute to stunting prevention. A simple organoleptic test was conducted on 20 children regarding processed foods, namely pudding and dumplings made from Moringa leaves. The simple organoleptic assessment consisted of assigning a score to each statement, with 1=like and 0=dislike. Results: Of the 15 toddlers, data obtained indicated that 6 children (40.0%) had symptoms of stunting. Based on the simple organoleptic assessment data by the 20 children, the pudding product received a score of 4.2 points for taste, 4.0 points for color, and 4.5 points for texture, with an acceptance rate of 85%. Meanwhile, processed siomay products obtained scores of 4.0 points for taste, 3.8 points for color, and 4.2 points for texture, with an acceptance rate of 80%. Conclusion: Educational activities involving innovative food processing using moringa leaves as the main ingredient in pudding and dumplings have made a positive contribution as an effective and affordable locally-based nutrition intervention for the community. Suggestion: Further research through laboratory analysis and trials with larger samples is needed to strengthen the scientific evidence regarding the nutritional content of moringa products. Furthermore, the development of a variety of moringa-based products is necessary to expand nutritious food choices to support stunting prevention. This product has the potential to be a stunting prevention strategy because it suits children's tastes, is easily accessible, and is economical. Keywords: Dumpling; Moringa leaves; Nutrition; Pudding; Stunting Pendahuluan: Masalah stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam peningkatan kualitas kesehatan anak, dengan prevalensi nasional mencapai 21.6% pada tahun 2022. Upaya pencegahan sejak dini melalui perbaikan gizi dan pemanfaatan pangan lokal bergizi seimbang sangat diperlukan. Tanaman kelor (Moringa oleifera), yang kaya akan zat gizi penting, memiliki potensi besar sebagai bahan pangan fungsional untuk mencegah stunting. Di Pekon Belu, Kabupaten Tanggamus, pemanfaatan kelor masih terbatas meski ketersediaannya melimpah. Penelitian ini menganalisis inovasi produk pangan lokal berbasis daun kelor, seperti puding dan siomay, sebagai strategi intervensi gizi yang adaptif, terjangkau, dan berkelanjutan dalam mendukung pencegahan stunting pada anak. Tujuan: Memberikan edukasi dengan inovasi produk olahan makanan berbasis daun kelor berupa puding dan siomay sebagai upaya peningkatan asupan nutrisi bergizi pada anak. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Pekon Belu, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Melibatkan 63 peserta, terdiri dari 3 ibu hamil, 6 bayi usia 0–12 bulan, 15 balita, dan 43 anak-anak. Kegiatan berupa edukasi pemanfaatan potensi lokal tanaman kelor dan sosialisasi kandungan gizi sebagai pemenuhan kebutuhan kecukupan gizi yang dapat berkontribusi dalam pencegahan stunting. Dilakukan uji organoleptik sederhana pada 20 anak terkait makanan olahan berupa puding dan siomay dari daun kelor. Penilaian organoleptik sederhana berupa pemberian nilai skor dalam setiap pernyataan nilai 1=menyukai, dan 0=tidak menyukai. Hasil: Dari sebanyak 15 balita, mendapatkan data sebanyak 6 anak-anak (40.0%) terindikasi memiliki gejala stunting. Berdasarkan data penilaian organoleptik sederhana oleh 20 anak untuk produk olahan puding memperoleh skor pada aspek rasa 4.2 poin, aspek warna 4.0 poin, dan aspek tekstur 4.5 poin, dengan tingkat penerimaan mencapai 85%. Sedangkan untuk produk olahan siomay memperoleh skor pada aspek rasa 4.0 poin, aspek warna 3.8 poin, dan aspek tekstur 4.2 poin, dengan tingkat penerimaan mencapai 80%. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan inovasi pengolahan pangan menggunakan daun kelor sebagai bahan utama dalam puding dan siomay memberikan kontribusi positif sebagai intervensi gizi berbasis potensi lokal yang efektif dan terjangkau pada masyarakat. Saran: Penelitian lanjutan melalui analisis laboratorium dan uji coba dengan sampel lebih besar diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah terkait kandungan gizi produk kelor. Selain itu, pengembangan ragam produk berbasis kelor perlu dilakukan guna memperluas pilihan pangan bergizi dalam mendukung pencegahan stunting. Produk ini berpotensi menjadi strategi pencegahan stunting karena sesuai selera anak, mudah diakses, dan ekonomis.
Kegiatan observasi status gizi dan kesehatan pada penyandang disabilitas Sari, Fitri Eka; Perdana, Agung Aji; Aryawati, Wayan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1576

Abstract

Backghround: Meeting nutritional needs in children and adolescents is a key component of growth and development, particularly for persons with disabilities who have physical limitations. A 2023 UNICEF report revealed that children with disabilities in Indonesia face higher rates of malnutrition than children without disabilities. The prevalence of underweight and wasting is also higher in this group. Purpose: To describe the nutritional status of persons with disabilities aged 15–30 years at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Method: Observation activities to collect data by directly observing behavior or phenomena without intervention were conducted using a descriptive observational design at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Data collection was carried out through a survey with observation and interviews. The population in this study was all persons with disabilities aged 15–30 years in Bandar Lampung City, specifically those registered with the Uptd Disability Service Unit. Using a random sampling technique, 30 respondents were selected, consisting of individuals with hearing impairments, blindness, and physical disabilities. The instruments used have been designed to elicit relevant information regarding the experiences and needs of people with disabilities. Results: The majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit (UPTD) experience nutritional problems, primarily being underweight, likely due to low consumption of nutritious food and physical activity. Data shows that 69.9% of respondents are underweight, with low consumption of fruits, vegetables, protein (meat, fish, eggs, milk), and water. Seventy-three percent of respondents skip breakfast, with nearly half (46.7%) experiencing difficulty accessing nutritious food, lacking regular physical activity, and most only exercising once or twice a week. Common health problems include anemia, dizziness, fatigue, and digestive disorders. The majority (73.4%) of respondents have never received nutrition counseling, but consumption of supplemental vitamins remains uneven. Conclusion: This observation indicates that the majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit experience nutritional problems, with 69.9% of respondents categorized as underweight based on their body mass index (BMI). Furthermore, only 26.7% of respondents have received counseling on nutrition and healthy eating patterns. These findings indicate an urgent need for better nutritional interventions for people with disabilities, particularly in terms of education, food access, and nutritional status monitoring. Suggestion: Regular nutritional counseling programs, particularly on balanced nutrition and healthy eating patterns, are needed for people with disabilities in social institutions, using a friendly and easy-to-understand approach. Providing healthy food assistance by the government or social institutions is essential to ensure the availability and easy access of nutritious food for people with disabilities through subsidies or nutritional food assistance programs. As a follow-up program, health services are expected to conduct regular health monitoring, including nutritional and health status checks, for early detection of malnutrition and related diseases. Keywords: Disability health check-up; Nutritional needs; Nutritional status; People with disabilities Pendahuluan: Pemenuhan kebutuhan gizi pada anak dan remaja merupakan wujud utama dari proses pertumbuhan dan perkembangan. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang memiliki kekurangan fisik. Laporan UNICEF tahun 2023 mengungkapkan bahwa anak penyandang disabilitas di indonesia menghadapi tingkat malnutrisi yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa disabilitas. Prevalensi underweight dan wasting juga lebih tinggi pada kelompok ini. Tujuan: Menggambarkan kondisi gizi penyandang disabilitas usia 15–30 tahun di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung Metode: Kegiatan observasi untuk mengumpulkan data dengan mengamati langsung perilaku atau fenomena tanpa intervensi, yang dilakukan dengan disain deskriptif observasional yang dilaksanakan di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung. Merupakan kegiatan pengambilan data melalui survei dengan observasi dan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyandang disabilitas usia remaja hingga dewasa (15–30 tahun) yang berada di wilayah Kota Bandar Lampung, khususnya mereka yang terdaftar di Uptd Dinas Sosial Disabilitas. Dengan menggunakan teknik random sampling mendapatkan 30 orang sebagai responden yang terdiri dari individu dengan kondisi tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Instrumen yang digunakan telah dirancang untuk menggali informasi yang relevan terkait pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas. Hasil: Mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, terutama kekurangan berat badan dan besar kemungkinan karena konsumsi makanan bergizi dan aktivitas fisik yang masih rendah. Data menunjukkan sebanyak 69.9% responden tergolong underweight, konsumsi buah, sayur, protein (daging, ikan, telur, susu), dan air putih masih rendah. Sebanyak 73.4% responden tidak sarapan setiap pagi dimana hampir setengah responden (46.7%) mengalami kesulitan mengakses makanan bergizi, aktivitas fisik rutin masih kurang, dan sebagian besar hanya olahraga 1-2 kali seminggu. Masalah kesehatan yang sering dialami antara lain anemia, pusing, mudah lelah, dan gangguan pencernaan. Sebagian besar (73.4%) responden belum pernah mendapat penyuluhan gizi tetapi konsumsi vitamin tambahan masih belum merata. Simpulan: Berdasarkan kegiatan observasi ini menunjukkan bahwa mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, dengan 69.9% responden berada dalam kategori underweight berdasarkan indeks massa tubuh (IMT). Di samping itu, hanya 26.7% responden yang pernah mendapatkan penyuluhan tentang gizi dan pola makan sehat. Temuan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan intervensi gizi yang lebih baik bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam hal edukasi, akses pangan, dan pemantauan status gizi. Saran: Perlunya dilakukan penyuluhan gizi dengan program yang berkala terutama mengenai gizi seimbang dan pola makan sehat bagi penyandang disabilitas di lembaga sosial, dengan pendekatan yang ramah dan mudah dipahami. Pemberian bantuan pangan sehat oleh pemerintah atau lembaga sosial sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas terhadap makanan bergizi berupa subsidi atau program bantuan pangan bergizi. Sebagai program lanjutan, diharapkan pihak dinas kesehatan untuk melakukan pemantauan kesehatan secara berkala meliputi pemeriksaan status gizi dan kesehatan untuk mendeteksi dini masalah malnutrisi dan penyakit terkait.  
Sosialisasi dan edukasi penanganan stunting ”cegah masalah gizi, raih langkah gemilang” (CEMERLANG) Wulandari, Mardheni; Yudhistira, Al Hafidz; Raga, Tyan; Putri, Vionica Armelia; Zainuddin, Zainuddin; Saputra, Iwanda; Ramanda, Adelia Fitri; Anggraini, Desti Galuh; Ramadhani, Ovi Kirani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1577

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that remains a major challenge to public health development in Indonesia. Based on Nutritional Status Monitoring (PSG) data conducted in 2018, the prevalence of malnutrition in children under five in Indonesia was 15.2%. The target to be achieved by 2024 is to reduce stunting prevalence to 14% and below the WHO standard of 20%. Teba Bunuk Village is a village in West Kota Agung District, Tanggamus Regency, with a diverse population with diverse livelihoods based on the region's potential, particularly agriculture and plantations. Purpose: To provide information and education to the community on how to prevent and detect stunting in children. Method: A stunting prevention outreach activity was held on August 12, 2025, at the Pekon Teba Bunuk GSG. It involved 62 individuals, representing the target groups: families with children aged 1-5 years, pregnant women, and breastfeeding mothers. The socialization activities were delivered using interactive lecture methods and question and answer sessions, in the form of material to increase family knowledge about stunting and how to prevent it. Results: Demonstrates increased public understanding of stunting and the importance of balanced nutrition, as well as positive acceptance of corn pudding as a healthy local food alternative. The corn pudding demonstration was well-received due to its readily available ingredients, affordable price, and ability to process nutritious food as a preventative measure for stunting. Conclusion: Interactive outreach activities and demonstrations of processed food production increased public knowledge about stunting and its prevention, while also introducing corn pudding as a nutritious local food alternative. Nutrition education combined with hands-on practice made it easier for the community to understand and implement effectively. Suggestion: Similar programs need to be implemented sustainably, involving health workers, village governments, and integrated health post (Posyandu) cadres to strengthen stunting prevention efforts at the community level. This program is expected to be the first step in fostering collective awareness to reduce stunting prevalence in rural areas. Keywords: Corn pudding; Nutrition education; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan pada tahun 2018 prevalensi balita kekurangan gizi di Indonesia adalah sebesar 15.2%. Target yang harus dicapai pada tahun 2024 adalah menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% dan standar WHO di bawah 20%. Pekon Teba Bunuk merupakan desa yang berada di Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus dengan komposisi masyarakatnya memiliki sumber mata pencaharian yang beragam berdasarkan potensi wilayahnya yaitu pertanian dan perkebunan. Tujuan: Untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana pencegahan serta mendeteksi anak agar tidak terjadi stunting. Metode: Pelaksanaan kegiatan sosialisasi pencegahan stunting dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2025 di GSG Pekon Teba Bunuk. Melibatkan 62 orang yang merupakan kelompok sasaran pada kegiatan ini, yaitu keluarga dengan anak usia 1-5 tahun, ibu hamil dan ibu menyusui. Kegiatan sosialisasi disampaikan dengan metode ceramah interaktif dan sesi tanya jawab, berupa materi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai stunting dan bagaimana pencegahannya. Hasil: Menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai stunting dan pentingnya gizi seimbang, serta penerimaan positif terhadap puding jagung sebagai alternatif pangan lokal yang sehat. Demonstrasi puding jagung diterima baik karena bahan mudah didapat, harga terjangkau, dan dapat diolah sebagai makanan bergizi sebagai langkah pencegahan stunting. Simpulan: Kegiatan penyuluhan dengan interaktif dan demonstrasi pembuatan makanan olahan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stunting dan pencegahannya, sekaligus memperkenalkan puding jagung sebagai alternatif pangan lokal bergizi. Edukasi gizi yang dikombinasikan dengan praktik langsung menjadikan masyarakat lebih mudah memahami dan efektif menerapkannya. Saran: Program serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan kader posyandu untuk memperkuat upaya pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Program ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menurunkan prevalensi stunting di wilayah pedesaan.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue