cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Terapi dengan aroma lavender pada gangguan pola tidur lansia di Desa Sukajaya Lempasing Pesawaran Sumo, Ni Luh; Furqoni, Prima Dian; Elliya, Rahma
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1439

Abstract

Background: The aging process in older adults (60 years and older) reduces biological, psychological, and social functioning, increasing susceptibility to infection, cognitive impairment, and disrupted sleep patterns, which negatively impact quality of life. In Lampung Province, 70% of social care residents reported difficulty initiating and maintaining sleep. Although sleeping pills are effective in the short term, the risk of dependency and side effects encourage the use of non-pharmacological interventions. Lavender aromatherapy, with its antiseptic and relaxing properties, has been shown to be effective in reducing the severity of insomnia in older adults. A pre-survey in Sukajaya Lempasing Village confirmed that 70% of older adults experience sleep disorders, underscoring the need for integrated interventions to improve sleep quality and quantity. Purpose: To provide an overview of nursing care using lavender aromatherapy interventions for older adults experiencing sleep disorders. Method: The study was conducted from June 26 to July 3, 2025, in Sukajaya Lempasing Village, Pesawaran, Lampung. Two elderly individuals were selected as respondents based on inclusion and exclusion criteria. The lavender aromatherapy intervention was administered for seven days, accompanied by family support, and face-to-face meetings on the first and eighth days. The study used a one-group pre-test and post-test design. Data were collected through assessments, interviews, and observations using observation sheets and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data were analyzed descriptively to compare pre- and post-intervention scores. Results: The lavender aromatherapy intervention demonstrated improved sleep quality in both respondents, with a decrease in sleep disturbance scores from poor to good: Respondent 1 decreased from 17 to 7, and Respondent 2 decreased from 16 to 6. Conclusion: Seven days of lavender aromatherapy proved effective as a non-pharmacological independent nursing intervention, resulting in a decrease in sleep disturbance scores in the elderly from poor to good, an increase in sleep duration to 6–7 hours per day, and improvements in symptoms and relaxation. Suggestion: Lavender aromatherapy should be integrated into nursing practice for older adults with sleep disorders through relaxation education, sleep environment management, regular monitoring, and family involvement for long-term effectiveness. Keywords: Elderly; Lavender aromatherapy; Sleep pattern disorders Pendahuluan: Proses penuaan pada lansia (≥ 60 tahun) menurunkan fungsi biologis, psikologis, dan sosial, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, gangguan kognitif, dan gangguan pola tidur yang berdampak negatif pada kualitas hidup. Di Provinsi Lampung, 70% penghuni panti sosial melaporkan kesulitan memulai dan mempertahankan tidur. Meski obat tidur efektif jangka pendek, risiko ketergantungan dan efek samping mendorong penggunaan intervensi nonfarmakologis. Aromaterapi lavender, dengan sifat antiseptik dan relaksasi, terbukti efektif menurunkan keparahan insomnia lansia. Presurvei di Desa Sukajaya Lempasing mengonfirmasi bahwa 70% lansia mengalami gangguan tidur, menegaskan kebutuhan intervensi terpadu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur lansia. Tujuan: Memberikan gambaran mengenai asuhan keperawatan dengan intervensi aromaterapi lavender pada lansia yang mengalami gangguan pola tidur. Metode:  Kegiatan dilaksanakan pada 26 Juni–3 Juli 2025 di Desa Sukajaya Lempasing, Pesawaran, Lampung. Dua lansia dipilih sebagai responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi aromaterapi lavender diberikan selama tujuh hari dengan pendampingan keluarga, serta pertemuan tatap muka pada hari pertama dan kedelapan. Penelitian menggunakan desain one-group pre-test & post-test, data dikumpulkan melalui pengkajian, wawancara, dan observasi menggunakan lembar observasi dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), serta dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan skor sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Menunjukkan peningkatan kualitas tidur pada kedua responden setelah intervensi aromaterapi lavender, dengan penurunan skor gangguan tidur dari kategori buruk menjadi baik: Responden 1 dari skor 17 menjadi 7, dan Responden 2 dari skor 16 menjadi 6. Simpulan: Aromaterapi lavender selama tujuh hari terbukti efektif sebagai intervensi keperawatan mandiri nonfarmakologis, dengan hasil penurunan skor gangguan tidur lansia dari kategori buruk menjadi baik, peningkatan durasi tidur menjadi 6–7 jam per hari, serta perbaikan keluhan dan relaksasi. Saran: Aromaterapi lavender perlu diintegrasikan dalam praktik keperawatan lansia dengan gangguan tidur melalui edukasi relaksasi, pengelolaan lingkungan tidur, pemantauan berkala, dan keterlibatan keluarga untuk efektivitas jangka panjang.
Asuhan keperawatan bersihan jalan nafas dengan fisioterapi dada dan batuk efektif pada pasien tuberculosis paru Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Yulendasari , Rika; Djamaludin, Djunizar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1440

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis is a highly contagious disease that most commonly affects the lungs. The Lampung Provincial Health Office estimates that there will be 7,325 cases of pulmonary tuberculosis in 2024, with 5,605 cases treated. Meanwhile, the number of pulmonary tuberculosis cases in Bandar Lampung increased from 2020 to 2022. In 2020, there were 16,753 cases, 21,426 cases in 2021, and 25,403 cases in 2022. The Case Detection Rate (CDR) in Bandar Lampung City was 41% in 2020, 45% in 2021, and 40% in 2022. These figures are still below the national target of 90%. Purpose: To analyze nursing care for pulmonary tuberculosis patients with ineffective airway clearance using chest physiotherapy and effective coughing interventions. Method: A descriptive study using a case study approach to explore the problem of ineffective airway clearance nursing care in pulmonary tuberculosis patients using chest physiotherapy and effective coughing interventions in the community in Pesawaran Regency, Lampung Province. The instruments used were observation sheets, SOPs for chest physiotherapy and effective coughing. The intervention was carried out twice a day (morning and afternoon) for 3 consecutive days. Results: Respondent 1's SpO2 increased from 95% to 98%, while respondent 2's SpO2 remained stable and high, from 99% to 98%. Respondent 1's respiratory rate decreased from 24x/minute to 18x/minute, and respondent 2's respiratory rate decreased from 26x/minute to 20x/minute. Respondents 1 and 2 experienced a decrease in sputum volume to 30 cc. Conclusion: Implementing nursing interventions with chest physiotherapy and effective coughing techniques for three consecutive days effectively addressed the problem of ineffective airway clearance, normalized respiratory frequency, eliminated rhonchi, and kept SpO2 within normal limits, as well as reduced sputum production in patients with pulmonary tuberculosis. Suggestion: Healthcare facilities such as hospitals are expected to increase the routine implementation of chest physiotherapy and effective coughing techniques in the management of patients with pulmonary tuberculosis, especially those experiencing ineffective airway clearance. Keywords: Chest physiotherapy; Effective cough; Nursing care; Pulmonary tuberculosis   Pendahuluan: Penyakit tuberculosis paru merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan paling sering diserang adalah paru-paru. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengestimasikan jumlah kasus tuberculosis paru pada tahun 2024, estimasi kasus tuberculosis paru sebanyak 7.325 kasus dan terobati sejumlah 5.605 kasus. Sedangkan jumlah kasus tuberculosis paru di Bandar Lampung mengalami kenaikan dari tahun 2020-2022. Pada tahun 2020 sebesar 16.753 kasus, tahun 2021 sebesar 21.426 kasus dan tahun 2022 sebesar 25.403 dengan angka Case Detection Rate (CDR) di Kota Bandar Lampung tahun 2020 sebesar 41%, tahun 2021 sebesar 45% dan tahun 2022 sebesar 40% angka tersebut masih di bawah target Nasional yaitu 90%. Tujuan: Untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien tuberculosis paru dengan masalah bersihan jalan napas tidak efektif menggunakan intervensi fisioterapi dada dan batuk efektif. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif pada pasien tuberculosis paru dengan menggunakan intervensi fisioterapi dada dan batuk efektif pada masyarakat di Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, SOP fisioterapi dada dan batuk efektif. Intervensi dilakukan 2 kali dalam sehari (Pagi dan sore) selama 3 hari berturut-tururt. Hasil: Menunjukkan bahwa SPO2 pada responden 1 mengalami peningkatan dari 95% menjadi 98%, sedangkan responden 2 mengalami hasil yang stabil dan tinggi dari 99% menjadi 98%. Sedangkan hasil frekuensi pernafasan pada responden 1 turun dari (24x/menit) menjadi (18x/menit) dan responden 2 mengalami penurunan dari (26x/menit) menjadi (20x/menit). Responden 1 dan responden 2 mengalami penurunan volume sputum menjadi 30 cc. Simpulan: Implementasi keperawatan dengan tindakan fisioterapi dada dan teknik batuk efektif selama 3 hari  erturut-turut efektif mampu mengatasi masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas, menormalkan frekfensi pernafasan, menghilangkan suara ronchi, SpO2 dalam batas normal dan menurunkan pengeluaran sputum pada pasien tuberculosis paru. Saran: Diharapkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat meningkatkan penerapan intervensi fisioterapi dada dan teknik batuk efektif secara rutin dalam penatalaksanaan pasien tuberculosis paru, khususnya yang mengalami masalah bersihan jalan napas tidak efektif
Efektivitas pemberian terapi stretching (Zamathera) pada penderita low back pain (LBP) dengan masalah nyeri akut Muarif, Muhammad Syamsul; Yulendasari, Rika; Isnainy, Usastiawaty C. A. S.
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1457

Abstract

Background: Low back pain (LBP) is a leading cause of disability globally. The high prevalence of low back pain (LBP) impacts patients' quality of life and daily functioning. One non-pharmacological approach that can be used to manage acute pain is Zamathera Stretching therapy. Purpose: To determine the effectiveness of Zamathera stretching therapy in reducing acute pain intensity in low back pain (LBP) sufferers. Method: This study, conducted in 2025, was a quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design. Forty residents of the Nahdlatul Ulama Branch Representative Council (MWC NU) in Bumi Waras District, Bandar Lampung City, participated as respondents. Respondents were residents experiencing acute low back pain. The intervention consisted of providing instructions and practicing Zamathera stretching, a stretching and relaxation therapy. The procedure was performed repeatedly and regularly for 15–30 minutes. Data analysis was carried out using a paired sample t-test to test the significance of the difference in average pain levels between pre-intervention and post-intervention measurements. Results: Before Zamathera therapy, the average low back pain (LBP) pain level among 40 respondents was 3.28 (SD=2.82), with a minimum score of 0 and a maximum score of 9. After therapy, the average pain score decreased to 0.50 (SD=1.21), with a pain range of 0 to 6. A paired sample t-test showed an average pain reduction of 2.78 (SD=2.33), with a t-value of 13.10 and a significance level of 0.000 (p<0.05), indicating a statistically significant reduction in pain. Conclusion: Stretching with Zamathera therapy has strong evidence as a safe and minimally invasive non-pharmacological approach to reducing pain, improving function, and preventing recurrence of musculoskeletal complaints in patients with low back pain. Suggestion: Zamathera stretching therapy can be used as an effective and applicable form of non-pharmacological nursing intervention in the management of patients with low back pain (LBP). This therapy can be an alternative or complement to pharmacological therapy, especially in efforts to minimize long-term medication use that carries the risk of side effects. Keywords: Acute pain; Low back pain; Stretching therapy; Zamathera. Pendahuluan: Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) merupakan penyebab utama disabilitas secara global. Tingginya prevalensi nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) yang berdampak terhadap kualitas hidup dan fungsi aktivitas sehari-hari pasien. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri akut adalah terapi Stretching Zamathera. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi stretching zamathera dalam menurunkan intensitas nyeri akut pada penderita low back pain (LBP). Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tahun 2025 yang merupakan penelitian quasi experiment dengan rancangan pre-test dan post-test (one group pretest-posttest design). Melibatkan sebanyak 40 orang masyarakat di Wilayah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung untuk menjadi responden. Responden adalah warga yang mengalami nyeri punggung bawah akut. Intervensi berupa pemberian petunjuk dan praktik stretching zamathera yaitu terapi peregangan dan rileksasi. Tindakan dilakukan ber ulang-ulang dan teratur selama 15 – 30 menit. Analisis data dilakukan dengan uji t berpasangan (paired sample t-test) guna menguji signifikansi perbedaan rata-rata tingkat nyeri antara pengukuran pra-intervensi dan pasca-intervensi. Hasil: Sebelum terapi zamathera, rata-rata tingkat nyeri low back pain (LBP) pada 40 responden adalah 3.28 (SD=2.82), dengan nilai minimum 0 dan maksimum 9. Setelah terapi, rata-rata nyeri turun menjadi 0.50 (SD=1.21), dengan rentang nyeri 0 hingga 6. Uji paired sample t-test menunjukkan penurunan nyeri rata-rata sebesar 2.78 (SD=2.33), dengan nilai t=13.10 dan signifikansi 0.000 (p<0.05), yang berarti penurunan nyeri signifikan secara statistik. Simpulan: Tindakan stretching dengan terapi zamathera memiliki dasar eviden yang kuat sebagai pendekatan non-farmakologis yang aman dan minim risiko dalam mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi tubuh, serta mencegah kekambuhan keluhan muskuloskeletal pada penderita low back pain. Saran: Terapi stretching zamathera dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk intervensi keperawatan non-farmakologis yang efektif dan aplikatif dalam penanganan pasien dengan keluhan low back pain (LBP). Terapi ini dapat menjadi alternatif atau pelengkap dari terapi farmakologis, terutama dalam upaya meminimalkan penggunaan obat jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.
Penerapan rocket stove sebagai inovasi pengelolaan sampah ramah lingkungan Jannah, Miftahul; Nurhalimah, Siti Ulpa; Amarta, Tirta; Abimannyu, Ragil; Almukorobin, Almukorobin; Khikmawati , Emy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1472

Abstract

Background: Many aspects need to be addressed to ensure a community remains safe from the changes that arise. Environmental health is a shared responsibility, both in management and in the aftermath of contamination that negatively impacts endemic disease or pollution. Waste remains a serious problem in Banjar Negoro Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency, due to residents' habit of disposing of it in markets and rivers, which causes environmental pollution and health risks. Purpose: To provide education and implement the rocket stove as a simple, inexpensive, and environmentally friendly appropriate technology innovation in village waste management. Method: This community service activity was conducted in Banjar Negoro Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency (Fieldwork Lecture) on Monday, August 25, 2025. The activity was attended by 30 people, consisting of Banjar Negoro Village residents and relevant village officials. The outreach took place at the Banjar Negoro Village Hall. Preparatory activities included coordination with village officials, preparation of materials, and creation of presentation media. In the implementation stage, the team conducted outreach using the lecture method using PowerPoint (PPT) media, followed by interactive discussions and question and answer sessions with the community and also the 2025 Community Learning and Empowerment (KKL-PPM) of Malahayati University. The discussion covered waste problems and their management. Results: The rocket stove implementation program ran smoothly according to the planned stages. The activity began with initial observations, where the 27 KKL-PPM groups found that most residents still disposed of waste in market areas and riverbanks. This condition resulted in a slum environment, unpleasant odors, and degraded river water quality, which residents should use for their daily needs. Conclusion: The use of rocket stoves in waste management has been proven to reduce the volume of household waste, especially that previously disposed of in markets and rivers, while simultaneously reducing air pollution from open burning. Waste management with rocket stoves also increased community awareness regarding the benefits for environmental health and the potential use of combustion waste as a simple fertilizer. Suggestion: Follow-up programs by the community and village government are needed to increase the number of rocket stove units so that their benefits reach a wider area and provide further educational activities regarding waste management to increase its economic value. Keywords: Appropriate technology; Environmental health; Rocket stove; Waste management Pendahuluan: Banyak aspek yang perlu dilakukan untuk menjamin suatu komunitas selalu dalam kondisi aman terhadap perubahan yang ditimbulkan. Kesehatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan maupun pasca terjadinya akibat dari suatu kontaminasi yang berdampak negatif berupa endemi penyakit atau pencemaran. Sampah masih menjadi permasalahan serius di Desa Banjar Negoro, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, karena kebiasaan warga membuangnya di pasar dan sungai yang menimbulkan pencemaran lingkungan serta risiko kesehatan. Tujuan: Memberikan edukasi dan penerapan rocket stove sebagai inovasi teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah desa. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Banjar Negoro, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus (Kuliah Kerja Lapangan) pada hari senin tanggal 25 Agustus 2025. Kegiatan dihadiri 30 orang yang terdiri atas warga Desa Banjar Negoro dan perangkat desa terkait. Penyuluhan di laksanakan di balai pekon banjar negara. Kegiatan tahap persiapan berupa koordinasi dengan perangkat desa, penyusunan materi, dan pembuatan media presentasi. Pada tahap pelaksanaan, tim melakukan penyuluhan dengan metode ceramah menggunakan media PowerPoint  (PPT), dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta sesi tanya jawab bersama masyarakat dan juga pembelajaran dan pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati tahun 2025. Diskusi meliputi permasalahan sampah dan pengelolaanya. Hasil: Program penerapan rocket stove berjalan dengan baik sesuai tahapan yang telah direncanakan, kegiatan dimulai dengan observasi awal, di mana kelompok 27 KKL-PPM menemukan bahwa sebagian besar masyarakat masih membuang sampah di area pasar dan bantaran sungai. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kumuh, timbul bau tidak sedap, serta menurunkan kualitas air sungai yang seharusnya di manfaatkan warga untuk kebutuhan sehari hari. Simpulan: Penggunaan rocket stove dalam pengelolaan sampah terbukti mampu mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya yang sebelumnya di buang ke pasar dan sungai, sekaligus menekan pencemaraan udara akibat pembakaran terbuka. Pengelolaan sampah dengan rocket stove juga memberikan peningkatan pengetahuan masyarakat terkait manfaat terhadap kesehatan lingkungan ataupun limbah pembakaran yang bisa menjadi pupuk sederhana. Saran: Perlunya program lanjutan dari masyarakat maupun pemerintah desa untuk memperbanyak unit rocket stove sehingga manfaatnya menjadi lebih luas jangkauan wilayahnya dan kegiatan edukasi lanjutan mengenai pengelolaan sampah agar bernilai ekonomis.
Edukasi pengelolaan sampah sebagai bentuk pemeliharaan lingkungan dan pencegahan penyakit Widyawati, Widyawati; Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Darajat, Agus Mi’raj; Jayanti, Tri Nur
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1516

Abstract

Background: Waste is a serious problem worldwide due to its potential negative impacts on the environment, health, and the economy. Several factors contributing to the increasing rate of solid waste production per capita include population growth, urbanization, and economic growth. Active community participation in environmental protection will contribute to a clean and healthy environment. In RW 06, Dukuh Village, Ibun District, waste remains a problem because most residents dispose of it in their gardens and around their homes. Several strategies that can be implemented with partners include proper waste management through proper sorting, collection, and processing. Purpose: To increase community knowledge, awareness, and skills in waste management as an effort to improve environmental quality and prevent disease. Method: The activity was held on August 15, 2025, in RW 06, Dukuh Village, Ibun District, Bandung Regency. Twenty community members, including RW and RT heads, participated in the activity. The educational activity included counseling and demonstrations on Managing Waste Together, Protecting the Environment Together, and Preventing Diseases Caused by an Unhealthy Environment. Participants completed a pre-test questionnaire before the outreach activity began, followed by a post-test questionnaire after the outreach activity. Pre-test and post-test scores were compared to assess changes and improvements in participants' knowledge following the educational intervention. Results: The majority of respondents' knowledge before the pre-test was in the poor category (8%, 40%). After the post-test, 18 respondents' knowledge improved to the good category (90%). Conclusion: The outreach activities on waste management and environmental preservation were found to be very beneficial by partners in increasing knowledge and awareness of implementing clean and healthy lifestyles to protect the environment and prevent disease. Placing and constructing appropriate waste management facilities can also motivate the community to maintain a clean environment free of potentially polluting waste. Suggestion: It is hoped that the activities carried out can be utilized sustainably by partners, and that lecturers will continue to conduct community service activities with different themes and partners as an application of scientific knowledge. Keywords: Disease; Education; Healthy Environment; Waste Pendahuluan: Sampah menjadi salah satu masalah serius diseluruh dunia karena berpotensi memiliki dampak negatif baik bagi lingkungan, kesehatan dan ekonomi. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan laju produksi sampah padat per kapita antara lain Peningkatan populasi, urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan akan berpengaruh pada peningkatan lingkungan bersih dan sehat. Di RW 06 Desa Dukuh kecamatan Ibun sampah masih menjadi masalah karena sebagian besar masyarakat membuang sampah di kebun dan disekitar lingkungan rumah. Beberapa strategi yang dapat dilakukan bersama mitra antara lain: pengelolaan sampah yang baik dengan cara pemilahan, pengumpulan, dan pengolahan sampah yang tepat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan mencegah penyakit. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2025 di RW 06 Desa Dukuh Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Kegiatan ini melibatkan 20 orang warga masyarakat yang merupakan ketua RW dan ketua RT menjadi peserta. Kegiatan edukasi dilakukan dengan melakukan penyuluhan dan demonstrasi tentang Bersama Mengelola Sampah, Bersama Menjaga Lingkungan, Bersama Mencegah Penyakit yang terjadi akibat dari lingkungan yang tidak sehat. Sebelum kegiatan penyuluhan dimulai, para peserta mengisi kuesioner pretest dan mengisi kuesioner post-test setelah kegiatan penyuluhan. Dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test untuk melihat perubahan dan peningkatan pengetahuan peserta setelah intervensi edukasi.  Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan responden sebelum edukasi (pre-test) adalah dalam kategori kurang yaitu sebanyak 8 (40.0%) dan terdapat peningkatan pengetahuan responden setelah edukasi (post-test) menjadi kategori baik yaitu sebanyak 18 (90.0%).  Simpulan: Kegiatan penyuluhan tentang pengelolaan sampah dan memelihara lingkungan dirasakan sangat bermanfaat oleh mitra dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam menjaga lingkungan untuk mencegah penyakit. Menempatkan dan membuat tempat pengelolaan sampah yang baik juga dapat memotivasi masyarakat untuk menjaga lingkungan bersih dari sampah yang berpotensi mencemari lingkungan. Saran: Diharapkan kegiatan yang sudah dilakukan dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan oleh mitra dan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema dan mitra berbeda terus dilakukan oleh dosen sebagai aplikasi dari ilmu pengetahuan.
Pemberdayaan ibu balita melalui program edukasi tumbuh kembang dan pola asuh anak usia dini di wilayah kerja Puskesmas Bilokka Pratiwi, Wilda Rezki; Hasriani, Sitti; Asnuddin, Asnuddin; Meisyaroh, Meriem; Nisa, Rahmi Fitriani Karimatun
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1351

Abstract

Background: Introduction: Preliminary data from the Bilokka Community Health Center indicates that there are still toddlers with developmental disorders due to inappropriate parenting practices, particularly in nutrition, discipline, and communication. This condition risks hindering children's readiness to enter primary education and impacting the quality of future generations. Local surveys revealed that most mothers lack adequate knowledge regarding motor, cognitive, and socio-emotional stimulation of children. Purpose: To educate mothers of toddlers about the importance of monitoring early childhood growth and development and supporting factors such as parenting, nutrition, stimulation, and environmental health. Methods: This Community Service activity was conducted on August 4, 2025, at the Integrated Health Post (Posyandu) in Bilokka Village, Panca Lautang District, targeting 45 mothers of toddlers. The activity was implemented using a participatory approach through direct counseling, group discussions, child stimulation simulation practice, training on the use of the Pre-Screening Development Questionnaire (KPSP), and mentoring through online communication media. Results: 38 of the 45 participating mothers reported gaining a new understanding of child growth and development through this program. Six toddlers at risk of malnutrition were identified and referred to advanced health services. The active involvement of participants in all stages of the program significantly contributed to the program's success. Conclusion: Empowering mothers of toddlers through participatory-based education has proven effective in increasing mothers' knowledge and involvement in early childhood stimulation, which is essential for optimizing child growth and development. Suggestion: Increased collaboration with community health centers (Puskesmas) and Posyandu (Integrated Service Post) cadres is needed by actively involving health workers and Posyandu cadres in participatory educational activities to increase mothers' understanding and involvement in ongoing programs on a regular basis. Keywords: Education; Growth and development; Parenting; Toddler Pendahuluan: Data awal dari Puskesmas Bilokka menunjukkan masih adanya balita dengan gangguan tumbuh kembang akibat praktik pengasuhan yang kurang tepat, terutama dalam aspek nutrisi, disiplin, dan komunikasi. Kondisi ini berisiko menghambat kesiapan anak memasuki pendidikan dasar serta berdampak pada kualitas generasi mendatang. Survei lokal mengungkapkan bahwa sebagian besar ibu belum memiliki pengetahuan memadai mengenai stimulasi motorik, kognitif, dan sosial-emosional anak. Tujuan: Mengedukasi ibu balita tentang pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak usia dini serta faktor-faktor pendukung seperti pola asuh, gizi, stimulasi, dan kesehatan lingkungan. Metode: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2025 di Posyandu Kelurahan Bilokka Kecamatan Panca Lautang dengan jumlah sasaran sebanyak 45 ibu balita. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan langsung, diskusi kelompok, praktik simulasi stimulasi anak, pelatihan penggunaan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), serta pendampingan melalui media komunikasi daring. Hasil: Sebanyak 38 dari 45 ibu peserta mengaku baru memperoleh pemahaman tentang tumbuh kembang anak melalui program ini. Ditemukan enam balita dengan risiko gizi kurang yang telah dirujuk ke layanan kesehatan lanjutan. Keterlibatan aktif peserta dalam seluruh tahapan kegiatan berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan program. Simpulan: Pemberdayaan ibu balita melalui edukasi berbasis partisipatif terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan ibu dalam stimulasi dini, yang esensial bagi optimalisasi tumbuh kembang anak. Saran: Perlunya peningkatan kolaborasi dengan Puskesmas dan kader Posyandu dengan melibatkan tenaga kesehatan dan kader Posyandu secara aktif dalam kegiatan edukasi yang partisipatif untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan ibu dalam program berkelanjutan secara  berkala.
Edukasi gizi dengan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan stunting Pangestu, Agung Julian; Andini, Andini; Khikmawati, Emy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1458

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Indonesia. Data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) shows that the national stunting prevalence reached 21.6%, while in Lampung Province the figure was 20.3%. This indicates that achieving the target of reducing stunting to 14% by 2024 still faces significant obstacles. Stunting is caused by chronic malnutrition, recurrent infections, inadequate parenting, and poor sanitation and access to healthcare. The long-term impacts of stunting not only disrupt a child's physical growth but also hinder cognitive development, reduce work productivity, and increase the risk of non-communicable diseases in adulthood. Therefore, comprehensive measures involving various sectors are needed to prevent stunting, including the active role of universities in community service activities. Purpose: To increase public awareness through education and a participatory approach regarding stunting prevention. Method: Community service activities designed with a participatory approach that emphasizes education, empowerment, and active community involvement. The KKL-PPM activity was carried out in Banjar Sari Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency on August 8, 2025. The activity was carried out in several stages including the preparation stage including coordination with village officials, health centers, and integrated health post (posyandu) cadres, preparation of educational modules to be used, and distribution of invitations to the community. Next, in the implementation stage, namely nutrition counseling and education, interactive discussions with participants, simulations of making complementary foods, and assistance from integrated health post (posyandu) cadres in monitoring toddler growth. Nutrition Counseling and Education, with materials on introducing stunting, the importance of the First 1,000 Days of Life (HPK), exclusive breastfeeding, providing nutritious complementary foods, and a balanced diet delivered through presentation media, and leaflets, then continued with interactive discussions and questions and answers to provide opportunities for participants to share experiences and obstacles related to child feeding, parenting, and sanitation, as well as finding solutions together. Results: Implementation demonstrated increased community understanding of the importance of balanced nutrition, exclusive breastfeeding, fulfilling the First 1,000 Days of Life (HPK), environmental sanitation, and the role of integrated health posts (Posyandu) in stunting prevention efforts. Furthermore, community participation in Posyandu activities also increased, accompanied by a commitment from village officials to ensure the program's sustainability. Conclusion: Nutrition education and counseling activities have positively contributed to increasing community knowledge regarding stunting prevention. Through outreach activities, interactive discussions, nutritious menu preparation simulations, and Posyandu mentoring, especially for pregnant women and mothers with toddlers, awareness of the importance of balanced nutrition, appropriate parenting practices, and clean and healthy lifestyles in preventing the risk of stunting has also increased. Suggestion: Integrated health posts cadres and health workers are advised to improve their skills in early detection and routinely recording the nutritional status of toddlers. Village governments are expected to provide support through policies and budget allocations to ensure the program's sustainability, while universities are encouraged to develop this initiative into data-driven research to support a significant reduction in stunting rates. Keywords: Community participation; Nutrition education; Prevention; Stunting  Pendahuluan: Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup tinggi di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara nasional mencapai 21.6%, sementara di Provinsi Lampung angkanya sebesar 20.3%. Kondisi ini menandakan bahwa pencapaian target penurunan stunting menjadi 14% pada tahun 2024 masih menghadapi berbagai hambatan yang cukup signifikan. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi yang bersifat kronis, infeksi yang berulang, pola asuh yang kurang memadai, serta kualitas sanitasi dan akses layanan kesehatan yang rendah. Dampak jangka panjang stunting tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik anak, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas kerja, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular pada masa dewasa. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor untuk mencegah stunting, termasuk peran aktif perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan edukasi dan pendekatan partisipatif mengenai pencegahan stunting. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat yang dirancang dengan pendekatan partisipatif yang menekankan pada edukasi, pemberdayaan, dan keterlibatan aktif masyarakat. Kegiatan KKL-PPM dilaksanakan di Desa Banjar Sari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus pada tanggal 8 Agustus 2025. Kegiatan dilakukan dengan beberapa tahapan antara lain tahap persiapan meliputi koordinasi dengan perangkat desa, puskesmas, dan kader posyandu, penyusunan modul edukasi yang akan digunakan, serta penyebaran undangan kepada masyarakat. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan yaitu penyuluhan dan edukasi gizi, diskusi interaktif dengan peserta, simulasi pembuatan MPASI, serta pendampingan kader posyandu dalam pemantauan pertumbuhan balita. Penyuluhan dan Edukasi Gizi, dengan materi pengenalan stunting, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ASI eksklusif, pemberian MP-ASI bergizi, dan pola makan seimbang yang disampaikan melalui media presentasi, dan leaflet, kemudian dilanjutkan dengan diskusi Interaktif dan tanya jawab untuk memberikan kesempatan bagi peserta dalam berbagi pengalaman dan kendala terkait pemberian makan anak, pola asuh, dan sanitasi, sekaligus mencari solusi bersama. Hasil: Pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang, pemberian ASI secara eksklusif, pemenuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sanitasi lingkungan, serta peran posyandu dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu juga meningkat, diikuti oleh komitmen dari perangkat desa untuk memastikan keberlanjutan program tersebut. Simpulan: Kegiatan penyuluhan dan edukasi gizi menunjukkan kontribusi positif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan stunting. Melalui kegiatan penyuluhan, diskusi interaktif, simulasi penyusunan menu bergizi, dan pendampingan posyandu pada masyarakat terutama ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta perilaku hidup bersih dan sehat dalam mencegah risiko stunting. Saran: Para kader posyandu dan tenaga kesehatan disarankan untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan deteksi dini serta pencatatan status gizi balita secara rutin. Pemerintah desa diharapkan dapat memberikan dukungan melalui kebijakan dan alokasi anggaran agar program ini dapat berlanjut, sementara perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan inisiatif ini menjadi penelitian yang berbasis data untuk mendukung penurunan angka stunting secara nyata
Efektivitas konsumsi pisang kepok untuk menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional Dhitya, Ray Krisna; Wardiyah, Aryanti; Andoko, Andoko
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1501

Abstract

Background: Hypertension, if not treated early, can progress to eclampsia, a leading cause of death. Pregnant women should minimize the need for medication (pharmacological) management as much as possible. One non-pharmacological treatment for lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension is consuming kepok bananas. Purpose: To educate pregnant women about the effectiveness of consuming kepok bananas (musa acuminata) in lowering blood pressure in gestational hypertension. Method: The study was conducted on two respondents of third trimester pregnant women who experienced gestational hypertension in Way Bungur District, East Lampung Regency, on June 10–12, 2025. Qualitative descriptive research with a case study design aimed to determine the effectiveness of consuming kepok bananas on reducing blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Using a saturated sampling technique, two respondents of third trimester pregnant women who met the inclusion criteria were pregnant women diagnosed with gestational hypertension, willing to be respondents, and domiciled in the study area. Exclusion criteria were pregnant women with other pregnancy complications or unwilling to participate in the study. The intervention carried out was giving 1 kepok banana/day for 3 consecutive days according to the daily potassium needs of pregnant women, which is ±300 mg, while the potassium content in 1 kepok banana reaches ±358 mg. Results: The first respondent (Mrs. E, 28 years old, G1P0A0) complained of frequent dizziness and fatigue. Physical examination showed pale conjunctiva, increased pulse rate, and complaints of headache at the back of the head. The medical history had never experienced hypertension before, but had a diet lacking vegetables and fruit, and rarely rested during the day. The second respondent (Mrs. P, 26 years old, G1P0A0) was at 36 weeks of gestation. The patient complained of blurred vision, often felt weak, and had difficulty sleeping. Physical examination showed unstable blood pressure, normal fetal heart rate, and the patient appeared anxious about facing labor. Data showed that Mrs. E's blood pressure in the pre-test was 160/90 mmHg, in post-test 1 = 150/80 mmHg, in post-test 2 = 130/80 mmHg, and in post-test 3 = 120/80 mmHg. While Mrs. P in pre-test was 170/90 mmHg, in post-test1=150/90 mmHg, in post-test2=160/80 mmHg, and in post-test3=140/90 mmHg. Conclusion: Regular consumption of kepok bananas is effective in lowering blood pressure in pregnant women with gestational hypertension. Providing kepok bananas can be a safe and easy-to-implement non-pharmacological method to help control blood pressure during pregnancy. Suggestion: Healthcare professionals are expected to utilize kepok banana consumption as a supportive intervention in the management of gestational hypertension, accompanied by regular blood pressure monitoring and education about healthy eating habits during pregnancy. Keywords: Blood pressure reduction; Effectiveness; Gestational hypertension; Kepok bananas; Pregnant women Pendahuluan : Hipertensi yang tidak ditangani sedini mungkin akan berlanjut menjadi ekslampsia yang menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian. Ibu hamil sebisa mungkin diminimalisir penanganan masalah penatalaksanaan pembelian obat-obatan (farmakologis). Salah satu penanganan non farmakologis untuk menurunkan tekanan darah ibu hamil pada hipertensi gestasional adalah dengan mengonsumsi pisang kepok dalam menurunkan tekanan darah ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Tujuan : Untuk memberikan edukasi tentang efektivitas konsumsi pisang kepok (musa acuminata) pada ibu hamil dalam menurunkan tekanan darah pada hipertensi gestasional. Metode: Pengkajian dilakukan pada dua responden ibu hamil trimester III yang mengalami hipertensi gestasional di Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, pada tanggal 10–12 Juni 2025. Penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas konsumsi pisang kepok terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Dengan teknik sampling jenuh mendapatkan dua responden ibu hamil trimester III yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu hamil dengan diagnosis hipertensi gestasional, bersedia menjadi responden, dan berdomisili di wilayah penelitian. Kriteria eksklusi adalah ibu hamil dengan komplikasi kehamilan lain atau tidak bersedia mengikuti penelitian. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian pisang kepok sebanyak 1 buah/hari selama 3 hari berturut-turut sesuai kebutuhan kalium harian ibu hamil, yaitu ±300 mg, sedangkan kandungan kalium dalam 1 buah pisang kepok mencapai ±358 mg. Hasil : Responden pertama (Ny. E, usia 28 tahun, G1P0A0) dengan keluhan sering pusing dan kelelahan. Pemeriksaan fisik menunjukkan konjungtiva pucat, frekuensi nadi meningkat, serta keluhan nyeri kepala bagian belakang. Riwayat kesehatan belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya, namun memiliki pola makan kurang sayur dan buah, serta jarang istirahat siang. Responden kedua (Ny. P, usia 26 tahun, G1P0A0) berada pada usia kehamilan 36 minggu. Pasien mengeluh pandangan kabur, sering merasa lemas, dan kesulitan tidur. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah tidak stabil, denyut jantung janin normal, dan pasien tampak cemas menghadapi persalinan. Data menunjukkan bahwa tekanan darah Ny. E pada pre-test adalah 160/90 mmHg, pada post-test1=150/80 mmHg, pada post-test2=130/80 mmHg, dan pada post-test3=120/80 mmHg. Sedangkan tekanan darah Ny. P pada pre-test adalah 170/90 mmHg, pada post-test1=150/90 mmHg, pada post-test2=160/80 mmHg, dan pada post-test3=140/90 mmHg. Simpulan: Konsumsi pisang kepok secara rutin efektif membantu menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi gestasional. Pemberian pisang kepok dapat menjadi salah satu metode nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu mengontrol tekanan darah selama kehamilan. Saran: Diharapkan tenaga kesehatan dapat menjadikan konsumsi pisang kepok sebagai intervensi pendukung dalam penatalaksanaan hipertensi gestasional, disertai dengan pemantauan tekanan darah secara berkala dan edukasi mengenai pola makan sehat selama kehamilan.
Kearifan lokal satu desa tiga aksi: cegah hipertensi, pola hidup sehat, dan pemanfaatan tanaman obat keluarga Suprapti, Tuti; Mutiudi, Ade Iwan; Tambunan, Irisanna; Jundiah, Raden Siti; Mukaromah, Raihany Sholihatul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1521

Abstract

Background: Public health in Indonesia faces complex challenges, including a high prevalence of hypertension, suboptimal waste management, and low utilization of Family Medicinal Plants (FMP). Hypertension, as a non-communicable disease, requires education on healthy lifestyles, while wise waste management is crucial for preventing environmentally-related diseases. FMP offers promotive and preventive solutions based on local wisdom, but has not been optimally utilized in rural areas. In Cibeet Village, Bandung Regency, these three issues are interconnected and demonstrate the need for integrated, community-based interventions. The "One Village, Three Actions" model is proposed as a holistic approach to improving health through hypertension education, waste management, and the synergistic utilization of FMP. Purpose: To increase public awareness of maintaining health through the adoption of a healthy lifestyle and the use of family medicinal plants for hypertension control. Method: The activity was conducted on August 20, 2025, at the madrasah RW 07 in Cibeet Village, Ibun District, Bandung Regency, involving 39 participants using a total sampling technique. The material is delivered through lectures and demonstrations, including counseling, pre-tests, education about hypertension, clean and healthy living behavior, and the use of family medicinal plants, as well as post-tests and health checks (anthropometry, blood pressure, random blood sugar). Results: The level of knowledge of participants regarding hypertension and Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) before education was mostly in the sufficient category (25 participants) (64.1%). After education, the majority of participants experienced an increase in knowledge, reaching the good category (35 participants) (89.8%). Conclusion: The community service activity, which integrated the delivery of three educational themes, successfully increased participants' knowledge and awareness regarding hypertension and Clean and Healthy Living Behavior (CHLB). Education through lectures, demonstrations, and interactive practice proved effective in changing participants' behavior toward a healthy lifestyle, including the use of family medicinal plants (FMP) and the innovative RAMEKUH herbal drink as an alternative for hypertension control. Suggestion: Ongoing mentoring by health cadres is needed to maintain consistent healthy community behaviors, as well as further development of local herbal products to enhance their economic value and broader health benefits. Cross-sector collaboration, including in education and health, needs to be strengthened to support the sustainability of education and community empowerment programs based on local potential. Keywords: Hypertension; Local wisdom; Waste management Pendahuluan: Kesehatan masyarakat di Indonesia menghadapi tantangan kompleks, termasuk tingginya prevalensi hipertensi, pengelolaan sampah yang belum optimal, dan rendahnya pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Hipertensi sebagai penyakit tidak menular memerlukan edukasi gaya hidup sehat, sementara pengelolaan sampah yang bijak penting untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan. TOGA menawarkan solusi promotif dan preventif berbasis kearifan lokal, namun belum dimanfaatkan secara maksimal di pedesaan. Di Desa Cibeet, Kabupaten Bandung, ketiga isu tersebut saling terkait dan menunjukkan perlunya intervensi terpadu berbasis masyarakat. Model “Satu Desa, Tiga Aksi” diusulkan sebagai pendekatan holistik untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui edukasi hipertensi, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan TOGA secara sinergis. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan melalui penerapan gaya hidup sehat dan pemanfaatan tanaman obat keluarga untuk pengendalian hipertensi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 20 Agustus 2025 di madrasah RW 07 Desa Cibeet, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, melibatkan 39 peserta dengan teknik total sampling. Materi disampaikan melalui ceramah dan demonstrasi, mencakup penyuluhan, pre-test, edukasi tentang hipertensi, perilaku hidup bersih dan sehat, dan pemanfaatan tanaman obat keluarga, serta post-test dan pemeriksaan kesehatan (antropometri, tekanan darah, gula darah sewaktu). Hasil: Menunjukkan tingkat pengetahuan peserta mengenai hipertensi dan PHBS sebelum edukasi sebagian besar peserta dalam kategori cukup yaitu sebanyak 25 orang (64.1%). Setelah edukasi mayoritas peserta mengalami peningkatan pengetahuan menjadi dalam kategori baik yaitu sebanyak 35 orang (89.8%). Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan penyampaian tiga tema edukasi secara terpadu berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai hipertensi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Edukasi dengan ceramah, demonstrasi, dan praktik interaktif terbukti efektif dalam mengubah perilaku peserta menuju gaya hidup sehat, termasuk pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) dan inovasi minuman herbal RAMEKUH sebagai alternatif pengendalian hipertensi. Saran: Diperlukan pendampingan berkelanjutan oleh kader kesehatan untuk menjaga konsistensi perilaku sehat masyarakat, serta pengembangan lebih lanjut terhadap produk herbal lokal agar memiliki nilai ekonomi dan manfaat kesehatan yang lebih luas. Kolaborasi lintas sektor, akademisi dan kesehatan, perlu diperkuat guna mendukung keberlanjutan program edukasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Efektivitas aroma terapi lavender dalam mengurangi kecemasan pada remaja sebelum ujian Safitri, Hilda Meilinda; Furqoni, Prima Dian; Triyoso, Triyoso
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1448

Abstract

Background: Anxiety is a common psychological disorder experienced by adolescents, especially before exams. A pre-survey of 10 adolescents interviewed at MTs Al-Quran Nurul Huda revealed that most of them reported experiencing anxiety when faced with a problem that hindered their thinking. Excessive anxiety can negatively impact academic performance and mental health. One non-pharmacological therapy proven effective in reducing anxiety is lavender aromatherapy. Purpose: To determine the effectiveness of lavender aromatherapy in reducing anxiety levels in adolescents before exams. Method: The study was conducted from June 26 to July 1, 2025, at MTs Al-Quran Nurul Huda Lempasing. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was used. The population of this study was all 25 eighth-grade students of MTs Al-Quran Nurul Huda. Total sampling was used to select 25 students as respondents. The intervention consisted of aromatherapy with lavender essential oil, which was dripped into a diffuser and inhaled by the respondents. Respondents' anxiety levels were evaluated using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Results: Data showed that the majority of respondents were 14 years old, with 22 students (88.0%), and the majority were female, with 16 students (64.0%). The data also showed that the average anxiety level before lavender aromatherapy was 31.04 with a standard deviation of 5.04, while the average anxiety level after lavender aromatherapy was 10.08 with a standard deviation of 6.68. The statistical test results showed a p-value of 0.000 (p<0.05). Conclusion: Lavender aromatherapy has been shown to be significantly effective in reducing anxiety levels in adolescents before exams and can be used as a safe, easy, and affordable non-pharmacological therapy. Keywords: Adolescents; Anxiety; Lavender Aromatherapy Pendahuluan: Kecemasan merupakan gangguan psikologis yang umum dialami remaja, terutama menjelang ujian. Berdasarkan hasil presurvey 10 remaja di MTs Al-Quran Nurul Huda yang diwawancarai, sebagian besar remaja mengaku cemas ketika dihadapkan suatu permasalahan yang menyulitkan mereka untuk berfikir. Kecemasan yang berlebihan dapat berdampak negatif pada performa akademik dan kesehatan mental remaja. Salah satu terapi non-farmakologis yang terbukti efektif dalam menurunkan kecemasan adalah aroma terapi lavender. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas aroma terapi lavender dalam mengurangi tingkat kecemasan pada remaja sebelum ujian. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26 Juni hingga 1 Juli 2025, bertempat di MTs Al-Quran Nurul Huda Lempasing. Dengan menggunakan pendekatan pra-eksperimental one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Al-Quran Nurul Huda, yang berjumlah 25 orang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling mendapatkan 25 orang siswa untuk menjadi responden. Intervensi yang diberikan berupa terapi aroma terapi dengan minyak esensial lavender, yang diteteskan ke dalam alat diffuser dan dihirup oleh responden. Tingkat kecemasan responden dievaluasi menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar responden berusia 14 tahun yaitu sebanyak 22 siswa (88.0%) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 16 siswi (64.0%). Data juga menunjukkan rata-rata tingkat kecemasan sebelum diberikan aroma terapi lavender adalah 31.04 dengan standar deviasi 5.04 sedangkan rata-rata tingkat kecemasan sesudah diberikan aroma terapi lavender adalah 10.08 dengan standar deviasi 6.68. Berdasarkan hasil uji statistik mendapatkan nilai p=0.000 (p<0.05). Simpulan: Kegiatan pemberian aroma terapi lavender terbukti efektif secara signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan pada remaja sebelum ujian, dan dapat digunakan sebagai terapi non-farmakologis yang aman, mudah, dan terjangkau.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue