cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Pendidikan kesehatan tentang 4 pilar penatalaksanaan diabetes melitus pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Tanoh Anou Drissianti, Putri
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.1118

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is the sixth leading cause of death in the world with a significant increase in the number of cases over the past decade, and has an impact on decreasing life expectancy, increasing morbidity, and decreasing quality of life. Diabetes is an incurable disease and can only be controlled through management through four pillars, namely education, diet, exercise, and medication. Purpose: To provide knowledge about the control and management of type 2 diabetes mellitus.. Method: This community service activity was carried out in Tanoh Anou Village, Idi Rayeuk Health Center UPTD working area on May 19, 2025. The implementing team was from prolanis nurses at the UPTD Health Center located in Idi Rayeuk City. This activity was attended by 25 participants and cadres of Tanoh Anou Village. The team provided questionnaire sheets to participants with assistance to fill out questions/statements related to diabetes mellitus according to their conditions and experiences as initial data in measuring the level of knowledge of diabetes mellitus management (pre-test). Furthermore, the team provided material presentation using the lecture method to explain the four pillars of type 2 diabetes mellitus management. Conducting interactive discussions and re-testing participants by distributing questionnaires to measure the increase in participants' abilities and knowledge about type 2 diabetes mellitus management (post-test). Results: The average age of respondents was 56.5 years and most were in the age range of 46-55 years, namely 10 (40.0%) and all respondents were female, namely 25 (100.0%). While the level of education of the respondents was mostly junior high school, namely 17 (68.0%) and the majority of respondents' employment status was not as farmers or fishermen, namely 16 (64.0%). Meanwhile, the marital status of the respondents was mostly married, namely 19 (76.0%) and the majority of respondents had suffered from DM ≥4 years, namely 22 (88.0%). Based on pre-test and post-test data, there was an increase in knowledge about the management of type 2 diabetes mellitus in the participants. By increasing knowledge and understanding of the 4 pillars of diabetes mellitus management, it provides changes in nursing care and the risk of complications that can arise from diabetes mellitus. Conclusion: With increasing knowledge and understanding of the 4 pillars of diabetes mellitus management, it has a positive impact on participants regarding complications that can arise from diabetes mellitus. This community service also provides benefits with increasing experience and knowledge about the 4 Pillars of Diabetes Mellitus Management. Suggestion: It is hoped that health education activities related to degenerative diseases that often occur in the community can be carried out as often as possible so that they provide benefits to the entire community of Tanoh-Anou Village. Keywords: Diabetes mellitus; Education; Four pillars; Nursing management Pendahuluan: Penyakit diabetes melitus (DM) adalah penyebab kematian keenam di dunia dengan peningkatan jumlah kasus yang signifikan selama satu dekade terakhir, dan berdampak pada penurunan harapan hidup, peningkatan angka kesakitan, dan penurunan kualitas hidup. Penyakit diabetes adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan hanya dapat dikendalikan melalui penatalaksanaan melalui empat pilar yaitu edukasi, pengaturan pola makan, olahraga, dan pengobatan. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang pengendalian dan pengelolaan penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tanoh Anou Wilayah kerja UPTD Puskesmas Idi Rayeuk pada tanggal 19 Mei 2025. Tim pelaksana dari perawat prolanis pada UPTD Puskesmas yang berlokasi di Kota Idi Rayeuk. Kegiatan ini dikuti oleh 25 peserta dan kader Desa Tanoh Anou. Tim memberikan lembar kuesioner kepada peserta dengan pendampingan untuk mengisi pertanyaan/pernyataan terkait diabetes melitus sesuai kondisi dan pengalamannya sebagai data awal dalam mengukur tingkat pengetahuan penatalaksanaan diabetes melitus (pre-test). Selanjutnya, tim memberikan pemaparan materi dengan metode ceramah untuk menjelaskan mengenai empat pilar pengelolaan diabetes mellitus tipe 2.  Melakukan diskusi interaktif dan melakukan uji ulang kepada peserta dengan membagikan kuesioner untuk mengukur peningkatan kemampuan dan pengetahuan peserta tentang penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 (post-test). Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 56.5 tahun dan sebagian besar di rentang usia 46-55 tahun yaitu sebanyak 10 (40.0%) dan semua responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 25 (100.0%). Sedangkan tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah SMP yaitu sebanyak 17 (68.0%) dan mayoritas status pekerjaan responden bukan sebagai petani atau nelayan yaitu sebanyak 16 (64.0%). Sedangkan, status pernikahan responden sebagian besar adalah menikah sebanyak 19 (76.0%) dan mayoritas responden sudah menderita DM ≥4 tahun sebanyak 22 (88.0%). Berdasarkan data pre-test dan post-test, terdapat peningkatan pengetahuan tentang penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 pada para peserta. Dengan meningkatnya pengetahuan dan memahami tentang 4 pilar penatalaksanaan diabetes melitus memberikan tindakan perubahan dalam asuhan keperawatan dan risiko komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit diabetes melitus. Simpulan: Dengan meningkatnya pengetahuan dan memahami tentang 4 pilar penatalaksanaan diabetes melitus memberikan dampak positif kepada peserta terhadap komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit diabetes melitus. Pengabdian kepada masyarakat ini juga memberikan manfaat dengan bertambahnya pengalaman dan pengetahuan tentang 4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes Melitus. Saran: Diharapkan kegiatan penyuluhan kesehatan terkait penyakit degeneratif yang sering terjadi di masyarakat dapat dilaksanakan sesering mungkin sehingga memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Desa Tanoh-Anou.
Edukasi pola asuh digital parenting dengan media aplikasi parental control untuk mengendalikan anak dalam menggunakan gadget Sarini, Sarini; Lismayanti, Desty; Ginting, Ade Krisna; Rosmiyanti, Yanti; Fitriani, Dewi Rubi; Sumitro, Sumitro; Asih, Okti Rahayu; Yusriyani, Ajijah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.1141

Abstract

Background: Parenting is a dynamic process influenced by technology. Technological advances in digital media have presented new challenges and changed the landscape of parenting. Excessive use of gadgets by elementary school children can have a negative impact on their academic, social, and emotional development. One control strategy that can be applied is through a parental control application. Purpose: To provide knowledge of the application of parental control applications to parents to control children in using gadgets. Method: This community service activity was carried out in the fourth week of June 2025 at SDIT Sehati Bina Insani Karawang targeting 58 parents of grades 1 and 2. This activity is a participatory action demonstration involving teachers, parents, and students. The presentation of the material was carried out on Monday, June 23, 2025 by showing videos and delivering the material in detail. Furthermore, parents demonstrated direct practice in applying Google family link on the gadgets used by their children. The practice focused on how parents use the parental control application, especially Google family link, which can be downloaded for free on the Google Store. Implementation of the Google family link application to limit the duration of children's gadget play, where the recommended safe limit is 2 hours for children aged 6-12 years. Results: Shows that counseling accompanied by direct demonstrations can improve parents' understanding of the functions and benefits of the application, and encourage them to be more active in controlling children's gadget use at home. Implementation of the Google family link application to limit the duration of children's gadget play where the safe limit is. Screen time settings and access filter restrictions on applications that children should not use on smartphones and the use of parental permission before they download game applications or other social media. After the demonstration activity showed a significant increase in knowledge related to the use of parental control applications to prevent gadget addiction in children. Conclusion: This socialization and training demonstration activity can improve parents' digital parenting knowledge in anticipating the negative impacts of gadget use on child development. Most parents and teachers felt very helped by this community service activity and enthusiastically stated that they were aware of providing assistance in spending quality playtime and learning compared to letting children play with gadgets. Suggestion: There is a need for further activities related to increasing parental knowledge and skills in supervising children when playing gadgets to avoid the dangers of excessive gadget use in children and prevent gadget addiction in children. Simulations for school-age children will help provide learning for children to be wiser in using gadgets, have intelligent and noble mindsets with the implementation of parental supervision that is free from the negative influence of gadgets. Keywords: Addiction; Digital parenting; Gadget; Parental control application; Students Pendahuluan: Pengasuhan anak adalah proses dinamis yang dipengaruhi oleh teknologi. Kemajuan teknologi dalam hal media digital telah menghadirkan berbagai tantangan baru dan mengubah lanskap pengasuhan anak. Penggunaan gadget secara berlebihan pada anak usia sekolah dasar dapat berdampak negatif terhadap perkembangan akademik, sosial, dan emosional mereka. Salah satu strategi pengendalian yang dapat diterapkan adalah melalui aplikasi parental control. Tujuan: Memberikan pengetahuan penerapan aplikasi parental control kepada orang tua untuk mengendalikan anak dalam menggunakan gadget. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada minggu keempat bulan Juni 2025 di SDIT Sehati Bina Insani Karawang dengan sasaran sebanyak 58 orangtua siswa kelas 1 dan 2. Kegiatan ini merupakan penyuluhan berbasis partisipasi (Participatory Action Demonstration) yang melibatkan guru, orang tua, dan siswa. Pemaparan materi dilakukan pada hari Senin tanggal 23 Juni 2025 dengan pemutaran video dan penyampaian materi secara detail. Selanjutnya orang tua melakukan demonstrasi praktik langsung mengaplikasikan google family link pada gadget yang digunakan oleh anak mereka. Praktik difokuskan pada bagaimana orangtua menggunakan aplikasi parental control khususnya google family link yang dapat didownload secara gratis di google store. Penerapan aplikasi google family link untuk membatasi durasi bermain gadget anak dimana batas aman yang direkomendasikan adalah 2 jam pada anak usia 6-12 tahun. Hasil: Menunjukkan bahwa penyuluhan disertai demonstrasi secara langsung mampu meningkatkan pemahaman orang tua mengenai fungsi dan manfaat aplikasi, serta mendorong mereka untuk lebih aktif mengontrol penggunaan gadget anak di rumah. Penerapan aplikasi google family link untuk membatasi durasi bermain gadget anak dimana batas aman. Pengaturan screen time dan pembatasan filter akses pada aplikasi yang tidak boleh digunakan anak pada smartphone dan penggunaan izin orangtua sebelum mereka mendownload aplikasi game atau media social lainnya. Setelah kegiatan demonstrasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan terkait penggunaan aplikasi parental control untuk mencegah kecanduan gadget pada anak. Simpulan: Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan digital parenting pada orang tua dalam mengantisipasi dampak negative penggunaan gadget terhadap perkembangan anak. Sebagian besar orangtua dan guru sangat merasa terbantu dengan kegiatan pengabdian masyarakat ini dan secara  antusias menyatakan bahwa mendapatkan kesadaran untuk memberikan pendampingan dalam menghabiskan waktu bermain dan belajar yang berkualitas dibandingkan dengan membiarkan anak bermain gadget.  Saran: Perlunya kegiatan lanjutan terkait peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua dalam melakukan pendampingan anak ketika bermain gadget untuk menghindari bahaya penggunaan gadget berlebihan pada anak dan mencegah terjadinya kecanduan gadget pada anak. Simulasi pada anak usia sekolah akan membantu memberikan pembelajaran pada pribadi anak agar lebih bijak dalam menggunakan gadget, berpola pikir cerdas dan berbudi mulia dengan penerapan pengawasan pengasuhan orangtua yang terbebas dari pengaruh negatif dari gadget.
Penerapan senam sebagai upaya menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi di Desa Sukajaya Lempasing Kabupaten Pesawaran Winarno, Rudi; Ladin, Juliawan; Sintia, Monica Bela Dwi; Natalia, Mutiara; Adhani, Neisa; Istawala, Anggun; Prayogo, Idfy Dwi; Fajrianti, Endah; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Saraswati, Ika
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1202

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that ranks among the leading causes of death worldwide. According to 2023 WHO data, the global prevalence of hypertension reached 33%, while in Indonesia it stood at 30.8%. In Pesawaran Regency, the Hanura Community Health Center reported 1,749 cases of hypertension, making it the fifth most common disease. In Dusun 7 Mutun, 58% of the 69 households are affected by hypertension. One non-pharmacological approach proven effective in lowering blood pressure is hypertension exercise. Purpose: Reducing Blood Pressure in Hypertensive Patients Through a Hypertension Exercise Intervention. Method: The intervention was conducted over three days (May 14–16, 2025) in Dusun 7 Mutun, Sukajaya Lempasing Village, Pesawaran Regency. Ten hypertensive respondents participated. The program included a brief educational session and practical hypertension exercises. Evaluation involved measuring participants’ blood pressure before and after the intervention (pre-test and post-test). Results: Obtaining a mean pre-test systolic blood pressure value of 155.5 mmHg with a standard deviation of 11,891 and a mean post-test value of 132.5 mmHg with a standard deviation of 11,365. While the mean pre-test diastolic blood pressure value was 96.0 mmHg with a standard deviation of 6,992 and a mean post-test value of 79.0 mmHg with a standard deviation of 7,379. Conclusion: Hypertension exercise has been proven effective as a non-pharmacological intervention for reducing blood pressure.   Suggestion: Hypertension exercise should be implemented on an ongoing basis as an integral part of the community’s healthy lifestyle. Keywords: Blood pressure; Hypertension; Hypertension exercise; Non-pharmacological intervention Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Data WHO tahun 2023 mencatat prevalensi hipertensi secara global mencapai 33%, sedangkan di Indonesia mencapai 30.8%. Di Kabupaten Pesawaran, data dari Puskesmas Hanura mencatat 1,749 kasus hipertensi, menempati urutan kelima penyakit terbanyak. Dan di Dusun 7 Mutun, 58% dari 69 keluarga mengalami hipertensi. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah adalah senam hipertensi. Tujuan: Menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi melalui intervensi senam hipertensi. Metode: Kegiatan dilakukan selama tiga hari (14-16 Mei 2025) di Dusun 7 Mutun, Desa Sukajaya Lempasing, Kabupaten Pesawaran. Melibatkan 10 responden penderita hipertensi. Intervensi dilakukan dalam bentuk edukasi singkat dan praktik senam hipertensi. Evaluasi dilakukan dengan mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi (pre-test dan post-test). Hasil: Mendapatkan nilai mean tekanan darah sistolik pre-test sebesar 155.5 mmHg dengan standar deviasi 11.891 dan nilai mean post-test sebesar 132.5 mmHg dengan standar deviasi 11.365. Sedangkan nilai mean tekanan darah diastolik pre-test sebesar 96.0 mmHg dengan standar deviasi 6.992 dan nilai mean post-test sebesar 79.0 mmHg dengan standar deviasi 7.379. Simpulan: Senam hipertensi terbukti efektif sebagai intervensi nonfarmakologis yang dapat menurunkan tekanan darah. Saran: Senam hipertensi perlu diterapkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.
Edukasi kesehatan reproduksi pada remaja di SMA Negeri 8 Makassar Sawidi, Hasnawati; Fara, Guntur R.; Fitri, Afrina Risalya; Nurpratiwi, Vivi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1214

Abstract

Background: Adolescent reproductive health is crucial for developing a quality generation, yet many adolescents lack information and understanding, leaving them vulnerable to sexual risks. Comprehensive, school-based reproductive education has been proven effective in increasing awareness and healthy behaviors. In response, a university held an educational program at SMA Negeri 8 Makassar to equip adolescents with the knowledge and skills to maintain holistic reproductive health. Purpose: To increase adolescent knowledge and awareness regarding reproductive health and to prevent risky behaviors that have the potential to lead to serious problems, such as unwanted pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and HIV/AIDS. Methods: The activity was held on Saturday, January 9, 2025, from 8:00 a.m. to 12:00 p.m. at SMA Negeri 8 Makassar. Twenty-six participants from grade XII participated. This activity used a participatory learning approach in reproductive health education, including interactive lectures, focus group discussions, and communication simulations. Evaluation was carried out through pre- and post-tests to assess the increase in participants' knowledge. Results: Of the 26 respondents aged 15 to 18 (mean 15.81 years; SD = 0.94), the majority were 15 years old (46.2%). Prior to the education, respondents' knowledge levels were low, with 46.1% categorized as poor. Following the educational intervention, participants' understanding improved, with 69.2% achieving good knowledge in the post-test. Conclusion: The participatory approach through interactive counseling, group discussions, and simulations created a comfortable and open learning environment, reflected in a significant increase in knowledge. Material previously considered taboo became easier to understand within the context of adolescent psychological development. This intervention highlights the need for overall program continuity; it emphasizes the importance of facilitating reproductive health education effectively by schools, families, and communities. Suggestion: Reproductive health education should be provided regularly and continuously to ensure deeper understanding and application of the material in daily life. This should be done using an interactive and participatory approach, including counseling, group discussions, and simulations. Schools and guidance counselors should be involved in providing support and a safe consultation space. Keywords: Adolescents; Education; Reproductive Health Pendahuluan: Kesehatan reproduksi remaja sangat penting bagi pembangunan generasi berkualitas, namun masih banyak remaja yang kurang informasi dan pemahaman, sehingga rentan terhadap risiko seksual. Pendidikan reproduksi yang komprehensif dan berbasis sekolah terbukti efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku sehat. Sebagai respons, perguruan tinggi mengadakan edukasi di SMA Negeri 8 Makassar untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan menjaga kesehatan reproduksi secara holistik. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi serta mencegah perilaku berisiko yang berpotensi menimbulkan masalah serius, seperti kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual (PMS), dan HIV/AIDS. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 Januari 2025, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 di SMA Negeri 8 Makassar, peserta dari kelas XII sebanyak 26 orang. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan participatory learning dalam edukasi kesehatan reproduksi, mencakup ceramah interaktif, focus group discussion, dan simulasi komunikasi, dengan evaluasi melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Hasil: Dari 26 responden yang berusia antara 15 hingga 18 tahun (rata-rata 15.81 tahun; SD = 0.94), sebagian besar berusia 15 tahun (46.2%). Sebelum diberikan edukasi, tingkat pengetahuan responden tergolong rendah, dengan 46.1% berada dalam kategori kurang. Setelah dilakukan intervensi edukatif, terjadi peningkatan dalam pemahaman peserta, dimana 69.2% responden mencapai kategori pengetahuan baik pada post-test. Simpulan: Pendekatan partisipatif melalui penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi menciptakan suasana belajar nyaman dan terbuka yang tercermin dari peningkatan pengetahuan secara signifikan. Materi yang semula dianggap tabu menjadi lebih mudah dipahami dalam konteks perkembangan psikologis remaja. Perlunya kesinambungan program secara keseluruhan, intervensi ini menegaskan pentingnya memfasilitasi edukasi kesehatan reproduksi secara serius oleh sekolah, keluarga, dan komunitas. Saran: Edukasi kesehatan reproduksi sebaiknya berkala dan berkelanjutan agar materi dapat dipahami lebih mendalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan pendekatan interaktif dan partisipatif, meliputi penyuluhan, diskusi kelompok, dan simulasi, serta melibatkan pihak sekolah dan guru bimbingan konseling untuk menyediakan dukungan dan ruang konsultasi yang aman
Peningkatan pengetahuan kader dalam pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kecamatan Kemiling Bandar Lampung Rahmatika, Ida; Gunawan, M. Ricko; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1396

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), caused by the Flavivirus and transmitted by Aedes aegypti and Aedes aegypti, has increased rapidly in tropical and subtropical regions, including Indonesia, which recorded 149,866 cases in 2024. Lampung recorded 9,096 cases, peaking in February, and Bandar Lampung City recorded 202 cases, with Kemiling District recording the highest number of cases with 27 cases. Environmental health workers play a crucial role in prevention through education, monitoring mosquito breeding sites, and 3M Plus interventions. However, the effectiveness of preventive measures still needs to be systematically evaluated. Purpose: To improve the knowledge of environmental health workers in optimizing dengue fever prevention measures. Method: This activity was conducted on July 2–4, 2025, in Kemiling District, Bandar Lampung, involving 20 health cadres who handle Dengue Fever as respondents. The health education activity used a lecture method and instructions in the form of informative leaflets on Dengue Fever prevention management, which included presentations, material presentations, and interactive discussions. Questionnaire scores, consisting of Pre-test and Post-test data, were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test to determine changes in the cadres' level of knowledge after the education activity. Accumulated data were presented descriptively quantitatively. Results: The average age of respondents was 38.5 years with a standard deviation of 7.06 years, ranging from 29 to 57 years. The majority of respondents were between 36 and 45 years old, with 9 (45.0%) having a high school education, and 16 (80.0%). Meanwhile, based on the analysis, the data obtained on the respondents' knowledge level scores in the Pre-test obtained a Mean value of 20.5 in the range of 15-22, while in the Post-test, the Mean value was 24.5 in the range of 23-25, with a negative rank value = 0 and p-Value = 0.001. Conclusion: Education on Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) prevention management delivered through lectures, discussions, and leaflets significantly increased knowledge of environmental health and demonstrated the effectiveness of structured educational interventions tailored to the characteristics of respondents. Sugesstion: The educational program should be expanded and scheduled regularly with an integrated module that combines lectures, discussions, and interactive visual materials. The Health Office and community health centers (CHC) should increase leaflet distribution to all sub-districts prone to DHF, train local facilitators to support the sustainability of the intervention, and conduct tiered evaluations through Pre-tests and Post-tests to adapt the material to demographic needs and ensure continued knowledge improvement. Keywords: Cadres; Dengue hemorrhagic fever (DHF) prevention; Education Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD), yang disebabkan oleh virus Flavivirus dan ditularkan oleh Aedes aegypti serta Aedes aegypti, telah meningkat pesat di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia yang mencatat 149,866 kasus pada 2024. Di Lampung tercatat 9,096 kasus dengan puncak insiden pada Februari dan di Kota Bandar Lampung 202 kasus, di mana Kecamatan Kemiling memegang rekor tertinggi dengan 27 kasus. Kader kesehatan lingkungan memegang peran krusial dalam pencegahan melalui edukasi, pemantauan sarang nyamuk, serta intervensi 3M Plus, namun efektivitas tatalaksana pencegahan masih perlu dievaluasi secara sistematis. Tujuan: Memberikan peningkatan pengetahuan kader kesehatan lingkungan dalam mengoptimalkan tatalaksana pencegahan Demam Berdarah Dengue. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada 2–4 Juli 2025 di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, dengan melibatkan 20 kader kesehatan yang menangani Demam Berdarah Dengue menjadi responden. Kegiatan penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan petunjuk berupa leaflet informatif mengenai tatalaksana pencegahan Demam Berdarah Dengue yang meliputi kegiatan presentasi, pemaparan materi dan diskusi interaktif. Data skor kuesioner berupa data Pre-test dan Post-test dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank Test untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan kader setelah kegiatan penyuluhan. Akumulasi data disampaikan secara deskriptif kuantitatif. Hasil: Menunjukkan usia rata-rata responden adalah 38.5 tahun dengan standar deviasi 7.06 tahun dalam rentang usia antara 29-57 tahun, mayoritas usia responden berada dalam rentang usia 36-45 tahun sebanyak 9 (45.0%) dan sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah SMA sebanyak 16 orang (80.0%). Sedangkan berdasarkan analisa mendapatkan data skor tingkat pengetahuan responden pada pre-test mendapatkan nilai mean 20.5 dalam rentang nilai 15 – 22 sedangkan pada post-test mendapatkan nilai mean 24.5 dalam rentang nilai 23 – 25, dengan nilai negatif rank=0 dan p-Value=0.001. Simpulan: Edukasi tatalaksana pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disampaikan melalui ceramah, diskusi, dan media leaflet secara signifikan meningkatkan pengetahuan terhadap kesehatan lingkungan dan menunjukkan adanya efektivitas intervensi edukatif yang terstruktur dan sesuai karakteristik responden.  Saran: Program edukasi sebaiknya diperluas dan dijadwalkan secara berkala dengan modul terpadu yang memadukan metode ceramah, diskusi, dan materi visual interaktif. Dinas Kesehatan dan puskesmas perlu meningkatkan distribusi leaflet ke seluruh kecamatan rawan Demam Berdarah Dengue, melatih fasilitator lokal untuk mendukung keberlanjutan intervensi, serta melakukan evaluasi berjenjang melalui pre-test/ post-test untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan demografis dan memastikan peningkatan pengetahuan yang berkelanjutan.
Pengaruh teknik proning terhadap dyspnea pada pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) Wijaya, Dis Latif; Putra, Fajar Alam; Sutrisno
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1402

Abstract

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a progressive respiratory disorder characterized by persistent airflow limitation and chronic inflammation due to exposure to irritants such as cigarette smoke, air pollution, and industrial substances. As one of the four major non-communicable diseases, the global burden of COPD reached 213.39 million cases in 2021. In Indonesia, the prevalence was 3.7% (≈9.2 million people), with Central Java accounting for 2.1%, or 31,817 patients. Dyspnea is a key symptom requiring intensive monitoring and management. A combination of pharmacological and non-pharmacological therapies, particularly the proning technique, has been shown to effectively improve pulmonary oxygenation and ventilation. At Dr. Soehadi Prijonegoro Regional Hospital in Sragen in January 2025, all 32 COPD patients in the Sakura and Aster lung wards experienced dyspnea, with five experiencing decreased oxygen saturation despite receiving oxygenation, nebulizers, and oral and injectable medications. Purpose: To analyze the effect of the proning technique on dyspnea intensity in COPD patients. Method: A one-group pre-test and post-test pre-experimental method was used on 32 COPD patients at Soehadi Prijonegoro Hospital for one month. Dyspnea was measured using the Borg Scale and respiratory rate observations before and after non-pharmacological intervention. Analysis was performed using the Wilcoxon test. Results: The average age of respondents was 57.66 years with a standard deviation of 12.05 years, ranging from 19 to 68 years. The majority of respondents were aged ≥ 60 years (21 respondents) (65.6%), gender was predominantly male (22 respondents) (68.8%), and the majority of respondents had a junior high school education (16 respondents) (50%). The majority of respondents were farmers (15 respondents) (46.9%), family support was mostly from younger siblings (18 respondents) (56.3%), and the duration of the disease was mostly more than 1 year (20 respondents) (62.5%). While the highest level of dyspnea before the proning technique intervention was in the moderate dyspnea category, namely 21 (65.6%), while after the proning intervention the highest proportion was in the mild dyspnea category, namely 17 (53.1%). The median dyspnea score before the proning technique intervention was 4 and the median dyspnea score after the proning technique intervention was 2. Based on the Wilcoxon test, the p value was <0.001. Conclusion: The application of the prone positioning technique significantly reduced the degree of dyspnea, with a decrease in the proportion of moderate dyspnea from 65.6% to 12.5%, with a p-value <0.001. These findings demonstrate the effectiveness of prone positioning as a non-pharmacological intervention in COPD management. Suggestion: Prone positioning should be routinely integrated into COPD management protocols in primary and referral healthcare facilities. Health education interventions should focus on the elderly, farmers, and patients with low education levels to improve understanding and adherence to self-care. Healthcare providers should involve families as active participants in treatment planning and long-term monitoring. Furthermore, further research with larger sample sizes is recommended to evaluate long-term effects and patient quality of life. Keywords: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD); Dyspnea;  Proning Technique Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah gangguan pernapasan progresif yang ditandai oleh hambatan aliran udara persisten dan inflamasi kronis akibat paparan iritan seperti asap rokok, polusi udara, dan zat industri. Sebagai salah satu dari empat penyakit tidak menular utama, beban global PPOK mencapai 213.39 juta kasus pada 2021, sedangkan di Indonesia prevalensinya 3.7% (≈9.2 juta orang), dengan Jawa Tengah mencatat 2.1% atau 31,817 penderita. Dyspnea merupakan gejala kunci yang memerlukan pemantauan dan pengelolaan intensif, di mana kombinasi terapi farmakologis dan nonfarmakologis khususnya teknik proning, terbukti efektif meningkatkan oksigenasi dan ventilasi paru. Di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada Januari 2025, seluruh 32 pasien PPOK di ruang paru Sakura dan Aster mengalami dyspnea, dengan lima di antaranya mengalami penurunan saturasi oksigen meski telah menerima oksigenasi, nebulizer, serta obat oral dan injeksi. Tujuan: Menganalisis pengaruh teknik proning terhadap intensitas dyspnea pada pasien PPOK. Metode: Metode pre-eksperimental one-group pre-test dan post-test digunakan pada 32 pasien PPOK di RS Soehadi Prijonegoro selama satu bulan. Dyspnea diukur dengan Skala Borg dan observasi respiratory rate sebelum dan sesudah intervensi nonfarmakologis. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 57.66 tahun dengan standar deviasi 12.05 tahun dalam rentang usia 19-68 tahun dan mayoritas responden berusia ≥ 60 tahun sebanyak 21 responden (65.6%), jenis kelamin responden mayoritas adalah laki-laki sebanyak 22 responden (68.8%), dan tingkat pendidikan mayoritas adalah SMP sebanyak 16 responden (50%), sebagian besar status pekerjaan responden adalah petani sebanyak 15 responden (46.9%), dukungan keluarga paling banyak adik/ kakak sebanyak 18 responden (56.3%), durasi penyakit paling banyak lebih dari 1 tahun sebanyak 20 responden (62.5%). Sedangkan tingkat dyspnea terbanyak sebelum intervensi teknik proning adalah kategori dyspnea sedang yaitu sebanyak 21 (65.6%), sedangkan setelah intervensi proning proporsi terbanyak pada kategori dyspnea ringan yaitu sebanyak 17 (53.1%). Median skor dyspnea sebelum intervensi teknik proning adalah  4 dan median skor dyspnea setelah intervensi teknik proning adalah  2 . Berdasarkan uji Wilcoxon mendapatkan nilai  p < 0.001.  Simpulan: Penerapan teknik prone positioning secara signifikan menurunkan derajat dyspnea, dengan penurunan proporsi dyspnea sedang dari 65.6% menjadi 12.5%, dan p Value < 0.001. Temuan ini menunjukkan efektivitas proning sebagai intervensi nonfarmakologis dalam manajemen PPOK. Saran: Sebaiknya teknik prone positioning diintegrasikan secara rutin dalam protokol penanganan PPOK di fasilitas kesehatan primer dan rujukan. Intervensi edukasi kesehatan perlu difokuskan pada lansia, petani, dan pasien berpendidikan rendah untuk meningkatkan pemahaman dan ketaatan pada perawatan diri. Penyedia layanan kesehatan harus melibatkan keluarga sebagai bagian aktif dalam rencana pengobatan dan pemantauan jangka panjang. Selain itu, penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dianjurkan untuk mengevaluasi efek jangka panjang dan kualitas hidup pasien.  
Pendidikan kesehatan dengan media promosi kesehatan untuk mengoptimalkan prilaku konsumsi buah dan sayur Hadi, Riswan; Isnainy, Usastiawaty C. A. S.; Zainaro, Muhamad Arifki
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1404

Abstract

Background : Adequate fruit and vegetable consumption is an important part of a healthy diet and plays a role in preventing various chronic diseases. However, public awareness, especially in rural areas, remains low. Leaflets are an easily accessible and effective educational method for increasing knowledge and fostering healthy behaviors. Purpose: To increase knowledge through health promotion through leaflets, which will influence fruit and vegetable consumption behavior in the community. Methods: This community service activity was conducted on June 10, 2025, at the Integrated Health Service Post (Posyandu) in Dusun 5 Sukajaya Darat, Lempasing, Pesawaran. Fifteen mothers with children who attended the Posyandu were selected using a total sampling technique. The health education activity used lectures and instructions in the form of informative leaflets on fruit and vegetable consumption behavior in children, including presentations, material presentations, and interactive discussions. Data were collected using a questionnaire and analyzed descriptively to determine differences before and after the intervention. Results: The majority of respondents were unemployed (11 respondents, 73.3%), and the majority had a high school education (9 respondents, 60.0%). Based on the accumulation of questionnaire data, it shows that the respondents' pre-test knowledge score got an average score of 75.0 points (SD=4.62) with a range of 70-85 points, while the respondents' post-test knowledge score got an average score of 90.6 points (SD=4.95) with a range of 85-100 points. Conclusion : Health promotion outreach activities increased mothers' knowledge regarding fruit and vegetable consumption behavior. This increased knowledge also positively contributed to mothers' efforts to maintain family health. Suggestion: Health education media can be implemented periodically and routinely as part of the integrated health service post (Posyandu) program. Keywords: Fruit and vegetable consumption; Health promotion media; Optimization Pendahuluan: Konsumsi buah dan sayur yang cukup merupakan bagian penting dari pola makan sehat dan berperan dalam mencegah berbagai penyakit kronis. Namun, kesadaran masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, masih rendah. Media leaflet merupakan salah satu metode edukasi yang mudah diakses dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta membentuk perilaku sehat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dengan promosi kesehatan melalui media leaflet terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur di masyarakat. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada 10 Juni 2025 di Posyandu Dusun 5 Sukajaya Darat, Lempasing, Pesawaran. Dengan melibatkan 15 ibu yang datang ke posyandu dan memiliki anak, yang dipilih menggunakan teknik total sampling untuk menjadi responden. Kegiatan penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan petunjuk berupa leaflet informatif mengenai perilaku konsumsi buah dan sayur pada anak yang meliputi kegiatan presentasi, pemaparan materi dan diskusi interaktif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status tidak bekerja yaitu sebanyak 11 (73.3%) dan mayoritas status pendidikan responden adalah SMA yaitu sebanyak 9 (60.0%).  Berdasarkan akumulasi data kuesioner menunjukkan bahwa nilai pre-test pengetahuan responden mendapatkan skor rata-rata 75.0 poin (SD=4.62) dengan rentang 70-85 poin, sedangkan nilai post-test pengetahuan responden mendapatkan skor rata-rata 90.6 poin (SD=4.95) dengan rentang 85-100 poin. Simpulan: Kegiatan penyuluhan promosi kesehatan memberikan peningkatan pengetahuan pada ibu terhadap prilaku konsumsi buah dan sayur . Peningkatan pengetahuan ini juga memberikan kontribusi positif bagi para ibu dalam menjaga kesehatan keluarga. Saran: Media edukasi kesehatan dapat dilakukan secara berkala dan rutin sebagai program kegiatan posyandu.
Edukasi juru pemantau jentik dalam pengendalian vektor demam berdarah dengue (DBD) di Desa Sukadadi Kecamatan Gedong Tataan Sintia, Monica Bela Dwi; Triyoso, Triyoso; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1422

Abstract

Background: The incidence of dengue fever in Indonesia remains relatively high, with 88,593 cases and 612 deaths spread across 456 regencies/cities in 34 provinces. According to the Pesawaran Regency Health Office profile, the highest number of dengue fever cases in 2023 was in Gedong Tataan District, with 51 cases. This disease is classified as an infectious disease and, if left uncontrolled, has the potential to become an Extraordinary Event (KLB) and cause an epidemic. One effort that must be taken is to optimize the knowledge of mosquito larvae monitors (Jumantik) and the most appropriate method to prevent dengue fever through vector control. Purpose: To improve the knowledge of mosquito larvae monitors (Jumantik) in controlling dengue hemorrhagic fever (DHF) vectors. Method : The activity was conducted in July 2025 in Sukadadi Village, Gedong Tataan District, Pesawaran Regency. The population for this activity was all mosquito larvae monitor (jumantik) cadres in Sukadadi Village, Gedong Tataan District. Using a purposive sampling technique, 10 mosquito larvae monitor (jumantik) cadres were selected as respondents. The activity consisted of counseling with presentations related to knowledge and vector control of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Data processing used a one-group pretest-posttest approach to measure knowledge levels and changes in knowledge levels. Data were analyzed univariately to describe respondent characteristics, and bivariately using the Wilcoxon Signed Rank Test to determine differences in knowledge levels before and after the intervention. Results: The mean level of knowledge of respondents before the education program was 4.4 points with a standard deviation of 1.07 points. Meanwhile, the mean level of knowledge of respondents after the education program was 8.5 points with a standard deviation of 0.17 points. Conclusion: This health education activity, using leaflets, significantly improved the knowledge of mosquito larvae monitors (Jumantik) regarding Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) vector control. This increase in knowledge demonstrates that the use of simple, easy-to-understand educational media is highly effective in conveying health information to mosquito larvae monitors (Jumantik) regarding the role and control of dengue vectors. Suggestion: It is recommended that simple yet effective health promotion media, such as leaflets, be used more actively in educational activities for mosquito larvae monitors (Jumantik) and the public. This media has been proven to increase understanding regarding dengue vector prevention and control. Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever; Jumantik; Knowledge; Optimization Pendahuluan : Angka kejadian penyakit DBD di wilayah Indonesia masih tergolong tinggi dengan jumlah kasus sebanyak 88.593 dengan 612 kasus kematian yang tersebar di 456 kabupaten/kota dari 34 provinsi. Berdasarkan profil dinas kesehatan Kabupaten Pesawaran, pada tahun 2023 jumlah kasus demam berdarah tertinggi terdapat di Kecamatan Gedong Tataan dengan jumlah kasus sebesar 51 kasus. Penyakit ini masuk kategori penyakit menular yang apabila tidak dikendalikan akan dapat berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) serta menimbulkan wabah. Salah satu upaya yang harus dilakukan ialah mengoptimalkan peningkatan pengetahuan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan cara yang paling tepat untuk mencegah terjangkitnya penyakit DBD dengan pengendalian vektor penularannya. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kader juru pemantau jentik (Jumantik) dalam pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juli 2025 di Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran. Populasi dalam kegiatan ini adalah seluruh kader jumantik di Desa Sukadadi,Kecamatan Gedong Tataan dan dengan menggunakan teknik purposive sampling mendapatkan 10 orang kader juru pemantau jentik (jumantik) untuk menjadi responden. Kegiatan dilakukan berupa penyuluhan dengan pemaparan materi terkait pengetahuan dan pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD).  Pengolahan data dengan pendekatan one group pretest-posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan dan perubahan tingkat pengetahuannya. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden, dan secara bivariat menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum pemberian edukasi mendapatkan nilai mean 4.4 poin dengan nilai standar deviasi 1.07 poin. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah pemberian edukasi mendapatkan nilai mean 8.5 poin dengan nilai standar deviasi 0.17 poin. Simpulan: Kegiatan ini merupakan pendidikan kesehatan melalui media leaflet secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan juru pemantau jentik (Jumantik) dalam pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Peningkatan pengetahuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media edukatif sederhana dan mudah dipahami sangat efektif dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada kader jumantik terkait peranan dan pengendalian vektor DBD. Saran: Diharapkan untuk lebih aktif menggunakan media promosi kesehatan sederhana namun efektif, seperti leaflet, dalam kegiatan edukasi kader jumantik dan masyarakat. Media ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman terkait pencegahan dan pengendalian vektor DBD
Upaya bersihan jalan napas dengan posisi semi fowler dan teknik batuk efektif pada pasien ISPA di Desa Lempasing Lina, Mia Nurar; Yulendasari, Rika; Chrisanto, Eka Yudha
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1427

Abstract

Background: Acute respiratory infection (ARI) is an infectious disease that affects the upper and lower respiratory tract and can progress to pneumonia, and is transmitted through the air. Globally, ARI causes millions of deaths each year, and Indonesia recorded the highest prevalence in ASEAN, including 35.9% of cases in Lampung Province in 2020. Increased bronchial secretions in ARI patients create nursing problems in the form of ineffective airway clearance, which can be addressed through pharmacological and non-pharmacological interventions such as the semi-Fowler's position and effective coughing to improve respiratory function. Purpose: To determine the effectiveness of the semi-Fowler's position and effective coughing techniques in improving airway clearance in ARI patients, as non-pharmacological efforts that support respiratory function recovery and reduce secretion accumulation. Method: This activity was conducted in Lempasing Village from May 21–26, 2025, with two patients with acute respiratory infections (ARI) as respondents. Nursing interventions, including the semi-Fowler's position and effective coughing, were implemented for three days and analyzed using a case study approach to evaluate improvements in airway clearance. Data on the amount of sputum collected in sputum pots were collected twice: in the morning (9:00 AM - 4:00 PM) and in the afternoon (4:00 PM - 9:00 PM), with sputum volume used as a measure of airway clearance. Sputum volume data was tabulated to observe changes before (pre-test) and after (post-test) the intervention. Results: The total sputum volume of respondent 1 was 140 cc in the pre-test, 115 cc in the post-test, and 70 cc in the post-test. Meanwhile, the total sputum volume of respondent 2 in the pre-test was 120 cc, in post-test 1 it was 80 cc and in post-test 2 it was 60 cc. Conclusion: Applying the semi-Fowler's position combined with effective coughing techniques twice daily for three days significantly reduced sputum volume in patients with acute respiratory infections (ARI), as reflected in a 50% reduction in secretion production in both respondents, thereby increasing the effectiveness of airway clearance. Suggestion: For nursing practice, the semi-Fowler's position and effective coughing should be routinely integrated at least twice daily in patients with acute respiratory infections to support airway clearance. Keywords: Acute respiratory infections (ARI); Airway clearance; Effective cough; Semi-Fowler's position Pendahuluan: Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah dan dapat berkembang menjadi pneumonia, dengan penularan melalui udara. Secara global, ISPA menyebabkan jutaan kematian setiap tahun, dan Indonesia mencatat prevalensi tertinggi di ASEAN, termasuk 35.9% kasus di Provinsi Lampung pada tahun 2020. Peningkatan sekret bronkus pada pasien ISPA menimbulkan masalah keperawatan berupa bersihan jalan napas tidak efektif, yang dapat ditangani melalui intervensi farmakologis dan nonfarmakologis seperti posisi semi-fowler, dan batuk efektif untuk memperbaiki fungsi pernapasan. Tujuan: Mengetahui efektivitas posisi semi-fowler dan teknik batuk efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien ISPA, sebagai upaya nonfarmakologis yang mendukung pemulihan fungsi pernapasan dan mengurangi akumulasi sekret. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Lempasing pada 21–26 Mei 2025 dengan dua pasien ISPA sebagai responden. Intervensi keperawatan berupa posisi semi-fowler dan batuk efektif diterapkan selama tiga hari dan dianalisis menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengevaluasi peningkatan bersihan jalan napas. Pengambilan data jumlah sputum yang terkumpul di sputum pot, dilakukan dua kali yaitu periode pagi (09.00 - 16.00) dan sore hari (16.00 - 21.00) dimana volume sputum sebagai data ukur bersihan napas. Data volume sputum ditabulasikan untuk melihat perubahan dari sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) intervensi.. Hasil: Menunjukkan bahwa total volume sputum responden 1 pada pre-test sebanyak 140 cc, pada post-test1 sebanyak 115 cc dan pada post-test2 sebanyak 70 cc. Sedangkan untuk total volume sputum responden 2 pada pre-test sebanyak 120 cc, pada post-test1 sebanyak 80 cc dan pada post-test2 sebanyak 60 cc. Simpulan: Penerapan posisi semi-fowler dipadu teknik batuk efektif dua kali sehari selama tiga hari terbukti secara signifikan menurunkan volume sputum pada pasien ISPA, yang tercermin dari penurunan produksi sekret hingga 50% pada kedua responden, sehingga meningkatkan efektivitas pembersihan jalan napas. Saran: Untuk praktik keperawatan, intervensi posisi semi-fowler dan batuk efektif sebaiknya diintegrasikan secara rutin minimal dua kali sehari pada pasien ISPA guna mendukung bersihan jalan napas.  
Edukasi kesehatan media leaflet tentang ketidakpatuhan terhadap pembatasan nutrisi dan cairan pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa Fajrianti, Endah; Kurniasih, Dennti; Chrisanto, Eka Yudha
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1428

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a public health problem with increasing prevalence. Globally, CKD mortality rose from 19th to 9th, with a 95% increase in deaths between 2000 and 2021. In Indonesia, the prevalence of CKD jumped from 2.0% to 3.8% (2013–2018), with Lampung reaching 0.39%. CKD is progressive and irreversible, requiring end-stage patients to require hemodialysis, which results in significant protein-energy and amino acid losses. Excessive fluid and sodium intake triggers complications such as hypertension, edema, and heart failure, while dietary non-compliance increases toxin accumulation and the risk of death. Structured education through leaflets using simple language and informative visuals has been proven effective in improving patient knowledge and compliance. Purpose: To evaluate the effectiveness of health education through leaflets on improving fluid and nutritional dietary compliance in chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Method: The activity was conducted from May 3–9, 2025, in the Hemodialysis Room at Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung, with two hemodialysis patients as respondents. The nursing intervention consisted of verbal health education and leaflets about diet according to physician instructions. Dietary understanding included respondents' compliance with nutrient and fluid intake restrictions during treatment. Respondent compliance was measured using a questionnaire. Pre-test and post-test compliance scores were analyzed to determine improvements in understanding and compliance following the educational intervention. Results: Pre-intervention adherence to diet and fluid management for both respondents was low. Data showed that Mrs. S's pre-test compliance score was 52.5% and post-test score was 85.0%, while Mrs. M's pre-test compliance score was 55.0% and post-test score was 90.0%. Conclusion: Providing health education has been shown to improve adherence to a restricted diet with nutrients and fluids in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. This intervention strengthened patients' knowledge about dietary and fluid management, thereby reducing symptoms of weakness, shortness of breath, and decreased quality of life due to non-compliance. Recommendation: To maintain and improve long-term adherence, it is recommended to integrate regular education sessions at least once a month, vary the media (e.g., short videos or educational apps), involve families in the learning process, and conduct regular assessments of knowledge and adherence to tailor the material to the patient's individual needs. Keywords: Adherence;Education; Hemodialysis; Kidney failure; Nutrition and fluids Pendahuluan: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat. Secara global, mortalitas PGK naik dari peringkat ke-19 menjadi ke-9 dengan kenaikan kematian 95% antara 2000 dan 2021. Di Indonesia prevalensi PGK melonjak dari 2.0% menjadi 3.8% (2013–2018), dengan Lampung mencapai 0.39%. PGK bersifat progresif dan irreversible, sehingga pasien stadium akhir memerlukan hemodialisis, yang sekaligus mengakibatkan kehilangan protein-energi dan asam amino signifikan. Asupan cairan dan natrium yang berlebih memicu komplikasi seperti hipertensi, edema, dan gagal jantung, sedangkan ketidakpatuhan diet meningkatkan akumulasi toksin dan risiko kematian. Edukasi terstruktur melalui leaflet dengan bahasa sederhana dan visual informatif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas edukasi kesehatan melalui media leaflet terhadap peningkatan kepatuhan diet cairan dan nutrisi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3–9 Mei 2025 di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung dengan dua pasien hemodialisis sebagai responden. Intervensi keperawatan berupa edukasi kesehatan yang disampaikan secara verbal dan leaflet tentang diet sesuai petunjuk dokter. Pemahaman diet meliputi kepatuhan responden dalam melakukan batasan terhadap asupan nutrisi dan cairan pada masa perawatan. Tingkat kepatuhan responden diukur dengan memberikan pernyataan dalam bentuk kuesioner. Nilai kepatuhan responden sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) di analisa untuk melihat peningkatan pemahaman dan kepatuhan responden setelah intervensi edukasi. Hasil: Pra-intervensi, kepatuhan diet dan pengaturan cairan kedua responden tergolong rendah. Data menunjukkan bahwa skor pencapain tingkat kepatuhan Ny. S pada pre-test sebesar 52.5 % dan post-test sebesar 85.0 %, sedangkan skor pencapain tingkat kepatuhan Ny. M pada pre-test sebesar 55.0 % dan post-test sebesar 90.0 %. Simpulan: Pemberian edukasi kesehatan terbukti meningkatkan kepatuhan tentang diet pembatasan asupan nutrisi dan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang sedang menjalani hemodialisis. Intervensi ini memperkuat pengetahuan pasien tentang pengaturan pola makan dan cairan, sehingga menurunkan gejala kelemahan, sesak napas, dan penurunan kualitas hidup akibat ketidakpatuhan. Saran: Untuk mempertahankan dan meningkatkan kepatuhan jangka panjang, disarankan mengintegrasikan sesi edukasi berkala minimal sekali sebulan, memvariasikan media (misalnya video pendek atau aplikasi edukasi), melibatkan keluarga dalam proses pembelajaran, serta melakukan evaluasi rutin pengetahuan dan kepatuhan untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan individu pasien.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue