cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Kegiatan menjaga kesehatan lingkungan dengan pemanfaatan sampah plastik menjadi eco paving block Nuryani, Dina Dwi; Navila, Navila; Ghozali, Derby; Mardiansyah, Mardiansyah; Wibisono , Chandra; Nugroho, Nugroho; Taupiqurrahman, R. M.; Amelia , Nur; Salsabilla, Shifa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1578

Abstract

Background: A clean and healthy environment is a basic need for society and a crucial factor in improving the quality of life and supporting sustainable development. However, the increase in non-biodegradable plastic waste causes serious environmental and health problems. Effective plastic waste management through innovative recycling practices is essential. Effective plastic waste management is a major challenge in maintaining environmental cleanliness and sustainability. Purpose: To improve community understanding and skills in processing plastic waste into environmentally friendly and economically valuable eco-paving blocks. Method: This community service activity was conducted on Saturday, August 16, 2025, in Kandang Besi Village. The participant population was 35 people, consisting of representatives from eight hamlets from Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru, and Tuban. The activity included education on plastic waste utilization with the theme SAPA BUMI (Plastic Waste for Paving, Clean for the Earth) and a demonstration of eco-paving block production. Results: A composition of 20% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 20% used oil (solvent) produced poor quality and fragile eco paving blocks. Meanwhile, a second test, using 30% aggregate (sand), 60% plastic waste, and 10% used oil (solvent), produced fairly good, more solid, and less fragile eco paving blocks. Increasing public understanding through this innovation has the potential to reduce plastic waste accumulation while increasing the community's economic value through environmentally friendly products. Conclusion: Community service activities involving education on the use of plastic waste have successfully increased public understanding regarding plastic waste management, particularly as a raw material for making eco paving blocks and maintaining environmental health. Suggestion: Further research and technological development are recommended to ensure wider and more sustainable application of eco paving blocks. Keywords: Eco paving blocks; Environmental health; Community empowerment; Plastic waste; Waste management Pendahuluan: Lingkungan hidup yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat dan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Namun, peningkatan limbah plastik yang sulit terurai secara alami menyebabkan masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan. pengelolaan limbah plastik yang efektif melalui inovasi pemanfaatan ulang sangat diperlukan Pengelolaan limbah plastik yang efektif menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah plastik menjadi bahan baku eco paving block yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Metode: Pengabdian Masyarakat ini dilakukan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025, di Pekon Kandang Besi. Populasi peserta kegiatan ini adalah 35 orang yang terdiri dari perwakilan 8 dusun dari Kandang Besi, Tanjung Betuah, Sukajaya, Kembahang, Bandung Jaya, Sinar Jaya, Sinar Baru dan Tuban. Kegiatan terdiri dari edukasi mengenai pemanfaatan sampah plastik dengan tema SAPA BUMI (Sampah Plastik untuk Paving, Bersih untuk Bumi) dan demonstrasi pembuatan eco paving block. Hasil: Dengan komposisi agregat (pasir) 20%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 20% menghasilkan eco paving block yang kurang baik dan rapuh, sedangkan untuk uji kedua dimana dengan komposisi agregat (pasir) 30%, Limbah plastik (60%), dan Oli bekas (pelarut) 10% menghasilkan eco paving block yang cukup baik dan lebih solid tidak rapuh. Meningkatnya pemahaman masyarakat dengan inovasi ini berpotensi mengurangi akumulasi limbah plastik sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui produk ramah lingkungan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi pemanfaatan limbah sampah plastik berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah plastik, khususnya sebagai bahan baku pembuatan eco paving block dan menjaga kesehatan lingkungan. Saran: Diharapkan untuk melakukan penelitian lanjutan serta pengembangan teknologi agar penerapan eco paving block dapat lebih luas dan berkelanjutan.
Sosialisasi kesehatan mental tentang perundungan kekerasan seksual dan perilaku intoleransi pada remaja Elsi, Mariza; Setiarini, Sari; Gusti, Dalina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1715

Abstract

Background: Violence in schools, including sexual violence, bullying, and intolerance, remains a serious problem that threatens the well-being of students. This is particularly concerning because it contrasts with the general perception that schools are safe environments free from crime because they are filled with educated individuals. Data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) and the Federation of Indonesian Teachers' Unions (FSGI) in 2023 showed that the most common forms of violence experienced by students were physical violence (55.5%), verbal violence (29.3%), and psychological violence (15.2%). Purpose: To increase junior high school students' knowledge and awareness of the dangers of bullying, sexual violence, and intolerance in an effort to build positive character within the school environment. Method: This activity was held at SMP 16 Padang City in October 2025. The counseling session was attended by 67 seventh-grade students. The activity consisted of an interactive presentation using visual media that directly involved students. The questionnaire consisted of 15 questions, divided into two sections: 10 knowledge questions to measure students' understanding of the definition of violence, its types, and how to prevent and handle it. These questions were in multiple-choice and short-answer format. 5 behavioral questions aimed to measure changes in students' attitudes and behaviors after receiving the counseling, such as whether they felt more confident reporting violence they experienced or witnessed. These behavioral questions used a Likert scale (agree/disagree). Results: The average knowledge score before the counseling session was 59.6, with a range of 32-87. After receiving counseling on bullying, sexual violence, and intolerance, the average knowledge score increased to 86.0, with a range of 72-100. Conclusion: Through interactive outreach activities, participants more easily understand that bullying, sexual violence, and intolerance are behaviors that negatively impact mental health, for both victims and perpetrators. Students also become more able to assertively reject violence, respect differences, and report to authorities if actions threaten their own safety or the safety of others. Suggestion: It is hoped that sustainable programs related to violence prevention can be developed, involving an anti-violence task force team from all parties, including teachers, students, and school counselors. It is also hoped that regular activities in the form of anti-violence outreach or campaigns will be held, at least once a semester, so that the messages conveyed remain ingrained in students. Keywords: Bullying; Mental health; Prevention; School environment; Student behavior Pendahuluan: Kekerasan di lingkungan sekolah diantaranya kekerasan seksual, perundungan (bullying) dan intoleransi masih menjadi permasalahan serius yang mengancam kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah. Hal ini di rasa miris karena kontras dengan pandangan umum bahwa sekolah merupakan lingkungan aman dari tindak kejahatan karena dipenuhi orang-orang terdidik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tahun 2023 menunjukkan bahwa bentuk kekerasan yang paling sering dialami siswa adalah kekerasan fisik (55.5%), verbal (29.3%), dan psikologis (15.2%). Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMP mengenai bahaya perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi dalam upaya membangun karakter positif di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di SMP 16 Kota Padang pada bulan Oktober 2025. Jumlah peserta penyuluhan sebanyak 67 peserta terdiri dari siswa kelas VII. Kegiatan berupa presentasi interaktif menggunakan media visual yang melibatkan siswa secara langsung. Instrumen berupa kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan, yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu pertanyaan pengetahuan (10 pertanyaan) untuk mengukur pemahaman siswa mengenai pengertian kekerasan, jenis-jenis kekerasan, serta cara pencegahan dan penanganannya. Pertanyaan-pertanyaan ini berbentuk pilihan ganda dan isian singkat. Kemudian pertanyaan perilaku (5 pertanyaan), bertujuan untuk mengukur perubahan sikap dan perilaku siswa setelah mendapatkan penyuluhan, seperti apakah mereka merasa lebih percaya diri untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami atau saksikan. Pertanyaan perilaku ini menggunakan skala Likert (setuju/tidak setuju). Hasil: Menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu sebesar 59.6 dengan rentang nilai 32-87. Setelah diberikan penyuluhan perundungan kekerasan seksual dan Intoleransi nilai rata-rata pengetahuan responden meningkat menjadi sebesar 86.0 dengan rentang nilai 72-100. Simpulan: Melalui kegiatan penyuluhan yang interaktif, peserta lebih mudah memahami bahwa perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi merupakan perilaku yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental, baik bagi korban maupun pelaku. Siswa juga menjadi lebih mampu untuk bersikap tegas menolak kekerasan, menghargai perbedaan, dan melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi tindakan yang mengancam keselamatan diri atau orang lain. Saran: Diharapkan dapat mengembangkan program berkelanjutan terkait pencegahan kekerasan, dengan melibatkan tim satuan tugas anti-kekerasan dari semua pihak antara guru, siswa, dan konselor sekolah. Diharapkan juga, adanya kegiatan rutin berupa penyuluhan atau kampanye anti-kekerasan, minimal setiap semester, agar pesan yang disampaikan tetap tertanam dalam diri siswa.
Kegiatan memanfaatkan lahan pekarangan dengan penanaman bibit pohon sebagai upaya pelestarian lingkungan sehat Nuryani, Dina Dwi; Triranti, Asih; Mulyanto, Hendra; Indriyani, Jelita Hanan; Inpantri, Karista Putri; Tretilia, Putu Rara; Auliyani, Vievie; Haq, Zam Zam Abdul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1579

Abstract

Background: The environment is a vital component of human life that must be preserved and maintained sustainably. This situation presents a real challenge that requires the active participation of all levels of society, including higher education institutions, in efforts to address and minimize the impacts. The One Tree One Hope (SPASHA) Program is a form of community service implemented by students from the Community Service Program (KKLPPM) at Malahayati University in Kandang Besi Village, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. Purpose: To raise public awareness of environmental conservation, yard utilization, and productive tree planting. Method: Community education through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocado and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Method: Community education through socialization, seedling distribution, determining planting points, and tree planting through mutual cooperation involving the community, village heads, supervising lecturers, and village officials. A total of 100 tree seedlings, consisting of 50 avocados and 50 mixed seedlings (durian, jengkol, and petai) were distributed to eight hamlets. Results: The activity demonstrated community enthusiasm and active participation, which are indicators of the program's success. In addition to providing ecological benefits such as improved air quality, carbon sequestration, and ecosystem preservation, the program also has the potential to improve community well-being through economically valuable harvests. Conclusion: The One Tree One Hope (SPASHA) movement, a form of community service in environmental conservation, successfully engaged the community actively through outreach, seedling distribution, planting site determination, and tree planting. Community enthusiasm demonstrates that reforestation activities have an impact on a healthy environment and have the potential to provide future economic benefits. Keywords: Environmental health; Land use; Plant conservation; Tree planting Pendahuluan: Lingkungan hidup merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia yang harus dijaga kelestariannya dan dilestarikan secara berkesinambungan. Kondisi ini menjadi tantangan nyata yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan tinggi, dalam upaya mengatasi dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan. Program Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKLPPM Universitas Malahayati di Pekon Kandang Besi, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan dan penanaman pohon produktif. Metode: Community education melalui sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, serta penanaman pohon secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat, kepala pekon, dosen pembimbing, dan perangkat desa. Sebanyak 100 bibit pohon, terdiri atas 50 alpukat dan 50 bibit campuran (durian, jengkol, dan petai) didistribusikan ke delapan dusun. Hasil: Kegiatan menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat, yang menjadi indikator keberhasilan program. Selain memberikan manfaat ekologis berupa perbaikan kualitas udara, penyerapan karbon, dan pelestarian ekosistem, program ini juga memiliki potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil panen yang bernilai ekonomi. Simpulan: Kegiatan gerakan Satu Pohon Satu Harapan (SPASHA) merupakan bentuk pengabdian masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan, berhasil melibatkan masyarakat secara aktif melalui tahapan sosialisasi, penyerahan bibit, penentuan titik tanam, dan penanaman bibit pohon. Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan penghijauan berdampak pada lingkungan sehat dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang.
Pemberian teknik relaksasi nafas dalam untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia Dwiartho, Muhammad Fiqi; Rilyani, Rilyani; Wardiyah, Aryanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1585

Abstract

Background: The rate of cesarean section (CS) deliveries in Indonesia is increasing and has exceeded the WHO threshold, with a national prevalence of approximately 17.6% and significant regional variation. Most cesarean sections are caused by pregnancy complications such as severe preeclampsia, a leading cause of maternal mortality. Cesarean sections leave scars and acute pain that require pharmacological and non-pharmacological treatment. Deep breathing relaxation techniques have been shown to significantly reduce pain intensity by increasing parasympathetic activity and reducing stress hormones. Deep breathing techniques are simple, economical, and self-administered. This study focused on the effectiveness of this intervention in post-cesarean section patients with preeclampsia. Purpose: To evaluate the effectiveness of deep breathing relaxation techniques as a non-pharmacological intervention to reduce pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia. Method: The activity was conducted over three days in 2025, taking place at the patient's home in Dusun 3 Batu Menyan, Sukajaya Lempasing Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung. The subjects were two post-cesarean section patients with preeclampsia. Non-pharmacological interventions, including deep breathing relaxation therapy, were performed twice daily (morning and evening), 5–7 times each, for a maximum of 5 minutes per session, for three consecutive days. The pain measurement instrument used the Numerical Rating Scale (NRS), a numerical pain assessment with a range of values ​​from 0 to 10, where 0 = no pain, 1–3 = mild pain, 4–6 = moderate pain, and 7–10 = severe pain. Results: Data obtained showed that the characteristics of participant Mrs. S. is 27 years old, weighs 68 kg, is 156 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 150/100 mmHg. While the characteristics of participant Mrs. T. are 32 years old, weighs 67 kg, is 161 cm tall, has no history of hypertension, and at the time of examination had a blood pressure of 140/80 mmHg. After three days of deep breathing relaxation technique intervention, pain intensity in Mrs. S decreased from a scale of 5 to 2, and in Mrs. T from a scale of 6 to 3. Conclusion: Deep breathing relaxation techniques have been proven effective in reducing acute pain intensity in post-cesarean section patients with preeclampsia, through routine intervention over three days. This method is safe, practical, and can be independently implemented as a non-pharmacological alternative in post-operative pain management. Suggestion: Healthcare workers need to integrate deep breathing relaxation techniques into post-cesarean section nursing care, especially for patients with preeclampsia, and improve self-education so that this therapy can be consistently continued at home to support recovery without dependence on analgesics. Keywords: Deep breathing relaxation; Pain; Post-cesarean section; Preeclampsia Pendahuluan: Angka persalinan sectio caesarea (SC) di Indonesia meningkat dan telah melampaui ambang WHO, dengan prevalensi nasional sekitar 17.6% dan variasi wilayah yang signifikan. Sebagian sectio caesarea disebabkan oleh komplikasi kehamilan seperti pre-eklampsia berat, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Sectio caesarea meninggalkan luka dan nyeri akut yang memerlukan penanganan farmakologis dan nonfarmakologis. Teknik relaksasi napas dalam terbukti menurunkan intensitas nyeri secara signifikan dengan mekanisme peningkatan aktivitas parasimpatik dan pengurangan hormon stres. Teknik napas dalam sederhana, ekonomis, dan dapat dilakukan mandiri, penelitian ini difokuskan pada efektivitas intervensi tersebut pada pasien pasca sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas teknik relaksasi napas dalam sebagai intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Metode: Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari pada tahun 2025, bertempat di rumah pasien di Dusun 3 Batu Menyan, Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Subjek dalam kegiatan ini adalah dua pasien post operasi sectio caesarea dengan indikasi pre-eklampsia. Intervensi nonfarmakologis berupa terapi relaksasi nafas dalam dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore), masing-masing sebanyak 5–7 kali atau maksimal 5 menit per sesi, selama tiga hari berturut-turut. Instrumen pengukuran tingkat nyeri menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) adalah penilaian nilai nyeri secara numerik dengan rentang nilai 0 sampai dengan 10, dimana dengan kategori nilai 0=tidak merasakan nyeri, nilai 1-3=nyeri ringan, nilai 4-6=nyeri sedang, dan nilai 7-10=nyeri berat. Hasil: Mendapatkan data bahwa karakteristik partisipan Ny.S. adalah berusia 27 tahun, berat badan 68 Kg, tinggi badan 156 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 150/100 mmHg. Sedangkan karakteristik partisipan Ny.T. adalah berusia 32 tahun, berat badan 67 Kg, tinggi badan 161 cm, tidak memiliki riwayat hipertensi, dan pada waktu pemeriksaan memiliki tekanan darah 140/80 mmHg. Setelah tiga hari intervensi teknik relaksasi napas dalam, intensitas nyeri pada Ny. S menurun dari skala 5 menjadi 2, dan pada Ny. T dari skala 6 menjadi 3. Simpulan: Teknik relaksasi napas dalam terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri akut pada pasien pasca operasi sectio caesarea dengan pre-eklampsia, melalui intervensi rutin selama tiga hari. Metode ini aman, praktis, dan dapat diterapkan secara mandiri sebagai alternatif nonfarmakologis dalam manajemen nyeri pasca operasi. Saran: Tenaga kesehatan perlu mengintegrasikan teknik relaksasi napas dalam dalam asuhan keperawatan pasca operasi sectio caesarea, khususnya pada pasien dengan pre-eklampsia, serta meningkatkan edukasi mandiri agar terapi ini dapat dilanjutkan secara konsisten di rumah untuk mendukung pemulihan tanpa ketergantungan pada analgesik.
Optimalisasi peran anggota PKK dan dukungan keluarga sebagai upaya meningkatkan kesadaran manajemen diri pasien diabetes melitus Sastra, Lenni; Yusriana, Yusriana; Kasmita, Kasmita
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1605

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that requires optimal self-management to prevent complications. Family and community support play a crucial role in successful self-management in DM patients. Internal factors such as knowledge, motivation, and self-efficacy play a crucial role in shaping self-management behaviors in DM patients. Community-based programs that involve social support can improve the physical and mental quality of life of DM patients, especially in communities with high social vulnerability. This emphasizes the crucial role of support from the social and community environment. Purpose: To improve the capacity of the Family Empowerment and Welfare Movement Team and the families of DM patients as an effort to raise awareness of DM patients' self-management skills. Method: The activity was carried out in July–September 2025 in Koto Pulai Village, Padang City. Participants consisted of 10 Family Empowerment and Welfare members and 16 families of DM patients, with education, training, and mentoring methods, including program socialization, DM education, training in making healthy food preparations, independent health checks, physical exercise, and implementation of training results. Evaluation was carried out using a questionnaire to assess the increase in knowledge, skills, and active roles of participants, both Family Empowerment and Welfare members and families of DM patients. Results: Obtaining data that the average knowledge score of Family Empowerment and Welfare members about Diabetes Mellitus (DM) and self-management of DM patients before the activity was 14.20 and after the activity increased to 20.90 with a p-value of 0.001 (<0.005). Meanwhile, the average knowledge score of DM patients' families before the activity was 11.13 and after the activity increased to 16.81 with a p-value of 0.001 (<0.005). Based on the evaluation, it also showed that most of the mentoring roles of Family Empowerment and Welfare members before the activity were in the inactive category, namely 8 people (80.0%) and after the activity, the mentoring role of all Family Empowerment and Welfare members was in the active category, namely 10 people (100.0%) with pValue = 0.003. Meanwhile, the role of patient family support before the activity in the inactive category was 8 people (50.0%) and the less active category was 8 people (50.0%), while the role of patient family support after the activity in the inactive category was 5 people (31.0%), the less active category was 4 people (25.0%) and the active category was 7 people (44.0%). Conclusion: Direct education and training for Family Welfare Movement members and patients' families were highly effective in increasing their knowledge and active role in supporting diabetes patients. This increased support and knowledge also positively contributed to increasing awareness among diabetes patients about developing self-management patterns. Suggestion: Community Health Centers and local governments are expected to continue education and training programs for Family Empowerment and Welfare cadres, and families of diabetes patients on an ongoing basis, accompanied by regular monitoring and evaluation to ensure ongoing support. Family Empowerment and Welfare administrators should form support groups and hold regular meetings or home visits, while patients' families are expected to actively participate in diet management, physical activity, and blood glucose monitoring. Keywords: Community empowerment; Diabetes mellitus patients; Family support; Self-management Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen diri optimal untuk mencegah komplikasi. Dukungan keluarga dan komunitas berperan penting dalam keberhasilan manajemen diri pasien DM. Faktor internal seperti pengetahuan, motivasi, dan self-efficacy berperan penting dalam pembentukan perilaku manajemen diri pasien DM. Program berbasis masyarakat yang melibatkan dukungan sosial mampu meningkatkan kualitas hidup fisik dan mental pasien DM, terutama di komunitas dengan kerentanan sosial tinggi. Ini menekankan bahwa dukungan dari lingkungan sosial & komunitas mempunyai peranan yang sangat penting. Tujuan: Untuk meningkatkan kemampuan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan keluarga pasien DM sebagai upaya meningkatkan kesadaran pasien DM dalam manajemen diri. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juli–September 2025 di Kelurahan Koto Pulai, Kota Padang. Peserta kegiatan terdiri atas 10 anggota PKK dan 16 keluarga pasien DM, dengan metode edukasi, pelatihan, dan pendampingan, meliputi sosialisasi program, edukasi DM, pelatihan pembuatan olahan makanan sehat, pemeriksaan kesehatan mandiri, latihan fisik, serta implementasi hasil pelatihan. Evaluasi dilakukan dengan lembar kuesioner untuk menilai peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan peran aktif peserta, baik anggota PKK maupun keluarga pasien DM. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata skor pengetahuan anggota PKK tentang Diabetes Melitus (DM) dan manajemen diri pasien DM sebelum kegiatan adalah 14.20 dan setelah kegiatan meningkat menjadi 20.90 dengan nilai p-value 0.001 (<0.005). Sedangkan, rata-rata skor pengetahuan keluarga pasien DM sebelum kegiatan adalah 11.13 dan setelah kegiatan meningkat menjadi 16.81 dengan p-value 0.001 (<0.005). Berdasarkan evaluasi juga menunjukkan bahwa sebagian besar peran pendampingan anggota PKK sebelum kegiatan adalah dalam kategori tidak aktif yaitu sebanyak 8 orang (80.0%) dan setelah kegiatan, peran pendampingan dari seluruh anggota PKK dalam kategori aktif yaitu sebanyak 10 orang (100.0%) dengan pValue=0.003. Sedangkan peran pendampingan keluarga pasien sebelum kegiatan dalam kategori tidak aktif sebanyak 8 orang (50.0%) dan kategori kurang aktif sebanyak 8 orang (50.0%), sedangkan peran pendampingan keluarga pasien sesudah kegiatan dalam kategori tidak aktif sebanyak 5 orang (31.0%), kategori kurang aktif sebanyak 4 orang (25.0%) dan kategori aktif sebanyak 7 orang (44.0%). Simpulan: Kegiatan edukasi dan pelatihan langsung kepada anggota PKK dan keluarga pasien sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan aktivitas perannya dalam pendampingan pada pasien DM. Dengan meningkatnya peran pendampingan dan tingkat pengetahuan ini juga memberikan kontribusi positif terhadap kesadaran dari pasien DM dalam membentuk pola manajemen diri. Saran: Diharapkan kepada Puskesmas dan pemerintah setempat untuk melanjutkan program edukasi dan pelatihan kader PKK serta keluarga pasien DM secara berkesinambungan, disertai monitoring dan evaluasi rutin agar pendampingan dapat berkelanjutan. Pengurus PKK perlu membentuk kelompok pendamping dan mengadakan pertemuan atau kunjungan rumah secara teratur, sementara keluarga pasien diharapkan aktif dalam pengaturan diet, aktivitas fisik, dan pemantauan glukosa darah.
Penyuluhan interaktif tentang kesiapan mental ibu muda dalam mengelola tumbuh kembang anak Dewi, Indah Maulina; Rum, Malihah Ramadhani; Indriyani, Hajir; Silahoy, Ice Meriah Hertanti; Daeli, Joverius; Erawati, Nieke; Krisna, Krisna; Auliah, Devi; Anisah, Dhea Muthia; Maura, Melisa Safa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1697

Abstract

Background: The mental health of young mothers is a crucial aspect influencing family well-being and child development. However, mental health literacy among this group is still limited, necessitating educational efforts through appropriate counseling methods. Health promotion is the process of "enabling communities to increase control and improvement of their health," encompassing physical, mental, and social aspects. Health education, as a promotional strategy, aims to influence individual and group behavior to support improved health. Purpose: To increase young mothers' knowledge about mental health in managing and addressing children's growth and development. Method: The activity was conducted on August 25, 2025, at the Yuliarpan Medika 2 Clinic, Cibitung District, Bekasi Regency. The activity involved 30 respondents, young mothers with children under two years old and in need of education regarding mental preparedness in addressing their children's behavior. The implementation of this mental health education activity for young mothers used an interactive, participatory approach combining lectures, group discussions, and question-and-answer sessions. The instruments used were an educational leaflet and a 10-question questionnaire covering aspects of mental attitudes in addressing children's behavior and development. Results: Data revealed that the majority of respondents were young mothers of productive age, aged 26-30 (18 respondents, 60.0%), with an average age of 29.5 years, with a standard deviation of ±2.4. Educational levels varied considerably, but the majority were junior high school graduates (12 respondents, 40.0%) and high school graduates (10 respondents, 33.3%). The majority of respondents worked as housewives or employees (9 respondents, 30.0%). There was an increase in respondents' knowledge, from an average pre-test score of 72.7 points to 89 points in the post-test. Conclusion: The interactive counseling in this activity was highly effective in increasing understanding of young mothers' mental readiness and self-management in dealing with children's growth and development. This increased knowledge also had a positive impact on young mothers' ability to manage time, emotions, and stress in family life. Suggestion: Mental health counseling for young mothers should be conducted regularly, with additional material on the biological impacts of stress and coping strategies that can be applied in everyday life. Keywords: Child development; Early marriage; Health education; Mental readiness Pendahuluan: Kesehatan mental ibu muda merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga dan tumbuh kembang anak. Namun, tingkat literasi kesehatan mental pada kelompok ini masih terbatas sehingga diperlukan upaya edukasi melalui metode penyuluhan yang tepat. Promosi kesehatan adalah proses untuk “memungkinkan masyarakat meningkatkan pengendalian dan perbaikan kesehatan mereka,” yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Penyuluhan kesehatan, sebagai salah satu strategi promosi, bertujuan memengaruhi perilaku individu dan kelompok agar mendukung peningkatan derajat kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu muda mengenai kesehatan mental dalam mengelola dan menghadapi perilaku tumbuh kembang anak.   Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2025 di Klinik Yuliarpan Medika 2, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Kegiatan melibatkan 30 responden yang merupakan ibu muda yang memiliki anak di bawah dua tahun dan membutuhkan edukasi terkait kesiapan mental dalam menghadapi perilaku anak. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan kesehatan mental bagi ibu muda ini menggunakan pendekatan interaktif partisipatif yang menggabungkan metode ceramah, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Instrumen yang digunakan berupa edukatif leaflet dan kuesioner dengan 10 pertanyaan meliputi aspek sikap mental dalam menghadapi perilaku dan tumbuh kembang anak. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar responden adalah ibu muda berusia produktif yaitu di rentang usia 26 - 30 tahun yaitu sebanyak 18 (60.0%), rata-rata berusia 29.5 tahun dengan simpangan baku ±2.4. Tingkat pendidikan cukup bervariasi, namun mayoritas adalah lulusan SMP sebanyak 12 (40.0%) dan SMA sebanyak 10 (33.3%). Sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga atau karyawan yaitu masing-masing 9 orang (30.0%).Terdapat peningkatan pengetahuan responden dari rata-rata nilai pre-test peserta sebesar 72.7 poin menjadi 89 poin pada post-test. Simpulan: Penyuluhan interaktif dalam kegiatan ini, sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman mengenai kesiapan mental ibu muda dan pengelolaan diri dalam menghadapi perilaku tumbuh kembang anak. Peningkatan pengetahuan juga memberikan dampak positif pada ibu muda dalam mengelola waktu, emosi dan stress dalam menjalani hidup berkeluarga. Saran: Penyuluhan kesehatan mental bagi ibu muda perlu dilakukan secara rutin dengan penambahan materi mengenai dampak biologis stres dan strategi coping yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan peningkatan pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan darurat bencana di Pondok Pesantren Lutfiya, Indah; Damayanti, Ratih; Tyas, Anestasia Pangestu Mei; Dwicahyo, Herman Bagus; Rohmah, Shofiyatur; Ibad, Mursyidul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1727

Abstract

Background: Islamic boarding schools (pesantren), as boarding Islamic educational institutions, play a strategic role in shaping the character of their students (students). However, they face serious challenges related to disaster risks, particularly earthquakes and fires, due to overcrowding and a lack of mitigation systems. Jabal Noer Islamic Boarding School in Sidoarjo, located in an earthquake-prone zone and home to hundreds of teenage students, exhibits low levels of emergency preparedness, including first aid knowledge and skills. Given this high vulnerability, educational interventions in the form of emergency response and first aid training involving the entire Islamic boarding school community are needed to strengthen disaster response capacity and create a safe and prepared learning environment. Purpose: To improve the knowledge and skills of students within Islamic boarding schools in disaster preparedness in the face of emergencies. Method: The activity was held on July 21, 22, and 23, and August 2, 2025, at the Jabal Noer Islamic Boarding School, Geluran Taman, Sidoarjo Regency, East Java. Twenty-six participants, consisting of students and one security guard, were involved. The material was delivered through focus group discussions (FGDs) between D4 K3 lecturers and the boarding school administrators, who also formed the SIGAP cadre. Knowledge and skills were measured using a questionnaire, assessing participants' attendance, practical simulation skills, and students' socio-cultural involvement in the boarding school environment. A descriptive and quantitative evaluation was conducted by assessing the level of change in knowledge and skills before and after the educational activities (pre-test) and after the educational activities (post-test). Results: Data obtained showed that the level of knowledge and skills of participants before the educational activities (pre-test) achieved an average score of 24.8 points with a standard deviation of 16.86, while the level of knowledge and skills of participants after the educational activities (post-test) achieved an average score of 74.0 points with a standard deviation of 16.07. The intervention improved participants' ability to practice basic skills such as cardiopulmonary resuscitation and minor injury management. The intervention also successfully formed SIGAP cadres and provided safety facilities, which overall strengthened the preparedness of the Islamic boarding school environment. Conclusion: This community service activity successfully increased disaster preparedness capacity through the formation of SIGAP cadres and first aid training. The increased knowledge and skills of SIGAP cadres also made a positive contribution and strengthened the institution in disaster response, injury management, earthquake and fire preparedness, and disaster impact prevention. Suggestion: SIGAP cadres are expected to conduct routine training and periodic simulations. It is also hoped that educational activities and training in disaster preparedness can be integrated into the extracurricular curriculum through collaboration with external institutions such as the Indonesian Red Cross and the Regional Disaster Management Agency. Keywords: Disaster; Emergency preparedness; First aid; Islamic boarding schools Pendahuluan: Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam berasrama memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter santri, namun menghadapi tantangan serius terkait risiko bencana, khususnya gempa bumi dan kebakaran, akibat kepadatan hunian dan minimnya sistem mitigasi. Pondok Pesantren Jabal Noer di Sidoarjo, yang berada di zona rawan gempa dan dihuni oleh ratusan santri remaja, menunjukkan rendahnya kesiapsiagaan darurat, termasuk pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama. Mengingat tingginya kerentanan tersebut, diperlukan intervensi edukatif berupa pelatihan tanggap darurat dan P3K yang melibatkan seluruh komunitas pesantren guna memperkuat kapasitas respon bencana, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan siaga. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan bencana pada santri di lingkungan Pondok Pesantren dalam menghadapi darurat bencana. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 21, 22, 23 Juli dan 2 Agustus 2025 di Pondok Pesantren Jabal Noer, Geluran Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Melibatkan 26 peserta yang terdiri dari santri dan satu petugas keamanan Pondok Pesantren. Materi disampaikan melalui focus group discussion (FGD) antara Dosen D4 K3 dan pengasuh pondok pesantren yang sekaligus membentuk kader SIGAP. Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan menggunakan media kuesioner dengan memberikan penilaian dari aspek kehadiran peserta, keterampilan praktis simulasi, dan keterlibatan sosial budaya santri di lingkungan pesantren. Sebagai evaluasi secara deskriptif dan kuantitatif adalah dengan melihat tingkat perubahan pengetahuan dan kemampuan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) mendapatkan rerata skor 24.8 poin dengan standar deviasi 16.86, sedangkan tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta sesudah kegiatan edukasi (post-test) mendapatkan rerata skor 74.0 poin dengan standar deviasi 16.07. Meningkatkan kemampuan peserta dalam mempraktikkan keterampilan dasar seperti resusitasi jantung paru dan penanganan cedera ringan. Intervensi juga berhasil membentuk kader SIGAP dan menyediakan fasilitas keselamatan, yang secara keseluruhan memperkuat kesiapsiagaan lingkungan pesantren. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan bencana melalui pembentukan kader SIGAP dan pelatihan pertolongan pertama (P3K). Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan kader SIGAP juga memberikan kontribusi yang positif dan memperkuat institusi dalam menghadapi bencana, penanganan cedera, potensi gempa, kebakaran dan pencegahan dampak bencana. Saran: Diharapkan kader SIGAP melakukan pelatihan rutin dan simulasi berkala. Diharapkan juga kegiatan edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana dapat di integrasikan ke dalam kurikulum ekstrakurikuler dengan melakukan kolaborasi pada lembaga eksternal seperti PMI dan BPBD.
Edukasi kesehatan pariwisata dalam mendukung pengembangan potensi desa wisata Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Mulyatno, Bagus Sapto; Mulyasari, Rahmi; Wahono, Endro Prasetyo
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1801

Abstract

Background: The development of tourism potential, including coastal tourism, must consider several factors, including tourism health. Banding Village, Rajabasa District, South Lampung Regency, has beaches with significant potential for development as tourist destinations. Furthermore, the development of coastal tourism potential needs to be accompanied by tourism health education. Purpose: To increase public knowledge about tourism health, including disease prevention, environmental health, safety support for tourism activities, and food safety at tourist sites. Method: The outreach activity was held on Sunday, August 31, 2025, attended by 20 integrated health post (Posyandu) cadres and community members in Banding Village, Rajabasa District, South Lampung Regency, representing each hamlet in Banding Village. The community service program consisted of focus group discussions (FGDs), the creation of information media, and direct outreach activities for the community. Data on knowledge levels was measured using a questionnaire containing questions related to the outreach material. The answers to the questionnaire given and filled out by the cadres before the extension activities were used as pre-test data, while the questionnaire with the same questions given after the extension activities was used as post-test data. Results: Data obtained showed that before the outreach program, the majority of cadres and residents of Banding Village had a level of knowledge about tourism health in the very poor and sufficient categories, with 7 (35.0%) and 10 (50.0%) respectively. However, after the outreach program, understanding of tourism health increased to good (10) and very good (10). Conclusion: This outreach program was quite effective in increasing community knowledge about tourism health and tourism environmental health. Increased community knowledge and understanding of tourism health also contributed positively to disease prevention efforts in tourism areas, food safety, and environmental health in tourism areas. Suggestion: It is hoped that cadres and residents who have acquired this knowledge will continuously monitor public health issues related to tourism activities and can make positive contributions to other communities in efforts to implement sustainable programs. Keywords: Beach tourism; Health education; Tourism environment; Tourism health Pendahuluan: Pengembangan potensi wisata, termasuk wisata pantai, harus memperhatikan beberapa hal termasuk kesehatan pariwisata. Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, memiliki pantai yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Di sisi lain, pengembangan potensi wisata pantai, perlu disertai dengan edukasi kesehatan pariwisata. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan kepariwisataan yang mencakup pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan, dukungan keselamatan pada aktivitas wisata dan kesehatan pangan di tempat wisata. Metode: Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 Agustus 2025 yang dihadiri oleh 20 orang kader posyandu dan masyarakat di Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, yang merupakan perwakilan dari masing-masing dusun di Desa Banding. Rancangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari focus group discussion (FGD), pembuatan media informasi dan kegiatan penyuluhan langsung kepada masyarakat. Pengukuran data tentang tingkat pengetahuan, dilakukan dengan kuesioner berupa pertanyaan yang terkait dengan materi penyuluhan. Jawaban kuesioner yang diberikan dan di isi oleh kader sebelum kegiatan penyuluhan adalah sebagai data pre-test sedangkan kuesioner dengan pertanyaan yang sama diberikan setelah kegiatan penyuluhan adalah sebagai data post-test. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebelum dilakukan penyuluhan mayoritas kader dan masyarakat Desa Banding memiliki tingkat pengetahuan tentang kesehatan wisata dalam kategori sangat kurang dan kategori cukup yaitu masing-masing sebanyak 7 orang (35.0%), sedangkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pemahaman kesehatan wisata menjadi kategori baik sebanyak 10 (50.0%) dan kategori sangat baik sebanyak 10 orang (50.0%).. Simpulan: Kegiatan penyuluhan ini cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan wisata dan kesehatan lingkungan pariwisata. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kesehatan wisata juga berkontribusi positif terhadap upaya pencegahan penyakit pada masyarakat di daerah wisata, kesehatan pangan dan kesehatan lingkungan di daerah pariwisata. Saran: Diharapkan para kader dan masyarakat yang telah mempunyai pengetahuan untuk selalu melakukan monitoring terkait kesehatan masyarakat terhadap aktivitas kepariwisataan dan dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat lainnya dalam upaya penerapan program yang berkelanjutan.
Penerapan aplikasi SIJENTIK DBD dalam pencegahan demam berdarah dengue Perdana, Agung Aji; Nuryani, Dina Dwi; Santoso, Angga Bayu; Pratama, Muhammad Putra; Kartini, Maharani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1584

Abstract

Background: Indonesia, as a tropical country, faces a high burden of vector-borne infectious diseases, particularly dengue fever (DHF), transmitted by the Aedes aegypti mosquito. The high number of DHF cases in Indonesia, including in South Lampung, is influenced by environmental factors, community behavior, and the limitations of manual recording systems for monitoring mosquito larvae. Vector control efforts through national strategies such as 3M Plus and mosquito nest eradication have been implemented, but their effectiveness remains hampered by data accuracy and community participation. In the digital era, the innovative mobile application-based Larvae Recording System (SIJENTIK) offers a solution to improve accuracy, speed, and community engagement in dengue prevention. A community service program in Hajimena Village, South Lampung, aims to empower residents as independent mosquito larvae monitors through the application of SIJENTIK, enabling real-time mosquito larvae monitoring and supporting more targeted health interventions. Purpose: Increase public awareness of dengue fever (DHF) and promote the use of the SIJENTIK DBD application. Method: The activity was conducted in 2025 in Hajimena Village, South Lampung, involving health cadres, health workers, and the community as respondents. The activities included education on dengue hemorrhagic fever (DHF), photo recording of invasive species, manual recording of SIJENTIK data from Aedes aegypti survey forms, and ovitrap construction. The recording was carried out using the SIJENTIK digital application, an interface application that can be installed on smartphones and used in real time. The SIJENTIK DBD application was used as a substitute for the observational technique of recording mosquito larvae through inputting data into the application dashboard, where input data would be directly processed, accumulated, and accessed in real time. Results: This demonstrated a 14.6% increase in knowledge and skills of health workers in recording mosquito larvae. Descriptive data showed that manual recording was slow, data was inaccurate, reporting time was required, and interventions were not timely. Meanwhile, with the SIJENTIK DBD application, the recording process is faster, the data is more accurate, data can be input directly digitally, reports are updated at any time, and intervention actions are faster and more targeted. Conclusion: The SIJENTIK DBD program's educational activities effectively increased the knowledge of healthcare workers, strengthened their ability to record mosquito larvae, and facilitated community monitoring and health education. This digital reporting system accelerated communication, increased transparency, and encouraged community participation, enabling SIJENTIK DBD to become an efficient community-based intervention model for dengue control. Suggestion: Expanding education and implementing SIJENTIK DBD in schools and ensuring its continued implementation at the district level is necessary, along with training for cadres and support from local government policies. Active community involvement as independent mosquito larvae monitors (jumantik) also needs to be increased to ensure consistent monitoring and more effective reduction in dengue cases. Keywords: Community empowerment; Dengue fever; Healthcare workers; SIJENTIK DBD application Pendahuluan: Indonesia sebagai negara tropis menghadapi beban tinggi penyakit menular berbasis vektor, terutama Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Tingginya kasus DBD di Indonesia, termasuk di Lampung Selatan, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku masyarakat, serta keterbatasan sistem pencatatan manual dalam pemantauan jentik. Upaya pengendalian vektor melalui strategi nasional seperti 3M Plus dan pemberantasan sarang nyamuk telah dilaksanakan, namun efektivitasnya masih terkendala oleh akurasi data dan partisipasi komunitas. Di era digital, inovasi Sistem Pencatatan Jentik (SIJENTIK) berbasis aplikasi seluler hadir sebagai solusi untuk meningkatkan akurasi, kecepatan, dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan DBD. Program pengabdian masyarakat di Desa Hajimena, Lampung Selatan, bertujuan memberdayakan warga sebagai jumantik mandiri melalui penerapan SIJENTIK, sehingga pemantauan jentik dapat dilakukan secara realtime dan mendukung intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan tentang demam berdarah dengue (DBD) dan sosialisasi penerapan aplikasi SIJENTIK DBD pada masyarakat. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Desa Hajimena, Lampung Selatan, dengan melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat sebagai responden. Kegiatan berupa penyuluhan mengenai demam berdarah dengue (DBD), pencatatan foto spesies invasif, pencatatan manual SIJENTIK dari formulir survei aedes aegypti, serta konstruksi ovitrap. Pelaksanaan pencatatan menggunakan aplikasi digital SIJENTIK yang merupakan suatu aplikasi interface, dapat diinstalasi pada smartphone dan dapat digunakan secara realtime. Penggunaan aplikasi SIJENTIK DBD adalah sebagai pengganti dalam teknik pencatatan jentik nyamuk hasil observasi yaitu dengan cara menginput pada dashboard aplikasi, dimana data input akan secara langsung diproses, di akumulasi, dan di akses secara realtime. Hasil: Menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan pekerja kesehatan sebesar 14.6% dalam mencatat jentik nyamuk. Secara deskriptif menunjukkan bahwa dengan pencatatan manual dalam proses pelaksanaan lambat, datanya kurang akurat, diperlukan waktu tertentu untuk membuat laporan, dan tindakan intervensi tidak tepat waktu. Sedangkan, dengan aplikasi SIJENTIK DBD mendapatkan proses pencatatan lebih cepat, datanya lebih akurat, data dapat dinput langsung secara digital, update laporan setiap saat, dan tindakan intervensi menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Simpulan: Kegiatan edukasi program SIJENTIK DBD efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, memperkuat kemampuan pencatatan jentik, serta memudahkan masyarakat memantau laporan dan memperoleh edukasi kesehatan. Sistem pelaporan digital ini mempercepat komunikasi, meningkatkan transparansi, dan mendorong partisipasi komunitas, sehingga SIJENTIK DBD dapat menjadi model intervensi berbasis masyarakat yang efisien dalam penanggulangan DBD. Saran: Perlunya perluasan edukasi dan penerapan SIJENTIK DBD ke sekolah serta penerapan berkelanjutan di tingkat kabupaten, disertai pelatihan kader dan dukungan kebijakan pemerintah daerah. Keterlibatan aktif masyarakat sebagai jumantik mandiri juga perlu ditingkatkan agar sistem pemantauan berjalan konsisten dan mampu menekan angka kasus DBD secara lebih efektif.
Peningkatan pengetahuan caregiver dan pemberdayaan kader kesehatan dalam pengelolaan diabetes mellitus Gobel, Hafni Van; Adam, Lusiane; Syahrir, Akifa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1666

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the body cannot produce enough insulin or cannot use insulin effectively, resulting in high blood sugar levels. Most people with diabetes are unaware of or unaware of their condition. Data shows that 17.3% of men and 26.3% of women die from diabetes complications in Lamahu Village, with diabetes mellitus cases ranking the 8th highest in the region. The limited achievement of DM management targets, limited knowledge of health workers about screening and early detection, and suboptimal skills in reporting and managing diabetes are some of the contributing factors to this problem. Purpose: To increase caregiver knowledge and enhance the skills of health workers in managing and preventing diabetes mellitus. Method: This activity was conducted over two days from April to November 2024 at the Lamahu Village Office, with the support of partners such as the Village Head, health workers from the Tapa Community Health Center, the Family Welfare Movement (PKK) group, village officials, and health cadres. This activity involved eight health cadres and 16 caregivers. The outreach activities included providing education on diabetes mellitus management and prevention to the caregivers and training on screening for early detection to the health cadres. The instruments used were posters, leaflets, pocket books, and screening tools. Monitoring was conducted through a WhatsApp group application. The pre-activity assessment data served as the pre-test and the post-activity assessment data served as the post-activity. Results: The majority of caregivers' knowledge before the education activity was in the poor category (13 people (81.2%), while the majority of caregivers' knowledge after the education activity was in the good category (14 people (87.5%). The level of ability of health cadres before the training activity was mostly in the low category, namely 6 people (75.0%), while the level of ability of health cadres after the training activity was mostly in the good category, namely 7 people (87.5%). Conclusion: Educational activities to increase caregiver knowledge and provide screening training to health workers about diabetes mellitus are highly effective intervention models for managing and preventing diabetes mellitus in the community. Interventions based on caregiver education and health worker empowerment are synergistic in supporting early detection of diabetes mellitus at the community level. Suggestion: Health institutions are encouraged to develop similar education and training programs in broader areas, particularly in areas with high diabetes mellitus prevalence. Further research can be conducted to assess the long-term impact of these programs, including changes in health behavior and the effectiveness of early detection in reducing the incidence of diabetes mellitus in the community. It is also hoped that similar intervention models can be applied to the prevention of non-communicable diseases at the village level. Keywords: Caregiver; Diabetes mellitus; Health education; Health worker empowerment; Training Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Sebagian besar pendeita diabetes juga tidak menyadari dan memahami penyakit yang dideritanya. Data menunjukkan 17.3% laki-laki dan 26.3% perempuan meninggal akibat komplikasi diabetes di Desa Lamahu, dengan kasus diabetes melitus menjadi peringkat ke-8 tertinggi di wilayah tersebut. Minimnya target capaian pengelolaan DM, rendahnya pengetahuan kader tentang skrining dan deteksi dini, serta belum optimalnya keterampilan dalam pelaporan dan manajemen DM menjadi beberapa faktor yang berkontribusi menjadi penyebab permasalahan ini. Tujuan: Memberikan peningkatan pengetahuan caregiver dan meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam upaya mengelola dan pencegahan diabetes mellitus. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada bulan April-November 2024 di Kantor Kelurahan Lamahu, dengan dukungan mitra seperti Kepala Desa, tenaga kesehatan dari Puskesmas Tapa, kelompok PKK, perangkat desa, dan kader kesehatan. Kegiatan ini melibatkan 8 orang kader kesehatan dan 16 orang pendamping (caregiver). Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan memberikan edukasi tentang pengelolaan dan penyakit diabetes melitus kepada kelompok pendamping, dan memberi pelatihan tentang skrining untuk deteksi dini kepada kader kesehatan. Instrumen yang digunakan berupa poster, leaflet, buku saku, dan alat skrining.   Monitoring dilakukan melalui aplikasi grup WhatsApp. Data penilaian sebelum kegiatan adalah sebagai data pre-test dan penilaian setelah kegiatan adalah sebagai data post-test. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan caregiver sebelum kegiatan edukasi adalah dalam kategori kurang yaitu sebanyak 13 orang (81.2%), sedangkan tingkat pengetahuan caregiver sesudah kegiatan edukasi menjadi sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 14 orang (87.5%). Untuk tingkat kemampuan kader kesehatan sebelum kegiatan pelatihan adalah mayoritas dalam kategori rendah yaitu sebanyak 6 orang (75.0%), sedangkan tingkat kemampuan kader kesehatan sesudah kegiatan pelatihan menjadi sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 7 orang (87.5%). Simpulan: Kegiatan edukasi peningkatan pengetahuan caregiver dan pemberian pelatihan skrining pada kader kesehatan tentang diabetes melitus merupakan model intervensi yang sangat efektif dalam upaya pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus di masyarakat. Intervensi berbasis edukasi caregiver dan pemberdayaan kader adalah sinergisitas tindakan dalam mendukung deteksi dini diabetes melitus di tingkat komunitas. Saran: Diharapkan kepada lembaga kesehatan untuk membuat program edukasi dan pelatihan serupa di wilayah yang lebih luas, terutama di daerah yang memiliki status diabetes melitus tinggi. Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menilai dampak jangka panjang program ini, termasuk perubahan perilaku kesehatan dan efektivitas deteksi dini dalam menekan angka kejadian diabetes melitus di masyarakat. Diharapkan juga bahwa model intervensi serupa dapat diterapkan untuk pencegahan penyakit tidak menular di tingkat desa.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue