cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Peningkatan pengetahuan tentang diabetes mellitus dan kesadaran perilaku hidup sehat pada remaja Nina, Nina; Nursanty, Oci Etri; Anisa, Indira Tri; Kholqiyah, Esa Masyrifatul; Fikri, Muhammad; Sukmawati, Rini Eka; Melinda, Zahra Suci; Solihin, Atsalits Nurazizah; Putri , Devina Adelia; Ardia, Zahra Rima; Amry, Fauzan Muhammad
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1765

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a global health problem characterized by hyperglycemia due to impaired insulin secretion and function, with increasing prevalence in young people, particularly adolescents. Key risk factors include unhealthy diets, obesity, physical inactivity, and a habitual consumption of foods high in sugar and fat. This condition impacts not only physical health but also adolescents' quality of life and psychosocial development, increasing the risk of long-term complications. Prevention and early detection efforts through interactive health education have proven effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of diabetes, including the importance of checking random blood glucose levels. Observations at Karya Bakti Senior High School in Cianjur Regency revealed low levels of understanding among adolescents about diabetes prevention, making educational interventions urgent to foster healthy lifestyle behaviors from an early age. Purpose: To increase knowledge about diabetes mellitus and awareness of healthy lifestyles among adolescents. Method: The activity was conducted from July to August 2025 at Karya Bakti Senior High School, Beber Village, Kemang Village, Bojongpicung District, Cianjur Regency. Twenty-five students participated in the study. The educational material covered diabetes mellitus (DM), aspects related to its occurrence, and identifying the causes of DM. Respondents' knowledge levels were measured using a questionnaire with a one-group pre-test and post-test design. A pre-test was administered before the educational activity and a post-test after the educational activity. Results: There was a significant increase in adolescents' knowledge about diabetes mellitus, with an average pre-test score of 50.40 increasing to 77.60 in the post-test, with a p-value of 0.00. The low initial score reflects limited understanding before the intervention, while the increased score after the education program indicates that respondents received and understood the material well. Conclusion: This activity demonstrates that educational interventions through health counseling are effective in increasing students' knowledge about diabetes mellitus (DM). Increasing knowledge about diabetes mellitus (DM) in adolescents can contribute positively to diabetes prevention strategies from adolescence. Suggestion: This activity can be continued and is expected to encourage changes in healthy behaviors among adolescents as an effort to prevent diabetes early on and reduce future prevalence. Follow-up monitoring through post-counseling evaluations encourages adolescents to share experiences and make healthy lifestyle changes. Keywords: Adolescents; Diabetes mellitus; Health counseling; Healthy lifestyle Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan global yang ditandai hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin, dengan prevalensi yang semakin meningkat pada kelompok usia muda, khususnya remaja. Faktor risiko utama meliputi pola makan tidak sehat, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula dan lemak. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kualitas hidup dan perkembangan psikososial remaja, serta meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang. Upaya pencegahan dan deteksi dini melalui penyuluhan kesehatan interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai DM, termasuk pentingnya pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu. Observasi di SMAS Karya Bakti, Kabupaten Cianjur, menunjukkan rendahnya pemahaman remaja tentang pencegahan DM, sehingga intervensi edukatif menjadi urgensi untuk membentuk perilaku hidup sehat sejak dini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit diabetes mellitus dan kesadaran untuk berpola hidup sehat pada remaja. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada periode bulan Juli - Agustus 2025 di SMAS Karya Bakti, Kampung Beber Desa Kemang, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Kegiatan ini melibatkan 25 siswa/ siswi menjadi responden. Pelaksanaan edukasi dengan penyampaian materi mencakup tentang penyakit DM, aspek yang terkait dengan kejadian DM, dan mengidentifikasi penyebab terjadinya DM. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner dengan one group pre-test & post-test design, yaitu dengan memberikan tes awal (pre-test) sebelum kegiatan edukasi dan tes akhir (post-test) setelah edukasi. Hasil: Terjadi peningkatan signifikan pengetahuan remaja tentang diabetes mellitus, dengan rata-rata skor pre-test 50.40 meningkat menjadi 77.60 pada post-test dengan pValue=0.00. Nilai awal yang rendah mencerminkan keterbatasan pemahaman sebelum intervensi, sedangkan peningkatan skor setelah edukasi menunjukkan bahwa responden menerima dan memahami materi dengan baik. Simpulan: Kegiatan ini membuktikan bahwa intervensi edukasi melalui penyuluhan kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan pada siswa/siswi mengenai diabetes melitus (DM). Meningkatnya tingkat pengetahuan tentang diabetes melitus (DM) pada remaja, dapat memberikan kontribusi positif sebagai strategi pencegahan diabetes sejak usia remaja. Saran: Kegiatan dapat dilanjutkan dan diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku sehat remaja sebagai upaya pencegahan diabetes sejak dini guna menurunkan prevalensi di masa depan, dengan pemantauan tindak lanjut melalui evaluasi pasca-penyuluhan yang mendorong remaja untuk berbagi pengalaman serta melakukan perubahan gaya hidup dengan pola hidup sehat.  
Edukasi gizi seimbang pada ibu paska melahirkan dan pencegahan stunting melalui deteksi dini neonatus Manurung, Suryani; Amanah, Dinny Atin; Nuraeni, Ani; Rianti, Emy; Desmarnita, Ulty
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1766

Abstract

Background: Stunting remains a major health issue for toddlers in Indonesia. This remains an unresolved challenge for toddlers. Neonatal stunting is caused by multidimensional factors. Low nutritional intake and health status during pregnancy are direct causes of stunting. Purpose: To increase postpartum mothers' knowledge about preventing and detecting stunting in neonates and providing supplementary feeding to mothers after delivery to increase the quantity and quality of breast milk production. Method: The program was conducted from May to October 2025 at the Ragunan Community Health Center (Puskesmas) in Pasar Minggu District. The program was attended by the immunization and Maternal and Child Health (KIA) personnel of the Pasar Minggu District Health Center, as well as 20 postpartum mothers with neonates aged 0-28 days. The program targeted postpartum mothers with infants aged 0-1 month. The program included two educational materials: screening for early detection of neonates at risk of stunting and providing supplementary feeding to mothers after delivery. Evaluation of program achievement is assessed by analyzing the risk level of babies experiencing stunting, measuring the level of ability of postpartum mothers to implement stunting prevention programs. Results: Shows that the majority of neonates who participated in the early detection of stunting screening were male, namely 12 (60.0%) and female neonates were 8 (40.0%). The majority of maternal delivery histories were carried out by caesarean section (CS) namely 14 (70.0%) and vaginal delivery history as many as 6 (30.0%). Meanwhile, for the risk status of neonatal stunting, most were in the low category as many as 19 (95.0%) and only 1 (5.0%) was in the moderate category. Meanwhile, the average age of neonates who participated in the early detection of stunting screening was 19.5 days from the age range of 1-28 days. Meanwhile, the average stunting risk score in neonates was 1.4, with a range of 0 to 5. Conclusion: Community service activities, including education on stunting prevention through early neonatal detection, education about stunting, and providing supplementary food to postpartum mothers, were highly effective in increasing mothers' knowledge and understanding of meeting the balanced nutritional needs during the neonatal period. Increasing postpartum mothers' knowledge and understanding of appropriate food choices for neonates will positively impact the early prevention of stunting. Suggestion: It is hoped that early detection of stunting in neonates will be integrated into integrated health post (Posyandu) activities, with a clear pathway for high-risk infants. It is also hoped that future Community Service Program (PKM) activities will provide training for cadres and health workers in early detection of stunting in neonates, lactation counseling, and postpartum education for mothers. Keywords: Early detection; Health education; Neonates; Nutrition; Postpartum mothers; Stunting Pendahuluan: Masalah stunting hingga saat ini masih menjadi topik masalah kesehatan balita di Indonesia. Kejadian ini masih menjadi tantangan yang masih belum teratasi pada kelompok balita. Stunting yang terjadi pada neonatus disebabkan oleh faktor multi dimensi. Rendahnya asupan gizi dan status kesehatan pada saat kehamilan merupakan penyebab langsung dari terjadinya stunting. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu pasca melahirkan tentang pencegahan deteksi dini stunting pada neonatus dan pemberian makanan tambahan bagi ibu paska melahirkan sebagai upaya dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi Air Susu Ibu (ASI). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei-Oktober 2025 di Wilayah Kerja Puskesmas Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu. Kegiatan diikuti oleh penanggung jawab imunisasi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu serta 20 peserta ibu paska melahirkan dengan neonatus berusia 0 – 28 hari. Sasaran dalam kegiatan program adalah ibu paska melahirkan dengan bayi 0-1 bulan. Kegiatan dilakukan dengan dua materi edukasi yaitu skrining deteksi dini neonatus berisiko stunting dan pemberian makanan tambahan untuk ibu paska melahirkan. Evaluasi pencapaian program dikaji dengan menganalisis tingkat risiko bayi yang mengalami stunting, mengukur tingkat kemampuan ibu paska melahirkan menerapkan program pencegahan stunting. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin neonatus yang mengikuti skrining deteksi dini stunting adalah laki-laki, yaitu sejumlah 12 (60.0%) dan neonatus yang berjenis kelamin perempuan sejumlah 8 (40.0%). Mayoritas riwayat persalinan ibu dilakukan dengan sectio caessarea (SC) yaitu sebanyak 14 (70.0%) dan riwayat persalinan pervaginam sebanyak 6 (30.0%). Sedangkan untuk status risiko stunting neonatus, sebagian besar dalam kategori rendah yaitu sebanyak 19 (95.0%) dan hanya 1 (5.0%) yang dalam kategori sedang. Sementara itu, untuk rerata usia neonatus yang mengikuti skrining deteksi dini stunting adalah 19.5 hari dari rentang usia 1-28 hari. Sedangkan rata-rata skor risiko stunting pada neonatus adalah 1.4 dari rentang skor terendah 0 hingga skor tertinggi 5. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi pencegahan stunting melalui deteksi dini neonatus, edukasi tentang stunting dan pemberian makanan tambahan pada ibu paska melahirkan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para ibu tentang pemenuhan gizi seimbang yang dibutuhkan selama periode neonatus. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman para ibu paska melahirkan tentang jenis makanan yang sesuai kebutuhan neonatus akan berdampak positif terhadap pencegahan terjadinya stunting sejak dini. Saran: Diharapkan untuk tindakan deteksi dini stunting pada neonatus perlu diintegrasikan dalam kegiatan posyandu dengan alur yang jelas untuk bayi berisiko tinggi. Diharapkan juga dalam kegiatan PKM berikutnya untuk memberikan pelatihan pada kader dan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini stunting pada neonatus, konseling laktasi, dan edukasi bagi ibu paska melahirkan.
Pemberdayaan kader posyandu dalam deteksi dini stres dan depresi pasca persalinan Qardhawijayanti, Suci; Hasriani, St. Hasriani; Asnuddin, Asnuddin
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1780

Abstract

Background: Postpartum maternal mental health is a crucial aspect of maternal and child well-being. Postpartum depression (PPD) can occur in women after childbirth. Comprehensive management of stress and depression is necessary to classify these events for prompt and appropriate intervention. Postpartum stress and depression are psychological problems that often go undetected in the community due to a lack of knowledge and skills among Posyandu (Integrated Service Post) cadres. Early detection by cadres can help prevent negative impacts on the mother, baby, and family. Purpose: To improve the knowledge and skills of Posyandu cadres in early detection of postpartum stress and depression. Method: This community service activity was carried out in the working area of ​​Amparita Health Center, Sidenreng Rappang Regency in July - August 2025. The target of the activity was 25 Posyandu cadres as representatives of five assisted villages in the working area of ​​Amparita Health Center. The activity was carried out with a community empowerment approach that emphasized the active participation of cadres in every stage of the activity. Using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) instrument as a simple screening tool that can be used by Posyandu cadres. Direct observation was carried out on the cadres' ability to use the EPDS during the mentoring activity. The pre-test and post-test data were analyzed descriptively to see the increase in the average score of cadres' knowledge and skills after the intervention. Results: The average knowledge score of cadres before the educational activity (pre-test) was 62.4 points, and the average knowledge score after the educational activity (post-test) was 89.6 points. Meanwhile, the cadres' abilities and skills after the educational activity indicated that they could use the EDPS, interpret depression scores, and provide suggestions for further action in managing depression in postpartum mothers. Conclusion: Empowering Posyandu cadres through training and mentoring is an effective step in improving the ability to detect postpartum stress and depression early. Increasing the capacity of health cadres is also a strategic effort in fostering a culture of community health. Suggestion: Follow-up measures in the form of ongoing training, routine supervision, and cross-sector collaboration are needed to strengthen the maternal mental health referral system at the community level. It is also recommended that health institutions conduct a more in-depth study of the impact of stress and depression experienced by postpartum mothers. Keywords: Community empowerment; Early detection; Postpartum depression; Posyandu cadres Pendahuluan: Kesehatan mental ibu setelah melahirkan merupakan aspek penting dari kesejahteraan ibu dan anak. Depresi pasca persalinan (DPP) dapat terjadi pada ibu setelah melahirkan. Diperlukan adanya penanganan yang komprehensif terkait kejadian stres dan depresi agar dapat diklasifikasikan untuk intervensi yang cepat dan tepat. Stres dan depresi pasca persalinan merupakan masalah psikologis yang sering tidak terdeteksi di masyarakat karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan tenaga kader Posyandu. Deteksi dini oleh kader dapat membantu pencegahan dampak negatif terhadap ibu, bayi, dan keluarga. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam melakukan deteksi dini stres dan depresi pasca persalinan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang pada bulan Juli - Agustus 2025. Sasaran kegiatan adalah 25 orang kader Posyandu sebagai perwakilan dari lima desa binaan di wilayah kerja Puskesmas Amparita. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) yang menekankan partisipasi aktif kader dalam setiap tahapan kegiatan. Menggunakan instrumen Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) sebagai alat skrining sederhana yang dapat digunakan kader Posyandu. Dilakukan observasi langsung terhadap kemampuan kader dalam menggunakan EPDS selama kegiatan pendampingan. Data hasil pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif untuk melihat peningkatan rata-rata skor pengetahuan dan keterampilan kader setelah intervensi. Hasil: Mendapatkan data nilai rerata pengetahuan kader sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah 62.4 poin dan nilai rerata pengetahuan setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi 89.6 poin. Sedangkan kemampuan dan ketrampilan kader setelah kegiatan edukasi menunjukkan bahwa kader dapat mengunakan EDPS, mengintepretasikan skor tingkat depresi, dan dapat memberikan saran untuk tindakan lebih lanjut dalam menangani depresi pada ibu pasca persalinan. Simpulan: Pemberdayaan kader Posyandu melalui pelatihan dan pendampingan adalah langkah efektif dalam meningkatkan kemampuan deteksi dini stres dan depresi pasca persalinan. Peningkatan kapasitas kader kesehatan juga merupakan upaya strategis dalam menumbuh kembangkan budaya kesehatan komunitas. Saran: Diperlukan tindak lanjut berupa pelatihan berkelanjutan, supervisi rutin, dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem rujukan kesehatan mental ibu di tingkat komunitas. Diharapkan juga untuk dilakukan pengkajian yang lebih mendalam oleh institusi kesehatan mengenai dampak stres dan depresi yang dialami oleh ibu pasca persalinan.
Pemberdayaan remaja melalui edukasi gizi sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini Hasriani, St. Hasriani; Pratiwi, Wilda Rezki; Qardhawijayanti, Suci; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1781

Abstract

Background: Indonesia has one of the highest stunting rates in the world, with nearly 25% of Indonesian children under five affected by stunting. The Nutritional Status Research (SSGI) from the Indonesian Ministry of Health revealed that in 2021, stunting affected 24.4% of children under five across the country. Providing adequate nutrition during adolescence and educating women about stunting is a strategy to prevent anemia and contribute to preventing future stunting. Purpose: To increase knowledge about nutrition and stunting among adolescents as an effort to prevent stunting from an early age. Method: This activity was held on September 16, 2025, in Amparita Village, Sidenreng Rappang Regency, with the theme "Preventing Stunting Through Early Nutrition Education." The activity was attended by village officials and local health cadres, and involved 24 adolescent respondents from the Amparita Village community. The outreach included educational material presented through leaflets, covering nutritional issues in adolescents, knowledge of the First 1,000 Days of Life, balanced nutrition, stunting prevention, and understanding healthy eating. Participants' knowledge gains and changes were evaluated by comparing pre-test and post-test data. Results: Data obtained showed that the majority of respondents' knowledge before (pre-test) the educational activity was in the poor category 20 respondents (83.3%), while the majority of respondents' knowledge after the education was in the good category 22 respondents (91.7%). Conclusion: The community service activity, which provided education on nutritional issues for adolescents, went well. The education provided was very effective in increasing adolescents' knowledge of nutritional issues and made a positive contribution as a strategic step in preventing stunting early in the community. Suggestion: It is hoped that health education activities can be implemented regularly both in schools and in adolescent communities. It is also hoped that in addition to educational activities, nutritional behavior mentoring and nutritional consultation interventions will be provided so that the knowledge gained can be effectively applied. Keywords: Adolescents; Health education; Nutrition; Stunting Pendahuluan: Angka stunting di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dimana dengan hampir 25% anak balita di Indonesia terdampak stunting. Riset Status Gizi (SSGI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa pada tahun 2021, stunting memengaruhi 24.4% balita di seluruh Indonesia. Sebagai upaya dengan memberikan pemenuhan gizi pada masa remaja dan mengedukasi perempuan tentang stunting merupakan strategi untuk mencegah terjadi anemia dan berkontribusi dalam pencegahan terjadinya stunting di masa datang. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan stunting pada remaja sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 September 2025 di Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang dengan tema “Cegah Stunting Melalui Edukasi Gizi Sejak Dini”. Kegiatan dihadiri perangkat desa, kader kesehatan setempat dan melibatkan 24 remaja sebagai responden yang merupakan bagian dari masyarakat Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. Penyuluhan berupa edukasi berupa pemaparan materi dengan media leaflet, yang meliputi masalah gizi pada remaja, pengetahuan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan, asupan gizi seimbang, pencegahan stunting, dan pengertian menu makanan sehat. Peningkatan dan perubahan pengetahuan peserta, di evaluasi dengan membandingkan ata sebelum kegiatan (pre-test) dengan data sesudah kegiatan (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan responden sebelum (pre-test) kegiatan edukasi dalam kategori kurang yaitu sebanyak 20 orang (83.3%), sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah edukasi menjadi mayoritas dalam kategori baik yaitu sebanyak 22 orang (91.7%). Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan memberikan edukasi tentang masalah gizi pada remaja telah berjalan dengan baik. Edukasi yang diberikan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang masalah gizi pada remaja dan memberikan kontribusi positif menjadi langkah strategis dalam pencegahan terjadinya stunting sejak dini pada masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi kesehatan dapat dilaksanakan secara berkala baik disekolah maupun dikomunitas remaja. Diharapkan juga selain kegiatan edukasi untuk dilakukan pendampingan perilaku gizi dan intervensi konsultasi gizi agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dengan baik.
Edukasi menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam meraih prestasi Iskandar, Iskandar; Yoseva, Trifena
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1786

Abstract

Background: Self-confidence significantly contributes to student motivation in achieving academic success. Students need to recognize their potential, set goals, and develop and compete effectively in both academic and non-academic settings. Students with strong self-confidence can develop an independent character, as they can organize, design, and evaluate the learning process, both theoretically and practically. Purpose: To provide students with knowledge and understanding about developing and enhancing self-confidence in achieving success. Method: This community service activity was conducted at State Junior High School (SMPN) 22 Samarinda, class IXC, on Monday, April 21, 2025, from 10:00 AM to 12:00 PM WITA, in the Science Laboratory. Thirty-two students from class IXC participated in the activity. The material was delivered using a lecture method using projectors, laptops, and leaflets. The material presented was related to self-motivation and increasing self-confidence in achieving success. Measuring respondents' knowledge levels using a questionnaire with a one-group pre-test & post-test design, namely by providing a test before educational activities (pre-test) and a test after education (post-test). Results: Data obtained showed that the level of student knowledge before the educational activity (pre-test) was in the poor category for 11 students (34.4%) and in the good category for 21 students (65.6%). Meanwhile, the level of student knowledge after the educational activity (post-test) was in the poor category for 3 students (9.4%) and in the good category for 29 students (90.6%). Conclusion: Participatory and interactive educational activities directly with students are very effective in increasing students' knowledge and understanding of self-motivation. This increased knowledge also fosters students' self-confidence in achieving success. Suggestion: State Junior High School (SMPN) 22 Samarinda is expected to conduct self-motivational activities through seminars or training for students to foster and increase students' self-confidence in achieving success in any field. It is also hoped that parents, as the students' primary support and closest environment, can consistently provide encouragement and motivation to students to engage in positive activities so that they can develop their personality and academic achievement through self-confidence. Keywords: Achieving achievement; Education; Motivation; Self-Confidence; Students Pendahuluan: Sikap percaya diri memiliki kontribusi yang besar terhadap motivasi siswa dalam meraih prestasi di sekolah. Siswa perlu mengenali potensi diri, membuat target yang akan ditempuh dan mampu berkembang serta bersaing baik dalam dunia akademik maupun non akademik. Siswa dengan kepercayaan diri yang baik dapat menumbuhkan karakter yang mandiri, dikarenakan siswa dapat mengatur, merancang, dan mengevaluasi  proses  pembelajaran, baik dalam teori maupun praktik Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang menumbuhkan dan meningkatkan tingkat kepercayaan diri dalam meraih prestasi Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 22 Samarinda,  kelas IXC, pada hari Senin, 21 April 2025 pukul 10.00-12.00 Wita, tempat kegiatan di Laboratorium IPA. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan berjumlah 32 orang siswa kelas IXC. Penyampaian materi dengan metode ceramah menggunakan media proyektor, laptop, dan leaflet. Materi penyuluhan yang disampaikan terkait dengan motivasi diri dan meningkatkan kepercayaan diri dalam meraih prestasi. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner dengan one group pre-test & post-test design, yaitu dengan memberikan tes  sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan tes setelah edukasi (post-test). Hasil : Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan siswa pada saat sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah dalam kategori kurang sebanyak 11 orang (34.4%) dan dalam kategori baik sebanyak 21 orang (65.6%),  sedangkan tingkat pengetahuan siswa pada setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi dalam kategori kurang sebanyak 3 orang (9.4%) dan dalam kategori baik sebanyak 29 orang (90.6%). Simpulan: Kegiatan edukasi partisipatif dan interaktif langsung kepada siswa sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang motivasi diri, sehingga dengan meningkatnya pengetahuan siswa juga menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa dalam meraih prestasi.. Saran: Diharapkan kepada pihak SMP 22 Samarinda untuk dapat melakukan kegiatan berupa motivasi diri melalui seminar atau pelatihan kepada siswa untuk menumbuhkan dan meningkatkan tingkat kepercayaan diri siswa dalam meraih prestasi di bidang apapun. Diharapkan juga kepada orang tua yang merupakan dukungan utama siswa sebagai lingkungan terdekat, dapat selalu memberikan semangat dan motivasi kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang positif sehingga dapat mengembangkan kepribadian dan prestasi belajar melalui rasa percaya diri.
Penerapan pendidikan seksual dengan media visual storytelling pada anak usia dini ”Kujaga Diriku” Rahmi, Dian; Rikayoni, Rikayoni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i10.1787

Abstract

Background: Cases of sexual violence against children in Indonesia remain a serious problem and are increasing every year. One preventative measure that can be implemented is through the implementation of early sexual education delivered in a developmentally appropriate manner. Sexual education is crucial for helping children gain self-awareness from an early age and protecting them from various sexual crimes. To implement sex education for children, teachers need new innovations to develop children's knowledge of sex. One way to do this is through the use of learning materials and media. Purpose: To provide knowledge about sexual education for early childhood using visual storytelling as a promotional and preventive measure against child sexual violence. Method: This Community Service activity was conducted on October 7, 2025, at Lillah Kindergarten in Padang City. The study subjects included three teachers, five parents, and 50 children from groups A and B (aged 4–6 years). The material was delivered through a video presentation of "I Take Care of Myself" and an animated story (visual storytelling) that the participants watched and followed along with the movements. This educational activity also included movement instructions with demonstrations. Data analysis used the Miles and Huberman model to assess respondents' knowledge descriptively. Results: The children demonstrated high enthusiasm and were able to understand the concept of "my body is mine" and how to reject inappropriate touch. 95% of the children accepted the differences between male and female body parts, 90% could correctly name private body parts, 97% were able to interpret good and bad touch, and 100% of the children were able to verbally reject them. Teachers played an active role as facilitators, while parental involvement reinforced learning at home. Conclusion: The visual storytelling-based early childhood sexuality education approach "Kujaga Diriku" (I Protect Myself) has proven effective in improving young children's understanding of self-protection. The illustrated story and animated video media help children understand moral messages in a concrete, enjoyable, and contextual way. Collaboration between teachers and parents is a crucial factor in the success of this program. Suggestion: It is hoped that the results of this study can form the basis for developing policies and child protection education modules based on local culture that are easy to implement in early childhood education institutions and contribute to strengthening the role of community nurses and educators in promotive and preventive efforts against child sexual violence. Keywords: Early childhood; Sexual education; Sexual violence prevention; Visual storytelling Pendahuluan: Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia masih menjadi masalah serius dan meningkat setiap tahun. Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan melalui penerapan pendidikan seksual dini yang disampaikan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan anak. Pendidikan seksual sangat penting untuk membantu anak memperoleh kesadaran diri sejak dini dan melindungi anak dari berbagai kejatahan seksual. Untuk melakukan proses pendidikan seks pada anak, maka guru memerlukan suatu inovasi baru dalam mengembangkan pengetahuan seks anak yang lebih baik. Salah satunya melalui penggunaan materi dan media pembelajaran. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang pendidikan seksual pada anak usia dini dengan media visual storytelling sebagai upaya promotif-preventif terhadap kekerasan seksual anak. Metode: Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2025 di TK Lillah Kota Padang. Subjek penelitian meliputi 3 orang guru, 5 orang wali murid dan 50 anak yang terdiri dari kelompok A dan B (usia 4–6 tahun). Menyampaikan materi dengan pemutaran video pembelajaran kujaga diriku dan cerita dalam bentuk animasi (visual storytelling) yang ditonton dan gerakan nya diikuti oleh responden. Kegiatan edukasi ini juga disertai petunjuk gerakan dengan peragaan Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman untuk melihat penilaian pengetahuan responden secara deskriptif. Hasil: Sikap anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dan mampu memahami konsep “tubuhku milikku” serta cara menolak sentuhan tidak pantas. Sebanyak 95% anak  menerima perbedaan anggota tubuh laki-laki dan peremupuan, 90%dapat menyebutkan bagian tubuh pribadi dengan benar, 97% mampu memaknai  sentuhan baik dan tidak baik, dan 100% anak dapat menolak secara verbal. Guru berperan aktif sebagai fasilitator, sedangkan keterlibatan orang tua memperkuat pembelajaran di rumah. Simpulan: Pendekatan pendidikan seksual dini berbasis visual storytelling “Kujaga Diriku” terbukti efektif meningkatkan pemahaman anak usia dini mengenai perlindungan diri. Media cerita bergambar dan video animasi membantu anak memahami pesan moral secara konkret, menyenangkan, dan kontekstual. Kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Saran: Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan dan modul pendidikan perlindungan anak berbasis budaya lokal yang mudah diimplementasikan di lembaga PAUD dan memberikan kontribusi terhadap penguatan peran tenaga keperawatan komunitas dan pendidik dalam upaya promotif-preventif terhadap kekerasan seksual anak.
Pendampingan program penanggulangan TB paru dengan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) Trigunarso, Sri Indra; Muslim, Zainal; Hasan, Amrul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i10.1960

Abstract

Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. It is estimated that approximately one-quarter of the world's population has been infected with the TB bacteria. Generally, people infected with TB do not feel sick and are not contagious. The Indonesian Ministry of Health is maximizing efforts by creating a national standard that serves as a benchmark for all healthcare workers in handling pulmonary TB cases. The development of a digital application program is essential to obtain up-to-date and real-time data, enabling healthcare workers to intervene more accurately and expeditiously in handling and managing TB cases. Purpose: To provide knowledge and assistance in using the pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU) application. Method: Community service activities were conducted in the P2TB Section of 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, with data input from 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, Lampung Province. Participants were 30 Community Health Center TB officers and PMOs. The educational activities provided participants with understanding and knowledge in implementing and developing a pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU). Participants' knowledge and skills after the education were measured using a system usability scale (SUS) questionnaire. Results: The system usability scale (SUS) test showed that 9 participants (30.0%) were in the very good and accepting category, 10 (33.3%) were in the good and accepting category, and 11 (36.7%) were in the good but passive acceptance category. The score of 89.76, with an acceptability range classified as marginally high, graded on the scales, indicated a very good level of usability. Conclusion: Educational and mentoring activities in the implementation of the Pulmonary Tuberculosis Patient Treatment Monitoring Information System (SISFOTBPARU) application have positively contributed to the monitoring and treatment of pulmonary tuberculosis patients. The SISFOTBPARU application also improves the effectiveness of healthcare workers in monitoring and treating pulmonary tuberculosis patients. Suggestion: The SISFOTBPARU application is expected to be implemented sustainably and across a wider range of community health centers (Puskesmas). The application developers are also expected to continue improving the SISFOTBPARU application by keeping up with the latest technological developments. Keywords: Application implementation; Community health; Education and mentoring; Pulmonary tuberculosis Pendahuluan: Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan sekitar seperempat populasi dunia telah terinfeksi bakteri TB. Umumnya, orang yang terinfeksi TB tidak merasa sakit dan tidak menular. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memaksimalkan upaya dengan menciptakan suatu standar secara nasional yang menjadi patokan untuk setiap tenaga kesehatan dalam melakukan penanganan kasus TB Paru. Pengembangan program berupa aplikasi digital harus dilakukan untuk mendapatkan data yang up to date dan secara realtime dapat di akses, agar penanganan dan penanggulangan kasus TB menjadi lebih tepat dan cepat bagi petugas kesehatan untuk melakukan intervensi. Tujuan: Memberikan pengetahuan dengan pendampingan dalam menggunakan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Seksi P2TB 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung dengan input data berasal dari 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Peserta kegiatan adalah petugas TB Paru Puskesmas dan PMO dengan jumlah 30 orang. Kegiatan berupa edukasi memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada peserta dalam menerapkan dan pengembangan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta setelah edukasi yang diberikan menggunakan kuesioner system usability scale (SUS). Hasil: Berdasarkan uji system usability scale (SUS) menunjukkan bahwa peserta yang dalam kategori sangat baik dan dapat menerima adalah sebanyak 9 orang (30.0%), yang dalam kategori baik dan dapat menerima adalah sebanyak 10 orang (33.3%), dan yang dalam kategori baik tetapi pasif menerima adalah sebanyak 11 orang (36.7%). Hasil skor 89.76 dengan acceptability ranges tergolong marginal high, grade scales termasuk nilai A, dan mengindikasikan tingkat usability yang sangat baik. Simpulan: Kegiatan edukasi dan pendampingan dalam penerapan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) memberikan kontribusi positif terhadap pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Aplikasi SISFOTBPARU juga memberikan peningkatan efektifitas kinerja petugas kesehatan dalam melaksanakan pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Saran: Diharapkan aplikasi SISFOTBPARU dapat diterapkan secara berkelanjutan dan untuk sebaran wilayah Puskesmas yang lebih luas. Diharapkan juga kepada pihak pengembang aplikasi, untuk terus membuat aplikasi SISFOTBPARU agar menjadi lebih sempurna dengan mengikuti perkembangan teknologi terbaru. 

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue