cover
Contact Name
Siful Arifin
Contact Email
saifuleman@gmail.com
Phone
+6282333101186
Journal Mail Official
jurnalkariman@gmail.com
Editorial Address
Kompleks PP Al-Karimiyyah Beraji Gapura Sumenep
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman
ISSN : 2303338X     EISSN : 25498487     DOI : https://doi.org/10.52185/kariman
Core Subject : Religion, Education,
Focus and Scope The journal focuses its scope on the issues of Education and Islamic Studies. We invite scientists, scholars, researchers, as well as professionals in the field of Islamic Education to publish their researches in our Journal. The journal publishes high quality empirical and theoretical research covering all aspects of Education and Islamic Studies. Education: Islamic Education, Philosophy of Education, Education Policy, Gender and Education, Comparison of Education, Education and Science, Nusantara Education, Pesantren Education, Education and Social Transformation, Leadership of Education, Figure of Education, Education Management, Curriculum of Education, Innovation of Education, Madrasah Education Islamic Studies: Covering all aspects of Islam and the Islamic world in the fields of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, the environment.
Articles 223 Documents
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN TEKNOLOGI PADA PESANTREN MODERN DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Marsum Marsum; Abd. Wahab Syahroni
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 8 No. 02 (2020): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.52 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v8i02.155

Abstract

Pondok pesantren puncak darussalam telah mencoba mengimplementasi revolusi industri 4.0 dimana setiap kegiatan pondok pesantren dapat dilakukan dan diimplementasikan secara digital dengan sedikit menggunakan peran manusia. Banyaknya aplikasi yang digunakan pondok pesantren perlu dilakukan penelitian untuk melihat seberapa besar efektifitas dan pengaruhnya terhadap pondok pesantren. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk melihat efektifitas penggunaan teknologi yang ada di pondok pesantren, dengan melihat beberapa kegiatan yang ada di pondok pesantren mulai dari kegiatan belajar mengajar lembaga  formal dan non formal, kegiatan kebutuhan sehari hari santri, kegiatan  pembayaran kewajiban santri serta kegiatan kunjungan wali santri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektifitas penggunaan teknologi di pondok pesantren dilihat dari dua aspek yaitu aspek kegunaan dan ketepatan. Pondok pesantren modern seperti puncak darussalam tidak menutup diri akan perkembangan teknologi akan tetapi hanya menggunakan teknologi yang benar benar dapat memberikan manfaat baik bagi pengurus, santri maupun wali santri.
Delikan, Bentengan, Jamuran, Cublak-Cublak Suweng: Javanese Traditional Games for Character Education Learning Niswatin Nurul Hidayati
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.574 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.159

Abstract

This research aimed to describe and analyze how traditional Javanese traditional games have many moral values, so they can be used as a medium for character education. This research used desciptive qualitative approach. The results of the research indicated that in Java there are quite a number of traditional games, for example Delikan, Bentengan, Jamuran, Cublak Cublak Suweng, and so on. Then, because the game is a legacy of the nation's ancestors, in the game there are several moral values that can be used as lessons, such as religiousity, integrity, nationalism, cooperation, and independence. This showed that Javanese traditional games should be well preserved and used as one of ways to implant character education on children and teenagers.
Perkembangan Sosial dan Kemampuan Sosialisasi Anak Pada Lingkungan Sekitar Moh. Toriqul Chaer; Permana Octofrezi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.967 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.160

Abstract

Proses sosialisasi anak dapat didentifikasi sejak anak dilahirkan. Seorang anak bayi awalnya tidak menyadari akan lingkungan sosialnya, namun lambat laun mulai memiliki perhatian terhadap benda-benda di sekelilingnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian perkembangan sosial pada anak, tahapan dalam perkembangan sosial anak, kemampuan sosialisasi anak pada lingkungan sekitar, serta upaya guru dalam meningkatkan perkembangan sosial anak. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian studi kepustakaan (library research) yakni penelitian atas literatur-literatur yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan kemampuan sosialisasi anak pada lingkungan sekitar. Hasil kajian menunjukkan adanya tahapan perkembangan sosial anak bermula dari tahapan permainan solider (0-2 tahun), tahap semi solider (2-3 tahun), permainan kooperatif (3-4 tahun), permainan khayal (4-5 tahun), permainan keteraturan (5-10 tahun), dan permainan kelompok terorganisir (10-14 tahun). Berdasar tahapan-tahapan tersebut dapat dianalisis bahwa anak mulai berkembang sosialnya saat berusia 3 tahun atau pada masa tahapan permainan kooperatif. Upaya mengembangkan kemampuan sosialisasi anak diantaranya dengan metode ganjaran dan hukuman, metode didactic teaching, dan metode pemberian contoh.
Nature of Multicultural Education Curriculum Muhammad Hifdil Islam
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.667 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.163

Abstract

Diversity is a necessity. Differences in diversity can cause problems. And one of the solutions in dealing with this is the implementation of multicultural education. The purpose of this article is to find out the essence and nature of multicultural education. The approach taken is to conduct a literature review related to multicultural education. This article discusses the curriculum and curriculum models in multicultural education. Multicultural education has the identity of personal attitudes and community groups because, with that identity, they interact and influence one another, including interactions between different cultures. Multicultural education is not a form of monocultural education, but an educational model that runs on the rails of diversity. Therefore, local identity or local culture that has diversity is a content that must exist in the multicultural education curriculum.
Perihal Pewahyuan kepada Para Nabi dan Para Rasul Menurut Fazlur Rahman Nur Rahmad Yahya Wijaya; Anwar Rudi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.695 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.166

Abstract

Wahyu-wahyu Allah selain al-Qur’an juga diwahyukan melalui ide-kata. Al-Qur’an adalah satu-satunya Wahyu yang benar-benar telah diwahyukan oleh Allah dengan lafal dan maknanya. Sebagian para ulama menafsirkan wahy sebagai ilham yang hanya mendatangkan makna tanpa kata. Tidak sedikit para orientalis yang meneliti kejiwaan Muhammad, apakah beliau orang yang sehat atau sakit, karena pengakuannya sebagai nabi sangat dianggap mustahil. Karena melihat al-Qur’an sebagai berasal dari kitab-kitab suci sebelumnya dan menolak kenabian Muhammad sebagai peristiwa trans historis, bagi mereka kenabian Muhammad adalah imitasi. Fazlur Rahman membedakan hakikat Wahyu al-Qur’an yang unik dari bentuk-bentuk pengetahuan kreatif lainnya dan meletakkan al-Qur’an berada pada urutan paling atas berkenaan dengan hakikat keilahian dan inpirasi ide-kata. Rahman menyatakan bahwa seluruh pengetahuan kreatif, bentuk puitis serta bentuk-bentuk kreatif seni lainnya masuk ke dalam kategori yang sama dengan Wahyu al-Qur’an: ide-ide dan kata-kata lahir dalam pikiran si penerima inspirasi. Secara psikologis, tidak diragukan bahwa kesemuanya itu sama dan membentuk tingkatan-tingkatan yang menarik dari fenomena inspirasi yang sama
Tantangan Arbiter Syariah di Basyarnas dalam Menyelesaikan Sengketa Perbankan Syariah Faizatul Fitriyah
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.738 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.167

Abstract

Artikel dalam sebuah lembaga penyelesaian sengketa yang di sebut Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS), keberadaan sumber daya manusia (human resource) di rasa sangat penting sebagai seseorang yang siap dan mampu memberikan sumbangan guna usaha pencapaian sesuatu yang diharapkan oleh Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS). Pentingnya mempertimbangkan keahlian yang telah di miliki oleh human resource ketika rekrutmen ataupun proses penyeleksian sangat berpengaruh kepada kinerjanya. Di dalam Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Dewan arbiter memiliki perpaduan kompetensi yang  mempuni, baik dari disiplin ilmu hukum, ekonomi syariah, hukum Islam, dan sebagian merupakan ilmuwan di bidang hukum perikatan dan perjanjian. Walaupun demikian Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) pasti mempunyai suatu tantangan dalam menyelesaikan tugas yang di embannya. Di sisi lain dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah (LKS), Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) di nilai sangat prospek sekali keberadaan arbiter syariah yaitu untuk menyelesaikan sengketa khususnya di dunia perbankan syariah. Diantara mekanisme penyelesaian sengketa antara lain: membuat permohonan untuk melaksanakan arbitrase yang di dalamnya di lakukan secara tertulis dilengkapi dengan nama dan alamat yang lengkap, penunjukan arbiter yang di kehendaki, penjelasan prosedur, bukti sengketa, dan sebuah pernyataan oleh pihak yang bersengketa, akhir sebuah pemeriksaan, membuat sebuah keputusan, peningkatan tentang keputusan, membatalkan suatu putusan, mendaftarkan sebuah putusan, pelaksanaan tentang putusan, serta pembayaran para arbiter yang di kehendaki oleh pihak yang kalah.   
Pendidikan Akhlak dan Tauhid dalam Lirik Hymne Al-Amien Prenduan Luthfatul Qibtiyah; Nur Asmi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.552 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.169

Abstract

Karya sastra seni dalam lirik Hymne Al-Amien Prenduan ini menarik untuk dikaji karena lirik hymne Pondok Pesantren Al-Amien ini bukan hanya sekedar nyanyian saja tetapi juga mengandung pendidikan akhlak dan tauhid. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pendidikan akhlak dan tauhid yang terdapat dalam hymne Al-Amien Prenduan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini menunjukan pendidikan akhlak dan tauhid yang terdapat dalam Hymne Al-Amien Prenduan yaitu pendidikan akhlak seperti menanamkan rasa cinta kepada pondoknya, keikhlasan, akhlak yang baik, kesabaran, kesopanan, bertutur kata baik, saling harga menghargai, mengikuti aturan-aturan pondok, disiplin, dan kejujuran. Sedangkan pendidikan tauhid yang terdapat pada hymne, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengamalkan ilmu, berjuang dijalan allah, dapat menjadi pemimpin bagi kaumnya, menyempurnakan keimanan didalam dirinya, selalu menambah ilmu, membentuk masyarakat yang berguna bagi agama dan bangsa.
Klasifikasi Pendidik Dalam Perpektif Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. Moh Wardi; Ismail
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.28 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.170

Abstract

Abstrak: Tulisan ini membahas tentang klasifikasi pendidik, sebagi upaya peningkatan kualitas mutu pendidikan di Indonesia ini dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan, sisi perbaikan materi, metode, kelembagaan maupun pemberdayaan dari sumber daya pendidikan. Hanya dengan sentuhan Guru yang profesional, bermartabat, dan ditauladani, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu. Maksud dan tujuan Klasifikasi pendidik ini agar menjadi bahan evaluasi dan barometer bagi kita sebagai pendidik, untuk senantiasa berbenah diri meningkatkan kualitas pengetahuan dan metode pembelajaran, serta i’tikad baik untuk senantiasa meningkatkan profesionalime personal, pedagogik, profesional, dan sosial. Muhaimin membagi tingkatan guru menjadi empat, antara lain: pertama, guru yang pintar ilmu dan pintar mengajar. Kedua, guru yang pintar ilmu tetapi tidak pintar mengajar. Ketiga, guru yang tidak pintar ilmu, tetapi pintar mengajar. Keempat, guru yang tidak pintar ilmu dan tidak pintar mengajar. Kata kunci: Pendidik, Pemikiran Muhaimin. Abstract: This paper discusses the classification of educators. This effort to improve the quality of education quality in Indonesia can be done with a variety of approaches, material improvement, methods, institutions and empowerment of educational resources. Only with the touch of a professional, dignified and obedient teacher, will the nation's children receive an educational and quality learning process. The purpose and objective of this educator classification is to be an evaluation material and barometer for us as educators, to always improve ourselves to improve the quality of learning knowledge and methods, and good intentions to always improve professional, pedagogical, professional, and social professionalism. Muhaimin divided the level of teachers into four, among others: first, teachers who were smart in science and were good at teaching. Second, teachers who are good at science but not good at teaching. Third, teachers who are not knowledgeable, but are good at teaching. Fourth, teachers who are not knowledgeable and are not good at teaching. Keywords: Teacher, Thought of Muhaimin.
Metode Pengumpulan Al-Qur’an Miftakhul Munir
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.101 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.171

Abstract

Kedatangan wahyu merupakan sesuatu yang dirindukan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu ketika datang wahyu, Rasulullah SAW langsung menghafal dan memahaminya. Rasulullah SAW adalah orang pertama yang menghafal Al-Qur’an. Sebagian sahabat juga menulis al-quran atas inisiatif sendiri pada pelepah kurma, lempengan batu, papan tipis, kulit atau daun kayu, pelana, dan potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Tsabit berkata, “Kami menyusun al-quran di hadapan Rasulullah SAW pada kulit binatang.” Kodifikasi al-quran, yaitu yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Adapun faktor yang mendorong pengkodifikasian adalah banyaknya para qurra’ yang terbunuh di medan perang hingga ditakutkan hal ini akan terus terjadi dan berdampak pada punahnya para sahabat huffazh dan berujung pada punahnya al-Quran itu sendiri. Periode khalifah Utsman bin Affan agaknya menjadi periode yang komplek dengan masalah dalam hal kodifikasi al-quran (pengumpulan dan pembukuan). Bagaimana tidak, banyak orang menganggap bahwa masalah perbedaan dialek (bahasa) akan selesai pada saat khalifah Utsman membukukannya pada satu mushaf dengan satu dialek. Ternyata masalah masih berkembang. Masalahnya, perbedaan bacaan atas tulisan al-Qur’an dapat terjadi baik dalam bunyi konsonan maupun vokal, dan keduanya dilambangkan dengan pembubuhan tanda baca berupa syakal dan titik, sementara mushaf yang dihasilkan tim Utsman belum dilengkapi dengan tanda-tanda seperti itu (baris/harakat). Dari sinilah mulai berkembang inisiatif umat Islam untuk lebih mnyempurnakan al-quran hingga mudah dibaca seperti sekarang ini.  
Pendidikan Bahasa Asing di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Zainollah Zainollah; Ali Ridho ali
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.166 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pendidikan bahasa asing (arab-inggris), strategi pengembangan dan respon santri terhadap pendidikan dan pengembangan bahasa asing di pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (in-depth interview), observasi (observation), dan studi dokumentasi (documentation study). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data exlporatif model Miles dan Huberman: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclussion drawing and verification). Teknik pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini adalah: perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, trianggulasi, dan melibatkan teman sejawat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pendidikan bahasa asing di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan dilaksanakan secara formal dan non-formal. Secara formal, pendidikan bahasa asing dilaksanakan di sekolah sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional serta pembukaan kelas billingual. Secara non-formal, pendidikan bahasa asing dilaksanakan di pesantren berbasis asrama (base camp area) dengan sistem kursus dan akselerasi. (2) Strategi yang dilakukan untuk mengembangkan pendidikan bahasa asing di pesantren adalah: meningkatkan kapasitas instruktur secara berkelanjutan melalui kursus di akademi bahasa asing, mendelegasikan instruktur dalam pertemuan ilmiah seperti seminar, workshop, simposium, dan melakukan studi banding ke lembaga kursus pendidikan bahasa asing, serta pelaksanaan TAMARA/Uji Kompetensi (3) Respon santri terhadap pendidikan dan pengembangan bahasa asing sangat baik. Menurut sebagian besar santri, bahasa asing sangat penting untuk dikuasai sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang informasi global, memperkaya ilmu pengetahuan, membuka kesempatan atau peluang bekerja di luar negeri, dan mempermudah santri untuk mendapatkan dan mencari beasiswa khususnya di negara-negara inggris (English countries) dan negara-negara arab (arabic countries).