cover
Contact Name
Rani Eka Arini
Contact Email
rani.eka@eastasouth-institute.com
Phone
+6282180992100
Journal Mail Official
journalsanskara@gmail.com
Editorial Address
Grand Slipi Tower, level 42 Unit G-H Jl. S Parman Kav 22-24, RT. 01 RW. 04 Kel. Palmerah Kec. Palmerah Jakarta Barat 11480
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sanskara Hukum dan HAM
Published by Eastasouth Institute
ISSN : 29857775     EISSN : 29648912     DOI : https://doi.org/10.58812/shh
Core Subject : Social,
Fokus: Sanskara Hukum dan HAM merupakan jurnal yang membahas topik-topik terkait hukum dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia dan Asia Tenggara. Jurnal ini mempublikasikan artikel-artikel berkualitas yang berisi analisis kritis, pemikiran inovatif, dan hasil penelitian terbaru dalam bidang hukum dan HAM. Cakupan: Topik-topik yang dapat dicakup oleh Sanskara Hukum dan HAM meliputi, tetapi tidak terbatas pada: Hukum konstitusi Hukum pidana Hukum perdata Hukum administrasi negara Hukum lingkungan Hukum internasional Hukum bisnis Hak asasi manusia Perlindungan hak asasi manusia Keadilan sosial Teori dan filosofi hukum Metodologi penelitian hukum
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 64 Documents
Regulasi Keamanan Siber dan Penegakan Hukum terhadap Cybercrime di Indonesia Judijanto, Loso; Nugroho, Budi
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 3 No. 03 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v3i03.544

Abstract

Penelitian ini mengkaji peraturan keamanan siber dan mekanisme penegakan hukum di Indonesia dalam menangani kejahatan siber dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Analisis ini menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan, termasuk pemberlakuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Namun, masih ada kesenjangan dalam menangani ancaman yang muncul, ambiguitas dalam ketentuan hukum, dan inefisiensi penegakan hukum karena sumber daya yang terbatas dan masalah koordinasi. Perbandingan dengan kerangka kerja internasional, seperti Konvensi Budapest dan inisiatif keamanan siber ASEAN, menyoroti bidang-bidang yang perlu ditingkatkan. Rekomendasi yang diberikan mencakup reformasi hukum, peningkatan kapasitas, kolaborasi internasional, dan peningkatan kemitraan publik-swasta untuk memperkuat ekosistem keamanan siber Indonesia dan memerangi lanskap ancaman siber yang terus berkembang.
Perlindungan Hak Ulayat Masyarakat Adat Dalam Proyek Strategis Nasional (PSN): Studi Kasus Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) Aura, Shandy; Abidin, Muhammad Zaenal
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.540

Abstract

The development of the Nusantara Capital City (IKN) in East Kalimantan is designated as aNational Strategic Project (PSN) through Law Number 3 of 2022 concerning the NusantaraCapital City. Behind the ambition to accelerate development, this project has the potential tothreaten the existence of the customary rights of indigenous peoples who have inhabited thearea for generations, such as the Balik, Paser, and Kutai tribes. This article raises two mainproblems, namely how to protect the customary rights of indigenous peoples in IKNdevelopment projects, and the challenges and obstacles in the implementation of thisprotection. The purpose of this paper is to analyze the effectiveness of existing regulations andpropose solutions to ensure the protection of the rights of indigenous peoples in the context ofPSN development. The research method used is normative juridical with a legislative approachand case studies. In normative studies, it reviews legal instruments such as the UUPA, theForestry Law, and regulations on indigenous peoples that are relevant to the development ofthe IKN. Case studies show overlapping land claims, weak formal legal recognition ofindigenous peoples, and limited participation in decision-making processes. The main obstaclelies in the gap between the country's legal norms and the social realities of indigenous peoples.This article recommends several strategic steps such as strengthening formal recognitionthrough regional regulations, inclusive participatory consultation, and the establishment ofprotection mechanisms that ensure agrarian justice for indigenous peoples in the developmentof the IKN.
Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Sekolah Ramah HAM Ruslan, Ahmad; Naredi, Hari; Japar, Abdul
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.550

Abstract

Artikel ini mengkaji pengembangan media pembelajaran sejarah yang berintegrasi dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam konteks sekolah ramah HAM. Kajian dilakukan melalui studi literatur dengan menelaah berbagai sumber pustaka terkini sebagai dasar untuk merancang model pembelajaran yang mampu meningkatkan kesadaran sejarah serta pemahaman tentang HAM di kalangan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi materi sejarah dengan nilai-nilai HAM dapat mendorong terbentuknya karakter yang demokratis dan toleran. Rekomendasi praktis pun disampaikan untuk pengembangan media pembelajaran yang lebih kontekstual dan inovatif, sehingga dapat diterapkan secara efektif dalam lingkungan pendidikan.
Legal Analysis of PT Pertamina Corruption Case and Its Impact on SOE Governance Hilman Nur; Hadi Aulia, Salsabila; Camilliya Fakhriyah Garnita; Fina Asriani; Muhamad Fahri Mawardi
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.563

Abstract

The major corruption case involving PT Pertamina Patra Niaga reflects a serious failure in the implementation of State-Owned Enterprises (SOEs) governance principles. Practices such as fuel adulteration, domestic crude oil exports, and opaque imports through brokers indicate weak internal and external oversight systems. This study aims to analyze the legal impact of the case on the implementation of SOE governance principles. The research method employed is normative legal research with a statutory approach. The findings reveal that although regulations on corruption eradication in SOEs exist, their implementation remains weak. Recommendations include strengthening internal oversight systems, implementing technology in financial monitoring, and enhancing collaboration between SOEs and law enforcement agencies.
Homogenitas Pilihan: Studi Kasus Kolonialisme dan Operasi Koteka 1970 Aji Dwiatmaja, Ignatius
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.568

Abstract

This study examines the cultural and human rights implications of the forced displacement of traditional Papuan attire, *koteka*, through the Indonesian government's “Operasi Koteka” in 1970. Employing a qualitative case study approach and utilizing Georg Simmel’s concept of the "tragedy of culture," this paper argues that the shift from indigenous to Western clothing reflects more than a change in material appearance—it marks a loss of identity, spiritual connection, and cultural autonomy. The *koteka*, traditionally worn by men of several Papuan tribes, is not merely a garment, but a cultural symbol deeply rooted in ritual, social structure, and ecological relationships. The state-led intervention that sought to replace the *koteka* under the guise of modernization and public health constitutes a violation of indigenous cultural rights, as enshrined in Indonesia’s Human Rights Law No. 39 of 1999, Article 6(2). This article contends that such actions represent symbolic violence and a denial of the right to cultural self-determination. It calls for participatory, rights-based development policies, and proposes cultural revitalization and inter-cultural dialogue as essential steps in restoring Papuan dignity, identity, and agency in the postcolonial Indonesian state.
Tinjauan Hukum Islam terhadap Penerapan Qanun Jinayat Sebagai Instrumen Pencegahan Kriminalitas di Aceh Khairina Azzahra, Salwa; Hilmy Khairunnisa, Nabila; Putri Fajrin, Amanda; Maghfirah, Nadiatul; Rizqillah, Laila
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan Qanun Jinayat di Aceh sebagai instrumen pencegahan kriminalitas dalam perspektif hukum Islam. Qanun Jinayat merupakan peraturan daerah yang mengatur tindak pidana berdasarkan prinsip-prinsip syariat Islam dan menjadi salah satu ciri khas otonomi kekhususan Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian normatif-yuridis, yaitu menelaah peraturan perundang-undangan, dokumen resmi, serta pendapat para ahli. Data dianalisis secara deskriptif-kritis untuk melihat efektivitas qanun ini dalam konteks penegakan hukum serta kesesuaiannya dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara filosofis dan yuridis, Qanun Jinayat memiliki legitimasi kuat sebagai produk hukum yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan sistem hukum nasional. Penerapannya terbukti memberi efek jera dalam beberapa jenis kejahatan moral, namun masih menghadapi kendala dalam hal implementasi, sosialisasi, dan penerimaan masyarakat. Dalam pandangan hukum Islam, Qanun Jinayat merupakan wujud siyasah syar’iyyah yang sah, selama dijalankan secara adil, transparan, dan sesuai dengan prinsip keadilan substantif. Oleh karena itu, penguatan regulasi dan sistem penegakan hukum sangat diperlukan agar Qanun Jinayat dapat berfungsi optimal dalam membentuk tatanan masyarakat yang religius dan tertib.
Legal Enforcement and the Recovery of State Financial Losses in Corruption Crimes: A Normative and Institutional Review Lestari, Ditha; Metha Dian Puspa Nasawida
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.589

Abstract

Corruption is a systemic crime that demands comprehensive legal reform efforts. This study analyzes the impact and obstacles of recovering state financial losses due to corruption within the framework of legal enforcement based on audit findings from the Indonesian Supreme Audit Agency (BPK). Using a normative juridical method, this research focuses on secondary data derived from laws, legal principles, and related literature. The findings indicate that the recovery of state financial losses, although important, does not eliminate the criminal nature of corruption under Indonesian criminal law. Offenders are still subject to criminal proceedings regardless of restitution. However, the process faces several systemic challenges, including regulatory inconsistencies, bureaucratic complexity in handling cases involving state officials, and the lack of clear operational mechanisms among law enforcement institutions such as the National Police, Attorney General’s Office, BPK, and the Financial Transaction Reports and Analysis Center (PPATK). These institutional and normative obstacles hinder the effectiveness of corruption law enforcement and asset recovery efforts. The study recommends strengthening inter-agency coordination, harmonizing legal provisions, and simplifying procedural requirements to ensure effective and efficient enforcement of anti-corruption measures. Ultimately, a more integrated legal system is essential to uphold justice and safeguard public assets from corrupt practices.
Tinjaun Perbedaan Tarif Pajak Penghasilan Pasal 26 Atas Royalti (Studi Kasus di PT. PPD) Mayasari, Yane; Nurlaela, Fitri; Firdawati, Wulan
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.590

Abstract

Pembayaran royalti termasuk kedalam PPh Pasal 26 atas pemotongan penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima oleh Wajib Pajak Luar Negeri dengan tarif umum 20%(duapuluh persen) Untuk penghindaran pajak berganda pemerintah menetapkan aturan khusus dengan negara mitra yang salah satunya ada Uni Emirat Arab yang menetapkan tarif 5 % bagi WPLN yang memenuhi syarat dalam PER-25/PJ/2018 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Analisis dengan Teknik pengumpulan data observasi , wawancara dan kajian literatur. Kesimpulan penelitian bahwa pokok sengketa yaitu terdapat kekeliruan koreksi dari pihak terbanding dengan alasan bahwa PT PDD telah melakukan penyalahgunaan P3B sehingga diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar PPh Pasal 6, karena itu PT PPD mangajukan banding keberatan perhitungan terbanding dengan penggunaan tarif umum sehingga setelah dilakukan konfirmasi kepada Otoritas Pajak UAE bahwa benar telah sudah dilakukannya pembayaran royalti sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku sehingga merupakan transaksi bisnis yang lazim .
Proses Pendampingan Hukum oleh YLBH Laskar Sabilillah Indonesia terhadap Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Ungaran Irawan, Candra Wahyu; Santoso, Aris Prio Agus
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.597

Abstract

This study examines the legal assistance process provided by the Indonesian Legal Aid Foundation (YLBH) Laskar Sabilillah to victims of Domestic Violence (KDRT) in Ungaran Regency, as well as the challenges and strategies involved in its implementation. Using field observation, in-depth interviews, and document analysis, the research found that legal assistance is delivered comprehensively through both litigation and non-litigation approaches, including free legal consultations, risk assessments, psychosocial support, legal document preparation, and victims’ economic empowerment. The main challenges identified include victims’ low legal awareness, emotional attachment and economic dependence on perpetrators, severe trauma, lack of supporting documents, and structural barriers such as poor inter-agency coordination and limited institutional resources. To address these challenges, YLBH employs community-based strategies, strengthens advocacy networks, conducts legal education, and engages volunteer psychologists and community leaders. The findings indicate that YLBH’s role extends beyond formal legal representation, functioning as a social change agent that fills the state’s protection gap for vulnerable groups, in line with the principles of substantive justice, non-discrimination, and social inclusion. This study underscores the importance of a multidisciplinary and gender-sensitive approach in addressing domestic violence cases and highlights the need for synergy between the state, civil society, and local actors to achieve effective legal protection.
Pengembangan Model Teori Hukum “PERKUTUT”: Menuju Paradigma Hukum Berbasis Keseimbangan Etis dan Transedensi Sosial Aris Prio Agus Santoso; Mahyuvi, Tata; Irawan, Dhyan Andika; Mulyono, Puput
Sanskara Hukum dan HAM Vol. 4 No. 01 (2025): Sanskara Hukum dan HAM (SHH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/shh.v4i01.598

Abstract

Teori hukum konvensional yang masih dominan hingga kini, terutama positivisme dan legalisme normative yang terbukti belum mampu menjawab kompleksitas realitas sosial, sehingga melahirkan keterputusan antara hukum sebagai norma tertulis dengan dinamika kehidupan masyarakat yang sarat krisis etika, budaya, dan spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model teori hukum baru bernama “PERKUTUT” yang menawarkan paradigma hukum berbasis keseimbangan etis dan transendensi sosial sebagai respons atas keterbatasan teori hukum modern, serta sebagai upaya menjembatani antara struktur normatif hukum dengan realitas sosial yang kompleks dan dinamis. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan analisis preskriptif-kualitatif untuk merumuskan model teori hukum “PERKUTUT” secara konseptual dan filosofis, sebagai respons terhadap keterbatasan teori hukum konvensional dalam mengintegrasikan nilai etika, spiritualitas, dan transformasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan model teori hukum “PERKUTUT” merupakan langkah konseptual yang mendesak untuk mereformulasi teori hukum modern yang masih terjebak dalam kerangka positivistik dan kurang peka terhadap nilai kemanusiaan; teori ini mengintegrasikan dimensi praksis, etika, rasionalitas, kulturalitas, universalitas, transendensi, urgensi sosial, dan transformasi emansipatoris guna membangun hukum yang lebih inklusif dan membumi, sehingga disarankan agar teori ini diuji lebih lanjut dalam praktik kebijakan hukum serta dikembangkan melalui dialog lintas-disiplin dan pendekatan interkultural.