cover
Contact Name
Anna Fauziah
Contact Email
p3m.pkps@gmail.com
Phone
+62318911380
Journal Mail Official
p3m.pkps@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Buncitan Kotak Pos 1, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61253
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Articles 70 Documents
ANALISA TORSI MENGGUNAKAN PERBANDINGAN MASUKAN DAYA LISTRIK PADA AERATOR PADDLE WHEEL DENGAN TRANSMISI MENGGUNAKAN RANTAI SPROKET, GEARBOX PABRIKAN DAN GEARBOX RODA GIGI LURUS Mawardi, Iman; Purwanto, Agus; Siregar, Izhary; Dwi Nugroho, Setyawan
Chanos Chanos Vol 22, No 2 (2024): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v22i2.15477

Abstract

The paddle wheel type aerator is a popular aerator used in aquaculture to increase dissolved oxygen (DO) levels. The paddle wheel aerator uses a transmission to adjust the rotation of the electric motor so that the paddle wheel can rotate at a certain speed. Several types of transmission have been used, namely using sprocket chains, factory gearboxes and straight gear gearboxes. In this research, torque analysis was carried out using a comparison of electrical power input to calculate the mechanical losses of the types of transmission used, so that one can find the type of transmission that has the lowest losses in the paddle wheel aerator application. The test results show that the sprocket chain transmission has a mechanical loss of 0.28 Nm, while the factory gearbox is 0.21 Nm and the lowest is the straight gear gearbox which has a mechanical loss of only 0.01 Nm so the development of a paddle wheel aerator transmission using a straight gear transmission is a brilliant idea to develop.Aerator jenis paddle wheel merupakan aerator yang popular digunakan pada budidaya perikanan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut (DO). Aerator paddle wheel memanfaatkan transmisi untuk menyesuaikan putaran motor listrik sehingga roda kincir dapat berputar dengan kecepatan tertentu. Beberapa jenis transmisi telah digunakan, yakni menggunakan rantai sprocket, gearbox pabrikan dan gearbox roda gigi lurus. Dalam penelitian ini dilakukan analisa torsi menggunakan perbandingan masukan daya listrik untuk menghitung rugi-rugi mekanis dari jenis-jenis transmisi yang digunakan, sehingga dapat menemukan jenis transmisi yang memiliki rugi-rugi paling rendah dalam aplikasi aerator paddle wheel. Hasil pengujian menunjukkan transmisi rantai sprocket memiliki rugi-rugi mekanis sebesar 0,28 Nm, sementara gearbox pabrikan sebesar 0,21 Nm dan yang terendah yakni gearbox roda gigi lurus yang memiliki rugi-rugi mekanis hanya 0,01 Nm sehingga pengembangan transmisi aerator paddle wheel menggunakan transmisi roda gigi lurus merupakan ide yang patut untuk dikembangkan.
PENGALENGAN IKAN LEMURU DI PT. XYZ MENGGUNAKAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DAN STANDARD SANITATION OPERATION PROCEDURE (SSOP) Triyastuti, Meilya Suzan; Putri, Ni Luh Sintya; Wijaya, Novie; Ticoalu, Fidel; Tumanduk, Nova M; Ondang, Hetty M. P.; Wewengkang, Itje D.
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.14360

Abstract

Pemanfaatan ikan lemuru perlu diproses pengolahan dengan cepat untuk menghindari kerusakan. Untuk menghindari hal ini, ikan lemuru diproses menjadi ikan kaleng. Pengalengan merupakan metode pengawetan pada produk pangan untuk memperpanjang umur simpan. Kelayakan dasar unit pengolahan merupakan persyaratan pada unit pengolahan dalam mengembangkan dan menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). GMP dan SSOP merupakan dua komponen utama persyaratan kelayakan dasar yang diperlukan untuk menerapkan HACCP. Tujuan penerapan HACCP yaitu untuk memastikan bahwa produsen memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan untuk menghasilkan produk makanan berkualitas tinggi yang sesuai dengan permintaan konsumen.Good Manufacturing Practice (GMP) adalah pedoman untuk proses produksi makanan yang dirancang untuk memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan benar. Pedoman untuk persyaratan kebersihan pada fasilitas pemrosesan ikan adalah Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP). Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh industry perikanan yaitu sanitasi dan higienitas. Pengolahan ikan dalam kaleng di PT. XYZ terdiri dari 19 alur proses yaitu menerima bahan baku, menyimpan ikan sementara, memotong, mencuci di mesin rotary, pencucian ikan dan pengisian ikan ke dalam kaleng, pemasakan awal, penirisan, pemasakan media, pengisian media, penutupan kaleng, pencucian kaleng pada can washer, mencuci kaleng di holding tanks, sterilisasi dan pendinginan, pengelapan, pengkodean, inkubasi, pengemasan, penyimpanan dan pengiriman yang telah sesuai dengan SNI 8222:2022. PT. XYZ telah menerapkan 8 kunci prosedur SSOP dengan baik pada setiap tahap proses pengalengan ikan yaitu keamanan air dan es, sanitasi kondisi permukaan yang kontak langsung dengan produk, pencegahan kontaminasi silang, sanitasi tempat pencuci tangan, pencegahan dan pencemaran, penandaan bahan-bahan berbahaya, Kesehatan pekerja, pengendalian hama. Penerapan GMP dan SSOP yang telah ada sudah diterapkan dengan baik dan benar memenuhi standar pedoman persyaratan dan tata cara berproduksi yang baik pada alur proses pengalengan ikan lemuru (Sardinella longiceps).The utilization of lemuru fish requires rapid processing to avoid spoilage. To prevent this, the lemuru fish is processed into canned fish. Canning is a method of preserving food products to extend their shelf life. Basic processing unit feasibility is a requirement for processing units in developing and implementing the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) system. GMP and SSOP are two main components of basic feasibility requirements needed to implement HACCP. The purpose of implementing HACCP is to ensure that producers produce high-quality food products that meet consumer demand. Good Manufacturing Practice (GMP) is a guideline for food production processes designed to ensure that all processes are carried out correctly. The hygiene guideline for fish processing facilities is the Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP). One of the requirements the fishing industry must meet is sanitation and hygiene. Fish processing in cans at PT. XYZ consists of 19 process flows, namely receiving raw materials, temporarily storing fish, cutting, washing in a rotary machine, washing fish and filling fish into cans, initial cooking, draining, cooking the medium, filling the medium, sealing the cans, washing the cans in a can washer, washing the cans in holding tanks, sterilization and cooling, wiping, coding, and incubation.
EFEKTIVITAS IMUNOSTIMULAN EKSTRAK Gracillaria sp. TERHADAP BAKTERI Aeromonas salmonicida SECARA IN VIVO Jayanti, Shara; Asmarany, Anja; Yudana, IGP Gede Rumayasa
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.15474

Abstract

This study was determining the effect of immunostimulant from Gracillaria sp. on Aeromonas salmonicida bacteria in vivo. The parameters were the survival rate, total leukocytes (Cyprinus carpio) and IC50 of Gracillaria sp. as an immunostimulant for koi that infected with Aeromonas salmonicida. Gracillaria sp. extract can improve the immune system, as seen from immune parameters such as leukoocytes and health. Gracillaria sp. extract with 70% ethanol has a flavonoid content of 1.9 mg QE/g. Flavonoids are antioxidant that can increase the immune system to against pathogen. The application of immunostimulant is given orally by mixing with the cellulase enzyme as much as 7.2 mg/g then added to koi feed at a dose based on IC50 Gracillaria sp. which is 18.6 mg/ml. he study was conducted using 6 treatments where the results showed that the highest total of leukocytes was in fish fed with immunostimulants at a dose of 2IC50 and infected with Aeromonas sp (P2) of 37.12 x 104 cells/mm3. While the lowest total leukocytes were in P5 fish, which was 16.08 x 104 cells/mm3. The lowest survival rate was in P5 (Fish fed commercial feed infected with Aeromonas salmonicida) 80% and in addition the survival value of the fish was 100%. In P5 fish, the fish fins became soft, the fish scales fell out, the surface of the fish skin produced a lot of mucus and there were wrinkles on the fish's tail fins.Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemberian imunostimulan dari Gracillaria sp. terhadap bakteri Aeromonas salmonicida secara in vivo. Parameter yang diuji adalah tingkat kelangsungan hidup, total leukosit ikan koi (Cyprinus carpio) serta dosis efektif dari ekstrak Gracillaria sp. sebagai immunostimulan untuk ikan koi yang terimfeksi bakteri Aeromonas salmonicida. Ekstrak Gracilaria sp. cukup efektif digunakan sebagai bahan imunostimulan untuk meningkatkan sistem imun ikan, terlihat dari parameter imun seperti lekosit dan kesehatan ikan. Ekstark Gracillaria sp.dengan pelarut etanol 70 % terbukti memiliki kandungan flavonoid sebesar 1,9 mg QE/g. Flavonoid merupakan senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan sistem imun terhadap infeksi patogen. Aplikasi imunostimulan diberikan secara per oral dengan pemberian enzim selulase sebanyak 7,2 mg/g yang ditambahkan pada pakan ikan koi dengan dosis berdasarkan IC50 Gracillaria sp. yaitu 18,6 mg/ml. Penelitian dilakukan menggunakan 6 perlakuan dimana hasil menunjukkan bahwa jumlah total sel leukosit tertinggi adalah pada ikan yang diberikan pakan berimunostimulan dengan dosis 2IC50 dan diinfeksi dengan Aeromonas sp (P2) sebesar 37,12 x 104 sel/mm3. Sedangkan total leukosit terendah pada ikan P5 yaitu sebesar sebesar 16,08 x 104 sel/mm3. Tingkat kelangsungan hidup paling rendah adalah pada P5 (Ikan diberikan pakan komersil dengan diinfeksi Aeromonas salmonicida) 80% dan selain itu nilai kelangsungan hidup ikan adalah 100%. Pada ikan P5 mengalami kelembekan sirip ikan, kerontokan sisik ikan, permukaan kulit ikan mengeluarkan lendir yang banyak serta geripis pada sirip ekor ikan.
ANALISIS AKAR PENYEBAB CACAT PRODUK PADA PENGOLAHAN RAJUNGAN KALENG: STUDI KASUS PT ABC Pamaharyani, Luchiandini Ika; Afrianty, Tesya; Rakhmayeni, Dyah Ayu
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.17713

Abstract

Canned swimming crab is an export fishery product with large market potential, but often experiences defects that affect quality and production costs. This study aims to evaluate the causes of product defects in the swimming crab canning process at PT ABC. The evaluation of the causes used root cause analysis methods such as fishbone diagrams and 5 Why Analysis. The results showed that the main defect was rust on the cans, which was caused by inadequate supervision, operator ignorance, and inconsistent implementation of SOPs. Identification of problems through fishbone diagrams revealed factors such as machines, people, methods, materials, and the environment as the main causes. Based on the 5 Whys analysis, the root cause of the problem was identified as human factors, specifically the lack of operator supervision and insufficient training. To address this problem, the study recommends increased supervision, regular training for operators, and consistent implementation of SOPs. This study concluded that the implementation of the root cause analysis method can identify problems from production quality defects on an ongoing basis, although the addition of other methods is needed to strengthen the analysis and further improvements.Rajungan kaleng merupakan produk perikanan ekspor dengan potensi pasar yang besar, namun sering mengalami masalah kecacatan yang mempengaruhi kualitas dan biaya produksi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penyebab kecacatan produk dalam proses pengalengan rajungan di PT ABC. Evaluasi penyebab menggunakan pendekatan metode analisis akar masalah seperti diagram fishbone dan 5 Why Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecacatan utama adalah karat pada kaleng, yang disebabkan oleh pengawasan yang tidak memadai, ketidaktahuan operator, dan penerapan SOP yang tidak konsisten. Identifikasi masalah melalui diagram fishbone mengungkapkan faktor-faktor seperti mesin, manusia, metode, material, dan lingkungan sebagai penyebab utama. Berdasarkan analisis 5 Why, akar masalah ditemukan pada faktor manusia yaitu kurangnya pengawasan dan pelatihan operator. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian merekomendasikan peningkatan pengawasan, pelatihan rutin bagi operator, dan penerapan SOP yang konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi metode akar penyebab masalah (Root Cause Analysis) dapat mengetahui masalah dari cacat kualitas produksi secara berkelanjutan, meskipun diperlukan penambahan metode lain untuk memperkuat analisis dan perbaikan lebih lanjut.
PENAMBAHAN BETAINE PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN, SINTASAN, DAN PEMANFAATAN PAKAN PADA BENIH IKAN KAPIAT (Barbonymus schwanenfeldii) Ihtifazhuddin, Muhammad Ikhwan; Rahmadani, Amanda; Isriansyah, Isriansyah; Pagoray, Henny
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.17190

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk mengevaluasi dampak suplementasi betaine pada pakan buatan terhadap performa biologis benih ikan kapiat (Barbonymus schwanenfeldii), meliputi tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, serta efisiensi pakan, sekaligus menentukan dosis yang paling efektif. Riset berlangsung selama 30 hari di Laboratorium Kolam Percobaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman, menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat variasi perlakuan dan tiga ulangan. Variasi dosis betaine yang diuji meliputi 0%, 1%, 2%, dan 3% dari total berat pakan. Temuan riset memperlihatkan bahwa suplementasi betaine dalam berbagai konsentrasi tidak memberikan dampak signifikan secara statistik (P>0.05) terhadap parameter kelangsungan hidup maupun pertumbuhan ikan. Meski demikian, perlakuan dengan dosis betaine 2% mencatatkan tren positif tertinggi pada aspek panjang total, berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan efisiensi pakan. Tingkat kelangsungan hidup mencapai 100% pada seluruh perlakuan, mengindikasikan bahwa betaine aman dan tidak berdampak negatif pada viabilitas ikan kapiat mutlak, laju pertumbuhan harian, dan efesiensi pakan tertinggi. Tingkat sintasan benih ikan kapiat mencapai 100% pada seluruh perlakuan, yang mengindikasikan bahwa penambahan betaine ke dalam ransum ternyata tidak menghasilkan perbedaan nyata pada angka kelangsungan hidup subjek penelitian.This research aimed to evaluate the impact of betaine supplementation in artificial feed on the biological performance of tinfoil barb (Barbonymus schwanenfeldii) fingerlings, specifically focusing on survival rate, growth rate, and feed efficiency, while also determining the most effective dosage. The research was conducted for 30 days at the Experimental Pond Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Mulawarman University, utilizing a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. The tested betaine dosages included 0%, 1%, 2%, and 3% of the total feed weight. The findings indicated that betaine supplementation at various concentrations did not have a statistically significant effect (P>0.05) on the survival or growth parameters of the fish. However, the treatment with a 2% betaine dosage recorded the highest positive trend in terms of total length, absolute weight, daily growth rate, and feed efficiency. The survival rate reached 100% across all treatments, suggesting that the addition of betaine to the diet did not result in a significant difference in the survival rate of the research subjects.
COMPARATIVE STUDY OF WATER CONTENT AND SENSORY QUALITY OF SALTED LEMURU FISH (Sardinella lemuru) WITH DIFFERENT SALTING METHODS Dewi, Resti Nurmala; Iksan, Muhammad
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.18382

Abstract

Salting is one of the most widely used traditional preservation methods for producing salted fish, including lemuru (Sardinella lemuru). However, scientific information regarding the effect of different salting techniques on the water content and sensory characteristics of salted lemuru remains limited. This study aims to compare the water content and sensory quality of salted lemuru processed using wet salting (50% and 100%) and dry salting (5% and 10%) with different drying durations (5, 7, and 9 hours). The production process followed the Indonesian National Standard SNI 8273:2023, while moisture analysis referred to SNI 2354.2:2015. Sensory evaluation was conducted by 30 untrained panelists assessing appearance, odor, and texture. Results showed that dry salting produced lower moisture content (7.22-8.27%) compared to wet salting (9.52-11.41%). In contrast, the highest appearance and texture sensory scores were obtained from wet salting, particularly treatment B100-9 (score 8.60), whereas dry salting with high salt concentration and prolonged drying (K10-9) resulted in decreased texture and odor quality due to excessive dehydration. Overall, the findings confirm that salting method significantly affects the final quality of salted lemuru, and wet salting with an optimal salt concentration provides the best balance between moisture reduction and desirable sensory characteristics.
KARAKTERISTIK RENGGINANG DENGAN PENAMBAHAN DAGING IKAN TUNA (Thunnus sp) Dyah Ayu Rakhmayeni; Mohammad Akbar; Fernando Wowiling; Fidel Ticoalu; Jenny I Manengkey; Luchiandini I Pamaharyani
Chanos Chanos Vol 24, No 1 (2026): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v24i1.19957

Abstract

This study examined the effect of adding tuna meat on the quality characteristics of rengginang, focusing on expansion capacity, sensory properties, and nutritional content. The research was conducted from October to November 2025 at the Processing Workshop of Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung and the Industrial Research and Standardization Center in Manado. An experimental design with three formulations was applied: control without tuna (A1), 10% tuna addition (A2), and 20% tuna addition (A3) based on 400 g of glutinous rice.  The findings showed that increasing tuna concentration tended to reduce the expansion capacity of rengginang. The highest expansion was observed in the control treatment (71%), followed by A2 (69%), while A3 showed the lowest value. Sensory evaluation involving 60 panelists indicated that tuna addition significantly affected (P<0.05) appearance, aroma, taste, texture, and overall acceptability. In general, panelists preferred the control formulation, although the 10% tuna addition was still well accepted. Nutritionally, protein content increased with higher tuna concentration, reaching the highest value in A3 (11.25%). Fat content was also highest in A3 (23.20%). In conclusion, tuna addition enhances the nutritional value of rengginang, particularly its protein content; however, higher concentrations may reduce product expansion and consumer preference.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan daging ikan tuna terhadap mutu rengginang, baik dari segi daya kembang, karakteristik sensoris, maupun kandungan gizi. Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2025 di Workshop Pengolahan Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung dan Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan tiga formulasi, yaitu tanpa penambahan tuna (A1/kontrol), penambahan 10% tuna (A2), dan penambahan 20% tuna (A3) dari 400 g beras ketan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan tuna, daya kembang rengginang cenderung menurun. Perlakuan A1 menghasilkan daya kembang tertinggi (71%), diikuti A2 (69%), sedangkan A3 menunjukkan nilai terendah. Uji hedonik terhadap 60 panelis memperlihatkan bahwa penambahan tuna berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kenampakan, aroma, rasa, tekstur, dan daya terima. Secara umum, panelis lebih menyukai formulasi tanpa penambahan tuna, meskipun penambahan 10% tuna masih dapat diterima dengan baik. Dari sisi gizi, kandungan protein meningkat seiring bertambahnya konsentrasi tuna, dengan nilai tertinggi pada A3 (11,25%). Kadar lemak juga tertinggi pada A3 (23,20%).  Secara keseluruhan, penambahan tuna mampu meningkatkan nilai gizi rengginang, khususnya protein, namun pada konsentrasi tinggi dapat menurunkan tingkat kesukaan dan daya kembang produk
DAYA TERIMA KONSUMEN MI INSTAN SEHAT DENGAN VARIASI RASIO SUBSTITUSI TEPUNG TULANG IKAN TUNA (Thunnus sp.) DAN TEPUNG KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL TEPUNG TERIGU Fitroh D. Hariyoto; Fidel J.B. Ticoalu; Itje D. Wewengkang; Nova M. Tumanduk; Hetty M.P. Ondang; Dessy A. Natalia; Fernando Wowiling; Dyah A. Rakhmayeni; Mohamad Akbar; Meilya S. Triyastuti; Agusta P.B.L. Soeharso; IGPG R. Yudana
Chanos Chanos Vol 24, No 1 (2026): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v24i1.20533

Abstract

Instant noodles are one of the most widely consumed wheat flour-based food products in Indonesia; however, their nutritional profile is dominated by carbohydrates and low in protein, vitamins, and minerals. This study aimed to evaluate consumer acceptability of healthy instant noodles with varying ratios of partial wheat flour substitution using tuna bone flour (Thunnus sp.) and mung bean flour (Vigna radiata L.). A hedonic test with three replicates was conducted across four treatments: S₀ (control, no substitution), S₁ (tuna 8% : mung bean 8%, ratio 1:1), S₂ (tuna 12%: mung bean 4%, ratio 3:1), and S₃ (tuna 4%: mung bean 12%, ratio 1:3). Evaluation was performed by 30 semi-trained panelists using a 1–9 hedonic scale (SNI 2346-2015) on six sensory parameters: appearance, texture, taste, color, aroma, and overall acceptability. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test followed by paired Mann-Whitney comparisons. Results showed that all six sensory parameters differed significantly among treatments. The control (S₀) received the highest scores across all parameters (overall: 7.83 ± 0.93) and differed significantly from all substituted treatments. Among substituted treatments, S₃ obtained the highest overall acceptability score (5.23 ± 1.40), was significantly better than S₂ in taste, and better than S₁ in aroma; thus, S₃ was selected as the best formulation for further proximate analysis.Mi instan merupakan salah satu produk pangan berbasis tepung terigu yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia, namun profilnya didominasi karbohidrat dan rendah protein, vitamin, serta mineral. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi daya terima konsumen terhadap mi instan sehat dengan variasi rasio substitusi parsial tepung terigu oleh tepung tulang ikan tuna (Thunnus sp.) dan tepung kacang hijau (Vigna radiata L.). Uji hedonik dilaksanakan dengan 3 kali pengulangan pada empat perlakuan yaitu S₀ (kontrol, tanpa substitusi), S₁ (tuna 8% : kacang hijau 8%, rasio 1:1), S₂ (tuna 12% : kacang hijau 4%, rasio 3:1), dan S₃ (tuna 4% : kacang hijau 12%, rasio 1:3), dengan total substitusi parsial dijaga konstan sebesar 16%. Uji hedonik dilaksanakan oleh 30 panelis semi-terlatih menggunakan skala hedonik 1–9 (SNI 2346-2015) pada enam parameter sensoris meliputi kenampakan, tekstur, rasa, warna, bau/aroma, dan penerimaan keseluruhan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan uji Mann-Whitney berpasangan. Hasil menunjukkan bahwa seluruh enam parameter sensoris berbeda nyata antar perlakuan. Mi instan kontrol (S₀) memperoleh skor tertinggi pada semua parameter (overal: 7,83±0,93) dan berbeda nyata terhadap seluruh perlakuan tersubstitusi. Di antara perlakuan tersubstitusi, S₃ memperoleh skor penerimaan keseluruhan tertinggi (5,23±1,40) dan secara nyata lebih baik dari S₂ pada parameter rasa serta lebih baik dari S₁ pada parameter bau/aroma, sehingga ditetapkan sebagai formulasi terpilih untuk dikaji lebih lanjut melalui analisis proksimat untuk mengetahui kandungan gizinya.
DINAMIKA KELIMPAHAN Vibrio spp. pada MEDIA BUDI DAYA DAN ORGAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK INTENSIF Amiqatul Fikriyah; Ananda Aryani; Desy Febrianti
Chanos Chanos Vol 24, No 1 (2026): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v24i1.20689

Abstract

Vibrio spp. are opportunistic pathogens that threaten the health and survival of whiteleg shrimp (L. vannamei). This study aimed to analyze the abundance dynamics of Vibrio spp. in the culture medium, hepatopancreas, and intestine of shrimp in intensive ponds over two production cycles. Weekly sampling was conducted across three ponds using grab sampling for water and random sampling for shrimp specimens. Vibrio spp. were isolated on TCBS agar, followed by total colony enumeration (CFU/mL) and morphological identification. Results showed fluctuating Vibrio spp. abundance in the culture medium, dominated by yellow colonies with no green, black, or luminous colonies detected. In the hepatopancreas and intestine, only yellow Vibrio were found, ranging from 0–1.52 × 10⁵ CFU/mL and 0–9.6 × 10⁵ CFU/mL, respectively. Bacterial abundance was higher in the intestine compared to other organs, while the hepatopancreas population remained low and stable. Dissolved oxygen and total organic matter significantly influenced these population dynamics. These findings emphasize the necessity of stringent water quality management and probiotic application to mitigate Vibrio spp. infection risks.Vibrio spp. merupakan bakteri patogen oportunistik yang dapat menginfeksi organ vital dan mengancam kelangsungan hidup udang vaname (L. vannamei). Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kelimpahan Vibrio spp. pada media budi daya, hepatopankreas, dan usus udang di tambak intensif selama dua siklus pemeliharaan. Sampel diambil mingguan dari tiga petak tambak menggunakan metode grab sampling untuk air dan random sampling untuk udang. Isolasi dilakukan menggunakan media TCBS agar, dilanjutkan dengan perhitungan total plate count (CFU/mL) dan identifikasi morfologi. Hasil menunjukkan kelimpahan Vibrio spp. di media budi daya berfluktuasi dengan dominasi koloni kuning, tanpa temuan koloni hijau, hitam, atau bercahaya. Pada hepatopankreas dan usus hanya ditemukan Vibrio kuning dengan rentang masing-masing 0–1,52 × 10⁵ CFU/mL dan 0–9,6 × 10⁵ CFU/mL. Kelimpahan bakteri pada usus cenderung lebih tinggi dibandingkan organ lain, sementara populasi di hepatopankreas relatif rendah dan stabil. Parameter kualitas air, terutama oksigen terlarut dan total bahan organik, diduga kuat memengaruhi dinamika populasi ini. Penelitian ini merekomendasikan pengelolaan kualitas air yang ketat dan aplikasi probiotik untuk menekan risiko infeksi Vibrio spp. 
EVALUASI KINERJA PRODUKSI DAN EFISIENSI PAKAN PADA BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vannamei) SISTEM INTENSIF Asep Akmal Aonullah; Anja Asmarany; Lusiana BR Ritonga; Dian Lestari
Chanos Chanos Vol 24, No 1 (2026): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v24i1.17638

Abstract

The main issue addressed in this study is the application of intensive whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) culture at PT Padak Goar, East Lombok Regency, Indonesia. The objective of this study is to determine the technical parameters of intensive Vannamei shrimp farming, including stocking density, feed management, growth performance (ABW and ADG), feed efficiency (FCR), survival rate (SR), and their relationship with water quality.. The study was conducted in two grow-out ponds with surface areas of 7,648 m2 (B4) and 7,680 m2 (B5). Data collection covered stocking density, Average Body Weight (ABW), Feed Conversion Ratio (FCR), and Survival Rate (SR). The observation results were then analyzed using a quantitative descriptive approach to assess feed consumption in relation to production parameters, particularly FCR and shrimp growth. The results showed that in pond B4, the stocking density was 124 ind/m2, ABW was 14.3 g, ADG ranged from 0.24 to 0.37 g/day, FCR was 1.7, and SR was 70%, while in pond B5, the stocking density was 125 ind/m2, ABW was 12.9 g, ADG ranged from 0.21 to 0.33 g/day, FCR was 1.9, and SR was 66%. The results indicate that the intensive culture system is capable of supporting good shrimp growth and survival; however, differences in feed efficiency between ponds suggest that water quality and feed management play important roles in determining production performance. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan sistem budidaya udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di PT Padak Goar Kabupaten Lombok Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter teknis budidaya intensif udang Vannamei meliputi meliputi padat tebar, manajemen pakan, pertumbuhan (ABW dan ADG), efisiensi pakan (FCR), tingkat kelangsungan hidup (SR), serta keterkaitannya dengan kualitas air. Penelitian dilakukan dengan metode observasi lapangan pada dua petak tambak dengan luas masing-masing 7.648 m2 (B4) dan 7.680 m2 (B5). Data yang diamati mencakup padat tebar benur, Average Body Weight (ABW), Feed Conversion Ratio (FCR), serta Survival Rate (SR). Hasil pengamatan kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk konsumsi pakan terhadap parameter produksi, khususnya FCR dan pertumbuhan udang. Terjemhkan ke bahasa Inggris yang baik dan benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada petak B4 diperoleh padat tebar 124 ekor/m2, ABW 14,3 g, ADG 0,24–0,37 g/hari, FCR 1,7, dan SR 70%, sedangkan pada petak B5 diperoleh padat tebar 125 ekor/m2, ABW 12,9 g, ADG 0,21–0,33 g/hari, FCR 1,9, dan SR 66%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya intensif mampu mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang yang baik; namun, perbedaan efisiensi pakan antar petak mengindikasikan bahwa kualitas air dan manajemen pakan berperan penting dalam menentukan kinerja produksi.