cover
Contact Name
Andi Safitri Sacita
Contact Email
jurnalperbal@gmail.com
Phone
+6281213302660
Journal Mail Official
jurnalperbal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kel. Wara Utara, Kota Palopo, 91913
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
ISSN : 23026944     EISSN : 25811649     DOI : https://doi.org/10.30605/perbal
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini berisi tentang lingkup ilmu-ilmu pertanian, dengan prioritas pada ilmu dan teknologi tanaman (pangan, perkebunan, hortikultura, dan kehutanan), termasuk aspek pascapanen, sosial ekonomi, maupun ketatawilayahan.
Articles 241 Documents
Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Beberapa Varietas Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.): Testing of Viability and Vigor of Seeds of Several Varieties of Tobacco Plants (Nicotiana tabacum L.) Nur Qadri, Sri; Yamin, Mayasari; Dzulkifli Darwis
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 1 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i1.3181

Abstract

Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan yang sangat strategis bagi perekonomian nasional dan secara tidak langsung akan berdampak terhadap aspek sosial, diantaranya sebagai pemasok bahan baku untuk pabrik rokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuan pengujian viabilitas dan vigor benih beberapa varietas tanaman tembakau. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare pada bulan Juli-Agustus 2023, penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 1 faktor, dengan faktor varietas teridiri dari v1 (ico lalo), v2 (ico sse), v3 (kemloko) dan v4 (Prancak-95). pengujian viabilitas dan vigor benih tanaman tembakau, untuk karakter amatan kecepatan tumbuh tertinggi pada varietas prancak-95 (V4) yaitu 5.23, indeks vigor tertinggi pada varietas prancak-95 (V4) yaitu 6,00, keserempakan tumbuh yang tertinggi pada varietas prancak-95 (V4), daya berkecambah tertinggi pada varietas Ico lalo (V1) dan varietas prancak-95 (V4) yaitu 9.67 dan Panjang radikula tertinggi pada varietas prancak-95 (V4) yaitu 0.87. Tobacco (Nicotiana tabacum L.) is one of the leading plantation commodities that is very strategic for the national economy and will indirectly have an impact on social aspects, including as a supplier of raw materials for cigarette factories. This study aims to find out the viability and vigor testing of seeds of several varieties of tobacco plants. This research was carried out at the Faculty of Agriculture, Animal Husbandry and Fisheries, University of Muhammadiyah Parepare in July-August 2023, this study used a randomized group design consisting of 1 factor, with varietal factors consisting of v1 (ico lalo), v2 (ico sse), v3 (kemloko) and v4 (Prancak-95). testing the viability and vigor of tobacco plant seeds, for the character of the highest growth speed observation in the prancak-95 (V4) variety which is 5.23, the highest vigor index in the prancak-95 (V4) variety which is 6.00, the highest growing coarseness in the prancak-95 (V4) variety, the highest germination in the Ico lalo variety (V1) and the prancak-95 (V4) variety which is 9.67 and the highest radicle length in the prancak-95 (V4) variety which is 0.87.
Uji Mutu Perkecambahan Bud Chips Tebu pada Lama Penyimpanan dan Biopriming Trichoderma sp.: Quality Test of Sugarcane Bud Chips Germination on Storage Duration and Trichoderma sp. Biopriming Sintia Saragih; Indra Yama, Danie; Jaini Fakhrudin
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 1 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i1.3351

Abstract

Perkecambahan benih tebu merupakan tahap penting dalam siklus pertumbuhan tanaman tebu karena menentukan pertumbuhan tunas, pertumbuhan populasi dan tanaman pada tahap selanjutnya, serta produktivitas tebu saat panen. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui lama penyimpanan yang sesuai dengan perkecambahan bud chips tebu dan lama biopriming yang sesuai dengan perkecambahan bud chips tebu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial terdiri dari dari 2 faktor 3 ulangan yaitu lama penyimpanan (S1) 1 hari, (S2) 3 hari, (S3) 5 hari, dan faktor kedua lama biopriming Trichoderma sp yaitu (R1) 4 jam, (R2) 8 jam, (R3) 12 jam. Parameter yang diamati yaitu daya kecambah, indeks vigor, tinggi tanaman dan diameter batang. Hasil penelitian menunjukkan penyimpanan yang sesuai untuk perkecambah bud chips tebu yaitu selama 5 (lima) hari, dan berpengaruh nyata terhadap daya kecambah, indeks vigor, tinggi tanaman, dan diameter batang. Waktu lama biopriming yang sesuai untuk perkecambahan bud chips tebu yaitu biopriming (R3) selama 8 jam berpengaruh terhadap tinggi dan diameter batang. Germination of sugarcane seeds is an important stage in the growth cycle of sugarcane plants because it determines the growth of shoots, population and plant growth at a later stage, as well as sugarcane productivity at harvest. The purpose of the study was to find out the storage duration in accordance with the germination of sugarcane bud chips and to find out the duration of biopriming in accordance with the germination of sugarcane bud chips. This study used a factorial group randomized design (RAK) consisting of 2 factors 3 repeats, namely storage time (S1) 1 day, (S2) 3 days, (S3) 5 days, and the second factor was length of Biopriming Trichoderma sp, namely (R1) 4 hours, (R2) 8 hours, (R3) 12 hours. The parameters observed in this study are germination, viability, vigor index, plant height and stem diameter. The research results showed that appropriate storage for germinating sugarcane bud chips was 5 (five) days, and had a significant effect on germination, vigor index, plant height and stem diameter. The appropriate biopriming time for germinating sugarcane bud chips, biopriming (R3) for 8 hours, has an effect on stem height and diameter.
Karakterisasi Morfologi Jagung Hibrida (Zea mays L.) pada Berbagai Pemberian Pupuk Slowrelease Berbasis Biochar pada Tanah Bertekstur Liat: Morphological Characterization of Hybrid Corn (Zea mays L.) on Various Applications of Biochar-Based Slowrelease Fertilizer on Clay-Textured Soils Asra Dely; Sukmawati, Sukmawati; Yamin, Mayasari; Muh. Akhsan Akib; Suherman, Suherman
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 1 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i1.3375

Abstract

Karakteristik tanah yang bertekstur liat memiliki pori-pori yang kecil sehingga daya simpan airnya relatif tinggi dan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Permasalahan tersebut dapat diatasi melalui penggunaan bahan organik yaitu biochar tongkol jagung karena memiliki sifat stabil sebagai pembenah tanah yang dikombinasi dengan pupuk anorganik dan bahan hayati. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh pupuk slow release terhadap karakteristik morfologi tanaman jagung hibrida, dan (2) memperoleh kombinasi pupuk terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung hibrida pada tanah bertekstur liat yang diperkaya dengan pupuk slow release. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Parenring, Kecamatan Rilirilau Kabupaten Soppeng. Materi genetik yang digunakan yaitu jagung hibrida Varietas Bisi-2 yang disusun menggunakan RAK. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa karakter agronomi yang memiliki kuadrat tengah sangat signifikan yaitu karakter panjang ruas. Sedangkan karakter yang mnemiliki kuadrat tengah nyata yaitu karakter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun, panjang tongkol, dan diameter tongkol. Interval KK yang dihasilkan yaitu 1,73% - 14,60%. KK tertinggi yaitu pada karakter panjang rambut jagung mencapai 14,60%. perlakuan pupuk slow release terbaik untuk parameter diameter batang, panjang rambut, lebar daun, dan panjang tongkol dengan rerata masing-masing 19,80 cm; 18,83; 9,83 cm; dan 28,27. Perlakuan pupuk slow release + 30 ml urin sapi terbaik untuk perameter tinggi tanaman, panjang ruas, jumlah daun, dan diameter tongkol dengan rerata masing-masing 169,80 cm; 14,78 cm; 10,54 helai; dan 34,10 cm. kombinasi pupuk slow release + 30 ml urine + 30 ml bakteri Azotobacter + 30 ml bakteri Bacillus sp. menghasilkan panjang daun terbaik dengan rerata 85,54. Sehingga, pemberian kombinasi pupuk yang terbaik untuk komponen hasil jagung hibrida yaitu pupuk slow release + 30 ml urin sapi. The characteristic of clay-textured soil is that it has small pores so that its water retention capacity is relatively high and has an impact on plant growth and development. This problem can be overcome through the use of organic materials, namely corncob biochar because it has stable properties as a soil conditioner combined with inorganic fertilizers and biological materials. This research aims to determine (1) the effect of slow release fertilizer on the morphological characteristics of hybrid corn plants and (2) obtain the best fertilizer combination in increasing the growth and production of hybrid corn on clay textured soils. This research was carried out in Parenring Village, Rilirilau District, Soppeng Regency. The genetic material used is the hybrid corn variety Bisi-2 which was prepared using RAK. Based on the research results, it was found that the agronomic character that has a very significant middle square is the character of segment length. Meanwhile, the characters that have a real middle square are the characters of plant height, number of leaves, stem diameter, leaf length, leaf width, ear length and ear diameter. The resulting KK interval is 1.73% - 14.60%. The highest KK is for the long corn hair character, reaching 14.60%. the best slow release fertilizer treatment for the parameters of stem diameter, hair length, leaf width and cob length with an average of 19.80 cm each; 18.83; 9.83cm; and 28.27. The slow release fertilizer + 30 ml cow urine treatment was best for plant height, internode length, number of leaves, and cob diameter with an average of 169.80 cm each; 14.78cm; 10.54 strands; and 34.10 cm. combination of slow release fertilizer + 30 ml urine + 30 ml Azotobacter bacteria + 30 ml Bacillus sp bacteria. produced the best leaf length with an average of 85.54. So, the best fertilizer combination for hybrid corn yield components is slow release fertilizer + 30 ml of cow urine.
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Wortel (Daucus carota L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair Kombinasi Air Kelapa dan Bonggol Pisang di Dataran Rendah: Growth and Production Response of Carrot Plant (Daucus carota L.) to Feeding Liquid Organic Fertilizer Made From a Combination of Coconut Water and Banana Humps in the Lowland Sacita, Andi Safitri; Sajdah Fatur Rahman
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 11 No. 3 (2023): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v11i3.4428

Abstract

Wortel merupakan salah komoditi hortikultura yang memiliki permintaan cukup tinggi di pasaran. Tanaman wortel memiliki potensi untuk dibudidayakan di dataran rendah meskipun pada umumnya dibudidayakan di dataran tinggi. Berbagai varietas khusus dataran rendah telah banyak dikembangkan untuk dibudidayakan di dataran rendah. Pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman wortel di dataran rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Pupuk Organik Cair (POC) kombinasi antara air kelapa dan bonggol pisang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman wortel di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian UNCP pada Januari – April tahun 2023. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdapat 24 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan antara lain, P0: tanpa perlakuan, P1: POC air kelapa + bonggol pisang 100 ml/polibag, P2: POC air kelapa + bonggol pisang 125 ml/polibag, P3: POC air kelapa + bonggol pisang 150 ml/polibag, P4: POC air kelapa + bonggol pisang 175 ml/polibag, P5: POC air kelapa + bonggol pisang 200 ml/polibag. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC kombinasi air kelapa dan bonggol pisang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot umbi, namun tidak berbeda nyata pada parameter panjang umbi. Perlakuan terbaik yaitu P5 pada parameter tinggi tanaman dengan nilai 50,75 cm, jumlah daun 103,5 helai, dan bobot umbi 60,75 gram. Sedangkan pada parameter panjang umbi terbaik pada perlakuan P3 dengan nilai 10,88 cm. Carrots are a horticultural commodity that has quite high demand on the market. Carrot plants have the potential to be cultivated in the lowlands even though they are generally cultivated in the highlands. Many special lowland varieties have been developed for cultivation in the lowlands. Meeting nutritional needs is one effort to increase the productivity of carrot plants in the lowlands. The aim of this research was to determine the effect of giving liquid organic fertilizer a combination of coconut water and banana weevils on the growth and production of carrot plants in the lowlands. The research was carried out at the experimental field of Agriculture Faculty UNCP in January – April 2023. This research was designed using a Randomized Block Design (RBD) with 6 treatments and 4 replications so that there were 24 experimental units. The treatments given include, P0: no treatment, P1: liquid organic fertilizer of coconut water + banana hump 100 ml/polybag, P2: liquid organic fertilizer of coconut water + banana hump 125 ml/polybag, P3: liquid organic fertilizer of coconut water + banana hump 150 ml/polybag, P4: liquid organic fertilizer of coconut water + banana hump 175 ml/polybag, P5: liquid organic fertilizer of coconut water + banana hump 200 ml/polybag. The research data were analyzed using variance analysis (ANOVA) and BNJ advanced test at 5% level. The results showed that giving liquid organic fertilizer a combination of coconut water and banana hump had a significantly different effect on the parameters of plant height, number of leaves and tuber weight, but not significantly different on the parameter of tuber length. The best treatment was P5 for plant height parameters with a value of 50.75 cm, number of leaves 103.5, and tuber weight 60.75 grams. Meanwhile, the best tuber length parameter was in the P3 treatment with a value of 10.88 cm.
Faktor Pendorong Alih Fungsi Lahan Sagu Menjadi Komoditi Padi di Desa Tirowali Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu: Driving Factors of the Land Use Change of Sago Land Into Rice Commodities in Tirowali Village, Ponrang District, Luwu Regency Anisa Mair; Abdul Rais; Marlia Muklim; Saruman, Sri Hastuty
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 11 No. 2 (2023): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v11i2.2723

Abstract

Alih fungsi Lahan atau biasa disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan sagu menjadi lahan sawah. Pada dasarnya konversi lahan terjadi akibat adanya ketidakpuasan petani dalam peningkatan hasil panen. Adapun permasalahan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas tanaman sagu mulai menurun dari tahun ke tahun, ini disebabkan karena areal lahan perkebunan sagu mengalami konversi menjadi tanaman padi. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 20 petani dan 1 penyuluh pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi lahan sagu menjadi tanaman padi ini didukung oleh beberapa faktor diantranya faktor umur tanaman sagu, faktor produksi, faktor harga, faktor pendapatan, serta faktor lingkungan. Faktor tersebut sangat berperan penting dalam mempengaruhi petani untuk melakukan alih fungsi lahan sagu menjadi lahan persawahan di Kecamatan Ponrang. Land conversion or commonly referred to as land conversion is a change in the function of part or all of the sago land area into paddy fields. Basically land conversion occurs due to farmer dissatisfaction with increasing crop yields. The problems in this study indicate that the productivity of sago plants has begun to decline from year to year, this is because the area of ​​sago plantations has been converted into rice plants. The analytical method used in this study is descriptive qualitative analysis. Sampling used a purposive sampling technique with a total sample of 20 farmers and 1 agricultural extension worker. The results showed that the conversion of sago land into rice plants was supported by several factors, including the age of sago plants, production factors, price factors, income factors, and environmental factors. These factors play an important role in influencing farmers to convert sago land into rice fields in Ponrang District.
Perbandingan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Padi Varietas MR 219 dan Inpari 9 di Desa Sidomakmur Kecamatan Tana Lili Kabupaten Luwu Utara: Comparison of Productivity and Income of Rice Farming Varieties MR 219 and Inpari 9 in Sidomakmur Village Tana Lili District North Luwu Regency Safaruddin, Safaruddin; I Nyoman Arnama; Syamsuddin, Syamsuddin; Abdul Rais; Saruman, Sri Hastuty
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 11 No. 3 (2023): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v11i3.3026

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah antara varietas MR 219 dan Inpari 9 di Desa Sidomakmur Kecamatan Tana Lili Kabupaten Luwu Utara. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan sistem random sampling. Penelitian ini menggunakan dua data yaitu data sekunder dan data primer yang diperoleh dengan observasi langsung menggunakan instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas MR 219 memberikan pendapatan lebih bagi petani padi dibandingkan dengan varietas Inpari 9, varietas MR 219 sebesar Rp.47.884.831,- dibandingkan varietas Inpari 9 yang hanya Rp. 42.351.964,-. Jika dibandingkan dengan pendapatan keduanya, disini terlihat jelas perbedaan pendapatan yang dimana pendapatan tertinggi yaitu varietas MR 219 lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 9. Alasan petani menanam padi varietas MR 219 adalah karena proses penanamannya yang lebih mudah, hasil produksi lebih tinggi serta lebih disenangi oleh pasar sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih baik kepada petani. This research aims to determine the differences in productivity and income from lowland rice farming between the MR 219 and Inpari 9 varieties in Sidomakmur Village, Tana Lili District, North Luwu Regency. This research method is quantitative descriptive. Sampling was carried out using a random sampling system. This research uses two data, namely secondary data and primary data obtained by direct observation using research instruments. The results of this research show that the MR 219 variety provides more income for rice farmers compared to the Inpari 9 variety, the MR 219 variety which is IDR 47,884,831 compared to the Inpari 9 variety which is only IDR 42,351,964. When compared with the income of the two, here the difference in income is clearly visible, where the highest income, namely the MR 219 variety, is higher than the Inpari 9. The reason farmers plant the MR 219 rice variety is because the process of receiving the results is greater, as well as getting higher profits.
Diversifikasi Usahatani Petani Jagung Gorontalo dan Determinannya: Diversification of Gorontalo Corn Farmers’ Farming and its Determinants Bisma, Arief; Sirajuddin, Zulham; Anisa, Anisa
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7138

Abstract

Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi penghasil jagung terbesar di Pulau Sulawesi. Meski demikian, kesejahteraan petani jagung di Gorontalo belum sepenuhnya terjamin. Hal ini dikarenakan mayoritas petani jagung di Gorontalo merupakan petani kecil yang memiliki luas lahan kurang dari 1 Ha. Keterbatasan pendapatan usaha tani jagung mendorong petani untuk mengembangkan strategi bertahan hidup melalui diversifikasi pendapatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk diversifikasi pendapatan alternatif yang dilakukan oleh petani jagung di Gorontalo serta menganalisis hubungan antara pendapatan alternatif dengan peningkatan pendapatan total rumah tangga petani jagung di Gorontalo. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo, dengan jumlah sampel sebanyak 186 petani jagung dari seluruh jumlah petani jagung di Kabupaten Bone Bolango. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik accidental sampling dan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebagian besar petani jagung di Kabupaten Bone Bolango memiliki alternatif pekerjaan On-farm, yaitu cabai rawit dan kelapa. Sedangkan untuk Off-farm, yakni jasa bentor, pertukangan dan kios. Dalam hal ini, terdapat pola hubungan yang berbeda antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan kedua bentuk diversifikasi pendapatan. Diversifikasi usahatani secara signifikan dipengaruhi oleh faktor kelembagaan, khususnya keaktifan dalam kelompok tani, sementara diversifikasi usaha non-pertanian dipengaruhi oleh faktor ekonomi rumah tangga yaitu jumlah tanggungan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan strategi diferensiasi dalam program pemberdayaan petani (penguatan kapasitas kelembagaan pertanian) dan pendekatan yang berfokus pada pengembangan ekonomi rumah tangga pada diversifikasi Off-farm. Gorontalo Province is one of the largest corn-producing provinces on the island of Sulawesi. However, the welfare of corn farmers in Gorontalo is not yet fully guaranteed. This is because the majority of corn farmers in Gorontalo are small farmers who own less than 1 hectare of land. Limited income from corn farming has encouraged farmers to develop survival strategies through income diversification. This study was conducted to identify the forms of alternative income diversification carried out by corn farmers in Gorontalo and to analyze the relationship between alternative income and the increase in total household income of corn farmers in Gorontalo. This study was conducted in Bone Bolango Regency, Gorontalo Province, with a sample size of 186 corn farmers from the total number of corn farmers in Bone Bolango Regency. Sampling was conducted using accidental sampling techniques and quantitative descriptive research methods. The results showed that most corn farmers in Bone Bolango Regency had alternative on-farm jobs, namely chili and coconut farming. As for off-farm jobs, they included bentor services, carpentry, and kiosks. In this case, there were different patterns of relationships between socioeconomic factors and the two forms of income diversification. Agricultural diversification is significantly influenced by institutional factors, particularly active participation in farmer groups, while non-agricultural diversification is influenced by household economic factors, namely the number of family dependents. Therefore, a differentiation strategy is needed in farmer empowerment programs (strengthening agricultural institutional capacity) and an approach that focuses on household economic development in off-farm diversification.  
Tingkat Konsumsi dan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Tani di Keurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat: Food Consumption Level and Needs of Farming Households in Takatidung Village Polewali District Polewali Mandar Regency West Sulawesi Muhdiar, Muhdiar; Pratiwi MK; Abd Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7180

Abstract

Pangan adalah isu yang sensitif di mana asupan makanan yang bergizi sangat jauh dari ideal di beberapa negara berkembang seperti Indonesia. Pemahaman tentang keragaman makanan yang tersedia dengan berbagai alternatif untuk dikonsumsi juga sangat terbatas. Pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman adalah sesuatu yang sangat penting. Untuk itu, merancang solusi alternatif dan merekomendasikan kemungkinan bagi perbaikan pangan dan gizi pada tingkat masyarakat , khususnya petani sebagai sumber produksi sumber daya pangan. Studi ini meneliti pola konsumsi pangan pada keluarga petani yang berbasis program pemberdayaan. Riset ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2025 di Kelurahan Takatidung di Kecamatan Polewali, Sulawesi Barat.  Melibatkan 35 keluarga tani dan beberapa stakeholder terkait yang berhubungan dengan pangan. Kuesioner frekuensi makan yang divalidasi dan penarikan recall makan 24 jam diberikan kepada sampel total 34 keluarga petani. Analisis Deskriftif, Analisis Pola Pangan Harapan (PPH), serta Regresi Linear Berganda digunakan untuk menganalisis data.Penelitian ini juga menegaskan bahwa faktor sosial, ekonomi, budaya, pengetahuan gizi, pendapatan, jumlah keluarga, pendidikan dan usia sangat memengaruhi pola konsumsi pangan keluarga tani di wilayah penelitian. Mayoritas rumah tangga  tani menerapkan pola konsumsi yang cukup terhadap umbi-umbian, pangan hewani, sayur dan buah. Keluarga tani seharusnya dapat menerapkan pola konsumsi pangan yang ideal dengan berbagai alternatif seperti memanfaatkan pangan sumber protein, pengelolaan pangan, dan pengetahuan gizi sehingga dapat mencapai pola pangan yang ideal, makanan sehat berbiaya rendah, manajemen kelembagaan yang baik dalam merancang  penciptaan kesadaran dan program  pemberdayaan  untuk mendorong produksi pangan dan mendapatkan akses makanan bergizi. Food is a sensitive issue where nutritious food intake is far from ideal in some developing countries, such as Indonesia. Understanding of the diversity of available foods with various alternatives for consumption is also very limited. A diverse, nutritious, balanced, and safe food consumption pattern is very important, designing alternative solutions and recommending possibilities for improving food and nutrition at the community level, especially for farmers as a source of food resource production. This study examines food consumption patterns in farming families based on an empowerment program. This research was conducted from July 2025 to August 2025 in Takatidung Village in Polewali District, West Sulawesi. Involving a sampling of 35 farming families and several related stakeholders related to food. A validated food frequency questionnaire and 24-hour food recall were administered to a total sample of 34 farming families. Descriptive Analysis, Expected Food Pattern Analysis (PPH), and Multiple Linear Regression were used to analyze the data. This study also confirms that social, economic, cultural factors, nutritional knowledge, income, family size, education, and age greatly influence the food consumption patterns of farming families in the research area. The majority of farming households apply sufficient consumption patterns for tubers, animal foods, vegetables, and fruits. Farming families should be able to apply ideal food consumption patterns with various alternatives, such as utilizing protein sources, food management, and nutritional knowledge, so that they can achieve ideal food patterns, low-cost healthy food, and good institutional management in designing awareness creation and empowerment programs to encourage food production and gain access to nutritious food.
Analisis Kesuburan Tanah pada Sistem Polikultur dan Monokultur Tanaman Jagung: Soil Fertility Analysis Using Polyculture Systems and Monoculture in Maize Cultivation Ratih, Ratih; Azis, Asti Irawanti; Andraini, Dea Ekaputri
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7600

Abstract

Tanaman jagung dikenal memiliki kebutuhan unsur hara yang tinggi, terutama nitrogen, fosfor, dan kalium, sehingga penanaman berulang dengan sistem monokultur tanpa pengelolaan kesuburan yang tepat dapat menyebabkan penurunan kadar unsur hara esensial dalam tanah. Sistem polikultur menjadi solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah karena prinsip dasarnya mengedepankan keragaman hayati dan keseimbangan ekosistem pada lahan pertanian, dengan menanam berbagai jenis tanaman secara bersamaan, sistem ini menciptakan interaksi positif antarspesies tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status kesuburan  tanah pada sistem  pertanaman polikultur dan monokultur tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar, Juni hingga Agustus 2023. Metode pengambilan sampel tanah terbagi atas dua yakni sampel tanah terganggu sebelum penanaman dan setelah panen, kemudian dianalisis di Laboratorium Kimia Tanah. Parameter yang diamati yakni pH H2O, C-organik (%), N-Total (%), P-Tersedia (ppm), K- tersedia (cmol(+) kg-1), KTK (cmol(+) kg-1). Hasil analisis nilai indeks kesuburan tanah (IKT) pada sistem polikultur sebelum penanaman yaitu 0,56 dan setelah penanaman meningkat menjadi 0,722. Pada sistem monokultur sebelum penanaman yaitu 0,61 meningkat menjadi 0,72 dimana dapat disimpulkan bahwa kesuburan tanah pada sistem polikultur dan monokultur sama-sama berada pada kategori sedang, baik sebelum maupun setelah penanaman. Maize is known to have high nutrient requirements, especially nitrogen, phosphorus, and potassium, so repeated planting with monoculture systems without proper fertility management can lead to a decrease in the levels of essential nutrients in the soil. The polyculture system is a solution to increase soil fertility because the basic principle is to prioritize biodiversity and ecosystem balance on agricultural land, by planting various types of plants at the same time, this system creates positive interactions between plant species. This study aims to determine the status of soil fertility in polyculture and monoculture cultivation systems of corn plants. The research was carried out in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Makassar Islamic University, from June to August 2023. The soil sampling method is divided into two, namely soil samples that are disturbed before planting and after harvest, then analyzed in the Soil Chemistry Laboratory. The observed parameters were pH H2O, C-organic (%), N-Total (%), P-Available (ppm), K- available (cmol(+) kg-1), KTK (cmol(+) kg-1). The results of the analysis of the soil fertility index (IKT) value in the polyculture system before planting were 0.56 and after planting increased to 0.722. In the monoculture system, before planting, which is 0.61, it increases to 0.72 where it can be concluded that the soil fertility in the polyculture and monoculture systems is both in the medium category, both before and after planting. 
Analisis Komponen Hasil Jagung Pulut (Zea mays var. Ceratina) pada Beberapa Daerah di Sulawesi Selatan: Analysis of Yield Components of Waxy Corn (Zea mays var. Ceratina) in Several Regions of South Sulawesi Okasa, Andi Muliarni; Muh. Riadi; Hafizhah Al-Amanah; Jumrah, Jumrah; Indarwati, Siti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7658

Abstract

Jagung pulut (Zea mays var. ceratina) adalah varietas jagung unik yang dicirikan oleh kandungan amilopektinnya yang tinggi, yang memberikan tekstur lengket saat dimasak. Jenis jagung ini populer di berbagai daerah karena rasa dan teksturnya, serta memiliki potensi signifikan dalam aplikasi makanan karena sifat fisikokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi jagung pulut sebagai sumber pangan fungsional yang dapat digunakan, dengan mengarakterisasi sifat agronomik jagung pulut. Penelitian dilaksanakan di lima kabupaten, yaitu Barru, Maros, Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Pengukuran parameter morfologi biji (bobot 1000 biji, panjang biji, lebar biji) dan tongkol (bobot per tongkol, diameter tongkol) dilakukan di laboratorium. Data morfologi dianalisis menggunakan Analisis Variansi (ANOVA) dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0.05) untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan antar lokasi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antar lokasi untuk semua parameter morfologi. Kabupaten Maros dan Gowa secara konsisten mencatatkan karakteristik morfologi biji dan tongkol yang superior, sedangkan Jeneponto menunjukkan performa terendah, dengan Takalar dan Barru berada di posisi menengah. Semua parameter morfologi menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat satu sama lain (r = 0.88-0.95). Waxy corn (Zea mays var. ceratina) is a unique variety of corn characterized by its high amylopectin content, which gives it a sticky texture when cooked. This type of corn is popular in various regions for its taste and texture, and has significant potential in food applications due to its physicochemical properties. This study aimed to explore the potential of waxy corn as a functional food source by characterizing its agronomic properties. The research was conducted in five Regencies, namely: Barru, Maros, Gowa, Takalar, and Jeneponto. Measurements of seed morphological parameters (1000-seed weight, seed length, seed width) and cob parameters (cob weight, cob diameter) were carried out in the laboratory. Morphological data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and Tukey's Honestly Significant Difference (HSD) test at a 95% confidence level (α=0.05) to identify significant differences among locations. The results showed significant differences among locations for all morphological parameters. Maros and Gowa Regencies consistently recorded superior seed and cob morphological characteristics, while Jeneponto showed the lowest performance, with Takalar and Barru in intermediate positions. All morphological parameters showed a very strong positive correlation with each other (r = 0.88-0.95).