cover
Contact Name
Andi Safitri Sacita
Contact Email
jurnalperbal@gmail.com
Phone
+6281213302660
Journal Mail Official
jurnalperbal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kel. Wara Utara, Kota Palopo, 91913
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
ISSN : 23026944     EISSN : 25811649     DOI : https://doi.org/10.30605/perbal
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini berisi tentang lingkup ilmu-ilmu pertanian, dengan prioritas pada ilmu dan teknologi tanaman (pangan, perkebunan, hortikultura, dan kehutanan), termasuk aspek pascapanen, sosial ekonomi, maupun ketatawilayahan.
Articles 260 Documents
The Penggunaan Pupuk Organik Hayati Padat Pembenah Tanah Terhadap Hasil Panen Tanaman Kemangi (Ocimum basilicum L.) di Tanjungsari Kabupaten Sumedang: The Application of Solid Bio-Organic Fertilizer as a Soil Conditioner on the Yield of Basil (Ocimum basilicum L.) in Tanjungsari, Sumedang Regency Dewi Nurma Yanti Ningtyas; Sheli Mustikasari Dewi; Fahri Rijal Giffari; Fauziah Zahra Ash Shidiq; Adhi Irianto Mastur
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.8168

Abstract

Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sayuran segar yang banyak dikonsumsi. Di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, budidaya kemangi menghadapi hambatan berupa penurunan kualitas tanah dan rendahnya efisiensi pemupukan, sehingga hasil panen tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pupuk organik hayati (POH) padat sebagai pembenah tanah terhadap pertumbuhan dan bobot panen kemangi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan: kontrol (A), 100% POH (B), POH + 25% dosis rekomendasi anorganik (C), POH + 50% dosis rekomendasi anorganik (D), POH + 100% dosis rekomendasi anorganik (E), dan 100% pupuk anorganik (F),masing-masing diulang empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan bobot panen. Hasil menunjukkan kombinasi POH dengan 50% pupuk anorganik memberikan pertumbuhan optimal (tinggi 30,41 cm; bobot 27,32 g), lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Efektivitas ini terkait kontribusi mikroorganisme POH dalam meningkatkan ketersediaan hara, fiksasi nitrogen, pelarutan fosfat, stimulasi fitohormon, serta perbaikan struktur tanah. Studi menyimpulkan penggunaan POH padat dengan 50% pupuk anorganik dapat meningkatkan hasil kemangi, efisiensi pemupukan, dan mendukung pertanian berkelanjutan. Basil (Ocimum basilicum L.) is an economically valuable crop widely consumed as a fresh vegetable. In Tanjungsari, Sumedang Regency, basil cultivation faces challenges including declining soil quality and low fertilizer use efficiency, resulting in suboptimal yields. This study aimed to evaluate the effect of solid Bio-Organic Fertilizer (BOF) as a soil conditioner on the growth and yield of basil. The experiment was conducted using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with six treatments: control (A), 100% BOF (B), BOF + 25% recommended inorganic fertilizer (C), BOF + 50% recommended inorganic fertilizer (D), BOF + 75% recommended inorganic fertilizer (E), and 100% inorganic fertilizer (F), each replicated four times. Observed parameters included plant height and fresh weight. Results indicated that the combination of BOF with 50% inorganic fertilizer produced the highest growth and yield (30.41 cm height; 27.32 g fresh weight), outperforming other treatments and the control. This effectiveness is attributed to the contribution of BOF microorganisms in enhancing nutrient availability, nitrogen fixation, phosphate solubilization, phytohormone stimulation, and soil structure improvement. The study concludes that applying solid BOF with 50% inorganic fertilizer can increase basil yield, improve fertilizer use efficiency, and support sustainable agriculture.
Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Mikrobial Kalium Phospat Sebagai Inovasi Nutrisi Hidroponik untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan: Utilization of Microbial Potassium Phosphate Liquid Organic Fertilizer as an Innovative Hydroponic Nutrient to Support Sustainable Food Self-Sufficiency Sepiya Nutriana Dewi; Fedri Ibnusina; Nofrianil Nofrianil; Imelya Ramanis
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hry06a06

Abstract

Percepatan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan menuntut penerapan teknologi pertanian yang efisien dan berbasis sumber daya lokal. Sistem hidroponik menjadi alternatif budidaya di lahan terbatas dengan produktivitas tinggi, tetapi penggunaannya masih bergantung pada nutrisi sintetis seperti AB Mix  yang berbiaya mahal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian Pupuk Organik Cair Mikrobial Kalium Phospat (POC MKP) sebagai substitusi parsial AB Mix  terhadap respon tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) pada sistem hidroponik serta menentukan kombinasi dosis paling efektif dalam mendukung efisiensi nutrisi dan produktivitas tanaman. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu 100% AB Mix  (5 ml/L), 3 ml AB Mix  + 20 ml POC MKP, dan 3 ml AB Mix  + 30 ml POC MKP, masing-masing dengan enam ulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT 5%. Hasil menunjukkan bahwa penambahan POC MKP berpengaruh nyata terhadap parameter respon tanaman dan produksi. Perlakuan 3 ml AB Mix  + 20 ml POC MKP menghasilkan performa setara dengan kontrol, menunjukkan efisiensi pupuk kimia hingga 40%. Temuan ini membuktikan bahwa POC MKP berpotensi dikembangkan sebagai sumber nutrisi organik lokal dalam sistem hidroponik berkelanjutan guna mendukung kemandirian dan swasembada pangan nasional. Achieving sustainable food self-sufficiency requires the implementation of efficient agricultural technologies based on local resources. Hydroponic cultivation is a promising alternative for high-yield production in limited land areas; however, its dependence on synthetic nutrients such as AB Mix  increases production costs. This study aimed to evaluate the effect of Microbial Potassium Phosphate Liquid Organic Fertilizer (LOF MKP) as a partial substitution for AB Mix  on the response of hydroponic pakcoy (Brassica rapa L.) and to determine the most effective combination of nutrient doses in supporting nutrient efficiency and crop productivity. The experiment was using a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments: 100% AB Mix  (5 ml/L), 3 ml AB Mix  + 20 ml LOF MKP, and 3 ml AB Mix  + 30 ml LOF MKP, each with six replications. Data were analyzed using ANOVA and Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results indicated that LOF MKP significantly affected the plant response and yield parameters. The treatment of 3 ml AB Mix  + 20 ml LOF MKP produced growth and yield comparable to the control, improving nutrient efficiency by up to 40%. These findings suggest that LOF MKP can be developed as a locally sourced organic nutrient for sustainable hydroponic systems supporting national food self-sufficiency.
Aplikasi Pupuk Organik Cair Rebung Bambu Guna Efisiensi Nutrisi pada Usaha Sawi Pagoda Hidroponik: Application of Liquid Organic Fertilizer Bamboo Shoots to Improve Nutritional Efficiency in Hydroponic Pagoda Mustard Businesses Dara Gapura Rizky; Nofrianil Nofrianil; Fathiah Rahmadani
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/504e3v35

Abstract

Produksi sawi pagoda sistem hidroponik merupakan upaya mengatasi lahan pertanian terbatas, terutama di perkotaan, dan penerapannya di pekarangan rumah. Hidroponik identik dengan pemberian nutrisi AB Mix, tetapi AB Mix tidak tersedia di kios pertanian setempat dan harganya cukup mahal. Efisiensi penting untuk mengganti nutrisi AB Mix dengan pupuk organik cair (POC) berbahan rebung bambu. Sumber daya bahan baku yang tersedia dapat menekan biaya produksi. Hidroponik, di satu sisi, merupakan budidaya dengan modal besar, maka penting dipilih tanaman yang digemari dengan kandungan gizinya dan nilai jual tinggi, yaitu sawi pagoda. Penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2023. Penelitian bertujuan untuk menganalisis respon pertumbuhan produksi sawi pagoda terhadap pemberian nutrisi dan analisis usaha sawi pagoda terhadap efisiensi nutrisi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 taraf perlakuan, yaitu (P0 : AB Mix : 100%), (P1 : POC rebung bambu 50 mL + air 1000 mL), (P2 : POC rebung bambu 100 mL + air 1000 mL), (P3 : POC rebung bambu 150 mL + air 1000 mL), (P4 : POC rebung bambu 200 mL + air 1000 mL) dengan 4 pengulangan. Hasil penelitian diperoleh bahwa POC rebung bambu dengan dosis berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan lebar daun, jumlah daun, bobot segar, berat kering tajuk, dan berat kering akar, namun tidak berbeda nyata pada variabel pengamatan panjang daun dan diameter batang sawi pagoda. Nilai rerata tertinggi terdapat pada perlakuan P4 pemberian POC rebung bambu 200 ml + 1000 ml air. Rata-rata nilai lebar daun 8 cm, jumlah daun 33.5, bobot segar 155 gram, bobot akar kering 1.34 gram dan bobot tajuk kering 10.5 gram. Hasil analisis finansial usaha budidaya sawi pagoda hidroponik diperoleh bahwa perlakuan P4 lebih optimal terhadap analisis usaha dengan total pendapatan Rp292.500, total biaya Rp108.548, laba sebesar Rp183.952, profitability yaitu 169,4 %, R/C Ratio 2,6, BEP produksi 3,97 kg dan BEP harga Rp27.280/kg. Hydroponic pagoda mustard production is an effort to overcome limited agricultural land, especially in urban areas, and is implemented in home gardens. Hydroponics is synonymous with providing AB Mix nutrients, but AB Mix is ​​not available at local agricultural kiosks and is expensive. Efficient replacement of AB Mix nutrients with liquid organic fertilizer (LOF) made from bamboo shoots is important. Available raw material resources can reduce production costs. Hydroponic cultivation, on the other hand, requires large capital, so it is important to choose plants favored by their nutritional content and high sales value, namely pagoda mustard. The study was conducted from February to May 2023. The study aimed to analyze the response of pagoda mustard production growth to nutrient provision, and analyze the pagoda mustard business in terms of nutrient efficiency. This study used a Completely Randomized Design with 5 treatment levels, namely (P0: AB Mix: 100%), (P1: 50 mL bamboo shoot LOF + 1000 mL water), (P2: 100 mL bamboo shoot LOF + 1000 mL water), (P3: 150 mL bamboo shoot LOF + 1000 mL water), (P4: 200 mL bamboo shoot LOF + 1000 mL water) with 4 replications. The results of the study obtained that bamboo shoot LOF with different doses affected the growth of leaf width, number of leaves, fresh weight, dry weight of the crown and dry weight of the root but did not differ significantly in the observation variables of leaf length and stem diameter of pagoda mustard. The highest average value was in the P4 treatment of 200 ml bamboo shoot LOF + 1000 ml water. The average value of leaf width was 8 cm, number of leaves 33.5, fresh weight 155 grams, dry root weight 1.34 grams and dry crown weight 10.5 grams. The financial analysis of the hydroponic pagoda mustard cultivation business showed that P4 treatment was more optimal for the business analysis, with total revenue of Rp. 292,500, total costs of Rp. 108,548, profit of Rp. 183,952, profitability of 169.4%, R/C Ratio of 2.6, BEP production of 3.97 kg and BEP price of Rp. 27,280/kg.
Motivasi Pemuda Tani dalam Menerapkan Pertanian Padi Berkelanjutan: Studi pada Wilayah Sentra Produksi Padi Utama di Indonesia: Motivation of Young Farmers in Implementing Sustainable Rice Farming: A Study in the Main Rice Production Centers in Indonesia Sonny Soerojo Junior; Soeryo Adiwibowo; Hariyadi Hariyadi; Rachmat Pambudy
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/cpmtgx63

Abstract

Keberlanjutan usahatani padi di Indonesia menghadapi tantangan serius, terutama terkait degradasi lingkungan dan lemahnya regenerasi petani. Dalam konteks tersebut, petani milenial dipandang sebagai aktor strategis dalam mendorong transformasi menuju pertanian padi berkelanjutan berbasis agripreneurship. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik petani milenial serta mengkaji hubungan keduanya dengan karakteristik demografis dalam penerapan pertanian padi berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 256 petani milenial yang tersebar di wilayah sentra produksi padi utama di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert lima poin dan dianalisis dengan statistik deskriptif serta analisis korelasi Pearson dan Spearman sesuai dengan skala pengukuran variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik petani milenial berada pada kategori tinggi, dengan motivasi intrinsik sebagai faktor dominan. Analisis korelasi mengungkapkan bahwa usia memiliki hubungan positif dan signifikan dengan motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, meskipun dengan kekuatan korelasi yang lemah. Sebaliknya, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kedua jenis motivasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembentukan motivasi petani milenial lebih dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan proses pendewasaan individu dibandingkan karakteristik demografis struktural. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi perumusan kebijakan regenerasi petani dan pengembangan pertanian padi berkelanjutan, dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis pengalaman, penguatan nilai intrinsik, serta dukungan insentif yang adaptif terhadap tahapan usia petani milenial. The sustainability of rice farming in Indonesia faces serious challenges, particularly related to environmental degradation and the weak regeneration of farmers. In this context, millennial farmers are considered strategic actors in driving the transformation toward sustainable rice farming based on agripreneurship. This study aims to analyze the levels of intrinsic and extrinsic motivation among millennial farmers and to examine their relationships with demographic characteristics in the implementation of sustainable rice farming. A quantitative approach was employed using a survey of 256 millennial farmers across major rice-producing provinces in Indonesia, namely West Java, Central Java, East Java, Banten, South Sulawesi, and South Sumatra. Data were collected using a structured questionnaire with a five-point Likert scale and analyzed using descriptive statistics as well as Pearson and Spearman correlation analyses according to the measurement scales of the variables. The results indicate that both intrinsic and extrinsic motivation levels among millennial farmers are high, with intrinsic motivation emerging as the dominant driving factor. Correlation analysis reveals that age has a positive and significant relationship with both intrinsic and extrinsic motivation, although the strength of the relationship is relatively weak. In contrast, educational attainment and the number of family dependents show no significant relationship with either type of motivation. These findings suggest that the motivation of millennial farmers is shaped more by experiential factors and individual maturation processes than by structural demographic attributes. This study provides important policy implications for farmer regeneration strategies and the development of sustainable rice farming by emphasizing experience-based approaches, the strengthening of intrinsic values, and incentive support tailored to the life stages of millennial farmers.
 Isolasi dan Purifikasi Bakteriofag Sebagai Agen Pengendalian Hayati Busuk Hitam pada Tanaman Brokoli (Brassica oleracea var. italica): Isolation and Purification of Bacteriophage as a Biological Control Agent for Black Rot in Broccoli Plants (Brassica oleracea var. italica) Fransiska Mallisa; Yoga Aji Handoko
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/6k7mkp84

Abstract

Penyakit busuk hitam (black rot) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. campestris (Xcc) merupakan salah satu kendala utama dalam produksi brokoli. Keterbatasan efektivitas pestisida kimia serta risiko munculnya resistensi bakteri mendorong perlunya pengembangan agen pengendalian hayati, salah satunya bakteriofag. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan memurnikan bakteriofag yang memiliki kemampuan litik terhadap Xcc dari sampel tanah di lahan brokoli bergejala busuk hitam di Dusun Pasengan Ngisor, Desa Tejosari, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Proses isolasi dilakukan menggunakan metode plaque assay pada media nutrient agar. Tahap purifikasi dilakukan dengan infeksi ulang. Penelitian menunjukkan bahwa dari hasil isolasi ditemukan bakteriofag yang mampu melisiskan sel bakteri Xcc dan hasil purifikasi mengindikasikan kestabilan dan konsistensi aktivitas litik bakteriofag terhadap Xcc. Temuan ini menunjukkan bahwa bakteriofag Xcc berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit busuk hitam. Black rot disease is caused by Xanthomonas campestris pv. campestris (Xcc) is one of the main obstacles in broccoli production. The limited effectiveness of chemical pesticides and the risk of bacterial resistance have prompted the need to develop biological control agents, one of which is bacteriophages. This study aims to isolate and purify bacteriophages that have lytic ability against Xcc from soil samples in broccoli fields with black rot symptoms in Pasengan Ngisor, Tejosari village, Ngablak Sub-district, Magelang District, Central Java. The isolation process was carried out using the plaque assay method on nutrient agar media. The purification stage was carried out by re-infection. The study showed that the isolation results found bacteriophages capable of lysing Xcc bacterial cells, and the purification results indicated the stability and consistency of the bacteriophage's lytic activity against Xcc. These findings indicate that Xcc bacteriophages have the potential to be used as a biocontrol agent for black rot disease.
Spesies Lalat Buah pada Tanaman Mentimun yang Dibudidayakan di Kota Tarakan: Fruit Fly Species on Cucumber Plants Cultivated in Tarakan City Nurmaisah Nurmaisah; Abdul Rahim
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/bta1kk36

Abstract

Tanaman mentimun adalah salah satu jenis tanaman yang tergolong dalam famili Cucurbitaceae. Salah satu hama utama yang sering ditemukan pada tanaman mentimun yaitu lalat buah. Untuk menekan serangan hama lalat buah, dapat digunakan beberapa perangkap, yaitu perangkap kuning berperekat dan perangkap atraktan. Tujuan penelitian untuk mengetahui populasi lalat buah yang terperangkap dalam penggunaan perangkap kuning dan perangkap atraktan serta spesies apa saja yang terdapat pada tanaman mentimun yang dibudidayakan di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif, di mana data disajikan dalam bentuk gambar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat tiga spesies lalat buah, yaitu Bactrocera dorsalis, Bactrocera umbrosa, dan Bactrocera carambolae, dengan total populasi mencapai 762 ekor. Lalat buah yang terperangkap pada perangkap kuning hanya 4 ekor, sementara yang terperangkap pada perangkap atraktan berjumlah 758 ekor. Cucumber plants are part of the Cucurbitaceae family. One of the primary pests that affects cucumber plants is the fruit fly. To reduce fruit fly infestations, several traps can be used, such as sticky yellow traps and attractant traps. This study aims to assess the fruit fly population captured using yellow traps and attractant traps, as well as to identify the species present on cucumber plants grown in Tarakan City. The research design used is a qualitative descriptive design, presented in the form of images. The findings indicate the presence of three fruit fly species: Bactrocera dorsalis, Bactrocera umbrosa, and Bactrocera carambolae, with a total population of 762 individuals. Only 4 fruit flies were caught in the yellow traps, while 758 were caught in the attractant traps.
Resiliensi Usaha Pengolahan Sagu Berbasis Adaptive Capacity di Kabupaten Luwu Utara: Sago Processing Business Resilience Based on Adaptive Capacity in North Luwu Regency Sumantri Sumantri; Aqsyah Anggraini; Ratna Rahim; Rosnina Rosnina; Dewi Marwati Nuryanti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/p709wd90

Abstract

Usaha pengolahan sagu sebagai agroindustri skala kecil memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal di Kabupaten Luwu Utara, baik sebagai sumber pangan alternatif maupun penyedia lapangan kerja. Namun, karakteristik usaha yang berbasis sumber daya alam dan sistem kerja yang masih informal menyebabkan tingginya kerentanan terhadap gangguan produksi, keterbatasan modal, serta tekanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas adaptif (adaptive capacity) pelaku usaha dalam mempertahankan keberlanjutan produksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tematik, serta interpretasi berbasis kerangka resiliensi dan kapasitas adaptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan usaha bersifat struktural dan multidimensional, dengan dominasi risiko pada aspek manusia dan proses. Ketahanan usaha lebih banyak ditopang oleh strategi coping jangka pendek, seperti penyesuaian jadwal produksi, pemanfaatan tenaga kerja keluarga, serta ketergantungan pada jaringan sosial dalam pembiayaan. Namun, kapasitas adaptif yang dimiliki masih bersifat reaktif dan belum terinstitusionalisasi dalam sistem manajemen yang terstruktur. Penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi usaha pengolahan sagu masih berada pada tahap adaptif awal, sehingga diperlukan transformasi menuju strategi adaptif yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Sago processing businesses, as small-scale agro-industries, play a strategic role in the local economy in North Luwu Regency, both as an alternative food source and a provider of employment. However, the natural resource-based nature of these businesses and their informal work systems make them highly vulnerable to production disruptions, limited capital, and environmental pressures. This study aims to analyze the adaptive capacity of these businesses in maintaining production sustainability. This research employed an exploratory qualitative approach through in-depth interviews with 15 purposively selected informants. Data analysis was conducted through data reduction, thematic categorization, and interpretation based on a resilience and adaptive capacity framework. The results indicate that business vulnerability is structural and multidimensional, with risks predominating in human and process aspects. Business resilience is largely supported by short-term coping strategies, such as adjusting production schedules, utilizing family labor, and relying on social networks for financing. However, this adaptive capacity remains reactive and has not yet been institutionalized in a structured management system. This study confirms that sago processing business resilience is still in its early adaptive stage, necessitating a transformation toward a more systematic and sustainable adaptive strategy.
Pengaruh Berbagai Jenis Media Tanam Terhadap Kandungan Mineral Esensial (Zn, Ca, dan S) dan Produksi Microgreens Sawi Hijau (Brassica juncea L.): The Effect of Various Types of Growing Media on Essential Mineral Content (Zn, Ca, and S) and the Production of Green Mustard Microgreens (Brassica juncea L.). Muthia Syifa; Yayu Sri Rahayu; Winda Rianti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/a7m1z690

Abstract

Microgreens merupakan sayuran muda yang dipanen pada usia 7–14 HST dan dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, terutama vitamin, antioksidan, dan mineral esensial. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas nutrisi microgreens adalah media tanam. Media tanam berfungsi menopang pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur hara yang dibutuhkan, serta menjadi tempat berkembangnya sistem perakaran. Media tanam yang sesuai mampu meningkatkan penyerapan nutrisi secara optimal sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan microgreens sawi hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis media tanam terhadap produksi serta kandungan mineral esensial (Zn, Ca, dan S) pada microgreens sawi hijau. Waktu percobaan dilaksanakan pada Desember 2025 sampai Januari 2026 di Gedung A Fakultas Pertanian Kampus 2 Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Margasari, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktor Tunggal dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas M0 = tanah, M1 = Cocopeat, M2 = Vermiculite, M3 = Rockwool, dan M4 = Perlite. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan jenis media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter bobot segar, bobot kering, kandungan mineral zinc, kandungan mineral kalsium, dan kandungan mineral sulfur. Jenis media tanah (M0) mampu memberikan hasil terbaik dengan nilai tertinggi pada rata-rata bobot segar sebesar 81,598 gram, rata-rata bobot kering sebesar 5,018 gram, dan rata-rata kandungan kalsium (Ca) sebesar 5.319,4 mg/100g. Jenis media perlite (M4) mampu memberikan hasil kandungan mineral Zn tertinggi sebesar 35,4 mg/100g. Jenis media rockwool (M3) mampu memberikan hasil kandungan mineral Sulfur tertinggi sebesar 2.837,6 mg/100g. Microgreens are young vegetables harvested at the age of 7–14 days after planting and are known to have high nutritional content, especially vitamins, antioxidants, and essential minerals. One of the important factors affecting nutritional quality of microgreens is the growing media. Growing media functions to support plant growth, provide the required nutrients, and serve as a medium for root system development. Appropriate growing media can enhance nutrient absorption optimally, thereby supporting the growth and development of green mustard microgreens. This study aims to determine the effect of various types of growing media on essential mineral content (Zn, Ca, and S) and the production of green mustard microgreens. The experiment was conducted from December 2025 to January 2026 at Building A, Faculty of Agriculture, Campus 2, Universitas Singaperbangsa Karawang, located in Margasari Village, East Karawang District, Karawang Regency, West Java. The research method used was experimental with a single-factor Randomized Block Design (RBD) consisting of 5 treatments and 5 replications. The treatments consisted of M0 = soil, M1 = cocopeat, M2 = vermiculite, M3 = rockwool, and M4 = perlite. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued with the Least Significant Difference (LSD) test at a 5% significance level. The results showed that different types of growing media had a significant effect on fresh weight, dry weight, zinc content, calcium content, and sulfur content. Soil media (M0) provided the best results with the highest values in average fresh weight of 81,598 grams, average dry weight of 5,018 grams, and average calcium (Ca) content of 5.319,4 mg/100g. Perlite media (M4) produced the highest zinc (Zn) mineral content of 35,4 mg/100 g. Rockwool medium (M3) produced the highest sulfur mineral content of 2.837,6 mg/100 g.
Analisis Pertumbuhan dan Kandungan Mineral Esensial (FE, CU, K) pada Microgreens Sawi Hijau (Brassica juncea L.) Terhadap Berbagai Jenis Media Tanam : Analysis of Growth and Essential Mineral Content (Fe, Cu, K) in Microgreens of Mustard Greens (Brassica juncea L.) in Various Types of Planting Media Karina Dwi Agustina; Yayu Sri Rahayu; Winda Rianti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/mwc9rf47

Abstract

Microgreens merupakan tanaman muda yang dibudidayakan secara singkat dan dikenal memiliki kandungan mineral, vitamin, dan senyawa fitokimia yang tinggi. Media tanam diketahui dapat memengaruhi kandungan mineral esensial pada microgreens karena berperan dalam menyediakan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis media tanam terhadap pertumbuhan dan kandungan mineral esensial (Fe, Cu, K) pada microgreens sawi hijau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2025 sampai Januari 2026 di Gedung A Fakultas Pertanian Kampus 2 Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Margasari, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yang terdiri atas 5 perlakuan dan 5 ulangan, sehingga diperoleh 25 unit percobaan. Perlakuan meliputi M0 = tanah, M1 = cocopeat, M2 = vermiculite, M3 = rockwool, dan M4 = perlite. Pengaruh perlakuan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis media tanam berpengaruh terhadap parameter laju pertumbuhan tinggi tanaman, laju pertumbuhan luas daun, dan kandungan mineral kalium, besi, dan tembaga. Media tanah (M0) memberikan hasil terbaik pada rata-rata laju pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 0,450 cm/hari, laju pertumbuhan luas daun sebesar 0,090 cm2/hari, kandungan klorofil sebesar 37,1 unit, dan kandungan besi (Fe) sebesar 1.598,2 mg/ 100g. Microgreens are young plants that are grown for a short period and are known to be rich in minerals, vitamins, and phytochemicals. Growing media are known to influence the essential mineral content of microgreens because they play a role in supplying the water and nutrients needed by the plants. This study aimed to determine the effect of various types of growing media on the growth and essential mineral content (Fe, Cu, K) of green mustard microgreens. The study was conducted from December 2025 to January 2026 in Building A of the Faculty of Agriculture, Campus 2, Singaperbangsa Karawang University, in Margasari Village, East Karawang District, Karawang Regency, West Java. The research method used was an experimental design with a single-factor randomized block design (RBD) consisting of 5 treatments and 5 replicates, resulting in 25 experimental units. The treatments included M0 = soil, M1 = cocopeat, M2 = vermiculite, M3 = rockwool, and M4 = perlite. The effects of the treatments were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and followed by the Least Significant Difference (LSD) test at the 5% level. The results showed that various types of growing media affected the parameters of plant height growth rate, leaf area growth rate, and the mineral content of potassium, iron, and copper. Soil medium (M0) yielded the best results with an average plant height growth rate of 0.450 cm/day, a leaf area growth rate of 0.090 cm²/day, a chlorophyll content of 37.1 units, and an iron (Fe) content of 1,598.2 mg/100 g.
Pengaruh Penambahan Asam Humat pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Semangka: Effect of Humic Acid Addition on Growth and Yield of Watermelon Erse Drawana Pertiwi; Asmuliani R.
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/3bws5t23

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah mengetahui pengaruh penambahan asam humat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman semangka. Penelitian ini menggunakan satu faktor dalam rancangan acak kelompok yaitu perlakuan pemberian asam humat dengan empat konsentrasi berbeda (0, 3, 6, dan 9 g/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian asam humat secara signifikan berpengaruh terhadap panjang sulur tanaman dan selebihnya tidak berpengaruh. Perbedaan dosis tidak berpengaruh signifikan pada berat buah, lingkar buah, berat buah pertanaman dan berat buah per plot. Dari hasil tersebut menjelaskan bahwa peningkatan dosis asam humat tidak memberikan perubahan nyata pada hasil panen buah semangka. Dengan demikian, penggunaan asam humat sebagai suplemen hara tanah dapat diminimalisir dengan pemberian dosis paling rendahnya yaitu 2 g/L. The objective of this study was to determine the effect of humic acid addition on the growth and yield of watermelon. This research employed a single-factor Randomized Complete Block Design (RCBD), namely humic acid treatment with four different concentrations (0, 3, 6, and 9 g/L). The results showed that humic acid application significantly affected vine length, while other observed parameters were not significantly affected. Differences in dosage did not significantly influence fruit weight, fruit circumference, fruit weight per plant, or fruit weight per plot. These findings indicate that increasing the dosage of humic acid did not result in significant changes in watermelon yield. Therefore, the use of humic acid as a soil nutrient supplement can be minimized by applying the lowest effective dose, namely 2 g/L.